Peringati Hari Konservasi Alam Nasional, Mahasiswa Kampanye Selamatkan Hutan dan Alam Papua

Cendrawasih, burung endemik khas Papua. Papua mewakili 50 persen keragaman hayati di Indonesia. Foto: Rhett A Butler/Mongabay

Lisbeth Bosawer terbata-bata. Ia tak kuasa menahan air mata. Ia dan rekan-rekannya melakukan studi di pegunungan Cyclops. Namun, pemandangan miris membuatnya miris. Ini yang membuatnya sedih.

“Saya melihat begitu banyak sampah-sampah berserakan dimana-mana,” kata mahasiswa semester lima Program Studi Biologi Universitas Cendrawasih itu (10/08).

Kegelisahan Lisbeth itu ia ceritakan pada saat memberi sambutan dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang digelar oleh mahasiswa Program Studi Biologi Universitas Cendrawasih.

Peringatan hari konsevasi itu dilaksanakan di pendopo milik Ondoafi (kepala suku) Amos Ondi, di kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Kegiatan yang diberi tajuk “Green action” atau aksi hijau itu dilakukan dalam rangka mengkampanyekan penyelamatan hutan dan alam Papua, khususnya di pegunungan Cyclops yang berstatus cagar alam.

“Kegiatan ini merupakan inisiatif mahasiswa program studi Biologi dengan mengundang berbagai komunitas yang ada di kota maupun kabupaten Jayapura,” ujar Lisbeth.

Lisbeth berharap dengan kegiatan seperti ini, mahasiswa mendapatkan pengetahuan mengenai kawasan konservasi. Sebab menurutnya, mahasiswa seharusnya tidak hanya memiliki bekal pengetahuan akademik, tapi juga memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan, dengan segala potensi alamnya.

Daawia Suhartawan, dosen Fakultas MIPA Universitas Cendrawasih yang juga entimolog yang memiliki perhatian khusus pada kupu-kupu di Papua, berbagi cerita kepada mahasiswa. Menurutnya, tidak harus menjadi seorang ahli untuk menjaga alam.

Cukup menjadi tuan rumah yang baik melayani alam; dengan memastikan apakah tumbuhan itu sudah cukup airnya, memastikan makanan burung itu masih ada dengan tidak menebang pohonnya.

“Harus kita ketahui bahwa hutan di Papua itu menyumbang lebih dari 50 persen keanekaragaman hayati di Indonesia. Harusnya pemerintah Indonesia membangun Papua dengan hati-hati,” kata Daawia.

Daawia lalu bercerita bagaimana alam telah memberikan kesembuhan pada dirinya. Semua itu bermula ketika studi di Jerman, ia divonis menderita kelebihan hormon tiroid yang bisa menyerang jantung dan bisa mempercepat kematian. Dokter lalu menganjurkannya untuk minum pil setiap hari. Obat tersebut dapat memperlambat kematiannya.

“Saya merasakan depresi yang sangat tinggi dan ingin mengakhiri hidup saja,” ungkap Daawia dihadapan mahasiswa.

Menurutnya, jika tidak minum pil setiap hari, ia bisa meninggal dalam waktu tujuh hari. Tidak ada pilihan lain, ia bertekad harus hidup. Lalu memutuskan pulang ke Indonesia, dan tinggal di Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, karena hutannya masih luas.

Ia lalu membuat kebun dan mulai menikmati burung-burung dan kupu-kupu.

“Perlahan depresi saya mulai hilang ketika melihat banyak burung dan kupu-kupu di kebun saya. Perlahan saya mulai sembuh. Untuk itulah mengapa alam sangat penting, karena sumber kehidupan ada di sana, Alam telah menyembuhkan saya,” ucapnya.

 

Mahasiswa program studi biologi Universitas Cendrawasih saat merayakan Hari Konservasi Alam Nasional. Foto: Chris Paino/Mongabay Indonesia

 

Amos Ondi, selaku tuan rumah, juga berbagi pengalamannya dengan mahasiswa di hari konservasi itu. Menurut Amos, dahulu dengan mudahnya bisa melihat berbagai macam burung, mulai dari burung cendrawasih hingga burung mambruk terbang dari satu pohon ke pohon lainnya. Tapi sekarang sulit sekali.

“Karena pohon sudah habis ditebang.”

Khusus untuk pegunungan Cyclops, kata Amos, sangat menjamin manusia yang bermukim mulai dari Jayapura hingga ke Depapre, wilayah Sentani. Karena Cyclops telah memberikan sumber air yang utama bagi manusia. Namun tanpa disadari, manusia telah merusak Cyclops tanpa memikirkan masa depan anak cucu nanti.

Seharusnya, alam dapat dimanfaatkan oleh manusia, tanpa merusaknya. Mereka yang mendiami Cyclops dengan terjaganya alam pun menjadi tidak kehilangan identitasnya.

Usai menerima materi, puluhan mahasiswa Program Studi Biologi melakukan pendakian ke gunung Cyclops dan memasang plang yang berisi himbauan-himbauan untuk tidak merusak hutan. Selain itu, mahasiswa juga ikut memungut sampah yang banyak berserakan di kaki gunung kawasan konservasi cagar alam Cyclops.

“Kami berharap moment-moment seperti hari konservasi ini bisa membangun kesadaran mahasiswa untuk lebih peduli terhadap alam,” tandas Lisbeth.

Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) diselenggarakan pertamakalinya oleh pemerintah sejak tahun 2009 setiap tanggal 10 Agustus. Hari ini diperingati sebagai upaya edukasi dan kampanye kepada masyarakat akan pentingnya konservasi alam bagi kesejahteraan masyarakat.