,

Keren! Geng Motor Keluar Masuk Kampung Kenalkan Teknologi Ramah Lingkungan

Keluar masuk kampung membantu warga, geng motor ImuT ini menciptakan beragam produk ramah lingkungan, murah, dan mudah diterapkan, dari biogas, suplemen pakan ternak sampai desalinator air laut!

Biasanya geng motor membuat warga resah, takut dan khawatir karena berkonvoi, mengeraskan gas dan membunyikan sirine. Tak jarang jatuh korban warga. Geng motor dari Nusa Tenggara Timur ini berbeda. Mereka malah dinanti-nanti kehadirannya. Kok bisa? Begini ceritanya…

Geng motor ini dimotori oleh tujuh pemuda yang kerap mempertanyakan rutinitas kerja mereka sehari-hari. “Apakah pekerjaan yang sekarang mereka lakoni sudah tepat? Mendapatkan penghasilan setiap bulan tanpa telat. Punya cadangan uang pensiun untuk persiapan hari tua. “Adakah hal lain yang harus dirisaukan?”

Noverius Henutesa Nggili, salah satu penggagas menganggap diri sebagai sarjana “tak tahu diri,” kala hanya berkutat dalam rutinitas. “Saya adalah sarjana Peternakan, sebagai PNS pertambangan. Teman-teman lain ada pegawai bank atau berkecimpung di dunia politik. Jika dibiarkan akan menghilangkan ilmu bertahun-tahun didapatkan di bangku kuliah. Iya kan?” katanya.

Pergumulan itu mulai 2005. Mereka lalu menemukan ide, membentuk komunitas kecil dan bertekad mengamalkan ilmu peternakan yang diperoleh di Universitas  Nusa Cendana Kupang, NTT. Memilih waktu senggang, berbekal sepeda motor, mereka menyambangi kampung. , Menyeberangi sungai, pulau atau jalan terjal berbatu. Bertemu masyarakat dan memberikan penyuluhan mengenai ilmu peternakan.

Maka lahirlah Geng motor iMuT (Aliansi Masyarakat Peduli Ternak). Masa awal, anggota hanya 15 orang. Dalam lima tahun, mereka menyambangi puluhan kelurahan dan kampung di NTT.

Kini anggota mencapai 500 orang. Namun yang aktif volunteer 150 orang dari berbagai disiplin ilmu, seperti kedoteran, teknik, video maker, fotografer, hingga tokoh agama. Si iMutpun berubah menjadi Inovasi Mobilisasi untuk Transformasi.

Berkat beberapa inovasi, Geng Motor iMuT mendapatkan beberapa penghargaan yakni Academia Award dari Forum Academia NTT 2010 dan 103 Inovasi Indonesia dari Kementerian Riset dan Teknologi 2011. Lalu, empat besar Mandiri Young Technopreneur Award 2011. Mereka menghadiri beberapa pertemuan inovasi baik di Indonesia dan internasional.

Geng motor ini kala menuju kampung target. Foto: Noverius Nggili
Geng motor ini kala menuju kampung target. Foto: Noverius Nggili

Apa saja yang sudah mereka hasilkan? Biogas. Mereka membawa ide dan menerapkan pada masyarakat. Tahun 2010, mereka menciptakan biogas dari beberapa drum bekas oli, ban dalam bekas mobil dan selang.

Biogas di NTT sangat baik, karena bahan baku kotoran ternak melimpah dari babi, unggas, hingga sapi. Kotoran-kotoran ini, disatukan dan digiling bersama air. Keengganan peternak mencampur kotoran dengan tangan sendiri diakali menggunakan sepeda statis, pemilik tinggal mengayuh.

Masa awal perkenalan teknologi biogas, geng ini hanya menciptakan empat unit sebagai contoh di Kota Kupang. Seiring waktu, penggunaan biogas sudah 43 unit tersebar di beberapa desa. Teknologi ini mereka namakan gester biogas portable.

Cara pembuatan biogas cukup mudah. Dengan, mengumpulkan kotoran ternak, memasukkan ke drum. Pada hari ke-21 sudah menghasilkan gas, namun masih bercampur udara dan belum layak digunakan. Pada hari ke-22, kotoran sudah menghasilkan gas murni dan bisa buat memasak selama dua jam penuh. Untuk menambah daya biogas, pemilik hanya menambahkan satu ember penuh slury (ekstrak kotoran yang sudah dibersihkan) ke drum, 2-3 ember dalam waktu dua hari.

Tak habis akal, geng ini menciptakan tempat penampungan gas dengan memfungsikan ban dalam bekas mobil. “Jadi bisa saja ada beberapa ban sebagai cadangan,” kata Noverius.

