All posts by Junaidi Hanafiah, Aceh

Gugatan RTRW Aceh Ditolak, Bagaimana Nasib Kawasan Ekosistem Leuser Mendatang?

Ekosistem Leuser yang menyediakan sumber air bersih bagi jutaan masyarakat Aceh. Di kawasan ini juga tempat terakhir di dunia bagi badak, gajah, orangutan dan harimau sumatera hidup bersama. Foto: Paul Hilton

Ekosistem Leuser yang menyediakan sumber air bersih bagi jutaan masyarakat Aceh. Kawasan ini juga tempat terakhir bagi badak, gajah, orangutan dan harimau sumatera hidup bersama. Foto: Paul Hilton

 

 

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah mengeluarkan putusan, menolak gugatan Gerakan Masyarakat Aceh Menggugat (GeRAM) terhadap Mendagri, Gubernur, dan DPR Aceh yang tidak memasukkan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (RTRW) Aceh.

Dalam putusan yang dibacakan 29 November 2016 itu, majelis hakim yang diketuai Agustinus Setia Wahyu Triwiranto serta hakim anggota Partahi Tulus Hutapea dan Casmaya Patah, menyatakan KEL sudah masuk dalam Pola Ruang Aceh sebagai Kawasan Lindung. Oleh karena itu, Qanun Aceh Nomor: 19 tahun 2013 tentang RTRW Aceh, sudah tidak perlu menyebutkan KEL secara eksplisit.

“Selain itu, para penggugat juga tidak mengalami kerugian dengan tidak dimasukannya KEL dalam RTRW Aceh,” papar Agustinus saat membacakan putusan.

Agustinus mengatakan, gugatan warga negara itu tidak berhak secara hukum membatalkan peraturan daerah atau qanun. Proses pembuatan Qanun RTRW Aceh pun sudah sesuai dengan aturan yang berlaku. “Kementerian Dalam Negeri, Gubernur Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh sudah menjalankan fungsinya saat pembuatan qanun tersebut.”

Menanggapi putusan tersebut, Koordinator Kuasa Hukum GeRAM Nurul Ikhsan mengatakan, hakim salah memahami gugatan yang dilakukan GeRAM. Para penggugat tidak meminta Qanun RTRW Aceh dibatalkan, tapi meminta pengadilan agar tergugat  memasukkan KEL dalam Qanun RTRW Aceh.

“Kami meminta pengadilan memerintahkan para tergugat menjalan tugas dan fungsinya sesuai undang-undang atau aturan yang berlaku. yang dipahami majelis hakim adalah kami meminta Qanun RTRW Aceh dibatalkan. Ini pemahaman keliru.”

 

 

Gajah sumatera yang berada di Kawasan Ekosistem Leuser. Foto: Junaidi Hanafiah

Gajah sumatera yang berada di Kawasan Ekosistem Leuser. Foto: Junaidi Hanafiah

 

 

Nurul Ikhsan menjabarkan, tuntutan masyarakat yang berasal dari sembilan kabupaten/kota di Aceh itu adalah, meminta pengadilan memerintahkan Mendagri sebagai tergugat satu untuk melaksanakan kewenangannya sebagaimana diatur Pasal 15 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2008 tentang Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah. Yaitu, dengan membatalkan Qanun Aceh Nomor 19 Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh Tahun 2013-2033.

“Kami minta pengadilan memerintahkan Gubernur Aceh untuk menindaklanjuti maksud dari Keputusan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 650-441 Tahun 2014 Tentang Evaluasi Rancangan Qanun Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh Tahun 2014-2034 Tanggal 14 Febuari 2014. Yaitu, dengan melakukan penyempurnaan/penyesuaian atas Rancangan Qanun Aceh Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh.”

Gugatan lainnya adalah, meminta pengadilan memerintahkan Gubernur dan DPR Aceh untuk mengikutsertakan peran dan partisipasi masyarakat, khususnya masyarakat Aceh dalam penyusunan atau penyempurnaan Qanun Tata Ruang dan Wilayah Aceh serta kebijakan-kebijakan lain.

“Kita tahu, Mendagri telah meminta Qanun RTRW Aceh di valuasi, bahkan Mendagri telah mengeluarkan 27 rekomendasi agar Qanun RTRW Aceh diperbaiki oleh Pemerintah Aceh. Namun rekomendasi itu diabaikan. Gubernur dan DPR Aceh juga tidak melibatkan peran serta masyarakat dalam pembuatan qanun itu.”

Pertimbangan majelis hakim yang menyebutkan KEL tidak perlu disebutkan dalam RTRW Aceh karena sudah masuk dalam Pola Ruang Aceh sebagai Kawasan Lindung tidak tepat. KEL tidak identik dengan kawasan lindung, ada hutan dengan status lain di sana. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan RI No. 190/Kpts-II/2001, luas KEL di Provinsi Aceh 2.255.577 hektare yang di dalamnya ada hutan areal penggunaan lain (APL), hutan produksi terbatas dan hutan produksi, taman buru, dan lain.

Karena keunikannya, KEL dimasukkan dalam Kawasan Strategis Nasional (KSN). Sesuai Undang-undang Nomor: 11 tahun 2006, Pemerintah Aceh diberikan kewenangan untuk melakukan pengelolaan KEL yang meliputi perlindungan, pengamanan, pelestarian, pemulihan fungsi kawasan, dan pemanfaatan secara lestari kawasan tersebut.”

Nurul Ikhsan menambahkan, GeRAM membawa kasus ini ke pengadilan untuk mendorong pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh agar memenuhi kewajiban mereka melindungi nyawa dan keberlangsungan hidup masyarakat Aceh melalui perlindungan lingkungan hidup. “Kami akan melakukan banding terhadap putusan majelis hakim yang menolak gugatan GeRAM ini.”

 

 

GeRAM yang meminta agar Ekosistem Leuser diselamatkan. Foto: Junaidi Hanafiah

GeRAM yang meminta agar Ekosistem Leuser diselamatkan. Foto: Junaidi Hanafiah

 

 

Kecewa

Juarsyah, penggugat warga Kabupaten Bener Meriah menyebutkan, ditolaknya gugatan GeRAM untuk memasukkan KEL dalam RTRW Aceh, berarti melapangkan jalan untuk menghancurkan KEL.

“Hutan KEL telah dirusak untuk perkebunan dan pertambangan. Saya sering melihat orang-orang yang membuka lahan untuk perkebunan. Sebagai masyarakat yang ditinggal di sekitar KEL, saya tidak ingin hutan itu dirusak, karena menopang kehidupan jutaan masyarakat Aceh, terutama sebagai penyedia sumber air bersih,” ujarnya sembari berkaca-kaca mendengar putusan hakim.

 

 

Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat saat membacakan putusan yang menolak gugatan GeRAM. Foto: Junaidi Hanafiah

Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat saat membacakan putusan yang menolak gugatan GeRAM. Foto: Junaidi Hanafiah

 

 

Kekecewaan juga disampaikan pengugat lain, Aman Djarum yang juga tokoh masyarakat adat Kabupaten Gayo Lues. Aman telah bertahun menjaga KEL agar tidak rusak. Bahkan, ia  bersama sejumlah warga Gayo Lues pernah mendeklarasikan menolak tambang sampai hari kiamat.

“Meskipun hakim menolak gugatan, saya akan tetap menjaga KEL. Bahkan, sebelum pemerintah menetapkan KEL sebagai hutan yang harus dilindungi, saya sudah menjaganya karena itu amanah dari nenek dan kakek saya.”

Aman mengatakan, ia telah berusaha menyelamatkan KEL, meskipun tidak mendapat dukungan dari majelis hakim dan pemerintah. “Saya punya jawaban jika nanti cucu-cucu saya bertanya kenapa saya tidak menyelamatkan sisa hutan KEL. Akan saya katakan, saya sudah telah berusaha, tapi tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan pengadilan,” ujarnya sembari menyapu air matanya.

Gugatan GeRAM terhadap RTRW Aceh telah didaftarkan di PN Jakarta Pusat pada 21 Januari 2016 (No. 33/Pdt.G/2016/PN.JKT.PST). Materi penting gugatan tersebut adalah tidak dimasukkannya Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) sebagai satu dari lima Kawasan Strategis Nasional yang ada di Aceh.

 

 

Periode Januari – Juni 2016, hutan di KEL berkurang 4.097 hektare. Sumber: Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA)

Periode Januari – Juni 2016, hutan di KEL berkurang 4.097 hektare. Sumber: Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA)

 

 

Akhirnya, Johny dan Desi Hidup Bebas di TNBBBR

Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya merupakan tempat nyaman untuk pelepasliaran orangutan yang telah direhabilitasi. Foto: IAR Indonesia

Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya merupakan tempat nyaman untuk pelepasliaran orangutan yang telah direhabilitasi. Foto: IAR Indonesia

 

Dua individu orangutan (pongo pygmaeus); Johny dan Desi, memulai kehidupan barunya di alam bebas, 26 November 2016. Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, menjadi tempat tinggal keduanya. Pelepasliaran ini merupakan kerja sama International Animal Rescue (IAR) Indonesia dengan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR).

“Johny usia 8 tahun yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan di Pontianak, September 2011. Sedangkan Desi usia 10 tahun diselamatkan dari warga di Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Ketapang, Maret 2012,” kata Heribertus Suciadi, juru bicara IAR Indonesia di Ketapang.

Johny dan Desi telah menghuni Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi IAR sekitar empat tahun. Mereka telah menjalani rehabilitasi di ‘sekolah hutan’ yaitu belajar memanjat, mencari makan sendiri, membuat sarang, serta mempelajari berbagai kemampuan bertahan hidup. “Tujuannya, agar mereka siap saat kembali ke alam bebas, habitatnya.”

 

 

Sebelum dilepasliarkan, orangutan harus direhabilitasi dulu agr sifat liarnya kembali seperti semula. Foto: IAR Indonesia

Sebelum dilepasliarkan, orangutan harus direhabilitasi dulu agar sifat liarnya kembali seperti semula. Foto: IAR Indonesia

 

 

Sebelumnya, hasil monitoring Johny dan Desi selama di pulau pre-release IAR Indonesia Ketapang menunjukkan perkembangan positif. Mereka sudah memanjat, mencari makan, dan membuat sarang sendiri. “Kami yakin keduanya akan senang di rumah barunya. Sampai saat ini IAR telah melepaskan 11 individu orangutan di TNBBBR,” jelas drh. Ayu Budi Handayani, Manager Perawatan Satwa IAR Indonesia.

IAR Indonesia saat ini telah menampung lebih dari 100 individu orangutan yang diperkirakan jumlahnya akan bertambah seiring hilangnya habitat mereka akibat pembukaan hutan untuk perkebunan. Hal ini juga yang membuat IAR Indonesia kesulitan menemukan hutan yang aman untuk melakukan pelepasliaran.

“Kami tidak bisa membayangkan masa depan orangutan kalau habitatnya hilang secepat ini. Mereka terancam oleh pembukaan hutan, kebakaran, juga jual beli dan pemeliharaan sebagaimana Johny dan Desi,” tutur Karmele Llano Sanchez, Ketua Program IAR Indonesia.

 

 

Hutan merupakan rumah asli orangutan, bukan kandang yang membuatnya sebagai satwa peliharaan. Foto: IAR Indonesia

Hutan merupakan rumah asli orangutan, bukan kandang yang membuatnya sebagai satwa peliharaan. Foto: IAR Indonesia

 

 

Evakuasi Boy

Hampir bersamaan, Jumat (25/11/2016), Seksi Konservasi Wilayah (SKW) Ketapang, BKSDA Kalimantan Barat mengevakuasi satu individu orangutan jantan milik  Bahriah, warga Desa Air Hitam Hilir, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang.

“Evakuasi kami lakukan Jum’at pagi, dari Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL – Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Polsek Kendawangan dan IAR Indonesia – Ketapang,” kata Ruswanto, Kepala SKW I Ketapang. Menurut Bahriah, orangutan yang dinamai Boy itu  telah dipelihara selama 10 bulan. “Boy diperlakukan layaknya anak kecil. Bahriah menggendong Boy, dengan selendang kain dan makan makanan manusia,” ujar Ruswanto.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sustyo Iroyono, mengatakan, dari gigi geligi Boy diperkirakan berusia satu tahun. “Kondisinya cukup sehat. Menurut warga yang memelihara, Boy ditemukan terpisah dari induknya.”

Dari pengamatan sementera, kondisi Boy telah berkurang sifat liarnya karena diperlakuan seperti manusia. Saat petugas mendatangi, Boy pun diserahkan dengan sukarela. “Sebagai upaya animal welfare satwa dititiprawatkan untuk direhabilitasi di IAR Indonesia – Ketapang, hingga dapat dikembalikan ke tempat aslinya.”

Sustyo mengatakan, orangutan merupakan salah satu satwa favorit peliharaan warga. BKSDA Kalbar menyadari, masih harus melakukan penyadartahuan kepada masyarakat luas. Terutama, di permukiman warga, yang dekat kawasan hutan atau perkebunan kepala sawit. “Warga harus kita jelaskan, memelihara orangutan tidak sama dengan upaya konservasi. Memelihara satwa dilindungi, bisa merusak rantai ekosistem di alam. Tempat terbaik satwa dilindungi adalah hutan.”

Boy merupakan orangutan ke-19 yang berhasil dievakuasi dari warga, hingga November 2016. Penyerahan sukarela, sedikit banyak menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian satwa di habitat aslinya meningkat. Jumlah ini belum termasuk beberapa jenis satwa lain dilindungi yang juga diserahkan warga tanpa paksaan.

Menurut Sustyo, paling tidak, keberadaan satwa dilindungi yang dipelihara warga dan dilaporkan ke petugas, mencerminkan upaya positif konservasi, secara preventif dan hukum. “Kegiatan preventif berupa patroli dan sosialisasi-penyuluhan beserta penegakan hukum yang akan terus dilakukan,” ujarnya.

 

 

 

Surat Ini Berisi Permintaan Agar Gajah Sumatera Dipindahkan ke Bali. Menurut Anda?

Bona yang merupakan maskot PLG Seblat, Bengkulu. Nasibnya mengenaskan karena telah yatim piatu sejak berumur enam bulan. Foto: Taufik Wijaya

Bona yang merupakan maskot PLG Seblat, Bengkulu. Nasibnya mengenaskan karena telah yatim piatu sejak berumur enam bulan. Foto: Taufik Wijaya

 

PT. Bakas Aneka Citra Wisata Tirta, melalui surat Nomor: 70/BLR/X/2016, mengajukan permohonan penambahan koleksi satwa liar gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) guna kebutuhan di lembaga tersebut.

Keinginan itu disampaikan Direktur PT. Bakas Aneka Citra Wisata Tirta, I Nyoman Levi Suwetha, 31 Oktober 2016, yang ditujukan kepada Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan ditembuskan ke BKSDA Bali dan BKSDA Bengkulu.

