Suarakan Lingkungan Lestari, Dua Pemuda Bersepeda Keliling Sumatera

Setyo Manggala Utama saat kayuh sepeda Jakarta-Bali, pada 2015. Foto: dokumentasi Setyo Manggala Utama

 

”Sepeda itu cara ideal menikmati perjalanan lo. Meningkatkan kepekaan dan memberi koneksi antara kita dan bumi lebih dekat,” kata Karfianda Suryoutomo saat berjumpa Mongabay, di Jakarta, pekan lalu.

Karfianda Suryoutomo (29) dan Setyo Manggala Utama (24), dua anak muda yang memiliki energi positif ingin menyuarakan isu lingkungan dengan bersepeda.

Keduanya berasal dari almamater sama, Universitas Indonesia. Sepeda memperkenalkan keduanya sejak dua bulan lalu dan berinisiatif melakukan perjalanan keliling Sumatera, dari Jakarta sampai Aceh.

#KayuhSumatera, hastag kampanye yang mereka gunakan untuk menceritakan perjalanan melintasi rute sepanjang 3.000 kilometer dalam 50 hari. Perjalanan akan melintasi 17 kota, tujuh provinsi ini akan berakhir di Pulau Sabang.

Kedua pemuda ini mulai jalan 15 November, mundur dari rencana semula 10 November, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Adapun rute akan mereka lalui, antara lain Taman Nasional Way Kambas, Ngarai Sianok dan Danau Singkarak, Pulau Samosir, Gunung Sinabung, Pusat Konservasi Orangutan Bukit Lawang, Pusat Konservasi Gajah Tangkahan dan beberapa titik lain.

”Yang utama kita akan tinggal di Karang Ampar, dimana itu banyak gajah liar disana,” ucap Setyo.

Dia bercerita, gelisah dengan kebakaran hutan dan lahan pada 2015. Kebakaran berdampak jelas kepada manusia dan keragamanhayati dan keindahan Sumatera. Bencana ini, katanya, keegoisan manusia terhadap mahkluk hidup lain.

”Ini mengancam keberlangsungan ekosistem sekitar, penyusutan hutan, pengurangan populasi dan menganggu masyarakat,” katanya.

Dengan bersepeda, mereka ingin ikut meningkatkan kesadaran dan kepekaan masyarakat atas lingkungan.

”Kita gamau melihat ini sebagai capaian pribadi, tapi doing something. Kita bisa ngasih manfaat apa dengan bersepeda dari Jakarta ke Aceh,” kata pria yang pernah bersepeda Jakarta- Bali pada 2015 ini.

Merekapun akan bikin semacam ‘diary’ perjalanan yang akan dipublikasikan melalui platform media sosial, seperti YouTube, Instagram dan website Kayuhsumatera. Nanti ada artikel, foto dan vlog terkait pesona alam dan destinasi wisata, memperkenalkan adat-istiadat dan kebudayaan, kerusakan alam dan kondisi lain.

”Kita menyuarakan apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan.”

Sebagai masyarakat urban, keduanya menilai isu lingkungan masih sangat minim. Khusus komunitas sepeda, Rio menilai, selama ini banyak komunitas sepeda touring hanya membawa isu-isu nasionalisme, toleransi dan lain-lain, isu lingkungan hampir jarang.

Karfianda yang pernah bersepeda Jakarta-Lombok menilai,  isu lingkungan bagi pesepeda belum begitu familiar.

”Padahal (isu lingkungan) penting, agar kita tahu yang sebenarnya terjadi di sekitar kita itu ulah kita juga. Misal, sampah di Kali Ciliwung, perlu ada pembatasan penggunaan plastik.”

Secara sederhana, perjalanan dua pesepeda ini dimulai dengan peningkatan kesadaran dari diri sendiri dan kepada masyarakat.

Lewat perjalanan ini, Setyo berharap, dapat bermanfaat, kontributif dan berdampak dalam membantu pelestarian lingkungan.  Harapan Karfianda juga tak muluk-muluk. Melalui perjalanan jauh keluar kota ini, katanya, virus sepeda lebih meluas dan melahirkan banyak pesepeda lain yang aktif dan kritis menyuarakan isu apapun, termasuk lingkungan.

”Sepeda bisa jadi gateaway menyebarkan virus-virus positif. Dengan bersepeda di kota lo, lo bisa bantu buat mengurangi emisi.”