Hutan Tergerus, Laju Kapal Kayu Kian Tersendat

Kapal kayu makin sulit dapatkan bahan baku karena hutan terus tergerus. Foto: Lili Rambe/ Mongabay Indonesia

 

Jambi merupakan provinsi yang setidaknya teraliri 18 anak Sungai Batanghari. Dulu, transportasi air berjaya. Kayu tersedia, perajin kapal mudah dapatkan bahan baku. Kini, ketika hutan terus tergerus, bikin kapal makin sulit, transportasi kapal kayu pun kian meredup.

 

Dalam buku History of Sumatera, sebuah buku yang bercerita tentang sejarah Sumatera yang ditulis William Marsden disebutkan, mungkin tak ada satu negara pun di dunia yang dialiri oleh sungai sebanyak pulau ini.

Sungai Batanghari adalah kedua terbesar di Indonesia mengaliri wilayah Sumatera bagian tengah. Jambi,  salah satu provinsi yang dilalui sungai ini. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), Jambi setidaknya dialiri sekitar 18 anak Sungai Batanghari.

Adi Prasetijo, Dosen Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, mengatakan, sungai adalah jalur utama transportasi yang membawa peradaban ke seluruh Sumatera.

“Candi Muaro Jambi jadi bukti peradaban masa lampau dibangun di Daerah Aliran Sungai Batanghari,” katanya.

Bicara tentang sungai, sudah barang tentu terkait erat dengan kapal sebagai alat transportasi. Kapal berbahan baku kayu jadi moda transportasi air yang pernah berjaya.

“Pada 80-an,  kapal kayu adalah sarana transportasi yang banyak di sungai–sungai yang mengaliri seluruh kawasan di Jambi,” kata Rudi Syaf, dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi.

Dia mencontohkan, Nipah Panjang, kecamatan di Tanjung Jabung Timur di timur Jambi. Pada 80-an,  satu–satunya sarana transportasi dari Kota Jambi menuju Nipah Panjang adalah kapal kayu.

Kapal kayu tak hanya sebagai kapal angkut penumpang juga mengangkut barang. Hasil perkebunan seperti karet dari barat Jambi (Kabupaten Tebo, Bungo dan Sarolangun) juga diangkut pakai kapal kayu.

 

Bahan kayu mulai sulit

Yusup, perajin kapal kayu di Tanjung Raden, Kota Jambi mengatakan, pesanan kapal kayu dari para pelanggan masih rutin namun bahan baku mulai sulit.

Bahan baku utama pembuatan kapal kayu adalah meranti (Shorea sp.) dan bungur (Lagerstroemia). Meranti dibentuk jadi papan sebagai kulit kapal.

Kulit kapal adalah papan yang disambung jadi lajur pada badan kapal. Fungsi kulit kapal adalah memberi struktur membujur hingga kapal dapat menahan beban.

Bungur sebagai gading–gading kapal. Gading kapal adalah struktur rangka kapal pada dasar kapal. Nama gading disesuaikan dengan tempat di dasar kapal. Gading terletak di haluan disebut gading haluan. Gading di bagian terlebar kapal disebut gading besar.

Gading yang terletak di dekat baling–baling disebut gading kancing . Jarak gading satu dan lain antara 500-1.000 mm disesuaikan dengan ukuran kapal.

“Saat ini, harga meranti per meter kubik adalah 2,5 juta,” katanya. Untuk bungur karena sulit biasa dipesan dalam bentuk balok (log), . biasa dari kebun warga.

Meranti seringkali dibeli Yusup masih balok. “Sawmill langganan biasa menghubungi saya ketika mereka memiliki stok balok meranti,” kata Yusup.

Kalau beruntung,  satu balok meranti dapat menghasilkan lebih satu meter kubik kayu. Seringkali kayu balok tak sempurna, misal, berlubang di tengah, hingga papan hanya sedikit.

Sebagian besar pesanan kapal Yusup untuk kapal berukuran panjang delapan meter dan perahu. Pesanan kapal, kata Yusup, lazim buat melansir hasil perkebunan sawit ke pabrik.

 

Kayu hutan taman nasional

Lain lagi cerita Thalib, juga pembuat kapal dari Nipah Panjang. Dulu Thalib pembuat kapal mandiri, sekarang bergabung dengan beberapa pembuat kapal lain bekerjasama dengan pemasok kayu setempat.

“Dulu bahan baku pembuatan kapal mudah, sekarang tidak lagi,” keluh Thalib.

Para perajin kapal di Nipah Panjang banyak pindah ke Sungai Aur, desa dalam Taman Nasional Berbak–Sembilang.

Dari Sungai Aur, kayu-kayu taman nasional–seharusnya kawasan terlarang– lebih mudah didapat. Belakangan ada penertiban oleh petugas Balai Taman Nasional Berbak–Sembilang karena pasokan kayu kapal, kebanyakan dari hutan lindung.

Perajin kapal kembali ke Nipah Panjang. Pemasok kayu, Iwan, mengklaim, bahan baku masih cukup mudah dan legal karena kayu bukan dari taman nasional.

“Saya biasa memesan kayu langsung ke PT. Pesona Belantara,” katanya, menyebut nama perusahaan hak penguasaan hutan (HPH) dengan konsesi di Muaro Jambi.

“Biasa kami memesan balok kayu. Kami bawa ke bengkel untuk jadi papan.”

 

 

Hutan berkurang, jalan  bertambah

Berbagai aktivitas di sekitar hutan menyebabkan perubahan signifikan terhadap luasan di Jambi. Rudi Syaf, mengatakan, pasokan bahan baku kapal makin berkurang dampak luasan hutan menciut.

Kalau merujuk, rencana tata ruang wilayah (RTRW) Jambi, katanya, terlihat jelas pengurangan luasan hutan.

Pada 1982,  dalam RTRW Jambi tercatat, Jambi memiliki hutan 4.187.000 hektare (SK Menteri Pertanian No. 767/Kpts/Um/10/1982) dari total 5,3 juta hektar.

Luasan hutan ini terus berubah hingga SK Menteri Kehutanan No. 863/Menhut – II/2014 ditetapkan bahwa luas kawasan hutan Jambi tinggal 2.098.535 hektar.

Merujuk peta tutupan hutan Jambi dari WWF Indonesia terlihat kondisi tutupan hutan Jambi tahun 2000 tersisa 1,9 juta hektar.

Tahun 2016, tutupan hutan Jambi berdasar citra satelit Landsat 8 sudah berkurang lagi, tinggal 1.089.456 hektar.

Luasan hutan menciut inilah yang nampaknya berakibat langsung pada pasokan kayu untuk industri kapal lokal. Pembangunan infrastruktur, katanya, jalan juga punya peran signifikan.

Saat ini, mencapai Nipah Panjang dari Kota Jambi hanya sekitar lima jam melalui jalur darat. Dengan jalur air, jarak sama perlu ditempuh sekitar 12 jam.

Sisi lain, pendangkalan sungai dampak deforestasi juga menyebabkan penggunaan kapal kayu berkurang. “Karena pendangkalan sungai jangkauan kapal-kapal kayu makin terbatas” kata Rudi.

Pendangkalan Sungai Batanghari akibat erosi di DAS yang mengakibatkan kemampuan tanah menyerap air makin berkurang karena lapisan tanah bagian atas telah terkikis.

Karena limpasan air di permukaan meningkat hingga menyebabkan banjir di sungai. Tanah yang terbawa aliran air ini mengendap di dasar sungai hingga terjadi sedimentasi.

Akibatnya, kapal berkapasitas enam ton lebih tak bisa lagi berlalu di Sungai Batanghari.

Rudi berharap, kapal-kapal kayu ini dapat terus berlayar di Batanghari. “Menggunakan kapal sebagai sarana transportasi angkut barang sangat efektif karena biaya murah dan kapasitas lebih besar dibandingkan mobil.”

Untuk mempertahankan kapal-kapal tetap berlayar, katanya, perbaikan tata kelola hutan harus segera berjalan guna meminimalisir sedimentasi, bahan baku pembuatan kapal juga tersedia berkesinambungan. Inovasi bahan baku alternatif, katanya, harus dilakukan agar moda transportasi ini bisa terus bertahan.

 

Kapal kayu Jambi, era 80-an ia jadi transportasi air andalan. Kini, bikin kapal sudah sulit bahan baku. Foto: Lili Rambe/ Mongabay Indonesia