Merespon Dugaan Pencemaran Limbah B3, Wagub Jatim dan Ivan Slank Kunjungi Desa Lakardowo  

Syaifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur, mendatangi Desa Lakardowo, kabupaten Mojokerto, pada Jumat (12/5/2017). Bersama Ivan Kurniawan Arifin, basis grup band Slank, mereka meninjau dan beraudiensi dengan warga setempat terkait dugaan pencemaran limbah bahan berbaya dan beracun (B3) oleh PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA).

Kunjungan Wagub yang dikenal dengan sebutan Gus Ipul itu, juga merupakan wujud pemenuhan janji kepada warga desa Lakardowo. Sebelumnya, Jumat (28/4/2017), Gus Ipul sempat menemui perwakilan warga yang telah menggelar aksi selama beberapa hari di depan kantor Gubernur Jatim.

“Saya akan ajak BLH Jawa Timur meninjau desa Lakardowo, supaya informasi ini tidak simpang siur. Daripada panjenengan sing adoh-adoh rene, saya coba dialog dengan warga, secepatnya lah,” janjinya kepada perwakilan warga kala itu.

(baca :Respon Aksi Dugaan Pencemaran Limbah B3, Pemprov Jatim Berjanji Tinjau Desa Lakardowo)

Dua minggu berselang, Gus Ipul hadir secara langsung di desa Lakardowo. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi atas aspirasi yang disampaikan masyarakat. Dia juga menyampaikan bahwa, dugaan limbah B3 di desa Lakardowo telah dibicarakan hingga di tingkat pemerintah pusat.

 

 

Kepada warga, pihaknya berjanji akan ikut terlibat menyelesaikan masalah dugaan pencemaran limbah B3 di desa Lakardowo. Upaya penyelesaian tersebut, akan dilakukan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dalam jangka pendek, pihaknya telah mempersiapkan dua program. Pertama, membantu kebutuhan air bersih untuk warga hingga masalah terselesaikan. Sebab, berdasarkan informasi yang ia peroleh, dalam satu bulan, satu dusun mengeluarkan biaya sekitar Rp4,5 juta untuk kebutuhan air bersih.

“Air ini digunakan untuk masak dan minum. Sedangkan untuk mandi, warga masih menggunakan air sumur yang ada,” kata Gus Ipul.

Program jangka pendek kedua adalah pengecekan massal kesehatan warga yang mengalami dermatitis atau iritasi kulit, khususnya anak-anak. Pengecekan tersebut, nantinya akan dilakukan langsung oleh tim Dinas Kesehatan provinsi Jawa Timur.

“Warga setempat juga sebaiknya memanfaatkan dua klinik, dokter dan obat yang sudah disediakan pabrik terkait,” himbaunya.

Sedangkan, untuk program jangka panjang, Gus Ipul berjanji akan melibatkan tim independen, seperti dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Dia menilai, penelitian dari tim independen merupakan pilihan yang tepat, karena bisa menjadi pembanding hasil penelitian sebelumnya.

(baca :Di Hari Air Sedunia, 60% Sumur Desa Lakardowo Diduga Tercemar Limbah B3)

Tim tersebut diharapkan dapat segera melakukan penelitian ulang terkait kasus dugaan pencemaran limbah B3 di desa Lakardowo, serta memberi hasil penelitian yang obyektif.

“Sesuai permintaan warga, saya akan fasilitasi pembiayaan penelitian tim dari ITS. Saya sudah minta kepada tim agar segera dibuatkan kajian dan proposalnya untuk mempercepat proses bantuan biaya penelitian,” ujarnya.

Karena itu, Gus Ipul berharap berbagai pihak mau menghormati dan menghargai proses yang sedang berlangsung. Baik warga maupun perusahaan diminta untuk menjalin hubungan yang harmonis. Sebab, kata dia, PT PRIA merupakan salah satu pabrik pengelolaan limbah B3 yang keberadaannya juga dibutuhkan.

“Kini PR-nya, PT PRIA harus bisa meyakinkan masyarakat jika pabrik ini aman,” demikian disampaikan Gus Ipul.

 

Wisata Limbah B3 desa Lakardowo, Mojokerto. Foto : Ecoton

 

Dia menyatakan, Pemprov Jatim juga akan mengikuti peraturan yang ada dalam menyikapi dugaan pencemaran limbah B3. Lewat permasalahan ini, pihaknya akan berusaha mengungkap fakta yang sebenarnya.

“Pemerintah akan melakukan pendampingan dan klarifikasi kepada masyarakat jika terjadi kesalah-pahaman. Namun, jika data-data hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat benar, maka pemerintah wajib membela,” terangnya.

