All posts by Junaidi Hanafiah, Aceh

Hukum Harus Tegas agar Kawasan Ekosistem Leuser Tidak Bertambah Rusak

Jalan yang dibangun oleh penebang kayu di hutan lindung Jantho, Kabupaten Aceh Besar untuk memudahkan para logger mengeluarkan kayu yang ditebang secara illegal. Foto: Junaidi Hanafiah

Jalan yang dibuat oleh para pembalak liar di hutan lindung Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Tujuannya, mempermudah kayu tersebut diangkut ke luar. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Aktivitas pembalakan liar yang terjadi di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) memprihatinkan. KEL yang luasnya mencapai 1.820.726 hektare ini berada di 12 kabupaten/kota di Aceh yaitu, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Gayo Leus, Nagan Raya, dan Kota Subulussalam.

Forum Konservasi Leuser (FKL) mencatat, berdasarkan pantauan yang dilakukan sejak Januari – Juni 2016, ada 984 kasus pembalakan liar yang terjadi. Jumlah kayunya mencapai 3.641,21 meter kubik. “Kasus terbanyak terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang (279) dengan jumlah kayu mencapai 1.782,8 meter kubik,” ujar Rudi Putra, Manager Konservasi FKL, Rabu (28/09/2016).

Pantaun FKL, untuk perambahan hutan menjadi lahan perkebunan di KEL, mencapai 1.006 kasus dengan luas 6.205,9 hektare. Perambahan ini juga, paling banyak terjadi di Aceh Tamiang sebanyak 217 kasus dengan luasan hutan yang dirambah 1.556,8 hektare.

Untuk akses jalan ilegal di KEL, terbanyak ditemukan di Aceh Tenggara (27 ruas), Nagan Raya (23 ruas), dan Aceh Timur (3 ruas). Perburuan satwa ilegal juga tercatat 279 kasus dengan 250 perangkap dan 46 pelaku.

Rudi menjelaskan, temuan tersebut telah dilaporkan ke pemerintah di Aceh, termasuk kepolisian dan lembaga lain yang bekerja untuk pelestarian hutan Aceh. “Kami juga telah membentuk 15 tim patroli dan dua komunitas patroli, serta merestorasi 1.500 hektare kawasan hutan yang rusak akibat kegiatan ilegal tersebut.”

 

Luasan hutan yang berkurang di KEL beserta sebaran titik api yang terpantau. Sumber: HAkA

Luasan hutan yang berkurang di KEL beserta sebaran titik api yang terpantau. Sumber: HAkA

 

Geographic Information System (GIS) Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), Agung Dwi Nurcahya menyebutkan, terhitung Januari – Juni 2016, areal KEL yang rusak tidak main-main. Menurutnya, Januari 2016, luas hutan KEL tersisa 1.820.726 hektare. Namun, pada Juni, menjadi 1.816.629 hektare. “Dalam enam bulan, 4.097 hektare hilang, berdasarkan pantauan citra satelit.”

Hutan KEL yang paling banyak hilang berada di Kabupaten Aceh Timur. Dari luasan 236.874 hektare menjadi 235.004 hektare. Lalu Kabupaten Gayo Lues, dari 402.684 hektare menjadi 402.279 hektare, atau berkurang 405 hektare. Sementara di Aceh Selatan berkurang hingga 378 hektare.

Agung mengatakan, HAkA juga menemukan 187 titik api yang muncul di sejumlah tempat di Aceh termasuk di kawasan KEL, Januari hingga Juni. “Jumlah paling banyak di Aceh Timur (56 titik), Gayo Lues (31 titik), serta Aceh Selatan (30 titik). Sementara di tujuh kabupaten lain, jumlah titik api ditemukan hingga 21 titik.”

 

Peta KEL dan luasan yang berkurang. SUmber: FKL

Periode Januari – Juni 2016, hutan di KEL berkurang 4.097 hektare. Sumber: HAkA

 

Penegakan hukum

Efendi Isma, Juru Bicara Koalisi Peduli Hutan Aceh (KPHA) mengatakan, tingginya pembalakan liar di KEL karena lemahnya penegakan hukum aparat, termasuk lembaga yang diberikan tanggung jawab mengurus hutan di Aceh. “Kalau hukum ditegakkan sebenar-benarnya, semua pelaku ditangkap dan diproses hukum, tidak akan ada pelaku yang berani lagi.”

Efendi mengatakan, selama ini pelaku yang ditangkap hanya orang lapangan. Pemilik atau pemodal jarang tersentuh. Yang lebih parah, KPHA menemukan sejumlah kasus yang juga melibatkan aparat keamanan, sehingga tidak ada yang berani mengambil tindakkan. “Ini juga memotivasi masyarakat untuk ikut merambah.”

Khusus perambahan hutan lindung untuk dijadikan perkebunan, termasuk perkebunan kelapa sawit, dari pemantauan lapangan KPHA, ada yang melibatkan pejabat daerah. “Kami pernah menemukan, misalnya di Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Bener Meriah. Kegiatan itu dilakukan pejabat pemerintah setempat, hingga saat ini, tidak ada tindakan dan kebunnya tetap dibuka,” tutur Efendi.

 

 

Obama dan Masa Depan Badak Putih Afrika

Obama adalah nama seekor badak putih (Ceratotherium simum). Ia sedang mencari jati diri, dan seringkali terlihat gusar tanpa sebab.

“Obama adalah seekor badak yang tampan, sehat, dan bertingkah laku layaknya badak yang menjelang dewasa. Dia baru saja menemukan batas wilayah kekuasannya” kata Angie Genade, penjaganya, sebagaimana dikutip dari Coastweek.com.

 

Badak putih bernama "Nguzo" yang berada di Rhino Fund, Uganda. Sumber: Mashada.com

Badak putih bernama “Nguzo” yang diberikan oleh Rhino Fund di Uganda. Sumber: Mashada.com

 

Obama merupakan badak putih pertama yang lahir di Uganda pada 2009, setelah 30 tahun negara tersebut berharap cemas akan kepunahan badak. Nama Obama memang sebagaimana Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, karena sang badak juga memiliki ayah dari Kenya, seperti sang presiden.

Ayah sang badak dibawa dari Solio Ranch, Kenya, pada 2005, sedangkan ibunya adalah hasil donas dari Disney Animal Kingdom di Amerika. Obama merupakan badak pertama yang lahir di Ziwa Rhino Sanctuary, Nakasongola, Uganda bagian tengah, sekitar 170 km dari ibu kota Kampala.

Tempat perlindungan ini mulai dibangun oleh Rhino Fund yang tujuannya mengembalikan populasi badak di Uganda karena badak-badak tersebut punah akibat perang saudara berkepanjangan.

Pada 1978, ada lebih dari 200 badak di Uganda, tapi pada 1982 tak ada badak lagi di negara tersebut. Program konservasi ini dimulai dengan 6 badak, 3 jantan dan 3 betina. Dan Obama adalah yang pertama lahir.

Kini, sudah ada 15 badak, dan diharapkan akan lahir lagi 2 bayi badak di Januari 2017.

“Yang menarik, dua yang akan lahir ini, mereka adalah badak uganda, karena orang tuanya lahir di Uganda” kata Genade.

Tempat perlindungan ini kini menjadi tujuan wisata populer, dan setiap tahun tak kurang dari 13 ribu wisawatan datang ke tempat tersebut.

Genade ingin menunjukkan bahwa proyek konservasi ini bisa berhasil, dan terbukti populasi badak naik, asalkan ada usaha-usaha yang serius. Lebih dari 80 petugas ranger berpatroli menjaga pagar tempat tersebut, menjaga pintu gerbang, dan memonitor badak 24 jam penuh.

Manajemen suaka badak  ini juga menjalin hubungan baik dengan penduduk sekitar, yang diperbolehkan mencari rumput di dalamnya. Cula badak juga diberi microchip, sehingga jika seorang pemburu tertangkap membawa cula, asal muasalnya bisa dilacak.

 

Badak putih yang berada di Ziwa Rhino Sanctuary, Uganda. Sumber: Mashada.com

Badak putih yang berada di Ziwa Rhino Sanctuary, Uganda. Sumber: Mashada.com

 

Genade juga menyatakan bahwa sebesar apapun upaya konservasi badak di Afrika, negara-negara yang menjadi pasar cula badak sebaiknya juga dilibatkan. Dia juga menyatakan bahwa perlindungan badak dan satwa-satwa terancam punah lain perlu dimasukkan dalam kurikulum penddikan.

Selain itu, aparat pemerintah, perusahaan-perusaan besar, juga publik figur, orang-orang yang dihormati dan dipatuhi bisa memainkan peran yang besar untuk mendesak siapapun agar tidak membeli cula badak.

Sebagai informasi, di dunia ini hanya tersisa lima jenis badak. Dua jenis di Afrika, badak hitam (Diceros bicornis) dan badak putih (Ceratotherium simum), serta tiga jenis di Asia: badak jawa (Rhinoceros sondaicus), badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), dan badak india (Rhinoceros unicornis).

 

 

Mongabay Travel: Melihat Bekantan di Hutan Mangrove Tengah Kota

Bekantan yang juga disebut monyet belanda ini bisa dilihat di hutan kota mangrove  Balikpapan. Foto: Christopel Paino

Bekantan yang juga disebut monyet belanda ini bisa dilihat di hutan mangrove Kota Balikpapan. Foto: Christopel Paino

 

Sore di penghujung Agustus 2016, matahari tak begitu tampak. Mendung menyelimuti Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Jufiansyah, 51 tahun, tukang ojek yang saya tumpangi menghentikan motornya tepat di depan SMA Negeri 8 Balikpapan. Dua lembar uang sejumlah Rp15.000 saya berikan kepadanya.

“Di belakang sekolah ini hutan mangrove-nya,” kata pria yang berasal dari Suku Banjar itu.

“Kalau ingin lihat bekantan sore begini bagus. Kalau tidak, besok pagi sekali sekitar jam 6.00 Wita adalah waktu yang tepat.”

Jufiansyah lalu menjadi guide dadakan. Ia menawarkan jasanya mengantarkan saya ke hutan mangrove. Sekilas dari luar, tak ada tanda-tanda bahwa hutan mangrove dan monyet belanda tersebut hidup damai di sini. Di wilayah permukiman padat dan berisik, lalu lintas yang ramai, serta suara dari pengeras suara yang terus menggema. Letaknya di Kelurahan Margomulyo, Kecamatan Balikpapan Barat.

“Lewat lorong ini, Mas,” seru Jufiansyah.

Tepat di samping SMA 8 Balikpapan itu adalah pintu masuk menuju hutan mangrove. Beberapa langkah kemudian, saya disambut jembatan yang terbuat dari kayu ulin; sebelah kirinya tutupan mangrove mulai tampak dan sebelah kanan terdapat dua bangunan rumah panggung. Penghuninya menjemur pakaian di jembatan. Kenderaan roda dua juga terlihat melintas di tempat ini.

Dari rumah panggung itu, seorang perempuan muda keluar. Jufiansyah meminta saya menemuinya, dan membayar retribusi masuk dalam kawasan.

“Tak ada harga retribusi, Mas. Cukup bayar seikhlasnya,” kata Dwi, perempuan muda itu.

 

Jembata kayu ulin yang menjadi penghubung daerah wisata hutan mangrove Margomulyo. Foto: Christopel Paino

Jembata kayu ulin yang menjadi penghubung daerah wisata hutan mangrove Margomulyo. Foto: Christopel Paino

 

Saya memberikan uang seharga Rp10.000. Jufiansyah lalu pamit pulang karena merasa sudah menyelesaikan tugasnya mengantarkan saya ke hutan mangrove. Untuk masuk ke dalam kawasan memang belum ditetapkan oleh pemerintah setempat besaran biayanya. Sehingga, warga sekitar hanya mengharapkan pemberian uang dari pengunjung sesuai keikhlasan.

“Mas, kalau mau lihat bekantan nanti ketemu simpang tiga, belok kiri. Biasanya bekantan bermain di situ,” ujar Dwi lagi.

Saya melangkahkan kaki mengikuti jembatan dari kayu ulin itu. Setelah melewati pintu gapura bertuliskan “selamat datang”, sebuah pos informasi menyatakan bahwa luasan hutan mangrove ini adalah 21 hektare, dengan jarak tanam 1 X 1 meter. Jenis-jenis yang ditanam yaitu Rhizopora apiculata, Rhizopora mucronata, Sonneratia casiolaris, Sonneratia alba, Avicenia alba, Avicenia lanata, Ceriops taga, Ceriops decandra, Brugilera gymnorrhiza, Lumnitzera littorea, Xylocarpus granatum, Nypafruticans, Acrostichum, dan Scyphiphora.

Di beberapa titik, tutupan pohon mangrove sangat bagus dan memberikan kesejukan. Namun di bagian lain, ada pohon yang tampak rusak dan papan-papan dari berbagai lembaga maupun organisasi tertentu, tertancap yang meninggalkan jejak tulisan pernah melakukan kegiatan di sini.

Semakin ke dalam, belum satupun kawanan bekantan muncul. Yang terlihat hanyalah beberapa burung yang berkicau, bermain dan mencari makan di aliran sungai kecil. Salah satunya Collared kingfisher. Burung ini sayapnya dominan berwarna biru, leher hingga dadanya putih, dan paruh hingga kepalanya hitam.

Di kawasan hutan mangrove ini, banyak wisatawan yang datang. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Beberapa rombongan menghabiskan waktu hanya untuk mencari kesejukan sembari melihat langsung kawanan bekantan.

Menjelang maghrib, ketika matahari perlahan bergerak ke peraduannya, dan kawasan hutan mulai sepi, pada pucuk mangrove terlihat seperti bergoyang diguncang angin. Satu persatu, kawanan bekantan muncul. Ciri khasnya, hidung yang panjang. Mereka melompat dari satu dahan ke dahan lain. Bahkan, salah satu induk melompat dengan sang bayi yang menempel di dada. Sementara sang jantan, memperhatikan suasana sekitar. Kawanan bekantan itu turun ke bawah hingga ke jembatan yang terbuat dari kayu ulin itu. Mereka mencari makanan buah mangrove yang posisinya lebih rendah.

 

Burung, hidupan liar yang akan terlihat di hutan kota mangrove ini. Foto: Christopel Paino

Burung, hidupan liar yang akan terlihat di hutan kota mangrove ini. Foto: Christopel Paino

 

Nasalis larvatus merupakan satu dari banyak jenis primata yang sangat tergantung pada hutan pesisir dan sungai-sungai besar yang semakin menghilang. Populasinya di hutan mangrove yang berada di pusat kota ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat sekitar sebagai destinasi ekowisata.

Sayangnya, regulasi yang mengaturnya belum digarap serius. Salah satunya adalah dengan tidak ditetapkannya retribusi masuk kawasan. Sementara pengunjung yang datang dengan bebasnya, beberapa di antaranya terlihat meninggalkan jejak sampah. Hal yang sangat disayangkan dan merugikan hutan mangrove yang masih terjaga di pusat Kota Balikpapan, sekaligus rumah bagi bekantan.

Menurut catatan Forum Peduli Teluk Balikpapan, habitat utama bekantan di kota beruang madu ini ada di Teluk Balikpapan. Wilayah ini menyokong habitat populasi bekantan yang mencapai 1.400 individu, yang mewakili lima persen dari estimasi total keseluruhan jumlah bekantan yang ada. Meski secara keseluruhan populasi bekantan di perkirakan mencapai 20 – 25 ribu individu, namun beberapa populasi penting lainnya masih belum diketahui atau masih belum diperhatikan.

Bekantan merupakan satwa yang dilindungi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Juga, masuk dalam daftar CITES Apendix I atau tidak boleh diperdagangkan. International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan statusnya Genting (Endangered/EN).

 

 

 

 

Nasib Badak India juga Terancam Sebagaimana Badak di Indonesia. Apa Penyebabnya?

Badak merupakan satwa yang sudah menempati bumi sejak 60 juta tahun lalu. Diperkirakan, diawal kehidupannya, ada sekitar 30 jenis yang hidup. Namun, seiring perjalanan waktu dan evolusi kepunahan, kini yang tersisa di dunia ini hanyalah 5 jenis.

Jenis tersebut hanya ada di Benua Afrika (2 jenis) dan Asia (3 jenis). Badak jawa (Rhinoceros sondaicus), badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), dan badak india (Rhinoceros unicornis) yang mewakili Asia. Sementara badak hitam (Diceros bicornis) dan badak putih (Ceratotherium simum) adalah spesies yang masih bertahan di Afrika.

 

Badak india yang diburu untuk diambil culanya. Di India, badak tersebar di Assam, West Bengal, dan Uttar Pradesh. Foto: Shreya Dasgupta

Badak india yang diburu untuk diambil culanya. Di India, badak tersebar di Assam, West Bengal, dan Uttar Pradesh. Foto: Shreya Dasgupta

 

Seperti yang kita ketahui, kondisi badak sumatera dan badak jawa yang hidup di Indonesia mengalami keterancaman. Meski hidupnya dilindungi, namun ancaman kepunahan menghantui kehidupan satwa bercula tersebut. Dua jenis ini, berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species Category, statusnya adalah Kritis (Critically Endangered/CR) atau satu langkah menuju kepunahan di alam. Secara umum, penyempitan habitat dan perburuan merupakan musuh utama kehidupan badak di negeri ini.

Bagaimana dengan badak india? Myanmar telah menjelma sebagai rute transit utama penyelundupan cula badak india ini. Sebelumnya, para pemburu gelap menyelundupkan cula-cula badak dari India menuju Tiongkok melalui Nepal. Namun pola ini berubah, setelah Myanmar menjadi rute pilihan. Kondisi ini terungkap sebagagaimana yang dituliskan para pegiat lingkungan dalam laporan yang dikirimkan kepada Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

Ini dikarenakan, Pemerintah Nepal secara proaktif menangkap para pemburu ilegal dan penyelundup cula badak, sekaligus menghukum mereka. Pernyataan yang disampaikan oleh Bibhab Talukdar, Ketua IUCN SSC Asian Rhino Specialist Group, kepada Mongabay. “Situasi ini memaksa para penyelundup mengalihkan transitnya ke Myanmar”.

Sebagai contoh, pada Oktober 2013, operasi gabungan tentara Nepal dan polisi khusus, menangkap 14 orang yang diyakini sebagai anggota organisasi penyelundupan lintas batas Nepal – Tibet, termasuk sang pemimpin yang berbasis di Kathmandu. Kelompok ini diduga membunuh lebih dari 12 badak dalam 6 tahun terakhir. Juni 2015, pengadilan Nepal menjatuhkan hukuman 15 tahun kepada Rajkumar Chepang, karena keterlibatannya membunuh 21 badak.

Nepal terus mengintensifkan upaya anti perburuan ini, yang akhirnya mampu melestarikan dan meningkatkan populasi badak di negara tersebut. Nepal kini mempunyai 645 individu badak. Dalam dua tahun terakhir tidak ada catatan mengenai perburuan, hingga September 2016, kabar buruk terdengar saat badak jantan dewasa ditembak mati oleh pemburu.

 

Badak india yang berada di Kaziranga National Park. Foto: Udayan Dasgupta

Badak india yang berada di Kaziranga National Park. Foto: Udayan Dasgupta

 

Sebaliknya, populasi badak india terus menurun akibat perburuan. India kini memiliki 3.000 individu badak bercula satu besar. Negara bagian Assam adalah rumah bagi 2.635 badak. Antara 2011 – 2015, pemburu telah membunuh sebanyak 125 individu badak.

Pada 2015, aparat menyita empat cula badak di perbatasan Myanmar – Tiongkok. Aparat juga menyita cula badak di Manipur, India, dekat perbatasan Myanmar. Para peneliti juga mengamati bahwa cula-cula badak, juga dijual di Mong La, di negara bagian Shan (Myanmar), yang kini dipercaya sebagai wilayah penjualan satwa liar ilegal tujuan Tiongkok.

Namun, pergeseran ke Myanmar ini dipercaya hanya, bergantung bagaimana Nepal meneruskan kebijakan kerasnya pada para pemburu dan penyelundup.

“Badak india bisa ditemukan di India dan Nepal, dan pemerintah ke dua negara tersebut berusaha keras mengatasi perdagangan cula badak ini,” kata Talukdar. “Sementara, badak tidak ditemukan di alam liar di Myanmar, dan hingga saat ini pemerintah Myanmar belum menginisiasi kebijakan nyata untuk melacak perdagangan cula badak.”

Langkah-langkah untuk mengintensifkan pemantauan di perbatasan India-Myanmar belum juga terlihat. “Harus ada intervensi dari pemerintah pusat, dan hal ini baru akan terlaksana jika Pemerinah India memperlakukan yang sama antara pemburu dan penyelundup cula, sebagaimana penyelundup narkoba dan senjata,” kata Talukdar. “Perdagangan cula badak berpotensi menjadi ancaman keamanan nasional, karena beberapa kelompok militan di India timur laut juga diduga terlibat dalam perdagangan cula badak untuk ditukarkan dengan senjata.”

 

Sumber tulisan:

Shreya Dasgupta. Indian rhino horns being smuggled to China via Myanmar. Mongabay.com

 

 

Teluk Balikpapan, Potensi Alam Menjanjikan yang Bukan untuk Disiakan

Teluk Balikpapan yang terlihat ramai dengan lalu-lalang perahu motor sebagai sarana transportasi. Foto: Christopel Paino

Teluk Balikpapan yang terlihat ramai dengan lalu-lalang perahu motor sebagai sarana transportasi. Foto: Christopel Paino

 

Angkutan kota berjalan pelan menembus rutinitas Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Penumpangnya seorang lelaki dan perempuan paruh baya. Di depan mereka, kotak putih kecil tertempel. Ini bukan hiasan. Sampah plastik dan sedotan jadi penghuninya. Kotak itu terbuat dari jerigen bekas ukuran kecil yang dipotong atasnya.

“Tempat sampah ini sudah lama, Mas,” kata Syarifudin.

Syarifudin adalah lelaki di belakang kemudi angkot nomor 05 itu. Dua puluh tahun sudah ia menjadi juru mudi di kota industri ini. Meninggalkan Makassar, tanah leluhurnya. Selama menjadi sopir baru kali ini ia merasa angkot sangat bersih. Orang-orang tak membuang sampah ke jalan. Kota menjadi nyaman, ditumbuhi pepohonan, dan didukung masyarakat yang ramah.

“Kalau tidak ada tempat sampah, bisa kena denda saat razia,” ujarnya.

Razia dilakukan oleh tim yustisi pemerintah kota. Mereka terdiri atas Satpol PP dan Polisi. Jika tertangkap, besaran denda 50 – 100 ribu Rupiah, sesuai Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2015 tentang sampah rumah tangga dan sampah lainnya. Sebelumnya, ada Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2004, tentang pengelolaan persampahan.

“Kami harus menghadapi razia dari polisi soal lalu lintas dan juga kebersihan. Tapi masih banyak juga angkot nakal.”

 

Tempat sampah yang ada di kendaraan transportasi umum di Balikpapan. Foto: Christopel Paino

Tempat sampah yang ada di kendaraan transportasi umum di Balikpapan. Foto: Christopel Paino

 

Pada 22 Juli 2016, Kota Balikpapan mendapatkan Piala Adipura Paripurna. Ini  penghargaan tertinggi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada kota atau ibu kota yang mampu melakukan pembangunan berwawasan lingkungan berkelanjutan. Balikpapan menyisihkan 500 kota atau kabupaten di Indonesia.

Beberapa syarat penilaian untuk mendapatkan penghargaan ini antara lain berinovasi dalam pengelolaan sampah dan ruang terbuka hijau (RTH), pengendalian dampak perubahan iklim, pemanfaatan energi terbarukan, serta penurunan ketimpangan ekonomi dan sosial berbasis pengelolaan lingkungan hidup.

Bahkan untuk penghargaan Adipura tingkat Asia Tenggara, Balikpapan berhasil meraih tiga penghargaan sekaligus. Pada ajang bertajuk Invitation to the for 3rd ASEAN Environmentally Suistainable Cities (ESC) Award and The 2nd ASEAN Certificates of Recognition with the Following Details, yang berlangsung di Loa Plaza Hotel, Laos, 2015 silam, Balikpapan menyabet tiga kategori; clean land, clean water dan clean air.

Sukur Efendy, Kepala Bidang Info Penegakan Hukum, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Balikpapan, menjelaskan, poin penting yang membuat kota beruang madu ini mendapatkan penghargaan Adipura Paripurna adalah penerapan clean, green, and health (CGH). Program lingkungan yang menitikberatkan pengelolaan sampah.

Di lapangan, BLH bekerja sama dengan Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman (DKPP) melakukan monitoring rutin ke setiap kelurahan. Hingga memantau warga yang membuang sampah sembarangan. Jika kedapatan, sanksinya Rp50 ribu seperti angkot yang tidak membuat tempat sampah.

Selain itu, menurut Sukur, mereka melibatkan masyarakat untuk membangun kesadaran pentingnya kebersihan kota. Di Balikpapan banyak pendatang berlatar pengetahuan berbeda. Ini menyebabkan masih banyak warga yang buang sampah sembarangan.

Bagaimana program kampung iklim? Menjawab pertanyaan ini, Sukur mengaku  Balikpapan baru sebatas membuat kampung rintisan. Namanya kampung organik yang fokus pada pengelolaan sampah. Kampung proklim sendiri mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 19 tahun 2012.

“Kami baru punya kampung organik di Kelurahan Sepinggan, Kecamatan Balikpapan Selatan. Kampung ini rintisan program kampung iklim.”

Berdasarkan Permen Nomor 19 tahun 2012, dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, program kampung iklim harus meliputi; pengendalian kekeringan, banjir, dan longsor.

Pengelolaan sampah, limbah padat dan cair; pengolahan dan pemanfaatan air limbah; penggunaan energi baru terbarukan, konservasi dan penghematan energi; budidaya pertanian, peningkatan tutupan vegetasi, dan pencegahan serta penanggulangan kebakaran hutan dan lahan juga dilakukan.

 

Keberadaan bekantan di Teluk Balikpapan sangatlah penting. Diperkirakan, jumlahnya saat ini sekitar 1.400 individu. Foto: Hendar

Keberadaan bekantan di Teluk Balikpapan sangatlah penting. Diperkirakan, jumlahnya saat ini sekitar 1.400 individu. Foto: Hendar

 

Jufriansyah, Direktur Stabil (Sentra Program Pemberdayaan dan Kemitraan Lingkungan), LSM di Balikpapan, mengatakan bicara Adipura, harus dikaitkan tata ruang. Sayangnya, tata ruang Balikpapan belum beraturan, ditambah lagi adanya pelepasan kawasan untuk industri. Akibatnya, Teluk Balikapan jadi tumbal proyek glamor pemerintah kota.

Konsep CGH yang dijelaskan BLH dan DKPP Balikpapan, menurutnya, hanya berorientasi mengejar hadiah yang digelar tiap kelurahan. Contoh, pada 2008 setiap rukun tetangga (RT) yang menang lomba CGH dapat bonus Rp100 juta. Uang tersebut biasanya dalam bentuk pembangunan sarana prasarana.

Namun, jumlahnya menurun saat ini, berkisar Rp10 juta untuk pemenang. Karena orientasinya hanya kompetisi, perubahan kesadaran masyarakat masih lemah. Dalih dari BLH selama ini, menurut Jufri, karena dana yang terbatas.

“Memang Kota Balikpapan tampaknya bersih. Tapi kalau bicara pengelolaan lingkungan, nanti dulu. Ada pelepasan kawasan untuk industri besar.”

Kepala BLH Kota Balikpapan, Suryanto, yang dimintai klarifikasi atas pernyataan Jufriansyah, tidak memberikan tanggapan. Dihubungi melalui pesan singkat ke nomor kontak pribadinya, Suryanto pun tidak merespon.

Apa yang dijelaskan Jufriansyah diaminkan Husain, Koordinator Forum Peduli Teluk Balikpapan (FPTB). Menurutnya, penghargaan Adipura Paripurna masih perlu dipertanyakan. “Dalam rencana tata ruang dan wilayah kota yang jelas peruntukannya sebagai kawasan hutan mangrove justru dialihfungsikan untuk perindustrian.”

Husain yang berjuang untuk penyelamatan Teluk Balikpapan menjelaskan, pengelolaan buruk itu adalah perluasan Kawasan Industri Kariangau (KIK) ke beberapa hulu sungai, tempat hutan alami dengan biodiversitas yang tinggi beregenerasi.

“Lahannya bergunung dan rawa. Tidak mungkin untuk mengembangkan industri tanpa tindakan kontroversial, yaitu mereklamasi lahan dengan mengupas gunung dan menimbun hutan mangrove dengan tanah.”

Teluk Balikpapan merupakan perairan tertutup, yang pertukarannya hanya melalui Selat Makassar. Semua erosi, sedimentasi karena pengupasan lahan. Limbah industri akan terakumulasi di muara teluk. “Dengan perkembangan industri, ekosistem bawah laut akan beracun, menjadi tempat yang tak bisa lagi dihuni,” ungkap Husain.

 

Wajah pelabuhan peti kemas di Kariangaun kawasan Teluk Balikpapan. Foto: Hendar

Wajah pelabuhan peti kemas di Kariangaun kawasan Teluk Balikpapan. Foto: Hendar

 

Penting

Kamis siang, 25 Agustus 2016. Awan mendung menutupi matahari ketika kapal-kapal besar berdiam di Teluk Balikpapan. Perahu kecil berkecepatan tinggi lalu-lalang melewati sebuah kapal tongkang. Sementara perahu klotok bermuatan orang dan kenderaan roda dua terlihat sarat muatan. Hanya butuh 20 menit bagi klotok ini menyeberang ke pelabuhan di Penajam Utara.

Saya menumpangi perahu klotok bercat biru itu dengan penumpang belasan orang. Tiba di pelabuhan, ojek motor langsung menawarkan jasa. Saya memilih tukang ojek bernama Jafar dengan kuda besi besarnya. Jafar, lelaki asal Maros, Sulawesi Selatan itu, mengantar saya ke salah satu hulu Teluk Balikpapan. Tepatnya ke lokasi Hutan Tanaman Industri (HTI) milik PT. ITCI (International Timber Corporation Indonesia) Kartika Utama.

Butuh tiga jam lebih ke lokasi, dengan kondisi jalan yang sebagian besar rusak. Di kiri-kanan, hutan gundul dan tanaman sawit menjadi pemandangan biasa. Setibanya di PT. ITCI Kartika Utama, saya disambut dua petugas keamanan dan portal besi bertulis “no entry”.

“Maaf Pak, dilarang masuk tanpa izin perusahaan, Anda siapa?” kata petugas keamanan perusahaan. Saya memperkenalkan diri. Petugas itu bernama Misran, belum setahun bertugas, yang mengaku asli Kalimantan dari suku Paser.

“Saya izin motret model rehabilitasi hutan di perusahaan ini karena mengembangkan tumpang sari aren sebagai pohon induk,” jawab saya kepada Misran.

“Coba telepon Pak Agung dulu,” teriak security lain dari dalam pos ke Misran. Ia lebih senior. Wajahnya tak bersahabat.

 

Wilayah PT. ITCI, yang dianggap sebagai salah satu daerah yang letaknya di hulu Teluk Balikpapan. Foto: Christopel Paino

Wilayah PT. ITCI, yang dianggap sebagai salah satu daerah yang letaknya di hulu Teluk Balikpapan. Foto: Christopel Paino

 

Pak Agung yang dimaksud adalah atasan mereka. Misran menghubungi, tidak lama berselang sosoknya mengendarai motornya. Ia mengenakan seragam biru dongker, bersepatu laras, dan berkumis tebal. Tanpa senyum, Agung meminta saya ikut ke kantor PT. ITCI. Di sana, dua security berkaos loreng sudah menunggu. Saya masuk. Tiba-tiba seorang berpenampilan necis dengan rambut klimis berpakaian sedikit krem, menanyakan identitas saya. Di baju yang ia kenakan, pada bagian dada kanannya tertulis “Budi Gunawan”.

“Saya koordinator keamanan di sini,” ujar Budi Gunawan.

Kepada Budi, saya menjelaskan liputan mengenai rehababilitasi hutan yang dilakukan perusahaan ini yang mengedepankan tumpang sari. “Maaf, Mas. Kalau tidak ada izin tidak bisa masuk,” katanya lagi.

Saya gagal mendapatkan informasi mengenai cara PT. ITCI merehabilitasi hutan. Padahal, perusahaan mengklaim mampu menambah stok karbon dan mendorong bahan bakar rendah karbon dari olahan aren.

Menurut Jufriansyah dari Stabil, konsesi PT. ITCI merupakan daerah hulu yang terhubung melalui Sungai Maridan, yang berpengaruh terhadap pendangkalan Teluk Balikpapan. “Perusahaan ini diakhir 90-an sempat berkonflik dengan masyarakat adat Paser. PT. ITCI dikenal karena birokrasi yang panjang, ada istilah kalau ITCI itu anak yang tidak diketahui.”

 

Teluk Balikpapan dilihat dari udara. Foto: Husein/Forum Peduli Teluk Balikpapan

Teluk Balikpapan dilihat dari udara. Foto: Husein/Forum Peduli Teluk Balikpapan

 

Data yang diungkapkan Forum Peduli Teluk Balikpapan lain lagi. Di area yang lebih hulu, yang masuk dalam wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara, selama satu dekade terakhir telah mengalami kecacatan mengerikan dengan berkembangnya industri dan penanaman kelapa sawit. Menurut forum tersebut, beberapa perusahaan terbukti bersalah. Salah satunya PT. Agro Indomas yang membawa kerusakan terberat, walaupun perusahaan itu anggota RSPO, kelapa sawit yang terukur dan ramah lingkungan.

Kelapa sawit ditanam di sepanjang pesisir teluk dan sungai yang dianggap tidak sesuai. Tidak hanya itu, konversi area konservasi bernilai tinggi yang memiliki fungsi ekologi vital menjadi perkebunan adalah melanggar kriteria RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Perusahaan lain yang diungkap bersalah terhadap Teluk Balikpapan adalah Wilmar dan Kencana Agri Ltd.

“Herbisida yang digunakan untuk memberantas rumput menyebabkan polusi serius, mengancam ekosistem vital rumput laut. Selain penanaman, industri minyak kelapa sawit telah menjamur di sepanjang Teluk Balikpapan hingga menyebabkan kerusakan hutan, sedimentasi, dan polusi.”

 

Peta RTRW Kota Balikpapan 2005-2015 sebelum perluasan KIK. Sumber peta: Pemerintah Kota Balikpapan

Peta RTRW Kota Balikpapan 2005-2015 sebelum perluasan KIK. Sumber peta: Pemerintah Kota Balikpapan

 

Peta usulan revisi RTRW 2011-2031 setelah ada perluasan KIK. Sumber peta: Pemerintah Kota Balikpapan

Peta usulan revisi RTRW 2011-2031 setelah ada perluasan KIK. Sumber peta: Pemerintah Kota Balikpapan

 

Ekosistem

Teluk Balikpapan memiliki luas daerah aliran sungai (DAS) sekitar 211.456 hektare dan perairan seluas 16.000 hektare. Sebanyak 54 sub-DAS menginduk di wilayah teluk ini, termasuk salah satunya DAS Sei Wain yang merupakan hutan lindung atau yang dikenal Hutan Lindung Sungai Wain. Ada 31 pulau kecil menghiasasi wajah teluk. Sementara, pengembangan Kawasan Industri Kariangau seluas 5.130 hektare di wilayah teluk yang berada di Kelurahan Kariangau, Balikpapan Barat, Kota Balikpapan, mengancam kehidupan ekosistem yang ada.

Menurut Husain, Teluk Balikpapan penting bagi masyarakat sekitar. Di sepanjang pesisir ada desa nelayan tradisional, seperti Gersik, Jenebor, Pantai Lango, Maridan, dan Mentawir. Pendapatan ribuan nelayan tradisional itu bergantung pada kekayaan alam Teluk Balikpapan. Ekosistem yang terdegradasi menyebabkan nelayan tidak memiliki penghasilan. “Sering mereka menjual tanah dan lahan kepada pengembang usaha.”

Dari sudut konservasi, Teluk Balikpapan memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Ada hutan hujan tropis primer, regenerasi hutan hujan tropis sekunder, hutan mangrove, rawa, lahan bebatuan, terumbu karang, rumput laut, dan laut dangkal. Hutan sekunder yang menghubungkan sekat hutan ini dengan hutan penting lainnya adalah area konservasi hutan Bukit Soeharto ke timur laut dan Gunung Meratus ke barat daya. Ekosistem perairannya menghubungkan Selat Makassar ke timur.

 

Terumbu karang unik ini berada di Teluk Balikpapan. Foto: Hendar

Terumbu karang unik ini berada di Teluk Balikpapan. Foto: Hendar

 

Husain menambahkan, Teluk Balikpapan merupakan habitat bekantan (Nasalis larvatus). Teluk Balikpapan menyokong habitat populasi bekantan terbesar di dunia, mencapai 1.400 individu, mewakili lima persen total yang ada. Keseluruhan, diperkirakan 20 – 25 ribu individu.

Di Teluk Balikpapan hidup lebih 100 jenis satwa lain seperti orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), gibon kalimantan (Hylobates muelleri), lumba-lumba air tawar (Orcaella brevirostris), dugong (Dugong dugon), hingga beruang madu (Helarctos malayanus). Serta, lebih 300 jenis burung ada di sini misal tokhtor kalimantan (Carpococcyx radiceus radiceus) dan bangau storm (Ciconia stormi).

Dalam perspektif lebih luas, Teluk Balikpapan merupakan ekosistem besar yang tidak hanya bermanfaat bagi Kota Balikpapan, namun juga Kabupaten Penajam. Ada sungai yang berperan besar sebagai sumber air bersih, Sungai Wain. Sungai ini sumber air bersih utama perusahaan minyak dan industri vital di Balikpapan. Ada juga Sungai Semoi, Lawe-lawe, Riko, dan Tempadung yang merupakan sumber air di masa mendatang.

 

Kawasan Industri Kariangau tampak dari laut. Foto: Badan Penaman Modal dan Perizinan Pelayanan Terpadu Balikpapan

Kawasan Industri Kariangau tampak dari laut. Foto: Badan Penaman Modal dan Perizinan Pelayanan Terpadu Balikpapan

 

Hutan di sepanjang Teluk Balikpapan juga berperan pengendali banjir. Hutan berperan penting sebagai pengendali iklim setempat. Menurut Husain, potensi penggunaan sumber daya alam Teluk Balikpapan untuk peningkatan ekonomi berkesinambungan sangat besar namun belum dikembangkan.

“Dari sisi ekowisata, carbon trade akan menguntungkan. Dari segi ekonomi juga memberikan dampak positif bagi ekosistem Teluk Balikpapan. Apalagi hutan mangrove sebagai penyerap karbon yang efisien.”

Namun, dalam RTRW Kota Balikpapan, hutan diubah menjadi kawasan industri. Pada beberapa titik, ada yang memegang izin prinsip reklamasi sepanjang 200 meter dari bibir pantai. “Jadi, pengelolaan lingkungan Kota Balikpapan harus diperbaiki agar tidak blunder di kemudian hari.”

 

 

Peta Kawasan Industri Kariangau. Sumber: Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Balikpapan

Peta Kawasan Industri Kariangau. Sumber: Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Balikpapan

 

 

Ternyata, Ada Tanaman Kopi juga di Lahan Gambut

Kopi robusta yang merupakan jenis kopi yang berkembang di Indonesia. Sumber: Wikipedia

Kopi robusta yang merupakan jenis kopi yang berkembang di Indonesia. Sumber: Wikipedia

 

Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan masyarakat Sumatera Selatan. Selama ini umumnya masyarakat hanya tahu kopi di Sumatera Selatan dihasilkan dari wilayah dataran tinggi dan sedang, seperti Lahat, Pagaralam, dan Muaraenim. Nyatanya, sejak 1990-an, kopi juga dihasilkan dari wilayah lahan gambut.

Hamparan pohon kopi jenis liberika (Coffea liberica) tumbuh di sejumlah kebun milik warga Desa Nusantara, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, yang saya kunjungi Jum’at (23/09/2016) lalu. Pohon kopi tumbuh di antara pepohonan karet.

Selain jenis liberika yang memang cocok tumbuh di dataran rendah, saya juga mendapatkan sejumlah pohon kopi jenis robusta (Coffea canephora) yang ditanam warga.

“Tahun 1990-an desa ini telah menghasilkan kopi. Setiap musim, berton dikirimkan ke Palembang dan Lampung,” kata Samidi (61), yang pernah memiliki dua hektare kebun kopi liberika. Namun, sejak tahun 2000-an, saat harga kopi anjlok di pasaran, masyarakat mengganti kebun kopinya dengan jenis tanaman lain seperti karet.

“Perkiraan saya, saat itu sekitar 100 hektare kebun kopi yang ada di Desa Nusantara ini,” katanya.

Saat ini, hanya sebagian warga yang mempertahankan kebun kopi. “Umumnya untuk konsumsi sendiri, dan hanya sebagian dijual ke masyarakat desa lain di Air Sugihan,” jelas Wagiman (65), warga lainnya.

 

Kopi arabika yang begitu dikenal  dikalangan pencinta kopi. Sumber: Wikipedia

Kopi arabika yang begitu dikenal di kalangan pencinta kopi. Sumber: Wikipedia

 

Mengenai pohon kopi jenis robusta yang dapat tumbuh di desanya, Wagiman menjelaskan, “Awalnya, saya dan beberapa warga coba-coba menanam jenis robusta yang katanya tidak dapat tumbuh baik di dataran rendah bersuhu panas. Ternyata, setelah kami tanam di antara pohonan jenis lainnya, kopi robusta tumbuh baik dan berbuah,” katanya. “Mungkin karena ditanam di antara pepohonan lainnya seperti karet, suhu menjadi tidak terlalu panas, sehingga tumbuh baik.”

Rasanya? “Wah, saya bukan penggemar kopi, saya petani. Saya tahunya semua kopi sama. Saya tidak dapat membedakan soal rasa,” ujarnya.

Meskipun tidak banyak lagi kebun kopi, tapi Desa Nusantara tetap memproduksi biji kopi robusta dan liberika.

“Biji kopi kering jenis robusta saya jual Rp16 ribu per kilogram. Sementara biji kopi jenis liberika Rp13 ribu per kilogram. Biasanya para pedagang membeli kedua jenis biji ini untuk dicampurkan,” kata Suliga (47), salah satu warga yang masih memiliki puluhan pohon kopi di kebunnya.

Dijelaskan Suliga, dalam setahun dia hanya menghasilkan biji kopi berkisar 200 – 300 kilogram. “Agar pelanggan tetap datang, saya hanya memetik biji kopi yang sudah matang atau berwarna merah. Tidak pelu buru-buru mendapatkan hasilnya, sebab tambahan pemasukan,” kata Suliga yang juga memiliki kebun karet dan sawah padi.

Menurut Suliga, sejumlah warga kini mulai menanam kembali pohon kopi. “Mungkin mereka melihat harga kopi jauh lebih stabil dan perawatannya sederhana. Tidak seperti karet dan sawit yang susah dan harganya tidak menenentu.”

 

Pohon kopi liberika yang ditanam ditanam di kebun warga Desa Nusantara, Air Sugihan, OKI, Sumatera Selatan. Foto: Taufik Wijaya

Pohon kopi liberika yang ditanam di kebun warga Desa Nusantara, Air Sugihan, OKI, Sumatera Selatan. Foto: Taufik Wijaya

 

Desa Nusantara, merupakan desa transmigran di lahan gambut Air Sugihan, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan, yang dibuka sejak 1982. Saat ini, jumlah warganya sekitar 700 kepala keluarga dengan luas desa sekitar 1.200 hektare. Sebagain besar warga menanam karet, sawit, palawija, sawah, dan lainnya seperti kopi.

Sebagai informasi, hampir semua wilayah di Indonesia ditemukan tanaman kopi. Ada tiga jenis kopi yang dibawa kolonial Belanda ke Indonesia sejak 1896, yakni arabika, robusta dan liberika.

Dalam perkembangannya, jenis arabika (Coffea arabica) tidak dapat tumbuh baik di Indonesia. Hanya robusta yang relatif tumbuh sehat. Sementara liberika, tidak begitu diminati para petani karena harganya rendah. Kalaupun diproduksi, jenis kopi ini digunakan untuk campuran arabika atau robusta.

 

 

Kepastian Masa Depan Dua Spesies Badak di Indonesia Harus Ada

Ratu dan Delilah, anaknya, berada di kubangan lumpur di Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Foto: Rhett Butler

Ratu dan Delilah, anaknya, berada di kubangan lumpur di Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Foto: Rhett Butler

 

Indonesia merupakan habitat dua dari lima spesies badak yang ada di dunia yaitu badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Populasi badak jawa berada di Taman Nasional Ujung Kulon. Sementara, populasi alami badak sumatera tersebar di beberapa kantong yang terpisah, di hutan Sumatera dan Kalimantan.

Penurunan populasi yang sangat besar terjadi pada badak sumatera antara 1986-2007 yang mencapai 82%. Saat ini, populasi keseluruhannya diperkirakan tidak lebih dari 100 individu (Kemenhut, 2007).

Populasi yang kecil pada masing-masing kantong merupakan ancaman utama kehidupan badak sumatera, selain terdegradasinya habitat alaminya. Cula badak yang masih menjadi komoditi perdagangan gelap, membuat perburuan sebagai penyumbang menurunnya populasi badak sumatera.

Faktor lainnya? Ancaman kepunahan dari aspek kesehatan merupakan hal sangat krusial,  papar drh. Indra Exploitasia, Kepala Pusat Keteknikan Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Berdasarkan pengalamannya sebagai dokter hewan yang pernah menangani usaha reproduksi hewan bercula ini, ada penyebab yang membuat badak punah.

“Penyakit, sayangnya masih sedikit perhatian,” ujarnya pada diskusi “Diambang kepunahan: Menata Langkah Bersama Melestarikan Badak Sumatera” Jum’at (23/09/2016).

Pendataan individu badak saat ini sedang dilakukan, sehingga belum diketahui penyakit, reproduksi-kondisi jantan dan betina dewasa dan kesuburannya, atau penyakit yang disebarkan atau ditularkan ternak. “Dari sisi reproduksi dan paparan penyakit akibat ternak domestik penting dilakukan secara periodik dan berbarengan,” ujarnya.

Indra mengatakan, patologis (penyakit) yang didapati pada kematian badak adalah parasit darah. Jika kondisinya sangat akut bisa mengakibatkan kematian. Parasit darah dapat menyebabkan reproduksi badak terganggu: kemandulan dan tidak birahi sehingga mempersulit perkembangbiakan.

Tanda-tanda kematian akibat parasit darah diidentifikasi dengan nekropsi, melihat perubahan yang terjadi pada organ tubuh. Penularannya memang melalui vektor lalat, tetapi tidak serta-merta badak hidup yang dikerubuti lalat akan tertular.

Pada kematian badak jawa di Ujung Kulon, Banten, hal ini terbukti, tetapi belum ditemui pada badak sumatera karena belum ada pengamatan langsung. Selain makin hilangnya habitat, perburuan dan penyakit adalah hal yang patut diwaspadai. WHO (World Health Organization) sudah merilis data, 70 persen penyakit adalah zoonosis, yakni penularan yang disebabkan dari manusia ke hewan atau sebaliknya.

Indra juga mengemukakan, perkembangbiakan dan reproduksi badak sangat unik. Dari segi alat reproduksi jantan, bentuk tidak lurus, sehingga agak sulit menempatkan pada posisi betina. “Ketika mereka kejar-kejaran, nabrak-nabrak itu sedang mencari posisi yang pas,” ujarnya.

Pada betina, masa birahinya juga sangat pendek, hanya sehari. Badak betina dewasa siap bereproduksi umur 4 – 5 tahun, sedangkan jantan dewasa 6 – 7 tahun. Si induk akan mengasuh anaknya hingga tiga tahun. Bisa jadi, ketika masa birahi, jantan dan betina tidak saling bertemu. “Karenanya, sulit melakukan reproduksi.”

Salah satu intervensinya adalah mempertemukan badak jantan dan betina dalam satu tempat atau kawasan perlindungan. Tetapi, ini bukan hal mudah. Badak betina dalam kawasan perlindungan pun mengalami tingkat stres tinggi yang berpengaruh pada hormon. Bisa menimbulkan kista yang mengganggu reproduksi, tentunya. “Teknologi untuk reproduksi selain intervensi in situ, saat ini dimungkinkan melalui program bayi tabung.”

 

Badak sumatera di Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas. Foto: International Rhino Foundation

Badak sumatera di Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas. Foto: International Rhino Foundation

 

Ujung Kulon

Moh. Haryono, Kepala Sub Direktorat Sumber Daya Genetik Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati menuturkan pengalaman 13 tahunnya mengikuti perkembangan badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. Pada 2011-2015 tercatat jumlah badak jawa meningkat menjadi 63 individu, termasuk kelahiran tujuh anak badak. “Biasanya, hanya 3-5 individu saja,” ujarnya. Angka ini didapat setelah penambahan kamera video di sejumlah titik. Hingga 2015, dipasang 100 kamera pengintai yang tiap 10 bulan didatangi tim untuk pengambilan data dan pengecekan peralatan.

Menurutnya, kondisi badak jawa saat ini kritis karena terancam dari ketersediaan pakan dan aktivitas ilegal masyarakat sekitar. Menyusutnya habitat, juga membuat penyebaran penyakit dari ternak peliharaan ke badak terjadi. Pada 2014, empat badak mati karena tertular penyakit dari ternak.

Meskipun perkembangan sekarang terlihat menggembirakan, namun ada sejumlah kekhawatiran. Pada 2013, misalnya, dari 58 badak yang terpantau, 15 di antaranya mengalami cacat tubuh. Diduga, akibat perkawinan seketurunan. Cacat yang terlihat seperti ekor buntung atau kerutan di mata. Perkawinan seketurunan ini juga menyimpan ancaman lain seperti badak menjadi gampang sakit atau mati. “Beberapa ahli dari lembaga Biomolekuler Eijkman sudah didatangkan namun belum selesai pendataannya.”

Haryono menyebutkan ada tiga program strategis untuk konservasi badak jawa. Pertama,  pengendalian tumbuhan invasif yang mengurangi pakan badak di Semenanjung Ujung Kulon. Kedua, pengelolaan JRSCA (Javan Rhino Study and Conservation Area) yang saat ini  sedang dibangun konstruksinya. Ketiga, membangun populasi kedua. “Cikepuh cukup ideal, wilayah datar serta ada area air untuk minum dan berkubang.”

Populasi kedua diupayakan karena kehidupan badak jawa di Ujung Kulon selama berpuluh tahun berkutat di ruang yang tidak terlalu luas. Sehingga memungkinakan terjadinya perkawinan seketurunan. Dengan dipindah ke tempat lain, peluang terjadinya heterogenitas terbuka. “Sudah disiapkan calon badak jantan dan betinanya yang bagus, tidak cacat, tidak satu kerabat, dan memenuhi syarat yang ditetapkan.”

 

Badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Foto: Stephen Belcher/Dok. BTNUK

Badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Foto: Stephen Belcher/Dok. BTNUK

 

Dukungan

Dukungan untuk melindungi badak sumatera dilakukan oleh Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Yayasan Kehati untuk Kalimantan dan Sumatera. Lembaga ini bekerja sama dengan beberapa pihak menyalurkan dana hibah kepada mitra. Di Kalimantan, sejak 1 Juni 2014, terdapat 25 mitra TFCA dengan jumlah komitmen hibah lebih dari Rp92,3 miliar. Termasuk, untuk program konservasi badak.

Puspa D. Liman, Direktur Program TFCA-Kalimantan mengatakan direncanakan ada beberapa kegiatan survei dan monitoring populasi badak. Rinciannya survei sosial, okupansi, kamera otomatis, uji DNA melalui pengumpulan sampel kotoran badak, analisa tingkat penyakit, serta rekomendasi. Berikutnya, membangun sistem data, meningkatan kesadaran konservasi badak bagi masyarakat umum, pelajar, dan mahasiswa serta membangun fasilitas Rhino Sanctuary.”

Puspa mengatakan, badak sumatera di Kalimantan, ditemukan di tiga kantong wilayah di kawasan hulu Mahakam. Saat ini, salah satu kantong badak terdesak oleh aktivitas manusia. “Tantangan konservasinya selain aktivitas manusia juga adanya fragmentasi habitat, populasi badak yang kecil, serta belum terjalinnya koordinasi lintas kabupaten dan kebijakan pendukung.”

Sedangkan di Sumatera, tantangan untuk mengantisipasi kepunahan badak cukup beragam. Semedi, Direktur Program TFCA-Sumatera mengatakan, habitat badak sumatera khususnya di Taman Nasional Gunung Leuser terpisah di enam kantong. Di Leuser ini pula aktivitas manusia mempersempit area badak. “Kalau mau dipindahkan ke mana?”

Tantangan berikutnya, selain belum diketahui data yang valid tentang keberadaan badak, juga informasi mengenai badak betina dan jantan dewasa yang siap reproduksi belum lengkap. “Penting juga dilakukan intervensi pengembangbiakan ex situ,” paparnya.

 

 

Inspirasi dari Gampong Nusa, Masyarakat Kreatif di Desa Wisata

Kesedian tradisional Aceh yang terpelihara baik di Gampong Nusa. Foto: Lembaga Pariwisata Nusa

Kesenian tradisional Aceh ini terpelihara baik di Gampong Nusa. Foto: Lembaga Pariwisata Nusa

 

Gampong Nusa, adalah desa yang berada di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Saat gelombang tsunami 2004 menghantam, wilayah ini mengalami kerusakan parah. Tak ingin hidup dalam bayang-bayang kelam, tahun 2006 mereka bangkit. Melalui kelompok perempuan Nusa Creation Community (NCC), mereka mengelola sampah yang selanjutnya berkembang menjadi gerakan berbasis masyarakat. Sampah yang menjadi berkah.

Di kampung ini, sampah organik maupun non, disulap menjadi berbagai hiasan rumah tangga juga tas yang cukup menarik. Harga hasil kerajinan tangan tersebut dijual mulai dari puluhan hingga ratusan ribu Rupiah.

 

Gampong Nusa memiliki pemandangan alam yang asri dan persawahan yang luas. Foto: Lembaga Pariwisata Nusa

Gampong Nusa memiliki pemandangan alam yang asri dan persawahan yang luas. Foto: Lembaga Pariwisata Nusa

 

Rubama, perempuan Gampong Nusa yang merupakan penggerak kesadaran masyarakat desa menyebutkan, hampir di setiap sudut wilayah di Indonesia termasuk Aceh, didapati tumpukan sampah, terutama plastik. “Alhamdulillah, kami telah mengubah kesan sampah yang kotor, bau dan sumber penyakit menjadi produk kreatif yang memberikan pemasukan tambahan untuk warga desa kami,” ujarnya, Minggu (18/09/2016).

Wanita kelahiran 1985 itu menuturkan, mengelola sampah untuk dijadikan berbagai kerajinan tangan telah dilakukan wanita dan anak-anak Gampong Nusa setelah bencana tsunami. Awalnya, program dilaksanakan 2006 oleh LSM asing, yang anggotanya mencapai 120 orang. Setiap kegiatan, anggota dibayar. “Namun, setelah program berakhir, banyak yang mundur.”

 

Di Gampong Nusa, sampah diolah menjadi kerajinan tangan yang menghasilkan rupiah. Foto: Lembaga Pariwisata Nusa

Di Gampong Nusa, sampah diolah menjadi kerajinan tangan yang bernilai ekonomi. Foto: Lembaga Pariwisata Nusa

 

Meski hanya menyisakan 16 anggota perempuan, kegiatan tetap dilanjutkan. Bentuknya, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, gerakan sederhana yang digeluti oleh masyarakat. “Sekarang, kami mampu berkreasi dengan sampah organik dan non-organik, menjadikannya produk bernilai ekonomi. Sampah plastik seperti sachet sabun cucian, bungkus makanan ringan, dan lainnya kami ubah menjadi tempat pensil, bunga, baju, dan lainnya,” ujar peraih Perempuan Inspiratif Nova 2013 kategori Perempuan dan Lingkungan ini.

Rubama mengatakan, untuk menciptakan berbagai kerajinan dari sampah tidak dibutuhkan peralatan canggih. Hanya kelincahan jemari yang dipadukan mesin jahit sederhana. Gampong Nusa juga memiliki Bank Sampah, tempat anak-anak menabung sampah. Layaknya bank moderen, setiap penabung memiliki buku tabungan sendiri. “Sampah yang dijual itu, digunakan untuk membayar iuran Taman Pendidikan Al Quran dan kegiatan lainnya. Sehingga, meringankan beban orangtua.”

 

seorang anak terlihat menggunakan baju yang didesain dari kertas bekas. Foto: Lembaga Pariwisata Nusa

seorang anak terlihat menggunakan baju yang didesain dari kertas bekas. Foto: Lembaga Pariwisata Nusa

 

Desa wisata

Berhasil mengelola sampah, program pembangunan desa pun ditingkatkan. Perlahan, Gampong Nusa mengembangkan dirinya menjadi Desa Wisata yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.

“Ada beberapa kegiatan yang ditawarkan, wisata budaya, kuliner, dan alam,” sambung Rubama.

Gampong Nusa yang terletak di pinggiran Kota Banda Aceh ini memiliki alam nan asri, persawahan yang luas, serta perbukitan hijau. Sore hari, pengunjung bisa bergabung dengan anak-anak untuk mandi di sungai, melompat dari pepohonan.

“Kami juga menyediakan penginapan untuk wisatawan, tapi jangan berpikir sebagaimana hotel atau villa. Menginapnya di rumah warga, sehingga ada interaksi positif.”

 

Tempat peralatan menulis ini dibuat dari sampah plastik bekas. Foto: Lembaga Pariwisata Nusa

Tempat peralatan menulis ini dibuat dari sampah plastik bekas. Foto: Lembaga Pariwisata Nusa

 

Rubama menuturkan, ekowisata yang dia pahami adalah aktivitas yang menambah pendapatan ekonomi masyarakat tanpa merusak lingkungan, serta mengelola potensi yang ada. “Pengelolaannya akan berjalan jika saling menguntungkan. Pengunjung puas dan perekonomian masyarakat meningkat.”

Muhajir Maop, masyarakat Kota Banda Aceh mengatakan, Gampong Nusa merupakan desa yang tepat untuk dikunjungi masyarakat urban. “Di Gampong Nusa, kita bisa melihat aktivitas masyarakat desa yang sudah jarang ditemui di perkotaan. Lembaga Pariwisata Nusa juga cukup kreatif mengelola paket wisatanya. Saat musim turun ke sawah misalnya, wisatawan yang ingin merasakan bagaimana menjadi petani bisa ikut menanam padi.”

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh, Reza Fahlevi, berharap wisata desa yang telah dikembangkan Gampong Nusa bisa dijadikan rujukan desa lain di Aceh. “Di Gampong Nusa, masyarakatnya antusias menyiapkan sarana pendukung seperti penginapan, seni budaya, kerajinan tangan, hingga kuliner tradisional. Pemerintah Aceh tentunya akan terus meningkatkan kemampuan pengelolaan wisata berbasis masyarakat,” tuturnya.

 

 

 

Ikan-ikan di Teluk Balikpapan yang Kian Menjauhi Nelayan

Pembangunan Jembatan Transkaltim di Pulau Balang, Teluk Balikpapan. Foto: Hendar

Pembangunan Jembatan Pulau Balang, Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Foto: Hendar

 

Matahari baru saja naik, angin berhembus kencang menandakan gelombang air laut sudah pasang. Waktu menunjukkan pukul 10.00 Wita, para nelayan yang bermukim di pedalaman Penajam Paser Utara (PPU), Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, bersiap keliling Teluk Balikpapan menjaring ikan.

Adalah Dahri, warga Gersik PPU yang sehari-hari melaut untuk menghidupi ekonomi keluarga. Laki-laki 54 tahun itu sudah menjadi nelayan di area Teluk Balikpapan sejak belia. Menggunakan kapal ketinting ukuran enam meter, di Rabu (14/09/2016) cerah itu, Dahri menyusuri perairan untuk mengumpulkan bermacam jenis ikan.

“Sejak masih SD saya ikut bapak melaut, kami ini keluarga nelayan tradisional. Mata pencaharian kami di Gersik rata-rata nelayan. Sekali melaut saya pasti dapat ikan baronang, kakap merah, belana, kipar dan lain-lain.”

Perlahan, Dahri mengisahkan kondisi Teluk Balikpapan yang kini berubah. Kerusakan lingkungan dari perkembangan kawasan industri di teluk tersebut membuat jumlah ikan berkurang. Ekosistem laut yang sejatinya tempat bergantung para nelayan, kini sudah tidak bersahabat. Pelebaran kawasan industri telah merenggut surga para nelayan di lautan. “Saya ingat, hingga tahun 2005, saya mendapatkan ikan sedikitnya 30 kilogram. Kini, hanya 3 – 7 kilogram.”

Dahri harus bersusah payah, berpindah tempat menebar jala. Dia bahkan, mendirikan pukat cincin dengan sebuah pondok bambu beratap atau belat, yang umum dibuat nelayan Gersik. Belat adalah semacam pondok di laut yang dibawahnya ada pukat cincin. Kalau jaring diangkat dan banyak ikan terjebak, langsung dibawa pulang untuk dijual.

“Sekarang, usaha belat tidak menghasilkan. Kadang ikan yang terjaring kecil dan sering dicuri pula. Biasanya, ada saja ikan mati ikut terjaring, karena keracunan atau terkena limbah dari kawasan industri di Kariangau dan batubara di PPU,” paparnya.

 

Wajah pelabuhan peti kemas di Kariangaun kawasan Teluk Balikpapan. Foto: Hendar

Wajah pelabuhan peti kemas di Kariangaun kawasan Teluk Balikpapan. Foto: Hendar

 

Achmad Rizal, nelayan tetangga Dahri turut menceritakan susahnya kehidupan nelayan. Menurutnya, sejak tumbuhnya perusahaan batubara di kawasan Teluk Balikpapan, biota laut terganggu.

Meski memiliki tiga belat di laut, pendapatannya tidak memadai. Kadang, dalam seminggu ada dua hari ikan tidak didapat sama sekali. “Beruntung, ada udang galah atau kepiting yang terjerat, ini bisa dijual, menutupi kebutuhan harian.”

Saban hari, Rizal hanya membawa pulang uang sebesar Rp50 ribu. Sebelumnya, medio 2006, dia bersama ayahnya bisa mengumpulkan uang sebanyak Rp500 ribu. Pendapatan bersih setelah dipotong biaya rokok dan bensin. Waktu melaut pun relatif singkat, dua hingga tiga jam saja. “Saya tidak perlu mengembangkan jala, hanya nelayan tua yang memiliki keahlian tersebut.”

Kini, jika hasil tangkapan tidak memuaskan, Rizal memilih membawa pulang ketimbang menjualnya. Sebab, pembeli akan menaksir harga murah dan tidak memberi keuntungan sama sekali. “Inilah kehidupan nelayan sekarang, pasang surut dengan pendapatan yang tak menentu. Maraknya pertumbuhan kawasan industri mengubah kehidupan kami. Meski sulit, kami harus bertahan,” jelasnya.

 

Pengangkutan batubara yang dilakukan di Teluk Balikpapan. Foto: Hendar

Pengangkutan batubara yang dilakukan di Teluk Balikpapan. Foto: Hendar

 

Kerusakan

Teluk Balikpapan memiliki luas daerah aliran sungai (DAS) sekitar 211.456 hektare dan perairan seluas 16.000 hektare. Sebanyak 54 sub-DAS menginduk di wilayah teluk ini, termasuk salah satunya DAS Sei Wain yang merupakan hutan lindung atau yang dikenal Hutan Lindung Sungai Wain. Ada 31 pulau kecil pun menghiasasi wajah teluk.

Pengembangan Kawasan Industri Kariangau (KIK) seluas 5.130 hektare di kawasan teluk yang secara administratif berada di Kelurahan Kariangau, Balikpapan Barat, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, telah mengancam ekosistem teluk tersebut yang berimbas pada kehidupan nelayan sekitar.

Berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup Kota Balikpapan, hingga saat ini terdapat 21 perusahaan baru yang telah memiliki izin prinsip untuk melakukan kegiatannya di kawasan Teluk Balikpapan. Sebelumnya, tercatat ada 25 perusahaan yang menjalankan kegiatannya sejak 2011.

 

Perluasan industri di Teluk Balikpapan yang terus berlangsung hingga saat ini. Foto: Husein/Forum Peduli Teluk Balikpapan

Perluasan industri di Teluk Balikpapan yang terus berlangsung hingga saat ini. Foto: Husein/Forum Peduli Teluk Balikpapan

 

Kepala BLH Balikpapan, Suryanto mengatakan, persoalan Teluk Balikpapan bukan semata tanggung jawab Kota Balikpapan. Pasalnya, Penajam Paser Utara (PPU) juga memiliki kepentingan industri, sehingga kewenangannya dipegang Provinsi Kalimantan Timur.

“Sampai saat ini, KIK Teluk Balikpapan masih seperti itu. Teluk Balikpapan tidak hanya di Balikpapan. PPU juga ada kepentingannya, sehingga Provinsi Kaltim yang memiliki kewenangan penuh.”

Dijelaskan Suryanto, aktivitas di Teluk Balikpapan memang belum berhenti. Terlebih saat ini sedang ada pembangunan Jembatan Pulau Balang yang menghubungkan PPU dengan Balikpapan yang sudah dikoordinasikan dengan BLH Balikpapan agar pelaksanaannya tidak mengganggu ekosistem alam.

“Dinas PU Provinsi Kaltim pernah berencana menjadikan Teluk Balikpapan untuk tujuan ekowisata. Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Kalimantan (PPPEK) tengah membuat studi daya dukung Teluk Balikpapan,” paparnya, Rabu (21/09/2016).

Sulistyawati, Dekan Fakultas Perikanan Universitas Mulawarman menuturkan, kajian terbaru mengenai Teluk Balikpapan saat ini belum ada. Menurutnya, sebelum KIK diperluas, pihaknya pernah membuat kajian pencemaran Teluk Balikpapan akibat industri yang berdampak pada hasil laut. Namun, kajian tersebut tidak bisa disamakan dengan kondisi saat ini, lantaran aktivitas di Teluk Balikpapan tidak pernah berhenti. “Memang ada pencemaran dan sudah diseminarkan. Penelitian terkini belum ada lagi.”

Sulistyawati menjelaskan, dalam kasus berkurangnya hasil laut yang dikeluhkan para nelayan memang harus ada kajian menyeluruh penyebab berkurangnya tangkapan. Harus ada pantauan langsung lapangan berhari dan harus diteliti lebih dalam. Meski demikian, Sulis membenarkan jika perubahan apapun dari segala aktivitas industri di Teluk Balikpapan mempengaruhi kehidupan ikan-ikan yang ada.

“Perubahan apapun pasti berpengaruh, apalagi kawasan industri. Kajian terbaru, akan lebih baik dilakukan pada berbagai kondisi. Misal, waktu air pasang, saat surut, siang dan malam. Setelah itu, dibuat kesimpulan nyata. Saat pancaroba juga berpengaruh pada tingkat pencemaran yang berasal dari algae,” jelasnya.

Disinggung mengenai ancaman kerusakan yang terjadi, Sulis mengatakan, ada dua sisi yang bertolak belakang, yakni dilema antara sebuah industri dan perairan yang terancam limbah. “Industri diperlukan untuk kemajuan suatu daerah, tapi di sisi lain perairan akan tercemar limbah yang dibuang ke laut.”

 

Kawasan Industri Kariangau (KIK) yang berada di wilayah Teluk Balikpapan. Foto: Hendar

Kawasan Industri Kariangau (KIK) yang berada di wilayah Teluk Balikpapan. Foto: Hendar

 

Balai Pengelola Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) satuan kerja Balikpapan berpandangan sama. Menurut salah satu penelitinya, Ricky, persoalan berkurangnya ikan-ikan di Teluk Balikpapan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Meski demikian BPSPL membenarkan, jika kawasan industri berpotensi mempengaruhi jumlah ikan yang ada di teluk. “Kawasan industri pasti berpengaruh pada hasil laut, terlebih di Teluk Balikpapan hanya dihuni jenis-jenis ikan tertentu. Meski sebenarnya, banyak kemungkinan penyebabnya.”

Dampak paling nyata maraknya industri di Teluk Balikpapan adalah sedimentasi laut. Ini berpotensi mengurangi jumlah ikan. Ekosistem pesisir juga terancam adanya  pendangkalan. Terutama, biota-biota yang dipastikan akan kehilangan habitatnya. “Padahal, biota laut dangkal merupakan makanan utama ikan.”

Ricky menambahkan, perlu ada kajian ilmiah untuk memperjelas berkurangnya ikan di sana. Sehingga, pemerintah bisa memperhitungkan dan mengimbangi dampak industri dengan pencegahan sedimentasi. “Biasanya pemerintah kota sudah memperhitungkan pencegahan sedimentasi dari laju KIK. Seperti penanaman mangrove dan meminta perusahaan melakukan penghijauan.”

 

Teluk Balikpapan dilihat dari udara. Foto: Husein/Forum Peduli Teluk Balikpapan

Teluk Balikpapan dilihat dari udara. Foto: Husein/Forum Peduli Teluk Balikpapan

 

Terlihat jelas

Koordinator Forum Peduli Teluk Balikpapan, Husein, mengatakan ancaman kerusakan Teluk Balikpapan sudah di depan mata. Padahal, di sepanjang pesisir teluk, terdapat desa nelayan tradisional, seperti Gersik, Jenebora, Pantai Lango, Maridan, dan Mentawir.

“Pendapatan ribuan nelayan tradisional tersebut bergantung pada kelestarian sumber kekayaan alam Teluk Balikpapan. Ekosistem yang terdegradasi, membuat nelayan gigit jari. Mereka tidak memiliki penghasilan alternatif.”

Menurut Husein, dari kondisi tersebut, tak jarang nelayan memilih pemikiran pendek. Mereka menjual tanah dan lahan kepada pengembang usaha. Ada juga yang bangkrut saat mencoba bisnis lain yang memang bukan keahliannya. “Kondisi ini, perlahan akan menambah angka kemiskinan.”

Husein menyayangkan area industri yang terus diperluas. Menurut dia, dalam perspektif lebih luas, Teluk Balikpapan telah memberikan nilai ekosistem sangat besar bagi kehidupan di Balikpapan dan Penajam yang perkembangannya sangat pesat. “Meski luasan Teluk Balikpapan, secara administratif, terluas di PPU hingga 80 persen, namun ancaman kerusakan terbesar adalah Kota Balikpapan.”

 

Kondisi terumbu karang di Teluk Balikpapan. Foto: Forum Peduli Teluk Balikpapan

Kondisi terumbu karang di Teluk Balikpapan. Foto: Forum Peduli Teluk Balikpapan

 

Senada, Direktur Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) Budiono mengatakan, pembangunan bagian pantai dan hutan mangrove jelas berdampak pada kondisi laut dan hasil laut yang ada di Teluk balikpapan. Tinggal bagaimana memilih, mau dilihat dari kacamata ekonomi atau ekologi. “Kalau alasan ekonomi yang diutamakan, pestinya ekologi yang menjadi korban,” paparnya, Jum’at (23/09/2016).

Pelanggaran yang terjadi di Teluk Balikpapan memang ada. Sementara, mengenai hasil laut yang terus berkurang, harus dilihat juga dari jumlah nelayan dan alat tangkapnya. “Dari aturan pembangunan pesisir, pelanggaran yang terjadi akibat perluasan industri harus diperhatikan. Mengenai berkurangnya ikan, kita tidak boleh mengabaikan kondisi teluk sekarang serta melihat langsung kehidupan nelayan, di sana” pungkas Budi.

 

Peta RTRW Kota Balikpapan 2005-2015 sebelum perluasan KIK

Peta RTRW Kota Balikpapan 2005-2015 sebelum perluasan KIK. Sumber peta: Pemerintah Kota Balikpapan

 

Peta usulan revisi RTRW 2011-2031 setelah ada perluasan KIK

Peta usulan revisi RTRW 2011-2031 setelah ada perluasan KIK. Sumber peta: Pemerintah Kota Balikpapan

 

 

Restorasi Lahan Kritis Itu Seperti Oase bagi Warga Ngaung Keruh

Robertus Tutong, tokoh penggerak restorasi sekaligus Kepala Dusun Ngaung Keruh. Foto: Andi Fachrizal

Robertus Tutong, tokoh penggerak restorasi sekaligus Kepala Dusun Ngaung Keruh. Foto: Andi Fachrizal

 

Matahari baru saja menyemburatkan cahayanya ketika warga sedang berkumpul di depan rumah panjang (betang) Iban Ngaung Keruh. Raut wajah mereka seperti embun pagi yang baru turun di Desa Labian, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Suasana seperti ini lazim terjadi dalam keseharian warga setempat. Mereka meninggalkan rumah sejak pagi dengan alasan yang beragam. Umumnya menoreh karet atau berladang di sekitar kampung. Namun kali ini, warga berkumpul untuk satu tujuan yang sama: menanam.

Jarum jam perlahan mengarah ke angka tujuh. Kala itu, Minggu (24/7/2016), puluhan warga mulai mengayunkan langkahnya. Mereka berjalan beriringan menyusuri jalan setapak. Di sana, ada Robertus Tutong, tokoh masyarakat sekaligus Kepala Dusun Ngaung Keruh. Tampak pula dua orang Staf WWF-Indonesia, masing-masing Markus Lasah dan Radius Haraan.

Hamparan kebun karet milik warga yang tersebar di sepanjang jalan membentuk lansekap yang khas. Selain berladang, warga menggantungkan hidupnya dari hasil kebun karet. “Nah, sebentar lagi kita akan masuk ke lokasi persemaian,” kata Robertus Tutong  kepada puluhan warga yang sudah siap menanam di kawasan kritis bekas perladangan.

Sekitar satu jam perjalanan, rombongan sudah tiba di lokasi persemaian. Tempat ini sekaligus menjadi lokasi untuk memproses benih atau bibit sebelum ditanam. Inisiatif restorasi kawasan kritis ini digelontorkan WWF-Indonesia Program Kalbar sejak Juli 2015.

Areal persemaian tidak begitu luas. Di dalamnya berbagai jenis bibit pohon lokal sudah siap ditanam. Di antaranya durian, rambutan, manggis, cempedak, jambu, petai, jengkol, dan sejumlah pohon pakan orangutan.

Tanpa komando, warga langsung membersihkan areal persemaian. Sebagian mengambil peran di pondok guna menyiapkan makanan dan minuman. Pondok persemaian ini senantiasa dijadikan sebagai tempat peristirahatan sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi restorasi.

Usai melepas lelah, perjalanan pun dilanjutkan. Masing-masing membawa bibit pohon. Laki perempuan, tua muda ikut serta. Jalan terjal dan berliku di sepanjang aliran Sungai Ngaung Keruh, mengisyaratkan betapa beratnya perjuangan warga untuk memulihkan kembali kondisi lingkungan mereka.

Peran perempuan juga tak bisa dipandang remeh. Meski usia rata-rata sudah tidak produktif lagi, mereka tampak gesit memikul bibit sampai ke lokasi penanaman. Tak jarang pendakian dilakukan di kemiringan 45 derajat. Peluh yang mengucur seperti semangat yang terus menyala hingga ke puncak.

Sejauh mata memandang, perbukitan itu seperti gundukan yang tandus, tak memiliki roh, dan mati. Hanya diselimuti rerimbunan ilalang yang mudah terbakar di saat musim kemarau. Kawasan inilah yang jadi target utama restorasi.

Di kaki bukit terdapat aliran sungai yang masih jernih. Itulah hulu Sungai Ngaung Keruh. Warga bertekad ingin menyelamatkan sungai tersebut dari kerusakan. Kelak, lokasi itu akan dijadikan sebagai sumber air. Selama ini, warga masih mengandalkan air bersih dari Sungai Luar. Itu pun debet airnya kian terbatas seiring pertambahan populasi manusia.

 

Inilah perhuluan Sungai Ngaung Keruh yang akan dijadikan sebagai sumber air bersih bagi warga. Foto: Andi Fachrizal

Inilah perhuluan Sungai Ngaung Keruh yang akan dijadikan sebagai sumber air bersih bagi warga. Foto: Andi Fachrizal

 

Pilihannya adalah memulihkan serta memproteksi perhuluan Sungai Ngaung Keruh dari berbagai ancaman. Tentu, ini bukan perkara mudah. Perlu waktu dan tekad kuat untuk mewujudkannya. “Meyakinkan warga itu sangat berat. Tapi kami punya komitmen yang kuat untuk menanam demi masa depan anak cucu,” kata Tutong.

Kondisi itu mengisyaratkan adanya semacam penebusan dosa masa lalu. Mereka membuka lahan, kemudian meninggalkannya dalam keadaan tandus. Seiring waktu, pintu kesadaran itu perlahan terbuka ketika sumber air bersih mulai terancam. “Akhirnya kami menanam di hulu Sungai Ngaung Keruh,” kata Tutong.

Seingat pria 46 tahun ini, sebelum program restorasi lahan kritis mulai bergulir, WWF sudah memberikan suntikan ilmu pengetahuan kepada warga sejak 2007. Pelatihan demi pelatihan dilakukan bertahap. Mulai dari pembuatan pupuk kompos, tungku hemat energi, dan okulasi karet.

Dari situ kemudian ide restorasi bergulir. Tahap demi tahap dikerjakan. Dari sosialisasi, penyiapan lahan dan pengukuran dengan menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS), training pembuatan pupuk kompos, dan penyiapan bibit yang dibutuhkan.

Dalam perjalanannya, ditemukanlah lokasi tanam milik warga atau komunitas di Ngaung Keruh. Mayoritas kawasan restorasi ditanami pohon buah dan kayu. Kecuali di sekitar kampung, warga lebih memilih menanam pohon karet untuk menopang perekonomian mereka. Sampai sekarang proses penanaman masih berlangsung.

 

Ibu-ibu memanfaatkan hasil hutan bukan kayu untuk diolah menjadi kerajinan tangan dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Foto: Andi Fachrizal

Ibu-ibu memanfaatkan hasil hutan bukan kayu untuk diolah menjadi kerajinan tangan dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Foto: Andi Fachrizal

 

Jalan panjang restorasi

Forest Coordinator WWF-Indonesia Program Kalbar, Hendri Ziasmono mengatakan, proses perjalanan restorasi lahan kritis di Ngaung Keruh tidak seperti membalik telapak tangan. “Prosesnya sangat panjang. Sejumlah tahapan musti ditempuh agar program ini tepat sasaran dan bermanfaat bagi warga di sekitar lokasi restorasi,” katanya.

Restorasi di kawasan kritis ini tak pula sekadar menanam. Aspek keswadayaan menjadi syarat mutlak. Salah satunya, penyadartahuan masyarakat akan pentingnya keseimbangan ekosistem melalui perilaku sehari-hari.

Karuan saja, langkah ini harus ditempah melalui jalan yang panjang dan rumit. Mulai dari diskusi dengan pemerintah daerah dan sosialisasi di tingkat pemerintah kecamatan. Selanjutnya, diperlukan koordinasi serta sosialisasi dengan aparatur desa hingga dusun, adat, dan masyarakat.

“Semua persoalan musti dibuka secara transparan, termasuk niat melakukan restorasi. Membangun kesepakatan secara transparan adalah kunci terlaksananya program restorasi ini,” urai Hendri.

 

Warga Ngaung Keruh mengerjakan pipanisasi secara swadaya di perhuluan sungai dengan harapan air bersih dapat sampai ke perkampungan. Foto: Andi Fachrizal

Warga Ngaung Keruh mengerjakan pipanisasi secara swadaya di perhuluan sungai dengan harapan air bersih sampai ke perkampungan. Foto: Andi Fachrizal

 

Ternyata, upaya itu tak berhenti sebatas sosialisasi. Masih ada langkah lanjutan seperti membangun kesepakatan kerja sama dengan anggota kelompok, kepala dusun, kepala adat, hingga temenggung. Isinya, menjelaskan secara tertulis apa itu restorasi, termasuk hak dan kewajiban semua pihak yang terlibat. Pun soal status kawasan, harus jelas asul-usulnya. Jadi, kawasan yang direstorasi legal secara hukum.

Kebutuhan bibitnya pun disepakati. Ada tanaman buah, tanaman kayu keras, dan karet. Paling penting beragam. Ada untuk pakan orangutan dan karet. Masyarakat sendiri yang menentukannya berdasarkan kebutuhan.

“Namanya restorasi, kita lebih kedepankan mana jenis tanaman yang ada di sekitar kampung, baru disiapkan persemaiannya. Semua milik masyarakat. LSM hanya memonitoring serta memastikan prosesnya berjalan sesuai tahapan yang disepakati,” jelas Hendri.

Hingga saat ini, jumlah luasan restorasi di Dusun Ngaung Keruh mencapai 208 hektar dan dikerjakan oleh 27 keluarga secara swadaya. Kini, warga sudah bisa merasakan manfaat restorasi. Pipanisasi air bersih sedang dibangun. Mereka sendiri yang berembuk sebelum dibangun. Air bersih ini diperkirakan dapat mengalir hingga ke rumah panjang.

 

 

Strategi Baru Konservasi Badak Sumatera di Alam Liar Perlu Dilakukan?

Badak sumatera di Suaka Rhino Sumatera, TN Way Kambas. Foto: International Rhino Foundation

Badak sumatera di Suaka Rhino Sumatera, TN Way Kambas. Foto: International Rhino Foundation

 

Strategi baru konservasi badak sumatera di alam liar perlu dilakukan. Ini dikarenakan, konservasi yang dilakukan sekarang dengan fokus pelindungan habitat dan spesies tidak mampu menaikkan jumlah populasi badak sumatera di alam liar. Bahkan, di kantong populasi dengan proteksi yang tinggi, jumlahnya juga menurun.

Hal ini diungkapkan pakar reproduksi badak dari Institut Pertanian Bogor, Dr. drh. Muhammad Agil dalam Seminar Nasional Badak Sumatera di Kampus Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Aceh, Agustus lalu.

Populasi badak sumatera di Indonesia telah hilang 90 persen dalam kurun 30 tahun terakhir. Sebelumnya,  badak sumatera tersebar di lima kantong habitat, namun kini hanya tersisa tiga kantong yakni Kawasan Ekosistem Leuser di Sumatera bagian utara, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di bagian selatan Sumatera. Sementara di dua kantong habitat lainnya yakni di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) dan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di Sumatera bagian tengah, badak telah punah secara lokal antara 1993 – 2013.

Tahun 1984, diperkirakan masih ada 800 individu badak sumatera di alam liar, dan kini jumlahnya  diperkirakan tinggal 72 individu saja. Data PHVA (Population and Habitat Viability Assessment) 2015 menyebutkan, di Way Kambas jumlah badak ada 26 – 30 individu, sedangkan di Bukit Barisan Selatan ada 17 – 24 individu. Sementara Leuser, jumlahnya lebih besar antara 37 – 44 individu, namun terpisah di enam area dengan populasi kecil-kecil kurang dari 15 individu.

“Namun, semua data ini bukan berdasarkan saintifik, fakta temuan lapangan. Tapi, berdasarkan estimasi dan kesepakatan bersama. Kalau kita lihat peta lokasinya, 72 individu itu apakah ril?” tanya Agil.

Agil mengkawatirkan, sisa badak sumatera di alam justru lebih sedikit dari yang diumumkan. Karena, fakta-fakta di lapangan menunjukkan, untuk mendapatkan jumlah individu badak yang ada tak sebanyak yang disebutkan. Di TNBBS, hasil pemasangan kamera jebak selama tiga tahun  hanya menemukan tiga individu. Sementara di Way Kambas, diduga kurang dari 20 individu, mengingat ada kemungkinan tumpang tindih jejak, karena kondisi areal  yang datar. Termasuk sering tertukarnya membaca jejak tapir dan badak, sehingga over estimasi bisa terjadi.

“Jadi angka 72 masih dipertanyaan. Populasi badak di Leuser bahkan belum bisa dipastikan. Rata-rata ada 2 – 4 individu atau 9 – 21 individu. Itu juga masih tanda tanya karena belum berdasarkan survei yang diyakini,” ucap Agil.

Yang jelas, lanjutnya, di tiga kantong habitat badak tersisa ini, populasi badak menurun. ”Padahal, ini adalah kawasan-kawasan dengan proteksi habitat cukup tinggi dan laporan perburuan tidak ada. Jadi apa sebenarnya yang terjadi pada badak sumatera? Fokus konservasi badak sumatera adalah lahirnya anak-anak badak baru.”

 

Ratu bersama anak ke duanya berkelamin betina yang diberi nama Delilah di SRS, Way Kambas Lampung. Foto: Stephen Belcher/Canon/IRF/YABI

Ratu bersama anak ke duanya berkelamin betina yang diberi nama Delilah di SRS, Way Kambas, Lampung. Foto: Stephen Belcher/Canon/IRF/YABI

 

Tantangan

Yuyun Kurniawan, Koordinator Badak WWF Indonesia mengatakan, tantangan terhadap konservasi badak saat ini tak cukup hanya menjaga habitatnya dalam konteks menjaga hutannya tidak hilang dan tidak ada perburuan. Tantangan terberat menjaga populasi badak adalah faktor biologis yang hilang tiba-tiba karena kemampuannya berkembang biak sangat rendah. Apalagi, ia spesies sangat pemalu dan soliter.

Saat ini, jumlah badak di rata-rata kantong populasi antara 2 – 3 individu, 2 – 5 individu, dan 8 – 10 individu. Habitatnya terfragmentasi dan tidak memiliki koridor yang memungkinkan terjadinya perpindahan individu dengan variasi genetik. Sehingga, sering terjadi perkawinan sedarah yang mengancam genetik badak.

Menurut Yuyun, permasalahan lain adalah ancaman patologi (penyakit) pada organ reproduksi yang menyebabkan badak sulit hamil meski terjadi perkawinan. Perlu intervensi reproduksi untuk membantu badak berkembang biak.

“Kita harus cek reproduksinya apakah ada masalah atau tidak. Misalnya, ada patologi di organ reproduksinya yang menyebabkan susah hamil. Jika tidak bermasalah, bisa digabungkan dengan populasi lain yang lebih available untuk mendapatkan pasangan. Jika tidak mampu bereproduksi secara alamiah, bantuan manusia bisa dilakukan untuk reproduksi misalnya melalui bayi tabung. Untuk itu, kita perlu mempertimbangkan penyelamatan badak dengan intervensi reproduksi.”

Masalah reproduksi dan patologi badak, perlu perhatian serius karena kondisi konservasi badak sumatera di Indonesia saat ini persis yang terjadi pada badak sumatera di Malaysia pada 1980-an. Saat itu, negara jiran begitu eforia dengan populasi badak yang diperkirakan 50 – 80 individu. Malaysia juga melakukan proteksi habitat dan spesies, kenyataan si tahun 2000, badak di Semenanjung Malaya punah. Sementara 2014, cuma tersisa satu individu di Sabah yang kemudian ditangkap dan dipindahkan ke Rhino Santuary di Tabin. Malaysia kini hanya punya tiga badak sumatera yang tinggal di santuari.

Agil mengatakan, dari  Malaysia kita mendapat data-data penelitian, 14 individu badak yang mati di santuari itu sekitar 64 persen organ reproduksi badak betinanya ada gangguan patologi. Seperti, ditemukannya kista di uterus sehingga badak sulit hamil meski terjadi perkawinan.  “Perlindungan, pemantauan dan penyelamatan habitat penting badak sumatera dengan populasi kecil, harus menggunakan assessment saintifik. Terutama, untuk menentukan jumlah populasi yang tepat. Juga, menentukan tingkat fertilitas, patologi organ reproduksi, serta indeks in-breeding dan variasi genetiknya,” ujarnya.

 

Najaq, badak sumatera yang berada di Kutai Barat, Kalimantan Timur, yang mati pada Selasa dini hari, 5 April 2016. Foto: Sugeng Hendratno/WWF-Indonesia

Najaq, badak sumatera di Kutai Barat, Kalimantan Timur, yang mati pada Selasa dini hari, 5 April 2016. Foto: Sugeng Hendratno/WWF-Indonesia

 

Strategi

Saat ini, Indonesia telah mengembangkan strategi konservasi dan manajemen untuk metapopulasi badak sumatera dan jawa. Misalnya, membangun zona perlindungan intensif (Intensive Protection Zone/IPZ) untuk mengkonsolidasikan populasi badak antara 20-30 individu, membangun zona manajemen intensif (MNZ) terhadap populasi badak, 15 individu, yang memiliki potensi reproduksi dan genetik beragam. Jika populasinya kurang dari 15 individu, perlu memindahkan badak ke populasi lain.

Indonesia juga sudah membangun sanctuary di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Keberadaan Sumatran Rhino Santuary ini dapat membantu badak yang mengalami patologi, namun masih memiliki potensi reproduksi misalnya dengan membuat bayi tabung.

Namun, Indonesia masih kesulitan menyusun strategi konservasi yang tepat untuk badak sumatera yang ada di tiga kantong habitatnya. Penyebab utamanya, karena belum ada data akurat populasinya. Senada dengan Muhammad Agil, Yuyun Kurniawan menyebutkan sumber-sumber informasi tentang populasi yang ada saat ini tidak berdasarkan  metode survei yang benar dan tepat secara saintifik. Sebagian besar adalah dugaan.

“Saat ini, data ilmiah yang akurat tentang badak sumatera sangat diperlukan sehingga Indonesia bisa menyusun rencana aksi yang jelas, bagaimana membangun strategi konservasi yang tepat untuk badak sumatera,” kata Yuyun.

 

Gambar pertama dari spesimen pertama badak sumatera yang dikenal dalam ilmu pengetahuan Barat, karya William Bell, 1793. Sumber: Wikipedia

Gambar pertama dari spesimen pertama badak sumatera yang dikenal dalam ilmu pengetahuan Barat, karya William Bell, 1793. Sumber: Wikipedia

 

Survei menyeluruh tentang badak sumatera dengan metode seperti analisis DNA, pemasangan kamera jebak dan survei okupansi perlu dilakukan menyeluruh di tiga kantong tersebut. Data populasi, ratio sex, struktur populasi dari anak sampai dewasa, dan kualitas variasi genetik harus dilakukan. Dengan demikian, akan diketahui status populasi pada semua kantong guna penyusunan strategi konservasi. “Kenyataannya, sampai sekarang informasi masih minim,” kata Agil.

Agil mengatakan, badak sumatera satu-satunya badak di dunia yang memiliki rambut di seluruh tubuhnya. Karena berbeda dengan spesies lain dan bentuknya yang unik, dia disebut badak paling primitif di dunia. “Semoga kita tidak terlambat memutuskan apa yang harus kita lakukan untuk badak sumatera. Jika tidak, kejadian di TNKS akan terulang di tiga kantong habitat ini. Kita berpacu dengan waktu,” paparnya.

 

 

Tangis Sedih Fatimah Melepas Bayi Unyuk Belajar Liar

Induk orangutan dan bayinya. Foto: Rhett Butler

Induk orangutan dan bayinya. Foto: Rhett Butler

 

Perempuan bertudung merah muda itu berulang kali mengusap air mata. Kepalanya lebih banyak tertunduk. Sesekali dia menyeka wajahnya, seraya melihat lelaki yang tengah disorot kamera. Muhammad Djaprie DA (45) adalah suami Fatimah, perempuan bertudung merah muda tadi. Di hadapan awak media, Djaprie menyatakan akan menyerahkan satu individu bayi orangutan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat.

“Saya dapat dari daerah Serimbu, Kuala Behe, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, pada Februari 2016. Saat itu, saya tengah mengerjakan proyek pembangunan tower di perusahaan perkebunan PT. Djarum,” kata Djaprie, Rabu, 21 September. Unyuk, demikian individu orangutan (Pongo pygmeus) tersebut mereka namai. Sebelum diserahkan ke petugas BKSDA Kalbar, Unyuk mengenakan popok bayi, serta baju kaos bergaris putih-biru.

Walau disoroti kamera, Unyuk tampak nyaman dipangkuan Djaprie. Sesekali dia menengadah, memerhatikan Djaprie yang tengah berbicara. Tak jarang, Unyuk juga merebahkan kepalanya di dada Djaprie, atau mengalungkan lengannya di leher Djaprie. Di keluarga Djaprie, Unyuk diperlakukan selayaknya adik Anisa, anak perempuan mereka.

Di Jalan Husein Hamzah, Pontianak, mereka tinggal. Selama tujuh bulan hidup bersama Unyuk, Fatimah sangat hafal kebiasaannya. Unyuk kerap menemani Fatimah memasak di dapur. “Pagi-pagi dia sudah bangun dan minta susu. Dia suka memainkan bawang, kalau saya sedang masak,” katanya. Fatimah tak bisa membendung air matanya. Sesaat sebelum diserahkan, Unyuk berulang kali dikecupnya.

 

Unyuk yang diserakan ke BKSDA Kalbar untuk selanjutnya dirawat di YIARI, Ketapang. Foto: BKSDA Kalbar

Unyuk yang diserakan ke BKSDA Kalbar untuk selanjutnya dirawat di YIARI, Ketapang. Foto: BKSDA Kalbar

 

Djaprie mengisahkan, pertama kali melihat Unyuk diperlihara warga di sekitar perkebunan PT Djarum di Serimbu. Dia lantas mengutarakan niat mengadopsi bayi orangutan tersebut. Tetapi, niatnya ditolak. Namun, dua hari kemudian warga tersebut mendatangi Djaprie dengan membawa Unyuk. “Kata orang itu, istrinya sering marah, karena dia lebih suka membelikan Unyuk susu daripada anaknya sendiri. Jadi dia serahkan kepada saya,” tuturnya.

Usai menyelesaikan proyeknya  di Serimbu, Djaprie membawa Unyuk dengan mobil pick up. Dia ingat, saat itu Unyuk belum bisa jalan. Namun, Unyuk cepat akrab dengan anak dan istrinya. Djaprie memberi Unyuk susu yang dicampur biskuit. Sesekali diberi buah, mangga adalah kesukaannya.

Unyuk dibiarkan bebas di rumah. Tidur pun ikut di kamar. “Dia tidak mau tidur sebelum saya usap-usap,” kata Djaprie, yang mengaku iklas menyerahkan Unyuk. Sebelumnya, dia merasa kasian jika Unyuk diserahkan kepada yang berwenang. Dia bahkan menduga, Unyuk bisa diperjualbelikan oleh oknum. Tetapi dia menyadari, tempat paling baik untuk Unyuk adalah hutan.

Sehari kemudian, Tim Gugus Tugas Penyelamatan Tumbuhan-Satwa Lindung, mengevakuasi Unyuk dari kediaman Djaprie. “Setelah diperiksa, Unyuk dalam kondisi sehat. Usianya, diperkirakan sembilan bulan dan berjenis kelamin perempuan,” tukas Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Kalimantan Barat, Sustyo Iriyono. Untuk selanjutnya, BKSDA akan mengirimkan Unyuk untuk dititiprawatkan dan direhabilitasi di Yayasan International Animal Rescue Indonesia di Kabupaten Ketapang.

Sustyo menyatakan rasa terima kasih kepada Djaprie, yang telah menyerahkan satwa lindung peliharaannya sukarela. Terlepas dari itu, Sustyo ingin menekankan kembali bahwa memelihara satwa dilindungi dapat dikenai sanksi pidana.

Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 Pasal 21 disebutkan, siapa saja yang memelihara, memburu, memperjualbelikan dan menyelundupkan orangutan, owa-owa, kukang, beruang dan satwa liar dilindungi lainnya, akan dikenakan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp100 juta.

BKSDA terus berupaya melakukan penyadartahuan kepada masyarakat. Upaya ini, sedikit banyak membuahkan hasil. Banyak warga yang sukarela menyerahkan satwa peliharaannya.

Selain sanksi pidana yang menjadi ancaman ke pemelihara orangutan, sang pemelihara juga terancam tertular beberapa penyakit. Penularan dapat terjadi, karena susunan DNA orangutan hampir sama dengan manusia. Orang yang memelihara orangutan dapat terjangkit penyakit yang sama dengan peliharaannya. Penyakit tersebut antara lain; TBC, hepatitis A, B dan C, herpes, tifus, malaria, diare, influenza dan lainnya.

 

 

Pesona Si Imut Delilah di Way Kambas, Siapa Dia?

Delilah, badak sumatera betina yang lahir dari pasangan Ratu dan Andalas, 12 Mei 2016. Nama Delilah diberikan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Foto: Rhett Butler

Delilah, badak sumatera betina yang lahir dari pasangan Ratu dan Andalas, 12 Mei 2016. Nama Delilah diberikan langsung Presiden Joko Widodo. Foto: Rhett Butler

 

Delilah, siapakah gerangan? Dia adalah badak betina yang lahir 12 Mei 2016 pukul 05.40 WIB di Suaka Rhino Sumatera (Sumatran Rhino Sanctuary, SRS), Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Ia merupakan anak kedua dari pasangan Ratu (15 tahun) dan Andalas (15 tahun), yang empat tahun sebelumnya telah melahirkan badak berkelamin jantan, Andatu, 23 Juni 2012.

Ratu, sang induk, merupakan badak betina yang menjadi penghuni SRS pada 2005. Di tahun itu, Ratu yang umurnya diperkirakan lima tahun, masuk ke Desa Labuhan Ratu, September 2005. Desa ini letaknya hanya dua kilometer dari Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Sementara Andalas, merupakan badak sumatera yang lahir di Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat (2001). Ia dipulangkan ke Indonesia tahun 2007 lalu.

 

Ratu dan Delilah di kubangan lumpur. Perkembangan Delilah terus dipantau 24 jam oleh penjaga badak dan tim dokter yang ada di SRS. Foto: Rhett Butler

Ratu dan Delilah di kubangan lumpur. Perkembangan Delilah terus dipantau 24 jam oleh penjaganya dan tim dokter yang ada di SRS. Foto: Rhett Butler

 

Delilah bukanlah sembarang nama. Adalah Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yang memberikan nama tersebut yang disampaikan oleh Tachrir Fathoni, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Tepatnya saat peresmian Taman Nasional Way Kambas(TNWK) sebagai Asean Heritage Park (AHP) ke-36 pada 27 Juli 2016. TNWK ditetapkan sebagai Tanam Nasional Warisan Asia Tenggara karena memiliki keragaman hayati yang tinggi; ada tapir, beruang, gajah, badak, dan harimau sumatera di sana.

Bagaimana kabar Delilah? Diumurnya yang ke-133 hari, beratnya sudah mencapai 178 kilogram. Pertumbuhannya yang baik, membuat Delilah imut ini diharapkan akan menghasilkan keturunan badak yang sehat pula di masa mendatang. “Kondisi fisik secara umum sehat, tidak ada gangguan. Darahnya juga normal, sebagaimana badak lainnya,” tutur drh. Zulfi Arsan, Dokter Hewan Suaka Rhino Sumatera, kepada Mongabay, Kamis (22/09/2016).

Menurut Zulfi, berdasarkan pengalamannya bersama tim dokter, saat menangani Andatu, hingga umur tiga tahun, anak badak akan tetap diasuh induknya. Namun, kondisi yang berbeda akan terjadi terhadap anak badak yang lahir di kebun binatang. Prosesnya lebih cepat, sekitar umur 1,5 tahun, sudah lepas dari sang induk.

Ratu dan Delilah terus diperhatikan oleh keeper (penjaga badak) dan tim dokter SRS, 24 jam penuh. Ini dilakukan guna memantau perkembangan hariannya yang tentu saja menjaganya. Sedangkan perlakuan pemeliharaan lainnya dilakukan sebagaimana badak lainnya, ada pemberian pakan dan pemerliharaan kesehatan.

“Jika dibadingkan Andatu, perkembangan Delilah secara umum hampir sama. Hanya saja, saat mengasuh Andatu, Ratu sangat protektif sementara terhadap Delilah tampak percaya diri. Ini terlihat dari sedikit perbedaan karakter pada keduanya. Andatu cenderung aktif alias  banyak gerak, sedangkan Delilah bertipikal santai,” papar Zulfi.

 

Delilah, saat awal kelahirannya. Delilah merupakan bayi kedua dari pasangan Ratu dan Andalas. Sebelumnya ada Andatu yang lahir di SRS, 2012 lalu. Foto: Stephen Belcher/Canon/IRF/YABI

Delilah di awal kelahirannya. Foto: Stephen Belcher/Canon/IRF/YABI

 

Widodo S. Ramono, Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI), mengatakan Delilah merupakan satu dari tujuh individu badak sumatera yang ada di SRS. Ada Ratu, Andalas, Rosa, Bina, Harapan, Andatu, dan Delilah. “Kelahiran Delilah ini, dan Andatu kakaknya, menunjukkan kepada dunia luas, bahwa kita mampu meningkatkan polulasi badak sumatera yang statusnya saat ini Kritis (Critically Endangered/CR),” ujarnya.

Terkait nama yang disematkan Presiden tersebut, Ramono menuturkan bahwa tidak tahu pasti mengapa nama Delilah yang dipilih. Ada tiga penafsiran terkait hal itu. Pertama, Delilah adalah kekasihnya manusia kuat, Samson, yang terkenal dalam cerita. Kedua, Di’l Allah yang merupakan Bahasa Arab berarti anugrah dari Allah. Ketiga, dalam Bahasa Jawa ada juga tafsiran “Ndelalah kersaning Allah” yang artinya keajaiban atas karunia Allah. “Jelasnya, ya harus tanya Presiden langsung.”

Kelahiran Delilah pastinya, bukan kebetulan atau tiba-tiba. Tetapi usaha keras kita semua guna melindungi dan meningkatkan populasi badak sumatera. Jumlah badak sumatera yang keseluruhan saat ini diperkirakan sekitar 100 individu menunjukkan ada peningkatan angka dua persen, untuk kelahiran Delilah dan Andatu. “Di alam memang ada juga badak sumatera yang lahir, tapi apakah kita bisa memastikannya? Mengingat, populasi badak sumatera yang ada saat ini terbatas dan berada di kantong-kantong yang terisolasi satu dengan lainnya,” papar Widodo.

 

Delilah dan Ratu, sang induk, di SRS. Foto: YABI

Delilah dan Ratu, sang induk. Saat ini, ada tujuh individu badak di SRS. Foto: Bachran/YABI

 

Harapan

Haerudin R. Sudjudin, pakar badak Indonesia sekaligus Program Manajer Yayasan Badak Indonesia menjelaskan, badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) telah hidup di muka bumi sejak 20 juta tahun silam dan merupakan badak terkecil yang ada saat ini. Pemberian nama Dicerorhinus sumatrensis oleh Fischer pada 1814 dianggap paling tepat, yang hingga kini tetap dipertahankan meskipun pernah juga diberikan nama berbeda seperti Ceratorhinus sumatrensis (sumatranus) maupun Rhinoceros lasioti.

Badak bercula dua ini tingginya hanya sekitar 120 cm-135 cm dengan panjang tubuh 240-270 cm. Beratnya, rata-rata sekitar 900-an kilogram. Bandingkan dengan badak jawa yang ukuran tingginya 128 – 155 cm dan panjang badan dari ujung moncong hingga ujung ekor sekitar 251 – 392 cm. Sementara beratnya mencapai 1.600 – 2.280 kilogram.

Ciri-ciri utamanya adalah berambut, bercula dua, dan merupakan badak paling primitif. Dahulu, persebarannya ada di Asia Tenggara. Namun kini, populasinya menurun drastis dan diperkirakan hanya tersisa 100 individu. “Satu individu badak betina sumatera saat ini sangat berharga untuk menambah jumlah yang ada sekarang.”

 

Delilah yang memberi harapan bagi pertambahan populasi badak sumatera. Foto: Bachran/YABI

Delilah yang memberi harapan bagi pertambahan populasi badak sumatera. Foto: Bachran/YABI

 

Bila dilihat dinamika populasi badak sumatera, hingga tahun 1986 jumlahnya diperkirakan masih ada 145 – 200 individu. Namun, pada 1986 – 2007, populasinya menurun hingga 82 persen bahkan delapan kantong populasi badak yang ada di Sumatera tidak aja jejaknya sama sekali.

Secara umum, perburuan (poaching) merupakan ancaman utama kehidupan badak. Habitat yang terdegradasi turut mempersempit hidup badak sumatera. Adanya tanaman invasif seperti gelam di TNWK dan mantangan (Meremia peltata) di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan turut menekan pertumbuhan pakan badak di habitatnya. “Kondisi badak sumatera saat ini, terpencar dalam populasi kecil dan soliter di alam. Sehingga, terjadinya perkawinan di alam sangat rendah.”

Menurut Haerudin, hal yang harus dilakukan agar badak sumatera tetap terjaga adalah harus ada kelengkapan informasi persebaran dan habitatnya. Populasi yang kecil tentunya akan membawa kemungkinan kepunahan yang lebih besar, disebabkan tidak adanya pertambahan jumlah individu. “Pemulihan populasi yang terukur sangat diperlukan agar denyut kehidupan badak sumatera selalu berdetak,” jelasnya.

 

 

Apakah Letusan Krakatau 1883 Berdampak pada Kehidupan Badak Jawa?

Badak jawa yang berada di penangkaran tahun 1900-an. Sumber: Wikipedia

Badak jawa yang berada di penangkaran tahun 1900-an. Sumber: Wikipedia

 

Badak jawa (Rhinoceros sondaicus) adalah mamalia langka di dunia. Jumlahnya tak lebih dari 70 individu, yang kini bertahan hidup di area terbatas di ujung barat Pulau Jawa, yakni Taman Nasional Ujung Kulon. Inilah sisa terakhir badak jawa setelah badak jawa terakhir di Vietnam mati ditembak pemburu pada 2010. Meski disebut badak jawa, dulunya satwa ini tidak terbatas hidup di Pulau Jawa saja, namun di berbagai tempat di Asia Tenggara hingga India.

Ada yang meyakini bahwa letusan dahsyat Krakatau pada 1883 tak hanya menewaskan ribuan orang di Ujung Kulon, tapi juga membunuh semua badak jawa di wilayah tersebut.  Masih menurut para ahli, badak jawa yang menghuni Ujung Kulon saat ini adalah keturunan dari badak jawa dari wilayah di luar Ujung Kulon pasca-malapetaka Krakatau.

Hal ini dinyatakan Dr. Prithiviraj Fernando, Direktur Centre for Conservation and Research (CCR), Srilanka pada 2006. Namun, banyak yang meragukan pendapat ini. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Nico J. van Strien dan Kees Rookmaaker, dinyatakan pendapat yang berbeda.

 

Badak jawa yang berada di London Zoo pada Maret 1874 hingga Januari 1885

Badak jawa yang berada di London Zoo pada Maret 1874 hingga Januari 1885

 

Selama bertahun, Ujung Kulon telah diteliti oleh Andries Hoogerwerf (1906-1977), yang pada 1931 hingga 1937 bekerja di Botanical Garden of Buitenzorg (Kebun Raya Bogor) sebagai Kepala Departemen Perburuan dan Konservasi Alam. Sejak 1937, dia diangkat mengepalai program konservasi alam di Hindia Belanda.

Hoogerwerf mengunjungi Ujung Kulon beberapa kali pada dekade 30-an hingga awal 40-an. Observasinya dideskripsikan dalam berbagai tulisan yang menggarisbawahi buruknya kondisi satwa-satwa di Ujung Kulon. Hingga, terbitlah karyanya yang populer,  ‘Udjung Kulon, the land of the last Javan rhinoceros’, yang dipakai sebagai bahan utama mempelajari kawasan Ujung Kulon hingga jauh hari setelahnya. Studi tentang ekologi dan sifat-sifat badak jawa kemudian dilakukan oleh seorang ahli biologi Swiss, Rudolf Schenkel (1914-2003) dan istrinya.

 

Spesimen anakan badak jawa yang berada di museum. Sumber: Wikipedia

Spesimen anakan badak jawa yang dipamerkan di museum Leiden, Belanda. Sumber: Wikipedia

 

Ujung Kulon sebelum letusan Krakatau 1883

19 Januari 1752, seorang pendeta yang juga naturalis dari Swedia, Pehr Osbeck, berhasil mencapai Pulau Peucang. Dia mencatat, sangat berbahaya bagi siapapun waktu itu untuk mencapai pantai karena banyaknya batu karang. Dia juga menyatakan, ia berjalan di tepi pantai di pinggiran hutan sangat lebat. Basah, dan berbahaya karena dia meyakini akan banyaknya harimau dan karnivora lain. Meski begitu dia tidak menemukan satupun dari mereka, termasuk badak jawa.

Titik barat Pulau Jawa tersebut memang belum tereksplorasi hingga awal abad ke-19. Pada 1807, ada upaya dari pemerintah kolonial Belanda untuk membangun pelabuhan laut kecil untuk Angkatan Laut Belanda waktu itu, di pantai seberang Pulau Peucang, atas perintah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Tapi, upaya tersebut dihentikan.

 

Lukisan yang mengilustrasikan perburuan badak jawa pada 1861. Sumber: Wikipedia

Lukisan yang mengilustrasikan perburuan badak jawa pada 1861. Sumber: Wikipedia

 

Pada 1816, Kapten Basil Hall yang berlabuh di Teluk Peucang menulis: “Ketika dua orang pegawai saya berusaha memasuki hutan, mereka sama sekali tak mampu menembusnya karena lebatnya hutan. Tiba-tiba seluruh hutan ‘bersuara’ dengan burung-burung yang terbang dan mengeluarkan suara bersahutan. Singkatnya, hutan ini sama sekali belum tersentuh, dan tidak ada penghuni di dalamnya, ataupun pernah dikunjungi oleh siapapun selama ini.”

Dua  ekspedisi selanjutnya dilakukan pada 1853 dan 1854 oleh “Koninklijke Natuurkundige Vereeniging” (Royal Society for Natural History) untuk mengeksplorasi daerah tersebut. Tidak ditemukan perkembangan apapun, termasuk keberadaaan badak. Waktu itu, hanya ada satu pemukiman penduduk, sebuah kampung bernama Djungkulan atau Djungkulon dekat Pulau Peucang.

Pada 1857, Arthur Adams yang juga berkunjung ke Pulau Peucang berhasil masuk ke dalam hutan yang lebat tersebut. Dia menyebutkan, terdapat air terjun kecil sekitar tiga kilometer dari kampung Djungkulon. Di tulisannya, dia menyatakan penduduk setempat mengatakan bahwa seekor badak mengejar para pelaut yang berlabuh di wilayah tersebut beberapa waktu sebelumnya. Adams juga menemukan tanah yang masih membekas sisa-sisa tapak kaki hewan yang besar dan berat itu.

 

Badak jawa yang mati di tangan pemburu Belanda di Ujung Kulon pada 1895. Sumber: Wikipedia

Badak jawa yang mati di tangan pemburu Belanda di Ujung Kulon pada 1895. Sumber: Wikipedia

 

Efek letusan Krakatau 1883

Ketika Krakatau meletus pada 27 Agustus 1883, gelombang tinggi menerjang cepat dari Selat Sunda menuju pantai-pantai di Jawa. Menurut para sejarawan, penduduk desa yang tinggal di Ujung Kulon berkumpul di atas mercusuar (40 m) dan selamat. Meski desa-desa di sekitar pantai terdampak hebat akibat letusan Krakatau dan tsunami yang mengikutinya, banyak ahli yang mengatakan bahwa dampak jangka panjang terhadap kehidupan satwa di Ujung Kulon tidak terlalu besar. Selain itu, ombak tsunami tak masuk terlalu dalam ke hutan.

Badak jawa hidup di berbagai tempat di Pulau Jawa setidaknya hingga awal 1900-an, baik di area yang kini masuk wilayah Banten maupun wilayah yang kini masuk Jawa Barat. Waktu itu, seringkali badak ditembak di Banten Selatan. Dua orang Belanda, Van Weede dan W. Boreel memburu dan menembak badak di Cikepuh, sebelah timur Pelabuhan Ratu pada 1908 dan menyatakan penyelesalannya setelah mengetahui bahwa populasi badak sangat menurun.

Pada 1914, seekor badak betina berukuran besar ditembak di wilayah Banten barat daya oleh V. De Sturler, yang kemudian mendonasikan spesimennya ke Zoological Museum di Bogor. Akhirnya, badak jawa terakhir di Jawa bagian selatan ditembak di Tasikmalaya oleh P.F. Franck pada 31 Januari 1934 dan spesimennya kini juga berada di Zoological Museum di Bogor.

Perburuan dan pembunuhan badak jawa di Pulau Jawa sepenuhnya dilarang pada 1909 oleh pemerintah kolonial Belanda. Hukuman maksimal bagi pelaku adalah kurungan 8 hari atau denda 100 guilder. Meskipun perburuan berlanjut secara sporadis dan diam-diam, populasi badak meningkat di barat daya Pulau Jawa, khususnya Ujung Kulon.

 

 

Letusan Krakatau yang terjadi pada 1883. Sumber: Wikipedia

Letusan Krakatau yang terjadi pada 1883. Sumber: Wikipedia

 

16 November 1921, Pemerintah Belanda menetapkan Ujung Kulon sebagai cagar alam. Hal ini mempertegas aturan larangan membunuh, menjebak, menangkap satwa apapun di kawasan Ujung Kulon. Termasuk pembangunan kawasan permukiman. Meski begitu, tidak ada supervisi untuk memastikan bahwa hukum benar dipatuhi, dan waktu itu memang memasuki kawasan hutan di Ujung Kulon tidak dilarang.

Waktu itu, banyak laporan dan bukti bahwa badak dan satwa lain tetap saja diburu di Ujung Kulon pada 1930-an. Pada Februari 1930, seorang warga Tionghoa ditangkap karena menembak dan membunuh setidaknya dua badak di Ujung Kulon, meski kemudian dilepaskan. Hingga 1935, banyak laporan yang menyebutkan sejumlah besar badak jawa telah dibunuh secara ilegal di Ujung Kulon. Perburuan terus terjadi setidaknya saat Jepang menguasai Indonesia hingga 1945.

Dari para pemburu yang tertangkap, diperoleh keterangan bahwa perburuan badak semata-mata didasari pada tingginya permintaan akan cula untuk dijadikan obat, dan perdagangan cula ini menyebar ke berbagai tempat di Jawa.

 

Badak jawa di habitat aslinya di Ujung Kulon. Foto: Taman Nasional Ujung Kulon

Badak jawa di habitat aslinya di Ujung Kulon. Foto: Balai Taman Nasional Ujung Kulon

 

Kesimpulan

Dampak dari letusan Kratatu terhadap kehidupan alam liar di Ujung Kulon tak dapat dipastikan secara pasti. Bisa jadi memang ada korban, atau bisa jadi satwa-satwa besar seperti badak mampu bertahan dari hantaman ombak, jika memang ombaknya jauh ke dalam hutan.

Tentu saja, ada dampak terhadap tumbuhan di hutan, karena masuknya air garam ke dalam tanah, namun apakah hal ini juga berdampak bagi turunnya populasi hewan di Ujung Kulon, juga tidak diketahui.

Tidak diketahui secara pasti populasi badak sebelum letusan Krakatau, dan laporan-laporan mengenai penampakan badak memang sangat jarang. Apakah populasi mereka yang terdampak hebat karena letusan tersebut, juga tidak diketahui karena tidak adanya literatur mengenai hal tersebut.

Namun, sejak letusan Krakatau, laporan penampakan badak jawa masih sering didapatkan secara reguler. Secara singkat, bisa disimpulkan bahwa kecilnya populasi badak jawa bukan karena letusan Krakatau 1883, namun karena perburuan dan pembunuhan. Untuk diambil culanya.

 

Sumber Tulisan:

 

 

 

 

PLTU Batubara Sumber Polusi, Kebijakan Pemerintah Terhadap Energi Perlu Direvisi

 

Batubara yang sarat permasalahan terutama polusi. Foto: Hendar

Batubara yang sarat permasalahan terutama polusi. Foto: Hendar

 

Program pemerintah membangun pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan 35.000 megawatt dipersoalkan oleh organisasi lingkungan hidup, yang menilai pembangunan tersebut belum memperhatikan aspek kelestarian lingkungan hidup.

Media Officer Greenpeace Indonesia, Rahma Sofia mengatakan, pengadaan listrik 35.000 megawatt masih banyak menggunakan energi penggerak berbahan bakar fosil, yakni batubara. Padahal menurut Greenpeace Indonesia, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara, merupakan penyumbang terbesar polusi udara di Indonesia.

“PLTU batubara itu mengeluarkan sejumlah polutan berbahaya, salah satunya PM2,5. Ukurannya sangat kecil, tapi bisa masuk ke aliran darah kita. Jadi, bukan hanya asap kendaraan bermotor, polusi yang paling besar ternyata dari PLTU batubara.”

Proyek pengadaan listrik yang berjalan lima tahun (2014-2019) ini, dianggap kurang memperhatikan faktor lingkungan dan kesehatan masyarakat, akibat dari polusi yang dihasilkan. Hasil penelitian pemodelan atmosfer yang menghitung emisi PLTU batubara oleh Harvard University dan Greenpeace Indonesia menunjukkan, polusinya diduga menyebabkan kematian dini 6.500 jiwa per tahun.

“Polutannya bisa masuk ke aliran darah kita, masuk ke sistem jantung yang menyebabakan berbagai penyakit pernapasan. Bukan cuma ISPA, atau flu batuk biasa, tapi kanker paru-paru, paru-paru kronis, penyakit jantung, jantung iskemik, juga asma.”

 

Dampak yang ditimbulkan batubara, saat ini dan perkiraan mendatang saat proyek batubara 35.000 MW terealisasi. Sumber: Greenpeace

Dampak yang ditimbulkan batubara, saat ini dan perkiraan mendatang saat proyek batubara 35.000 MW terealisasi. Sumber: Greenpeace

 

Tidak hanya PM2,5, ada juga polutan eperti SO2, NOx dan zat berbahaya lain. Polutan itu juga dapat mencapai radius 500 kilometer dari sumber polusi. Greenpeace Indonesia mendesak pemerintah melakukan evaluasi terkait kebijakan energi, yang masih belum mengutamakan pemakaian energi terbarukan untuk pembangkit tenaga listrik.

Di Amerika Serikat, sekitar 200 PLTU batubara akan ditutup terhitung 2015. Bahkan, 24 perusahaan telah berhenti beroperasi dalam tiga tahun terakhir. Selain itu, Tiongkok dan India mulai melakukan revisi kebijakan pengembangan energi.

“India dan Tiongkok telah menyadari, PLTU bukan merupakan arah pembangunan yang tepat, terkait kualitas udara yang sangat buruk. India menargetkan membangun PLTS (tenaga surya) dengan kapasitas 15.000 megawatt,” ujar Rahma.

 

Polusi PM2,5 yang berasal dari PLTU batubara. Sumber: Greenpeace

Polusi PM2,5 yang berasal dari PLTU batubara. Sumber: Greenpeace

 

Indonesia diharapkan beralih dari penggunaan energi fosil ke energi terbarukan, yang tentunya  diikuti kebijakan tegas pemerintah guna mendukung pengembangan teknologi tersebut. Seperti energi matahari, angin, mikrohidro, maupun energi ombak.

“Data Kementerian ESDM menyebutkan, sekitar 18 persen wilayah Indonesia belum dapat mengakses listrik, kebanyakan di pulau-pulau terluar. Saat ini, energi listrik masih berpusat dibangun di Jawa,” tuturnya.

 

PLTU Paiton di Situbondo, Jawa Timur, yang menggunakan batubara. Foto: Petrus Riski

PLTU Paiton di Situbondo, Jawa Timur, yang menggunakan batubara. Foto: Petrus Riski

 

Tidak tepat sasaran

Tanggapan pengadaan energi listrik 35.000 megawatt yang bergantung pada batubara, juga diungkapkan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi ) Jawa Timur, Rere Christanto.

Rere menilai, rencana itu untuk melindungi industri ekstraktif agar tetap hidup di tengah kelesuan yang padahal merusak lingkungan. “Satu-satunya cara adalah menggunakan batubara untuk kepentingan dalam negeri, seperti PLTU,” jelasnya Senin (19/09/2016).

Kebutuhan energi listrik 35.000 megawatt telah dikukuhkan pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019. Dari pembangunan itu, dibutuhkan dana lebih dari Rp1.127 triliun dan memerlukan keterlibatan swasta untuk memasok energi sebesar 10.681 megawatt. Walhi mendesak, indsutri-industri ikut memikirkan energinya sendiri, sehingga tidak membebani anggaran negara yang telah banyak memberikan subsidi untuk energi listrik.

“Industri harus dipaksa juga untuk memikirkan kepentingan energinya sendiri, tidak melulu harus mencari subsidi dari negara,” tandas Rere.

 

 

Masih Ada Potensi Geothermal di Tempat Lain, Mengapa TNGL yang Diganggu?

Listrik tenaga hidro di Gayo Lues yang memanfaatkan air sungai yang berhulu di TNGL. Foto: Junaidi Hanafiah

Listrik tenaga hidro di Gayo Lues yang memanfaatkan air sungai yang berhulu di TNGL. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Gubernur Aceh Zaini Abdullah, pada 16 Agustus 2016, mengirimkan surat kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. Isinya, permintaan revisi sebagian zona inti Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) menjadi zona pemanfaatan, dan memberi izin kepada PT. Hitay Panas Energy, perusahaan asal Turki, untuk melakukan eksplorasi panas bumi di wilayah tersebut.

Terkait surat tersebut, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Aceh, Husaini Syamaun, Senin (19/09/2016) menjelaskan, rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Kabupaten Gayo Lues itu merupakan bentuk dukungan Pemerintah Aceh terhadap program Strategis Nasional. “Pembangkit listrik ini ramah lingkungan, dibandingkan listrik dengan batubara. Geothermal lebih ramah lingkungan atau biasa disebut energi hijau.”

Husaini mengatakan, Gubernur Aceh mengirimkan surat dukungan pembangunan itu untuk menyahuti pemerintah pusat. Karena lokasi proyek berada di Zona Inti Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), maka Pemerintah Aceh menyurati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Dalam surat tersebut, Pemerintah Aceh hanya meminta agar dilakukan evaluasi untuk perubahan zona inti menjadi zona pemanfaatan yang semua keputusan ada di tangan Menteri LHK. “Bila lokasi rencana proyek boleh diubah menjadi zona pemanfaatan, kami minta diubah. Tetapi, bila hasil evaluasi menunjukkan daerah tersebut tidak diganggu, kami akan menerima.”

