Kurma Asih, dari Mitologi jadi Aksi Penyelamatan Penyu

Kurma Awatara adalah kisah dan mitologi penjelmaan Dewa Wisnu menjadi penyu untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran. Dikisahkan para dewa dan raksasa berebut mendapatkan air suci (tirta) yang diyakini membuat mereka abadi dengan cara mengaduk-aduk samudera. Lautan bergelora, bencana pun datang. Datanglah penyu yang menyelamatkan bumi dari kehancuran ulah kerakusan penguasa.

Demikian penggalan cerita dari kearifan masa lalu yang bisa meneropong masa kini. Sangat kontekstual dengan kondisi saat ini. Laut yang dirusak bisa menjadi bencana.

Sebuah Kelompok Pelestari Penyu (KPP) di Perancak, Jembrana, Bali menggunakan nama Kurma Asih sebagai pembawa pesan. Kurma merujuk pada penyu dan Asih maknanya kasih sayang. Kelompok warga yang menyayangi penyu. Satwa laut yang akan memberikan berkah bagi manusia dan alam, jika lestari.

 

Wayan Anom Astika Jaya dari Kelompok Penyelamat Penyu Kurma Asih menerima penghargaan Kalpataru 2017 dari Presiden Joko Widodo bersama 9 orang dan kelompok warga lain di Indonesia. Foto : Kurma Asih/Mongabay Indonesia

 

Jembrana adalah salah satu daerah perdagangan penyu terbesar di Bali selain Denpasar di masa lalu. Daging dan telur penyu adalah komoditas mahal. Selain untuk konsumsi, kerapasnya sebagai bahan kerajinan.

Setelah 20 tahun bekerja, pemerintah menganugerahkan Kalpataru dalam di peringatan Hari Lingkungan Hidup 2017 kepada KPP Kurma Asih.

Presiden Joko Widodo menyerahkan 10 Kalpataru dengan kategori perintis, pengabdi, penyelamat, dan pembina. Dua perintis yaitu Anuar (Sumatera Utara) dan Agus Bei (Kalimantan Timur). Dua orang pengabdi adalah Mahariah (Jakarta), Heri Supriyatna (Jawa Barat).

Empat kelompok penyelamat lingkungan yang diberi Kalpataru yaitu Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih Desa Peracak (Bali), Kelompok Nelayan Samudera Bakti (Jawa Timur). Kelompok Masyarakat Pengawas Danau Lindung (Kalimantan Barat), dan Kelompok Pencinta Alam Isyo Hill’s Repang Muaif (Papua). Sedangkan pembina lingkungan yaitu Saptono Tanjung (Yogyakarta) dan Lefrand Adam Singai (Kalimantan Utara).

“Mimpi besar Kurma Asih, ingin menjadikan Perancak, Jembrana dan Bali terkenal bukan hanya tukang ‘pembantai’ penyu tapi pusatnya konservasi penyu dunia,” ujar Wayan Anom Astika Jaya, koordinator Kurma Asih. Menurutnya konservasi menjadi pilihan untuk meningkatkan kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar.

 

Salah seorang warga pengelola KPP Kurma Asih di Pantai Perancak, Jembrana, Bali Barat. Foto : Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

 

Pesisir Bali Barat masih menjadi favorit penyu bertelur selain Bali Selatan. Namun, tantangan pelestarian penyu di habitat penelurannya ini makin tinggi. Dari beberapa kali kunjungan ke lokasi KPP yang ditempuh sekitar 3 jam berkendara dari Kota Denpasar ini teridentifikasi sejumlah tantangan.

Pertama, keberlanjutan dana transportasi untuk warga yang mengevakuasi dan menemukan telur penyu ke KPP. Sejauh ini mengandalkan donasi pribadi dan kelembagaan.

Ada buku tamu yang berisi peta pendaratan penyu, nama pengunjung, asal, no telpon, dan jumlah yang didonasikan.

Tantangan kedua, abrasi yang makin meluas. Tiap tahun, ada pengurangan lebar pantai 1-2 meter. Padahal penyu menyukai pesisir yang landai dan ada pasir keringnya untuk bertelur. Sepanjang pantai barat Bali ini memang menghadapi abrasi sangat serius dan belum ditanggulangi. Akibatnya pemukiman warga makin dekat dengan pesisir dan habitat penyu mudah terusik.

