Perubahan Iklim Dalam Wujud Gambar, Begini Kreasi Pelajar Palembang

 

Dampak perubahan iklim di berbagai belahan bumi, karya Kemas Umar Alfaruq, pelajar SMPN 1 Palembang. Foto: Taufik Wijaya/Mongabay Indonesia

 

Apa yang ada di benak para pelajar ketika kata “perubahan iklim” disebutkan? Meskipun masih banyak yang belum memahaminya, tapi sebagian generasi muda ini langsung teringat akan banjir, kekeringan, asap pabrik, dan es mencair.

Gambaran itulah yang terbaca sejumlah pelajar SLTP dan SLTA di Palembang saat mengikuti lomba menggambar dengan tema perubahaan iklim yang diselenggarakan BPPIKLH (Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan) Sumatera di Palembang, 12 Agustus 2017. Lomba ini menggunakan media kertas, pewarna crayon, dan pensil.

Misalnya, gambar karya Kemas Umar Alfaruq, pelajar SMPN 1 Palembang, juara pertama kategori SLTP, yang menampilkan kondisi lingkungan berbagai belahan bumi. Seperti es mencair, kekeringan, dan banjir.

Gambaran yang hampir sama ditampilkan Nabila Maharani dari SMPN 45 Palembang sebagai juara kedua. Hanya saja, Nabila lebih melihat dampak pada kondisi Indonesia atau daerah tropis ketika perubahan iklim terjadi, yakni bencana banjir saat musim penghujan dan kekeringan ketika kemarau datang.

Sementara Micheil Filisia Ivansius dari SMP Xaverius 1 Palembang, sebagai juara ketiga, menggambarkan penggunaan energi fosil berlebihan dan aktivitas industri yang menyebabkan perubahan iklim sebagai ancaman serius kelestarian bumi.

“Saya sangat terkejut ketika melihat gambar yang ditampilkan para pelajar di Palembang, baik pelajar SMP maupun SMA yang ikut lomba ini. Ternyata mereka sangat paham jika perubahan iklim menyebabkan bencana atau merusak bumi. Tapi mereka hanya sebatas menggambarkan kondisi. Semoga, pemahaman ini mendorong mereka turut mencegah percepatan perubahan iklim, hingga mereka dewasa,” kata Denny Martin, Kepala BPPIKLH Sumatera, disela kegiatan.

 

Dampak perubahan iklim, karya M. Farhan Sabilillah, pelajar SMKN 7 Palembang. Foto: Taufik Wijaya/Mongabay Indonesia

 

Lebih global

Sedikit berbeda dengan pelajar SLTP, para pelajar SLTA melihat perubahan iklim lebih pada penghancuran masa depan bumi. Gambar bumi mencair, terbakar atau gersang, sangat dominan.

Sharfina Basthatul dari SMKN 6 Palembang menyatakan perubahaan iklim terjadi akibat ulah manusia yang merusak hutan, melakukan pembangunan infrastruktur berlebihan, menggunakan energi berlebihan, dan sebagainya yang membuat bumi rusak, menuju kehancuran: mencair. Gambar yang berwujud poster ini pun menyampaikan sejumlah pesan tertulis “Save Earth Now” dengan cara menghentikan penebangan hutan, hentikan eksplorasi energi fosil, hemat energi dan air.

“Saya ingin menyampaikan kepada umat manusia, khususnya generasi muda seperti kami untuk berbuat apapun, untuk menyelamatkan bumi. Saya senang gambar ini menang, dan semoga mampu menggugah semua orang menyalamatkan bumi,” kata Sharfina.

Sementara Metha Ananda Silalahi dari SMAN 5 Palembang yang meraih juara kedua, lebih mengajak semua umat manusia untuk bersatu menyelamatkan bumi. Hanya manusia yang dapat menyelamatkan bumi, sebab manusia yang merusaknya.

M. Farhan Sabilillah dari SMKN 7 Palembang cukup mengejutkan karyanya, karena berbeda dengan 29 peserta lainnya. Dia membuat gambaran bumi menghitam akibat aktivitas industri yang mempercepat proses perubahan iklim.

“Rasanya hanya aktivitas industri yang menyebabkan perubahan iklim terjadi saat ini. Bumi dikeruk, hutan ditebang, sungai dan danau ditimbun, menurut saya karena kepentingan industri,” kata Farhan.

 

Sharfina Basthatul dari SMKN 6 Palembang, menunjukkan karyanya yang meraih juara pertama tingkat SLTA. Foto: Taufik Wijaya/Mongabay Indonesia

 

Sekolah Adiwiyata

Lomba ini diikuti pelajar SLTP dan SLTA di Palembang yang meraih Adiwiyata. SLTP diikuti 30 sekolah, dan tingkat SLTA diikuti 29 sekolah. Setiap sekolah mengirim satu peserta.

Kenapa hanya sekolah yang meraih Adiwiyata? “Kita ingin tahu, sejauh mana pelajar dari sekolah yang meraih Adiwiyata ini memahami persoalan perubahan iklim. Ternyata, setiap peserta sangat memahaminya. Para pemanang lomba ini lebih dilihat pada keunikan, teknis menggambar, dan kecerdasan memilih tema. Semua karya yang ikut lomba semuanya bagus, paham mengenai perubahan iklim,” jelasnya.

“Rencana kami, setelah di Palembang akan digelar lomba di setiap kota dan kabupaten di Sumatera Selatan. Semua karya terbaik akan dibukukan dan dipamerkan. Program ini selain mendorong kesadaran atas perubahan iklim, juga membuka ruang ekspresi para pelajar seluasnya. Ruang ekspresi merupakan cara terbaik meningkatkan kecerdasan para pelajar, terutama kecerdasan dalam memaknai lingkungan,” ujar Denny.

“Selain seni lukis atau menggambar, kita juga berencana membuat kegiatan pendidikan kesadaran akan perubahan iklim melalui seni lainnya, seperti sastra, teater dan musik. Secara bertahap akan dilakukan,” paparnya.

 

Level karbon dioksida yang terlihat meningkat. Sumber: National Oceanic Atmospheric Administration (NOAA)/Climate.gov

 

Secara sederhana, perubahan iklim adalah kondisi yang terjadi akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) dan karbon dioksida (CO2) yang berimplikasi pada peningkatan permukaan air laut. Kondisi ini akan berdampak buruk pada seluruh negara yang ada di bumi, terlebih negara kepulauan seperti Indonesia. Berdasarkan laporan World Bank dan Regional and Coastal Development Centre of ITB (2007), diperkirakan, dalam 30 tahun ke depan, sekitar 2.000 pulau kecil di Indonesia akan tenggelam ketika peningkatan air laut mencapai 0,80 meter.

Perubahan iklim dianggap sebagai persoalan paling sulit dari seluruh permasalahan lingkungan yang dihadapai di dunia saat ini. Mengapa? Karena kontribusi terbesarnya adalah emisi karbon dioksida (CO2) yang berasal dari pembakaran batubara, minyak dan gas alam. Hasil pembakaran CO2 yang dalam setahunnya mencapai sekitar 30 miliar ton ini, akan sangat sulit dan butuh biaya mahal untuk ditangkap lalu “dibuang” dari atmosfer.