Festival Mata Air 2012: Mari Bertanggung Jawab Atas Sampah Yang Kita Hasilkan…

Facebook56Twitter9LinkedIn0Google+0Email

Pawai dengan pakaian daur ulang plastik oleh pelajar SD Jlarem, Salatiga. Foto: Tommy Apriando

Tumpukan sampah plastik, beling dan bau busuk sampah yang sudah lama tertimbun di ex Terminal Soka, Salatiga seketika berubah menjadi venue Festival Mata Air (FMA) ke-5 tahun 2012. Panggung utama, panggung kedua, stand pameran, patung-patung dari daur ulang sampah, poster dan banner dengan berbagai tulisan untuk selamatkan lingkungan di Indonesia terpasang di area festival.

Dalam acara yang didukung oleh Mongabay Indonesia sebagai mitra media tanggal 1-2 Desember 2012 kemarin, komunitas Tanaman Untuk Kehidupan (TUK) menjadikan lokasi yang selama ini sering dilewati banyak orang sebagai suatu tempat untuk memulai revolusi lingkungan.

Pemanfaatan bahan bekas untuk peragaan busana. Foto: Tommy Apriando

“Pesan Edukasi lingkungan kita sampaikan melalui berbagai kegiatan disini, salah satunya seni dan budaya,” kata Eric Setyo Dharmawan, ketua panitia FMA ke-5.

Di hari pertama, 1 Desember 2012, Pukul 10.15 Wib, pementasan tari “Prajuritan” dari Desa Tajuk, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang menjadi pembuka pementasan FMA ke-5. Penonton yang mayoritas warga Salatiga sangat antusias dan menikmati berbagai penampilan yang di pentaskan. Kaleng bekas makanan ringan, kentongan bambu, derigen dan gentong besar berpadu menjadi suatu irama musik. Tarian dan koreografi menjadi hiburan yang memberikan pesan edukasi tinggi. “Daur ulang sampah, bila digunakan secara bijak bisa menjadi suatu karya yang indah dan bernilai edukasi,” tambah Eric.

Berbagai workshop juga diberikan dalam gelaran ini, mulai dari, membatik, sablon dan cukil. Tidak ketinggalan, diskusi lingkungan bersama sutradara sekaligus budayawan Garin Nugroho di lokasi mata air, Ngangkruk, Soka yang persis berada di belakang terminal Soka, di hari kedua menjadi edukasi bermanfaat.

Diskusi lingkungan dan film bersama Garin Nugroho. Foto: Tommy Apriando

“Saat ini, permasalahan lingkungan intinya ada di pemerintah. Mulai dari kebijakan anggaran, peraturan dan pelaksanaannya,” kata Garin, di sela-sela diskusi.

Sore menjalang malam, kirab budaya juga tersajikan di FMA. Arak-arakan tumpeng, fashion show daur ulang sampah, penampilan dari Pungkursari Fashion Carnival yang di iringi Drumblek menjadi tontonan warga Soka, Salatiga.  Setelah mengitari kampung, tim arak-arakan berakhir di depan panggung utama FMA. Pemotongan tumpeng  yang diserahkan kepada kepala desa Soka menjadi simbolisasi acara FMA ke-5 resmi di buka.

Edy Hariyanto, warga desa Soka, kepada Mongabay Indonesia mengatakan, warga desa menyambut gembira FMA dilaksanakan di ex Terminal Soka. Lokasi yang penuh dengan sampah, bau sampah menjadi polusi bagi warga sekitar.

Festival Mata Air 2012. Foto: Tommy Apriando

Sejak tahun 2004 lokasi ini tidak lagi berfungsi sebagai terminal. Akan tetapi saat ini secara illegal, lokasi ini jadi tempat pembuangan sampah, hingga saat ini. Informasi yang kami dapatkan, ex terminal ini akan menjadi tempat kuliner.

“Pemerintah harus bergerak cepat dalam menanggulangi persoalan sampah. Dan yang terpenting, perbanyak ruang hijau di Salatiga,” kata Edy.

Oleh karena itu,TUK selaku penggas acara FMA mengajak semua elemen masyarakat melalukan Revolusi Lingkungan. Isu yang akan diangkat FMA kali ini, 4R (Reuse, Reduce, Recycle and Replace) dan sampah.

“Bertanggungjawablah terhadap sampah yang dihasilkan. Mendidik diri sendiri dan orang sekitarmu untuk lebih memperhatikan matahari, alam, air, hewan dan tumbuhan dan mulailah berbuat untuk lingkungan yang lebih baik,” ajak Eric.

Comments