Berburu Emas, Bertaruh Nyawa di Bombana

Salah satu kubangan pendulangan emas yang dijadikan warga tempat mandi hingga cuci piring. nampak pula hewan ternak yang menjadikan kubangan ini sebagai tempat minum. Foto: Eko Rusdianto
Salah satu kubangan pendulangan emas yang dijadikan warga tempat mandi hingga cuci piring. nampak pula hewan ternak yang menjadikan kubangan ini sebagai tempat minum. Foto: Eko Rusdianto

Penambangan emas di Bombana, masih dilakukan manual. Warga memasukkan mercuri atau memeras air bercampur merkuri menggunakan tangan. Tak ada pengaman bagi penambang. Dalam beroperasi, penambang maupun perusahaan, tak ada tempat pembuangan limbah. Sudah banyak warga tewas menjadi korban di lubang tambang. Warga meninggal dunia dengan penyakit ‘tak biasa’ pun berjatuhan, diduga dampak penggunaan mercuri, salah satu Dita, meninggal dunia bulan lalu. 

Jalan itu penuh pecahan batu dan kerikil tajam. Sana sini debu mengepul. Tenda-tenda biru, ada yang nyaris roboh. Ada pula sudah ditinggal pemilik. Ada masjid dan gereja.

Jumat, 21 Agustus 2015. Tepat pukul 14.00, sebuah sepeda motor melewati beberapa gundukan tanah, dan jembatan dari pohon kayu. Meliuk menyeberangi aliran sungai mengering, dan berhenti di tempat bernama Padang Bila.

Suara mesin penggiling memutar 10 tabung. Dua pria duduk di balai-balai berlantai papan. Sesaat meneguk minuman dingin, lalu menempelkan rokok di bibir. Mereka lalu melepaskan tali pipih pemutar tabung.

Tabung-tabung itu berisi batu dan tanah. Berputar selama lima jam tanpa henti. Ia menghancurkan isi tabung menjadi lumpur. Botol-botol ukuran kecil dari minuman energi –terisi cairan perak (merkuri) dimasukkan ke tabung. Berputar kembali selama 15 menit.

Selang air dimasukkan dalam tabung. Dua pekerja, mangaduk dengan tangan telanjang. Bercelana pendek. Air-air dalam tabung dipindahkan ke baskom. Seorang perempuan, dari keluarga pemilik tromol mulai mengaduk, guna memastikan ada serbuk emas tertangkap cairan perak atau tidak.

Lalli, 30-an tahun, pemilik tromol yang disapa bos oleh dua pekerja, duduk di meja khusus. Dengan telapak terbuka, perempuan itu meletakkan benda kecil berwarna perak.

“Iya ini emas. Tapi kecil. Nanti kita bakar dulu, supaya air perak hilang, dan tinggal emas yang kuning itu,” katanya.

Dengan tabung kecil yang dimodifikasi menjadi alat pembakar dinyalakan. Beberapa saat, benda kecil itu diletakkan pada guci tanah, berubah warna. “Beratnya 0,16 karat,” katanya.

Inilah penampakan dasar Sungai Tahi Ite, di lokasi PT Tiran beroperasi. Foto: Eko Rusdianto
Inilah penampakan dasar Sungai Tahi Ite, di lokasi PT Tiran beroperasi. Foto: Eko Rusdianto

Pada kawasan lain bernama Loro Nene, seorang pemuda baru menghentikan mesin tromol. Loyang-loyang kecil dari wadah plastik bercampur lumpur dan cairan perak diletakkan. Perlahan, dia memeras kain berisi air itu. “Ini berat kira-kira tiga gram.”

“Tidak dibakar?” tanya saya.

“Tidak, mungkin malam. Nunggu bos dulu.”

“Semua tempayan ini, kira-kira ada berapa gram emasnya,”

“Ya, paling banyak 15 gram.”

Beginilah tambang emas di Bombana, Sulawesi Tenggara. Semua pekerjaan manual. Mereka menggali tanah, mengambil material, lalu membawa ke kubangan untuk didulang. Jika seseorang memiliki uang cukup, biasa membeli mesin tromol untuk memutar tabung-tabung material.

Namun membakar emas, semua dengan teknik sama, secara manual, tanpa menggunakan masker atau pelindung hidung.

Tak jarang, beberapa dari pekerja muntah darah saat pembakaran. “Mau bagaimana lagi, pakai tutup hidung juga bau tembus,” kata Lalli.

Tampilan emas yang masih terbungkus mercuri. Foto: Eko Rusdianto
Tampilan emas yang masih terbungkus mercuri. Foto: Eko Rusdianto

Di Bombana, sejak penemuan emas pertengahan 2008, ada ribuan orang tumpah ruah ke lokasi itu. Mereka datang dari berbagai pelosok negeri. Dari desa-desa tetangga dan daerah sekitar. Dari Kalimantan, Manado hingga Lampung.

Akhir 2008, gelombang pencari emas mencapai puncak. Mereka menjamah area hutan. Mereka datang membawa keluarga, seorang diri, atau kelompok-kelompok kecil. Di Dusun Tahi Ite, Desa Rau-rau, kubangan-kubangan sisa galian menjadi pemandangan lumrah. Sisi jalan, halaman depan, belakang rumah, hingga antara sela tanaman perkebunan. “Di sini semua dulu penambang, pendulang. Penuh,” kata Mustakin, warga lokal,  pemandu saya.

***

Akhirnya,  27 September 2008, pemerintah Bombana, menutup penambangan dengan alasan pengaturan lebih baik. Ratusan petugas keamanan dari Polisi, Brimob, TNI dan Satpol PP bersiaga di beberapa lokasi. Setiap warga menambang wajib memiliki surat izin terbitan Dinas Pertambangan setempat.

Untuk masyarakat lokal biaya administrasi Rp50.000,  bagi warga pendatang registrasi Rp100.000. Dengan masa berlaku surat izin enam bulan.

Lahan pasca panen - pada ujung areal persawan ini, adalah gunung tempat penambangan emas berlangsung. Foto: Eko Rusdianto
Lahan pasca panen – pada ujung areal persawan ini, adalah gunung tempat penambangan emas berlangsung. Foto: Eko Rusdianto

Menurut catatan Dinas Pertambangan, pada masa itu terdata sekitar 6.000 penambang! Belum lagi yang menambang tanpa izin. Bahkan pada 2008 hingga 2009, diperkirakan kunjungan ke Bombana mencapai 60.000 orang. Tentu jumlah tak sedikit.

Di sepanjang lokasi penambangan, dari Padang Bila, menuju Loro Nene, Roko-roko, hingga ke Pulodu, Mustakin menunjukkan tempat-tempat bermukim yang sekarang ditinggalkan. “Dulu ini pasar. Di sana orang-orang tinggal, bangun tenda. Pokoknya ini tempat ndak pernah sunyi, dari malam sampai pagi.”

Di Roko-roko, saya menemukan bangunan dari tenda, bagian bawah tergeletak dua meja biliar. “Iya. Ini dulu kafe. Ada juga perempuannya. Semua tersedia,” kata Mustakin.

Pada masa-masa awal penambangan, Mustakin ikut mendulang tetapi tak begitu rutin. Dia memilih menjadi tukang ojek. Sekali trip, dari percabangan di Desa Rau-rau ke Padang Bila atau Pulodu dia mematok tarif hingga Rp200.000. “Jadi sehari paling sedikit dapat Rp1 juta. Masa itu uang gampang sekali.”

Tak heran, Mustakin begitu menguasai jalan dalam kawasan penambangan. Dari bukit yang dipenuhi ilalang, sampai bukit rindang dengan pepohonan. “Bayangkan, dulu kalau mau beli minuman (beralkohol atau menyewa pekerja seks) transaksi tidak menggunakan uang cash,  melainkan emas. Jadi itu perempuan, sediakan sendiri timbangan, berapa karat untuk sekali,” katanya tertawa. “Itu benar kawan.”

Lokasi Kubangan dan Aktivitas di PT Tiran. Foto: Eko Rusdianto
Lokasi aktivitas di PT Tiran. Foto: Eko Rusdianto

Saat melewati Sungai Tahi Ite, saya teringat perbicangan bersama Herman, Kepala Dusun Tahi Ite. Menurut dia, sungai ini dulu lautan manusia. Dari pagi sampai malam. “Woe, itu air sungai berubah coklat dan kental seperti lumpur.”

Di tebing-tebing sungai, para pendulang menggali lubang-lubang kecil–lubang tikus–untuk mengambil material. Setelah dianggap cukup, pendulang membawa ke pinggiran sungai dengan aliran air cukup, lalu didulang menggunakan wajan atau bejana. Anak kecil, orang dewasa, orang tua, laki-laki dan perempuan, semua bercampur.

