Dampak Erupsi Gunung Agung, Hujan Abu di Sejumlah Daerah di Bali

Gunung Agung, Bali, erupsi sejak dinyatakan status tertinggi Awas pada 22 September 2017. Foto : PVMBG/Mongabay Indonesia

 

Nengah Toya, Kepala Dusun Cegi, Desa Ban, Karangasem masih bertahan di pos pengungsian sejak desanya masuk kawasan rawan bencana III atau area dalam radius terdekat dengan Gunung Agung. Ia merasa kampungnya sudah jadi desa mati. “Mungkin tersisa sekitar 500 ayam di sana tapi kondisinya tidak tahu sekarang,” katanya terkait hujan abu yang sudah menyelimuti area terdekat. Ia dan sedikitnya 196 warga dari 256 warga dusunnya mengungsi di Denpasar. Sisanya menyebar di kabupaten lain.

Gunung Agung erupsi lagi pada Sabtu (25/11/2017) pukul 17:30 WITA dengan ketinggian 1.500 meter dari puncak kawah. Hujan abu kemudian dilaporkan sejumlah warga dari beberapa kawasan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan pada Minggu (26/11/2017) pukul 05.45 WITA terjadi erupsi dengan tinggi kolom abu kelabu gelap bertekanan sedang ketinggian mencapai 3.000 meter. PVMB terus menerus melaporkan perkembangan erupsi kepada Posko BNPB dan kepada masyarakat melalui siaran pers.

Tingkat erupsi Gunungapi Agung sekarang meningkat dari fase freatik ke magmatik (sejak teramati sinar api di puncak di malam hari pada 25/11/2017 pukul 21.00 WITA. Sampai hari ini erupsi fase magmatik disertai kepulan abu tebal menerus mencapai ketinggian 2.000-3.400 meter dari puncak.

Kolom debu vulkanik terus meninggi hingga 4.000 meter dari puncak mengarah ke tenggara dengan kecepatan 18 km per jam. Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB menyatakan analisis sebaran abu vulkanik dari satelit Himawari BMKG menunjukkan sebaran abu mengarah ke timur hingga tenggara menuju ke daerah Lombok. Sifat dan arah sebaran abu vulkanik tergantung dari arah angin.

Kepulan abu yang menerus kadang-kadang disertai erupsi eksplosif disertai suara dentuman lemah yang terdengar sampai jarak 12 km dari puncak. Sinar api semakin sering teramati di malam hari berikutnya. Ini menandakan potensi letusan yang lebih besar akan segera terjadi.

 

Estimasi jangkauan debu vulkanik dari erupsi Gunung Agung, Bali.

 

Untuk mengantisipasi segala kemungkinan dan risiko bencana maka PVMBG telah menaikkan status Gunung Agung dari Siaga (level 3) menjadi Awas (level 4) terhitung mulai 27/11/2017 pukul 06:00 WITA. Status Awas adalah status tertinggi dalam status gunungapi.

PVMBG telah mengeluarkan peringatan penerbangan (VONA/Volcano Observatory Notice for Aviation) dinaikkan dari Orange menjadi Red. Artinya larangan melitas di area Gunung Agung.

Laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) periode pengamatan Minggu (26-11-2017) pukul 12:00-18:00 WITA menyebut asap kawah bertekanan sedang teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 2000-3000 m di atas puncak kawah.

Kegempaan menunjukkan Tremor Non-Harmonik (jumlah: 1, Amplitudo: 3 mm, durasi: 270 detik). Vulkanik Dangkal (jumlah: 6, Amplitudo : 2-4 mm, durasi: 11-21 detik). Vulkanik Dalam (jumlah: 10, Amplitudo: 3-7 mm, S-P: 1-1.5 detik, durasi: 9-17 detik). Tremor Menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 2-3 mm (dominan 3 mm).

Rekomendasinya masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya. Yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km.

Hujan abu dilaporkan terjadi di beberapa tempat seperti di Desa Duda Utara, Desa Duda Timur, Desa Pempetan, Desa Besakih, Desa Sideman, Desa Tirta Abang, Desa Sebudi, Desa Amerta Bhuana di Klungkung. Juga terjadi di beberapa desa di Gianyar dan Bangli.

Masyarakat mulai evakuasi mandiri ke pos pengungsian. Jumlah pengungsi masih dalam pendataan. BPBD bersama SKPD, Basarnas, TNI, Polri, PMI, dan relawan membagikan masker kepada masyarakat.

BPBD Provinsi NTB telah menginstruksikan agar BPBD Lombok Barat, BPBD Kota Mataram dan BPBD Lombok Utara segera melaporkan dampak hujan abu di wilayahnya. Masker agar segera didistribusikan kepada masyarakat.

Sutopo dalam siaran pers menyebutkan dampak erupsi freatik Gunung Agung telah menyebabkan beberapa penerbangan dibatalkan. Sebanyak 8 kedatangan penerbangan internasional (international arrival) dan 13 keberangkatan penerbangan internasional (international departure) batal mendarat di Bali. Jumlah penumpang yang mengalami pembatalan penerbangan sedikitnya 2.087 penumpang.

“Adanya pembatalan beberapa penerbangan adalah merupakan inisiatif dari maskapai penerbangan masing-masing dengan alasan keselamatan penerbangan,” katanya. Kejadian ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya, pernah juga terjadi saat erupsi Gunung Raung di Jawa Timur dan erupsi Gunung Barujari di NTB, abunya mengarah ke Bali.

Yanus Suprayogi, GM Ngurah Rai Airport menyebut operasi bandara masih berjalan normal. Pembatalan tergantung maskapai karena masing-masing punya prosedur standarnya sendiri. Pihaknya sudah menyiapkan rencana darurat jika abu vulkanis mengarah ke bandara. Misalnya menyiapkan bus bagi penumpang. Dari paper test Minggu pagi, sampai saat ini belum ada abu vulkanik di Bandara Ngurah Rai.

 

Poster debu vulkanik yang disebarluaskan oleh BNPB. Sumber : BNPB

 

Dampak lingkungan abu vulkanik

Peneliti Muda Kesehatan Lingkungan bidang Kesejahteraan Sosial pada Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Setjen DPR RI Anih Sri Suryani menulis tentang bahaya abu vulkanik pada dokumen Info Kesejahteraan Sosial yang diakses dari laman berkas.dpr.go.id menyebut abu vulkanik setidaknya berdampak pada lingkungan dan kesehatan. Berikut kutipannya.

Material yang dihasilkan oleh letusan gunung berapi salah satunya adalah abu vulkanik, sering disebut juga pasir vulkanik atau jatuhan piroklastik bahan material vulkanik, yang disemburkan ke udara saat terjadi suatu letusan dan terdiri dari batuan berukuran besar sampai berukuran halus.
Batuan yang berukuran besar (bongkah kerikil) biasanya jatuh di sekitar kawah sampai radius 5 hingga 7 km dari kawah.

Sedangkan yang berukuran halus dapat jatuh dengan jarak mencapai ratusan bahkan ribuan kilometer dari kawah tergantung pada kecepatan angin. Sebagai contoh, letusan Gunung Krakatau tahun 1883 yang menyebabkan abu vulkaniknya mengitari bumi berhari-hari atau letusan Gunung Galunggung tahun 1982 yang menyebabkan abu vulkaniknya terbang hingga mencapai Australia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa abu vulkanik mengandung unsur mayor (aluminium, silika, kalium dan besi), unsur minor (iodium, magnesium, mangan, natrium, pospor, sulfur dan titanium), dan tingkat trace (aurum, asbes, barium, kobalt, krom, tembaga, nikel, plumbum, sulfur, stibium, stannum, stronsium, vanadium, zirconium, dan seng).

Sedangkan lima komposisi kimia tertinggi dari tanah abu vulkanik gunung berapi secara urutan adalah silikon dioksida 55%, aluminium oksida 18%, besi oksida 18%, kalsium oksida 8%, dan magnesium oksida 2,5%.

Abu vulkanik yang baru keluar dari gunung berapi berdampak negatif bagi lingkungan. Abu vulkanik yang membentuk awan panas, baik karena temperaturnya maupun kandungannya, dapat berefek
mematikan dan bersifat toksik, baik bagi manusia, tumbuhan, dan hewan. Komposisi kimia dari abu vulkanik yang bersifat asam dapat mencemari air tanah, merusak tumbuhan, dan apabila bersenyawa dengan air hujan dapat menyebabkan hujan asam yang bersifat korosif.

Sifat korosif inilah yang menyebabkan rusaknya berbagai jenis infrastruktur dan utilitas, tidak hanya yang mengandung logam, seperti jembatan, perumahan dan permukiman. Juga berbagai bangunan peninggalan sejarah seperti candi-candi yang banyak tersebar di wilayah Jateng-Jatim.

Abu vulkanik juga dapat mengakibatkan terkontaminasinya air bersih, tersumbatnya saluran air, serta rusaknya fasilitas air bersih. Sumber air dan pasokan air terbuka lainnya, seperti sungai, danau, atau tangki air, pun sangat rentan terhadap hujan abu.

Erupsi gunung biasanya diikuti dengan peningkatan kondensasi di atmosfer sehingga memicu terjadinya hujan dengan intensitas cukup tinggi. Hujan dengan intensitas tinggi bisa menggelontorkan material vulkanik yang masih tersisa di puncak gunung dan berpotensi menimbulkan banjir ataupun longsor. Dampak lainnya adalah pada sektor transportasi. Jarak pandang berkurang akibat abu vulkanik dan berpotensi menyebabkan kecelakaan, baik pada transportasi udara, darat, maupun laut.