All posts by Yovanda, Berau, Kaltim

Mongabay Travel: Jangan Biarkan, Keindahan Pulau Derawan Menghilang

Pantai indah Pulau Derawan sebagai sektor andalan pariwisata. Foto: Yovanda

Pantai indah Pulau Derawan sebagai sektor andalan pariwisata. Foto: Yovanda

 

Derawan, pulau yang terletak di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), ini dianugerahi pantai nan indah. Namun begitu, kemolekan pantainya perlahan menghadapai ancaman abrasi. Selain faktor alam, meningkatnya aktivitas manusia merupakan hal yang turut mempengaruhi kondisi tersebut.

Jika kita bertandang ke Derawan, segala kebutuhan wisata akan dengan mudah terpenuhi. Hampir di sekeliling pulau, terlihat bangunan perkampungan dengan kearifan lokal, serta keberadaan penginapan yang menjorok ke laut. Warna biru,  mendominasi pemandangan asri pulau ini keseluruhan.

Sayangnya, abrasi pantai yang terjadi tidak terelakkan lagi. Sejak tahun 2000 hingga sekarang, garis pantai Pulau Derawan sudah mundur lebih dari 15 meter. Jika dirata-ratakan, pulau ini kehilangan pantai satu meter setiap tahunnya.

 

 

enyu hijau di perairan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Foto: Hendar

Penyu hijau di perairan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Foto: Hendar

 

 

Tokoh Masyarakat Pulau Derawan, Syaiful mengatakan, abrasi menyebabkan bangunan yang ada menjadi rusak. Akibatnya, fasilitas yang menjadi penunjang pariwisata itu kini tak bisa lagi digunakan. Tak hanya bangunan, sejumlah pohon juga tumbang akibat energi gelombang laut yang datang tanpa penghalang.

“Perlu upaya serius menangani abrasi di pulau yang jadi destinasi wisata internasional ini.”

Bagi Syaiful, kepedulian Pemerintah Berau sangat dibutuhkan demi kelangsungan wisata Pulau derawan. Kekayaan alam dan keindahannya, menjadi salah satu kiblat wisata laut di Indonesia. “Kami sebagai warga lokal, terus mengupayakan perbaikan. Namun kami juga butuh bantuan pemerintah, misalnya membuat turap untuk mencegah gelombang laut.”

 

 

Indahnya Derawan di senja hari. Foto: Yovanda

Derawan di senja hari. Foto: Yovanda

 

 

Wakil Bupati Berau, Agus Tantomo, mengatakan Pemerintah Kabupaten Berau sedang mengkaji upaya pencegahan abrasi agar tak semakin menggerus Pulau Derawan. Kajian tersebut melibatkan sejumlah pakar dari berbagai universitas di Indonesia. “Pasti kami pikirkan dan menjadi fokus wisata, salah satunya adalah mengkaji pulau tersebut.”

Menurut Agus, langkah jangka pendek yang dilakukan adalah mengurangi aktivitas manusia yang merusak terumbu karang. Salah satunya, menghentikan pembangunan permukiman di atas laut. “Harus diakui, Derawan ini situasinya sudah ribet. Kita tidak mungkin juga membongkar semua bangunan, namun semuanya harus ditata. Penertiban izin mendirikan bangunan harus dilakukan beserta langkah-langkah startegis lainnya yang akan kami lakukan.”

 

 

Terumbu karang di perairan Kabupaten Berau. Foto: R Jakub/TNC

Terumbu karang di perairan Kabupaten Berau. Foto: R Jakub/TNC

 

 

Hanya menginap

Rusaknya pantai, membuat sejumlah wisatawan hanya menjadikan Pulau Derawan sebagai tempat menginap. Untuk menikmati keindahan bawah laut, mereka lebih memilih mengunjungi pulau lainnya seperti Pulau Maratua, Pulau Kakaban, dan Pulau Sangalaki yang belum terganggu aktivitas manusia. Pulau-pulau ini masih masuk dalam gugusan Kepulauan Derawan.

Salah satu wisatawan lokal asal Samarinda, Awal Jalil, menilai kondisi Pulau Derawan harus segera diperbaiki. Sebab abrasi yang terjadi sangat terlihat dan mengganggu pemandangan. “Jika tidak ditangani serius, cepat atau lambat Derawan akan kehilangan daya tarik. Penyelamatan terumbu karang juga harus menjadi perhatian utama.”

 

 

Pantai di Pulau Derawan yang perlahan mengalami abrasi. Foto: Yovanda

Pantai di Pulau Derawan yang perlahan mengalami abrasi. Foto: Yovanda

 

 

Sebagai wisatawan, Awal berharap kondisi tersebut bisa diperbaiki. Derawan ibarat oase bagi wisatawan yang dahaga akan laut dan terumbu karang. “Derawan sangat menyenangkan, pengunjungnya tidak hanya lokal, tapi juga internasional. Abrasi dan kebersihan harus diperhatikan. Mari kita bersama, menjaga keindahan pulau ini,” tandasnya.

 

 

 

Foto: Spektakulernya Bumi dari Luar Angkasa

Gambar penuh warna ini ditunjukkan oleh Satelit Landsat-8 di wilayah barat Australia pada 12 Mei, 2013, daerah yang kaya akan vegetasi. Kredit: NASA/USGS Landsat; Geoscience Australia

Gambar penuh warna ini ditunjukkan oleh Satelit Landsat-8 di wilayah barat Australia pada 12 Mei, 2013, daerah yang kaya akan vegetasi. Kredit: NASA/USGS Landsat; Geoscience Australia

 

 

Sejumlah foto yang dirilis oleh National Aeronautics and Space Administration (NASA) ini, menegaskan betapa aduhainya Bumi yang dilihat dari luar angkasa.

 

Earthrise

Foto yang dinamakan “Earthrise” ini, adalah foto ikonik yang diambil saat misi Apollo 8 ke Bulan pada 24 Desember 1968. Foto tersebut menggambarkan seakan Bumi terbit dari permukaan Bulan yang kemunculannya perlahan. Namun, jika kita benar-benar berada di Bulan, pemandangan Bumi terbit ini tidak akan bisa kita lihat, sebagaimana kita menyaksikan Matahari terbit dari timur Bumi saat pagi.

 

Earthrise. Foto: NASA

Earthrise. Foto: NASA

 

 

 

Aft view of Earth

Foto yang diambil pada 30 Desember 2010 ini, menunjukkan Bumi dari bagian belakang Stasiun Luar Angkasa Internasional. Foto diambil oleh crew Ekspedisi 26 dari jendela di ISS (International Space Station) Progress 40.

 

Aft view of Earth. Foto: NASA

Aft view of Earth. Foto: NASA

 

 

 

Earth from Mars

Foto ini menunjukkan Bumi yang terlihat dari permukaan Mars, yang bersinar lebih terang dari bintang lainnya di langit. Foto ini diambil sekitar 80 menit setelah matahari tenggelam di Mars pada 31 Januari 2014. Jarak Bumi ke Mars diperkirakan sekitar 99 juta mil atau sejauh 160 juta kilometer.

 

Earth from Mars. Foto: NASA

Earth from Mars. Foto: NASA

 

 

 

Cumulonimbus cloud over Africa

Kumulonimbus merupakan awan vertikal menjulang yang sangat tinggi, padat, dan  menciptakan badai petir serta cuaca dingin di dalamnya. Berasal dari dari bahasa Latin “cumulus” berarti terakumulasi dan “nimbus” yang bermakna hujan. Awan ini terbentuk karena konveksi kuat (naik) dari udara hangat, lembab, dan tidak stabilnya atmosfer.

Gambar ini diambil ketika Stasiun Luar Angkasa Internasional berada di Afrika Barat, dekat perbatasan Senegal-Mali. Tingkat energi yang tinggi dari sistem badai ini sangat berbahaya, yang kecepatan anginnya memungkinkan terjadinya badai tornado.

 

Cumulonimbus cloud over Africa. Foto: NASA

Cumulonimbus cloud over Africa. Foto: NASA

 

 

 

Antarctic wonders

Foto udara nan memesona ini menunjukkan awan yang sekan melayang di dekat Mount Discovery di Antartika, gunung berapi sekitar 70 kilometer (44 mil) barat daya dari McMurdo. Foto ini diabadikan oleh ilmuwan Michael Studinger pada 24 November 2013 saat dia terbang melintasi wilayah ini sebagai bagian dari kampanye Operasi IceBridge NASA.

 

Antarctic wonders. Foto: NASA

Antarctic wonders. Foto: NASA

 

 

 

Dragon Lake, Siberia

Jukukannya Danau Naga, karena bentuk aliran airnya seperti naga, di sepanjang Sungai Angara di Siberia selatan, dekat Kota Bratsk.

Gambar ini, sebagaimana aslinya, diambil saat musim dingin berlangsung, ketika dana membeku. Yaitu, pada 19 Desember 1999, menggunakan Satelit Landsat.

 

Dragon Lake, Siberia. Kredit: U.S. Geological Survey (USGS) EROS Data Center Satellite Systems Branch

Dragon Lake, Siberia. Kredit: U.S. Geological Survey (USGS) EROS Data Center Satellite Systems Branch

 

 

 

Night lights, big cities

Gambar ini menunjukkan benderangnya cahaya lampu di kota-kota besar beserta kebakaran hutan yang terjadi dengan latar belakang hitam bertinta malam.

Gambar sebenarnya adalah gabungan dari data satelit yang dikumpulkan selama beberapa hari pada April 2012 dan Oktober 2012, yang merupakan hasil dari 312 orbit dan sejumlah informasi. Lampu yang terlihat bercahaya terang dari kota-kota di dunia itu ternyata merupakan gabungan dari api kebakaran hutan, petir, nyala gas, serta pantulan cahaya bulan.

 

Night lights, big cities. Foto: NASA

Night lights, big cities. Foto: NASA

 

 

 

Vivid sunset

Matahari tenggelam ini dipotret dari NASA Kennedy Space Center di Florida, pada 13 Oktober 2010

 

Vivid sunset. Foto: NASA

Matahari tenggelam yang begitu indah. Foto: NASA

 

 

 

Usia Belum Setahun, Anak Gajah Sumatera Ini Hidup Sebatang Kara

Anak gajah yang usianya belum genap setahun ini harus berpisah dari induknya. Saat ini ia dirawat intensif di PLG Saree. Foto: Junaidi Hanafiah

Anak gajah yang usianya belum genap setahun ini harus berpisah dari induknya. Saat ini ia dirawat intensif di PKG Saree. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Nasib anak gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ini memprihatinkan. Kekurangan nutrisi dan mengalami dehidrasi, akibat terpisah dari induknya. Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh pun, membawanya ke Pusat Konservasi Gajah (PKG) Saree, Kabupaten Aceh Besar, untuk mendapatkan perawatan intensif.

Anak gajah yang umurnya belum genap setahun itu, ditemukan sebatang kara di hutan oleh masyarakat Jambo Reuhat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, 13 Januari 2017. Awalnya, warga menduga, ia sakit akibat ditembak senapan pemburu.

“Setelah mendapat laporan masyarakat, kami menghubungi kawan-kawan di Forum Konservasi Leuser (FKL) agar menginformasikan ke BKSDA Aceh untuk segera melakukan penanganan,” ujar Komandan Polhut Kesatuan Pengelolaan Hutan 3 Provinsi Aceh, Bobby Edwar, Selasa (17/1/17)

Bobby mengatakan, berdasarkan keterangan warga, kondisi anak gajah tersebut sudah tidak sanggup berjalan. Tim yang datang ke lokasi juga melihat hal yang sama. “14 Januari, tim dari BKSDA Aceh tiba di Jambo Reuhat dan 15 Januari, anak gajah tersebut langsung diobati.”

Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo menyebutkan, rencana awal, tim yang dikirim ke lokasi hanya ingin memberikan pertolongan medis. Jika tidak terluka parah atau sakit parah, anak gajah tersebut segera dilepas untuk bergabung dengan induk atau rombongannya.

“Terlebih laporan awal yang kami terima mengatakan, anak gajah tersebut tertembak di bagian leher. Tapi, setelah tim melihat langsung, ternyata mengalami dehidrasi dan malnutrisi. Kondisinya juga sangat lemas. Akhirnya diputuskan dirawat di PKG Saree.”

Ketika ditanya apakah anak gajah tersebut akan dilepaskan kembali ke kawanannya jika telah sehat, Sapto Aji Prabowo mengaku belum bisa memberikan kepastian. “Kami harus minta pendapat ahli gajah dan lembaga terkait lainnya. Yang penting, saat ini adalah menyelamatkan nyawanya,” tutur Sapto yang baru menjabat Kepala BKSDA Aceh.

 

 

Anak gajah sumatera ini, saat ditemukan pertama kali kondisinya lemah, dehidrasi dan kekurangan nutrisi. Foto: Junaidi Hanafiah

Anak gajah sumatera ini, saat ditemukan pertama kali kondisinya lemah, dehidrasi dan kekurangan nutrisi. Foto: Junaidi Hanafiah

 

 

Perawatan intensif

Dokter hewan di PKG Saree, Rosa menjelaskan, kesehatan anak gajah tersebut kondisinya sudah lebih baik. Namun, harus mendapatkan perawatan intensif karena kebutuhan nutrisinya belum terpenuhi dan masih stres.

“Infus masih dipasang dan diberikan obat penambah selera makan. Berat badannya hanya 350 kilogram, seharusnya diatas 500 kilogram.”

Rosa mengatakan, anak gajah ini masih menyusu pada induknya hingga dua tahun, sama seperti manusia. Kita tidak tahu mengapa ia terpisah dari induk atau kawanannya. Kondisi yang belum stabil akan membuat daya tahan tubuhnya menurun dan mudah terserang penyakit. Terutama virus Elephant Endorheliotropic Herpes atau herpes gajah. Virus ini belum ada obatnya dan banyak menyerang gajah muda di Asia. “Tim dari PKG Saree, akan merawat maksimal anak gajah ini agar segera sembuh,” paparnya.

 

 

Inilah bangkai gajah yang ditemukan di areal PT. Dwi Kencana Jamborehat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, sebelumnya pada Minggu (7/9/2014). Gadingnya sudah hilang. Foto: Imran Ali Muhammad

Inilah bangkai gajah yang ditemukan di areal PT. Dwi Kencana Jamborehat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, sebelumnya pada Minggu (7/9/2014). Gadingnya sudah hilang. Foto: Imran Ali Muhammad

 

 

Bangkai gajah

Di saat bersamaan, tim dari BKSDA juga menemukan satu bangkai gajah jantan dewasa akibat ditembak pada bagian kaki, punggung, dan leher. Gadingnya hilang.

Gajah tersebut ditemukan di wilayah HGU PT. Dwi Kencana Semesta, Desa Jambo Reuhat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, 14 Januari 2017. BKSDA Aceh menilai, kematian gajah tersebut ada unsur kesengajaan.

 

Baca: Dua Bangkai Gajah Sumatera Kembali Ditemukan di PT. DKS Aceh Timur. Dua Karyawan Ditetapkan Tersangka

 

“Saat melakukan pencarian anak gajah yang sakit, tim mencium bau bangkai. Penasaran, tim mendekati bau tersebut dan ternyata bangkai gajah,” tutur Sapto Aji Prabowo.

Tim melakukan visum, untuk memastikan kematian gajah yang diperkirakan berumur 30 tahun itu. Namun, proyektil pelurunya tidak ditemukan. “BKSDA Aceh sedang membuat laporan dan akan melaporkan ke polisi. Harapannya, kasus ini segera dituntaskan,” tegasnya.

 

 

 

Udang Perisai Purba Ini Muncul di Gurun Setelah Hujan Turun

udang perisai yang diperkirakan hidup sejak 350 juta tahun silam di bumi. Sumber: Facebook Northern Territory Parks and Wildlife

udang perisai yang diperkirakan hidup sejak 350 juta tahun silam di bumi. Sumber: Facebook Northern Territory Parks and Wildlife/Nick Morgan

 

Di gurun di Australia, negeri yang penuh dengan makhluk yang indah dan aneh, terdapat peninggalan prasejarah, seekor crustacea atau yang dikenal sebagai udang perisai.

Triops australiensis, yang terlihat seperti perpaduan kepiting tapal kuda dan makhluk luar angkasa ini, dimasukkan dalam kelompok Crustacea yang disebut branchiopoda. Artinya,  “kaki insang” karena kakinya seperti daun, yang masing-masing memiliki insang untuk menghirup udara.

Makhluk ini memang terlihat sangat aneh, sebuah organisme dengan telur yang dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Karena kelangkaan air, telur tersebut dapat tinggal di bawah tanah aktif hingga tujuh tahun atau lebih, yang dengan sabarnya menunggu hujan cukup deras agar bisa menetas. Ketika hujan turun maka jutaan makhluk ini keluar dari lumpur.

 

 

Udang perisai yang muncul di gurun di Australia setelah hujan turun. Sumber: Facebook Northern Territory Parks and Wildlife

Udang perisai yang muncul di gurun di Australia setelah hujan turun. Sumber: Facebook Northern Territory Parks and Wildlife/Nick Morgan

 

 

Baru baru ini, warga Australia bernama Nick Morgan memposting beberapa foto di laman Facebook Northern Territory Parks and Wildlife untuk mencari tahu jawaban atas apa yang dia lihat dan mengejutkan itu

Pihak Northern Territory Parks and Wildlife kemudian memberikan penjelasan: “Ini adalah jenis crustacea yang dikenal sebagai udang perisai. Ada satu spesies yang terdapat di Australia, Triops australiensis.”

Udang ini mampu beradaptasi dengan baik di alam sekitarnya. Telur-telur ditinggalkan di bawah tanah yang akan tetap aktif selama bertahun-tahun, sampai ada hujan yang cukup besar, yang memicu telur-telur tersebut menetas.

 

 

Udang perisai yang dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan sekitar. Sumber: Facebook Northern Territory Parks and Wildlife

Udang perisai yang dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan sekitar. Sumber: Facebook Northern Territory Parks and Wildlife/Nick Morgan

 

 

Sekarang adalah waktu terbaik untuk melihat udang perisai karena hujan lebat baru-baru ini terjadi di wilayah Central Australia. ”Mereka bisa muncul dalam jumlah jutaan” kata Michael Barritt, seorang ahli dari taman nasional tersebut. “Tapi jangan terkecoh dengan namanya. Mereka sejatinya bukan udang,” tambahnya, sebagaimana diberitakan di Tree Hugger.com 

Makhluk-makhluk ini tidak hidup lama. Mereka akan bertelur sebelum kondisi gurun kembali memanas. “Ini bukan telur biasa” kata Barritt. “Telur-telur ini bisa benar-benar mengering, terbawa angin, dan mampu bertahan di cuaca ekstrim pedalaman Australia. Termasuk panas terik, maupun dingin di malam hari di musim dingin.

Udang perisai ini sudah ada di planet bumi sejak 350 juta tahun silam.

 

 

Janji Setia Saryono untuk Menjaga Habitat Harimau Sumatera (Bagian 3)

Harimau sumatera yang hidupnya kian terdesak akibat habitatnya menyempit. Foto: Rhett A. Butler

Harimau sumatera yang hidupnya kian terdesak akibat habitatnya menyempit. Foto: Rhett A. Butler

 

Saryono belum mengetahui bila harimau sumatera merupakan subspesies harimau terakhir di Indonesia. Dia juga belum mengerti jika populasi harimau sumatera sudah mendekati punah. Yang Saryono yakini, ketika itu adalah, keberadaan harimau sebagai penjaga keseimbangan ekosistem.

Bila tidak ada harimau, populasi babi hutan akan tidak terkendali. Dampaknya, pertanian  masyarakat terancam rusak dan petani mengalami kerugian. “Tidak ada yang memangsa babi, keseimbangan alam terganggu,” ujar lelaki berdarah Sunda kelahiran 1969 ini, di Desa Ladang Palembang, Lebong, Bengkulu.

Saryono baru mengetahui harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) sebagai subspesies terakhir di Indonesia saat mengikuti penyuluhan yang dilakukan pemerintah sekitar awal tahun 2000. “Ternyata hampir punah. Kalau saya tidak salah, jumlahnya tidak sampai 500 individu.”

Saat mengetahui upayanya bersama warga, menetapkan kawasan Bukit Sarang Macan sebagai Hutan Lindung Desa, selaras dengan pelestarian habitat harimau sumatera, ia begitu girang. “Bangga. Apalagi, informasi yang saya terima, tidak banyak desa melakukan hal serupa,” ujar bapak tiga anak ini.

 

 

Baca: Harmonisasi Masyarakat Ladang Palembang dengan Kehidupan Harimau Sumatera (Bagian 1)

 

 

Saryono mengakui, kepercayaan lokal tentang harimau sumatera adalah jelmaan atau reinkarnasi leluhur. Bukit Sarang Macan merupakan tempat leluhur bertemu. Merusak Bukit Sarang Macan yang berakibat mendatangkan musibah merupakan modal dasar dalam pembuatan kesepakatan tersebut.

 

 

Harimau sumatera yang terkena jerat di Hutan Produksi Terbatas Air Rami Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Foto: Dok. Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat

Harimau sumatera yang terkena jerat di Hutan Produksi Terbatas Air Rami Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Foto: Dok. Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat

 

 

Modal dasar ini pun dilengkapi dengan kesadaran warga akan arti penting hutan sebagai sumber air bersih. Warga mengetahui Bukit Sarang Macan adalah hulu sungai Air Udik dan Air Belimau. Dengan menjaga kelestarian Bukit Sarang Macan berarti juga menjaga ketersediaan air.

“Warga sadar, air sangat penting. Bukan hanya untuk keperluan sehari-hari, seperti minum, masak, mandi, dan mencuci, tetapi juga untuk keperluan pertanian. Akan percuma jika pemerintah membangun irigasi, namun sumber airnya tidak dijaga.”

 

 

Bekas cakaran harimau sumatera yang ditemukan tim PHSKS saat melakukan patroli. Foto: Dok. Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat

Bekas cakaran harimau sumatera yang ditemukan tim PHSKS saat melakukan patroli. Foto: Dok. Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat

 

 

Kesepakatan

Pembuatan kesepakatan diawali dengan diskusi kecil, sejumlah warga. Selanjutnya, bergulir dengan menggelar pertemuan di desa. Penyusunan rencana pemetaan dan pembuatan piagam kesepakatan beserta pembiayaan adalah hal penting yang dibahas. “Sekitar dua tahun berproses, 2001 hingga 2002,” kata pria yang menjabat Kepala Desa Ladang Palembang dua periode ini, 1998 – 2006 dan 2008 – 2014.

Dukungan warga merupakan kunci sukses kesepakatan. Bukan hanya pikiran dan tenaga, warga juga ikhlas menyumbang uang. “Semua dilakukan swadaya. Termasuk, saat diberi tugas, mereka ikhlas tidak dibayar, sampai sekarang,” kata Saryono.

 

 

Kotoran harimau sumatera yang ditemukan tim PHS KS saat melakukan patroli. Foto: Dok. Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat

Kotoran harimau sumatera yang ditemukan tim PHS KS saat melakukan patroli. Foto: Dok. Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat

 

 

Tidak berhenti pada kesepakatan, upaya dilanjutkan dengan menginisiasi pembuatan peraturan desa yang menetapkan sekaligus mengatur Hutan Lindung Desa Bukit Sarang Macan. Hal ini dilakukan karena kekuatan hukum dari kesepakatan tertulis yang dibuat belum begitu kuat.

Setelah melalui rangkaian musyawarah, Peraturan Desa Nomor II Tahun 2003 Tentang Hutan Lindung Desa dan Hutan Adat Desa disahkan. “Ada pasal larangan dan sanksi bila larangan dilanggar. Perdes juga menetapkan dan mengatur Hutan Lindung Desa Air Tik Gelung dan Hutan Adat Desa Air Semiep.”

 

 

Kulit harimau, tulang dan organ tubuh ini ditemukan tim PHSKS sewaktu melakukan patroli. Foto: Dok. Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat

Kulit harimau, tulang dan organ tubuh ini ditemukan tim PHSKS sewaktu melakukan patroli. Foto: Dok. Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat

 

 

Meski Saryono tidak menjabat kepala desa lagi dan tidak masuk dalam susunan pengurus Kelompok Tani Penghijauan, namun ia tetap mengambil peran. Ia ikut mengawasi efektivitas pemberlakuan Perdes No. II/2003.

“Sudah 14 tahun, kelestarian Bukit Sarang Macan seluas 20 hektare tetap terjaga. Pemerintah Desa juga tetap memberlakukan Perdes No. II/2003.”

 

 

Baca juga: Nestapa Hidup Harimau Sumatera, Diburu hingga Menuju Kepunahan (Bagian 2)

 

 

Namun begitu, Saryono berpendapat, kedepannya upaya memperkuat jaminan kelestarian Bukit Sarang Macan harus dilakukan. Setidaknya, mengantisipasi jika suatu waktu peraturan desa itu dicabut.

“Di masa mendatang, kondisi desa akan jauh berbeda. Banyak kemungkinan yang akan terjadi,” tutur lulusan Pendidikan Guru Agama ini. Dalam pemikiran Saryono, upaya lebih lanjut itu bisa berbentuk pembuatan peraturan daerah (perda) atau keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

 

 

Saryono memperlihatkan dokumen kesepakatan dan peraturan desa yang bertujuan melindungi hutan sekaligus habitat harimau sumatera. Foto: Dedek Hendry

Saryono memperlihatkan dokumen kesepakatan dan peraturan desa yang bertujuan melindungi hutan sekaligus habitat harimau sumatera. Foto: Dedek Hendry

 

 

Perhatian dan bantuan pemerintah daerah, BKSDA, Balai Besar TNKS dan pihak lain yang peduli dengan upaya pelestarian harimau sumatera dan hutan, sangat diharapkan. Misalnya, mengedukasi kalangan remaja akan arti penting pelestarian harimau beserta hutan, habitatnya.

“Harapan saya, paling tidak, kesepakatan tertulis dan peraturan desa yang berlandaskan warisan kepercayaan orang tua kami tentang harimau dan bukit sarang macan tetap dipertahankan. Dengan begitu, generasi penerus kami nantinya tidak hanya sekadar mendengar cerita semata,” ujar Saryono. (Selesai)

 

 

 

Teluk Balikpapan yang Tidak Pernah Sepi dari Masalah

Keberadaan bekantan di Teluk Balikpapan sangatlah penting. Diperkirakan, jumlahnya saat ini sekitar 1.400 individu. Foto: Hendar

Keberadaan bekantan di Teluk Balikpapan sangatlah penting. Diperkirakan, jumlahnya saat ini sekitar 1.400 individu. Foto: Hendar

 

Koordinator Forum Peduli Teluk Balikpapan (FPTB) Husain Suwarno mengatakan, rencana pelestarian kawasan hutan di Teluk Balikpapan menghadapi tantangan berat. FPTB menemukan, hutan dengan nilai konservasi tinggi di Teluk Balikpapan telah rusak. “Ini terjadi di wilayah Sungai Tempadung, Berenga dan Tengah,” kata Husein.

Sepanjang Desember 2016 hingga Januari 2017, FPTB mencatat ada pembukaan lahan lebih dari lima hektare di hulu Sungai Berenga Tengah yang masuk perluasan Kawasan Industri Kariangau (KIK). “Semakin banyaknya perusahaan di wilayah Kariangau, semakin cepat dan bertambah luas kerusakan yang terjadi.”

Husein menyatakan, setiap saat kawasan Teluk Balikpapan selalu terancam. Sebelumnya, pihaknya mendapat temuan di medio November 2016. Yakni, Perusahaan Sawit PT. Dermaga Kencana Indonesia (PT. DKI, Kencana Agro Ltd. Group) diduga telah merusak sekitar 23 hektare hutan dengan nilai konservasi tinggi. Di lahan itu dibangun pabrik pengolahan minyak sawit mentah (crude palm oil), di Muara Sungai Tempadung. Sekarang PT. DKI, berencana memperluas areanya.

Husein meminta keseriusan Pemerintah Kota Balikpapan dan Pemerintah Provinsi Kalimtan Timur untuk mengoptimalkan fungsi pengawasan. Tujuannya, agar kegiatan spekulasi lahan yang berujung pada perusakan lingkungan hidup bisa dicegah. Selain itu, keberadaan perusahaan yang beroperasi di Kawasan Industri Kariangau juga dipantau ketat.

“Teluk Balikpapan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat penting. Hutan yanga ada bernilai konservasi tinggi, habitatnya bekantan, orangutan, macan dahan dan beruang madu.”

Teluk Balikpapan juga merupakan urat nadinya ribuan nelayan di sekitar Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU). “Teluk Balikpapan harus kita jaga bersama dari berbagai kerusakan lingkungan yang setiap waktu mengancam,” tandasnya.

 

 

Terumbu karang unik ini berada di Teluk Balikpapan. Foto: Hendar

Terumbu karang unik ini berada di Teluk Balikpapan. Foto: Hendar

 

 

Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi, mengatakan isu perusakan hutan Teluk Balikpapan akibat aktivitas KIK adalah permasalahan lama yang dimunculkan kembali. Pihaknya akan menjawab keluhan tersebut dengan mengeluarkan rilis resmi dan pengecekkan lapangan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan. “Kita akan jawab dengan pernyataan resmi,” sebutnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan, Suryanto, menegaskan tudingan kegagalan menjaga kelestarian Teluk Balikpapan tidak lah benar. Suryanto mempertanyakan indikasi apa yang digunakan sebagai penilaiannya. “Saya pelajari dulu, apa indikasinya. Menurut saya, bila ada pembangunan kawasan industri dan pelabuhan, pasti ada dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan.”

 

 

Teluk Balikpapan dilihat dari udara. Foto: Husein/Forum Peduli Teluk Balikpapan

Teluk Balikpapan dilihat dari udara. Foto: Husein/Forum Peduli Teluk Balikpapan

 

 

Suryanto menjelaskan, untuk masalah Teluk Balikpapan, pemerintah dihadapkan pada pilihan ekonomi dan lingkungan. Namun, pihaknya berusaha memperkecil dampak yang terjadi pada kondisi lingkungan hidup. “Kan, ada pilihan trade off mau mengembangkan ekonomi, pastinya akan ada gangguan pada lingkungan.”

Suryanto memastikan, jika kegiatan yang berjalan di area kawasan industri tersebut sesuai Rencana tata Ruang Wilayah (RTRW) yang disetujui. Semuanya sudah menjadi peraturan daerah (Perda) dan tidak mungkin, ada izin di luar kawasan industri. “Saya akan meminta staf, berkoordinasi dengan Forum Peduli Teluk Balikpapan, melihat langsung kondisi aktual,” pungkasnya.

 

 

 

Metode Hazton Ini Mampu Hasilkan Padi Puluhan Ton. Berani Coba?

Pertanian merupakan sektor andalan Indonesia yang harus terus diperhatikan. Foto: Rhett Butler

Pertanian merupakan sektor andalan Indonesia yang harus terus diperhatikan. Foto: Rhett Butler

 

Metode Hazton, mungkin tidak setenar Metode Jajar Legowo atau SRI dalam hal penanaman padi. Namun, metode ciptaan dua putra Kalimantan Barat ini merupakan harapan nyata untuk meningkatkan produktivitas pertanian, menuju swasembada pangan di Indonesia. Adalah Hazairin dan Anton Kamarudin, yang melakukan riset hebat hingga menemukan teknik tersebut.

Hazairin adalah Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Barat (Kalbar). Awal karirnya sebagai penyuluh pertanian. Tak heran, ia paham dengan tipologi lahan pertanian di Kalimantan Barat, serta metodologi yang kerap digunakan petani lokal dalam hal bercocok tanam. “Hanya lihat dan pegang daun saja, saya sudah tahu tanaman ini kekurangan unsur N, P, atau K,” ujarnya belum lama ini.

Saat jadi penyuluh, Hazairin tak segan mengamati kasus yang terjadi di daerah dampingannya. Munculnya teknologi Hazton pun berawal dari pengamatan di lapangan. Baik Hazairin maupun Anton mengamati, petani di Kalbar kerap menanam padi dengan satu hingga tiga bibit per lubang tanam.

Dari bibit tersebut, dihasilkan satu rumpun padi dengan jumlah 10 hingga 20 anakan vegetatif. Selanjutnya, pada masa generatif menghasilkan 10 hingga 15 anakan produktif, dengan produksi padi sekitar tiga hingga empat ton per hektar. Hingga akhirnya, Hazairin dan Anton memiliki pemikiran kontroversional, menggunakan bibit padi lebih tua, cara berbeda yang biasa digunakan petani.

 

Baca: Semangat Menggebu Petani Perempuan di Kapuas Hulu Terapkan Metode Hazton

 

Kebanyakan orang berpendapat, bibit tua tidak menghasilkan bulir padi yang banyak. Namun, semakin tua bibit padi, justru semakin tahan terhadap penyakit. Dari hasil penelitian, didapati juga semakin padat bibit padi yang dimasukkan dalam satu lubang, akan semakin banyak menghasilkan padi  berkualitas dan kuat berkompetisi. Salah satunya, meminimalisir hama keong yang hanya suka pada padi muda.

 

 

Akankah kedaulatan pangan yang dicitakan Indonesia terwujud? Petani, sang pahlawan pangan, nasibnya tidak boleh dilupakan. Foto: Rhett Butler

Akankah kedaulatan pangan yang dicitakan Indonesia terwujud? Petani, sang pahlawan pangan, nasibnya tidak boleh dilupakan. Foto: Rhett Butler

 

 

Pada 2012, metode ini pun diperkenalkan di Kalimantan Barat, dengan nama Hazton, akronim dari Hazairin dan Anton, sang penemu. “Dulu, kita dilarang menanam padi dengan bibit banyak, tapi metode ini malah menggunakan banyak bibit,” kata Hazairin. Sebuah demplot pun dibuat. Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat, selaku Tim Pengendali Inflasi Daerah, mendukung pengembangan penerapan metode tersebut.

Desa Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, daerah awal pengembangan metode ini. Tahun 2014 lalu, Kelompok Tani Nekad Maju di Desa Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, menerapkan metode ini di lahannya. Gabungan kelompok tani (gapoktan) ini, binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat.

“Sebelum menggunakan Hazton, hasil panen per hektar berkisar tiga hingga empat ton. Kini bisa mencapai sembilan hingga sepuluh ton,” kata Bukhari (60), anggota Gapoktan Nekad Maju. Melihat kesuksesan tersebut, kata Bukhari, banyak petani yang tertarik bergabung. Jumlah anggota bertambah, dari tujuh menjadi 11 kelompok tani.

Luas areal yang mengaplikasikan metode ini meningkat dari 25 hektare menjadi 200 hektare. Saat ini, Gapoktan Nekat Maju bahkan sudah mempunyai gudang dan rumah pengeringan padi. Untuk bibit, mereka telah menjalin kerja sama dengan Balai Benih Induk Peniraman.

 

 

Inilah benih padi yang tersimpan di Kantor Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI), Bogor. Dari 10 ribu varietas padi yang ada di Indonesia,, saat ini hanya 125 varietas yang tersisa. Foto: Rahmadi Rahmad

Inilah benih padi yang tersimpan di Kantor Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI), Bogor. Dari 10 ribu varietas padi yang ada di Indonesia,, saat ini hanya 125 varietas yang tersisa. Foto: Rahmadi Rahmad

 

 

Rokib, Ketua Gapoktan Nekad Maju menyatakan, metode ini membantu meningkatkan perekonomian keluarga. Betapa tidak, pendapatan kotor selama tiga bulan dapat mencapai Rp40 juta. “Dipotong biaya tananaman dan pemeliharaan Rp10 juta, pendapatan bersih petani Rp30 juta. Artinya, pendapatan per bulan untuk per hektare Rp10 juta.”

Rokib awalnya ragu. Dia bahkan mengira, Hazton adalah jenis padi, bukan teknik menanam. “Agak rumit. Setelah dijalani dan mendapatkan hasil, ternyata tidak ada yang mustahil.”

Semula, Rokib kurang yakin jika menggunakan 20 hingga 30 bibit padi dalam satu lubang tanam akan berhasil. Terlebih, modal tanam akan bertambah. Namun setelah panen, modal tanam itu kembali, karena hasil yang melimpah. Dengan Metode Hazton, memang modal tanam per hektare naik dari Rp5 juta menjadi Rp7 juta. “Tapi, pendapatan juga naik dari Rp10 juta menjadi Rp30 juta per hektar,” katanya.

 

 

Anton Kamarudin tengah mempraktikkan metode Hazton kepada petani perempuan Desa Tekudak, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Foto: Putri Hadrian

Anton Kamarudin tengah mempraktikkan metode Hazton kepada petani perempuan Desa Tekudak, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Foto: Putri Hadrian

 

 

Dilirik negara lain

Metode Hazton, kini sudah diterapkan di tiga negara, yakni India, Inggris, dan Malaysia. Teknik ini sangat cocok diterapkan di lahan yang tidak terlalu luas, namun produktivitasnya optimal. Di Indonesia, sudah 24 provinsi yang menerapkan, meski ada juga sejumlah petani di Kalbar yang menolak.

“Sejumlah petani di Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya menolak. Padahal, dalam penerapannya mendapat bantuan dan dampingan dari pemerintah,” kata Hazairin.

Saat ini, kata dia, penerapan Hazton melalui APBN 2016 di Indonesia ada 50 ribu hektar.  Kalbar mendapatkan koata sebanyak 35 ribu hektar. “Semua hampir terealisasi. Ada juga yang jatah 10 ribu hektare kurang seperti di Sambas. Mereka sudah merasakan hasilnya yang berlipat.”

Hazairin mengakui, butuh waktu untuk alih metode dan mengedukasi masyarakat. “Peran petugas penyuluh pertanian merupakan kunci sukses penerapannya.”

 

 

Demplot padi di Desa Tekudak, Kabupaten Kapuas Hulu Kalbar, yang menerapkan Metode Hazton, dampingan Konsorsium Perempuan Kalbar. Foto; Konsorsium Perempuan Kalba)

Demplot padi di Desa Tekudak, Kabupaten Kapuas Hulu Kalbar, yang menerapkan Metode Hazton, dampingan Konsorsium Perempuan Kalbar. Foto; Konsorsium Perempuan Kalbar

 

 

Petani berdasi

Kepala Bank Indonesia Perwakian Kalimantan Barat, Dwi Suslamanto, mengatakan Metode Hazton diharapkan menjadi alternatif pertumbuhan ekonomi. Selama ini, Kalimantan Barat cenderung bergantung pada sektor pertambangan dan perkebunan. “Pelemahan harga komoditas cukup berpengaruh bagi pertumbuhan ekonomi di Kalimantan.”

Dwi menuturkan, rata-rata inflasi Kalbar dalam empat tahun terakhir, berdasarkan data historis mencapai 7,58% (yoy). Sementara, rata-rata nasional  > 6,10 persen (y-o-y). Dalam kurun waktu 2012 – 2015, beras secara persisten menjadi komoditas dengan andil terbesar mempengaruhi inflasi Kalimantan Barat. Namun, sebagai komoditas utama penyumbang inflasi, hal ini sekaligus peluang usaha bagi usaha mikro, kecil, dan menengah. “Untuk mendukung upaya stabilitas harga, setidaknya diperlukan pasokan pangan yang cukup.”

Produktivitas panen padi rata-rata nasional dari 2012 – 2015 sekitar < 5,13 ton perhektare, sedangkan di Kalimantan (3,60 ton per hektare), Sumatera (4,21 ton per hektare), dan Jawa (5,70 ton per hektare). “Jadi, produktivitas panen padi di Kalimantan masih tertinggal dari rata-rata nasional. Dibutuhkan inovasi yang dapat menjawab tantangan tersebut.”

Hazton, kata Dwi, adalah upaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Kalimantan Barat. Bank Indonesia Perwakilan Kalbar juga mempermudah sistem pemasaran hasil produk pertanian. “Mulai 2017 akan kami dorong menggunakan IT, modelnya seperti e-commer. Petani tidak perlu ke pasar menjual hasil panennya, cukup online,” papar Dwi.

 

 

Belalang, hidupan liar yang merupakan bagian dari ekosistem lingkungan. Foto: Rhett Butler

Belalang, hidupan liar yang merupakan bagian dari ekosistem lingkungan. Foto: Rhett Butler

 

 

Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, meminta petani untuk bersemangat menanam padi. Kalimantan Barat mempunyai potensi lahan pertanian cukup besar, apalagi luas wilayah Kalbar mencapai 1,5 kali Pulau Jawa. “Jangan malu menjadi petani. Petani itu pekerjaan mulia. Bisa memberi makan banyak orang,” tukasnya.

Kalbar terus memacu program peningkatan produksi padi. Potensi lahan sawahnya mencapai 527.850 hektare, yang dimanfaatkan sekitar 323.959 hektare atau 61,37 persen. Pemerintah provinsi pun terus mendorong agar sisa lahan seluas 203.891 hektare itu bisa dioptimalkan.

 

 

 

Mongabay Travel: Simping, Pulau Terkecil di Dunia yang Nyaris Dilupakan

Pulau Simping yang berada di Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Sumber: Wikipedia

Pulau Simping yang berada di Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Sumber: Wikipedia

 

Anda pernah dengar nama Pulau Simping? Pulau yang luasnya kurang dari setengah hektare ini dicatat sebagai pulau terkecil di dunia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Letaknya di Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang, Kalimantan Barat.

Pulau ini juga dijuluki Pulau Kelapa Dua. Dikarenakan, dulunya, ada dua pohon kelapa menjulang di tengah pulau. Kini, ada beberapa pohon kelapa dan tumbuhan perdu. Sebagai destinasi wisata, Simping kalah pamor dengan tujuan wisata lainnya di Kota Singkawang.

Dari Kota Pontianak, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat, butuh waktu tiga jam perjalanan menuju pulau ini, yang jaraknya sekitar 150 kilometer. Rute yang ditempuh relatif bagus. Hanya saja, plang penanda lokasi Pulau Simping yang terletak di sisi kiri jalan arah Kota Singkawang, tidak cukup mencolok perhatian. Tidak jarang, para pelancong harus putar balik arah karena Jalan Malindo, nama jalan masuk ke pantai itu, terlewati.

Dari Jalan Malindo, pengunjung harus menempuh jarak sekitar dua kilometer untuk mencapai Pantai Teluk Mak Jantuk. Di pantai ini, Pulau Simping berada. Topografinya sedikit berundak. Selama perjalanan, suasana pesisir nan asri terlihat jelas. Waktu terbaik berkunjung adalah pagi atau sore, sembari menunggu matahari tenggelam.

 

 

Keindahan alam yang ditawarkan di sekitar Pulau Simping. Foto: Putri Hadrian

Keindahan alam yang ditawarkan di sekitar Pulau Simping. Foto: Putri Hadrian

 

 

Pantai ini mencapai kejayaannya sekitar 10 tahun lalu. Saat itu, Pantai Teluk Mak Jantuk, dikelola oleh pengusaha yang sama dengan Sinka Zoo, kebun binatang yang konsepnya seperti Taman Safari. Namun, semua hewan ditempatkan dalam kandang. Belakangan Sinka Zoo, sebagai lembaga konservasi, banyak mendapat titipan satwa dilindungi dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, sebelum dilepasliarkan. Sebagai satu-satunya kebun binatang di Kalimantan Barat, tak heran perhatian pengunjung tumpah ruah pada lokasi tersebut.

Pantai Mak Jantuk pun luput dari perhatian. Keberadaan pulau terkecil di dunia versi PBB ini, tidak mampu menarik wisatawan. Padahal, di pantai unik ini pengelola sudah membangun 12 patung shio. Namun, ikon ini tidak ampuh menarik minat wisatawan. Paling tidak untuk berfoto.

Untuk mencapai Pulau Simping dari Pantai Mak Jantuk, kita harus berjalan kaki atau menggunakan kendaraan menuju barat. Letaknya tidak jauh dari bibir pantai. Sebuah jembatan kayu dibuat sebagai penghubung. Sayang, kondisi jembatannya rusak berat, sehingga pengunjung tidak bisa ke tengah pulau untuk melihat klenteng tua.

 

 

Pulau Simping yang dicatat oleh PBB sebagai pulau terkecil di dunia. Sumber: Singkawang.info

Pulau Simping yang dicatat oleh PBB sebagai pulau terkecil di dunia. Sumber: Singkawang.info

 

 

Sebuah papan petunjuk mengenai status Pulau Simping, terpampang di jalan masuk ke jembatan penghubung. Dalam papan petunjuk disebutkan, Pulau Simping merupakan pulau terkecil diakui oleh Perserikatan Bangsa-bangsa. Namun, papan itu tidak mencantumkan legalitas penasbihannya sebagai pulau terkecil di dunia.

Batu-batuan kokoh berukuran besar yang terserak di tepian pantai memberikan sentuhan ketegaran, dibingkai teduh birunya laut. Bunga-bunga liar berwarna kuning dan ungu, tumbuh liar di sisi yang menjorok ke daratan. Pengunjung dapat menikmati semilir angin lembab pantai di bawah pohon pinus yang rindang.

 

 

Pulau Simping yang nyaris terlupakan. Foto: Putri Hadrian

Pulau Simping yang nyaris terlupakan. Foto: Putri Hadrian

 

 

Sampah

Penanganan sampah masih menjadi permasalahan. “Ini salah satu kendala untuk membangun industri pariwisata di Kalimantan Barat. Pengunjung terlalu berharap pada petugas kebersihan. Minim upaya saling menjaga,” ujar Direktur Jejaring Wisata (Jewita) Kalimantan Barat, Aristono Edi.

Pemerintah daerah, kata Aris, harus mempunyai formula tata kelola daerah. Ada konsep daerah wisata tidak memerlukan sentuhan pembangunan, untuk menjaga keasrian dan ekosistemnya. Konsep yang matang sangat diperlukan.”Pengelolaan wisata berbasis masyarakat harus dikedepankan, sehingga masyarakat ikut memiliki kawasan tersebut dan membantu melakukan pemeliharaan.”

 

 

Kupu-kupu, hidupan liar di alam yang merupakan bagian dari ekosistem lingkungan yang harus kita jaga kehidupannya. Foto: Rhett Butler

Kupu-kupu, hidupan liar di alam yang merupakan bagian dari ekosistem lingkungan yang harus kita jaga kehidupannya. Foto: Rhett Butler

 

 

Untuk menggaet minat anak muda guna mendongkrak industri pariwisata di Kalimantan Barat, organisasi ini sejak tahun lalu kerap melakukan kompetisi foto, foto selfie, serta penulisan wisata. “Animo masyarakat cukup baik. Pengguna hastag #jejaringwisatakalbar juga ribuan.”

Aris menyatakan, untuk membangun industri pariwisata membutuhkan waktu. Namun, harus ada pionir yang menginisiasi langkah besar tersebut. Malaysia, yang mempunyai tofografi kurang lebih sama dengan Kalimantan Barat, dapat menjual potensi wisatanya. “Tema rainforest, serta ekowisata sangat diminati turis mancanegara,” katanya.

 

 

Capung dengan sayap pelangi. Foto: Rhett Butler

Capung dengan sayap pelangi. Foto: Rhett Butler

 

 

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, M Zeet Assovie, menambahkan, selain menawarkan panorama, Kalimantan Barat berencana akan menjual keunikan dan kearifan lokalnya. “Kalimantan Barat memiliki 1.986 desa, ragam seni, budaya, dan adat istiadat yang potensinya besar untuk dikembangkan sebagai Desa Wisata.”

Eksplorasi eksotisme desa-desa wisata dinilai sangat tepat untuk dipelajari guna mengembangkan peningkatan pariwisata, karena banyak desa wisata berkembang pesat. “Identifikasi potensi dan keunikan desa wisata akan dilakukan guna menarik kunjungan wisatawan sebanyak mungkin,” paparnya.

 

 

 

Ada Piramida Misterius di Kutub Selatan, Siapa Pembuatnya?

Piramida yang terlihat di Kutub Selatan. Sumber: Google Earth

Piramida yang terlihat di Kutub Selatan. Sumber: Google Earth

 

 

Baru-baru ini, media sosial kembali dihebohkan dengan sebuah foto luar biasa dari Kutub Selatan. Sebuah “piramida misterius” ditemukan terkubur di belantara es Kutub Selatan. Seorang netizen memposting foto dari Google Earth tersebut untuk mendukung teorinya.

Foto itu serta merta populer. Sebuah gunung yang sangat mirip piramida ini mengundang ribuan komentar yang mengemukakan teori mengenai asal muasal piramida tersebut. Beberapa komentar meyakini bahwa peradaban purba telah membangun struktur bebatuan mirip piramida ini, sebagian lain menyebut ada ‘campur tangan’ makhluk luar angkasa dalam menciptkan bangunan simetris tersebut.

 

 

Penemuan piramida di Kutub Selatan ini menimbulkan kehebohan di media sosial dan mengundang para ahli untuk menyelidikinya. Sumber: Google Earth

Penemuan piramida di Kutub Selatan ini menimbulkan kehebohan di media sosial dan mengundang para ahli untuk menyelidikinya. Sumber: Google Earth

 

 

Kehebohan di sosial media tersebut mengundang Eric Rignot, ahli sains sistem planet bumi dari University of California, Irvine, yang mengatakan bahwa ini hanyalah pegunungan yang berbentuk mirip piramida. “Bentuk-bentuk alam yang menyerupai piramida bukanlah hal mustahil. Banyak gunung di dunia yang sebagian mirip piramida, namun biasanya hanya di satu atau dua sisi saja, bukan empat sisi,” lanjutnya sebagaimana diberitakan Live Science.

Gunung ‘piramida’ yang belum diberi nama ini adalah satu dari banyak gunung dalam jajaran Pegunungan Ellsworth Antartika, yang pertama kali ditemukan oleh British Antarctic Expedition pada 1910-1913 , dan tak pernah dipublikasikan secara luas setelahnya. Para ahli yang meneliti Kutub Selatan seringkali menyebut gunung itu dengan “piramida” agar mudah diingat dan memudahkan penyebutan.

 

 

Fosil yang diperkirakan berasal dari Periodesasi Cambrian, 500 juta tahun silam. Sumber: dyn3.heritagestatic.com

Fosil yang diperkirakan berasal dari Periodesasi Cambrian, 500 juta tahun silam. Sumber: dyn3.heritagestatic.com

 

 

Secara spesifik, gunung ini terletak di koordinat 79°58’39.25″S 81°57’32.21″W — di selatan Pegunungan Ellsworth, sebuah kawasan yang disebut Heritage Range. Wilayah ini terkenal karena penemuan fosil-fosil purba luar biasa, seperti trilobit di Periode Cambrian sekitar 500 juta tahun lalu, sebagaimana laporan USGS pada 1972.

“Gunung itu memang tidaklah tinggi, hanya 1.265 meter. Namun, bentuknya yang begitu unik membuatnya istimewa,” kata Mauri Pelto, profesor sains lingkungan hidup dari  Nichols College in Dudley, Massachusetts.

 

 

Gunung Matterhorn di Pegunungan Alpen. Kredit: Ekaterina Grivet, Shutterstock.com

Gunung Matterhorn di Pegunungan Alpen. Kredit: Ekaterina Grivet, Shutterstock.com

 

 

Menurut Pelto, erosi es di gunung itu menyebabkan bentuknya lambat laun seperti piramida. Hal tersebut terjadi ketika salju atau air mengisi celah-celah dalam gunung pada siang hari. Ketika malam tiba dan suhu mulai turun, salju membeku dan mengembang, berubah menjadi es. “Es yang mengembang menyebabkan retakan makin besar,” paparnya.

Puncak-puncak gunung yang mirip piramida sebenarnya banyak bertebaran di planet bumi. Gunung Matterhorn di Pegunungan Alpen, juga Gunung Bulandstindur di Islandia adalah dua contoh yang populer.

 

 

 

Kejahatan Lingkungan di Aceh Sepanjang 2016 Menurun. Begini Penjelasannya

Awetan harimau sumatera yang disita dari para pelaku kejahatan satwa di Aceh. Pemusnahan barang bukti harus dilakukan dan hukuman untuk para pelaku harus ditingkatkan. Foto: Junadi Hanafiah

Awetan harimau sumatera dan satwa liar dilindungi lainnya yang disita dari para pelaku kejahatan satwa di Aceh. Pemusnahan barang bukti harus dilakukan dan hukuman untuk para pelaku harus ditingkatkan. Foto: Junadi Hanafiah

 

 

Kepolisian Daerah (Polda) Aceh menyatakan kejahatan lingkungan sektor kehutanan maupun perdagangan dan perburuan satwa liar pada 2016 menurun dibandingkan 2015. Untuk tindak pidana kehutanan ada 36 kasus sedangkan kejahatan satwa liar ada 3 kasus sepanjang 2016.

“Ada penurunan hingga 20 persen dibandingkan 2015. Sementara kasus satwa liar dilindungi berkurang sekitar 40 persen,” jelas AKBP. Erwan, Kasubdit IV/Tipidter Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Aceh, Rabu (11/01/17).

Pada 2016, Polda Aceh telah menangani tiga kasus tindak pidanan hutan di wilayah Kabupaten Aceh Besar yang sudah P 21. Serta satu kasus yang sudah putusan vonis di Pengadilan Negeri Bireun, terkait perdagangan harimau sumatera.

“Hal ini menjadi langkah maju dalam hal penegakan hukum sumber daya alam dan konservasi di Aceh. Pencapaian ini berkat kerja sama semua pihak, BKSDA Aceh, Dinas Kehutanan Aceh dan lembaga swadaya masyarakat.”

Polda Aceh juga telah menyediakan nomor khusus 08116771010 untuk masyarakat yang ingin melaporkan dugaan kejahatan lingkungan. “Kita berharap, kelestarian dan keanekaragaman hayati di Aceh dan secara luas terjaga,” papar Erwan.

 

 

Perburuan harimau sumatera tetap terjadi dikarenakan permintaan yang tinggi dari pasar gelap baik dalam bentuk awetan maupun organ tubuh. Foto: Junaidi Hanafiah

Perburuan harimau sumatera tetap terjadi dikarenakan permintaan yang tinggi dari pasar gelap baik dalam bentuk awetan maupun organ tubuh. Foto: Junaidi Hanafiah

 

 

Irma Hermawati, Legal Advisor Wildlife Crime Unit (WCU) mengakui, kasus perdagangan satwa liar dan perburuan mulai menurun di Aceh. Namun belum bisa diyakini, apakah ini strategi baru yang digunakan para penjahat lingkungan tersebut. “Bisa jadi, modusnya berubah karena cara kerja mereka rapi.”

Irma menambahkan, WCU sangat mengapresiasi penegak hukum di Aceh yang ikut memusnahkan barang bukti kerangka dan kulit harimau sumatera setelah vonis dibacakan. “Ini jarang terjadi, biasanya setelah vonis, barang bukti tidak diketahui keberadaannya.”

Selama ini, Polda maupun Polres Aceh, cepat merespon jika ada informasi kejahatan, terkait pemburuan maupun perdagangan satwa liar. “Polda dan Polres sangat cepat merespon setiap laporan yang kami sampaikan.”

 

 

Barang bukti kulit harimau sumatera dan belulangnya yang disita Polda Aceh dari pelaku di Cot Gapu, Kabupaten Bireuen, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah

Barang bukti kulit harimau sumatera dan belulangnya yang disita Polda Aceh dari pelaku di Cot Gapu, Kabupaten Bireuen, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah

 

 

Kasus

Hal berbeda disampaikan Direktur Eksekutif Walhi Aceh, Muhammad Nur, yang menyatakan  kejahatan kehutanan bukan menurun, tapi sedikitnya kasus yang ditangani. Padahal pada 2016, banyak kejahatan kehutanan yang terjadi. “Bukan hanya pada 2016, di 2015 juga terjadi hal serupa.”

Muhammad Nur mengatakan, pada 2016, kepolisian bersama polisi kehutan, menangkap sejumlah pelaku illegal logging, baik tangkap tangan, maupun saat dibawa dengan becak atau truk.

“Ada kejadian di Bener Meriah, Aceh Selatan, Aceh Tamiang, Aceh Timur dan beberapa daerah lainnya. Bahkan, di Aceh Timur ada pekerja koperasi tertangkap tangan menebang kayu. Tapi, kita tidak tahu bagaimana perkembangan kasus tersebut, apakah sudah ada keputusan pengadilan atau pemeriksaan dihentikan.”

Menurut Muhammad Nur, yang menyedihkan adalah kasus perambahan hutan gambut Suaka Margasatwa Rawa Singkil. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, bersama kepolisian telah menangkap pelaku, termasuk menemukan satu alat berat di lokasi. “Tapi, yang membingungkan, alat belat tersebut hilang entah kemana. Pelaku yang membayar perambahan juga tidak ditangkap hingga sekarang.”

 

 

Suaka Marga Satwa Rawa Singkil terus dirambah. Penegakan hukum harus dilakukan. Foto: Junaidi Hanafiah

Suaka Marga Satwa Rawa Singkil terus dirambah. Penegakan hukum harus dilakukan. Foto: Junaidi Hanafiah

 

 

Hasil monitoring yang dilakukan Forum Konservasi Leuser (FKL) pada Januari – Juni 2016, menemukan data yang mengejutkan. Ada 2.398 aktivitas ilegal di hutan yang masuk Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di 12 Kabupaten/Kota di Aceh.

“Selama enam bulan, ada 984 kasus pembalakan di KEL dengan volume kayu 3.641,21 meter kubik,” jelas Manager Konservasi FKL, Rudi Putra.

Rudi menjelaskan, di KEL juga terjadi pembukaan jalan ilegal yang mencapai 53 ruas. Ini terjadi di Aceh Tenggara, Nagan Raya dan Aceh Timur. “Kami juga menemukan 279 perburuan liar dengan 250 perangkap serta 46 pelaku,” ujarnya.

 

 

 

Diambil Siripnya, Perburuan Hiu Belum Mengisyaratkan Berakhir

Hiu martil yang memiliki bentuk kepala seperti martil. Hiu martil memiliki kemampuan luar biasa yaitu dapat menemukan partikel di air 10 kali lipat dibanding hiu lainnya. Sumber: Wikipedia Commons

Hiu martil yang memiliki bentuk kepala seperti martil. Hiu ini memiliki kemampuan luar biasa yaitu dapat menemukan partikel di air 10 kali lipat dibanding hiu lainnya. Sumber: Wikipedia Commons

 

 

Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Polda Jawa Timur mengamankan sekitar 50 ekor hiu yang telah dipotong siripnya, serta potongan sirip siap jual di TPI Pandean, Situbondo, Senin (09/1/2017) malam. Hiu yang ditangkap nelayan dari Kapal Layar Motor (KLM) Sumber Laut ini merupakan jenis hiu lanjaman jawa (Carcharhinus amblyrhynchoides) dan hiu martil (Sphyrna lewini).

Hasil pemeriksaan polisi menunjukkan, Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) yang dimiliki KLM Sumber Laut tersebut telah habis masa berlakunya, Mei 2016.

“Kami amankan kapal dan barang bukti ke Ditpolair Polda Jatim di Surabaya. Nakhoda dan dua awak kapalnya sedang diproses,” jelas AKBP Heru Prasetyo, Kasat Patroli Daerah, Ditpolair Polda Jawa Timur, kepada Mongabay, Selasa (10/1/2017).

Polisi menjerat pelaku dengan Pasal 93 ayat 1 jo Pasal 27 ayat 1 tentang pengoperasian kapal penangkap ikan berbendera Indonesia tanpa memiliki SIPI. “Ahli dari BKSDA menyatakan, tindakan pelaku tidak dapat dijerat dengan UU Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, tapi hanya UU Perikanan saja,” ujar AKBP Heru Prasetyo.

 

 

P1 HH Hammerhead, pesawat tanpa awak yang awalnya merupakan pesawat komersial P-180 Avanti II. Tampilannya mengingatkan kita akan hiu martil, sebagaimana namanya. Sumber: P1hh.piaggioaerospace.it

P1 HH Hammerhead, pesawat tanpa awak yang awalnya merupakan pesawat komersial P-180 Avanti II. Tampilannya mengingatkan kita akan hiu martil, sebagaimana namanya. Sumber: P1hh.piaggioaerospace.it

 

 

 

Regulasi

Maraknya perburuan atau penangkapan hiu, tidak dapat dilepaskan dari faktor ekonomi, yang mendatangkan keuntungan melalui penjualan sirip serta daging. Yudi Herdiana, Marine Program Manager Wildlife Conservation Society (WCS) mengatakan, tingginya harga sirip hiu di pasaran ekspor maupun dalam negeri membuat hiu banyak diburu.

“Harga sirip hiu ini cukup mahal, belum lagi dagingnya yang memang bisa jual.”

 

 

Hiu martil yang dijual di pasar wilayah Aceh Barat. Foto: WCS

Hiu martil yang dijual di pasar wilayah Aceh Barat. Foto: WCS

 

 

Perburuan hiu untuk diambil sirip maupun dagingnya juga dipengaruhi tidak adanya ketegasan regulasi: larangan menangkap hiu di perairan Indonesia. Regulasi yang ada masih sebatas ekspor. “Khusus hiu, jenis hiu monyet yang tidak boleh ditangkap di perairan Indonesia. Sedangkan aturan ekspor sudah ada untuk 4 jenis yaitu 3 jenis hiu martil dan 1 hiu koboi.”

 

Baca: Hiu Martil juga Bisa “Terbang”

 

Menurut Yudi, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam waktu dekat akan mengeluarkan aturan baru, yang lebih memperketat serta mengurangi akses penangkapan hiu di perairan Indonesia. Sampai saat ini pun, belum ada regulasi internasional yang melarang penangkapan hiu. Aturan penangkapan ikan secara internasional, berlaku untuk komoditas ikan tangkap seperti tuna. “Di dunia, terdapat sekitar 816 spesies hiu, dan baru beberapa saja yang diatur maupun dilarang.”

 

 

Puluhan hiu yang disita dari Kapal Layar Motor (KLM) Sumber Laut oleh  Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Polda Jawa Timur. Foto:  Ditpolair Poda Jatim

Puluhan hiu yang disita dari Kapal Layar Motor (KLM) Sumber Laut oleh Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Polda Jawa Timur. Foto: Ditpolair Poda Jatim

 

 

Maraknya penangkapan hiu, selain belum adanya aturan tegas, disebabkan juga perbedaan perspektif antara masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan, dengan aktivis lingkungan dan pemerhati satwa.

“Penangkapan hiu oleh nelayan karena dianggap sebagai komoditas ikan tangkap biasa, yang dapat dijual untuk menghasilkan uang. Sedangkan pandangan yang tidak setuju menjelaskan, perburuan hiu dapat mempengaruhi ekosistem laut.”

 

 

Petugas Ditpolair Polda Jatim memeriksa hiu hasil tangkapan nelayan di TPI Pandean, Situbondo, Jawa Timur. Foto: Ditpolair Jatim

Petugas Ditpolair Polda Jatim memeriksa hiu hasil tangkapan nelayan di TPI Pandean, Situbondo, Jawa Timur. Foto: Ditpolair Jatim

 

 

Hiu merupakan spesies yang berfungsi sebagai top predator. Keberadaan hiu meregulasi atau mengatur keseimbangan dalam sebuah ekosistem. Biasanya, hiu menyerang atau memangsa hewan atau ikan yang lemah atau sakit, sehingga ekositem tetap terjaga. Turunnya jumlah hiu akan mempengaruhi penurunan produksi ikan lain.

“Mangsa tingkat satu setelah hiu akan membengkak populasinya bila hiu tidak ada. Akibatnya, spesies dibawahnya akan ikut berkurang, padahal spesies yang secara ekonomis penting itu justru yang dimanfaatkan masyarakat misalnya tuna atau tongkol.”

Untuk itu, regulasi perlindungan hiu perlu diperkuat. “Sosialisasi dan penegakan hukum harus dijalankan berbarengan kedepannya,” papar Yudi.

 

 

 

Nestapa Hidup Harimau Sumatera, Diburu hingga Menuju Kepunahan (Bagian 2)

Penyelamatan harimau yang terkena jerat oleh tim Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat. Foto: Dok. Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat

Penyelamatan harimau yang terkena jerat oleh tim Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat. Foto: Dok. Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat

 

Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan subspesies yang masih tersisa di Indonesia. Dua subspesies lainnya yang pernah ada yaitu harimau jawa dan harimau bali dinyatakan telah punah. Tahun 1940-an untuk harimau bali dan 1980-an untuk harimau jawa.

Bagaimana nasib harimau sumatera saat ini? Hampir 50% habitat harimau sumatera berada di Aceh, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu (Borner dalam Santiapillai and Widodo, 1987). Terutama di Bengkulu, habitatnya berada di Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Sebagiannya lagi, berdasarkan kajian Forum Harimau Kita, ada di koridor Balai Bukit Rejang Selatan.

Perwakilan Forum Harimau Kita wilayah Bengkulu drh. Erni Suyanti Musabine saat ditemui akhir Desember 2016 menyebutkan, jumlah harimau sumatera di Balai Bukit Rejang Selatan sekitar 30 individu. Sementara itu, Koordinator Pelestarian Harimau Sumatera – Taman Nasional Kerinci Seblat (PHS – TNKS) Wilayah Bengkulu Nurhamidi, pada pertengahan Desember 2016 memperkirakan, populasi kucing besar ini di TNKS berkisar 166 individu.

Sedangkan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu – Lampung Abu Bakar Chikmad mengungkapkan, populasi harimau sumatera di Bengkulu hanya 17 individu. “Hampir punah, hanya tersisa 17 individu,” ungkapnya, ketika ditemui akhir November 2016. Perburuan dan perdagangan ilegal, konflik dengan manusia, dan kehilangan habitat adalah serangkaian ancaman utama.

 

 

Baca: Harmonisasi Masyarakat Ladang Palembang dengan Kehidupan Harimau Sumatera (Bagian 1)

 

 

Apa yang membuat perburuan terjadi? Ellis (2005) mengungkapkan, Indonesia menjadi eksportir utama tulang harimau dan produk tulang harimau dengan tujuan utama Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan. “Di Sumatera, gigi, kuku, kumis, ekor, kulit, lemak, dan kotoran dipercaya memiliki kandungan obat, sedangkan penis dan tulang dipercaya untuk perangsang.”

Sampai 1990-an, bagian paling berharga dari harimau sumatera adalah kulit. Ketika permintaan tulang untuk obat meningkat, kulit, kendati masih berharga, tidak lagi menjadi alasan utama untuk perburuan. Untuk periode 1973 – 1992, Lilley (dalam Boomgaard, 2001) menyebutkan, Indonesia mengekspor lebih dari 4.000 kilogram tulang dengan berat rata-rata 8 kg per harimau. Jumlah harimau yang dibunuh dalam setahun setidaknya 25 individu.

 

 

Harimau sumera ini sakit ketika memasuki perkampungan di Resort Sekincau Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Maret 2015. Lambatnya penanganan menyebabkan nyawanya tidak tertolong. Foto: WCS-IP

Harimau sumera ini sakit ketika memasuki perkampungan di Resort Sekincau Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Maret 2015. Lambatnya penanganan menyebabkan nyawanya tidak tertolong. Foto: WCS-IP

 

 

Berburu harimau bukanlah tradisi masyarakat di Pulau Sumatera. “Cenderung tidak ada bukti tentang daerah perburuan ekslusif untuk keluarga kerajaan yang pernah berdiri di Sumatera. Kita tidak banyak mendengar tentang keluarga kerajaan yang berburu harimau di Sumatera,” ungkap Boomgaard (2001). Bukan hanya kerajaaan, Marsden (dalam Boomgaard, 2001) juga mengemukakan, penduduk sumatera tidak suka berburu harimau.

Bangsa Eropa yang mengenalkan perburuan harimau kepada penduduk Sumatera. Di Provinsi Bengkulu, Inggris yang mengenalkan. Namun, belum diketahui kapan Inggris yang mendarat pertama kali di wilayah Bengkulu pada 1685 itu, mulai mengenalkannya. “Kepala-kepala (harimau) sering dibawa untuk hadiah yang diberikan oleh British East India Company karena membunuhnya,” tulis Marsden (dalam Boomgaard, 2001).

Kendati demikian, pemberian hadiah tersebut tidak terlalu mendapat respon. “Hadiah uang untuk membunuh harimau di sini, dilakukan oleh pemerintah seperti di beberapa bagian India, tetapi sangat jarang diklaim. Orang-orang Bengkulu terlalu percaya takhayul dan lamban untuk usaha/bisnis,” ungkap Heyne (dalam Boomgaard, 2001) yang berkunjung ke Bengkulu pada 1812.

Pada 1825, wilayah Bengkulu diserahkan oleh Inggris kepada Belanda. Pemberian hadiah yang diberlakukan Belanda juga tidak terlalu direspon oleh penduduk Bengkulu. Boomgaard (2001) mengungkapkan, pada 1895, Residen Bengkulu menulis bahwa dia sangat familiar dengan sebuah kasus dimana seorang pemimpin tua menolak untuk mendapatkan hadiah untuk seekor harimau yang ditangkap. Alasannya, tidak ingin menjual leluhurnya.

Tidak terlalu mendapat respon, pemberian hadiah di Sumatera dihapus pada 1897. Residen di Sumatera menyatakan harimau tidak boleh dibunuh karena hadiah. Kendati sistem hadiah dihapus, tidak berarti pengaruhnya hilang. Sekitar 1935, pesta berburu yang dipimpin oleh seorang pegawai sipil telah membantai 70 individu di Bengkulu. Pesta berburu untuk menyikapi  “epidemik harimau” akibat pemasangan racun untuk babi hutan. Tahun 1950, diperkirakan harimau tidak terlihat lagi di sekitar Kota Bengkulu.

 

 

Yanti Musabine saat menyelamatkan Elsa yang kaki kanan depannya luka di kosensi perusahaan sawit di Kabupaten Kaur, 3 April 2014. Foto: Dok. BKSDA Bengkulu

Yanti Musabine saat menyelamatkan Elsa yang kaki kanan depannya luka di kosensi perusahaan sawit di Kabupaten Kaur, 3 April 2014. Foto: Dok. BKSDA Bengkulu

 

 

Perburuan harimau untuk diperdagangkan mulai marak di Bengkulu diperkirakan pada 1980-an. Menurut Matthiessen (dalam Ellis, 2005), menipisnya simpanan Tiongkok (China) atas tulang harimau, menjelaskan kenaikan perdagangan tersebut akhir 1980-an. Perburuan harimau meningkat di India, Bhutan, Indochina, Indonesia dan Timur Jauh Rusia. Pencarian tulang harimau untuk diekspor ke China daratan dan Taiwan adalah alasan utama banyaknya harimau dibunuh.

 

 

Harimau yang dibunuh pada 1990 – 2000 di Sumatera

 

Provinsi 1990 91 92 93 94 95 96 97 98 99 2000 Total
Bengkulu 10 5 5 7 12 24 25 46 46 33 2 215
Sumatera Selatan 4 15 15 9 11 9 17 14 13 107
Lampung 2 4 5 12 10 18 25 11 4 91
Jambi 1 6 6 14 17 14 9 8 75
Riau 4 1 2 6 4 11 10 12 13 8 2 73
Sumatera Barat 1 3 2 4 5 11 12 13 7 58
Total 15 10 27 35 40 69 79 122 125 81 16 619

Sumber: Tilson et al (2010)

 

 

 

Dilihat asalnya, menurut Tilson et al (2010), jumlah harimau sumatera yang dibunuh lebih banyak berasal dari taman nasional (369 individu atau 58%) dibandingkan dari luar taman nasional (260 individu atau 42%). TNKS merupakan taman nasional dengan jumlah terbanyak. Yakni, 122 individu atau 33% dari total harimau sumatera dari taman nasional (369 individu).

 

Harimau yang dibunuh antara 1990 – 2000 di Sumatera, di dalam dan luar taman nasional

 

Lokasi 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000
Way Kambas 0 0 1 0 0 1 2 3 4 3 1
Bukit Barisan Selatan 0 0 1 4 6 11 9 18 24 9 4
Kerinci Seblat 2 3 8 10 9 14 15 21 25 15 1
Berbak 0 0 0 0 2 3 10 11 8 5 4
Bukit Tigapuluh 0 0 0 1 5 14 18 21 19 10 4
Total Dalam Taman Nasional 2 3 10 15 22 43 54 74 80 42 14
Luar Taman Nasional 13 7 17 20 18 26 25 48 45 39 2
Total 15 10 27 35 40 69 79 122 125 81 16

Sumber: Tilson et al (2010)

 

 

Perburuan di Bengkulu

Perburuan harimau di Bengkulu, tambah Tilson et al (2010), melibatkan 63 orang (24 profesional, 33 amatir, dan 6 orang pemula). Jumlah itu, jauh lebih banyak dibandingkan di Lampung yang melibatkan 25 orang (8 profesional dan 27 amatir), serta Sumatera Selatan yang melibatkan 11 orang (2 profesional dan 9 amatir).

Hasil investigasi PHS-TNKS wilayah Bengkulu mengidentifikasi kelompok pemburu harimau di Mukomuko, Bengkulu Utara, Lebong dan Rejang Lebong berkisar 10 – 15 orang. Setiap kelompok berjumlah 2 – 5 anggota. Kelompok ini dibiayai pemodal atau sendiri. “Beberapa pernah sekelompok, kemudian pindah ke kelompok lain, atau membentuk kelompok baru bersama anggota kelompok lain atau merekrut anggota baru,” papar Nurhamidi.

