Nurlina, Perjuangkan Kesamaan Hak bagi Perempuan Nelayan

Namanya Nurlina atau biasa dipanggil Lina. Sehari-hari perempuan muda kelahiran 18 Maret 1988 ini berprofesi sebagai nelayan di kampungnya, Pulau Sabangko, Desa Mattiro Bombang, Kecamatan Liukan Tuppakbiring, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Menjadi seorang perempuan yang berprofesi sebagai nelayan adalah tantangan tersendiri bagi Lina. Tidak hanya dipandang aneh dari masyarakat tapi juga seringkali mendapat perlakuan diskriminasi dari pemerintah.

“Selama ini hanya nelayan laki-laki yang diakui, sementara perempuan tidak,” ungkap Lina kepada Mongabay di sela-sela acara penganugerahan 9 Perempuan Pejuang Pangan di Bakoel Kafe, Jakarta, Minggu (16/10/2016).

Atas inspirasinya memperjuangkan hak bagi perempuan nelayan di daerahnya, Pulau Sabangko, Kabupaten Pangkep, Sulsel, Nurlina terpilih sebagai salah satu dari 9 perempuan pejuang pangan versi Oxfam. Ia mampu merubah stigma masyarakat dan pemerintah bahwa menjadi nelayan juga bisa dilakukan oleh perempuan. Foto: Wahyu Chandra.
Atas inspirasinya memperjuangkan hak bagi perempuan nelayan di daerahnya, Pulau Sabangko, Kabupaten Pangkep, Sulsel, Nurlina terpilih sebagai salah satu dari 9 perempuan pejuang pangan versi Oxfam. Ia mampu merubah stigma masyarakat dan pemerintah bahwa menjadi nelayan juga bisa dilakukan oleh perempuan. Foto: Wahyu Chandra.

Lina sendiri adalah satu dari 9 pejuang pangan hasil kompetisi film pendek yang diselenggarakan oleh Oxfam dan Rimbawan Muda Indonesia (RMI) beberapa waktu lalu. Perjuangannya untuk kesamaan hak bagi perempuan nelayan dinilai memberi inspirasi dan kontribusi bagi kesetaraan gender.

“Dulu saya beberapa kali mengajukan proposal bantuan nelayan namun selalu ditolak. Tanggapan pemerintah selalu sinis menganggap perempuan tak bisa membawa perahu. Saya balik menantang, kalau mereka tidak percaya maka mari saya antar keliling pulau. Pak Bupati pun kalau mau saya bisa antar,” katanya.

Awalnya keterlibatan Lina dalam mattasi-tasi atau melaut dimulai ketika ayahnya meninggal di saat ia masih berusia 12 tahun. Demi menghidupi diri dan ibunya ia pun tak segan ikut melaut ikut bersama pamannya yang seorang nelayan.

“Setiap hari saya ikut membantu hingga tahu bagaimana cara menjalankan perahu. Sempat ada nada sinis dari tetangga-tetangga kenapa perempuan menjadi nelayan namun saya abaikan. Toh ini pekerjaan halal demi menghidupi keluarga,” katanya.

Diskriminasi pemerintah dan cemohan masyarakat tidak membuat Lina patah arang. Meski berkali-kali permintaannya untuk bantuan katinting (mesin perahu) ditolak pemerintah, ia tetap mengajukan proposal tersebut. Belakangan ia mulai mengajak perempuan lain untuk terlibat dalam usahanya tersebut.

“Saya mulai ajak perempuan-perempuan lain, termasuk istri-istri nelayan, untuk mendesak pemerintah. Alhamdulillah, sekitar dua tahun lalu pemerintah akhirnya memberi bantuan katinting kapasitas 5,5 pk.”

Nurlina kini telah memiliki kartu nelayan yang menurutnya sebagai bukti bahwa dirinya adalah nelayan yang sah dan dijamin pemerintah. Ia kini berusaha agar para perempuan nelayan lain bisa mendapatkan kartu yang sama. Foto: Wahyu Chandra.
Nurlina kini telah memiliki kartu nelayan yang menurutnya sebagai bukti bahwa dirinya adalah nelayan yang sah dan dijamin pemerintah. Ia kini berusaha agar para perempuan nelayan lain bisa mendapatkan kartu yang sama. Foto: Wahyu Chandra.

Sejak adanya bantuan katinting tersebut, Lina kini mulai melaut secara mandiri mencari kepiting rajungan menggunakan jaring. Dalam sehari ia memperoleh hasil 1 kg, yang dijual seharga Rp22 ribu per kg. Sesekali ia mendapat tangkapan ikan meski tak pernah banyak.

“Hasilnya memang tak banyak dan tak bisa dianggap untung, apalagi kita juga harus beli bahan bakar,” tambahnya.

Demi menutupi kekurangan tersebut, Lina dan ibunya sehari-hari membantu mengikat rumput laut milik tetangga dengan honor Rp3000 per bentangan. Dua hari sekali mereka bisa mengikat 10 bentang rumput laut dengan honor Rp30 ribu. Ia juga mulai mencoba budidaya rumput laut sendiri.

Tidak hanya digunakan untuk melaut, perahu katinting bantuan tersebut juga digunakan untuk membantu warga sekitar untuk pelayanan kesehatan dan pendidikan.

“Di pulau kami itu kan tak ada pelayanan kesehatan, kalau mau berobat harus ke Pulau Salemo sekitar 15 menit dari pulau kami. Jadi setiap ada warga yang mau berobat saya selalu siap mengantar mereka secara gratis.”

Lina juga menjadi sopir perahu cadangan untuk mengantar anak-anak sekolah ke pulau sebelah, sesekali menggantikan sopir perahu resmi.

“Kadang kalau sopirnya kurang sehat atau tidak sempat, saya lah yang menggantikan. Kalau sopirnya itu digaji sekolah sementara saya tidak. Niat saya memang hanya membantu, kasihan kalau mereka tak bisa sekolah.”

Kesadaran kritis Lina sendiri terbangun semenjak ia bergabung dalam Sekolah Perempuan yang dilaksanakan oleh Yayasan Kajian Pemberdayaan Masyarakat (YKPM) Sulsel sejak 4 tahun silam. Sekolah ini dinilainya telah mengajarkan adanya kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan.

Lina yang merupakan satu-satunya perempuan dalam Kelompok Nelayan Rakkang Jaya bercita-cita ingin memperjuangkan nasib nelayan-nelayan perempuan lain, tidak hanya di pulaunya tapi juga di tempat lain.

“Alhamdulillah sekarang saya sudah punya kartu nelayan yang berarti telah dijamin pemerintah. Saya ingin perempuan-perempuan nelayan lain juga bisa mendapatkan kartu seperti ini.”

Terpilihnya Lina sebagai nominator pejuang pangan tak terlepas dari hasil kerja Saidah (24) pembuat video profil dirinya. Saidah juga merupakan salah seorang peserta Sekolah Perempuan YKPM Sulsel.

Alasan Saidah mengangkat profil Lina dalam film berdurasi 3 menit tersebut karena melihat kegigihan Lina selama ini menjadi nelayan meski sering mendapat cemohan.

“Lina adalah gambaran nelayan perempuan di daerah kami yang tidak pernah dianggap oleh masyarakat dan pemerintah. Selama ini perempuan hanya dituntut bekerja di rumah saja. Perempuan nelayan tidak mendapat bantuan pemerintah karena dianggap tidak layak,” katanya.

Penganugerahan 9 Pejuang Pangan yang dilaksanakan oleh Oxfam ini adalah rangkaian menyambut perayaan Hari Pangan Se-Dunia, yang jatuh pada 16 Oktober 2016. Sembilan nama ini dipilih melalui kompetisi film anak muda dan penelusuran atau scouting. Foto: Wahyu Chandra
Penganugerahan 9 Pejuang Pangan yang dilaksanakan oleh Oxfam ini adalah rangkaian menyambut perayaan Hari Pangan Se-Dunia, yang jatuh pada 16 Oktober 2016. Sembilan nama ini dipilih melalui kompetisi film anak muda dan penelusuran atau scouting. Foto: Wahyu Chandra

Saidah yang merupakan istri nelayan ini adalah ibu muda yang menikah di usia 13 tahun. Meski hanya tamat SD, seperti hanya Lina, ia tak merasa minder ketika diajak mengikuti kompetisi film pendek tersebut.

“Itu kami ambil film pakai kamera pinjaman. Saya diajari selama 3 hari bagaimana mengambil gambar di lapangan. Lalu ada juga yang membantu untuk mengedit,” katanya.

Sembilan Perempuan Pejuang Pangan

Penganugerahan 9 Pejuang Pangan yang dilaksanakan oleh Oxfam ini  adalah rangkaian menyambut perayaan Hari Pangan Se-Dunia, yang  jatuh pada 16 Oktober 2016. Sembilan nama ini dipilih melalui kompetisi film anak muda dan penelusuran atau scouting.

“Event ini bukti Oxfam sangat peduli terhadap pengakuan peran perempuan dalam rantai pangan,” kata Budi Kuncoro, Country Director Oxfam di Indonesia.

Sembilan perempuan pejuang pangan tersebut adalah Giyem (Pati), Ummi Kalsum (Aceh Besar), Seliwati (Luwu Utara), Daeng Karra (Takalar), Nurlina (Pangkep), Sri Rohani (Kebumen), Catur Rini (Bogor), Beatrix Rika (Sikka) dan Erna Leka (Tulang Bawang).

Menurut Dini Widiastuti, Direktur Program Keadilan Ekonomi Oxfam di Indonesia, sembilan perempuan pejuang pangan tersebut terbukti mampu menjadi inspirasi komunitas dan menjadi penggerak masyarakat di tingkat basis karena kepemimpinan mereka yang sangat menonjol.

“Berinvestasi pada perempuan pejuang pangan berkontribusi besar dalam upaya mengakhiri kelaparan di komunitas dan dapat menghindarkan masyarakat dari dampak perubahan iklim secara global,” ungkap Dini.

Menurut Mardha Tillah, Direktur Eksekutif Rimbawan Muda Indonesia (RMI) kegiatan ini sangat tepat untuk menciptakan ruang bagi generasi muda agar dapat bersentuhan dengan isu pangan.

“Anggapan bahwa perempuan hanya berperan kecil dalam rantai pangan, masih menjadi pemahaman umum. Namun begitu, paling tidak, puluhan video yang kemudian didaftarkan ke dalam skema kompetisi ini menceritakan lain. Begitu juga hasil dari penelurusan tokoh”.

Dari 48 nama nominasi, sebanyak 34 nominasi diperoleh lewat kompetisi video dan 14 melalui penelusuran tokoh. Prosentase terbesar berasal dari Pulau Jawa (63%), Sumatera (12%), Sulawesi (8%), Nusa Tenggara (15%) dan Kalimantan (2%). Sedangkan subsektor pertanian para kandidat adalah pertanian 75%, nelayan (17%) dan urban farming (6%).