,

10 Tahun Tak Tampak, Ulat Bulu Beracun Muncul di Sinabung

Warga desa pada radius empat hingga lima kilometer dari kaki Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dikejutkan kemunculan ulat bulu dianggap beracun. Warga melihat, Senin (14/7/14), kala pulang ke rumah untuk memantau tempat tinggal yang rusak akibat erupsi Gunung Sinabung.

Warga mengungsi di Kota Berastagi dan Kota Kabanjahe, Karo, karena pemerintah melarang kembali mengingat radius di bawah lima kilometer harus dikosongkan. Mereka adalah warga Desa Guru Kinayan, Desa Payung, Desa Berastepu, Desa Sukandebi dan Desa Sigarang-garang.

Sudah sekitar 10 tahun, mereka tidak pernah melihat ulat beracun in. Pasca Sinabung erupsi kembali Minggu (29/6/14) dan Sabtu (12/7/14), ulat bulu berwarna coklat kehitam-hitaman ini satu persatu muncul.

Guru Putra Brahmana, tokoh adat Suku Karo di Desa Sukandebi, mengatakan, ulat beracun ini hinggap di luar dapur rumah yang sudah tertutupi debu vulkanik. Jumlah tidak banyak, terlihat hanya lima ekor. Jika ulat ini menyerang, bisa menyebabkan gatal pada kulit manusia. Di bagian bulu tipis itu, terdapat racun jika terkena darah manusia bisa muntah, gatal-gatal, hingga iritasi kulit.

Menurut dia, ada beberapa kemungkinan ulat ini muncul, seperti kegiatan bertani dan berkebun, 100% terhenti. Asupan makanan ulat tidak ada lagi, ditambah area gersang dan rumah serta lahan, juga tumbuhan banyak mati.

“Jadi mereka tak lagi bisa hidup di hutan, karena Sinabung meletus dan suhu panas. Desa mati. Itu dugaan saya mengapa ulat muncul.”

Beginilah kondisi Desa Naman pasca terkena erupsi debu vulkanik Sinabung. Foto: Ayat S Karokaro
Beginilah kondisi Desa Naman pasca terkena erupsi debu vulkanik Sinabung. Foto: Ayat S Karokaro

Di kebun dan ladang buah,  ada beberapa ulat biasa muncul. Khusus ulat beracun baru pertama kali terlihat setelah 10 tahun tak tampak.

Forum Alumni 99 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala (Unsyah) Banda Aceh di Medan, menyatakan, penyebab ulat muncul karena beberapa faktor. Salah satu, kelembapan di area Sinabung, khusus radius di bawah lima kilometer berkisar 82 persen, ditambah curah hujan tinggi, lebih 250 milimeter per bulan.

Reni Fitriani, anggota forum mengatakan, jika dilihat bentuk, ulat yang muncul di pemukiman ini menyerupai ulat cedar putih. Namun kecil kemungkinan ditemukan di Indonesia, karena ulat ini hanya hidup di Australia. Kemungkinan, ulat ini jenis serit. Dalam dunia medis kedoteran hewan, ulat bulu dibagi menjadi tiga jenis, yaitu Lymantria marginalis, Arctonis species, dan Cyana veronata.

“Jadi bahaya berbeda dengan ulat bulu di Australia, masuk dalam satu dari 10 ulat beracun di dunia.”

Dia menilai. ulat di Tanah Karo ini menimbulkan gatal cukup kuat jika terkena. Kalau terkena aliran darah manusia akan bereaksi kimia menjadi racun. “Dugaan saya ini tidak berbahaya.”

Bagaimana  menghadapi ulat ini? Paling utama, katanya,  jangan pernah menyentuh bulu bagian depan tengah dan belakang karena bisa gatal cukup kuat. Infeksi kerato-konjungtivis akan terjadi karena bulu bisa bersarang di jaringan lunak dan selaput lendir tubuh manusia. “Jika terkena segera dibawa ke dokter supaya disuntik.”

Ulat bulu beracun muncul setelah sekitar 10 tahun tak pernah kelihatan. Mereka singgah di rumah-rumah penduduk yang ditinggalkan karena erupsi Sinabung. Foto: Ayat S Karokaro
Ulat bulu beracun muncul setelah sekitar 10 tahun tak pernah kelihatan. Mereka hinggap di rumah-rumah penduduk yang ditinggalkan karena erupsi Sinabung. Foto: Ayat S Karokaro
(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , ,