Sulitnya Warga Pulau Maitara Dapatkan Air Bersih

 

 

Kalau melihat uang Rp1.000 cetakan tahun 2000-2013, tampak gambar gunung hijau berdampingan. Satu puncak gunung terselubung awan putih. Pemandangan jadi lebih indah dengan satu perahu kecil nelayan di tengah laut. Pulau Maitara, begitu nama pulang berbalut awan di Muluku Utara, yang terkenal berkat jadi gambar dalam duit kertas itu.

Pulau ini memang kaya dengan keindahan alam dan nilai sejarah. Sayangnya,  keindahan alam tak seindah nasib warga yang hidup dalam kesulitan air bersih sejak lama. Tinggal di pulau kecil ini, air bersih keperluan sehari-hari hanya bergantung hujan.

“Air bagi kehidupan menjadi begitu penting. Tanpa air kita akan mati.” Begitu ucapan pertama Yunus Zakaria, tokoh masyarakat Pulau Maitara Tidore Kepulauan, Maluku Utara, Selasa (21/3/17).

Ke pulau ini,  sebenarnya tak jauh baik dari Ternate atau Tidore. Dari Tidore sekitar 0,39 mil laut, tak sampai lima menit menyeberang dari Pelabuhan Rum Tidore pakai perahu kayu. Dari Ternate  tak cukup 10 menit sudah bisa bersandar di Pelabuhan Maitara.

Ketika masuk  Maitara akan disambut dermaga dan pintu gerbang dengan ruang tunggu sederhana. Ada sebuah televisi di pintu masuk  pelabuhan. Tampak anak-anak muda menanti penumpang datang setelah berbelanja ke Ternate atau Tidore. Mereka menawarkan jasa ojek motor.

Air laut jernih dengan ikan-ikan karang bermain di bawah dermaga.

Pulau dengan keliling enam kilometer ini atau luas 206 hektar ini dihuni  sekitar 2.000-an jiwa terbagi dalam empat desa . Hampir semua desa mengalami masalah air bersih.

 

Rumah-rumah warga yang membuat penampungan air hujan karena tak ada sumber air bersih lain lagi. Foto: M Rahmat Ulhaz

 

Dari empat desa yakni Maitara Utara, Maitara Selatan, Mitara Tengah dan Maitara Induk , hanya Maitara Tengah sebagian mengandalkan air sumur. Jauhlah dari penyediaan dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Air dari sumur Maitara, terasa payau.   Buat konsumsi, mereka pakai air hujan. “Kalau di Desa Maitara Selatan, mayoritas masyarakat andalkan air hujan sebagai sumber air utama. Baik untuk konsumsi maupun MCK,” ujar Yunus. Yunus, guru di pulau ini.

Di setiap rumah warga ada bak penampung air hujan dari ukuran kecil  sampai besar.  Air  hujan dari atap rumah ditampung dan  mengalir ke bak penampungan.

Kala musim hujan,  warga senang karena air melimpah. Musim kemarau, air dalam bak berkurang bahkan habis. Terpaksa mereka harus beli air.

Yunus memiliki impian  bisa menikmati air bersih yang layak.

“Kalau kemarau kami harus membeli air sampai ke Pulau Tidore atau ke Ternate,” kata Muhammad Nur, warga Maitara  Selatan.

Kala kemarau, bak penampungan air habis, tak ada pilihan lain harus menyeberang ke Tidore atau Ternate.   Merekapun harus menyediakan uang tambahan membeli air.

“Saat ini, jika menggelar hajatan apa saja dan membutuhkan banyak air   harus ke Bastiong, Ternate atau ke Tidore beli air bersih,” katanya.

Warga bukan tak berusaha mencari sumber air di pulau, misal, dengan bikin sumur bor hanya hasil tetap sama. Tak menemukan air bersih buat kebutuhan sehari-hari.   Lagi-lagi, tak ada pilihan lain, menampung air hujan.

Air yang dibeli dari pulau lain mereka angkut pakai katinting atau perahu motor. “Kalau  dulu orangtua-tua  kami  harus mendayung perahu,” ucap Nur.

Kondisi alam sedikit lebih baik di Desa Maitara Tengah. Mereka  memiliki beberapa sumur  air buat konsumsi warga puluhan rumah tangga.

Ada sekitar lima sumur air bisa dikonsumsi. Selebihnya, sumur terasa payau.  Warga memasang pompa untuk satu sumur.

“Di sini tak semua sumur air bisa konsumsi, jadi satu sumur pakai ramai-ramai,” kata Muhlis Malagapi, Kepala Desa Maitara Tengah.

Menurut dia, ada dua persoalan warga turun temurun, yakni air bersih dan listrik. “Alhamdulillah, listrik sudah menyala sejak lima tahun lalu. Yang tersisa air bersih, belum ada solusi.”

 

Sumur bor warga, yang hanya beberapa air bisa dipakai biat konsumsi. Sebagian besar, air berasa payau. Foto: M Rahmat Ulhaz

 

Pipa bawah laut

Ada usaha pemerintah membangun infrastruktur air bersih. PDAM membangun jaringan pipa bawah laut untuk mengalirkan air dari Pulau Tidore. Sayangnya, proyek pipa bawah laut  yang dibangun sejak 2014 dan selesai 2016 belum bisa beroperasi. Air belum mengalir.

“Memang setelah selesai dibangun proyek pipanisasi bawah laut itu  air sempat mengalir untuk uji coba, hanya setelah itu terhenti sampai kini.   Masyarakat masih menunggu hasil proyek ini,”katanya.

Warga berharap air segera mengalir karena infrastruktur sudah terbangun.

Tahun ini, bahkan PDAM Kota Tidore Kepulauan akan bikin program 1.000 sambungan air bersih ke masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Program ini , berakhir September 2017.

Dari 1.000 sambungan air bersih, sekitar 500 di Pulau Maitara. Sisanya, di Kelurahan Topo dan daerah lain di Tidore  Kepulauan.   “Program ini akan masuk Maitara dan Topo. Topo kendala pipa transmisi sering rusak, hingga segera ditanggulangi  Satker Cipta Karya. Bahkan cipta karya juga membantu pipa distribusi,”  kata Ansar Gunawan, Direktur PDAM Kota Tidore.

 

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, ,