Siaga Bencana, Bali Diapit Dua Sumber Gempa Bumi

Pulau Bali diapit oleh dua sumber gempa bumi, dari selatan subduksi lempeng Indo-Australia dan dari utara adalah sesar naik di dasar laut. Keduanya berpotensi memicu gempa bumi merusak dan dapat membangkitkan tsunami.

Pada 28 Juli 2016, pukul 03.41.47 WIB, sebagian wilayah pulau Bali dan Jawa Timur diguncang gempa tektonik. Hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan gempa bumi ini berkekuatan magnitude (M) = 4,5 Skala Richter (SR), dengan pusat gempa di Laut Bali sekitar 55 km utara Seririt Bali sedalam 17 km. Gempa ini tak berpotensi tsunami.

Guncangan gempa dirasakan Tabanan, Negara, Buleleng, Busungbiu, Seririt, Gerogak, Gilimanuk, Banyuwangi, Kalipuro, Lewung, Baluran, dan Situbondo. Belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan rumah akibat gempabumi.

Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG mengatakan jika ditinjau lokasi pusat gempa bumi dan kedalaman hiposenternya, tampak bahwa gempa bumi yang terjadi berkaitan dengan keberadaan struktur sesar aktif yang terdapat di Laut Bali.

“Data geologi dan tektonik menunjukkan bahwa di Laut Bali memang terdapat sebaran struktur sesar aktif yang memungkinkan terjadinya reaktivasi sesar hingga memicu terjadi gempabumi ini,” jelasnya.

Peristiwa gempa bumi dengan pusat di Laut Bali, menurutnya sangat menarik untuk dikaji mengingat di zona ini juga terdapat struktur sesar aktif yang duga kuat sebagai kelanjutan/terusan Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust). Kondisi tektonik semacam ini menjadikan wilayah pesisir utara Bali menjadi kawasan yang rawan gempa bumi dan tsunami.

Catatan sejarah menunjukkan beberapa peristiwa gempa bumi di Bali merusak akibat sesar aktif ini dan di antaranya memicu tsunami di pesisir utara Bali.

Beberapa peristiwa gempa bumi dan tsunami yang pernah terjadi di Bali di antaranya gempa bumi dan tsunami Buleleng tahun 1815, M=7,0 SR menelan korban lebih dari 1.000 orang. Lalu pada tahun 1818, M=8,5 SR memicu tsunami di pantai utara Bali, namun korban dan kerusakan tidak tercatat dengan baik.

Berikutnya pada 1857, M=7,0 SR juga dilaporkan memicu tsunami. Korban meninggal akibat gempa dan tsunami ini dilaporkan sebanyak 36 orang. Tahun 1917, M=6,5 SR juga dilaporkan memicu tsunami. Sebanyak 15.000 orang dilaporkan meninggal akibat gempa bumi dan tsunami.  Terakhir di Seririt, Buleleng pada 1976 kekuatan M=6,6 SR juga memicu tsunami kecil. Sebanyak 559 orang dilaporkan meninggal akibat gempa bumi ini.

Dewa Made Indra, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mengatakan jaringan informasi sudah dibangun untuk koordinasi dan arus informasi. Misalnya untuk wartawan ada grup whatsapp yang diupdate tiap hari seperti informasi gempa, cuaca, dan lainnya.

Sementara untuk warga ada banyak pelatihan yang digelar seperti sekolah dan desa siaga bencana. “Tantangannya membentuk kemampuan warga merespon. Tiap lokasi sirine, apakah mengerti ini evakuasi dan ke mana titik kumpulnya?” tanyanya.

Ini merupakan bangunan tahan gempa yang berlokasi di Desa Deah Glumpang, Meuraxa, Banda Aceh, sebagai lokasi penyelamatan warga. Foto: Junaidi Hanafiah
Ini merupakan bangunan tahan gempa yang berlokasi di Desa Deah Glumpang, Meuraxa, Banda Aceh, sebagai lokasi penyelamatan warga. Foto: Junaidi Hanafiah

I Made Sudana, Kepala Desa Sanur Kaja menyebut di desanya ada satu sirine, lokasi di Pantai Matahari Terbit dan tiap bulan dengar tes ujicoba sirene. Namun jika ada bencana perlu penjelasan pasti tempat evakuasi. Tanda-tanda evakuasi sudah terpasang mengarah ke Lapangan Pica. “Tapi di lapangan itu ada instalasi listrik besar apakah tepat jadi tempat evakuasi? Posisi tempat itu juga rendah bisa dilalui air dari selatan,” katanya memberi masukan.

Dewa Made Indra menjawab secara teknis di Sanur agak kesulitan mencari tempat evakuasi kondisi landai sekali padahal yang aman harus tinggi. Lapangan Pica ditetapkan melalui kajian LIPI karena cukup jauh dari pantai, dan sebagai barrier penghalang banyak hotel dan bangunan lain yang rapat.

“Kekuatan air sudah melemah. Memang ada gardu listrik yang besar, kami terbuka evaluasi. Pilihan evakuasi tak harus horizontal, bisa vertikal. Misalnya hotel Bali Beach sudah jadi tempat evakuasi vertical. Ke mana lari tak ada tempat tinggi,” paparnya.

Di Denpasar ada 2 sirine terpasang yakni Sanur dan Serangan. Total ada 9 di seluruh Bali. Sebagai keterlibatan dalam siaga bencana, ada dua hotel mendapat sertifikat waspada bencana yakni Grand Hyatt Hotel di Sanur dan Hard Rock Hotel di Kuta. Kedua hotel berbintang itu memberlakukan standar siaga bencana seperti tanda evakuasi dan peringatan pada tamunya.

Peringatan dini

Asrori dari BMKG Denpasar menjelaskan mekanisme peringatan dini saat gempa. Jika terjadi gempa, gelombang merambat diterima sistem peralatan tsunami, ada 200 unit menggunakan sensor dalam negeri. Peringatan dini 1 sampai 4. Pusat Gempa Regional III di Bali sebagai backup jika ada kerusakan kendali di Jakarta sebagai pusat kendali.

“Kalau terjadi gempa, menit ke-2 dan 3 sudah menyampaikan ke Pusdalops lokasinya. Setelah menit ke-5 baru parameter lengkap,” jelasnya.

Sistem pengambilan keputusan (TOAST) telah dipasang per Agustus 2014 sebagai backup sistem di Bali. Kulkul dan kentongan juga akan diaktifkan selain sirine uji coba tiap tanggal 26 jam 10 pagi.

Gelombang biasa dan tsunami beda. Kalau arus laut di permukaan disebabkan angin. Sementara tsunami seluruh badan air bergerak, kekuatan lebih dahsyat. Jarak gempa bumi dan tsunami pendek sekitar 20-30 menit sampai di pantai. “Tantangannya saat gempa besar, jaringan listrik dan telpon mati. Untuk komunikasi hampir 30 menit telpon tak bisa digunakan, cadangannya pakai HT,” lanjut Asrori.

Daryono menjelaskan Bali selatan berpotensi tinggi terjadi gempa besar karena energi magnitudo lempengan belum lepas. “Kita harus menyiapkan ini dengan peningkatan kapasitas karena tak bisa mengendalikan. Kita antisipasi dengan peringatan dini,” ingatnya.

Penyebab kematian seringkali bukan karena energi itu sendiri tapi dampaknya seperti tertimpa bangunan yang rapuh, panik sehingga kecelakaan, dan lainnya. Agar bangunan tak membunuh, standar bangunan harus bagus. “Kejadian di Bantul, Jogja seperti itu. Tak harus mahal, bambu dan kayu pun bisa,” ujar Daryono.

Bali dikepung dua generator gempa bumi. Ia mengingatkan jangan pernah menyatakan aman tsunami karena periodenya bisa ratusan tahun. Dengan simulasi, pemodelan magnitude 9, diperlukan 24 menit tsunami menghantam pesisir.

Sebelum gempa bumi, warga didorong mengenali dan mengakui potensi bencana. Selalu berlatih menghadapi, membangun bangunan tahan gempa, menata perabot dalam rumah, dan mengurangi dampak buruk lainnya.

Sejumlah tips misalnya saat gempa, tenang dan waspada. Jika goncangan kecil bisa menyebrang ke luar rumah, sementara goncangan besar jangan keluar rumah tapi berlindung di tempat terlindung. Jika di luar rumah, jauhi gedung bertingkat, pagar tembok, jembatan, baliho besar, dan pantai untuk menghindari tsunami.

Pasca gempa, upayanya adalah menolong dan evakuasi. Untuk diri sendiri, cek rumah yang dimasuki apakah aman atau rapuh, mencari informasi potensi gempa susulan, cek instalasi listrik, gas, dan lainnya.

(Visited 1 times, 3 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,