Dalam surat dijelaskan, koleksi gajah yang dimiliki lembaga tersebut sebanyak delapan individu: lima jantan dan tiga betina. “Guna pemurnian genetik dan menjalankan program konservasi, penambahan koleksi gajah sumatera betina sebanyak 17 individu diperlukan agar tercapai kebutuhan sex ratio.

Terkait permintaan surat tersebut, Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) Krismanko Padang, menilai kebutuhan tersebut bukan untuk pemurnian genetik. Tetapi lebih cenderung pada kepentingan bisnis. “Saya sudah baca suratnya. Kalimat pemurnian genetik itu hanya pemanis,” tuturnya awal pekan ini.

 

 

Gajah Sumatera, habitatnya semakin terpinggirkan. Foto: Rhett Butler

Gajah Sumatera, habitatnya semakin terpinggirkan. Foto: Rhett Butler

 

 

FKGI jelas menolak pemindahan gajah sumatera dari habitat in-situ ke ex-situ dan dalam waktu dekat akan mengirimkian surat  ke Dirjen KSDAE. “Mengapa tidak meminta ke taman safari atau lembaga konservasi lain yang memiliki koleksi dalam jumlah banyak saja? Atau ke lembaga yang telah berhasil mengembangbiakan?” Jadi dari ex-situ ke ex-situ, bukan dari in-situ ke ex-situ,” kata Krismanko.

Senada, Bengkulu Heritage Society juga akan mengirimkan surat ke Dirjen KSDAE perihal penolakan. “Sangat tidak setuju. Gajah sumatera merupakan warisan dunia di Pulau Sumatera yang tiada tara nilainya. Harusnya, mereka menghormati itu, bukan malah ingin memindahkannya dari habitat asli,” ujar Asnody Restiawan, Ketua Bengkulu Heritage Society.

Jika ingin melakukan pemurnian genetik, sambung Asnody, mestinya gajah sumatera koleksi PT. Bakas Aneka Citra yang dipindahkan ke Bengkulu atau habitat asli. Bila berkembang biak, maka populasi gajah sumatera di habitat aslinya juga akan bertambah. “Di sisi lain, keinginan tersebut seakan menganggap Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu – Lampung tidak mampu untuk menambah gajah sumatera mereka rawat.”

Mongabay Indonesia telah menghubungi nomor telepon seperti yang tertulis di surat. Namun, bukan I Nyoman Levi Suwetha yang mengangkat, melainkan Nengah Sukarta yang bertugas di bagian sumber daya manusia. Nengah memberikan nomor telepon I Nyoman Merte yang bertugas di bagian Humas. Namun, I Nyoman Merte pun tidak mengangkat telepon saat dihubungi. Begitu pula terhadap pesan singkat yang dikirimkan, tidak direspon.

Sebagaimana dituliskan di di laman Bakas Anventure, Bakas Levi Rafting Elephant Tour Bali memiliki paket mengamati dan mengendarai gajah. Untuk mengamati gajah meliputi paket 15 menit, 30 menit, 40 menit dan 60 menit. Ditambah fasilitas lainnya, biaya yang dikenakan untuk paket mengendarai gajah ini, mulai dari US $ 52 hingga US $ 330.

 

Surat yang dikirimkan PT. Bakas Aneka Citra Wisata Tirta akan permintaan gajah sumatera. Dok. BKSDA Bengkulu - Lampung

Surat yang dikirimkan PT. Bakas Aneka Citra Wisata Tirtauntuk permintaan gajah sumatera. Dok. BKSDA Bengkulu - Lampung

Surat yang dikirimkan PT. Bakas Aneka Citra Wisata Tirtauntuk permintaan gajah sumatera. Dok. BKSDA Bengkulu - Lampung

Surat yang dikirimkan PT. Bakas Aneka Citra Wisata Tirta untuk permintaan gajah sumatera. Dok. BKSDA Bengkulu – Lampung

 

Konservasi gajah

Kepala BKSDA Bengkulu – Lampung Abu Bakar tidak menampik keberadaan surat PT. Bakas Aneka Citra Wisata Tirta itu. “Iya betul, tembusannya (surat) sampai ke kami. Sebagai pelaksana tugas, kami bergantung pada keputusan pusat (KLHK). Jika pemerintah pusat mengizinkan dan memerintahkan untuk memindahkan, kami lakukan sesuai instruksi. Begitu pula sebaliknya, bila tidak diizinkan akan kami tolak,” jelas Abu, Minggu (26/11/16) pagi.

Abu tidak keberatan bila KLHK memberi izin. “Apa hakikat konservasi gajah, itu yang sebenarnya penting untuk dipahami. Gajah harus sejahtera dan harus bisa berkembang biak. Kalau tidak sejahtera dan tidak bisa berkembang biak, sama saja dengan memasukan gajah dalam penjara. Melihat kondisi gajah di PLG Seblat, saya juga punya rencana program pengembangbiakan dengan lembaga konservasi mulai tahun depan.”

Bila KLHK menyetujui pemindahan gajah sumatera yang ada di PLG Seblat, kemungkinan tidak sebanyak 17 individu, sebagaimana yang  tertera dalam surat. “Gajah sumatera di PLG Seblat hanya 12 individu. Tidak mungkin semuanya dipindahkan. Kalau pemerintah pusat memberi izin, kami pasti akan periksa dan seleksi ketat,” ujar Abu.

Sebelumnya, Kebun Binatang Gembiraloka Yogyakarta juga berhasil memindahkan dua individu gajah sumatera dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat, Bengkulu, awal 2015. Surat yang diajukan PT. Bakas Aneka Citra Wisata Tirta ini, seakan ingin mengikuti jejak “kesuksesan” translokasi tersebut meski telah ditentang para pegiat lingkungan.

 

 

Jual Kucing Hutan, Asman Tidak hanya Dihukum ‘Sit Up’ dan ‘Push Up’

Seekor induk kucing emas (Catopuma temminckii) terpantau kamera jebak menggendong anaknya di Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Sumatera. Foto: Tim Peneliti Macan Dahan Sumatera

Seekor induk kucing emas (Catopuma temminckii) terpantau kamera jebak menggendong anaknya di Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Sumatera. Foto: Tim Peneliti Macan Dahan Sumatera

 

Seorang warga Desa Sungai Rengas, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, tertangkap basah menjual secara online empat kucing hutan (Prionailurus bengalensis), satwa liar dilindungi undang-undang. Pelaku dihukuman push up dan sit up, yang disaksikan langsung Team Anti Wildlife Crime (TAWC) SPORC Balai Penegakan Hukum Pontianak, Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL (Polhut) BKSDA Kalbar, dan Koordinator Pengawas Polda Kalimantan Barat.

Asman bin Masa, nama pemuda yang ditangkap Jum’at petang, 25 November 2016, itu. Ia mengunggah foto keempat ekor kucing hutan atau yang biasa disebut macan akar itu, Jum’at pagi, melalui akun Facebook Irman Sllu Join, miliknya. Dia menawarkan Rp150 ribu per ekornya. Tim yang mengetahui modus perdagangan tersebut, melakukan transaksi penyamaran.

Tawar menawar dilakukan untuk menghindari kecurigaan pelaku. Kesepakatan harga dan lokasi transaksi disepakati di Jalan Berkat Usaha, Desa Sungai Rengas. Tanpa kesulitan, petugas pun membekuk Asman beserta barang buktinya. “Petugas menemukan tiga ekor kucing hutan, menurut pengakuan pelaku seekor lagi lepas dari kandang,” jelas Komandan Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (Sporc) Brigade Bekantan, David Muhammad.

 

Kucing batu dari Kalimantan. Foto: Andrew Hearn and Jo Ross

Kucing batu di Kalimantan. Foto: Andrew Hearn and Jo Ross

 

David mengatakan, Asman menangkap kucing tersebut bersama tiga temannya, Minggu (20/11/2016). Pasalnya, kucing hutan anakan tersebut diduga sebagai pemangsa ayam peliharaan warga desa. “Pelaku berniat menjual sebagai tambahan beli rokok. Kalau dilepaskan, mereka khawatir memangsa ternak warga lagi,” tambahnya.

Saat ditanya penyidik, Asman mengaku tidak mengetahui jika kucing itu dilindungi. Terlebih, ada sanksi pidana jika menangkap, memelihara, memililki dan menjual satwa dilindungi dan bagian tubuhnya. “Pelaku akan dilakukan pembinaan dengan menandatangani berita acara serah terima satwa dan surat pernyataan bermaterai. Isinya, tidak akan mengulangi perbuatannya dan dikenakan wajib lapor. Pelaku hanya dikenai push up dan sit up,” kata David.

Saat ini, tiga ekor kucing hutan tersebut dititip-rawatkan di kandang kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat. “Walau pelaku tidak ditahan, petugas tidak ragu menjerat para pelaku dengan ancaman maksimal, jika mengulangi perbuatan atau terlibat jaringan sindikat perdagangan satwa,” tegas Sustyo Iriyono, Kepala BKSDA Kalimantan Barat.

 

Kucing hutan yang ditawarkan secara online oleh Asman. Foto: akun Facebook Irman Sllu Join

Kucing hutan yang ditawarkan secara online oleh Asman. Foto: akun Facebook Irman Sllu Join

 

 

Liar

Sustyo mengatakan, keberadaan kucing hutan yang menyerang ternak warga, dimungkinkan karena jumlah pakan di habitatnya menipis. Hal ini menyebabkan, kucing hutan menjelajah daerah baru untuk mencari hewan buruan yang membawanya ke kawasan warga, yang memelihara ayam. “Di habitatnya, kucing ini memangsa ayam hutan, burung, tupai, musang, serangga dan satwa lainnya.”

Sustyo menegaskan, kucing hutan sangat tidak disarankan dijadikan hewan peliharaan. Pasalnya, kucing ini mempunyai sifat buas dan liar, dibanding kucing lain. Ia bukan tipe jinak, walau telah lama dipelihara ia tetap liar.

 

Asman yang diminta menandatangani surat pernyataan tidak mengulangi lagi perbuatannya menjual satwa liar dilindungi. Foto: BKSDA Kalbar

Asman yang diminta menandatangani surat pernyataan tidak mengulangi lagi perbuatannya menjual satwa liar dilindungi. Foto: BKSDA Kalbar

 

“Semua kucing itu sifatnya pemburu. Tetapi kucing hutan mempunyai naluri pemburu lebih baik. Gerakannya sangat lincah, lompatannya jauh,” kata Sustyo. Hewan karnivora ini cenderung membutuhkan ruangan yang luas dan aktivitas fisik yang banyak. Sehingga, menempatkannya di kandang bisa membuatnya stres dan makin ganas.

Di Indonesia, merujuk Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999, ada enam jenis kucing yang dilindungi: Catopuma badia (kucing merah), Prionailurus bengalensis (kucing hutan), Pardofelis marmorata (kucing batu), Felis planiceps (kucing dampak), Catopuma temmincki (kucing emas), dan Prionailurus viverrinus (kucing bakau).

 

 

Indonesia Harus Bangga pada Petani Muda

Harusnya Indonesia bangga dengan para petani muda. Pertanian merupakan bidang yang hanya digeluti segelintir orang, pemuda jarang tertarik. Sumber: Duta Petani Muda

Harusnya Indonesia bangga dengan para petani muda. Pertanian merupakan bidang yang hanya digeluti segelintir orang, pemuda jarang tertarik. Sumber: Duta Petani Muda

 

Indonesia harus bangga dengan anak muda yang terjun pada bidang pertanian, dunia yang perlahan makin ditinggalkan. Lihat saja I Gede Artha Sudiarsana, pemuda asal Karangasem, yang menjadi juara tiga pada pemilihan Duta Petani Muda Indonesia 2016.

Modalnya adalah pertanian jamur. Ia mendirikan Gede Jamur – usaha pertanian jamur dengan memanfaatkan limbah serbuk kayu dari pengrajin di sekeliling tempat tinggalnya. Bubuk kayu dimanfaatkan sebagai media tanam jamur. “Memang sejak awal saya tertarik bertani, saya lihat potensi di desa saya. Petaninya tua-tua, anak muda pergi ke kota, lahan jadi tidak produktif,” ujar Artha usai penganugerahan di Jakarta, Sabtu (19/11).

Artha tinggal di Desa Pidpid, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali. Berbekal ilmu pertanian yang diperoleh di bangku kuliah, dia memulai usaha di lahan seluas 1,5 hektare. Keterampilan budidaya jamur dipertajamnya di Dinas Pertanian setempat. Modal awal Rp10 juta dari beasiswa saat kuliah yang ia dapat dipakai untuk mengembangkan jamur tiram.

Artha merangkul masyarakat setempat, membentuk Kelompok Tani Pertiwi Mesari. Dia berharap setiap anggota kelompok ini mampu mengembangkan jamur tiram yang lebih baik. Dikarenakan belum banyak pengusaha jamur tiram di wilayahnya, sedikit demi sedikit Artha memasok kebutuhan tersebut di Karangasem.

“Belum banyak. Hanya di pasar dan rumah makan. Pasokan kami baru 15 kilogram per hari,” ujarnya merendah.

Selain jamur tiram, Artha juga berencana mengembangkan budidaya jamur lain dengan melibatkan kelompok tani yang dibinanya. Ini dikarenakan, peluang pasar jamur dengan berbagai macam jenis nya terbuka lebar. “Usaha ini diharapkan dapat menyejahterakan para petani,” paparnya.

 

 

Mereka yang terpilih sebagai Duta Petani Muda Indonesia 2016. Kredit foto: Duta Petani Muda Indonesia

Mereka yang terpilih sebagai Duta Petani Muda Indonesia 2016. Kredit foto: Duta Petani Muda Indonesia

 

 

Juragan ternak dari Manggarai

Tak hanya Artha, ada pula pemuda asal Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Dengan keuletannya, Yosep Leribun memantapkan diri menjadi petani dan pengusaha ternak. Dia adalah salah satu finalis dari Duta Petani Muda Indonesia 2016. Pernah berprofesi sebagai jurnalis media nasional di Jakarta, rupanya Yosep tak betah berkarir di bidang ini. Dia memutuskan pulang kampung, merintis bisnis peternakan.

Yosep menggagas dan merintis Kampung Ternak di daerahnya pada 2012. Dia membangun sentra peternakan mulai dari ayam broiler, babi, juga ikan lele. “Saya merintis berbekal uang pribadi dan teman-teman muda dengan sistem bagi modal,” ujarnya. Sistem bagi modal ini, kata dia, selain untuk lebih meringankan modal juga untuk meningkatkan tanggung jawab sang  pemilik uang.

Yosep pun menggandeng para peternak di desa dan sekitarnya guna memenuhi kebutuhan permintaan pasar yang makin meningkat. Saat ini, tak kurang 30 peternakan bergabung, menjadi mitra usahanya. Di setiap desa, paling sedikit ada dua mitra. “Biasanya, saya mencari yang punya warung, karena mereka tidak akan pergi-pergi. Menunggu dagangannya,” ujarnya. Dengan begitu, jika membutuhkan pasokan, dengan mudah ia mendapatkan kebutuhan tersebut.

Yoseph membuat sentra peternakan beragam ternak karena dia melihat peluang yang cukup  besar. Tak hanya kebutuhan ayam, tapi juga babi dan ikan lele di daerahnya. Selain itu, ia juga  memanfaatkan kotoran ternak tersebut untuk dijadikan sesuatu yang lebih berguna. “Rencananya, akan dikembangkan menjadi biogas yang pastinya bermanfaat untuk peternak dan masyarakat desa sekitar,” ujarnya.

 

 

Grafik varian komoditas yang didaftarkan pada pemilihan Duta Petani Muda 2016. Sumber: Duta Petani Muda

Grafik varian komoditas yang didaftarkan pada pemilihan Duta Petani Muda 2016. Sumber: Duta Petani Muda

 

 

Sebagaimana dikutip dari Duta Petani Muda.org, dua bulan sejak pendaftaran Pemilihan Duta Petani Muda 2016 dibuka, 11 Agustus 2016, hingga ditutup pada 11 Oktober 2016, panitia menerima 514 pendaftar. Mereka berasal dari berbagai daerah dengan beragam komoditas. Sekitar 22% (113) dari pendaftar merupakan agripreneur perempuan muda.

10 Finalis Duta Petani Muda 2016 dipilih berdasarkan penilaian umur, persistensi usaha, kemampuan ekspresi diri, motivasi, inovasi, keramahan lingkungan, upaya membuka lapangan kerja, sensitif gender, serta pemanfaatan media sosial. Seleksi dilakukan oleh tiga organisasi penyelenggara yaitu Agriprofocus Indonesia, Oxfam di Indonesia, serta Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP).

 

 

 

Foto: Suku Terasing di Amazon yang Menghadapi Ancaman Hidup

Suku terasing yang hidup di Amazon, Brazil, ini diyakini belum pernah berkomunikasi dengan masyarakat luar. Kredit foto: Guilherme Gnipper Trevisan/Hutukara

Suku terasing yang hidup di Amazon, Brazil, ini diyakini belum pernah berkomunikasi dengan masyarakat luar. Kredit foto: Guilherme Gnipper Trevisan/Hutukara

 

Sekelompok masyarakat dalam sebuah suku yang diyakini belum pernah berkomunikasi dengan masyarakat luar telah difoto dari udara untuk pertama kalinya di kawasan Amazon, Brazil. Kondisi lingkungan sekitar mereka diambang kerusakan akibat ‘serbuan’ para penambang emas ilegal. Suku terasing ini telah mempertahankan cara hidup mereka selama ribuan tahun, dan kini dikhawatirkan akan menghadapi ancaman kepunahan jika teritorial mereka tidak dilindungi dari gangguan pihak luar.

Gambar-gambar dari udara tersebut diambil melalui pesawat Pemerintah Brazil untuk mencari para penambang ilegal. Dari pantaun itu, terlihat sebuah struktur masyarakat yang dipanggil “Yano” di teritorial orang asli Yanomami, sebagaimana diberitakan dari IFL Science.

Kawasan ini secara resmi dilindungi undang-undang sejak 1992, dan diyakini merupakan rumah bagi sekitar 22 ribu individu yang tersebar menjadi beberapa suku. Diperkirakan, ada tiga suku yang belum bernah berkomunikasi dengan pihak luar, berdasarkan data Survival Internasional.

Setiap bagian dari Suku Yano menampung keluarga yang berbeda, dan tempat tersebut merupakan ruang terbuka sebagai tempat tidur menggantung juga menyimpan dan menyiapkan makanan. Sekitar 100 individu diperkirakan hidup di dalam struktur tersebut.

Namun, sekitar 5.000-an penambang emas ilegal sedang mengintai kawasan hidup suku ini. Sejarah membutikan, jika komunitas asli dan orang luar bertemu, suku asli biasanya yang akan hancur. Salah satunya dikarenakan penyakit ‘baru’ yang dibawa orang luar sementara tubuh suku asli tidak kebal.

 

 

Struktur masyarakat yang dipanggil "Yano" ini diperkirakan beranggotakan 100 orang. Kredit foto: Guilherme Gnipper Trevisan/Hutukara

Struktur masyarakat yang dipanggil “Yano” ini diperkirakan beranggotakan 100 orang. Kredit foto: Guilherme Gnipper Trevisan/Hutukara

 

 

Awal tahun ini, sebuah laporan menyatakan bahwa sekitar 90% orang asli di kawasan Amazon menderita keracunan mercukuri akibat kegiatan penambangan ilegal di sekitar hutan hujan Amazon.

Meski begitu, jumlah orang luar yang memasuki kawasan lindung ini justru bertambah, membuat jarak antara suku-suku terasing dengan dunia luar makin menyempit. Pemerintah Brazil terus didesak untuk meningkatkan upaya perlindungan suku-suku asli kawasan ini.

Menurut Direktur Survival International, Stephen Corry, gambar-gambar luar biasa tersebut makin memperkuat bukti, masih banyak suku-suku terasing di kawasan tersebut. Mereka bukan orang liar, mereka adalah masyarakat kontemporer dan kompleks yang hak-haknya harus dihormati. 

Corry juga telah mengingatkan pemerintah setempat bahwa semua suku terasing menghadapi ancaman bencana kepunahan. Terutama, jika tanah mereka tidak dilindungi.

Ada Bunga Bangkai, Ada Kehebohan Warga di Kalimantan Timur

Rafflesia arnoldii (kiri) dan bunga bangkai raksasa Amorphophallus titanum (kanan) yang seriang dianggap jenis yang sama. Sumber: Wikipedia

Rafflesia arnoldii (kiri) dan bunga bangkai raksasa Amorphophallus titanum (kanan) yang seriang dianggap jenis yang sama. Sumber: Wikipedia

 

Warga Muara Komam, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur (Kaltim), mendadak heboh dengan tumbuhnya bunga bangkai berjenis Amorphophallus paeoniifolius atau suweg, Sabtu (19/11/2016). Suweg tersebut tumbuh di pelataran rumah Desi Indriyani (35), yang umbinya diperkirakan seberat satu kilogram.

Desi sempat mengira bunga tersebut saudaranya Rafflesia arnoldii. Setelah ia mencari perihal bunga itu melalui internet, dia baru mengerti jika sang bunga bangkai merupakan jenis berbeda. “Saat bangun pagi, saya lihat ada suweg yang tumbuh.”

Bagi ibu satu anak ini, menemukan suweg seperti mendapatkan tumbuhan langka. Awalnya, Desi ingin memindahkan bunga itu ke depan rumahnya. Namun, bunga tersebut selalu dikelilingi lalat. “Selain lalat, kadang aromanya juga tidak sedap. Namun, bagi saya ini tidak mengganggu.”

 

Baca: Sains: Tujuh Fakta Kesalahan Persepsi tentang Rafflesia

 

Sebelumnya, sekira Januari 2016, suweg juga menghebohkan warga Palaran, Samarinda, Kaltim. Bunga tersebut tumbuh di belakang rumah salah satu warga Palaran. Bentuknya lebih besar dan baunya juga menyengat di malam hari. Sayang, bunga tersebut hanya bertahan tiga hari dikarenakan ada tangan-tangan jahil yang datang merusaknya.

 

Amorphophallus titanum yang diabadikan dalam uang rupiah Rp500 terbitan 1982. Sumber: Bank Indonesia

Amorphophallus titanum yang diabadikan dalam uang rupiah Rp500 terbitan 1982. Sumber: Bank Indonesia

 

Bunga biasa

Peneliti Rafflesia dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sofie Mursidawati, mengatakan tidak perlu kaget jika melihat suweg, karena ia hanyalah tumbuhan biasa. Meski masuk keluarga bunga bangkai, namun suweg bisa tumbuh di mana saja. Suweg juga bukan sekelas Amorphophallus titanum (bunga bangkai raksasa) yang merupakan bunga endemik Sumatera.

“Bunga bangkai itu merupakan bunga dari umbi-umbian.”

Selama ini, lanjut dia, banyak orang yang mengira rafflesia adalah bunga bangkai. Padahal, sungguh jauh berbeda. Raflesia merupakan keluarga benalu sedangkan bunga bangkai dari keluarga talas-talasan. “Bunga bangkai merupakan tumbuhan yang menyuplai makanannya sendiri dari umbinya, karena memiliki umbi, batang, dan daun.”

Sofie mengatakan, banyak penemu bunga bangkai yang memanfaatkan situasi untuk mencari dana pemeliharaan. Padahal, yang mereka temukan hanya suweg biasa. Dipastikan, tidak akan pernah ada Rafflesia arnoldii yang tumbuh di luar Pulau Sumatera, karena bunga tersebut merupakan parasit endemik Sumatera. “Adapun raflesia yang tumbuh di Kebun Raya Bogor merupakan jenis rafflesia padma, bukan arnoldii.”

Tumbuhnya suweg di Kaltim menunjukkan, tanaman ini bisa tumbuh bebas. Apalagi, jika jenis tanah yang didiami tanah yang subur. Suweg pun bisa beradaptasi dengan cepat karena penyebarannya tidak sulit.

“Saya yakin, ketika suweg tumbuh tiba-tiba, pasti tanaman ini pernah tumbuh di tempat yang sama, sebelumnya. Dia mengumpulkan energi untuk tumbuh kembali, dengan cara tidur di tanah.”

Sebagaimana umbi, suweg akan merayap dan umbinya membesar di dalam tanah. Umbi tersebut ada yang bisa dimakan, dan ada yang tidak. “Ada beberapa yang bisa dimakan, tapi sebagian besar menimbulkan efek gatal di seluruh tubuh. Sebaiknya jangan dikonsumsi.”

 

Padma (Rafflesia patma Blume) mekar di Kebun Raya Bogor awal November 2012. Foto: Ridzki R. Sigit

Padma (Rafflesia patma Blume) mekar di Kebun Raya Bogor awal November 2012. Foto: Ridzki R. Sigit

 

Berbeda

Sofie menjelaskan, jenis bunga bangkai endemik Sumatera yang langka, Amorphophallus titanum. Perkembangbiakannya sama seperti suweg, hanya saja, untuk memekarkan bunganya, Titanum memerlukan waktu yang lama. Berat umbinya juga mencapai 50 – 60 kilogram.

Titanum satu marga dengan suweg, bedanya suweg bisa menyebar di seluruh Indonesia sementara titanum tidak. Keduanya adalah Amorphophallus yang memerlukan tempat tumbuh yang sesuai yaitu di hutan dan pinggirannnya.”

 

Bunga bangkai berjenis Amorphophallus paeoniifolius yang tumbuh di pekarangan rumah Desi Indriyani, warga Muara Komam, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Foto: Desi Indriyani

Bunga bangkai berjenis Amorphophallus paeoniifolius yang tumbuh di pekarangan rumah Desi Indriyani, warga Muara Komam, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Foto: Desi Indriyani

 

Sama seperti rafflesia, titanum adalah jenis bunga langka. Sebab, ia tidak mudah ditemukan dan pemekaran bunganya tidak sesering suweg. “Populasinya hanya di Sumatera dan tidak akan tumbuh di luar pulau tersebut.”

Harusnya, titanum dilindungi sebagaimana rafflesia. Sayang, informasi mengenai bunga ini tidak ada data yang kuat, dan hanya diakui di Indonesia. Secara internasional, titanum hanya dikenal sebagai bunga biasa yang tidak perlu diistimewakan. “Di Indonesia, titanum memang langka. Namun, karena kurang data, keberadaannya tidak dilindungi secara internasional layaknya rafflesia,” pungkanya.

 

 

Sebulan Terakhir, Ada Tiga Pesut yang Terjerat Jaring Nelayan

Potongan kepala pesut yang tersisa. Foto: BKSDA Kalbar

Potongan kepala pesut yang tersisa. Foto: BKSDA Kalimantan Barat

 

Dua ekor pesut kembali terkena jaring nelayan di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Kamis 24 November 2016, pukul 08.30 WIB. Pesut malang itu terperangkap jaringnya Hendy, warga Dusun Besar, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.

“Menurut keterangan yang bersangkutan, satwa tersebut tersangkut ketika ia menjaring ikan talang, sekitar jam 01:00 WIB, di sekitar Pulau Juante. Kondisinya mati,” jelas Ruswanto, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang Resort Sukadana BKSDA Kalimantan Barat.

Hendy kemudian membawa dua satwa tersebut ke pasar ikan di Sukadana. Lalu, dipotong dan dibagikan ke masyarakat. “Ketika Tim Resort Sukadana datang, yang tersisa hanya  potongan satu kepala. Setelah dibawa ke Kantor Resort Sukadana potongan tersebut  dibawa ke Pontianak untuk diidentifikasi lebih lanjut.”

 

Sebulan terakhir sudah tiga ekor pesut terjerat jaring nelayan. Foto: Rosi (Warga Sukadana)

Sebulan terakhir sudah tiga ekor pesut terjerat jaring nelayan. Foto: Rosi (Warga Sukadana)

 

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Sustyo Iriyono, mengatakan, karena pesut tersebut telah dipotong-potong warga, petugas harus mengumpulkan lebih banyak informasi mengenai dua satwa tersebut. “Menurut warga, ukuran keduanya berbeda, satu besar dan satunya kecil. Kami belum bisa menyimpulkan kenapa pesut tersebut keluar dari habitatnya dengan kondisi luka di sekujur tubuh.”

Tercatat, dalam sebulan terakhir, ada tiga pesut yang terjerat jaring nelayan. Pekan lalu, warga pesisir di Pantai Pulau Datok pun dihebohkan dengan seekor pesut yang terdampar. Lumba-lumba air tawar berukuran sekitar dua meter saat ditemukan hidup. Namun, tak lama kemudian mati. Dedi Heryanto, warga Sukadana yang menemukan satwa tersebut mengatakan, terdapat luka di kepalanya.

“Saya menghubungi petugas dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kayong Utara. Warga dibantu anggota kepolisian berinisiatif menguburkan satwa tersebut, karena bau amis yang menyengat.”

 

Pesut ini mati dengan tubuh penuh luka, kejadian ini masih diselidiki lebih lanjut. Foto: Rosi (Warga Sukadana)i

Pesut ini mati dengan tubuh penuh luka, kejadian ini masih diselidiki lebih lanjut. Foto: Rosi (Warga Sukadana)i

 

Kawasan esensial

BKSDA, WWF Indonesia program Kalimantan Barat, dan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Pontianak, duduk satu meja, Kamis petang, membahas kasus tersebut. “Dalam jangka pendek, harus segera dilakukan penyadartahuan kepada masyarakat di Lanskap Pawan-Kubu. Sasarannya lebih diintensifkan pada nelayan setempat,” ujar Sustyo.

