,

Anggrek, Si Cantik yang Terancam Punah

Anggrek, atau dalam istilah latinnya dikenal dengan Orchidaceae, adalah tanaman yang dikenal memiliki keindahan rupa. Bentuknya yang sederhana dengan warna-warninya yang mencolok namun lembut, selalu menarik perhatian siapapun. Tak heran, sudah sejak lama, tanaman anggrek dikenal luas sebagai tanaman hias.

Di Indonesia, tanaman anggrek selalu menjadi primadona karena rupanya yang khas dan indah. Selain itu, anggrek termasuk ke dalam kelompok tanaman yang bisa dibudidayakan dengan mudah, sehingga bisa berkembang di mana saja.

Namun, menurut Kurator Anggrek Pusat Konservasi Tumbuhan di Kebun Raya Bogor, Sofi Mursidawati, tanaman anggrek sebenarnya adalah tanaman yang masuk kategori langka dan hampir punah. Hal itu, karena anggrek hidupnya memiliki keunikan dan sangat bergantung pada satu item saja.

Biasanya, Sofi menjelaskan, anggrek sangat sangat bergantung kehidupannya pada satu pohon. Anggrek seperti itu, biasanya adalah anggrek liar yang habitatnya ada di alam langsung seperti di hutan. Ketergantungan tersebut, membuat anggrek menjadi spesies flora yang sangat unik.

“Kalau pohon tempat dia menempel tidak ada, bisa ditebang atau mati, maka anggrek juga kehidupannya akan terancam. Bisa saja anggrek akan mati, atau kalaupun bertahan, hidupnya tidak akan bisa lama,” ucap dia kepada Mongabay di Martha Tilaar Center, Jakarta, kemarin.

Ancaman yang dihadapi anggrek ini, kata Sofi, menjadikan flora tersebut sebagai salah satu yang terancam punah. Walaupun, anggrek dari masa ke masa jumlah spesiesnya sangat banyak. Tetapi, karena ketergantungan berkembangbiaknya sangat tinggi, maka dari tahun ke tahun juga jumlahnya terus menurun.

Anggrek di hutan Riau bernama Calanthe triplicata ini kemungkinan juga akan mengalami perubahan sebarandi Bumi, seiring pemanasan global yang terjadi. Foto: Aji Wihardandi
Anggrek di hutan Riau bernama Calanthe triplicata ini kemungkinan juga akan mengalami perubahan sebarandi Bumi, seiring pemanasan global yang terjadi. Foto: Aji Wihardandi

Di Indonesia saja, Sofi menjelaskan, jumlah anggrek yang terdata dan hidup bebas di alam liar ataupun budidaya, mencapai 5.000 spesies. Tetapi, dia sangat yakin, jumlah sebenarnya spesies anggrek di Tanah Air itu bisa mencapai lebih dari 6.000-an jenis.

“Kenapa bisa demikian, karena kita yakin, ada anggrek yang sebelum kita temukan sudah punah lebih dulu. Ancaman kepunahan memang menjadi hal yang menakutkan bagi keberlangsungan anggrek sekarang,” sebut dia.

Rata-rata, Sofi menambahkan, anggrek yang hidup di Indonesia adalah anggrek yang hidup sebagai epifit atau menggantung di pohon. Dari seluruh spesies anggrek yang ada sekarang, sekitar 70 persen itu masuk dalam kelompok epifit.

“Jadi bisa dibayangkan bagaimana ancaman hidup anggrek ini sangat berat. Sekali saja pohonnya tidak hidup lagi, ya selesai juga hidup anggrek tersebut,” cetus dia.

Sejenis anggrek hutan berwarna ungu. Foto: Syarifudin
Sejenis anggrek hutan berwarna ungu. Foto: Syarifudin

Sofi mengungkapkan, ancaman kepunahan anggrek juga semakin meningkat, karena Indonesia adalah negara tropis, dimana itu adalah kawasan yang menjadi tempat mayoritas untuk berkembangnya anggrek di dunia.

“Level endemis Indonesia itu sangat banyak, satu per sepuluh keragaman anggrek di dunia, itu di antaranya ada di Indonesia,” tandas dia.

Bergantung pada Jamur

Sofi Mursidawati kemudian memperjelas lagi, kondisi anggrek menjadi sangat endemis, karena kehidupannya selalu bergantung pada makhluk hidup lain sejenis jamur. Biasanya, jenis jamur tersebut menjadi partner simbiosis yang berlangsung selama hidupnya.

“Jika partnernya itu tidak ada, maka anggrek juga tidak bisa hidup. Ini sangat unik, karena tidak bisa digantikan oleh yang lain. Makanya, anggrek menjadi flora endemis yang terancam punah,” papar dia.

Upaya penanaman anggrek hasil kultur jaringan di hutan pendidikan Universitas Hasanuddin pada 8-9 Juni 2012. Sekitar 1.000 pohon anggrek ditanam, baik ditempel di pohom ataupun di tanam di sekitar pohon,  tergantung jenis. Foto: Wahyu Chandra
Upaya penanaman anggrek hasil kultur jaringan di hutan pendidikan Universitas Hasanuddin pada 8-9 Juni 2012. Sekitar 1.000 pohon anggrek ditanam, baik ditempel di pohom ataupun di tanam di sekitar pohon, tergantung jenis. Foto: Wahyu Chandra

Di luar ketergantungannya pada makhluk lain, Sofi juga menyebutkan, kehidupan anggrek sangat bergantung pada lingkungan sekitar. Jika lingkungannya sehat dan bagus, anggrek dipastikan akan bisa hidup dan bertahan lama.

“Tapi, anggrek juga bisa saja tidak hidup di alam liar, tapi dibudidayakan dengan baik. Itu juga bisa, tetapi anggrek pasti tidak akan bisa bertahan ketika dikembalikan ke habitat aslinya. Ini juga jadi masalah,” tambah dia.

Sementara itu Kepala Seksi Program dan Penerapan Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Anis H. Mahsunah mengungkapkan, anggrek di Indonesia saat ini masuk sebagai flora endemis yang tengah diselamatkan. Caranya, adalah dengan melakukan budidaya dengan metode kultur jaringan.

“Anggrek itu adalah tanaman hias yang banyak disukai oleh orang di seluruh dunia. Tapi, karena itu juga, akhirnya menjadi gampang punah. Indonesia diharapkan untuk bisa menyelamatkan anggrek dari kepunahan,” ujar dia.

Tunas anggrek  sudah berumur sekitar 3 bulan,  ditanam di dalam toples yang telah disterilisasi. Dari toples ini  akan diaklimitisasi atau ditanam di sebuah wadah di dalam green house. Foto: Wahyu Chandra
Tunas anggrek sudah berumur sekitar 3 bulan, ditanam di dalam toples yang telah disterilisasi. Dari toples ini akan diaklimitisasi atau ditanam di sebuah wadah di dalam green house. Foto: Wahyu Chandra

BPPT sendiri, kata Anis, saat ini terus mengembangkan anggrek melalui persilangan spesies dan menggunakan metode kultur jaringan. Namun, karena BPPT tidak mengembangkannya sebagai konservasi, maka program tersebut dilakukan atas permintaan pihak kedua atau ketiga.

“Tapi kita tetap berusaha mengembangkannya. Kita melayani siapa saja, entah itu kelompok ataupun perorangan. Anggrek adalah tanaman yang banyak dicari orang,” jelas dia.

(Visited 1 times, 5 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, ,