Kiprah Perempuan Luar Biasa dari Kampung Semangit

 

Bubu warin, masyarakat nelayan Kampung Semangit masih populer menggunakan bubu warin yang dapat menangkap ikan dengan berbagai ukuran. Foto: Andi Fachrizal/Mongabay Indonesia

 

Terik matahari menyengat tubuh ketika Lisawati bergumul dengan kesehariannya di Kampung Semangit, Jumat (27/10/2017). Tungku pembakaran sudah menyala. Dua panci berukuran besar, bersandar tepat di punggung api. Keduanya berisi bahan olahan ikan yang akan “disulap” menjadi kerupuk.

Ibu dua anak ini tangkas memainkan berbagai peran dalam proses pengolah ikan. Tangannya cekatan membolak-balik kayu bakar agar tungku tetap menyala. “Ya, beginilah kami di kampung. Kami butuh empat hari untuk menghasilkan kerupuk ikan siap jual,” katanya.

Untuk jenis ikan campur, harga kerupuk kering dijual Rp30 ribu per kilogram. Namun, di mata perempuan 34 tahun itu, kerupuk ikan terbaik bersumber dari bahan baku ikan gabus. Harganya bisa mencapai Rp45 ribu per kilogram.

Jauh sebelum sampai tahap perebusan, sejumlah langkah harus ditempuh. Ketersediaan ikan adalah sarat mutlak, selain sagu, garam, dan bumbu penyedap rasa. “Inilah yang saya kerjakan selama 11 tahun terakhir. Sebenarnya, mayoritas ibu-ibu di kampung ini juga melakukan hal yang sama setiap hari di rumah masing-masing,” kata Lisawati kepada sejumlah jurnalis di Semangit, Jumat (27/10/2017).

Perjalanan jurnalis ke kampung kecil di bantaran Sungai Leboyan ini difasilitasi oleh Millennium Challenge Account (MCA) Indonesia melalui Konsorsium Dian Tama. Secara administratif, Semangit masuk dalam wilayah Dusun Batu Rawan, Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Kampung ini dikenal lantaran kekayaan sumber daya alamnya. Hal itu terlihat dari perilaku lebah jenis Apis dorsata yang tetap setia memproduksi madu di tikung-tikung milik petani setempat. Selain itu, potensi ikannya juga melimpah. Ada toman, biawan, dan berbagai jenis lainnya.

 

Pakan toman, selain mengandalkan hasil ikan tangkapan di alam, warga Semangit juga membudidayakan ikan toman dengan pakan ikan-ikan berukuran kecil. Foto: Andi Fachrizal/Mongabay Indonesia

 

Lisawati adalah sebuah potret yang mewakili aktivitas perempuan Kampung Semangit. Umumnya, kaum perempuan selalu setia menanti suami pulang menangkap ikan dari sungai atau danau. Hasilnya, selain dikonsumsi untuk kebutuhan hidup sehari-hari, ikan-ikan itu diolah menjadi kerupuk.

Warga Semangit menangkap ikan tak jauh dari perkampungan. Namanya Lupak Emang. Untuk menjangkau area penangkapan itu, cukup lima menit dengan speedboat bermesin 25 PK. Di sanalah warga memasang berbagai alat tangkap seperti bubu warin, pancing, dan temilar.

“Hasilnya memang tidak seberapa. Tapi cukup untuk menutupi keperluan sehari-hari. Tentu saja ini tidak bisa digunakan membeli kebutuhan besar seperti speedboat atau mesin. Cukup buat makan sajalah,” jelas Lisawati santai.

Sayangnya, tata kelola perikanan warga setempat belum mempertimbangkan keberlanjutan. Warga masih populer menggunakan bubu warin yang dapat menjerat ikan dalam berbagai ukuran. Dari ikan-ikan kecil hingga berukuran besar. Begitu pula dengan penggunaan kayu bakar secara berlebihan, akan berdampak pada kondisi hutan yang tersisa di sekitar Semangit.

Sementara proses penjemuran produk olahan, juga terbilang belum higienis. Warga menjemur olahan ikan di tempat terbuka yang mudah dihinggapi lalat dan terkontaminasi residu.