Menurut Sustyo, Lanskap Pawan-Kubu harus dijadikan Kawasan Ekosistem Esensial. Kawasan ini harus segera dikukuhkan, agar disusun rencana pengelolaannya. Berdasarkan UU 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah, salah satu kewenangan pemerintah provinsi, dapat menetapkan daerah pengembangan Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial.

Ekosistem esensial  adalah kawasan dengan  ekosistem yang berada di luar kawasan konservasi, baik yang merupakan tanah hak maupun bukan, yang secara  ekologis  penting  bagi konservasi  keanekaragaman hayati. “Tapi, kawasan ini belum diatur jelas. Direktorat Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, yang akan membina secara teknis.”

 

Pesut yang terjerat jaring nelayan ini dipotong warga setempat untuk dibagikan, hanya bagian kepala yang bisa  diselamatkan untuk penelitian lebih lanjut. Foto: BKSDA Kalimantan Barat

Pesut yang terjerat jaring nelayan ini dipotong warga setempat untuk dibagikan, hanya bagian kepala yang bisa diselamatkan untuk penelitian lebih lanjut. Foto: BKSDA Kalimantan Barat

 

Pawan-Kubu Landscape Leader, WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat, Ian M. Hilman mengatakan, Kubu Raya memiliki 40 jenis mangrove dari 60 lebih jenis yang ada di Indonesia. Pendataan terhadap potensi esensial itu terus dilakukan yang meliputi penyebaraan dan pembagian peran terhadap kawasan tersebut. “Mengenai satwa, pemerintah daerah setempat mempunyai kewajiban menjaga spesies yang statusnya dilindungi.”

Manager Program Kalimantan Barat WWF Indonesia, Albert Tjiu, menambahkan, penentuan kawasan ekosistem esensial berada di Direktorat Jenderal Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. “Disini diatur pengamanan ekosistem, dan isu spesiesnya juga,” tambahnya. Keberadaan jenis Cetacean dalam ekosistem mangrove, menjadi informasi penting dalam membangun kawasan ekosistem esensial.

Iwan Taruna Alkadrie, Kepala Seksi Balai Pengelola Sumber Daya Pesisir dan Laut Pontianak, mengatakan, terkait dengan mamalia terdampar, tahun ini trendnya meningkat. “Jika fenomena alam, harus kita kaji lebih lanjut,” kata Iwan. Kawasan Kubu Raya dan Kayong Utara cukup luas, sehingga memerlukan first responding dari masyarakat.

Menurut Iwan, untuk partisipasi masyarakat, memang perlu dilaksanakan bimbingan teknis mamalia terdampar berbasis masyarakat. Khusus nelayan, harus diajarkan bagaimana cara menangani mamalia yang terjaring. “Mengenai pembentukan kawasan ekosistem esensial, untuk jangka pendek, para pihak bisa memasukkan wacana tersebut dalam revisi peraturan daerah zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Sehingga, di dalamnya nanti meliputi kawasan esensial ekosistem,” ujarnya.

 

 

Masih Terjadi, Gajah Mati karena Racun di Aceh

Gajah sumatera ini ditemukan mati keracunan di kebun masyarakat di Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh., Februari 2016. Foto: Junaidi Hanafiah

Gajah sumatera ini ditemukan mati keracunan di kebun masyarakat di Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh., Februari 2016. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Kabar tidak sedap kembali menghampiri nasib gajah sumatera. Sudah tiga individu yang meregang nyawa akibat racun sepanjang 2016, di Aceh.  

Gajah pertama mati di Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, 18 Februari 2016. Gajah berumur 17 tahun ini, ditemukan tidak bernyawa di perkebunan masyarakat di Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol. Masyarakat meyakini gajah tersebut mati karena memakan pupuk yang dipakai oleh masyarakat untuk perkebunan mereka.

Pada 17 April 2016, satu individu gajah kembali ditemukan mati di perkebunan kelapa sawit milik PT. Dwi Kencana Semesta di Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur. Sebelumnya, di penghujung 2014, dua bangkai gajah dan dua kerangka gajah pun ditemukan di lahan perkebunan ini.

Terbaru, 18 November 2016, satu gajah betina ditemukan terbujur kaku di perkebunan sawit di Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur. Gajah berumur belasan tahun ini pun mati karena racun.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Genman Hasibuan mengatakan, berdasarkan hasil identifikasi lapangan, gajah betina ini mati karena memakan racun. Namun, belum diketahui apakah disengaja atau tidak. “Kami telah mengambil sampel organ tubuh untuk memastikan jenis racun yang dimakan. Pemeriksaan di laboratorium butuh waktu,” ujarnya pekan ini.

Genman mengatakan, di 2016, memang ada tiga kasus kematian gajah di Aceh akibat racun. BKSDA Aceh bersama lembaga terkait telah berupaya mengurangi konflik antara gajah dengan manusia. “Harapannya, tidak ada lagi masyarakat yang membunuh gajah dan juga tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban.”

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh, Muhammad Nur mengatakan, tingginya konflik gajah dengan manusia di Aceh, dikarenakan maraknya alih fungsi hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. “Habitat gajah dirusak, konflik tidak bisa dihidari.”

Saat ini, kata Muhammad Nur, perkebunan skala besar telah menguasai area hutan dan lahan sekitar 385 ribu hektare. Sementara perkebunan rakyat sekitar 100 ribu hektare. “Hingga saat ini belum terdengar pembunuh gajah yang diseret ke pengadilan, kecuali kasus Papa Geng di Aceh Jaya. Sedangkan di Aceh Timur, pernah ditangkap pelaku pembunuh gajah di perkebunan kelapa sawit 2014, namun hingga kini tidak terdengar kabarnya.”

 

Gajah sumatera yang mati keracunan di kebun masyarakat di Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, pertengahan Februari. Sepanjang 2016, sudah tiga individu gajah yang mati karena racun di Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah

Gajah sumatera yang mati keracunan di kebun masyarakat di Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, pertengahan Februari. Sepanjang 2016, sudah tiga individu gajah yang mati karena racun di Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Kawanan gajah terperangkap

Sementara itu, Forum Daerah Aliran Sungai (DAS)  Krueng (sungai) Peusangan meminta Pemerintah Aceh menutup sementara aktivitas galian C di Krueng Peusangan. Tujuannya, menyelamatkan sekitar 40 individu gajah yang terperangkap di wilayah tersebut.

Ketua Umum Forum DAS Krueng Peusangan (FDKP) Suhaimi Hamid menjelaskan, pihaknya telah menyurati Pemerintah Aceh terkait masalah ini. Menurutnya, aktivitas galian C di Sungai Peusangan telah menyebabkan gajah tertahan di tiga kantong, yaitu di Sayeung, Jalung II, dan Lembah Gedok. “Aada kelompok gajah yang terjebak setelah dilakukan penggiringan, karena terganggu kegiatan galian C.”

Suhaimi mengatakan, jika galian C tidak dihentikan sementara, kawanan gajah dikhawatirkan akan pindah ke daerah lain dan menimbulkan konflik baru. “Seharusnya kelompok gajah bisa bergerak dari Lembah Gedok ke daerah Jalung II dan Sayeung. Saat ini, para gajah coba menerobos parit pembatas dan sebagian lagi menuju Ayeun, melewati Pante Gelima.”

Menurut Suhaimi, 40 gajah tersebut terdiri dari beberapa kelompok. Ada yang berjumlah 17 individu, ada yang 10 individu, 5 individu, dan kelompok yang beranggotakan 4 individu. Selain itu, ada juga beberapa jantan soliter yang saat ini terkonsentrasi di lembah Sungai Peusangan. Posisinya di sepanjang 15 kilometer mulai dari Pantan Lah (Kabupaten Bireuen), Pintu Rime Gayo (Kabupaten Bener Meriah), dan Karang Ampar (Kabupaten Aceh Tengah).

“Luas kawasan yang masih bisa diakses gajah untuk mencari makan kurang dari 1.000 hektare di Sayeung dan Jalung II. Kawasan ini, merupakan hutan sekunder kecil, perkebunan warga, dan lahan terlantar,” ujarnya.

 

 

Rizal Fahreza, Pemuda yang Bangga Menjadi Petani Jeruk

Rizal Fahreza yang bangga menjadi petani muda Indonesia. Foto: Dok. Rizal Fahreza

Rizal Fahreza yang bangga menjadi petani muda Indonesia. Foto: Dok. Rizal Fahreza

 

Bagi Rizal Fahreza, 25 tahun, penghargaan sebagai Young on Top—Duta Petani Muda Indonesia 2016, bukanlah penghargaan yang pertama kali diraihnya. Rizal terpilih sebagai juara kedua dari ajang pemilihan yang diselenggarakan oleh Oxfam, ProFocus, dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan. Sebelumnya, dia pun mendapat penghargaan sejenis dari Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Penghargaan-penghargaan itu diraihnya dengan perjuangan dan keuletan. Petani muda ini, sukses berkat tanaman sayur dan buah, usaha perikanan, pengolahan sayur dan tepung cabai serta agrowisata. Namun, dari semua itu, yang membuat usahanya moncer adalah buah jeruk garut yang ditanamnya.

Lulusan IPB 2014 ini memang sejak awal sudah tertarik menekuni dunia pertanian. Rizal pun memfokuskan diri pada pertanian agrobisnis sebagai matakuliah mayor dan agribisnis, minornya. Pemuda ini juga cukup beruntung mendapatkan program tambahan di California, Amerika Serikat, untuk belajar tentang teknologi jeruk. “Di sana saya dapat banyak ilmu tentang jeruk dan bisa saya terapkan untuk pertanian jeruk di sini,” ujarnya kepada Mongabay usai meneriman penganugerahan di Jakarta, Sabtu (19/11/16).

Rizal memulai bisnis bukan dalam setahun dua tahun ini. Dia sudah memulainya empat tahun lalu, fokus pada jeruk. Baginya, bertanam dan berbisnis jeruk merupakan ceruk peluang yang besar. Dia membayangkan dari 200 juta penduduk Indonesia, jika 25 persennya saja mengkonsumsi jeruk, maka setidaknya dibutuhkan 3,7 juta ton jeruk per tahun. “Ini potensi besar, siapa pemainnya? Kurang dari sepuluh jari tangan saya ini,” ujarnya.

Rizal mengawali usahanya dari lahan seluas 2,2 hektare persegi untuk jeruk dan sayuran. Lahan itu diperolehnya dengan sistem bagi hasil, melalui sewa lahan dan juga lahannya sendiri.  Dia menggandeng 17 petani hortikultura di enam kecamatan di Garut. Kerja sama yang dijalin berkat jaringan saat ia menjadi ketua himpunan mahasiswa.

Meski demikian, Rizal belajar bagaimana mata rantai pertanian dan pemasarannya. Salah satunya, melihat para tengkulak bekerja dan melakukan sistem ijon. Tapi dia tak takut, karena lebih mengutamakan kualitas hasil pertaniannya. “Saya jual 30 persen lebih tinggi dari harga di tengkulak, tapi saya pastikan mutunya.”

 

Mengembangkan jeruk garut adalah hal yang sangat membanggakan Rizal. Ia bertekad untuk mengembangkan jenis jeruk lainnya. Foto: Dok. Rizal Fahreza

Mengembangkan jeruk garut adalah hal yang sangat membanggakan Rizal. Ia bertekad mengembangkan jenis jeruk lainnya. Foto: Dok. Rizal Fahreza

 

Dengan ilmu yang diperolehnya, Rizal memanen jeruk yang benar-benar bermutu. Untuk memastikan kualitas jeruknya, dia menggunakan alat sederhana yang dibelinya saat belajar di California. Alat yang dapat mengetahui kadar air dan tingkat kemanisan jeruk. Menurutnya, usia pohon jeruk bisa tetap berproduksi hingga 10 tahun, dengan puncak tertinggi tahun ke lima hingga ke enam. Setelah 10 tahun, pohon harus dicabut.

Rizal bergerak dari hulu ke hilir. Untuk memasarkan produknya, dia menggunakan jaringan yang telah diperolehnya karena kemampuan dan prestasi. Dia menembus catering, koperasi karyawan lembaga badan usaha milik negara, dan hotel bintang lima kawasan Jakarta – Bogor.

Dia sangat senang dengan kebijakan pemerintah yang mengharuskan hotel bintang lima menggunakan 75 persen buah lokal kepada konsumennya. “Tentu saja ini potensi dan peluang besar. Hingga saat ini, suplai jeruk sebanyak 1,2 ton atau sekitar 400 dus jeruk per hari untuk Jakarta dan Bogor,” paparnya.

Rizal senang bisa melestarikan jeruk garut, kebanggaan kotanya. Meski, merawat jenis ini tidak mudah karena ancaman hama yang rentan mematikan jeruk, meskipun bisa diatasi dengan teknologi. Bertanam jeruk, kata dia, seperti merawat bayi, harus dilihat setiap saat, setiap hari.

“Petani di Indonesia belum terbiasa dengan kualitas. Ini merupakan budaya yang sedikit demi sedikit harus diubah. Saya berencana mengembangkan jenis jeruk lainnya, karena saya bangga menjadi petani,” paparnya.

 

 

Kebutuhan Utama Masyarakat Trenggalek Itu Sumber Mata Air, Bukan Tambang Emas (Bagian – 3)

Jalan di sekitar permukiman warga yang menuju sumber mata air Plancuran di pegunungan Semungklung. Sumber mata air ini terus dijaga masyarakat karena penting bagi kehidupan mereka. Foto: Petrus Riski

Jalan di sekitar permukiman warga yang menuju sumber mata air Plancuran di pegunungan Semungklung. Sumber mata air ini terus dijaga masyarakat karena penting bagi kehidupan mereka. Foto: Petrus Riski

 

Suara kicau burung mengiringi langkah kami saat menapaki jalan menuju sumber mata air Plancuran. Letaknya di pegunungan Semungklung, wilayah Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

Jalan desa berlapis semen yang semula hanya seukuran mobil kecil, perlahan menyempit menjadi jalan setapak dengan tanjakan cukup tajam. Jalan Makadam yang hanya bisa dilewati satu orang ini kondisinya licin, akibat guyuran hujan beberapa hari terakhir.

Di kiri-kanan jalan licin dan cenderung naik itu, ditumbuhi berbagai tanaman hutan. Ada juga pohon buah yang sengaja ditanam warga sekitar. Sejauh mata memandang puncak gunung Semungklung yang tertutup kabut, tampak dipenuhi pohon-pohon tinggi seperti pinus dan cemara.

 

Baca: Trenggalek, Alam yang Terusik Akibat Proyek Penambangan Emas (Bagian – 1)

 

Setelah melewati beberapa aliran sungai kecil dan batuan besar, kami tiba di sumber mata air Plancuran. Air itu keluar dari batu besar di salah satu tebing, mengalir jernih ke sungai kecil di bawahnya.