 

 

Harimau sumatera yang terkena jerat di Hutan Produksi Terbatas Air Rami Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Foto: Dok. Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat

Harimau sumatera yang terkena jerat di Hutan Produksi Terbatas Air Rami Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Foto: Dok. Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat

 

 

Dalam melakukan aktivitas, pelaku melakukan survei dahulu. Bila dianggap tepat, pelaku memasang tanda atau membuat lubang di areal survei. Kedatangan berikutnya untuk memasang jerat. Bila tidak di pematang yang sempit, jerat akan dipasang dengan membuat jalur khusus. “Ada yang menggunakan umpan dan ada yang tidak. Kalau menggunakan, artinya ingin cepat atau waktunya singkat.”

Hasil patroli tim PHS-TNKS pada 2015 menemukan 56 jerat aktif, sedangkan pada Januari – November 2016 disita 22 jerat aktif. Jerat ditemukan di kawasan TNKS dan penyangga. “Untuk indikasi perjumpaan seperti jejak, kotoran, cakar, dan suara ditemukan 68 indikasi selama 2015. Sementara Januari – November 2016, ada 40 indikasi.”

Selain harga jual, intensitas perburuan dipengaruhi musim dan kondisi perekonomian seperti kemarau panjang dan komoditi pertanian yang anjlok. Masa puasa dan lebaran juga cenderung memacu intensitas. “Kini, pelaku mulai membeli informasi dari penduduk, misalnya jejak. Berita tentang konflik harimau dan manusia di media massa juga sudah menjadi sumber informasi  bagi mereka,” ujar Nurhamidi.

 

 

jejak kaki harimau sumatera yang ditemukan saat patroli. Foto: Dok. Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat.

jejak kaki harimau sumatera yang ditemukan saat patroli. Foto: Dok. Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat.

 

 

Bagian tubuh harimau sumatera dijual untuk beragam keperluan. Sebut saja untuk bahan pembuatan obat, prestise kalangan tertentu, spiritual, atau terindikasi untuk ritual budaya. “Ada informasi, kepala dijual untuk pembuatan reog. Apakah benar atau tidak, masih kami pelajari. Yang jelas, hampir semua bagian harimau dijual. Mulai dari kuku, gigi, tulang, kulit, hingga kumis.”

Kelompok AA, warga Desa Pondok Baru dan Sn, warga Desa Sungai Ipuh, Kabupaten Mukomuko yang ditangkap tim PHS-TNKS Wilayah Bengkulu bersama Polres Mukomuko pada Jumat (8/1/2016), merupakan pemburu yang aktif. Sejak beroperasi 2011, mereka telah membunuh delapan individu harimau sumatera.

“Vonis berat untuk pelaku sangat penting, tujuannya menekan aktivitas perburuan. Vonis berat akan menimbulkan efek jera bagi pelaku dan pemburu yang lain. “Dampak tersebut terlihat dari temuan jerat yang turun hampir 50%,” kata Nurhamidi.

 

 

Harimau sumatera yang terus diburu menyebabkan populasinya berkurang. Penegakan hukum harus terus dilakukan bagi pelaku. Foto: Junaidi Hanafiah

Harimau sumatera yang terus diburu menyebabkan populasinya berkurang. Penegakan hukum harus terus dilakukan bagi pelaku. Foto: Junaidi Hanafiah

 

 

Memangsa

Menurut Boomgaard (2010), ada enam alasan mengapa harimau menyerang manusia. Yakni, (1) Oportunistik; (2) Struktural; (3) Periodik atau bencana; (4) Kekacauan masyarakat, (5) Individual dan (6) Keputusasaan. Oportunistik terjadi ketika manusia merupakan satu-satunya mangsa bagi harimau.

Sedangkan tipe struktural terjadi ketika alam/habitat harimau secara konstan diinvasi oleh manusia. Ini adalah kasus ketika lahan dalam skala luas dibersihkan terkait pertambahan penduduk yang cepat, imigrasi dan ekspansi perusahaan komersil (perkebunan). Sementara itu, tipe periodik terjadi ketika bencana alam yang mengakibatkan hewan mangsa harimau berkurang.

 

 

Harimau Sumatera yang kini nasibnya kritis. Foto: Rhett A. Butler

Harimau Sumatera yang kini nasibnya kritis. Foto: Rhett A. Butler

 

 

Untuk tipe kekacauan masyarakat, terjadi pada kasus tertentu dari bencana. Seperti perang, pemberontakan, epidemik skala luar. Selanjutnya, tipe individual terjadi karena harimau sudah terlalu tua atau sudah tidak mampu memburu mangsa kecuali manusia. Untuk tipe keputusasaan terjadi ketika kelompok harimau menyerang pemukiman atau dikenal dengan istilah wabah harimau.

Di Sumatera, Boomgaard (2001) mengungkapkan, rata-rata tahunan jumlah manusia dibunuh harimau pada 1850-an sebanyak 400 orang, pada 1862-81 sebanyak 180 orang, dan pada 1882-1904 sebanyak 60 orang. Khusus Bengkulu, 100 orang dibunuh pada periode 1818 – 1855. Kebanyakan korbannya adalah orang China dan Jawa, dan buruh perkebunan. “Seakan-akan agresi harimau adalah masalah struktural.”

 

Rata-rata tahunan manusia dimangsa harimau

 

Periode

 

1820–30 1850-61 1862–81 1882–1904
Jawa 400 200 90 50
Sumatera 400 180 60

Sumber: Boomgaard (2001)

 

Nyhus and Tilson (2010) mengemukakan, tidak ada satu keterangan yang tepat untuk menjelaskan konflik. Beberapa hipotesis umum mengungkapkan mengapa harimau menyerang manusia. Hal tersebut adalah: mangsa berkurang atau ketidakmampuan memburu secara efektif, kelaparan, usia tua, sakit atau terluka, hingga tidak dapat mempertahankan jalur jelajah.

”Di Sumatera, kami menemukan bahwa harimau menyerang manusia cenderung terjadi ketika penduduk terlibat dalam aktivitas dekat pinggiran hutan. Khususnya, pertanian dan perkebunan swasta serta area dengan gangguan tinggi dan menengah”. Kecenderungan terjadinya konflik struktural ini, ungkap Boomgaard, karena harimau merupakan satwa yang mengikuti budaya atau pengikut budaya. Harimau mendekat habitat yang dibangun manusia.

 

 

Sejumlah jerat yang berhasil diamankan oleh petugas Tim Sapu Jagat PHSKS. Foto: Tim Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Sebelat

Sejumlah jerat yang berhasil diamankan oleh petugas Tim Sapu Jagat PHSKS. Foto: Tim Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Sebelat

 

 

Di Bengkulu, Erni Suyanti Musabine menambahkan, hampir semua konflik harimau-manusia terjadi di kawasan pertanian dan perkebunan swasta yang dekat hutan. Tercatat, 8 orang meninggal dalam 125 konflik yang terjadi antara 2007 – 2014. “Alih fungsi lahan atau hutan menjadi pemukiman, pertanian, perkebunan, dan juga pertambangan merupakan sebab utama. Karena itu, sangat penting bagi pemerintah untuk melakukan analisis komprehensif sebelum mengeluarkan kebijakan,” kata Yanti, biasa disapa.

Dari catatan dokter hewan BKSDA Bengkulu – Lampung ini, konflik terbanyak terjadi di Seluma, yakni 36,8%. Selanjutnya, di Kaur dan Lebong, masing-masing 23,5%, Bengkulu Utara (19,1%), Mukomuko (8,8%), Kepahiang dan Bengkulu Tengah (4,4%), Bengkulu Selatan (1,5%), sedangkan Rejang Lebong nihil. “Kesadaran dan keterlibatan masyarakat terkait mitigasi konflik harus ditingkatkan. Termasuk, memfasilitasi nomor hotline untuk cepat menginformasikan bila terjadi konflik.”

Pihak lain yang penting dilibatkan adalah perusahaan swasta. Mengingat, sejumlah konflik terjadi di kawasan perkebunan swasta seperti di Kaur, Seluma, Bengkulu Tengah dan Mukomuko. “Selama ini, sektor swasta tidak pernah dilibatkan. Padahal, mereka juga berkepentingan dan mungkin memiliki sumber daya yang cukup untuk mendukung pelestarian harimau sumatera. Paling tidak, ketika ada harimau masuk perkebunan, mereka bisa bertindak tepat,” ujar Yanti.

 

 

Harimau sumatera yang terjerat perangkap babi kemudian ditembak aparat hingga tewas di Desa Tanjung Raman, Kecamatan Pendopo, Sumatera Selatan (10/09/15). Hilangnya habitat, menyebabkan konflik harimau dengan manusia terjadi. Foto: Ridiansyah

Harimau sumatera yang terjerat perangkap babi kemudian ditembak aparat hingga tewas di Desa Tanjung Raman, Kecamatan Pendopo, Sumatera Selatan (10/09/15). Hilangnya habitat, menyebabkan konflik harimau dengan manusia terjadi. Foto: Ridiansyah

 

 

Direktur Lingkar Institut Iswadi menambahkan, peran ulama atau da’i bisa dioptimalkan untuk mendukung pelestarian harimau sumatera yang berdasarkan IUCN (International Union for Conservation of Nature) statusnya Kritis (Critically Endangered/CR), atau satu langkah menuju kepunahan di alam.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Mendukung Keseimbangan Ekosistem bisa menjadi landasannya. Apalagi, fatwa tersebut merekomendasikan ada da’i lingkungan. “Peluang ini akan kami maksimalkan. Untuk tahap awal akan kami lakukan di Lebong,” papar Iswadi.

 

 

 

Referensi:


Boomgaard, Peter, “Frontiers of Fear: Tigers and People in The Malay World, 1600-1950”, 2001.

Boomgaard, Peter, “Coexistence in Comparative Asian Perspective” dalam Tilson, Ronald and Nyhus, Philip J. (Eds.), “Tigers of the World: The Science, Politics, and Conservation of Panthera tigris”, 2010.

Nyhus, Philip J and Tilson, Ronald, “Panthera tigris vs homo sapiens: conflict, coexistence, or extinction” dalam Tilson, Ronald and Nyhus, Philip J. (Eds.), “Tigers of the World: The Science, Politics, and Conservation of Panthera tigris”, 2010.

Santiapillai, Charles and Ramono, Widodo Sukohadi, “Tiger Numbers and Habitat Evaluation in Indonesia” dalam Tilson, Ronald and Haber, Ulysses, “Tigers of the World: The Biology, Biopolitics, Management and Conservation of an Endangered Specie, 1987.

 

 

 

Walhi: Ancaman Bencana Ekologis di Jawa Timur Itu Ada

Senja di hutan yang telah mengalami deforestasi di Riau. Foto: Rhett Butler

Senja di hutan yang telah mengalami deforestasi di Riau. Foto: Rhett Butler

 

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia telah mengeluarkan Catatan Lingkungan Hidup Jawa Timur 2016. Hasilnya, dari catatan tersebut terlihat kondisi lingkungan yang ditinggali masyarakat Jawa Timur sudah mengalami kerusakan.

Walhi menyebut, selama 2016, situasi ekologis di Jawa Timur belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Hal ini didasari atas banyaknya kasus lingkungan (127 kasus) yang terjadi, terutama sosial ekologi.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) adalah satu dari sekian regulasi di tingkat pusat yang menjadi problem pada upaya penyelamatan lingkungan. “Ini dikarenakan, kebijakan ini perpanjangan dari MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia),” ujar Rere Christanto, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur, di Surabaya, Senin (09/1/17).

Regulasi ini, membuka lebar-lebar masuknya investasi untuk mengeksploitasi lingkungan hidup. Belum lagi, regulasi daerah seperti RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang berandil dalam pengambilalihan lahan masyarakat untuk kepentingan invenstasi.

“Wilayah-wilayah penting secara ekologi yang diambil itu merupakan area kelola rakyat seperti sawah, ladang, maupun daerah tangkap nelayan. Akibatnya, konflik sosial muncul antara investasi dengan masyarakat.”

 

 

Kulit dan tulang harimau sumatera yang disita dari penjual satwa di Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah

Kulit dan tulang harimau sumatera yang disita dari penjual satwa di Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah

 

 

Menurut Rere, pengambilalihan wilayah kelola masyarakat dapat dilihat dari luasan lahan usaha pertambangan migas dan mineral di Jawa Timur. Walhi Jawa Timur mencatat, ada 63 Wilayah Kerja Pertambangan dengan pembagian 31 Wilayah Kerja Pertambangan berstatus eksploitasi atau KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama), dan 32 Wilayah Kerja Pertambangan berstatus eksplorasi.

Korsup KPK (Koordinasi-Supervisi Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk Pertambangan Mineral dan Batubara mencatat, ada penurunan izin usaha pertambangan (IUP) per 29 Agustus 2016. Jumlah IUP di Jawa Timur turun bila dibanding data Kementrian ESDM di 2012. Dari 378 IUP kini menjadi 347 IUP. Namun, dari luasan lahan pertambangan justru mengalami peningkatan hingga 535 persen dalam kurun waktu 4 tahun, yaitu dari 86.904 hektare menjadi 551.649 hektar.

“Kerusakan lingkungan yang terjadi bukan melulu karena faktor alam, tapi campur tangan manusia melalui regulasi. Sektor tambang begitu mencolok.”

Walhi Jawa Timur mendesak pemerintah pusat dan daerah segera melakukan perbaikan regulasi, atau bila perlu mencabut aturan yang merugikan dan mengancam keberlangsungan lingkungan hidup. “Berbagai regulasi yang cenderung melanggengkan eksploitasi alam dan meningkatkan konflik harus dicabut.”

 

 

Semburan lumpur Lapindo, salah satu  bukti regulasi di bidang pertambangan yang tidak memperhatikan faktor lingkungan dan keselamatan masyarakat. Foto: Petrus Riski

Semburan lumpur Lapindo, salah satu bukti regulasi di bidang pertambangan yang tidak memperhatikan faktor lingkungan dan keselamatan masyarakat. Foto: Petrus Riski

 

 

Limbah B3

Selain kerusakan lingkungan, Walhi Jawa Timur juga menyoroti masalah pencemaran. Terutama, pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dan pengolahan limbah B3 yang tidak sesuai aturan. “Kasus limbah B3 di Mojokerto menjadi perhatian berbagai media di Jawa Timur. Pemerintah harus peduli. Perbaikan lingkungan harus terus dilakukan agar bencana ekologis dapat dihindari,” papar Rere.

Direktur Eksekutif Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Prigi Arisandi di tempat terpisah mengatakan, Jawa Timur merupakan provinsi yang masuk kategori darurat limbah B3. Ada beberpa wilayah yang memiliki kawasan industri terpusat, seperti Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Pasuruan, dan Surabaya.

“Di Pasuruan, kami menemukan tanah bekas galian C yang dipakai untuk tempat pembuangan limbah perorangan. Sidoarjo dan Jombang juga demikian, termasuk kasus di Lakardowo, Mojokerto.”

Persoalan limbah kata Prigi, tidak dapat dilepaskan dari kewenangan perizinan dan pengawasan yang ada pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Sedangkan pemerintah daerah cederung enggan menangani karena merasa bukan kewenangan mereka.

“Menurut kami, ada semacam penistaan hak asasi masyarakat yang tidak terlayani. Padahal, negara tahu ada pelanggaran dan ada dampak terhadap kesehatan, tapi dibiarkan. Keselamatan warga dikesampingkan karena alasan kewenangan,” tandasnya.

 

 

 

Ikan Purba Hidup yang Melebihi Era Dinosaurus Ini Ada di Indonesia

 

Ikan purba Latimeria menadoensis yang berada di Gedung Widya Satwaloka, LIPI, Cibinong, Bogor. Foto: Rahmadi Rahmad

Ikan purba Latimeria menadoensis yang berada di Gedung Widya Satwaloka, LIPI, Cibinong, Bogor. Jenis ini diperkirakan telah hidup sejak 400 juta tahun silam, melebihi era dinosaurus. Foto: Rahmadi Rahmad

 

 

Inilah wujud ikan purba Coelacanth (Latimeria menadoensis). Ditemukan di Pulau Manado Tua, Sulawesi Utara, Pada 30 Juli 1998. Tepatnya, dikedalaman 100 – 150 meter. Ukurannya, panjang 124 sentimeter dengan bobot berat 29 kilogram. Spesimen basah ikan betina tiada tara ini, terpajang rapi di Laboratorium Herpetologi, Gedung Widya Satwaloka, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong, Bogor.

Mengapa disebut ikan purba? Ini dikarenakan, ikan yang seumurannya sudah tidak ada lagi. Alias sudah menjadi fosil. Sementara Coelacanth ini masih hidup sampai sekarang. Jenis ini masih ada di perairan Sulawesi Selatan, bahkan hasil penelitian terakhir mendeteksi keberadaannya di Papua. “Masyarakat lokal, tempat ia ditemukan menyebutnya ikan raja laut,” papar Renny Kurnia Hadiaty, Ichthyology Laboratory, Divisi Zoologi, Pusat Penelitian Biologi, LIPI, kepada Mongabay Indonesia, baru-baru ini.

 

 

Kepala eusthenopteron (model) yang hidup di era Devonian. Sumber: Wikipedia

Kepala eusthenopteron (model) yang hidup di era Devonian. Sumber: Wikipedia

 

 

Diperkirakan, Coelacanth telah hidup sejak Zaman Devonian sekitar 400 juta tahun silam atau disebut juga Zaman Ikan yang mengacu pada evolusi beberapa kelompok ikan. Pada masa ini, ikan mengalami perkembangan cukup cepat. Ikan besar yang dinamakan dunkleosteus, panjang 6 meter dengan berat 1 ton, muncul pada periodesasi ini.

Begitu juga dengan jenis hiu primitif cladoselache, yang panjangnya 1,8 meter, serta jenis eusthenopteron yang hidup sekitar 385 juta tahun silam. Pada masa ini, hiu dan ikan berahang besar begitu aktif sebagai pemangsa di lautan. Nama Devonian sendiri diambil dari sebuah tempat di Inggris, Devon, daerah yang pertama kali batuannya diteliti.

 

Dunkleosteus, ikan yang hidup di Zaman Devonian. Ilustrasi: Alain Benet eau/Pinterest.com

Dunkleosteus, ikan yang hidup di Zaman Devonian. Ilustrasi: Alain Benet eau/Pinterest.com

 

 

Bila dibandingkan dengan kemunculan dinosaurus di muka bumi sekitar 230 juta tahun silam, dipastikan Coelacanth ini lebih purba lagi umurnya. Selain dijuluki fosil hidup, keajaiban ikan ini adalah sampai sekarang, ia tidak mengalami evolusi bentuk.

Coelacanth merupakan ikan dengan rongga mulut berduri. Sebelumnya, keberadaan jenis ini hanya diketahui dari fosil saja. Hingga akhirnya pada 22 Desember 1938, ia benar-benar terlihat nyata, hidup, di Muara Chalumna, Afrika Selatan. Adalah Marjorie Courtenay Latimer, kurator museum di East London, Afrika Selatan, yang menemukan dan melaporkannya kepada Profesor J.L.B. Smith, ahli ikan dari Universitas Rhodes. Jenis ini pun dinamakan Latimeria chalumnae.

Pencarian terus dilakukan oleh para peneliti. Sampai diketahui, perairan Kepulauan Komoro, di barat Madagaskar merupakan habitat jenis ini. Coelacanth juga, dalam laporan Schart et all (2005), ditemukan di lautan lepas Afrika Selatan, Mozambiq, Kenya, dan Tanzania. Kesemua jenis ini masih mengacu pada Latimeria chalumnae.

 

 

Dinosaurus merupakan hewan yang dominan pada masanya sekitar 230 juta tahun silam. Sumber: Jurassicpark.wikia.com

Dinosaurus merupakan hewan yang dominan pada masanya sekitar 230 juta tahun silam. Sumber: Jurassicpark.wikia.com

 

 

30 Juli 1998, spesiemen hidup Coelacanth tertangkap jaring nelayan di perairan Pulau Manado Tua, Sulawesi Utara, bagian gugusan pulau yang membentuk Taman Nasional Bunaken. Sebelum diketahui ia merupakan ikan purba, masyarakat setempat pernah menjualnya di Pasar Ikan Bersehati, Manado, tahun 1997.

Coelacanth yang tertangkap itu pun berhasil didokumentasikan Mark V Edmann, peneliti asal Amerika yang saat itu bersama istrinya tinggal di Manado. Edmann telah berpesan kepada nelayan setempat, memberikan jenis tersebut kepadanya bila kembali tertangkap. Lokasi terjeratnya ikan ini diperkirakan sekitar 250 – 400 meter dari bibir pantai. Selanjutnya, Edmann dan M. Kasim Moosa, dari Biologi Kelautan LIPI, menyumbangkan spesimen tersebut ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

 

 

Latimeria chalumnae yang berada di Kepulauan Komoro. Sumber: Wikipedia

Latimeria chalumnae yang berada di Kepulauan Komoro. Sumber: Wikipedia

 

 

Hal menggembirakan dari temuan Coelacanth ini adalah dikukuhkannya sebagai jenis baru yaitu Latimeria menadoensis. Tentunya, berdasarkan analisa DNA mitokondria dan isopopulasi yang sudah dilakukan para peneliti.

Kajian “Morphological Study of The Scales of Latimeria menadoensis”  yang dilakukan Renny Kurniadi Hadiaty dan Ike Rachmatika menunjukkan, ada perbedaan antara Latimeria menadoensis dengan Latimeria chalumnae. Bagian bawah tubuh L. menadoensis dan L. chalumnae pada daerah dorsal dan sisik yang membentang hingga ekor, menjelaskan hal itu.

 

 

Coelacanth, ikan purba yang telah terdeteksi di perairan timur Indonesia. Peta: Marcio Jose Bastos Silva/www.shutterstock.com

Coelacanth, ikan purba yang telah terdeteksi di perairan timur Indonesia. Peta: Marcio Jose Bastos Silva/www.shutterstock.com

 

 

Untuk warna, L. menadoensis bercirikan cokelat dengan bercak putih tidak berpola pada sisiknya. Sementara, L. chalumnae berwarna kebiruan dengan noda putih tidak beraturan pula pada sisiknya.

Perbedaan mendasar lainnya adalah, L. menadoensis memiliki jumlah jari pada sirip punggung kedua yang lebih sedikit dibanding L. chalumnae. Namun begitu, jumlah jari-jari sirip ekor tambahannya malah lebih banyak. Keseluruhan, dari 23 karakter meristik dan morfometrik yang diteliti pada dua jenis ini, sekitar 52 persennya memang tidak sama.

 

 

 

Pemusnahan Kapal Asing Pencuri Ikan Harus Terus Dilakukan, Kenapa?

Ikan laut hasil tangkapan nelayan di Pelabuhan Lampulo, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah

Ikan laut hasil tangkapan nelayan di Pelabuhan Lampulo, Ban da Aceh, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Sejumlah nelayan tradisional di Aceh menilai, maklumat perang Pemerintah Indonesia terhadap kapal asing pencuri ikan telah memberikan dampak positif bagi nelayan lokal.

“Kami nelayan tradisional di Aceh ingin penangkapan dan penenggelaman kapal asing pencuri ikan terus dilanjutkan. kami merasakan kebaikan dari program tersebut,” ujar Zulkarnaini, Nakhoda Kapal Tangkap Ikan di Pelabuhan Lampulo, Kota Banda Aceh, akhir pekan ini.

Zulkarnaini menuturkan, sejak kapal asing ditangkap, nelayan lokal jarang melihat kapal asing lalu lalang di perairan Aceh, baik itu di Selat Malaka, maupun Samudera Hindia. “Hasil tangkapan kami selama berlayar seminggu di laut bertambah. Ikan juga lebih mudah didapat,” ujar Zulkarnaini yang telah 32 tahun menjadi nelayan.

 

 

Kesibukan nelayan dan masyarakat yang terlihat di Lampulo, Banda Aceh, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah

Kesibukan nelayan dan masyarakat yang terlihat di Lampulo, Banda Aceh, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah

 

 

Nelayan Aceh lainnya, Samsuar menyatakan hal yang sama. Dia berharap, pemerintah terus melakukan  pemusnahan kapal asing pencuri ikan di perairan Indonesia. Umumnya kapal tersebut menggunakan alat tangkap yang bertentangan dengan hukum Indonesia. Sementara, nelayan lokal menaati aturan pemerintah dan anjuran pimpinan lembaga adat laut Aceh atau Panglima Laot.

“Kapal asing menggunakan pukat harimau, bukan hanya ikan besar yang ditangkap tapi juga kan kecil. Pukat harimau juga merusak terumbu karang. Sementara kami, hanya menangkap ikan yang naik ke permukaan. Panglima Laot melarang kami merusak karang dan membunuh bibit ikan.”

Samsuar menambahkan, nelayan lokal tidak menjual ikan kepada kapal asing di tengah laut. Semua hasil tangkapan dibawa pulang ke pelabuhan. “Biasanya, kami membawa ikan ke Pelabuhan Lampulo, Banda Aceh. Bila ada hal mendesak, kami berlabuh dan menurunkan ikan di pelabuhan lain, tapi masih di Aceh.”

Untuk menjaga ikan tetap segar, saat ini beberapa kapal yang berasal dari Pelabuhan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, telah membongkar ikan di laut. Tapi, ikan-ikan tersebut tetap dibawa pulang ke pelabuhan Idi Rayeuk. Ini dikarenakan, sebagian besar kapal penangkap ikan masih mengandalkan es, belum memiliki pendingin khusus.

“Untuk menghemat es, ada kapal kecil yang menjemput ikan dan menjualnya ke pelabuhan-pelabuhan. Seminggu sekali nelayan pun harus kembali ke pelabuhan karena ada aturan di Aceh, Kamis malam hingga Jumat siang, tidak boleh melaut,” tambah Zulkarnaini.

 

 

Nelayan tradisional di Aceh yang menggantungkan hidupnya mencari ikan di laut. Foto: Junaidi Hanafiah

Nelayan tradisional di Aceh yang menggantungkan hidupnya mencari ikan di laut. Foto: Junaidi Hanafiah

 

 

Terus lakukan

Beberapa waktu lalu, Pimpinan Adat Laut Aceh atau Panglima Laot Aceh, T. Bustaman menyatakan, penangkapan dan pemusnahan kapal asing yang mencuri ikan di perairan Indonesia merupakan program sangat bagus yang harus terus dilakukan.

“Kapal nelayan Indonesia yang ditangkap karena masuk negara lain juga dimusnahkan. Bahkan, kapal nelayan Indonesia yang terdampar karena cuaca maupun mesin rusak, juga dimusnahkan.”

T. Bustaman mengatakan, pencurian ikan oleh kapal asing telah berlangsung lama. Nelayan di Aceh cukup marah dengan kegiatan merugikan itu. Kami mendukung penangkapan dan pemusnahan kapal asing pencuri ikan. “Kapal-kapal asing yang ditangkap di Aceh, kebanyakan laporan nelayan yang tengah melaut. Mereka mampu membedakan kapal lokal dan asing.”

 

 

Nelayan tradisional di Aceh menggunakan peralatan sederhana seperti jaring dan kail guna mencari ikan. Mereka menaati aturan yang ada serta mengikuti larangan yang dikeluarkan Panglima Laot. Foto: Junaidi Hanafiah

Nelayan tradisional di Aceh menggunakan peralatan sederhana seperti jaring dan kail guna mencari ikan. Mereka menaati aturan yang ada serta mengikuti larangan yang dikeluarkan Panglima Laot. Foto: Junaidi Hanafiah

 

 

Abdul Halim, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan, sebelumnya kepada Mongabay mengatakan, sepanjang Oktober 2014 hingga Desember 2016, kinerja yang dijalankan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terlihat fokus pada hal memerangi praktik pencurian ikan. “Memerangi pencurian ikan di perairan Indonesia,  terlihat ada keseriusan.”

Halim mencatat, sepanjang waktu tersebut, sedikitnya 236 kapal ikan asal Malaysia, Papua Nugini, Tiongkok, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Indonesia telah ditenggelamkan. Namun,  upaya pemerintah untuk menegakkan belum dijalankan melalui peran pengadilan perikanan  guna meningkatkan  kas  negara  sebagai  penerimaan bukan  pajak. “Ini tertuang dalam Pasal  76a – 76c  Undang-Undang  Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan.”

Selain UU tersebut, menurut Halim, faktor membaiknya kinerja pemerintah, tidak bisa dilepaskan dari pengesahan Undang-Undang No.7 Tahun 2016 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam.

Pengesahan regulasi tersebut menjadi momentum gerakan nasional untuk memuliakan 3 juta nelayan, 3 juta petambak garam, serta 3,5 juta pembudidaya ikan. Termasuk, perempuan di dalam rumah tangga ketiga aktor penting tersebut.

Akan tetapi, pengesahan undang-undang tersebut akan tidak memberi manfaat bila kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil mengedepankan investasi asing ketimbang investasi gotong-royong yang dipraktikkan masyarakat pesisir.

“Pasalnya, Peraturan Daerah mengenai Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang telah disahkan atau tengah dibahas di tingkat provinsi tidak menjadi prioritas  hajat hidup masyarakat pesisir,” papar Halim.