Di Loronene, teknik mendulang itu saya saksikan. Bejana digoyangkan membentuk setengah lingkaran. Setelah air dalam wajan berkurang, pendulang mengaduk dengan tangan . Lalu mencampurkan merkuri –air perak–ke dalam bejana. Digoyangkan lagi seperti awal.

Pelan-pelan, campuran lumpur dan kerikil akan keluar dan meninggalkan endapan serupa perak berwarna putih. Saat campuran terlihat, pendulang akan mengangkat dan memeras dengan kain di kubangan. Praktik ini berulang terus.

Di Loro Nene, di antara tebing-tebing tanah yang rapuh, para pendulang membuat kubangan sederhana dengan air ditampung menggunakan terpal. Ukuran bervariasi dari dua meter persegi hingga empat meter persegi. Saat mendulang, setengah badan akan terendam dalam kubangan.

-Ma'dompeng - proses untuk menngangkut material dengan menggunakan alat penyedot. Foto: Eko Rusdianto
Ma’dompeng – proses untuk mengangkut material dengan menggunakan alat penyedot. Foto: Eko Rusdianto

Mereka tak tahu bagaimana pengaruh merkuri saat masuk ke tubuh. Beberapa pendulang mengeluhkan gatal-gatal pada kaki dan tangan. Mereka lama berendam dalam air. “Saya juga dulu waktu mendulang biasa gatal, tapi itu karena lama berendam dalam air. Air kotor campur tanah,” kata Mustakin.

Dalam beberapa cerita, di Roko-roko, beberapa tahun lalu, ketika penambangan sedang marak, ada perempuan paruh baya terserang gatal pada kemaluan (vagina) hingga infeksi dan meninggal dunia. Namun, cerita sehari-hari,  penyakit itu ada karena sang perempuan mendulang dalam keadaan haid.

Di lokasi tambang, mitos menjadi sesuatu yang penting. Menurut beberapa pendulang,  hanya mereka yang berhati bersih akan menemukan titik kumpul emas. Emas, bagi para pemburu, punya jalur khusus dan selalu berpindah tempat. Jalur inilah yang terus menerus ditelusuri. Lubang tikuspun menjadi cara paling ampuh.

***

Sabtu, 22 Agustus 2015. Waktu menjelang pukul 15.00. Hendra berkeringat keluar dari lubang kecil ukuran satu meter persegi. Dia mematikan head lamp. Seorang kawan, masih berada 17 meter di dalam lubang sama. “Oe, naik dulu. Blower-nya mati, ndak tahan panas,” kata seorang temannya. “Ndak didengar itu. Di bawah lagi putar musik,” kata Hendra.

Ma'dompeng - proses untuk menngangkut material dengan menggunakan alat penyedot. Foto: Eko Rusdianto
Ma’dompeng – proses untuk menngangkut material dengan menggunakan alat penyedot. Foto: Eko Rusdianto

Di area penambangan emas Bombana, blower lazim untuk membantu para pemburu emas saat penggalian. Blower ditempatkan di bagian atas lubang, menggunakan plastik panjang berbentuk corong menuju lubang galian. Angin yang dihasilkan blower itulah, untuk membantu pemburu bernapas.

Setiap lubang dikerjakan minimal dua orang. Satu orang di bawah lubang, seorang lagi di bagian atas bertugas mengangkat material. Para penambang membuat lubang manual. Praktis hanya pakai linggis dan sekop.

Sedalam apapun lubang galian, para penambang tak menggunakan tangga turun dan naik. Mereka hanya mengandalkan tumpuan kaki, membuat lubang kecil menyerupai ceruk–seperti memanjat pohon kelapa secara manual. Satu tangan memegang tali nilon ukuran jempol, tangan lain menumpu pada dinding galian.

Bagaimana rasa bernapas di kedalaman tanah 17 meter? “Biasa saja. Di bawah enakji dan nyaman,” kata Hendra.

Dia menawarkan saya turun ke bawah lubang. Kaki saya gemetaran saat setengah badan dalam lubang galian. “Jangan tegang,” kata Hendra.

Memasukkan merkuri dalam tabung tromol. Foto: Eko Rusdianto
Memasukkan merkuri dalam tabung tromol. Foto: Eko Rusdianto

Melongok ke bawah galian, terihat cahaya kecil berpendar. Cahaya itu bias dari head lamp. Di bawah dasar,  Hendra dan seorang kawan terus menggali. Empat karung material yang diangkut belum menemukan jalur emas yang diharapkan.

