,

El Nino dan Cuaca Kering, 95 persen Titik Api Sumatera Berada di Riau

Cuaca kering dan dampak pengaruh anomalinya seperti El Nino mulai mengakibatkan peluang munculnya titik-titik api (hotspot) kembali terjadi di Sumatera.  Berdasarkan pantauan satelite Terra/Aqua yang dilaporkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Rabu, 25 Juni 2014, sebanyak 386 titik api terpantau di Sumatera maka 95 persennya (366 titik) berada di Riau.

Dalam dua hari terakhir (25/06/2014) ratusan titik api dilaporkan telah mengepung daratan gambut Riau dan telah menyebabkan penurunan dramatis kualitas udara di beberapa kabupaten di pesisir timur Riau. World Resource Institute, sebuah lembaga riset internasional, lewat satelit pemantau kebakaran NASA, menunjukkan data titik api kebakaran di Riau terkonsentrasi terutama di kabupaten Bengkalis, Rokan Hilir dan Pelalawan.

Konsentrasi titik api hari ini mencapai puncaknya sejak kebakaran hutan Februari-Maret lalu. Kabupaten-kabupaten pesisir Riau yakni Rokan Hilir 221 titik api, Dumai 59 dan Bengkalis 57 yang sebagian daerahnya bergambut menjadi wilayah yang paling menderita kebakaran.

Satelit pemantau suhu panas juga mendeteksi titik api di Kabupaten Pelalawan 19 titik, Kuansing 2 titik, Kepulauan Meranti 2, Indragiri Hilir 2, dan Siak serta Indragiri Hulu masing-masing satu titik.

Banyaknya titik api yang mengeluarkan asap tebal telah menyebabkan jarak pandang menjadi pendek. Di Kota Dumai jarak pandang hanya 3 kilometer dan Kota Rengat di Kabupaten Indragiri Hulu 5 kilometer. Sementara pantauan BNPB di Pekanbaru dan Pelalawan, jarak pandang sekitar 6 kilometer.

fig 4 figure June 17

Tingkatkan Kewaspadaan dan Perlu Bersiap

Kepala BNPB  Syamsul Maarif telah melaporkan peningkatan tajam titik api ini ke Presiden dan Wakil Presiden Indonesia dan terkait dengan ancaman El Nilo yang akan memperparah kebakaran hutan tahun ini. Pada awal pekan ini, pemerintah provinsi Riau telah mengaktifkan posko siaga darurat asap termasuk seluruh satuan tugas bencana asap seperti BNPB, TNI, Polri dan Manggala Agni telah memberikan pendampingan.

“Kondisi ini perlu diwaspadai karena arah angin dominan ke Timur Laut dan Timur. Potensi asap terbawa hingga ke Singapura dan Malaysia akan semakin meningkat jika tidak segera diatasi secara total,” ujar Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB kepada Mongabay Indonesia, Rabu siang (25/06/2014).

“Saat ini helikopter Kamov, Sikorsky dan Bolco masih dioperasikan di Riau untuk water boombing. Sementara pesawat Hercules dan Casa juga terus melakukan modifikasi cuaca,” tambah Purwo.

Selain mengaktifkan posko siaga darurat asap, Gubernur Riau sendiri telah meminta aparat kepolisian untuk menangkap para pembakar lahan. Terkait dengan para pembakar lahan ini, sejak Juni tahun lalu hingga hari ini setidaknya kepolisian daerah Riau telah menahan puluhan orang yang diduga membakar lahan, namun kebakaran asap tidak pernah berkurang sebaliknya sejumlah pihak termasuk BNPB memprediksi bencana ini akan lebih ekstrim dibandingkan sebelumnya.

Seperti dilaporkan oleh Mongabay-Indonesia,  titik api di Riau pada tahun ini sebelumnya telah terjadi dan memuncak selama bulan Februari-Maret 2014. Kebakaran lahan yang terjadi pada tahun ini bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kabut asap pekat di Sungai Rokan, Bengkalis akibat kebakaran lahan gambut. Foto diambil akhir Februari 2014. Foto: Ridzki R. Sigit

Sumber Api dari Lahan Gambut

Harris Gunawan, Direktur Pusat Studi Bencana Universitas Riau mengatakan bencana asap yang terus berulang terjadi di wilayah-wilayah gambut merupakan indikasi gagalnya pendekatan pembangunan ekonomi terutama dalam pengelolaan dan pemanfaat sumberdaya rawa gambut. Terbakarnya hutan dan lahan gambut merupakan sinyal nyata ancaman hilangnya  gambut basah di Riau.

“Kami mendesak segera dilakukannya tindakan nyata untuk menyelamatkan gambut yang terbakar maupun yang masih tersisa, pengetatan kebijakan, perbaikan manajemen maupun pengaturan terhadap kanal-kanal pengeringan yang akan dibuat ataupun yang sudah ada,” ujarnya.

Solusi yang ditawarkan Harris adalah pelibatan masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar gambut untuk mengatasai kebakaran hutan. Namun masyarakat itu harus didampingi, diberdayakan dan dijadikan komponen penting penangggulangan bencana asap yang meliputi pencegahan, tanggap darurat dan pemulihannya.

“Perlu dibuat kantong-kantong air melalui penyekatan kanal-kanal dan sungai-sungai alami, pembuatan peraturan desa yang terkait dengan desa tangguh bencana, dan dimulainya restorasi lahan gambut terlantar dengan tanaman cepat tumbuh dan kayu asli habitat hutan tersebut,” tambahnya.

Seperti dilaporkan dalam Mongabay-Indonesia sebelumnya, Greenpeace menyebutkan angka kerugian finansial akibat kebakaran lahan gambut di Riau selama Februari-Maret 2014, setara dengan Rp 25 -30 triliun, yang lebih kurang ekuivalen dengan APBD propinsi ini.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,