“Saya baru kali ini sampai ke mata air, sebelumnya tidak pernah karena rutenya yang jauh,” tutur Supandi, warga Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko, saat menemani Mongabay, awal November.

 

Aliran air sungai dari sumber mata air ini melewati bebatuan di pegunungan Semungklung. Masyarakat selalu menjaga dan merawatnya. Foto: Petrus Riski

Aliran air sungai dari sumber mata air ini melewati bebatuan di pegunungan Semungklung. Masyarakat selalu menjaga dan merawatnya. Foto: Petrus Riski

 

Plancuran merupakan satu dari sekian banyak sumber mata air yang keluar dari pegunungan Semungklung. Menurut cerita masyarakat setempat, sumber air ini sudah ada sejak nenek moyang mereka bermukim di wilayah Kecamatan Dongko.

Plancuran diartikan sebagai mata air yang mancur atau terus mengalir, meskipun kemarau. Saat penghujan airnya tetap bening, tidak keruh. Nama Desa Sumberbening pun tidak lepas dari keberadaan sumber mata air yang jernih ini. Bahkan, masyarakat bisa meminumnya, langsung. “Mata air Plancuran tidak pernah berubah debitnya. Musim hujan deras, saat kemarau selalu jernih,” ungkap Suyanto, Kepala Desa Sumberbening.

Sebagian warga Sumberbening dan sekitar, menganggap Plancuran sebagai sumber air yang disucikan. Tidak jauh dari tempat itu, dipercaya ada petilasan tokoh yang dianggap sebagai  pendiri Trenggalek. “Pada masa tertentu ada kelompok masyarakat yang menggelar ritual di sekitar mata air. Tujuannya, mendoakan kelestarian mata air dan sumber penghidupan masyarakat.”

Plancuran menjadi sandaran hidup masyarakat yang mayoritas petani, karena digunakan untuk mengairi sawah. Tidak hanya Sumberbening, desa-desa lain juga bergantung pada sumber air yang ada di Semungklung.

“Bukan Dongko saja, masyarakat di kecamatan lain juga sangat bergantung, terlebih saat kemarau,” kisah Suyanto yang juga sesepuh Sumberbening.

 

Plancuran adalah sumber mata air di  pegunungan Semungklung yang dianggap keramat oleh sebagian warga. Foto: Petrus Riski

Plancuran adalah sumber mata air di pegunungan Semungklung yang dianggap keramat oleh sebagian warga. Foto: Petrus Riski

 

Merawat

Di Sumberbening sedikitnya terdapat lima sumber mata air. Ditambah desa lain di Kecamatan Dongko, jumlahnya mencapai 45 buah. Suhariono, warga setempat, mengaku telah lama menjaga dan merawat sumber mata air di Semungklung. Tanpa harus diperintah, ia bersama warga membentuk kelompok yang bertugas merawat dan menjaga kelestarian sumber mata air tersebut. “Air dimanfaatkan untuk mandi, minum, mengairi persawahan, dan kebutuhan harian.”

Seminggu sekali ada warga yang bergantian mengunjungi dan memeriksa mata air dan lingkungan sekitar. Warga juga bergantian membersihkan. “Bersama, kami merawatnya. Intinya kebersamaan. Bila ada yang rusak, terhalang batu, tanah atau batang pohon, kami perbaiki.”

 

Sumber mata air ini  muncul di bawah pohon besar di Kecamatan Panggul, Trenggalek yang  dimanfaatkan oleh warga untuk kebutuhan keseharian. Foto: Petrus Riski

Sumber mata air ini muncul di bawah pohon besar di Kecamatan Panggul, Trenggalek yang dimanfaatkan oleh warga untuk kebutuhan keseharian. Foto: Petrus Riski

 

Tidak hanya merawat mata air, masyarakat setempat juga menanami bukit atau lahan yang terlihat gersang dengan pohon yang mengikat air tanah. Tujuannya, selain menjaga sumber mata air tidak berkurang, pepohonan juga mencegah longsor. “Kami gotong-royong menyediakan bibit dan menanamnya.”

 

Baca juga: Masyarakat Trenggalek yang Tidak Ingin Ada Tambang Emas di Wilayah Mereka (Bagian – 2)

 

Suhariono bersama seorang warga, hari itu berpatroli mengendarai sepeda motor. Selain memeriksa kebersihan jalur yang dilalui air, mereka juga memastikan sumber mata air tetap terjaga dari ulah orang yang sengaja merusak. Patroli juga dilakukan untuk menjaga hutan dari penebang kayu liar, maupun pemburu satwa liar.

“Masih ada juga yang menebangi pohon, kalau ketahuan kami tegur. Kalau pemburu satwa sudah jarang. Di sini rumahnya babi hutan, kijang, dan binatang lain.”

 

Sebagian sisi bukit yang  gundul ini dipastikan  mengancam ketersediaan sumber mata air yang ada. Foto: Petrus Riski

Sebagian sisi bukit yang gundul ini dipastikan mengancam ketersediaan sumber mata air yang ada. Foto: Petrus Riski

 

Tidak hanya Plancuran, sumber mata air di tempat lain di sekitar Semungklung juga dijaga warga, seperti Apak-apak. Suhariono bersama warga Sumberbening dan sembilan desa lain di Kecamatan Dongko berkomitmen menjaga mata air dan hutan di Semungklung. Caranya, tidak mengizinkan aktivitas eksplorasi maupun eksploitasi tambang di kawasan itu.

Jika pegunungan Semungklung jadi ditambang, ribuan hektar sawah dan perkebunan warga sudah dipastikan terancam. Tidak hanya warga di Kecamatan Dongko, masyarakat di kecamatan sekitar akan merasakan imbas dari pertambangan emas tersebut, bila dilakukan.

“Intinya, warga menolak tambang emas, segala macam tambang pastinya. Kami tidak ingin ada pencemaran, longsor, dan bencana yang tidak diharapkan kedatangannya. Kehadiran tambang akan memberi gores hitam pada lingkungan yang sudah kami jaga selama ini,” tandas Suhariono. (Selesai)

 

 

Penampilan Burung Ini Mengingatkan Kita Pada Donald Trump

Salah satu ciri khas Donald Trump yang cukup mudah dikenali adalah gaya dan warna rambut emasnya yang unik. Rambut Donald Trump ini makin menjadi buah bibir, terutama di sosial media, selama masa kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat berlangsung.

Setelah menjadi pemenang pemilihan presiden awal November ini, rambut Trump kembali menjadi buah bibir di sosial media. Kali bukan karena Trump sendiri, melainkan ada burung yang punya bulu kepala mirip dengan rambutnya itu.

 

Burung Pheasant umur lima tahun ini penampilannya bulunya seperti rambut Donald Trump. Foto: People's Dialy Online/VCG

Burung Pheasant umur lima tahun ini penampilan bulu emasnya mengingatkan kita pada rambut Donald Trump. Foto: People’s Dialy Online/VCG

Gaya rambut Donald Trump. Foto: Getty Images

Gaya rambut Donald Trump. Foto: Getty Images

 

Seorang wartawan dari Kota Hangzhou (Tiongkok) mengambil gambar seekor burung jantan di Hangzhou Safari Park yang menjadi viral di dunia maya. Betapa tidak, terlihat rambut Trump dari depan, dan pedang samurai abad pertengahan dari belakang.

Potret burung itu didapat dari Hangzhou Safari Park di timur Tiongkok. Sang wartawan sudah tinggal lima tahun di sana. Menurut pekerja di sana, Mr. Gao, sebagaimana diberitakan dari Daily Mail, burung Pheasant memiliki bulu yang tebal, cerah, dan bulu kepalanya seperti emas sehinga disebut Little Red.

 

Pheasant jantan yang berada di Hangzhou Safari Park di timur Tiongkok. Foto: Hangzhou Safari Park

Pheasant jantan yang berada di Hangzhou Safari Park di timur Tiongkok. Foto: Hangzhou Safari Park

 

Menurut harian The People’s Daily, burung Pheasant yang mirip Trump ini punya bulu yang berwarna-warni cerah, karena, menurut sang penjaga, dia sangat sehat.

Setelah itu, si wartawan yang tidak disebutkan identitasnya memposting gambar itu ke media sosial. Gambar tersebut ternyata menarik perhatian, tidak sedikit pula pengguna media sosial yang memberikan komentar.

“Sebuah gaya rambut trendi lahir di akhir 2016,” kata seorang pengguna media sosial mengomentari burung tersebut.

“Tidak hanya penampilan burung ini terlihat seperti Trump, ekspresi wajahnya juga terlihat  seperti Trump,” kata pengguna lain.

“Lihatlah matanya, sangat mirip dengan Trump. Satu-satunya perbedaan adalah Trump tidak memiliki paruh,” pungkas pengguna lainnya di laman taman safari tersebut.

 

Burung Pheasant ini memiliki bulu yang tebal, cerah, dan bulu kepalanya seperti emas. Foto: Reuters/News.com

Burung Pheasant ini memiliki bulu yang tebal, cerah, dan bulu kepalanya seperti emas. Foto: Reuters/News.com

 

Juru bicara dari Hangzhou Safari Park mengatakan bahwa para staf sudah melihat burung itu sejak lama, dan menurut mereka tak ada yang istimewa. Namun menjadi berbeda setelah sang jurnalis lokal membuatnya populer. Mereka berharap, makin banyak pengunjung dari seluruh dunia yang datang untuk melihat burung tersebut.

Burung Pheasant mudah ditemui dimana pun di dunia, namun jenis ini memang berasal dari Tiongkok dan Mongolia.

 

 

Masyarakat Trenggalek yang Tidak Ingin Ada Tambang Emas di Wilayah Mereka (Bagian – 2)

Bukit di wilayah Trenggalek ini akan ditambang bila pemerintah mengizinkan perusahaan tambang emas mengeksploitasi kawasan ini. Foto: Petrus Riski

Bukit di wilayah Trenggalek ini akan ditambang bila pemerintah mengizinkan perusahaan tambang emas mengeksploitasi kawasan ini. Foto: Petrus Riski

 

Masyarakat Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, sepakat menolak rencana perusahaan tambang PT. Sumber Mineral Nusantara (SMN) yang akan melakukan eksplorasi di desa mereka. Khususnya, wilayah gunung Semungklung.

Warga menolak karena takut terhadap dampak yang akan ditimbulkan, terutama kerusakan lingkungan seperti yang terjadi di lokasi pertambangan lainnya di Indonesia. Supandi, masyarakat Sumberbening mengatakan, informasi adanya kandungan emas di desanya membuat warga khawatir akan dilakukannya penambangan. Dikhawatirkan, mengancam kehidupan masyarakat yang bergantung pada alam pegunungan Semungklung.

“Masyarakat awam tentang pertambangan, yang selalu didengar adalah permasalahannya seperti longsor, limbah, dan sebagaimana yang terjadi di Porong, semburan lumpur yang tidak kunjung berhenti.”

 

Baca: Trenggalek, Alam yang Terusik Proyek Penambangan Emas (Bagian – 1)

 

Sosialisasi perusahaan yang minim juga menjadi alasan penolakan masyarakat. Terlebih, saat survei hingga pemasangan kabel dan patok penanda lokasi, warga dan aparat desa tidak diajak bicara terlebih dahulu.

Penolakan warga terhadap rencana aktivitas pertambangan emas sempat dilakukan dalam bentuk unjuk rasa di balai desa. Warga bahkan, akan melakukan aksi yang sama bila perusahaan tambang masih berniat melakukan eksplorasi.

“Bagaimana jadinya kalau desa ditambang. Bagaimana nasib lahan pertanian kami? Memang, ada yang berpendapat boleh ditambang asal ada ganti rugi, karena tidak bisa menolak bila pemerintah yang minta. Tapi, bila tidak ada kompensasi tidak akan dilepas,” ujar Supandi menuturkan beberapa pendapat warga.

Warga yang menolak, menyadari akan banyak perubahan pada lingkungan desa, terutama hilangnya hutan lindung, mata air, persawahan dan tempat masyarakat bercocok tanam. “Sebagian masyarakat ada yang berpikir anak cucu, jadi tidak akan melepas lahan.”

Sejumlah warga desa lain juga melakukan penolakan terhadap rencana penambangan emas di Trenggalek. “Kami yang tinggal di hilir juga khawatir bila Sumberbening ditambang. Limbahnya pasti ke desa kami, sungai tercemar, dan tanaman padi akan rusak,” ujar Eko, warga Kecamatan Panggul.

Perusahaan tambang emas PT. SMN menurut Kepala Desa Sumberbening, Suyanto, berupaya mendekati warga melalui sosialisasi pasca-penolakan 2014. “Namun, datangnya alat-alat untuk mengambil sampel tanah justru membuat warga khawatir dan menolak proyek itu.”

Suyanto mengungkapkan, penolakan tambang sempat disampaikan warga menjelang kampanye, kepada calon Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak, yang akhirnya menjadi pemenang Pilkada 2015. Di Desa Sumberbening, penolakan paling kencang datang dari warga Dusun Pelem, Dusun Krajan, dan Mloko. Mayoritas masyarakat menolak karena aspek lingkungan hidup yang akan rusak dan merugikan masyarakat. “Pak Emil bicara langsung ke masyarakat, dan mengatakan menolak tambang. Itu komitmennya  soal rencana eksplorasi,” tandas Suyanto.

 

Bukit dan sawah yang hijau ini akan hilang bila eksploitasi tambang emas dilakukan. Bagaimana nasib petani dan warga setempat? Foto: Petrus Riski

Bukit dan sawah yang hijau ini akan hilang bila eksploitasi tambang emas dilakukan. Bagaimana nasib petani dan warga setempat? Foto: Petrus Riski

 

Tolak tambang

Aksi tolak tambang juga dilakukan warga Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo, Juli 2016, setelah mengetahui adanya survei eksplorasi tambang emas tanpa ada izin kepada warga.

Suhari, Ketua RT 23 Dusun Kajar, Desa Dukuh, mengatakan penolakan warga dilakukan di balai desa untuk meminta penjelasan kepala desa mengenai survei perusahaan itu. Suhari menegaskan, penolakan warga dilakukan karena khawatir lingkungan dan desa tempat tinggal mereka bakal rusak dan mengganggu perekonomian. “Mereka pasang patok tanpa izin.”

Sebelumnya, warga telah mendengar informasi akan dilakukan eksplorasi di kawasan hutan wilayah Kecamatan Kampak, tidak jauh dari Watulimo. Namun, wilayah itu dikelola Perhutani. Pasca- aksi, warga memasang baliho di sejumlah titik Desa Dukuh, isinya penolakan tambang emas di desa. “Warga dipastikan menolak bila perusahaan berusaha masuk,” kata Suhari.