(baca :6 Tahun Berjuang Atasi Limbah B3, Warga Lakardowo Minta Perhatian Gubernur Jatim)

Gus Ipul menjelaskan, limbah merupakan salah satu masalah utama di Jatim. Sebab, setiap tahun terdapat 170 ton limbah B3 yang harus dikelola secara khusus. Namun, berdasarkan data dari BLH Jatim, saat ini baru 39% limbah B3 yang dibuang pada tempatnya, seperti Cileungsi Bogor. Sedangkan, 61% sisanya, masih diteliti lewat manifestnya.

Selama ini, warga memang berharap pemerintah provinsi mau melibatkan diri dalam penyelesaian dugaan pencemaran limbah B3 di desa Lakardowo. Ketika menggelar aksi di depan kantor Gubernur Jatim, akhir bulan lalu, warga melalui Perkumpulan Pendowo Bangkit, menyampaikan 7 poin tuntutan kepada Gubernur Jawa Timur.

Pertama, meminta Gubernur untuk melakukan kajian pemetaan sifat fisika dan kimia air tanah. Kedua, membuat sumur-sumur pantau kualitas air tanah pada zona rentan. Ketiga, melakukan uji kesehatan dan melakukan analisis faktor penyebab gangguan kesehatan.

Keempat, melakukan inventarisasi timbunan limbah B3 dan memulihkan kerusakan lahan di desa Lakardowo. Kelima, melakukan pemulihan kualitas air tanah dan air sumur.

Keenam, memberikan rekomendasi kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk membekukan izin PT PRIA. Ketujuh, melibatkan partisipasi masyarakat saat melakukan kajian, inventarisasi dan pembuatan sumur pantau.

 

Ivanka Slank Foto Bersama Warga Desa Lakardowo, Mojokerto, Jatim, saat menemani Wagub Jatim mengunjungi desa itu terkait dugaan pencemaran limbah B3. Foto : Ecoton

 

Ivanka: Slank Sudah Menyurat ke Presiden

Dalam kunjungan itu, bassist Slank, Ivan menjelaskan ketertarikannya untuk mengunjungi langsung desa Lakardowo.

“Tahun lalu, saya konser dalam rangka tanam pohon di Lumajang. Ada aktivis datang ke saya menceritakan keluhan masyarakat desa Lakardowo, mengenai pencemaran Limbah 3. Saya nggak ngerti waktu itu. Saya bilang tolong kumpulkan data-data, foto-foto, ceritanya. Saya mau pelajari,” ujar yang akrab dipanggil Ivanka di hadapan warga desa Lakardowo.

Begitu menerima data-data dari aktivis yang dimaksud, pihaknya langsung mempelajari permasalahan desa Lakardowo. Setelah menggelar diskusi, kata Ivanka, Slank dan Manajemen akhirnya mengirim surat yang ditujukan pada Presiden.

“Jadi, permasalahan bapak-bapak dan ibu-ibu di sini sudah diketahui Presiden,” terangnya.

Meski demikian, setelah mengirim surat tersebut, pihaknya masih mendengar kabar bahwa kondisi di desa Lakardowo semakin hari semakin parah. Keadaan itulah yang mendorongya untuk secara langsung melihat situasi di desa Lakardowo.

“Alhamdulilah, semuanya dipertemukan. Waktu saya mau ke sini, ternyata sahabat seperjuangan saya, Gus Ipul, juga mau hadir ke sini.”

(baca :Kisah Wisata Limbah B3 di Desa Lakardowo Mojokerto)

Ivanka menghimbau kepada warga untuk tidak khawatir. Sebab, ia percaya, pemerintah provinsi akan berpihak pada warga desa Lakardowo. “Tapi, minta ditelusuri segala sesuatunya sesuai prosedur yang berlaku. Makanya kami tunggu audit lingkungan,” pungkasnya.

Dalam kurun dua tahun belakangan, warga desa Lakardowo mengaku tidak berani lagi meminum atau menggunakan air sumur untuk kebutuhan sehari-hari. Sebab, air tersebut terlihat keruh, berbau dan terasa pahit.

Akibatnya, setiap hari warga harus patungan membeli air bersih dari luar daerah. Namun, tak sedikit juga yang terpaksa menggunakan air sumur untuk mandi.

“Kami sudah takut konsumsi air di desa Lakardowo. Karena, meskipun jernih, tapi airnya bau dan berasa pahit. Sehingga, seminggu sekali warga harus beli air. Harga segalon 2ribu. Tiap hari bisa habis satu galon,” ujar Rumiyati, warga dusun Sambi Gembol, pada Mongabay Indonesia, kala aksi di depan kantor Gubernur Jawa Timur, Rabu (26/4/2017).

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , ,