Mampukah Potensi Wisata di Lahat Menjaga Kelestarian Hutan dan Sumber Pertanian?

Selama ini jika menyebut nama Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, orang akan teringat dengan komoditas kopi robusta dan batubara. Ternyata, sudah ratusan tahun masyarakat di sana bersawah padi. Puluhan ribu ton beras tersebut  disumbangkan petani Lahat untuk Sumatera Selatan.

Pemandangan sawah hijau nan indah terlihat ketika Mongabay Indonesia melalui Desa Pulau Pinang, Kecamatan Pulau Pinang. Seribuan hektare sawah terbentang di dataran rendah desa yang dekat dengan aliran Sungai Lematang. Pemadangan sawah hijau terus terpajang saat kita menuju Kota Pagaralam, tepatnya di wilayah Kecamatan Tanjungtebat dan Kotaagung.

Pemandangan sawah yang hijau ini tentu saja menjadi salah satu daya tarik bagi mereka yang melakukan perjalan ke Lahat atau Pagaralam.

Selain di Pulau Pinang, hamparan persawahan juga terlihat di Kecamatan Kotaagung, Tanjungtebat, Pagargunung, Kikim Selatan, Jarai, Tanjungsakti dan Pajarbulan. Luasnya mencapai 30.633 hektare.

Dari persawahan ini, dihasilkan gabah kering giling sebanyak 159.669 ton pada 2015 lalu. Setelah dikonsumsi bagi kebutuhan masyarakat Lahat sekitar 384.600 jiwa, sekitar 54.409 ton beras dipasarkan di masyarakat Sumatera Selatan lainnya.

Persawahan di dataran rendah, dan perkebunan atau tanaman buah-buahan di dataran tinggi. Foto: Jabrik-INFIS
Persawahan di dataran rendah, dan perkebunan atau tanaman buah-buahan di dataran tinggi. Foto: Jabrik-INFIS

Bertani dan berkebun

Menurut budayawan Lahat, Ismet Inonu Singayuda, sejak ratusan tahun lalu, masyarakat di Kabupaten Lahat hidup dari hasil pertanian dan perkebunan. “Hanya pada kekinian terjadi perubahan jenis pertanian pangan dan kebunnya. Dulu, mungkin pangan dari hasil biji-bijian sebelum beras, dan perkebunan mungkin damar sebelum kopi, sementara karet dikembangkan Belanda.”

Pemanfaatan lahan bagi masyarakat Lahat terbagi tiga: pemukiman, lahan untuk pangan atau pertanian, serta lahan untuk kebun. Lahan untuk kebun, selain ditanami kopi atau karet, ditanam juga buah seperti durian, duku, atau petai dan jengkol, “Semuanya dapat dimakan dan menjadi sumber pendapatan. Dapat dipastikan, masyarakat Lahat hidup sangat bergantung dengan pertanian dan perkebunan,” ujarnya.

Selain itu, kuliner masyarakat Lahat sama seperti umumnya masyarakat Sumatera Selatan. “Mereka tidak memiliki tradisi memakan daging hewan berkaki empat. Bukan tidak mau, tapi mereka lebih suka memakan sayuran, ikan, ayam atau burung, sehingga mereka sangat arif dengan lingkungan, terutama hutan dan sungai.”

Dengan tradisi pertanian dan perkebunan, tidaklah heran, sejak masa lalu terjadi pembauran antara masyarakat Lahat dengan pendatang dari Jawa. “Dengan suku apa pun masyarakat Lahat dapat menerima sejauh sama-sama mengelola pertanian dan perkebunan kopi atau karet. Terus terang hingga saat ini tidak pernah terjadi konflik antar-etnis di Lahat,” katanya.

Sejak dahulu masyarakat Lahat hidup dari pertanian dan perkebunan. Foto: David Herman-INFIS
Sejak dahulu masyarakat Lahat hidup dari pertanian dan perkebunan. Foto: David Herman-INFIS

Wisata alam dan sejarah

Berdasarkan penelusuran Mongabay Indonesia, Kabupaten Lahat yang luasnya sekitar 4.361,83 kilometer persegi memiliki ancaman dari aktivitas pertambangan yang tidak lestari, seperti penambangan pasir, koral, hingga batubara.

Jika penambangan pasir dan koral berlangsung di sepanjang Sungai Lematang, maka penambangan batubara terjadi di wilayah perbukitan, seperti di Kecamatan Merapi. Selain itu sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk, terjadi perluasan perkebunan oleh masyarakat ke wilayah hutan.

Mungkin karena kerusakan bentang alam ini yang menyebabkan persawahan di Lahat selain sering diserang hama juga mengalami kekeringan. Namun untuk membebaskan dari ancaman tersebut, sebenarnya Kabupaten Lahat memiliki potensi wisata, baik wisata sejarah maupun keindahan alamnya.

Berdasarkan penelusuran budayawan Mario Adramatrik, di Kabupaten Lahat terdapat 1.025 arca megalit pada 44 situs yang merupakan peninggalan peradaban megalitikum Pasemah. Kemudian Lahat juga memiliki 75 air terjun.

“Jika potensi dikembangkan jelas akan memberikan pendapatan yang besar bagi masyarakat dan pemerintah,” katanya.

Patung megalit manusia memeluk gajah pada saat ini di di Tinggihari III, Kabupaten Lahat, Sumsel. Foto: Taufik Wijaya
Patung megalit manusia memeluk gajah pada saat ini di di Tinggihari III, Kabupaten Lahat, Sumsel. Foto: Taufik Wijaya

Bahkan, kata Mario, jika dua potensi tersebut dikembangkan tidak akan terjadi pengrusakan lingkungan seperti dalam membangun infrastrukturnya. “Justru mampu menjaga pertanian, perkebunan dan hutan di Lahat. Sebab masyarakat tidak hanya mengandalkan pendapatan dari pertanian dan perkebunan,” katanya.

“Infrastruktur yang dibutuhkan adalah jalan, sementara jalan sebenarnya sudah ada, yakni jalan desa atau jalan di perkebunan. Yang dibutuhkan yakni perbaikan jalan tersebut. Selain itu terkait dengan penerangan atau listrik. Jika jalan sudah baik, para wisatawan dari Lahat menuju ke lokasi juga cukup cepat dan lancar.”

Hanya, sejalan dengan itu juga perlu dilakukan pendidikan di masyarakat soal perlakuan terhadap sampah dan menjaga kelestarian di lingkungan sekitar objek wisata.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,