Lubang-lubang galian seperti inilah yang membunuh ratusan jiwa di Bombana. Mereka terkubur karena dinding tanah longsor. Di beberapa tempat, para penambang hanya menandai lokasi tempat orang-orang–orang meregang nyawa. Tak ada yang dapat menghitung pasti, namun semua orang sepakat, jumlah mencapai ratusan. “Kalau lubang galian masih lima meter, jenazah akan dinaikkan, kalau sudah puluhan meter, langsung ditimbun saja,” kata Hendra.

Seorang pendulang menyarankan menuju Roko-roko, yang berada di puncak gunung. Jalan sungguh tak menyenangkan, beberapa kali harus turun dari motor dan berjalan kaki. Di Roko-roko, para penambang tak ingin di foto dan tak senang dikunjungi pendatang. Namun, mereka mengizinkan saya sekadar jalan-jalan.

Roko-roko seperti kompleks perumahaan di wilayah perkotaan. Ada beberapa simpangan mirip gang-gang kecil yang saling berhubungan. Di tempat itu juga ada sungai besar, dengan tebing sudah rusak tak berbentuk karena penggalian. Menurut beberapa penambang, di tempat inilah lubang-lubang galian mencapai kedalaman hingga 30 meter.

Dari Roko-roko,  kami turun menapaki jalan dengan debu begitu tebal, jika jalur memaksa turun dari motor, sepatu booth akan tenggelam. Bahkan di beberapa titik gumpalan debu melewati pergelangan kaki.

Di sebuah penurunan terjal, saat motor merayap begitu pelan, saya tercengang melihat sebuah kendaraan berat bekerja mengangkut material tanah. Di sampingnya sungai mengering. Inilah perpanjangan dari Sungai Tahi Ite yang dikisahkan Herman. “Dulu sebagaimana pun kemarau, sungai tetap ada air. Sekarang sudah tidak ada lagi. Padahal sungai itu juga yang mengalir ke desa, untuk irigasi dan lain-lain.”

Proses memasukkan merkuri dalam tabung tromol. Foto: Eko Rusdianto
Memasukkan merkuri dalam tabung tromol . Foto: Eko Rusdianto

Lokasi itu milik PT Tiran, perusahaan yang menambang di Desa Rau-rau. Di sana, ada beberapa kotak kecil beton yang digunakan pekerja mendulang dan memisahkan emas dari kerikil.

Sisa perahan dari air merkuri itu dialirkan ke kubangan, menuju Sungai Tahi Ite. Tak ada area khusus pembuangan tailing atau limbah sisa penambangan. Pengawas lapangan PT Tiran, Nawir, sama sekali tak menghiraukan hal itu. Dia lebih mementingkan hasil.

“Sekarang emas sudah mulai berkurang. Sebulan paling banyak dapat 50 gram,” katanya. “Kalau dulu bisa kg.”

Di Bombana, harga per gram emas dibanderol sekitar Rp400.000. Untuk 50 gram sekitar Rp20 juta. “Tiap bulan selalu rugi,” katanya.

“Kenapa tak ditutup saja?”

“Saya ndak tahu apa alasan Pak Menteri.”

Menteri yang dimaksud Nawir adalah Amran Sulaiman, Menteri Pertanian dalam kabinet Jokowi-JK. Di Bombana dan area pertambangan, nama Amran Sulaiman dikenal dengan sapaan Pak Sulaiman. Kami di Mongabay, beberapa kali mencoba menghubungi nomor telepon menteri untuk mengkonfirmasi, tetapi tak aktif. Kiriman pertanyaan pun tak terjawab.

Lokasi aktivitas PT TIran. Foto: Eko Rusdianto
Lokasi aktivitas PT TIran. Foto: Eko Rusdianto

Dari keterangan di banyak media terlihat, kalau PT Tiran di Bombana, merupakan bagian dari perusahaan yang masuk unit bisnis Tiran Group, milik Amran.

“Dulu waktu awal-awal, selalu bermasalah dengan penduduk atau pun penambang. Jadi kalau ada masalah Pak Sulaiman itu telpon saya untuk tengahi,” kata Herman.

“Sekarang, kalau sms sudah tidak dibalas. Mungkin dia sibuk sekali sebagai menteri. Atau mungkin sudah tidak pakai nomer itu lagi.”

Dari balik pepohonan, di mana  PT Tiran beroperasi, aliran Sungai Tahi Ite, benar-benar sudah mengering. Dasar berkerikil kecil dan lumpur mengendap retak. Beberapa bekas ban motor melalui dasar sungai itu.

Namun, jika musim hujan tiba, Sungai Tahi Ite, akan kembali ramai. Puluhan orang akan bergerak membawa bejana dan wajan menuju pinggiran sungai untuk mendulang. “Di sini pasti ada emas. Kan di atas ada PT Tiran yang buang sisa material,” kata Mustakin.

Selain PT Tiran, beroperasi pula PT Panca Logam, PT Sultra Utama Nikel (SUN), Bahtera, KCP dan Dinasti. Perusahaan-perusahaan ini berada di wilayah SP (satuan pemukiman) yang pada awalnya untuk wilayah transmigrasi.

Proses penambangan emas di Bombana. Foto: Eko Rusdianto
Proses penambangan emas di Bombana. Foto: Eko Rusdianto

Menuju wilayah operasional perusahaan ini, sungguh sulit. Puluhan Brimob masih berjaga di gerbang, akses utama jalan. Mereka tak mengizinkan seseorang tanpa identitas jelas masuk ke lokasi penambangan.

Sungai Tahi Ite, salah satu jantung dan urat nadi kehidupan masyarakat di Desa Rau-rau Kecamatan Rarowatu, Bombana. Sungai ini menjadi sarana irigasi dan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

***

Sekitar 10 menit perjalanan menggunakan motor, dari lokasi pertambangan PT Tiran dan tambang masyarakat menuju Dusun II, Desa Rau-rau, tampak seorang gadis kecil terbaring menahan sakit. Mulut terus menganga, tak bisa terkatub.

Nama perempuan itu Dita. Usia 11 tahun. Si ibu, Kustin (43) terus menggendong. Dia membelai rambut dan berulang kali mencium pipi sang anak. Sesekali, dia bicara meskipun tak begitu yakin apakah Dita mengerti.

Proses pencampuran merkuri ke dalam material. Foto: Eko Rusdianto
Proses pencampuran merkuri ke dalam material. Foto: Eko Rusdianto

Saya tak bisa bercerita dengan Kustin, karena pendengarannya sudah tak berfungsi. Ada kuga Hasni (40),  tante Dita yang selalu menemani.

Menurut dia, saat kecil Dita anak riang. Senang bermain. “Anak saya selalu dijaga sama dia,” kata Hasni.

Saat Dita berusia tiga tahun, beberapa kali kejang. Keadaan memburuk ketika usia delapan tahun. Kaki menjadi kaku dan tangan tak bisa bergerak. Dita menangis. Setiap hari merasa kesakitan. Kala usia 11 tahun, dia tak bisa bergerak.

Selama masa itu, keluarga Dita berkumpul dan membawa ke dokter. Tetap tak ada hasil. Akhirnya, keluarga mencari pengobatan alternatif dengan menghubungi dukun (sandro). Di Bombana, hingga kampung tetangga, setiap informasi dukun akan disambangi. “Pokoknya dari ujung ke ujung,” kata Hasni.

BaliFokus, lembaga nirlaba yang meneliti pencemaran lingkungan dan Medicuss Foundation–kelompok dokter-, pengujian kesehatan pada Februari 2015,  di Bombana memeriksa sekitar 25 dewasa dan anak-anak  (16 dewasa, 9 anak-anak termasuk Dita).

Sebelumnya, pada 2011 BaliFokus sudah meneliti di Bombana. pada 2013, kembali memantau dan mulai mempelajari perkembangan pertambangan emas. “Rupanya intensitas kegiatan mulai menurun, karena penambang mulai pada pindah ke Halmahera dan Pulau Buru,” kata Yuyun Ismawati, Direktur BaliFokus.

“Jika dilihat sampel ikan, air, tanah, bulu sapi dan kerbau yang kami ambil awal Agustus, menyatakan kadar konsentrasi hg (merkuri) tidak terlalu tinggi tetapi melewati ambang batas aman, tetapi tidak terlalu ekstrim,” tulis Yuyun dalam email.

Laporan bersama BaliFokus dan Medicuss Foundation, menyatakan, apa yang dialami Dita, adalah cerebral palsy yakni sejenis penyakit Minamata yang menyerang kerusakan sistem syaraf pusat. Minamata adalah wilayah di Jepang.

