Terapkan Perikanan Berkelanjutan, Waduk Jatiluhur Bersihkan Praktik Keramba Jaring Apung

Kelimpahan air yang ada di Waduk Jatiluhur dimanfaatkan untuk memenuhi pasokan air di Jakarta. Foto: Antara/Saptono

 

 

Tak lama lagi, Waduk Jatiluhur di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat akan menjadi waduk yang bersih dari keramba jaring apung (KJA). Itu artinya, praktik perikanan budidaya yang dilakukan secara mandiri di KJA tidak akan lagi bisa ditemui di waduk yang dibangun sejak 1957 tersebut.

Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Jakarta, pekan lalu. Menurut dia, dibersihkannya Jatiluhur dari praktik KJA, tidak lain karena dari hari ke hari kualitas air di waduk tersebut terus mengalami penurunan. Kondisi itu, kata dia, harus segera diatasi, karena waduk Jatiluhur berperan penting untuk ibu kota Negara, DKI Jakarta.

“Kita akan hentikan praktik KJA dan melakukan konversi kepada para pemiliknya secara bersamaan. Konversi yang dimaksud, adalah dengan menjadikan para pemilik KJA sebagai pembudidaya bersama. Kita akan tebar bibit ikan, dan nanti mereka yang melaksanakan panen,” jelas dia.

Susi mengatakan, jika praktik KJA tetap dibiarkan sampai sekarang dan di masa mendatang, maka kualitas air akan semakin menurun. Kondisi itu, jelas berbahaya karena air dari waduk Jatiluhur hingga saat ini masih memasok kebutuhan air baku untuk wilayah DKI Jakarta.

Tak tanggung-tanggung, Susi menyebut, kebutuhan air baku dari Jatiluhur untuk DKI dipasok hingga 80 persen. Itu artinya, jika penurunan kualitas air di waduk Jatilluhur semakin parah, maka pasokan air baku ke DKI akan sangat terganggu, bahkan bisa terhenti.

“Tak hanya untuk DKI, air dari Jatiluhur juga untuk memasok kebutuhan air baku di beberapa daerah yang ada di Jawa Barat. Jadi, kualitas air memang harus dijaga dengan baik,” ucap dia.

Untuk melancarkan pembersihan, Susi mengungkapkan, program tebar bibit akan dilaksanakan di waduk yang luasnya mencapai 8.300 hektare itu. Adapun, untuk jenis bibit ikan yang akan ditebar, hingga saat ini masih dicari yang pas dengan ekosistem waduk.

“Penertiban KJA sendiri itu menjadi wewenang dari Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat. Kita hanya bertanggung jawab pada penebaran bibit ikan saja. Nantina, masyarakat tidak perlu buat KJA lagi, karena banyak pakan yang terendap di dasar waduk,. Itu merusak lingkungan waduk,” tandas dia.

 

Seorang pembudidaya menyebarkan pakan ikan di keramba jaring apung di Waduk Jatiluhur, Jabar. Pemerintah bakal membersihkan semua KJA di waduk tersebut untuk meningkatkan kualitas air waduk. Foto : mimbar-rakyat.com

 

Air Waduk Bau

Direktur Perum Jasa Tirta II Djoko Saputro menjelaskan, banyaknya KJA yang beroperasi di waduk Jatiluhur, secara perlahan memang telah menurunkan kualitas air. Hal itu, didasarkan pada fakta bahwa saat ini air di waduk sudah mulai berbau dan tingkat keasaman yang semakin tinggi.

Terus menurunnya kualitas air dan timbul bau tidak sedap, kata Djoko, disinyalir karena di dasar waduk saat ini banyak mengendap sisa-sisa pakan yang ditebar di seluruh KJA yang ada. Dengan jumlah KJA mencapai 3.300 lebih, jumlah pakan yang ditebar dipastikan sangat banyak dan itu cukup untuk menurunkan kualitas air di waduk.

“Tingkat pengotoran sudah sangat tinggi. Padahal, 80 persen kebutuhan air baku di DKI itu dipasok dari sini. Jadi, akan sangat berpengaruh jika kualitasnya menurun,” tutur dia.

Djoko Saputro menjelaskan, untuk membersihkan waduk dari KJA, pihaknya dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan mulai melakukannya pada tahun ini dan dilanjutkan pada tahun depan. Dengan demikian, pada semester II 2018 mendatang, KJA sudah bersih dan bibit ikan sudah bisa ditebar di waduk Jatiluhur.

Setelah bibit ikan ditebar, kata Djoko, langkah yang akan dilakukan adalah dengan melakukan pembesaran ikan tangkap dengan cara perikanan budidaya. Ikan-ikan yang dibesarkan itu, akan dibiarkan membesar tanpa mendapatkan pakan.

“Dengan demikian, nantinya ikan-ikan tersebut akan membersihkan dasar waduk secara perlahan. Diharapkan, ekosistem waduk akan pulih dengan cepat setelah konsep tersebut dilaksanakan nanti,” jelas dia.

 

Panorama di Waduk Jatiluhur, Jabar. Foto : purwakartakab.go.id

 

Agar ikan-ikan bisa berkembang secara alami layaknya di perairan laut, Djoko mengatakan, proses penebaran bibit ikan nanti akan dilakukan tanpa menggunakan jaring. Cara tersebut, diharapkan bisa mempercepat proses pembersihan dasar waduk dari endapan pakan yang sudah lama menebal.

Agar tidak terjadi gejolak sosial di masyarakat dan pemilik KJA, Djoko menjanjikan, selama proses pembersihan KJA, pihaknya akan melakukan pendampingan secara langsung kepada mereka. Pendampingan tersebut, sekaligus memberikan sosialisasi terkait keterlibatan mereka setelah KJA ditiadakan.

“Ini solusi bagaimana masyarakat mendapatkan penghasilan tanpa menurunkan kualitas air. Nanti kita akan tebar bibit jenis ikan bandeng air tawar,” jelas dia.

Untuk teknis pelaksanaan konversi, Djoko mengatakan, pihaknya akan mendanai pembelian bibit ikan dan menebarnya di waduk. Setelah tiga bulan dipelihara, ikan akan dipanen dengan melibatkan masarakat dan pemilik KJA secara langsung.

“Dengan demikian, masyarakat akan tetap dapat penghasilan meski tidak ada KJA lagi. Kami juga sudah tahu kalau izin operasi KJA di waduk Jatiluhur akan berakhir pada 2016 ini. Kami rekomendasikan tidak beri izin lagi kepada Pemkab Purwakarta lagi, karena akan dibersihkan,” papar dia.

Sementara itu Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan, pembersihan waduk dari praktik KJA, penting dilakukan segera. Untuk melaksanakannya, Perum Jasa Tirta 2 akan bekerja sama dengan Badan Riset Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kelautan dan Perikanan.

Dengan kerja sama tersebut, kata Rini, diharapkan bisa dilakukan riset mendalam tentang potensi waduk ke depan untuk praktik perikanan tangkap dan budidaya. Tak hanya itu, melalui kerja sama tersebut, penanganan waduk yang kotor karena praktik KJA, bisa dilakukan lebih tepat dan sesuai sasaran.

“Riset adalah bagai untuk menjaga lingkungan waduk tetap bersih. Kita nanti restocking ikan. Tidak perlu buat keramba lagi. Nanti pada saat yang sama, sinergi BUMN, menjaga pendapatan masyarakat tetap cukup,” jelas dia.

 

Kelimpahan air yang ada di Waduk Jatiluhur dimanfaatkan untuk memenuhi pasokan air di Jakarta. Sumber: jatiluhur.info

 

Fungsi Strategis

Sebagai waduk besar yang dibangun di awal masa kemerdekaan RI, waduk Jatiluhur yang resminya bernama waduk Ir H Juanda, selama ini mengemban dua tugas penting sekaligus untuk sektor perikanan. Di waduk seluas 8.300 ha tersebut, praktik perikanan tangkap dan budidaya dilaksanakan secara bersamaan, seperti halnya di perairan laut.

Adapun, untuk pola penangkapan ikan, di waduk Jatiluhur diterapkan pola jaring insang, jala, dan pancing. Sementara, untuk perikanan budidaya, pola yang diterapkan adalah dengan menggunakan KJA. Untuk ikan yang dibesarkan, selama ini adalah jenis ikan mas, nila, patin, dan gurame. Dalam setahun, rerata hasil tangkapan mencapai 118.87 kilogram dan budidaya mencapai 1.359.439 ton.

“Dua praktik perikanan tersebut, selama ini dilaksanakan di dalam lima zona yang terdiri dari zona I, II, III, IV, dan V,” jelas Djoko Saputro.

Selain sebagai pusat produksi perikanan tangkap dan budidaya, Djoko menjelaskan, waduk Jatiluhur juga berperan sebagai pemasok air baku untuk DKI Jakarta dan Jawa Barat dan juga penyedia tenaga listrik. Waduk yang terletak di daerah aliran sungai (DAS) Citarum dan berkedalaman 96 meter itu, mampu menampung air sekitar 3 miliar meter kubik.