 

Jalan di Desa Sumberbening, wilayah yang sempat dipasangi tanda pita dan kabel-kabel untuk uji material tanah yang dilakukan perusahaan tambang. Foto: Petrus Riski

Jalan di Desa Sumberbening, wilayah yang sempat dipasangi tanda pita dan kabel-kabel untuk uji material tanah yang dilakukan perusahaan tambang. Foto: Petrus Riski

 

Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak, saat menghadiri acara di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, akhir Oktober 2016 menegaskan, pihaknya berjanji tidak akan memberi izin tambang, bila masyarakat tidak mau ada tambang di wilayahnya.

“Komitmen itu saya buktikan ketika PT. SMN datang ke saya minta izin lingkungan. Saya minta mereka tanda tangan di atas materai untuk tidak menggarap sebelum masyarakat Sumberbening setuju.”

Aktivitas yang dilakukan di sejumlah wilayah Trenggalek, kata Emil, baru sebatas mengukur potensi kandungan emas, sehingga diyakini tidak akan merusak lingkungan. Investasi  pertambangan emas, merupakan salah satu faktor penggerak dan pembangkit perekonomian suatu daerah. Namun demikian, karpet merah bagi investasi bukan yang utama dibandingkan menjaga dan mempertahankan karakter serta identitas daerah tersebut.

“Kita memberi karpet merah untuk investasi, tapi tidak mendewakan investasi. Jangan kita melacurkan apa yang menjadi karakter dan identitas kita, alam kita tidak kita gadaikan,” tandasnya.

Sejauh ini, Pemerintah Kabupaten Trenggalek baru memberbolehkan dua wilayah untuk di eksplorasi, yaitu Sumberbening dan Watulimo. Namun, Emil menegaskan tidak akan mengizinan penambangan di wilayah yang telah menjadi kawasan wisata, sandaran ekonomi, serta kehidupan masyarakat. “Seperti di Watulimo, kalau mau nambang di kawasan pariwisata saya tidak izinkan.”

Gubernur Jawa Timur saat dikonfirmasi mengenai aktivitas tambang emas di Trenggalek, mengatakan belum mengetahui hal tersebut karena belum ada pengajuan izin. “Trenggalek belum tahu, kalau di Silo dan Jember sudah ada Antam yang mengajukan,” kata Soekarwo.

Soekarwo menegaskan, segala kegiatan eksplorasi harus mengajukan izin ke pemerintah provinsi. Bila tidak ada izin dianggap aktivitas ilegal. “Belum ada izin. Survei harus izin, kalau ilegal ya kami tidak tahu dan tidak bisa menjawab.”

 

Pertanian organik warga Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, yang mengandalkan sumber mata air dan sungai untuk pertanian dan perkebunan mereka. Foto: Petrus Riski

Pertanian organik warga Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, yang mengandalkan sumber mata air dan sungai untuk pertanian dan perkebunan mereka. Foto: Petrus Riski

 

Tambang merusak lingkungan

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur menilai rencana penambangan emas di Kabupaten Trenggalek hanya akan menimbulkan kerusakan lingkungan dan bencana yang merugikan masyarakat.

Menurut Direktur Eksekutif Walhi Jawa Timur, Rere Christanto, tidak pernah ada dalam sejarah, pertambangan tidak merusak lingkungan, meskipun dengan memanfaatkan teknologi sedemikian rupa. “Di berbagai kasus, ketika tambang beroperasi, akan ada kerusakan yang besar. Sebut saja di Tumpang Pitu, bisa dilihat dampaknya sekarang seperti apa.”

Meski belum berlangsung lama, keberadaan aktivitas di gunung Tumpang Pitu, Banyuwangi sudah memberikan level kerusakan yang cukup tinggi. Banjir yang diakibatkan aktivitas pertambangan telah menutup sekitar empat kilometer kawasan pantai di sekitar Pulau Merah. Termasuk, kawasan wisata dan pusat perekonomian masyarakat yang sebagian besar bergantung dari kegiatan menangkap ikan.

“Selain itu juga ada Jember, Lumajang, Malang, dan Blitar, yang menunjukkan kerusakan lingkungan dan potensi konflik sosial yang cukup besar.”

Di Malang, pertambangan pasir besi telah menimbulkan konflik dengan masyarakat penggarap ladang sekitar, mereka diserang preman pertambangan. Sementara di Lumajang, konflik tambang pasir besi menimbulkan korban jiwa, yaitu almarhum Salim Kancil yang merupakan warga sekaligus aktivis lingkungan setempat. “Kita melihat, tidak ada pertambangan yang tidak menimbulkan konflik, karena di kawasan tambang selalu berhadapan dengan wilayah produktif masyarakat.”

 

Baliho penolakan tambang emas di Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Secara tegas, warga menolak kehadiran tambang emas di wilayah mereka. Foto: Petrus Riski

Baliho penolakan tambang emas di Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Secara tegas, warga menolak kehadiran tambang emas di wilayah mereka. Foto: Petrus Riski

 

Konflik di daerah yang menghasilkan bahan tambang tidak dapat dilepaskan dari kondisi wilayahnya sendiri, yang memiliki banyak sumber mata air dan potensi sumber daya alam untuk kebutuhan hidup orang banyak. Keberadaan tambang dipastikan akan mengancam sumber-sumber penghidupan warga seperti pertanian, peternakan, dan perikanan.

“Jelas akan berpengaruh langsung terhadap hajat hidup masyarakat, karena itu kebutuhan utama masyarakat. Baik untuk air bersih, pertanian, juga pekerjaan dan kehidupan warga.”

Rere menegaskan, kerusakan alam di hulu yang menghilangkan sumber mata air pegunungan tidak hanya merusak alam, melainkan juga mempengaruhi alur rantai kerusakan hingga hilir. Desa-desa yang tidak termasuk wilayah konsesi, dipastikan merasakan imbas kerusakan di hulu.

Masyarakat dapat menolak, wilayahnya yang dijadikan kawasan tambang, bila hal itu dirasa merugikan dan menghilangkan kehidupan masyarakat. Ini sebagai bentuk pemahaman masyarakat mengenai keselamatan hidupnya, yang akan bereaksi bila keberadaannya terancam.

“Ketika masyarakat tinggal di suatu wilayah, terdapat syarat-syarat untuk tetap hidup seperti air, udara, dan tanah untuk berproduksi. Ketika semuanya terancam, mereka punya hak untuk mempertanyakan,” tegasnya.

 

 

Trenggalek, Alam yang Terusik Proyek Penambangan Emas (Bagian – 1)

Pegunungan di Trenggalek yang merupakan sumber mata air yang bersih yang mengaliri sungai dan sawah warga. Foto: Petrus Riski

Pegunungan di Trenggalek yang merupakan sumber mata air bersih yang mengaliri sungai dan sawah warga. Foto: Petrus Riski

 

Ketenangan masyarakat Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur terusik, setelah muncul kabar akan dilakukannya panambangan emas di desa tersebut. Tidak hanya Sumberbening, desa-desa lain pun was-was.

Dalam laman resmi Bappeprov Jawa Timur di Bappeda.jatimprov.go.id, tanggal 4 Juli 2011, disebutkan ada kandungan emas di tiga titik galian yaitu Suruh, Timahan, dan Kojan. Penggalian dengan kedalaman 910 meter itu dilakukan oleh perusahaan tambang multinasional Arc Exploration Ltd, melalui perusahaan tambang nasional PT. Sumber Mineral Nusantara (SMN), selaku pemilik izin eksplorasi.

Dari lubang yang digali itu, kandungan emas yang ditemukan di Kojan yang tertinggi, yaitu 11,28 g/t dan perak 293 g/t pada titik simpang 1,9 meter di kedalaman 50 meter. Serta kandungan emas 1,39 g/t dan perak 40 g/t pada titik simpang 1,1 meter di kedalaman 104,2 meter.

Dalam catatan Bisnis Art Exploration, kandungan emas di Proyek Trenggalek itu memang telah terbukti setelah dilakukan penggalian di tiga titik gali yakni Sentul, Buluroto, dan Dalangturu, yang saat ini masuk pada tahap eksplorasi lebih lanjut. PT. SMN sendiri mendapatkan izin usaha pada akhir 2005 atas 95 persen porsi kepemilikan Proyek Trenggalek yang dikuasai Arc Exploration. Luas keseluruhan konsesinya mencapai 30.000 hektare yang tersebar di 12 kecamatan.

 

Kondisi hutan di pegunungan Semungklung dengan keragaman hayatinya. Foto: Petrus Riski

Kondisi hutan di pegunungan Semungklung dengan keragaman hayatinya. Foto: Petrus Riski

 

Masuknya perusahaan untuk melakukan eksplorasi memang dibenarkan Kepala Desa Sumberbening, Suyanto. Menurutnya, PT. SMN mulai datang ke desanya sekitar 2014 dengan misi eksplorasi kandungan emas. Kegiatan tersebut melibatkan warga yang direkrut sebagai pekerja proyek, yang ditugaskan memasang pita penanda maupun menyiapkan kabel dan patok yang akan digali untuk diambil contoh kandungan tanahnya.

“Tidak ada izin saat melakukan survei maupun pemasangan kabel, bahkan masyarakat juga tidak mengetahui,” kata Suyanto.

Supandi, warga Sumberbening mengiyakan keterangan Suyanto. Kedatangan pihak perusahaan tambang yang akan melakukan uji kandungan tanah di wilayah desa, tidak diketahui warga yang lahannya dipasangi tanda berupa pita. Hingga akhirnya perusahaan datang dengan beberapa peralatan, yang dipastikan membuat warga resah, kuatir terjadi sesuatu yang mengancam kelangsungan hidup mereka dan lingkungannya.

“Tidak tahu, tiba-tiba perusahaan mendatangkan peralatan seperti pipa-pipa dan bor. Padahal, masyarakat belum mendapat sosialisasi,” kata Suyanto yang saat itu bersama masyarakat menolak dilanjutkannya rencana tersebut.

Survei dan eksplorasi yang dilakukan perusahaan itu, menimbulkan keresahan di masyarakat.  Dikhawatirkan akan menimbulkan konflik sosial akibat akan dibebaskannya lahan milik warga. Selain itu, sumber air dan penghidupan masyarakat juga terancam hilang bila tambang emas jadi dieksploitasi. Juga, ancaman kerusakan lingkungan beserta ekologinya.

 

Supandi, Warga Desa Sumberbening, mencoba  kesegaran air dari sumber mata air Plancuran yang keluar dari bawah  bukit batu. Foto: Petrus Riski

Supandi, Warga Desa Sumberbening, mencoba kesegaran air dari sumber mata air Plancuran yang keluar dari bawah bukit batu. Foto: Petrus Riski

 

Ubah wilayah

Wilayah Kabupaten Trenggalek yang rencananya akan dijadikan lokasi tambang emas, merupakan daerah dengan kekayaan alam yang cukup beragam. Ada hutan, perkebunan, pertanian, pegunungan karst, hingga perikanan. Perubahan kawasan yang akan dijadikan  tambang perlahan dipastikan bakal mengubah alam dan seluruh kehidupan masyarakat.

Desa Sumberbening adalah satu dari sekian desa yang disebut memiliki kandungan emas cukup tinggi. Di desa ini juga ada hamparan sawah yang memberikan pemandangan indah. Di bagian utara, timur dan barat, berdiri kokoh gunung dan bukit yang mengelilinginya.

Meski bukan merupakan gunung berapi aktif, namun gunung-gunung yang ada di Trenggalek diketahui memiliki kandungan bahan tambang, seperti mangan, kaolin, dan marmer. Sementara, suburnya lahan pertanian di Trenggalek tidak dapat dilepaskan dari keberadaan 28 sungai yang panjangnya antara 2 hingga 41,50 kilometer. Belum lagi 91 dam dan 28 pompa air, serta 361 sumber mata air yang tersebar di berbagai wilayah tersebut.

 

Pertanian holtikultura yang dikembangkan  masyarakat Desa Sumberbening yang merupakan penopang kehidupan mereka. Foto: Petrus Riski

Pertanian holtikultura yang dikembangkan masyarakat Desa Sumberbening yang merupakan penopang kehidupan mereka. Foto: Petrus Riski

 

Secara keseluruhan, kabupaten seluas 126.140 hektare ini terdiri dari 14 Kecamatan dengan 152 desa dan 5 kelurahan. Sekitar 2/3 luasan kabupaten merupakan pegunungan, dengan curah hujan mencapai 17,14 mm. Kondisi alam ini menjadikan pertanian sebagai penopang utama perekonomian masyarakat, khususnya padi dan produk hortikultura seperti durian dan pisang.

Salah satu gunung yang ada di Trenggalek adalah Semungklung, yang sebagian wilayahnya menaungi Sumberbening. “Banyak pohon besar di Semungklung. Wilayah itu merupakan hutan lindung, dan sebagian lainnya hutan produksi yang dikelola Perhutani,” ungkap Supandi, warga Sumberbening ketika ditemui Mongabay, awal November 2016.

Semungklung merupakan pegunungan dengan puluhan sumber mata air yang mengaliri desa-desa di bawahnya. Selain tanaman hutan ada juga satwa liar, seperti monyet ekor panjang, babi hutan, kijang, ular, maupun elang. Semungklung adalah sumber kehidupan dan tempat hidupnya masyarakat.

“Wilayah Semungklung meliputi 3 Kecamatan yaitu Dongko, Pule, dan Suruh. Mungkin sejak era Majapahit maupun Belanda, wilayah ini merupakan tempat kehidupan manusia, terbukti dengan ditemukannya uang jaman dulu,” terang Supandi.

Keberadaan hutan lindung, otomatis membawa manfaat bagi warga. Terutama untuk pertanian yang membuat warga bisa panen hingga tiga kali setahun. Tidak hanya di Sumberbening, desa-desa sekitar juga ikut merasakan nikmatnya memiliki sumber air bersih.

“Kemakmuran masyarakat diperoleh melalui pertanian dan perkebunan yang tidak pernah kekurangan air untuk mengairi sawah dan ladang. Bahkan saat musim kemarau, sawah di Sumberbening masih terairi,” tutur Supandi.

 

Gunung Manikoro di Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak, yang mengalirkan air ke Sungai Tawing dan dimanfaatkan masyarakat untuk  dipakai mengairi sawah mereka. Foto: Petrus Riski

Gunung Manikoro di Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak, yang mengalirkan air ke Sungai Tawing dan dimanfaatkan masyarakat untuk dipakai mengairi sawah mereka. Foto: Petrus Riski

 

Suyanto pun mengungkapkan, kebudayaan dan adat istiada masyarakat turut mengikat untuk menjaga alam, dari dulu hingga kini. “Sumberbening punya sejarah budaya, terutama sumber mata air. Sebagai desa agraris, Sumberbening yang jumlah penduduknya sekitar 4.500 jiwa, menggarap lahan mereka sendiri yang rata-rata setengah hektare. Di sini lahan pertanian sekitar 60 persen, sisanya hutan lindung.”