Untuk mengurangi pengeluaran membeli kompor gas buatan pabrik, geng motor ini menciptakan kompor biogas dinamakan Kompor Bimuty X-005. Dibuat dari pemanfaatan kaleng bekas ataupun karburator bekas mobil.

Keuntungan lain penggunaan biogas akan meminimalkan risiko kecelakaan, seperti tabung drum meledak atau menyebabkan kebakaran. Biogas, kata Noverius, gas lunak, bukan gas padat seperti dalam tabung LPG.

Mereka juga mengajarkan membuat suplemen pakan ternak. Musim hujan di NTT lebih singkat, kemarau mendera seperti tak kunjung putus. Kala akhir pekan, puluhan anggota geng Motor berkumpul. Mereka menamakan “Sabtu Menghayal” Maka terciptalah inovasi lain, blok suplemen pakan gula lontar.

Saya bertemu Noverius di Makassar, Selasa (22/9/14). Dia menyatakan, blok suplemen ini hasil desertasi dari beberapa peneliti. Namun, mereka mengenalkan dengan cara berbeda, membawa ke kampung-kampung terpencil dan mengajarkan pada masyarakat secara sukarela.

Geng ini juga membuatkan warga pesisir yang kesulitan air bersih, teknologi sederhana dan mudah. Yakni, desalinator yang bisa mengubar air laut menjadi air tawar. Foto: Noverius Nggili
Geng ini juga membuatkan warga pesisir yang kesulitan air bersih, teknologi sederhana dan mudah. Yakni, desalinator yang bisa mengubar air laut menjadi air tawar. Foto: Noverius Nggili

Menurut dia, di NTT saat musim hujan sangat hijau. Tumbuhan bagi ternak melimpah, namun kala kemarau semua mengering. Ternak sulit makan. Blok suplemen menjadi alternatif sangat baik dan cara pembuatan sangat mudah. Ketika musim hujan, para peternak diajak memetik pakan ternak, dikeringkan, dan dicacah halus.

Daun-daun yang sudah dihaluskan dicampur dengan beberapa bahan lain, terutama gula lontar yang banyak dijual di pasar. Setelah tercampur rata, peternak mengambil cetakan, bisa kotak ataupun silender, tergantung kemauan. Setelah padat, pakan ini disimpan dan tahan hingga setahun.

Saat musim kemarau, suplemen atau pakan ternak yang mengeras digantung di kandang. Sapi atau ternak lain akan menjilati suplemen ini. “Selama kami pendampingan, ternyata ternak yang memakan suplemen saat kemarau, bobot sama saat musim hujan, ketika makanan melimpah,” kata Noverius.

Beberapa desa sudah menerapkan teknik suplemen ini. Noverius mengatakan, hampir dipastikan semua peternak menerapkan teknologi ini.

Geng ini juga memperkenalkan desalinator air laut.  NTT adalah pulau dengan garis pantai yang panjang. Sebagian besar penduduk bermukim di pesisir pantai dan beberapa pulau kecil. Mereka kerap kesulitan air bersih.

Untuk memenuhi itu, katanya,  penduduk membeli air bersih dalam jerigen. Membawa dengan perahu atau menggandeng dengan motor. Geng inipun menciptakan teknologi tepat guna murah dan ramah lingkungan, yakni Desalinator iMuT. Ini teknologi mengubah air laut menjadi air tawar siap minum. Pembuatannya sederhana, menggunakan balok kayu berbentuk kotak. Pada setiap sisi kotak dilapisi plastik ataupun seng. Menggunakan atap dari bahan plastik transparan, berbentuk seperti rumah-rumahan kecil.

Dengan ukuran kotak penampungan air 80×80 cm dan tinggi 30 cm, air laut dapat ditampung maksimal 72 liter. Air dalam kotak ditempatkan pada wilayah terpapar langsung matahari. Untuk mempercepat proses penguapan, biasa daya tampung dikurangi hingga 30 liter.

Jika terik matahari tidak begitu menyengat, 30 liter akan menghasilkan air tawar antara 2–3 liter. Bila matahari terik, air tawar yang dihasilkan mencapai 7-12 liter. Cara kerja desalinator ini memanfaatkan prinsip penguapan. Ketika air laut terpapar matahari dengan suhu 70 derajat celcius, akan menghasilkan uap air tawar yang menempel pada dinding atap dari plastik transparan.

Uap air ini mengalir pada empat buah titik yang ditentukan dengan sudut kemiringan tertentu. Lalu, menuju pipa penampungan air tawar yang diletakkan di bagian bawah bak. Sisa air laut yang menguap akan menghasilkan garam, dan mudah dicampur yodium buat konsumsi. Bisa juga untuk penghasilan tambahan masyarakat.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,