 

Kerupuk ikan, umumnya, perempuan di Kampung Semangit sudah memiliki kemampuan mengolah potensi ikan tangkap menjadi kerupuk kering secara tradisional. Foto: Andi Fachrizal/Mongabay Indonesia

 

Rumah produksi madu dan ikan

Bagi lembaga-lembaga yang ada di bawah Konsorsium Dian Tama seperti Yayasan Riak Bumi, LPS-AIR, Kaban, Kompakh, Yayasan Dian Tama, dan APDS, persoalan di Semangit tak bisa dibiarkan begitu saja. Kekayaan alam yang berlimpah, lambat-laun akan tergerus jika tidak dibarengi dengan pengelolaan yang berkelanjutan. Sejumlah skenario pun dirumuskan.

Salah satunya dengan memberikan stimulus dalam bentuk pembangunan rumah produksi madu dan ikan. Upaya lain adalah fasilitas dasar ekowisata seperti jalur tracking, selter, dan berbagai sarana penunjang lainnya.

Langkah ini ditempuh agar warga dapat mendongkrak pundi-pundi perekonomiannya melalui produk unggulan yang mereka miliki. Sarana dan prasarana itu digerakkan melalui energi terbarukan.

Konsorsium Dian Tama juga mendorong peran aktif kaum perempuan dalam manajemen kelembagaan. Ini bertumpu pada tingginya animo perempuan dalam mengambil peran di lingkungan keluarga masing-masing. Namun, semangat itu tak selaras dengan pelibatan mereka dalam manajemen kelembagaan.

“Kita coba dorong kaum perempuan terlibat dalam organisasi. Namun, sebagai langkah awal yang kami lakukan adalah peningkatan kapasitas. Mereka diajak berkelompok dan dilatih keterampilan teknis pengolahan ikan. Kelak langkah ini diharapkan dapat mendongkrak roda usaha melalui koperasi,” kata Anatalia Sri Lestari, Koordinator Social and Gender Integration Plan (SGIP) Konsorsium Dian Tama.

Menurutnya, konsorsium ini berusaha meningkatkan kapasitas perempuan dalam pengolahan ikan menjadi abon, sosis, dan nuget. “Kalau pembuatan kerupuk ikan, mereka sudah mandiri melakoninya sejak lama,” katanya.

 

Semangit, kampung kecil ini berdiri tepat di bantaran Sungai Leboyan dan secara administratif masuk dalam wilayah Dusun Batu Rawan, Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Foto: Andi Fachrizal/Mongabay Indonesia

 

Jemsami, Koordinator Pengolahan Ikan Konsorsium Dian Tama Perwakilan Yayasan Riak Bumi menambahkan, inisiatif yang tengah dibangun saat ini adalah rumah produksi madu dan ikan. “Rumah produksi ini digerakkan dengan pembangkit tenaga surya,” jelasnya.

Kendati demikian, pada tahap awal yang bisa dilakukan hanya sebatas memerkuat kapasitas perempuan sebagai salah satu pilar yang akan menyokong manajemen organisasi rumah produksi. Sejauh ini, kaum perempuan di Semangit belum terbiasa berhimpun dalam satu kelompok untuk melakukan usaha bersama.

Selanjutnya, kata Jemsami, mereka dilatih manajemen bisnis, usaha bersama, dan pelatihan pengolahan ikan. “Kita masih identifikasi apakah produk ikan yang akan diolah ini bersumber dari ikan tangkapan di alam atau budidaya. Sebab, aspek keberlanjutan harus tetap menjadi prioritas,” jelasnya.

Puncak dari pembangunan rumah produksi madu dan ikan di Semangit ini ditandai dengan kunjungan kerja Wakil Bupati Kapuas Hulu, Antonius L Ain Pamero di tengah-tengah Festival Danau Sentarum Betung Kerihun, Rabu (25/10/2017). “Saya mengapresiasi pembangunan rumah produksi ini sebagai salah satu kontribusi nyata NGO untuk masyarakat Kapuas Hulu,” katanya.

Antonius mengakui bahwa langkah NGO ini sudah berjalan melalui perencanaan yang strategis. “Program NGO sudah selaras dengan program pemerintah dalam meningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan madu dan ikan,” tandasnya.