Tidak jauh berbeda dengan Sumberbening, kondisi desa lain di Trenggalek pun subur dengan pasokan air bersih melimpah dari pegunungan. Menurut Suhari, Ketua RT 23 Dusun Kajar, Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo, sektor pertanian khususnya perkebunan dan ladang, menjadi gantungan hidup masyarakat setempat.

Warga bercocok tanam di lahan garapan sendiri dengan menanam kelapa, manggis, durian dan salak, selain tanaman kayu. Hasil panen itu dijual ke pasar maupun ke Trenggalek.

“Kalau di sini tidak ada sawah padi, adanya lahan tegalan untuk tanaman kayu dan buah-buahan,” ucap Suhari saat ditemui dirumahnya.

 

Puncak bukit ini akan ditambang bila  pemerintah mengizinkan perusahaan penambang emas beroperasi di Trenggalek. Foto: Petrus Riski

Puncak bukit ini akan ditambang bila pemerintah mengizinkan perusahaan penambang emas beroperasi di Trenggalek. Foto: Petrus Riski

 

Banyaknya tanaman berkayu besar yang tumbuh di wilayah Dukuh, menjadikan kawasan itu tidak pernah kesulitan mendapatkan air. “Mata air yang besar ada satu, dan itu dikelola PDAM. Kalau yang kecil-kecil dikelola warga, cukup untuk minum dan mengairi ladang.”

Desa Dukuh di Kecamatan Watulimo ini terletak di wilayah perbukitan dengan ketinggian mencapai 573 meter dari permukaan laut. Selain pertanian, Watulimo memiliki objek wisata pantai, mangrove hingga goa, yang merupakan kekayaan alam tak ternilai.

“Selama ini masyarakat cukup hidup dari hasil bumi dan alam sekitar. Ada yang bertani, berkebun, dan nelayan,” lanjutnya.

Bergantungnya masyarakat pada sumber daya alam yang selama ini dimanfaatkan hasilnya terutama air bersih, dipastikan terancam hilang dan rusak saat perusahaan tambang datang. Masyarakat pun bertekad, mempertahankan kondisi alam mereka sebagaimana adanya, tanpa harus diubah menjadi kawasan tambang. “Tujuannya agar anak cucu atau generasi mendatang ikut menikmati kekayaan alam ini,” tandas Supandi.

 

 

Meski Badak Jawa Telah Punah di Vietnam, Namun Perdagangan Cula di Negeri Ini Tetap Terjadi

Ilustrasi badak jawa di abad ke-19.  Spesies ini terus mengalami penurunan populasi di alam. Foto: Biodiversity Heritage Library.

Ilustrasi badak jawa di abad ke-19. Spesies ini terus mengalami penurunan jumlah di alam liar. Foto: Biodiversity Heritage Library.

 

Tahun 2010, badak liar terakhir di Vietnam ditembak mati pemburu. Badak vietnam (Rhinoceros sondaicus annamiticus) ini merupakan subspesies badak jawa terakhir di Asia daratan.

Badak jawa, dulunya yang paling tersebar luas di Asia di antara spesies badak asia lain, dengan tempat hidup yang membentang dari Jawa, Sumatera, Asia Tenggara, Tiongkok, dan India. Karena perburuan dan hilangnya habitat, badak jawa menghilang dengan cepat pada awal abad ke-21. Hanya tersisa dua habitat, yakni di Cat Tien National Park (Vietnam) dan Taman Nasional Ujung Kulon (Indonesia).

Badak di Vietnam diperkirakan punah, berawal dari munculnya laporan pada 1989 yang menyatakan bahwa ada populasi kecil badak jawa yang tersisa. Pada 1993, populasi badak jawa di Vietnam diperkirakan tersisa 8 – 12 individu, lalu berkurang menjadi 2 individu, dan satu persatu punah.

 

Baca: Badak Jawa Terakhir di Vietnam Ini Mati di Tangan Pemburu

 

Sayangnya, kepunahan badak jawa di Vietnam, tidak mampu mengakhiri Vietnam sebagai pasar dan tempat transit perdagangan cula badak ke Tiongkok. Bahkan sebaliknya. Pada 2009, jaringan pedagang dan penyelundup cula badak di sini telah berpengalaman bertahun-tahun menyelundupkan cula badak dari seluruh dunia ke Asia timur.

“Vietnam telah menghilangkan hutan-hutan mereka, memburu habis satwa di taman nasional, dan kini mereka memburu hingga ke Laos dan Kamboja” kata Douglas Hendrie, technical advisor di NGO Education for Nature-Vietnam yang berbasis di Hanoi, kepada Mongabay. “Banyak satwa liar dari berbagai tempat tersebut dimasukkan dalam truk, dibawa ke perbatasan, dan di jual di seluruh Tiongkok.”

 

 

Pasar lokal

“Permintaan domestik di Vietnam sebenarnya sangat kecil, setidaknya hingga 1990-an,” kata Hendrie. Ia melihat bahwa permintaan akan cula badak menguat seiring tumbuhnya ekonomi Vietnam yang juga membawa Humvee dan Lambhorgini ke jalanan Hanoi.

Meskipun cula badak sebenarnya hanyalah keratin, sama dengan rambut manusia dan kuku, para praktisi medis di sana mengklaim bahwa cula badak mampu menyembuhkan mabuk, bahkan kanker. “Yang paling kentara adalah, kini cula badak dianggap sebagai simbol kekayaan,” kata Hendrie.

Tak hanya dikonsumsi sendiri, Vietnam juga menjadi tempat transit utama untuk cula badak, sisik trenggiling, dan gading gajah untuk diselundupkan ke Tiongkok. Menurut Hendrie, penyelundupan ini, dalam skala besar, beberapa kali tertangkap di bandara, pelabuhan, maupun perbatasan.

“Tak ada yang tahu pasti berapa persentase yang dipasarkan di Vietnam dan berapa yang diselundupkan ke Tiongkok melalui Vietnam” kata Hendrie. Jaringan penyelundup internasional mengambil keuntungan dari batas kedua negara yang minim penjagaan. “Dan barang-barang yang dikirim ke Tiongkok melalui Vietnam memang tidak melewati pemeriksaan ketat, dibandingkan melalui pelabuhan.” Biasanya, cula badak ditempatkan di kotak yang dimasukkan dalam truk, lalu dibawa melalui Highway 18, langsung ke perbatasan Tiongkok.

 

Foto hasil investigasi yang menunjukkan perdagangan cula badak yang dijadikan dalam berbagai bentuk hiasan memang ada di Vietnam. Foto: Wildlife Justice Commission

Foto hasil investigasi yang menunjukkan perdagangan cula badak yang dijadikan dalam berbagai bentuk hiasan memang ada di Vietnam. Foto: Wildlife Justice Commission

 

Memutus rantai  

LSM yang berbasis di Belanda, Wildlife Justice Commission (WJC) baru-baru ini menyelesaikan investigas di Nhi Khe, sebuah kawasan kerajinan di pinggiran Kota Hanoi yang dikenal sebagai tempat transit cula badak, gading gajah, dan lainnya, sebelum dibawa ke Tiongkok. “Sangat mengejutkan” kata Olivia Swaak-Goldman dari WJC kepada Mongabay. “Jumlah yang diperdagangkan begitu besar”

“Kami berhasil mencatat ada 579 cula badak, separuh dari semua badak yang dibunuh di Afrika Selatan” kata Swaak Goldman. WJC juga menemukan, kebanyakan cula tersebut bukan dijual untuk bahan obat, tapi untuk tempat minum dan gelang, dipasarkan di Tiongkok. Jadi kini, usaha-usaha untuk mengurangi permintaan cula badak, harusnya tak lagi berfokus pada mitos tentang khasiatnya untuk pengobatan.

Vietnam kini sedang menghadapi tekanan internasional karena kegagalannya mencegah dan menghentikan praktik penyelundupan ini. WJC telah menyerahkan hasil penyelidikannya kepada para apartat Vietnam, namun belum ada tindak lanjut. Organisasi seperti WWF mendesak Vietnam untuk dikenai sanksi dibawah CITES, dan kini semua mata tertuju ke Vietnam karena negara tersebut akan menjadi tuan rumah International Conference on the Illegal Wildlife Trade pada 17 Nov 2017.

Meski begitu, Hendrie memilih utuk melihatnya dalam rentang waktu panjang. Vietnam telah berhasil membuat kemajuan dalam pemberantasan perdagangan cula badak dan gading gajah dalam 10 tahun terakhir. Ada kemajuan. Meski kemajuan tersebut sangat terlambat untuk menyelamatkan badak jawa di Vietnam. Para pegiat konservasi berharap berbagai perubahan nyata akan dilakukan untuk menyelamatan badak-badak yang ada di tempat lainnya.

 

Sumber tulisan:

Isabel Esterman. Its own rhinos hunted to extinction, Vietnam is a hub for the rhino horn trade. Mongabay.com

 

 

Alat Berat, Bukti Kuat Adanya Perambahan di SM Rawa Singkil Itu Hilang

Suaka Marga Satwa Rawa Singkil terus dirambah untuk dijadikan kebun sawit. Foto: Junaidi Hanafiah

Suaka Marga Satwa Rawa Singkil terus dirambah. Penegakan hukum harus dilakukan. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Tiga pekerja dan satu alat berat jenis excavator yang sedang menggali kanal di rawa gambut Suaka Margasatwa (SM) Rawa Singkil berhasil diamankan. Penangkapan tersebut dilakukan dalam operasi gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh bersama Polres Aceh Selatan, Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Wilayah Sumatera, dan Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah 18 Banda Aceh, Sabtu (29/10/2016).

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Provinsi Aceh, Handoko Hidayat mengatakan, operasi tangkap tangan dilakukan setelah adanya laporan masyarakat kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait maraknya perambahan dan pengrusakan Rawa Singkil. “Penyergapan itu dilakukan di Desa Keude Trumon, Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan. Tim menangkap tiga pekerja dan menyita satu alat berat yang telah menggali kanal sepanjang 500 meter di kawasan Rawa Singkil,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Namun, hingga 18 November 2016, belum ada penetapan tersangka atau pelaku yang membiayai kegiatan itu. Bahkan, alat berat yang digunakan untuk kejahatan tersebut telah hilang. “Kita harus prihatin dengan kejadian ini. Alat bukti yang penting untuk menjerat pelaku tersebut telah dikeluarkan oleh pemiliknya tanpa diketahui penegak hukum, khususnya Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh,” ujar Sarbunis, aktivis lingkungan di Aceh.

 

Alat berat ini berada di kawasan Rawa Singkil yang digunakan untuk membuat kanal. Foto: Junaidi Hanafiah

Alat berat ini berada di kawasan Rawa Singkil yang digunakan untuk membuat kanal. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Terkait kejadian tersebut, Wakil Kepala Polres Aceh Selatan Kompol Sabri saat bertemu masyarakat Aceh yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Aceh Menggugat (GeRAM) menjelaskan, pihaknya akan menuntaskan kasus kejahatan lingkungan itu. “Kami terbuka dan akan menuntaskannya. Kasus ini ditangani Unit II Tindak Pidana Tertentu.”

Kepala Unit II Tindak Pidana Tertentu Satreskrim Polres Aceh Selatan Ipda Adrianus yang menangani kasus tersebut mengatakan hal yang sama. Menurutnya, kasus dugaan perambahan hutan di Suaka Marga Satwa Rawa Singkil ini merupakan laporan BKSDA, bukan temuan polisi. “Kasus ini kami terima atau dilaporkan oleh BKSDA, hingga saat ini dalam penyelidikan. Beberapa saksi telah dipanggil, namun belum ada tersangka.”

Adrianus menambahkan, mengenai hilangnya alat bukti yang dipakai untuk melakukan perambahan, kepolisian belum bisa menjelaskan karena hingga saat ini BKSDA Aceh belum menyerahkan alat berat itu sebagai barang bukti. “Yang kami terima hanya tiga saksi dan kunci alat berat. Sedangkan alat beratnya tidak kami terima. Kami berharap alat berat tersebut diserahkan ke polisi sebagai barang bukti.”

 

Suaka Margasatwa Rawa Singkil merupakan salah satu kawasan rawa gambut terbesar di Provinsi Aceh. Perambahan untuk dijadikan kebun sawit terus terjadi. Foto: Junaidi Hanafiah

Suaka Margasatwa Rawa Singkil merupakan salah satu kawasan rawa gambut terbesar di Provinsi Aceh. Perambahan untuk dijadikan kebun sawit terus terjadi. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Penyelamatan

Gerakan Rakyat Aceh Menggugat (GeRAM) menyerukan pentingnya penyelamatan Suakamarga Rawa Singkil dari perambahan. Seruan tersebut disampaikan di di Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang dirambah, di Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, Aceh, Jm’at (18/11/16).

Aktivis GeRAM mengusung sejumlah poster bertuliskan “Kami GeRAM #Save KEL sekarang juga”, Leuser is my home” “Selamatkan ekosistem Leuser”, dan lainnya.

Badrul Irfan, juru bicara GeRAM, mengatakan, aksi ini merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang semakin rusak akibat perambahan.

 

Gerakan Rakyat Aceh Menggugat (GeRAM) menyerukan pentingnya penyelamatan Suakamarga Rawa Singkil dari perambahan. Foto: Junaidi Hanafiah

Gerakan Rakyat Aceh Menggugat (GeRAM) menyerukan pentingnya penyelamatan Suakamarga Rawa Singkil dari perambahan. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Menurut Badrul, kerusakan terjadi akibat keinginan segelintir orang yang berupaya merubah fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan sawit. Padahal, ribuan masyarakat bergantung hidup dari Suaka Margasatwa Rawa Singkil. “Kami mengajak seluruh elemen masyarakat menghentikan perambahan hutan. Jika tidak dihentikan, kita akan mewariskan bencana kepada anak cucu di masa mendatang,” paparnya.

Suaka Margasatwa Rawa Singkil merupakan wilayah konservasi dan bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Kawasan ini merupakan koridor atau penyangga Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Rawa Singkil ditunjuk sebagai Kawasan Pelesatarian Alam berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 166/Kpts-II/1998 tentang perubahan fungsi dan penunjukkan kawasan Hutan Rawa Singkil yang terletak di Kabupaten Aceh Selatan seluas 102.500 hektare menjadi Kawasan Suaka Alam dengan nama Suaka Margasatwa Rawa Singkil. Namun, Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: 103/MenLHK-II/2015 menetapkan luas kawasan ini berkurang menjadi 81.338 hektare.

 

 

Jangan Lupakan, Badak Sumatera yang Ada di Kalimantan Timur…

Badak sumatera yang ada di Way Kambas, Lampung. Foto: Rhett Butler

Badak sumatera yang ada di Way Kambas, Lampung. Jumlah badak bercula dua ini diperkirakan sekitar 100 individu. Foto: Rhett Butler

 

Tahun 2013, tiga individu badak sumatera tertangkap kamera jebak saat bermain di kubangan di Kutai Barat, Kalimantan Timur (Kaltim). Bukti foto itu akhirnya menepis anggapan banyak orang, jika badak sumatera di Kalimantan sudah punah.