Dita, gadis 11 tahun ini dulu bocah cerita dan lincah. Namun, keceriaan hilang kala penyakit yang diduga dampak tambang emas, menghampirinya. Dia tak bisa melakukan apa-apa. Dudukpun dipangku sang ibu. Foto: Eko Rusdianto
Dita, gadis 11 tahun ini dulu bocah cerita dan lincah. Namun, keceriaan hilang kala penyakit yang diduga dampak tambang emas, menghampirinya. Dia tak bisa melakukan apa-apa. Dudukpun dipangku sang ibu. Foto: Eko Rusdianto

Tahun 1956, di Minamata ditemukan ribuan “penyakit aneh” yang menewaskan ratusan orang. Melalui penelitian cukup panjang dan melelahkan, tim dokter, LSM, pers, dan ribuan relawan turun lapangan, akhirnya menemukan penyakit ini karena paparan merkuri.

Harada Masazumi, dokter yang sejak awal menangani pasien di Minamata menuliskan laporan dalam Tragedi Minamata. Menurut dia, anak yang menderita cerebral palsy akan memperlihatkan ketidakseimbangan tubuh. Pada 1961, seorang anak tak mampu berbicara dengan baik, leher tidak stabil, tubuh tersentak-sentak dan kaki terlemparlempar keluar.

“Bahkan, hari dan bulan berlalu, hingga konsep ini menjadi sepenuhnya utuh dan para pasien ini (cerebral palsy) akhirnya dinyatakan sebagai penderita penyakit Minamata.”

Salah satu kekhawatiran peneliti dari BaliFokus dan Medicuss Foundation, ada aktivitas pertambangan emas dan pendulangan oleh orangtua Dita beberapa tahun lalu. Saat kunjungan Februari 2015, tim menemukan kadar konsentrasi merkuri di rumah Dita masih normal, di bawah 25 nanogram.

Dalam laporan diterbitkan Pulitzer Centre pada Juli 2015,  orang tua Dita membawa emas lalu dibakar di belakang rumah. “Selama pembakaran amalgam, uap Hg (merkuri) di sekitaran tempat ini bisa di mencapai 10.000 hingga 45.000 nanogram per meter kubik,” kata Yuyun. “Saya kira kadar merkuri itu akan bertahan bertahun-tahun.”

Pada Sabtu, 22 Agustus 2015, sebuah kain kasa perban menempel di kaki Dita. Air liur terus menetes dan mengeluarkan suara erangan. Beberapa menit sebelum itu, beberapa pertugas kesehatan dari Bombana menyambangi.

Petugas mengambil sampel darah dari kaki dan menunggu sampel urin. Namun, hari itu Dita tak ingin kencing.

Petugas menyerah. Seorang petugas kesehatan yang menggunakan kain safari, menghampiri saya. Dia menyulut rokok.

“Si Dita sakit apa Pak,” kata saya.

“Itulah kita belum tahu. Tapi kan kita harus waspada, ini kan dekat tambang. Sungai belakang rumah itu kan asalnya dari tambang emas di atas sana, bisa jadi karena merkuri.”

Salah satu lokasi di Padang Bila tempat tenda-tenda penambang. Foto: Eko Rusdianto
Salah satu lokasi di Padang Bila tempat tenda-tenda penambang. Foto: Eko Rusdianto

Kustin mengangkat Dita ke tempat tidur. Dia memberi izin saya mengabadikan gambar Dita. Saat kamera mengarah, kepala mengikuti gerakan perpindahan itu. “Masih melihat ini anak kasian. Itu kepala bergerak kalau liat kamera,” kata Hasni.

Hasni merabah kaki Dita. Dia mencoba meluruskan ke depan, tetapi tampak amat sulit. Tulang Dita seperti hendak menyembul keluar. Bak tulang berbalut kulit. “Bagaimana tidak kurus, makan itu susah sekali. Harus dibuatkan bubur. Kalau disuap, lebih banyak makanan yang keluar.”

Jelang sore, keluarga Dita mengantar hingga depan pintu. Kami saling berpamitan. Kustin memegangi tangan saya dengan kuat, dan berucap dalam bahasa yang kurang saya mengerti. “Doakan Dita baik-baik. Supaya nanti ketemu lagi kalau jalan-jalan kesini,” kata Hasni.

Ternyata harapan itu tak terkabul. Pada 31 Agustus 2015, saya menerima kabar, Dita meninggal dunia. Dita sudah mengakhiri derita sejak usia tiga tahun.

Dita bukanlah satu-satunya warga Bombana yang meninggal dengan “penyakit aneh” seperti itu. Di Kecamatan Poloeang, Kelurahan Boe Pinang, pada Maret 2015, bayi bernama Agung meninggal dengan kondisi lahir anggota tubuh tak normal, mata katarak, hernia dan paru-paru basah.

Sebulan kemudian, Pere (70 tahun), tokoh adat Moronene, meninggal dunia pada April 2015, di Desa Rau-rau. Dia mengalami severe tremor dan ataxia. Tak lama berselang anak perempuan Pere berusia 40 tahun pun meninggal dunia pada Maret 2015, dengan gejala cramp stomach dan perut mengeras.

Salah satu lubang galian. di belakang Hendra (penambang) nampak blower yang digunakan untuk bantuan oksigen dalam lubang. Foto: Eko Rusdianto
Salah satu lubang galian. di belakang Hendra (penambang) nampak blower yang digunakan untuk bantuan oksigen dalam lubang. Foto: Eko Rusdianto

Pada Maret 2015, anak bernama Fikri (dua tahun) pun harus meregang nyawa karena mengidap penyakit nervous disorder.

***

Sambe, warga lokal dari Suku Moronene, yang mendiami sekitar Bombana sejak ratusan tahun lalu. Di Sulawesi Tenggara, ada empat suku besar mendiami kawasan itu, yakni Moronene, To Laki, Muna dan Wollio.

Pada masa lalu, orang-orang Moronene dikenal sebagai pekerja ulet, piawai berburu dan berladang. Leluhur masyarakat Moronene hidup dengan alam subur, selalu bermukim di dekat sumber-sumber air. Salah satu kampung tua mereka kini berada dalam Kawasan Taman Nasional Rawa Aopa.

Sambe tak begitu memahami sejarah suku. Namun, dia bermukim di SP-2. Rumah dia berada dalam kawasan salah satu perusahaan tambang emas. Lahan seluas dua hektar,  dikuasai PT SUN. Dia tak mampu lagi menggarap sejak perusahaan menggelontarkan dana bantuan sosial ke desa-desa terdampak.

Jalan utama menuju Kasi Pute pusat Kabupaten Bombana. Foto: Eko Rusdianto
Jalan utama menuju Kasi Pute pusat Kabupaten Bombana. Foto: Eko Rusdianto

PT SUN, memberikan bantuan sosial ke tiga desa terdampak Rp20 juta per bulan. Dana ini, kata Sambe,  tak pernah jelas. Sebelum program dana bantuan sosial muncul 2013, perusahaan menggarap lahan pertambangan dengan sistem mitra.

Jika masyarakat memiliki lahan dan bersedia menggarap (menambang emas), pembagian hasil 60 : 40. Yakni 60 untuk pemilik dan 40 perusahaan. Begitupun sebaliknya.

“Mengapa masyarakat tidak mengelola lahan sendiri?”  tanya saya.

Ndak bisa. Misal, tanah saya itu masuk PT SUN. Ada juga 10 hektar, masuk PT KCP,” kata Sambe.

“Semua tak bisa digarap lagi. Mau bagaimana lagi, kita bisa ditangkap kalau mau garap sendiri.”

Sistem kepemilikan penuh perusahaan inipun membuat masyarakat makin tersudut. Beberapa keluarga Sambe, untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mecari pekerjaan memilih meninggalkan kampung. Mereka menjadi TKI atau buruh harian di Kalimantan. “Saya bisa bertahan di kampung karena guru sekolah. Jadi ada kerjaan yang bisa menyambung hidup.”

Di Wumbubangka, sebelum perusahaan dan penemuan emas terjadi, wilayah ini tempat elok dan subur. Petak-petak sawah berhampar. Sungai member air tiada henti. “Setelah masuk konsesi KCP (PT Karya Cipta Pratama), sungai itu jadi mati dan kering sekali,” kata Sambe.

“Bagaimana warga mau bertahan. Mau bertani tidak bisa, pengairan tidak ada.”

Pada 2008, Pemerintah Daerah Bombana, mencangkan pembangunan irigasi air untuk menopang produksi pertanian di Wumbubangka. Pembangunan sudah berjalan, semua masyarakat senang. “Tahun 2009, perusahaan mengambil alih sebagai kawasan mereka, jadi pembangunan untuk irigasi dihentikan. Sampai sekarang,” kata Sambe.

Berharap pada anak sungai lain seperti Kali Lulua, ternyata sudah dibendung PT Panca Logam. Mereka menjadikan kali itu sebagai tempat pendulangan atau mengumpulkan material. Aliran air ke kampung menjadi terhalang. “Kalau sudah begitu, jalan lain masyarakat harus keluar banyak uang lagi, karena membuat sumur bor.”

Pada 2008, survei Dinas Pertambangan Bombana, merilis jika luasan potensi emas di Bombana mencapai 5000 hektar. Kandungan emas itu, terdapat di perbukitan dan aliran-aliran sungai serta pemukiman transmigrasi dari mulai SP-7 hingga SP-10.

Mencampur air dengan tabung yang sudah diisi dengan merkuri. Foto: Eko Rusdianto
Mencampur air dengan tabung yang sudah diisi dengan merkuri. Foto: Eko Rusdianto

Harian Fajar Makassar tahun 2008, mengutip Dinas Pertambangan Bombana jika deposit emas mencapai 158.000 ton. Aliran sungai utama seperti Tahi Ite dan Wumbubangka menjadi spot paling baik, rata mencapai 258 ppm (part per million), atau 258 gram emas murni untuk tiap satu ton material tanah. Di perbukitan, kandungan emas mencapai 10-40 ppm.

Namun, cadangan emas berlimpah itu, tak berdampak baik pada kondisi ekonomi dan infrastruktur kawasan serta kondisi lingkungan hidup warga. Kasi Pute, pusat pemerintah dan pusat perekonomian Bombana, tak menampak hal itu.

Dermaga yang menghubungkan ke Pulau Kabaina, sangat sederhana. Hanya beroperasi kapal-kapal perintis dan kapal kayu untuk penumpang.

Bahkan baru pukul 19.00, Kasi Pute begitu sunyi. Tak ada hilir mudik kendaraan. “Kasi Pute ini seperti ibukota kecamatan saja,” kata Supri, seorang warga.

Kepala Bidang Analisis Mengenai Dampak Lingungan (Amdal) BLH Bombana, Makmur mengatakan, selama ada perusahaan penambangan di Bombana, rakyat makin susah. Bahkan,  katanya, tak membawa dampak dan perubahaan baik. “Saya kira akan lebih baik tak ada tambang. Mungkin itu lebih bagus jika mau memilih.”

Kata Makmur, selama proses penambangan berlangsung tak ada satupun perusahaan benar-benar mempraktikkan pertambangan berwawasan lingkungan. Misal, lubang-lubang galian tak ditutup kembali, lahan pasca tambang tak direklamasi, atau sistem pengolahan limbah tak ada.

Dari sisi pertumbuhan pendapatan daerah pun tak begitu signifikan, saat pemerintah membangun satuan pemukiman untuk kawasan transmigrasi, pembangunan jalan dengan seksama. Namun, ketika perusahaan masuk, jalan itu makin hari makin rusak.

Padahal, jika hanya masyarakat yang melewati tidak akan rusak bahkan dijaga.

Makmur juga mengkritisi pemberlakuan UU Minerba 2014, dimana dana bagi hasil harus dilaporkan lebih dahulu ke pusat,  baru ke provinsi lalu kabupaten. “Tahun 2014, PT  SUN menyumbangkan dana bagi hasil Rp300 juta.”

Di Bombana, tak ada tim pemantau, hanya di provinsi dan pusat, sesuai UU Minerba. “Apakah keuntungan yang dilaporkan PT SUN itu sesuai atau tidak kami juga tidak tahu. Lalu kaupaten hanya mendapat Rp300 juta itu. Ya itu saja.”

Setelah menderita penyakit yang diduga terdampak tambang emas bertahun-tahun, akhir Agustus 2015, Dita telah pergi. Data BaliFokus, meyebutkan, beberapa warga meninggal dunia mengalami beberapa penyakit yang diduga kuat dampak tambang emas menggunakan mercuri. Foto: Eko Rusdianto
Setelah menderita penyakit yang diduga terdampak tambang emas bertahun-tahun, akhir Agustus 2015, Dita telah pergi. Data BaliFokus, meyebutkan, beberapa warga meninggal dunia mengalami beberapa penyakit yang diduga kuat dampak tambang emas menggunakan mercuri. Foto: Eko Rusdianto
Proses pencampuran materaial dengan mercuri guna mendapatkan emas. Foto: Eko Rusdianto
Proses pencampuran materaial dengan mercuri guna mendapatkan emas. Foto: Eko Rusdianto
Hamparan padi di Bombana, dengan wilayah sekitar tambang emas. Foto: Eko Rusdianto
Hamparan padi di Bombana, dengan wilayah sekitar tambang emas. Foto: Eko Rusdianto