Lom Plai, Kearifan Masyarakat Dayak Wehea Melesarikan Budaya dan Lingkungan (Bagian 2)

 

Masyarakat Adat Dayak Wehea yang menjaga kearifan budaya mereka sekaligus menjaga lingkungan mereka agar lestari. Foto: Yovanda

 

“Panenku datang, wargaku tak lagi kelaparan. Terima kasih padamu Dewi Padiku, kupersembahkan sebuah pesta untuk merayakan rasa syukurku.…”

Demikian ungkapan rasa terima kasih kepada Dewi Padi warga Dayak Wehea, Long Diang Yung. Seorang gadis cantik jelita, anak semata wayang dari Ratu Warga Dayak, Diang Yung. Demi menyelamatkan warganya dari rasa lapar dan kemarau berkepanjangan, Diang Yung rela mengorbankan Long Diang Yung dengan cara disembelih.

Cerita turun-temurun itu, kini menjadi legenda. Saban tahun setelah panen, warga Dayak Wehea merayakan kehadiran Long Diang Yung dengan menggelar pesta adat Lom Plai. Warga Dayak Wehea percaya, jika pengorbanan Long Diang Yung membawa kemakmuran dan kesejahteraan hidup untuk manusia. Pesta adat tersebut terus dipertahankan dan dilestarikan sebagai simbol rasa syukur kepada Putri Long Diang Yung yang kini dipercaya sebagai Dewi Padi.

 

Baca: Jalan Panjang Hutan Lindung Wehea, Dihantui Pembalakan dan Dikepung Sawit (Bagian 1)

 

Demikian cerita singkat, Kepala Adat Suku dayak Wehea, Ledjie Taq di Desa Nehasliah Bing, Muara Wahau, Kutai Timur. Untuk menentukan tanggal acara, para tetua adat bersama kepala adat harus melihat bulan di langit dan merumuskan bulan yang baik. Sebab, dalam kepercayaan mereka, ada tiga jenis bulan di langit.

“Di dunia ini ada tiga jenis bulan, bulan baik adalah bulan yang membawa berkah, bulan naas dan bulan sial. Kami memilih bulan berkah, agar kehidupan kita semakin berkah dan panen semakin baik,” kata Ledjie.

 

Memberikan darah anak ayam bagi penari Hudoq. Foto: Aji Wihardandi

 

Pesta adat tersebut digelar satu bulan, dimulai Maret hingga April 2017. Acara puncaknya, 8 dan 9 April. Ritual yang dilakukan berurutan, seperti yang diajarkan para leluhur terdahulu. “Ini upacara tahunan dan tahun-tahun selanjutnya akan terus dilakukan sampai anak cucu,” ujarnya.

Pada puncak acara, warga Dayak Wehea memulai ritual dini hari, pukul 04.00 Wita. Para ibu rumah tangga memasak lemang dan beangbit (dodol dayak). Dua makanan khas ini harus ada di setiap rumah, sesuai tradisi turun-temurun. Di pagi hari, warga juga harus memasak sayur.

Sayur yang dimaksud adalah ayam, karena darah ayam kampung dipakai untuk melhaq (dioleskan) di dahi pembuat lemang. Ritual melhaq ini dengan tujuan untuk menyembuhkan warga yang mungkin dalam setahun masa tanam padi hingga selesai panen, karena melanggar aturan adat padi. “Selain ayam, boleh juga memasak lainnya, sesuai keperluan dan keinginan saja,” sebutnya.

Setelah memasak lemang dan melhaq, warga diwajibkan makan bersama di rumah masing-masing. Boleh mengundang tetangga dan kerabat. Untuk para pejabat tinggi, wajib makan dan mengunjungi rumah kepala adat. Setelah itu, semua warga harus turun dari rumah dan menuju pondok-pondok di tepi sungai (tiaq diaq jengea ). Di pondok itu, warga menyaksikan tarian di atas rakit oleh gadis-gadis Dayak Wehea, dan aksi perang-perangan di atas perahu.

 

Kepala Adat Suku dayak Wehea, Ledjie Taq, yang bersama masyarakatnya terus menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan mereka dalam menjaga lingkungan. Foto: Yovanda

 

Peperangan ini sangat menarik, warga saling melempar tombak yang diganti pelepah pisang. Ada pula yang menyumpit. Satu perahu diisi 3 sampai 5 orang, mereka saling serang. Pemenangnya adalah mereka yang bertahan di atas perahu. Setelah perang-perangan, lomba dayung perahu yang diikuti semua warga, termasuk ibu-ibu dimulai. “Selain tradisi tadi, warga juga harus menggelar ritual kepercayaan,” sebutnya.

Dari tempat acara, terlihat semua warga menggunakan pakaian adat Dayak wehea. Pakaian ini berbeda dengan adat Dayak lainnya. Perempuan menggunakan kemben dengan penutup kepala yang tinggi. Jika dipakai, dipercaya dapat menambah aura kecantikan wanita Dayak Wehea.

Tradisi tersebut, bernuansa kearifan lokal. Tak sedikit menarik minat wisatawan lokal maupun asing. Ditambah lagi, sambutan warga Dayak Wehea yang sopan dan ramah, membuat betah wisatawan untuk menyaksikan acara dari awal hingga selesai. Yang paling menarik, di Desa Nehas Liah Bing, masih ditemukan orang tua bertelinga panjang. Telinga panjang kini termasuk langka, sebab moderenisasi mempengaruhi adat istiadat yang telah digariskan para leluhur.

“Iya itulah adat, dulu masih banyak ibu-ibu bertelinga panjang. Kalau sekarang jumlahnya berkurang, bahkan hampir tidak ada perempuan yang mau memanjangkan telinga seperti nenek moyang,” kata Ledji.

Tidak hanya warga Dayak Wehea, pemerintah daerah setempat juga turut melestarikan acara tersebut. Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Kasmidi Bulang, mengatakan Lom Plai adalah pesta adat yang menjadi agenda tahunan di Kutai Timur.

 

Hutan Lindung Wehea yang begitu dijaga oleh masyarakat adat Dayak Wehea. Hutan adalah sumber kehidupan dan bagian penting bagi mereka. Foto: Yovanda

 

Kasmidi berupaya mempromosikan pesta adat Lom Plai hingga ke mancanegara. “Lom Plai adalah pesta adat kita semua. Sebagai warga Kutim, tentu kami bangga sekali. Masih kita temukan perempuan Dayak dengan identitas telinga panjang, tari-tarian, hudoq dan ritual kepercayaan itu sangat menarik. Semua harus kita lestarikan,” sebutnya.

Tidak hanya Lom Plai, Kasmidi juga ingin Hutan Lindung Wehea milik warga Dayak Wehea bisa diangkat menjadi wisata dunia. Salah satu cara yang dilakukan Kasmidi adalah menggelar giat Ekspedisi II Wehea. Acara tersebut adalah menjelajah hutan yang dilakukan oleh segala komunitas.

Tidak hanya anak muda, orangtua juga boleh ikut menjelajah hutan Wehea dan memotret segala kehidupan yang ada. “Bersama, kita eksplorasi Hutan Lindung Wehea kita ini. Selain Lom Plai, Wehea juga harus dikenal dunia. Kita harus bangga  dengan kearifan masyarakat Dayak Wehea terhadap lingkungan dan mari kita jaga Hutan Lindung Wehea,” pungkasnya.