Ketiga, ketersediaan rumput laut yang menjadi pelambat arus laut dan salah satu makanan penyu ini. Rumput laut ini bukan jenis yang digunakan sebagai bahan makanan, tapi laris dicari pengepul untuk bahan baku kosmetik.

Sejak didirikan, tak sedikit lembaga lingkungan yang mendampingi KPP Kurma Asih. Misalnya WWF dan ProFauna Indonesia membantu dalam pengelolaan penyu di Pantai Perancak. Misalnya melakukan pendidikan dan penyadaran masyarakat tentang perlindungan penyu.

KPP ini dinilai melakukan konservasi yang cukup ideal, yakni tidak melakukan pemeliharaan penyu. Hanya ada beberapa penyu besar di area ini sebagai pengenalan ke pengunjung. Penyu yang biasanya mendarat adalah jenis penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Penyu lekang adalah jenis yang paling banyak mendarat dan bertelur di Pantai Perancak.

 

Jenis penyu terbanyak yang bertelur di Pantai Perancak adalah Lekang, Sisik, dan penyu Hijau. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

 

Pemburu jadi pelindung penyu

Kurma Asih memperlihatkan rasa sayangnya pada penyu dengan membuat kesepakatan tidak merusak sarang, memberikan reward pada warga penemu telur penyu agar tak memperdagangkan, dan secepat mungkin melepaskan penyu hasil evakuasi.

“Dulu di sini salah satu penyuplai penyu ke Badung,” kenang I Nyoman Bagiada, salah satu nelayan, pendukung kelompok ini. Penyu ditangkap dengan cara dijaring atau ditombak di punggungnya. Beberapa orang mengatakan banyak warga punya kolam-kolam besar untuk menampung penyu tangkapan ini. Sayang, kolam ini sudah tak berjejak, hanya ada sisa tombak yang menjadi saksi perburuan penyu ini.

Sekitar 1997, setelah perburuan penyu dihentikan, sejumlah penyu mendarat di pantai Perancak untuk bertelur. Kurma Asih bekerja sama dengan lembaga lingkungan membuat agenda perlindungan habitat penyu ini bersama warga sekitar.

Program ini bertujuan untuk menyelamatkan sarang penyu dari pemangsa dan manusia yang ingin menjual telur penyu ke pasar. Walau sejumlah lembaga pendamping datang dan pergi, Kurma Asih tetap melakukan program dengan kemampuan mereka sendiri.

I Wayan Tirta perintis kelompok ini kemudian menyerahkan tongkat komando pelindung penyu pada I Nyoman Anom Astika Jaya.

Menurut Anom, musim peneluran tahun ini sudah ditemukan 215 sarang peneluran penyu Lekang dan 10 sarang jenis penyu Sisik. Jika ada 300 sarang dengan sekitar 100 telur dievakuasi, jadi ada 3000 tukik dilepaskan tiap tahun. Pemindahan telur ke sarang semi alami di area KPP menjadi kebutuhan karena kawasan pesisir sudah penuh pemukiman jadi berisiko tinggi bagi sarang penyu dan tukiknya. “Sampai sekarang konsisten dengan tujuan utamanya menyelamatkan penyu, menjaga habitat peneluran, dan sosialisasi ke masyarakat pesisir khususnya di Jembrana,” urainya.

Salah satu strategi konservasi adalah keterlibatan masyarakat sekitar. Juga dukungan sejumlah LSM, swasta, pemerintah, akedemisi, peneliti, dan wisatawan.

 

Abrasi mengurangi pantai tempat peneluran penyu di Perancak, Jembrana, Bali. Untuk mencegah dipasang batu dan paving di sekitar lokasi KPP. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

 

Ia mengapresiasi penghargaan Kalpataru dari pemerintah. Namun ia meyakini masih banyak kelompok warga yang juga melakukan hal sama tapi tak terpantau publik atau media sehingga belum diketahui. “Kalau mau buka mata, di hutan, lembah, sungai, pesisir dan gunung, banyak saudara kita melakukan kegiatan penyelamatan lingkungan, karena jauh dari akses media sehingga kita tidak mengetahuinya,” Anom merendah.

Jumlah penetasan telur penyu semi alami dari tahun 1997 hingga 2013 meningkat. Jumlah sarang yang diselamatkan pada tahun 1997 hanya 4 lalu melonjak di tahun 2010 mencapai 455 sarang dengan 36.400 butir telur penyu. Kemudian beberapa tahun ini ada indikasi penurunan karena abrasi.