 

 

 

Foto: Suku Asli Amazon yang Terisolir dari Dunia Moderen

Anggota suku asli di Amazon yang terlihat mengusung busur panah, mengarahkan ke helikopter yang memotretnya. Foto: Ricardo Stuckert

Anggota suku asli Amazon yang terlihat mengusung busur panah, mengarahkan ke helikopter yang memotretnya. Foto: Ricardo Stuckert

 

Tahun 2008, foto-foto suku asli yang diyakini belum pernah ditemukan sebelumnya di kawasan terpencil di hutan hujan Amazon menjadi bukti, di dunia yang moderen dan terkoneksi ini, masih tersisa komunitas-komunitas yang hidup dalam isolasi sempurna dari apa yang kita sebut ‘peradaban’. Kini, foto-foto terbaru yang oleh para ahli dipercaya sebagai kelompok masyarakat yang sama, dengan yang ditemukan pada 2008, semakin memberikan gambaran jelas tentang budaya dan cara hidup mereka.

Fotografer dari Brazil, Ricardo Stuckert mengambal foto-foto komunitas tersebut dari helikopter saat melakukan riset di negara bagian Acre, wilayah barat Brazil, dekat perbatasan Peru. Foto-foto ini mengungkap body paint yang rumit, gaya rambut, dan persenjataan mereka.

 

 

Terlihat beberapa anggota suku asli di Amazon ini mengusungkan panah ke arah helikopter yang mengabadikan gambar mereka. Foto: Ricardo Stuckert

Terlihat beberapa anggota suku asli Amazon ini mengusungkan panah ke arah helikopter yang mengabadikan gambar mereka. Foto: Ricardo Stuckert

 

 

José Carlos Meirelles, yang juga ikut dalam riset, mengatakan bahwa kemungkinan besar mereka adalah suku yang sama seperti yang ditemui pada 2008. Suku ini semi-nomadik, berpindah-pindah setiap empat tahun sekali.

 

Baca: Suku Terasing di Amazon yang Menghadapi Ancaman Hidup

 

Foto-foto tersebut, sebagaimana dilansir dari IFL Science, memperlihatkan rumah beratapkan jerami yang disebut sebagai maloca, juga persenjataan tradisional mereka. Terlihat satu anggota suku mengancam para kru helikopter dengan panah.

 

 

Inilah suku asli di Amazon yang hidup di wilayah hutan dan belum tersentuh dunia moderen. Foto: Ricardo Stuckert

Inilah suku asli Amazon yang hidup di wilayah hutan dan belum tersentuh dunia moderen. Foto: Ricardo Stuckert

 

 

Menurut Stuckert, anggota-anggota suku itu terlihat ingin tahu, dan tidak takut. Ada rasa keingintahuan yang sama antara fotografer dengan objek yang difoto.

Meski anggota suku yang diprediksi mempunyai 300 anggota ini terlihat sehat, para antropolog prihatin akan banyaknya penambang ilegal dan perambah hutan yang dalam waktu dekat bisa masuk ke wilayah mereka.

 

 

Hutan tempat suku ali Amazon ini hidup perlahan mulai didekati penambangan. Foto: Ricardo Stuckert

Hutan tempat suku ali Amazon ini hidup perlahan mulai didekati penambangan. Foto: Ricardo Stuckert

 

 

Sebelumnya, kontak orang luar, dalam hal ini bangsa barat, dan suku asli telah menimbulkan petaka besar bagi suku asli Amazon. Terjangkitnya wabah penyakit yang meyerang anggota suku yang tak punya kekebalan tubuh, juga kadang kekerasan fisik, telah menghilangkan suku-suku asli di masa lalu. Sejarah yang bisa saja terulang.

 

 

Suku asli ini memang hidup di wilayah yang dilindungi akan tetapi tanpa perlindungan yang ketat dikhawatirkan kehidupan mereka akan terancam dari dunia luar mereka. Foto: Ricardo Stuckert

Suku asli ini memang hidup di wilayah yang dilindungi akan tetapi tanpa perlindungan yang ketat dikhawatirkan kehidupan mereka akan terancam dari dunia luar mereka. Foto: Ricardo Stuckert

 

 

Suku yang difoto ini memang tinggal di kawasan terlindungi, dan siapa saja yang nekad masuk bisa dihukum berat. Namun, kawasan ini begitu dekat dengan Peru yang tidak seketat Brazil, mengawasai kawasan ini. Jarak antara tempat tingal suku ini dengan para penerobos hutan makin dekat, pertanda bahwa bahaya kepunahan itu semakin nyata.

 

 

 

Menyedihkan, 4 Bayi Lutung Jawa Ini Hendak Dijual Pedagang Online di Malang

Bayi lutung jawa yang diamankan dari pedagang satwa online di Malang. Foto: COP

Bayi lutung jawa yang diamankan dari pedagang satwa online di Malang. Foto: COP

 

Jawa Timur masih menjadi tempat yang aman bagi pelaku perdagangan satwa liar dilindungi. Terbukti, dengan diamankannya empat bayi lutung jawa (Tranchypithecus auratus) dari seorang pedagang online yang saat ini ditahan di Kepolisian Sektor Lawang, Malang.

Berawal dari pemantauan Center for Orangutan Protection (COP), Animals Indonesia, yang bekerja sama dengan Gakkum Seksi II Jawa Timur Kementerian LHK, pelaku yang akan menjual bayi lutung itu ditangkap di depan Stasiun Kereta Api Lawang, Kabupaten Malang, Jum’at (6/1/2017).

“Saat ini pelaku sedang di BAP (Berita Acara Penyelidikan) di Polsek Lawang,” kata Ramadhani, Direktur Operasional Centre for Orangutan Protection kepada Mongabay.

Dari 4 individu lutung jawa itu, 3 berjenis kelamin betina dan 1 jantan. 2 individu berusia sekitar sebulan dan 2 lainnya lagi sekitar 3 bulan. Barang bukti telah dibawa ke Javan Langur Center, di Batu. “Sudah diperiksa kesehatannya dan semua dalam kondisi baik,” ujar Ramadhani yang menduga satwa itu merupakan tangkapan baru.

 

 

Jawa Timur masih merupakan wilayah yang aman bagi pedagang satwa liar dilindungi. Foto: COP

Jawa Timur masih merupakan wilayah yang aman bagi pedagang satwa liar dilindungi. Foto: COP

 

 

Menurut Ramadhani, pelaku memanfaatkan Facebook dengan akun Setan Merah, karena merasa aman dan sulit dilacak, dibandingkan berjualan langsung di pasar satwa. Selain itu, pelaku perdagangan biasanya tidak dapat dilepaskan dari komunitas pencinta satwa yang sekarang banyak bermunculan. “Facebook harusnya segera menutup grup-grup yang menjadi pasar perdagangan satwa liar.”

Pemerintah juga didesak untuk segera merevisi Undang-undang No. 5 Tahun 1990, yang saat ini tidak memberi efek jera bagi pelaku perburuan dan perdagangan satwa liar. “Kami berharap, undang-undang segera direvisi, salah satunya dengan memberikan hukuman minimal bagi pelaku perdagangan satwa liar,” tandasnya.

 

 

Bayi lutung jawa yang hendak dijual ini diduga merupakan tangkapan baru di hutan. Foto: COP

Bayi lutung jawa yang hendak dijual ini diduga merupakan tangkapan baru di hutan. Foto: COP

 

 

Kasus

Selama 2016, COP bersama Animals Indonesia serta aparat penegak hukum terkait, telah menangkap 9 pelaku perdagangan satwa liar, yang semuanya telah menjalani persidangan di pengadilan. Hukuman yang berat diyakini dapat memberikan efek jera serta membuat pelaku berpikir ulang sebelum melakukan aksinya.

COP dan Animals Indonesia juga telah menangani banyak kasus perdagangan satwa khususnya primata, terutama di Malang dan daerah-daerah lain di Jawa Timur. Sampai akhir 2016, terdeteksi ada 56 orang dalam satu kelompok yang melakukan jual beli satwa liar. Komunitas ini saling menawarkan satwa yang dibutuhkan atau dicari pembeli, melalui pertemuan tertutup dalam kelompok itu. Dari grup yang diikuti, para anggota saling memamerkan satwa yang dimiliki, bahkan membuat semacam kontes satwa.

“Yang susah kalau ketemunya kelompok kecil-kecil, kadang kita susah melacaknya. Sebelumnya, mereka gathering dalam jumlah besar,” kata Suwarno, Direktur Animals Indonesia.

 

 

Dalam kardus, 4 bayi lutung jawa ini hendak dijual ke pembeli secara online. Foto: COP

Dalam kardus, 4 bayi lutung jawa ini hendak dijual ke pembeli secara online. Foto: COP

 

 

Banyaknya pelaku perdagangan satwa berkedok pencinta satwa dipengaruhi tingginya permintaan, khususnya primata di Jawa Timur. Untuk mencapai target tersebut, pedagang bekerja sama dengan pemburu yang banyak beroperasi di kawasan konservasi dan hutan lindung di Probolinggo, Jember, dan Banyuwangi. “Jawa Timur masih menjadi kantong perburuan dan perdagangan satwa liar. Sebab, Jawa Timur masih banyak hutan dan kawasan konservasi.”

Pengawasan kawasan yang lemah, salah satu penyebab banyaknya pemburu berkeliaran. Hal ini tidak lepas dari minimnya personil polisi hutan yang bertugas. “Kesadaran masyarakat juga masih rendah. Kalau masyarakat teredukasi dengan baik, perburuan tidak akan marak karena mereka ikut serta menjaga alam beserta isinya,” ujar Suwarno.

Animals Indonesia juga mendorong polisi untuk meningkatkan pengawasan, pada jalur-jalur yang dipakai untuk mendistribusikan satwa liar dilindungi. “Pengawasan harus diperketat, karena intensitas perdagangan satwa di Jawa Timur ini cukup tinggi,” pungkasnya.

 

 

 

Hutan Wakaf, Gebrakan Generasi Muda untuk Hijaukan Lingkungan

Gajah sumatera yang dahulunya sangat dihormati semasa Sulatn Iskandar Muda. Foto: Junaidi Hanafiah

Gajah sumatera yang dahulunya sangat dihormati di Aceh semasa pemerintahan Sulatan Iskandar Muda. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Prihatin akan kondisi hutan yang terus tergerus, generasi muda di Aceh yang menamakan diri mereka Komunitas Hutan Wakaf melakukan kegiatan yang tidak biasa. Mereka menggalang donasi sukarela dari masyarakat setempat yang hasil dari sumbangan tersebut dibelikan lahan kritis. Tujuannya, dihijaukan kembali menjadi hutan.

Adalah Afrizal Akmal, Azhar, Yoesman Nurzaman Tanjung, dan Alit Ferdian yang melakukan gebrakan tersebut. Aksi spontan tiga tahun silam, yang lahir dari kegelisahan mereka bersama ini, bertujuan untuk menyelamatkan lingkungan dari hal yang bisa mereka lakukan. Rusaknya hutan di Aceh akibat alih fungsi lahan dan perambahan, ditambah terbengkalainya lahan kritis milik masyarakat membuat mereka yakin untuk bergerak.

“Kami menamainya Hutan Wakaf. Setelah lahan kritis itu kembali hijau dan memiliki nilai ekologis, pastinya akan diwakafkan untuk masyarakat desa. Syaratnya adalah, hutan tersebut harus tetap dijaga dan tidak boleh dirusak,” ungkap Afrizal Akmal, di Banda Aceh, Rabu (04/1/16).

 

 

Gajah sumatera yang hidup di Kawasan Ekosistem Leuser beserta spesies kunci lainnya yaitu orangutan, badak, dan harimau. Foto: Junaidi Hanafiah

Gajah sumatera yang hidup di Kawasan Ekosistem Leuser beserta spesies kunci lainnya yaitu orangutan, badak, dan harimau. Foto: Junaidi Hanafiah

 

 

Afrizal mengatakan, kegiatan Hutan Wakaf ini lebih fokus pada pembelian lahan kritis milik masyarakat yang tujuannya dijadikan hutan. Lahan tersebut akan ditanami aneka pohon bernilai ekonomi, sehingga hasilnya bisa dimanfaatkan masyarakat. “Jika lahan kritis hanya dibiarkan, keadaan itu tidak bermanfaat secara ekologi, hidrologi maupun ekonomi.”

Kenapa menamakan Hutan Wakaf? Menurut Afrizal, pengelolaan tersebut berdasarkan prinsip kelestarian. Melalui wakaf, setiap benda bernilai akan tetap utuh dan terhindar dari degradasi.

“Dengan instrumen wakaf, kita bisa membangun hutan yang lestari. Urgensi wakaf berupa hutan berdasarkan pertimbangan ancaman krisis lingkungan yang terus meningkat. Terutama, deforestasi yang tak terkendali.”

 

 

Kangkareng perut-putih saat bertengger di pohon penuh buah. Foto: Asep Ayat

Kangkareng perut-putih saat bertengger di pohon penuh buah. Foto: Asep Ayat

 

 

Azhar, yang juga inisiator Hutan Wakaf mengatakan, dari penggalangan dana telah terkumpul sebanyak Rp15 juta. Uang tersebut telah dibelikan satu hektare lahan kritis di Desa Data Cut, Kecamatan Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.

Lahan itu akan dijadikan percontohan awal. Dalam waktu dekat, akan dipagar dan selanjutnya ditanami pepohonan yang buahnya bermanfaat untuk masyarakat, burung dan satwa lainnya. “Ketika telah menjadi hutan, diharapkan akan  menghasilkan iklim mikro dan menjadi daerah tangkapan air (catchment area) yang mata airnya bisa dimanfaatkan masyarakat setempat.”

 

 

Hutan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup harus kita jaga kelestariannya. Foto: Azhar

Hutan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup harus kita jaga kelestariannya. Foto: Azhar

 

 

Hutan Wakaf ini kedepannya diharapkan memberikan manfaat hidrologis (pengatur tata air), penyerap karbon, penjaga kestabilan iklim, dan penyedia pakan bagi burung maupun primata. Selain itu juga bermanfaat secara ekonomi, sebagai penyedia madu lebah, tanaman obat, serta sebagai sumber mata air, baik untuk ketersediaan air minum maupun mengairi lahan pertanian.

Azhar menambahkan, jenis pohon seperti ficus, sangat bermanfaat bagi satwa karena buahnya dapat dimakan satwa sekaligus tempat bersarang. Hal penting lainnya, terutama burung, dapat menyebarkan biji tersebut ke berbagai tempat, utamanya di seputaran Hutan Wakaf. “Dengan cara seperti itu, kita tunjukkan ke masyarakat luas, menyelamatkan ekosistem tidaklah sulit. Tidak butuh banyak biaya, karena tidak membutuhkan proposal proyek konservasi hutan,” tegas Azhar.

 

 

Hutan Wakaf, merupakan gebrakan yang dilakukan generasi muda di Aceh untuk menghijaukan lingkungan. Foto: Azhar

Hutan Wakaf adalah gebrakan yang dilakukan generasi muda di Aceh untuk menghijaukan lingkungan. Foto: Azhar