Berapa luasan wilayah usulan tersebut? Dalam persentasi yang dilakukan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Juni 2016, dipaparkan bahwa luas wilayah usulan perubahan zona inti TNGL menjadi zona pemanfaatan sebesar 18.110 hektare. Area potensi untuk satu unit panas bumi di Gunung Kembar, Kabupaten Gayo Lues atau di zona inti TNGL itu nantinya sekitar 7.766 hektare. Sementara luas wilayah yang akan dimanfaatkan untuk perusahaan panas bumi sekitar 50-100 hektare.

Saat ditanya apakah Pemerintah Aceh sudah mengetahui bahwa KLHK menolak rencana tersebut, Husaini mengatakan, dirinya belum mendengar hal itu. “Evaluasi belum dilakukan dan butuh waktu yang tidak sebentar,” paparnya.

Sebagaimana diberitakan Mongabay.com, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Tachrir Fathoni di sela IUCN World Conservation Congress yang bertempat di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat menuturkan, KLHK menolak surat dari Gubernur Aceh Zaini Abdullah yang meminta sebagian zona inti TNGL diubah menjadi zona pemanfaatan. “Menteri LHK telah menerima surat tersebut. Dari hasil sosialisasi dan konsultasi publik, terlihat usulan terkait zonasi tersebut banyak pertentangan sehingga harus dihentikan,” jelasnya.

 

Kawasan ekosistem Leuser merupakan wilayah penting bagi kehidupan gajah, harimau, badak, dan orangutan sumatera. Masyarakat yang hidup di wilayah sekitar tersebut juga memanfaatkan air yang merupakan bagian penting dari kehidupan mereka.

Kawasan Ekosistem Leuser merupakan wilayah penting bagi kehidupan gajah, harimau, badak, dan orangutan sumatera. Masyarakat yang hidup di wilayah sekitar tersebut juga memanfaatkan air yang merupakan bagian penting dari kehidupan mereka. Foto: Rhett Butler

 

Sikap

Juru Bicara Koalisi Peduli Hutan Aceh (KPHA), Efendi Isma mengatakan, mereka mendukung KLHK yang menolak permintaan perubahan zona inti TNGL menjadi zona pemanfaatan. “Perubahan akan mengancam langsung hutan di hulu sebagai sumber air masyarakat.”

Menurut Efendi, permintaan tersebut memang harus ditolak, karena secara ekologis akan mempengaruhi zona-zona lainnya. Ketika suatu kawasan diubah, akan diikuti pembangunan infrastruktur dengan alasan demi kepentingan masyarakat. “KPHA meminta Pemerintah Aceh tidak “lebay” untuk perubahan zona inti tersebut. Masih banyak sumber panas bumi di Aceh yang dapat dikelola tanpa harus merubah zonasi taman nasional.”

KPHA berharap, penolakan tersebut diikuti program penyelamatan hutan secara komprehensif. “Hutan Aceh rusak, yang menderita bukan hanya satwa langka dan dilindungi, tapi juga masyarakat yang tinggal di sekitarnya,” ujar Efendi.

Ketua Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), Farwiza Farhan mengatakan, telah mengirimkan surat kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo terkait pembangunan infrastruktur di hutan Aceh.

Dalam surat tertanggal 25 Agustus 2016, dituliskan HAkA sangat prihatin dengan beberapa rencana pembangunan tersebut. Salah satu proyek yang dilaporkan adalah rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi oleh PT. Hitay Panas Energy, dekat Gunung Wailup. Tepatnya, di zona inti Taman Nasional Gunung Leuser bagian Timur, yang merupakan situs UNESCO Tropical Rainforest Heritage Site (TRHS).

“Lokasi tersebut daerah paling penting bagi konservasi fauna besar (gajah, badak, harimau, dan orangutan), tempat sata ini mencari sumber air.”

Farwiza menyebutkan, masih ada daerah lain yang bisa dibangun proyek geothermal tanpa harus menganggu TNGL. “Proyek panas bumi di Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, potensinya 165 MW dan energi panas bumi di Gunung Burni Telong, Kabupaten Bener Meriah, juga sangat berprospek. Kenapa bukan daerah itu saja yang dimanfaatkan? Kalau dua daerah itu yang dibangun, kami dukung,” ungkapnya.

 

Surat Gubernur Aceh yang ditujukan ke Menteri LHK untuk merevisi zona inti TNGL. Sumber: KPHA

Surat Gubernur Aceh yang ditujukan ke Menteri LHK untuk merevisi zona inti TNGL. Sumber: KPHA

 

 

Ular yang Tidak Perlu Kita Musuhi

Nathan Rusli, remaja yang menulis buku "Mengenal Ular Jabodetabek" dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Foto: Rahmadi Rahmad

Nathan Rusli, remaja yang menulis buku “Mengenal Ular Jabodetabek” dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Foto: Rahmadi Rahmad

 

Ular tidak perlu kita musuhi berlebihan, bahkan berniat untuk membunuhnya. Mengapa? Karena, sebagai makhluk hidup, ular memiliki manfaat penting bagi ekosistem. Ular berdaya guna sebagai pengendali populasi tikus dan jenis binatang lain yang merupakan hama. Penelitian yang tengah dilakukan pun menunjukkan, beberapa jenis bisa ular justru berdaya guna untuk mengobati penyakit seperti kanker dan yang paling umum, bisa ular dijadikan serum anti-bisa.

Sebagai satwa melata, ular hampir ada di seluruh bentangan bumi mulai hutan, pegunungan, persawahan, pesisir pantai, hingga daerah berkapur. Suhu tubuh ular selalu mengikuti suhu lingkungan sekitar. Dipastikan, semua jenis ular merupakan jenis pemangsa yang memakan satwa lain.

Sayang, sebagian besar masyarakat kita menganggap semua ular itu berbisa alias memiliki racun (venom). Padahal, dari sekitar 250 – 300 jenis ular yang ada di Indonesia, hanya 8 persen saja yang berbisa. Stigma yang masih berkembang ini yang menyebabkan ular akan diburu bila bertemu manusia, tanpa pernah dikenali dulu apakah jenis itu beracun atau tidak.

 

 

Tak kenal maka tak sayang. Begitulah jarak psikologis manusia dengan ular saat ini. Foto: Rahmadi Rahmad

Tak kenal maka tak sayang. Begitulah jarak psikologis manusia dengan ular saat ini yang dijabarkan Nathan Rusli dalam bukunya. Foto: Rahmadi Rahmad

 

Adalah Nathan Rusli, penulis buku “Mengenal Ular Jabodetabek” yang tengah bergairah kampanyekan pentingnya ular bagi ekosistem lingkungan. Berapa usianya? 18 tahun. Namun, bila kita simak penuturannya, akan keluar penjelasan ilmiah yang tidak menunjukkan bila sosoknya memang remaja.

“Pada dasarnya, ular itu pendiam dan penyendiri. Ular bergerak ketika mencari makan, kawin, atau saat posisinya terancam. Bila ada ular masuk permukiman warga, jangan salahkan ularnya, tapi kita yang introspeksi. Bisa jadi, dulunya permukiman yang kita huni itu adalah habitat ular. Andai rumah kita yang digusur, bagaimana rasanya?,” itu jawaban menohok Nathan saat ditemui di markas besar Ciliwung Reptile Center, di Bojong Gede, Bogor, akhir pekan lalu.

Kisah sedih ular yang terus diburu hingga dibunuh inilah yang mendasari pemikiran Nathan untuk membuat buku ular. Tujuannya sebagai media edukasi. Dalam buku bilingual (Bahasa Indonesia dan Inggris), Nathan menampilkan 58 jenis foto ular yang ada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Penyunting bukunya juga bukan sembarang orang, ada nama Riza Marlon, Ron Lilley, Willy Ekariyono, dan Andrew Laister. “Tak kenal maka tak sayang, begitu jarak psikologis kita dengan binatang melata ini,” tuturnya.

Kurangnya pengetahuan masyarakat akan ular, membuat Nathan membulatkan tekad untuk membuat buku tersebut. Menurutnya, hingga kini persepsi di masyarakat, ular merupakan makhluk jahat, tidak berguna, dan beracun. Paradigma ini yang coba ia ubah. Ide membuat buku ular, sudah ia lahirkan sejak 2010 dan diwujudkan pada 2014. Juli 2016, buku yang ia desain sendiri ini resmi dicetak seribu eksemplar yang keuangannya berasal dari “pinjaman” orangtuanya.

 

 

Ular gadung (Gonyosoma oxycephalum). Foto: Rahmadi Rahmad

Ular gadung (Gonyosoma oxycephalum) yang umumnya berwarna hijau, namun ada juga yang kuning dan abu-abu. Foto: Rahmadi Rahmad

 

Bukan cinta sesaat

Rasa peduli Nathan pada ular, bukan datang tiba-tiba. Ia sudah kadung sayang pada ular sejak usia empat tahun, yang diwujudkan dalam bentuk melihat buku bergambar. Rasa ingin tahunya bertambah, saat menginjak SD kelas 1. Ia coba mencari langsung ular yang tak jauh dari perumahannya di seputaran Pantai Indah Kapuk, Jakarta. “Saya pegang ekornya, ternyata jenis kobra, saya kabur.”

Bukannya takut, Nathan justru tertantang mempelajari perihal ular. Larangan dari keluarga besarnya untuk tidak mendekati ular justru menjadi pemicu semangatnya. Ular berbahaya, ular tidak mendatangkan manfaat, adalah doktrin yang selalu diterima Nathan dari keluarga besarnya.

Untuk memuaskan pengetahuannya akan satwa, Nathan bergabung sebagai relawan JAAN saat ia kelas 1 SMP. Petualangannya berlanjut ke Taman Reptil Taman Mini Indonesia Indah hingga bertemu komunitas reptil yang ada di Jakarta. Dari sini, mencintai ular versi Nathan masih berwujud memelihara yang tujuannya transaksi, jual beli. Tanpa sepengetahuan orangtuanya, Nathan menyewa kamar ukuran 3 x 4 meter persegi di seputaran Pasar Darurat Kapuk, Cengkareng, Jakarta, yang di dalamnya berisi 50 jenis ular.

Menginjak usia 15 tahun, Nathan resah dengan hobinya mengurung ular itu. Ada yang salah menurutnya, memelihara ular di sangkar yang sebenarnya harus hidup di alam liar. Bentuk cinta yang salah. “Melihat ular langsung di habitatnya merupakan pembelajaran terbaik,” tutur sulung dua bersaudara ini.

 

 

Ular sanca batik yang cukup sering ditemukan di Jabodetabek. Foto: Rahmadi Rahmad

Ular sanca batik yang cukup sering ditemukan di Jabodetabek. Foto: Rahmadi Rahmad

 

Petualangannya berlabuh di Ciliwung Reptile Center (CRC), yang ia dirikan Desember 2014. Di komunitas ini, bersama 10 relawan aktif lainnya, Nathan menjelaskan kepada masyarakat bahwa ular bagian penting ekosistem lingkungan. Di CRC, ada 15 jenis ular kampung yang dipelihara bukan untuk kesenangan pribadi melainkan sebagai media pembelajaran yang diteliti juga perilaku uniknya. Ada ular picung, bangka laut, tanah, pucuk, tampar, genteng, kadut belang, lidi, birang, sanca kembang, lanang sapi, kepala dua, jali, gadung, dan ular kobra/sendok.

Hal yang diamini Aditya Rama Alviano, anggota CRC yang merupakan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta. “Setiap ular memiliki cara tersendiri untuk beradaptasi dan bertahan hidup pada lingkungannya. Mulai padang pasir, hutan, hingga laut yang semua itu merupakan habitat aslinya. Itulah rumah ular sebenarnya.”

 

 

Spesimen ular yang dikumpulkan di CRC untuk penelitian dan pendataan. Foto: Rahmadi Rahmad

Spesimen ular yang dikumpulkan di CRC untuk penelitian dan pendataan. Foto: Rahmadi Rahmad

 

Kenali ular

Dalam bukunya, Nathan mengklasifikasikan ular yang ada di Jabodetabek berdasarkan morfologinya. Ada jenis typhlopidae (ular buta/kawat), cylindriophidae (ular kepala dua), acrochordidae (ular karung), homalopsidae (ular lumpur), pythonidae (ular pelilit yang bertelur), xenodermatidae (ular naga), xenopeltidae (ular pelangi), colubridae (ular tanpa taring bisa), natricidae (ular bertaring belakang), elapidae (ular berbisa tinggi tidak dapat dilipat), serta viperidae (ular berbisa tinggi, dapat dilipat dan memiliki sensor panas).

Menurut Nathan, sosialisasi dan edukasi pentingnya ular pada masyarakat akan lebih mudah dilakukan bila masyarakat mengenali jenis ular yang ada di sekitar mereka, terutama Jabodetabek.

Sejatinya, ular takut dan akan menghindar bila bersua manusia. Ia akan menyerang bila terancam atau ketika tidak bisa menghindar. “Ular kobra (Naja sputatrix), bila terancam akan berdiri dan mengembangkan tudungnya sebelum melancarkan serangan. Bila terus diganggu, ia akan menggigit dan menyuntikkan racunnya itu ke tubuh pemangsa.”

Riza Marlon, dalam bukunya “107+ Ular Indonesia” menjelasan, dikarenakan ular memiliki musuh, ular pun memiliki beberapa teknik pertahanan diri. Yang paling umum dan efektif adalah menghindar. Jenis ular pohon yang berwarna hijau atau coklat akan membaur dengan lingkungan sekitar sehingga tersamar.

Ada juga yang mendesis dan membusungkan tubuhnya supaya terlihat lebih besar dan lebih ganas dari penampakan aslinya. Bahkan, beberapa jenis ular, pura-pura mati dengan posisi telentang dan lidah menjulur. Kondisi ini sering dibarengi bau busuk yang bersumber dari kelenjar dasar ekornya. “Bila pertahanan diri gagal, ular bakal menggigit, meski sebenarnya tidak semua gigitan itu berbisa.”

 

 

Benarkah Ini Penampakan Loch Ness, Si Monster Danau?

inikah wujud Loch Ness? Foto: Ian Bremner/SWNS.com

inikah wujud Loch Ness? Foto: Ian Bremner/SWNS.com

 

Seorang fotografer amatir, Ian Bremner (58 tahun) sedang mengendarai mobilnya di sekitar dataran tinggi, saat matanya dikejutkan oleh penampangan luar biasa yang dia yakini sebagai monster legendaris danau Loch Ness yang berenang di permukaan air.

Bisa jadi, inilah bukti yang paling meyakinkan bahwa Nessie, sang monster Danau Loch Ness benar-benar ada. Bisa jadi pula ini hanyalah anjing laut atau makhluk lain.

“Inilah pertama kali saya melihat Nessie di danau tersebut. Akan sangat luar biasa jika sayalah yang pertama kali menemukannya” ujar Bremner sebagaimana diberitakan Huffington Post.

 

Inilah foto yang menunjukkan Nessie, namun bisa jadi ini merupakan anjing laut. Foto: Ian Bremner SWNS.vom

Inilah foto yang menunjukkan Nessie, namun bisa jadi ini merupakan anjing laut. Foto: Ian Bremner SWNS.vom

 

Dia memfoto gambar tersebut Sabtu sore, di titik antara desa Dores dan Inverfarigaig, Skotlandia. Bremner mengatakan, sebelumnya dia meragukan cerita legenda Nesie, sekarang dia percaya bahwa makhluk itu benar ada.

Legenda Nessie dapat dilacak hingga 1.500 tahun yang lalu. Konon, banyak orang yang mengaku melihat makhluk misterius yang dideskripsikan Nessie itu sebagai makhluk berleher panjang dengan punuk di punggung seperti dinosaurus. Diperkirakan panjangnya sekitar 5 – 12 meter.

 

Foto legenda Loch Ness yang diambil oleh Robert Wilson pada 1934. Foto: AP

Foto legenda Loch Ness yang diambil oleh Robert Kenneth Wilson pada 1934. Foto: Associated Newspapers

 

Nessie sering dibandingkan dengan plesiosaurus yang dianggap telah punah 60 juta tahun lalu. Plesiosaurus adalah hewan berdarah dingin yang membutuhkan kehangatan dari lingkungan sekitar. Secara ilmiah, plesiosaurus tidak akan dapat bertahan hidup di lingkungan air dingin seperti Loch Ness. Ia juga membutuhkan udara untuk bernafas. Apabila Nessie adalah plesiosaurus, tentu saja penampakannya akan lebih sering terjadi.

 

Danau Ness di Skotlandia. Foto: Wikipedia

Danau Ness di Skotlandia. Foto: Wikipedia

 

Orang sering menyebut Danau Loch Ness, namun sebutan tersebut tidak tepat. “Loch” berarti danau, jadi Loch Ness berarti danau Ness. Loch Ness terletak di Skotlandia bagian utara. Danau ini termasuk salah satu danau terbesar di Skotlandia, hanya kalah besar dibanding Loch Lomond. Panjangnya 36,3 kilometer dan lebarnya 2,7 kilometer dengan kedalaman hingga 132 meter.

Istilah Nessie pertama kali diciptakan jurnalis surat kabar pada 1933, dan sejak saat itu Nessie mendunia. Apakah benar foto hasil jepretan Ian Bremner adalah sang monster legendaris danau Loch Ness di Skotlandia itu ? Mungkin bukan.

Tapi apapun itu, semoga makhluk ini tidak berbahaya.