Terjerat Jaring, Nelayan Gorontalo Berjibaku Selamatkan Paus Pembunuh

 

 

Sebuah video berdurasi 2 menit 49 detik tentang penyelamatan paus orca beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, mamalia laut yang dikenal sebagai paus pembunuh itu terjerat jaring nelayan. Dua nelayan terjun ke laut untuk menyelamatkan hewan bernama latin Orcinus Orca itu. Sempat terlihat salah seorang di antara mereka menggunakan bambu, mendorong sang paus untuk bisa menjauh kapal nelayan.

Video viral itu diunggah di Facebook 18 Februari 2017, oleh seorang penyelam yang mengaku berada di Kota Manado, Sulawesi Utara. Tak ada yang tahu pasti di mana lokasi kejadian tersebut. Ada yang menduga di Teluk Kwandang atau laut Sulawesi, atau juga di perairan Teluk Tomini.

Selasa sore, 21 Februari 2017, saya ditemani Verrianto Madjowa, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (DPP ISKINDO), menelusuri dan mencari nelayan di video itu, di perairan laut Kota Gorontalo hingga Kabupaten Bone Bolango.

Nelayan pertama yang saya temui adalah Ondong Ladiku, asal Kampung Talumolo, Kota Gorontalo. Ia mengaku mengenal jenis perahu ikan itu dengan menyebut nama pemilik kapal. Sementara untuk jenis paus, ia sering melihat di perairan Teluk Tomini, 10 – 30 mil dari daratan. Ondong lantas menyuruh saya ke Bone Bolango.

Di pantai bekas pengalengan ikan Kurenai, Bone Bolango, saya menemui nelayan kapal pajeko yang istirahat sambil memperbaiki jala. Mereka mengaku sering melihat paus orca. Jawaban mereka beragam. Ada yang melihat ketika melaut di perairan Tuliabu, Maluku Utara; di Bualemo, Banggai, Sulawesi Tengah, yang juga termasuk Teluk Tomini; hingga perairan Gorontalo.

Nelayan itu meminta saya mencari jenis perahu di sekitar pelelangan ikan. Setibanya di sana, nelayan-nelayan yang sedang istirahat menyebut nama kapal perahu “Putra Laut” yang telah menyelamatkan paus orca.

“Video ini dibuat anak buah kapal (ABK) perahu pajeko “Putra Laut”. Saya sudah lihat,” ujar seorang nelayan.

 

Paus orca yang dikenal dengan julukan paus pembunuh. Sumber: Wikipedia

 

Berbekal petunjuk tersebut, saya menemui pemilik kapal perahu “Putra Laut”, Anshar Rahman di Desa Huangobotu, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Gorontalo. Sore itu, ia berada di perahu yang baru saja dibuat. Anshar sedang berkumpul bersama warga lainnya dan juga kapten kapal “Putra Laut”, Marten Ahmad, yang menakhodai penyelamatan paus orca.

“Ia benar. Ini video ABK saya. Namanya Nunun,” kata Anshar.

Nunun yang disebut Anshar, nama lengkapnya Yunus Besi. Dari hasil rekaman Nunun, penyelamatan paus orca itu empat bulan lalu, 20 November 2016. Lokasinya di perairan laut Taludaa, Kecamatan Bone Pantai, Kabupaten Gorontalo, 15 mil dari darat.

“Saya jujur baru lihat video ini. Saya sempat marah ke ABK agar cerita penyelamatan paus orca cukup kami saja yang tahu. Karena saya trauma dengan Polairud. Saya khawatir akan dipermasalahkan gara-gara terjerat jaring kapal saya,” ungkap Anshar.

 

Perbandingan ukuran tubuh paus orca dengan manusia. Sumber: Wikipedia

 

Berjibaku lepas paus

Pukul 06.00 Wita pagi, telepon genggam Anshar Rahman berbunyi. Di layar handphone, yang menghubunginya adalah Marten Ahmad, kapten kapal. Namun yang berbicara seorang ABK dan memberitahu kalau jaring mereka terjerat seekor paus. Anshar yang saat itu sakit, langsung bangun.

“Cepat lepaskan!” teriaknya.

“Apa jaringnya harus kami robek?” tanya ABK.

“Robek saja. Yang penting pausnya selamat,” tegas Anshar lagi.

Mendengar perintah di ujung telepon itu, Santo dan Ka Asih, dua ABK terjun ke laut. Santo menggunakan ban memotong jaring yang terjerat di ekor paus sementara Ka Asih menaiki punggungnya, mengeluarkan jaring yang tersangkut di sirip. Sesekali, mamalia laut itu menyemburkan air dari lubang di punggungnya. Sementara, salah seorang ABK dari atas kapal menggunakan bambu, mendorong paus agar tubuhnya tidak terkena badan kapal.

“Bambu itu digunakan untuk menyelamatkan paus, bukan untuk menyakitinya. Ekornya masih terjerat jaring dan sedikit lagi mengenai bagian kemudi, tubuhnya akan menghantam kapal. Paus itu bisa terluka nantinya,” cerita Anshar.

 

Rangka paus orca yang tersimpan di museum Frankfurt, Jerman. Sumber: Wikipedia

 

Setelah penyelamatan itu, Santo dan Ka Asih melihat lagi ada dua paus orca di sekitar jaring, tapi yang terjerat hanya satu. Sementara di dalam jaring sudah tertangkap ikan oci/ikan kembung dan ikan cakalang sekitar 1 hingga 2 ton.

“Jaring yang dirobek itu panjangnya 18 meter. Semua ikan hasil tangkapan lepas. Tapi saya senang karena pausnya selamat,” kata Anshar.

Menurutnya, panjang paus pembunuh itu hampir sama panjang kapal “Putra Laut” yaitu 18,5 meter. ABK-nya memperkirakan panjang tubuh paus itu sekira 15 meter. Beberapa ABK bahkan ketakutan ketika melihat langsung paus pembunuh itu, termasuk kapten kapal.

Aksi ABK “Putra Laut” berjibaku melepas paus kurang lebih setengah jam ini direkam oleh Yunus Besi dengan durasi 2 menit 49 detik, kemudian menjadi viral di media sosial. Tak ada satupun dari mereka yang menyadari kalau aksi penyelamatan itu akan tersebar luas.

Video rekaman Yunus Besi itu tersimpan baik di file handphone-nya, hingga suatu waktu telepon genggamnya diminta sang paman. Beberapa hari kemudian pamannya pergi ke lokasi wisata hiu paus di Desa Botubarani, yang jaraknya tak begitu jauh dari tempat tinggal nelayan “Putra Laut”. Di lokasi wisata itu, seorang pengunjung melihat video penyelamatan itu, dan menyalinnya, hingga kemudian begitu cepat beredar di media sosial.

 

 

Paus dan kearifan nelayan

Wakil Sekretaris Jenderal DPP ISKINDO, Verrianto Madjowa, yang ikut membagikan video penyelamatan paus orca di laman Facebook-nya mengatakan, berdasarkan penelesurannya paus orca sering muncul di perairan laut Olele, di Teluk Tomini, tidak jauh dari bibir pantai. Menurutnya, agregasi paus orca ini telah menambah perbendaharaan spesies cetacean (mamalia laut) di perairan Teluk Tomini. Pada 2016, perairan ini juga dihebohkan agregasi hiu paus (Rhincodon typus).

“Menurut seorang penyelam, paus orca ini berenang dari sekitar goa jin ke perairan Kota Gorontalo, Teluk Tomini. Ada penyelam yang pernah melihat di bawah laut saat diving.”

Verrianto menjelaskan, paus orca termasuk 31 mamalia laut yang teridentifikasi di perairan Indonesia. Orca adalah nama Bahasa Inggris, nama Indonesia adalah paus pembunuh. Dari 31 spesies cetacean ini, terdapat 17 spesies paus termasuk paus orca, yang sembilan spesies masuk status perlindungan di Indonesia. Beberapa paus memanfaatkan perairan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) dan alur sempit di pulau-pulau kecil sebagai rute migrasinya.

“Agregasi paus orca di Teluk Tomini menambah jalur migrasi spesies di perairan Indonesia. Sebelumnya, tidak ada laporan.”

 

Sepasang paus orca yang berenang di lautan. Jenis ini tersebar luas di seluruh samudera. Sumber: Wikipedia

 

Namun, bagi nelayan di Desa Huangobotu, Kecamatan Kabila Bone, Gorontalo, yang terkenal dengan sebutan pantai Inengo, paus pembunuh ini bukan hal baru. Mereka sering melihat. Setiap musim angin timur, sekitar Mei hingga Agustus, paus pembunuh itu masuk dari mulut Teluk Tomini menuju perairan laut Kota Gorontalo. Begitu sebaliknya. Semburan air di punggung sang paus terlihat dari pesisir pantai.

“Bahkan orang tua kami punya ritual khusus,” ungkap Anshar.

Anshar yang sudah melaut sejak kelas 3 Sekolah Dasar, melihat ritual itu. Menurutnya, jika ada warga yang melihat paus dengan tanda semburan air ke udara, harus segera memberitahukan ke orangtua setempat. Setelah itu, seorang nenek akan membuat beras tujuh warna, dengan pewarna alami atau buatan.

“Beras tujuh warna akan ditaburkan ke laut tiga kali, ketika matahari tenggelam. Saya pernah mendayung perahu dengan nenek saya dan dia yang menaburkan beras tujuh warna ke laut.”

Sayang, ritual itu sudah tidak pernah dilakukan lagi, terakhir 1993. Tujuannya, agar nelayan mendapatkan berkah, baik kesejahteraan maupun keberuntungan. Masyarakat  memanggilnya “paupausu”.

Perairan Teluk Tomini, menurut Anshar, kaya akan spesies laut. Sering dijumpai paus orca, hiu paus, dugong, lumba-lumba, pari manta, penyu, hingga tuna ukuran besar.

 

Paus orca dapat ditemui mulai dari perairan kutub yang dingin hingga tropis yang hangat. Sumber: Wikipedia

 

Tanggapan

Dwi Suprapti, Marine Spesies Conservation Coordinator WWF Indonesia, mengatakan sudah melihat video tersebut. Ia memberikan apresiasi kepada nelayan Gorontalo yang berupaya menolong paus orca itu. Namun menurutnya, aktivitas tersebut tidak disarankan dan seharusnya menggunakan alat bantu dari kejauhan. Mengingat, sifat agresif orca yang sewaktu-waktu menyerang.

“Dalam video itu, kemungkinan besar paus orca kelelahan, sehingga tenang.”

Terkait keberadaan paus orca di perairan Gorontalo, Dwi menduga dikarenakan banyaknya ikan di wilayah tersebut. Menurutnya, tidak ada istilah migrasi bagi paus orca. Sampai saat ini yang ada hanya kecenderungan pindah dari satu tempat ke tempat lain, bukan antar-benua, tanpa ada kaitan musim.

Menurut Dwi, paus orca merupakan lumba-lumba besar yang masuk dalam famili Delphinidae, mayoritas anggotanya lumba-lumba. Ia merupakan salah salah satu mamalia laut paling terkenal di dunia karena spesies ini diekspos media besar-besaran, mulai dari film yang diproduksi Hollywood sampai ke Sea World.

 

Paus pembunuh merupakan predator puncak di lautan yang memakan ikan. Sumber: Wikipedia

 

Satwa kosmopolitan ini dapat ditemukan hampir di seluruh bagian dunia, dari perairan kutub sampai tropis, tidak dibatasi suhu atau kedalaman. Di Indonesia, sampai saat ini paus orca dijumpai di perairan sekitar Pulau Weh (Aceh), Uluwatu (Bali), Raja Ampat (Papua), Nusa Tenggara Timur, dan Gorontalo.

Terdapat lebih lima tipe paus orca di seluruh dunia yang karakteristiknya berbeda, tergantung habitat dan bagaimana kelompok tersebut tinggal. Menetap, berpindah, atau transient. “Dikarenakan riset yang kurang memadai, paus orca yang ditemukan di Indonesia, tidak diketahui karakteristiknya sampai sekarang.”

Dwi menyarankan, jika menemukan paus orca dalam berbagai kondisi, catat dan laporkan temuan itu ke UPT KKP seperti, BPSPL atau LPSPL untuk pendataan. Jika melihatnya di air, secepatnya naik ke kapal dan jangan berenang bersama. Jika ingin mendokumentasikan, pastikan jaraknya sekitar 10 meter. “Bahkan, jika melihat paus orca terdampar, diharapkan untuk tidak menyentuhnya tanpa seizin dokter hewan,” tegasnya.

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , ,