Patin Raksasa dari Hulu Kapuas

Facebook88Twitter13LinkedIn0Google+1Email

Seekor patin seberat 48 kg tertangkap kail warga di Kapuas Hulu. Ini kali pertama di daerah ini ada patin sebesar ini. Foto: Sopian

Seekor ikan patin berukuran besar tertangkap kail nelayan asal Desa Bunut Hilir, Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Ikan air tawar seberat 48 kilogram ini mengundang perhatian warga dan beramai-ramai mengabadikan dengan kamera. Ini temuan pertama jenis patin terbesar di Kapuas Hulu.

Rudini alias Edhu, warga Desa Bunut Hilir mengatakan, ikan raksasa ini tertangkap kail milik Abdul Madjid , nelayan setempat. “Warga Bunut sudah sering dapat patin besar di Sungai Kapuas. Inilah yang terbesar yang pernah tertangkap nelayan Bunut,” katanya di Bunut Hilir, Sabtu (6/4/13).

Ikan ini tersangkut di mata kail milik Madjid pada 4 April lalu, sekitar pukul 09.00. Saat itu, cuaca di Bunut Hilir hujan ringan hingga warga tidak memungkinkan meraup rezeki di kebun karet. Warga memilih ke sungai dan memancing ikan. Termasuk Abdul Madjid.

Pria yang akrab disapa Pak Ngah ini tak menyangka kail yang dilempar ke Sungai Kapuas akan disambar ikan sebesar itu. Peristiwa dramatis itu pun dipotret oleh Sopian, pehobi foto di Bunut Hilir. Sopian Warga Desa Bunut Tengah. Selain sebagai nelayan setempat, dia juga anggota Panda Click, sebuah program pemberdayaan masyarakat di bidang fotografi yang diinisiasi WWF-Indonesia Program Kalbar.

Edhu menjelaskan, di perairan Sungai Kapuas, di Kecamatan Bunut Hilir, ikan-ikan besar masih sering dijumpai. Beberapa tahun terakhir, warga masih dapat memancing tapah seberat 90 kilogram. Lalu ada belidak seberat 40 kilogram. “Patin 48 kilogram seperti baru tertangkap.”

Menurut dia, patin sebesar itu tidak terlalu laku di pasaran. Daging kurang enak, tidak manis seperti patin berukuran dua kilogram. “Harga pun relatif murah. Orang hanya beli Rp20 ribu per kilogram,” ucap Edhu. Berbeda dengan ikan patin 2 – 12 kilogram, harga bisa Rp50 ribu per kg. “Kalau di atas 12 kilogram, warga tidak mau mengonsumsi langsung sebagai lauk-pauk. Biasa dijadikan bahan baku pembuatan kerupuk basah (makanan khas Kapuas Hulu).”

Comments