Dosen sekaligus peneliti badak sumatera di Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman (Unmul), Chandra Dewana Boer, selama puluhan tahun, berusaha membuktikan bahwa badak sumatera nyatanya memang ada di Kalimantan.

“Sejak tahun 2000, sudah ada yang melapor ke saya, ada jejak badak di Kutai Barat. Waktu itu, saya langsung menjelaskan ke mana-mana, tapi tidak ada yang percaya. Tahun 2013, kamera jebak akhirnya membuka tabir ilmiah itu, ada tiga individu badak yang terekam sedang mencari sepan.”

 

Baca: Badak Sumatera, Apakah Baik-baik Saja di Habitatnya?

 

Mulanya, kata Chandra, tiga badak yang terekam itu diduga merupakan satu keluarga. Ternyata, pada penelitian yang dilakukan Chadra bersama WWF Indonesia dan Yayasan Badak Indonesia (YABI), semuanya berjenis betina. “Dari situ, bisa ditarik kesimpulan, masih ada badak lainnya yang belum terekam kamera jebak.”

Chandra memastikan, masih ada sekitar 20-an badak yang hidup di Kalimantan. “Saya kira jumlahnya bisa 20 individu. Tapi, tidak hanya di Kutai Barat, badak-badak ini juga ada kemungkinan menyebrang ke Kalimantan Tengah, dari jalan tembus antara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur di Kutai Barat.”

 

Badak sumatera tidak hanya tersebar di Sumatera tetapi juga ada di Kalimantan Timur. Foto: Rhett Butler

Badak sumatera tidak hanya tersebar di Sumatera tetapi juga ada di Kalimantan Timur. Foto: Rhett Butler

 

Sepan

Sepan adalah lokasi sumber mata air asin di hutan. Sepan merupakan tempat bagi binatang-binatang hutan seperti rusa, kijang, kancil, dan satwa lainnya mencari sumber mineral dari air asin.

“Di Kutai Barat, kalau mau dicari bisa saja. Saya pernah tanyakan pada orang lokal,  dari mana mereka tahu ada sepan. Mereka jawab dari hewan-hewan liar. Insting hewan, bisa mendapatkan sepan dengan mudah, sebagaimana badak yang sangat membutuhkan sepan,” ujarnya.

Chandra mengira, hilangnya sepan-sepan yang ada merupakan salah satu faktor punahnya hewan-hewan yang ada di hutan. “Hewan kan butuh mineral, ketika sepan banyak yang kering karena maraknya pembukaan lahan untuk industri, kebutuhan mineral itu sudah tidak bisa dicari lagi. Mungkin itu salah satu faktor pendukung kepunahan hewan-hewan yang ada.”

Ketika Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Pemkab Kutai Barat, Pemkab Mahakam Ulu, Universitas Mulawarman (Unmul), YABI, dan WWF Indonesia menggelar survei akhir 2013 hingga awal 2014, Chandra sudah menegaskan untuk memasang kamera jebak itu di daerah-daerah sepan. Menurut dia, jika ingin melindungi badak, lindungi juga sepan. “Badak pasti mencari sepan, di situ kita bisa pasang lagi kamera jebak guna menemukan badak lainnya.”

 

Najaq, badak sumatera di Kalimantan Timur yang kini tinggal kenangan. Najq merupakan satu dari tiga individu badak sumatera yang tertangkap kamera jebak di 2013 lalu. Foto: YABI

Najaq, badak sumatera di Kalimantan Timur yang kini tinggal kenangan. Najaq merupakan satu dari tiga individu badak sumatera yang tertangkap kamera jebak di 2013 lalu. Foto: YABI

 

Area perlindungan

Chandra mengatakan, ketika keberadaan badak tersebut tertangkap kamera, pihaknya langsung melirik hutan bekas PT. Kelian Equatorial Mining (PT.KEM) untuk dijadikan area konservasi. Di wilayah tersebut, ada sebuah bendungan yang airnya sudah mengendap. Kondisi air bendungan itu dinilai bisa bermanfaat bagi hewan-hewan liar. Luas hutan PT. KEM yang 6.000 hektare, yang dipakai perusahaan hanya 1.000 hektare. Sehingga, 5.000 hektare yang tersisa, akan sangat berguna untuk melestarikan badak yang ada.

Sayang, rencana tersebut terganjal masalah dana. Pemkab Kubar sendiri tidak memiliki anggaran lebih untuk penyelamatan badak-badak yang ada. Padahal, sebelum mengajukan peminjaman lahan, Chandra sudah melakukan survei terlebih dahulu di hutan PT. KEM.

“Sebelum diajukan, harus disurvei dulu, apakah di hutan itu ada rantai makanan atau tidak. Kondisi air dan sebagainya juga sudah kami teliti. Tapi kembali lagi pada dana, kami tak punya uang untuk proses pemindahan badak dan sebagainya,” ungkapnya.

 

Rangka badak sumatera yang ada di Museum Zoologi, Kebun Raya Bogor. Foto: Rahmadi Rahmad

Rangka badak sumatera yang tersimpan di Museum Zoologi, Kebun Raya Bogor. Foto: Rahmadi Rahmad

 

Jejak badak

Tahun 2002, Chandra melanjutkan, ada seorang warga Hutan Wehea Kutai Timur yang mengaku melihat jejak badak di Kutai Timur. Chandra bergegas memastikan apakah benar jejak tersebut milik badak atau bukan. “Saya lihat, benar itu jejak badak. Kemudian, ada juga yang melapor melihat jejak badak di Berau. Sebenarnya, kalau mau disurvei bisa saja, tapi kembali masalah pendanaan untuk melakukan itu semua.”

Bagi Chandra, ditemukannya jejak-jejak tersebut, membuka rahasia jika kepunahan badak sumatera di Kalimantan tidaklah benar. Masih banyak badak yang tersisa dan terus melakukan perjalanan untuk kelanjutan hidupnya. Tidak hanya di Kutai Barat, tapi juga di Kutai Timur, dan Berau yang merupakan tempat kehidupan hewan-hewan liar.

“Masih banyak badak yang belum kita temukan. Kesimpulannya memang sulit untuk ditemukan karena badak selalu berjalan. Tapi, banyak cara untuk menemukannya, di mulai dari jejak, kita bisa mengikuti ke mana badak-badak itu melangkah,” paparnya.

Manajer WWF Program Kalimantan Timur, Wiwin Effendy membenarkan jika banyak jejak badak yang ditemukan di Kaltim. “Ya benar, memang banyak jejak. Awal mula WWF bekerja mengenai konservasi badak, ketika melakukan survei orangutan. Tidak disangka, tim menemukan jejak kaki lumayan besar yang diduga jejak badak,” katanya.

Sejak saat itu, semua foto jejak kaki itu dibawa dan ditanyakan pada para ahli badak, nasional maupun internasional. Hasilnya benar, jejak kaki tersebut seratus persen milik badak. “Sejak saat itu hingga sekarang, kami meneruskan kerja-kerja konservasi badak yang ada di Kalimantan.”

 

Menjaga kehidupan badak berarti kita turut menjaga kelestarian hutan karena badak berperan penting dalam ekosistem hutan. Foto: Rhett Butler

Menjaga kehidupan badak berarti kita turut menjaga kelestarian hutan karena badak berperan penting dalam ekosistem hutan. Foto: Rhett Butler

 

Terkait persebaran badak sumatera di Kalimantan, Haerudin R. Sadjudin, Program Manajer Yayasan Badak Indonesia (YABI) menjelaskan, badak sumatera dahulunya diperkirakan ada hampir di seluruh hutan Kalimantan. “Badak sumatera di masa lalu tersebar di India, Bangladesh, Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Hingga tahun 1930-an masih terlihat keberadaannya. Saat ini, populasinya menurun drastis, akibat hutan yang tergerus dan perburuan cula yang tak henti.”

Bila dilihat dari sejarah zoogeography, persebaran jenis ini ada di Sumatera, Semenanjung Malaysia, dan Kalimantan mengindikasikan badak merupakan satwa yang berada di bagian Oriental. Awalnya, disatukan dengan Sunda Land. Saat badak sumatera masih tersebar di India, Bangladesh, Vietnam, Thailand, Semenanjung Malaysia, termasuk Kalimantan dan Sumatera, badak ini diklasifikasikan dalam tiga subjenis berdasarkan persebarannya.

Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis daerah persebarannya berada di Sumatera, Malaysia, dan Thailand. Dicerorhinus sumatrensis harrissoni ada di wilayah Kalimantan. Sedangkan Dicerorhinus sumatrensis lasiotis ada di Vietnam, Myanmar bagian utara hingga Pakistan bagian timur. Untuk subjenis Dicerorhinus sumatrensis lasiotis, beberapa peneliti badak menyebutkan, keberadaannya sudah tidak terlihat lagi sejak puluhan tahun lalu.  

“Untuk badak sumatera yang ada di Kalimantan merupakan jenis Dicerorhinus sumatrensis harrissoni,” paparnya.

Pengamanan badak di Kalimantan ini harus dilakukan, mengingat keberadaannya yang saat ini terpencar di beberapa wilayah. Dalam batas maksimum, jumlah badak yang hanya 30 individu akan sulit berkembang. “Tumpuan penyelamatan badak sumatera di dunia saat ini hanya ada di Sumatera dan Kalimantan. Dan ini milik Indonesia,” tegas Haerudin.

 

 

Mongabay Travel: Indah Bukan Kepalang Kepulauan Togian

Jelly fish atau ubur-ubur yang tidak menyengat menjadi tujuan para wisatawan di Kepulauan Togean. Foto: Christopel Paino

Jelly fish atau ubur-ubur yang tidak menyengat menjadi tujuan para wisatawan di Kepulauan Togian. Foto: Christopel Paino

 

“Itu di sana goa buaya,” kata Ashari Komandengi.

Tangannya menunjuk salah satu pulau yang bertebing dan bergoa. Permukaan air laut tampak menutupi separuhnya. Ali, panggilan akrab Ashari, adalah pemilik perahu yang saya tumpangi di hari pertama ketika berada di Kepulauan Togian, Sulawesi Tengah. Ia sering melayani tamu yang ingin berkeliling Togian (Togean).

Goa buaya yang dimaksud Ali adalah tempat buaya air asin. Lokasinya tak jauh dari pantai Kedidiri, salah satu destinasi wisata favorit wisatawan mancanegara. Posisinya di antara tebing pulau kecil tak berpenghuni yang berdiri tegak.

Gugusan pulau adalah pemandangan menyejukkan mata di Kepuluan Togian. Inilah salah satu alasan banyak pelancong berkunjung ke kepulauan ini. Selain, tentunya melihat biota lautnya yang unik. Ada banyak titik-titik penyelaman yang tersebar di Togean.

Sayang, di awal Oktober 2016 itu, buaya air asin yang dimaksud Ali tak nampak. Setelah menunjukan goa buaya, Ali mengajak saya ke tempat destinasi yang tak kalah terkenalnya, yaitu kediamannya jelly fish atau si ubur-ubur. Lokasi ini berbentuk danau dan merupakan surganya ubur-ubur di Kepulauan Togian. Danau ini campuran air laut dengan air tawar. Luasnya lebih dari satu hektar yang dikelilingi pepohonan lebat.

 

Danau Jelly fish atau danau ubur-ubur yang ada di Kepulauan Togean. Foto: Christopel Paino

Danau Jelly fish atau danau ubur-ubur yang ada di Kepulauan Togian. Foto: Christopel Paino

 

Burung-burung aneka warna yang berkicau dan hinggap di ranting adalah bonus bagi para pengunjung jelly fish ini. Pengunjung bisa bercebur di jelly fish tanpa rasa takut. Karena ubur-uburnya tidak menyengat dan sangat jinak.

Untuk menuju ke jelly fish sangat mudah. Apalagi telah dibangun fasilitas seperti jembatan buat tambatan perahu serta pondok yang berada di bibir danau. Meski demikian, tempat ini tampak sepi. Tak ada orang berjaga. Namun sebagai penanda, akan tampak sebuah gapura kecil dari papan yang tertulis: “Agro Wisata Dagat Molino Desa Lembanato.”

Sepanjang perjalanan laut itu, saya disuguhi pemandangan pemukiman rumah terapung yang banyak menghuni gugusan pulau. Menurut Ali, sebagian penduduk tersebut berasal dari Suku Bajo atau Suku Togian. Ketika perahu melintas, sesekali anak-anak dan perempuan muncul dari balik jendela rumah mereka yang berbentuk panggung. Mereka melambaikan tangan.

“Tapi sebenarnya banyak orang Gorontalo yang hidup di Kepulauan Togean ini. Termasuk saya juga berasal dari Gorontalo,” kata Ali.

 

Jelly fish yang terlihat jelas ini merupakan daya tarik wisatawan lokal maupun macanegara. Foto: Christopel Paino

Jelly fish yang terlihat jelas ini merupakan daya tarik wisatawan lokal maupun macanegara. Foto: Christopel Paino

 

Suku Bajo di Kabalutan

Rumah-rumah panggung yang tersebar di gugusan kepulauan itu, Menurut Ali, banyak dihuni orang Bajo. Salah satu perkampungan Bajo yang paling terkenal di Kepulauan Togian adalah Desa Kabalutan, Kecamatan Talatako, Kabupaten Tojo Una-una. Tempat pusat berkumpulnya Suku Bajo. Pemukimannya sangat padat. Dan tentu saja berbentuk panggung, meski sebagian sudah berpondasi dan berdinding semen. Rumah yang berpondasi itu di pulau kecil.

Bentuk kampung Bajo di Desa Kabalutan ini cukup unik. Ada yang berbentuk U dan saling menyambung oleh jembatan papan. Ketika menelusuri kampung Bajo ini, saya ditemani Muhamad Lailatul Isnaini (19 tahun). Isnaini adalah ketua remaja masjid di Bajo. Namun ia mengaku lahir di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ia bisa sampai di sini karena ibunya menikah lagi dengan orang dari suku Bajo.

“Banyak wisatawan mancanegara ke sini. Tapi, jarang menginap. Kampung ini terkenal karena banyak pelaku bom ikan,” kata Isnaini tertawa.

Stigma bahwa Suku Bajo adalah pelaku pemboman ikan dan perusak terumbu karang, tidak bisa dipungkiri oleh Isnaini. Ia sendiri mengakui bahwa itu sudah menjadi rahasia umum. Masyarakat Bajo katanya, sebagian besar berpikir praktis dan instan. Kearifan orang Bajo sudah hilang. Dan bom ikan adalah jalan cepat agar dapur selalu mengepul.

“Anehnya pelaku pembomam di Kabalutan tidak pernah kapok. Padahal sudah ada beberapa yang meninggal karena bom ikan. Tapi juga tidak ada alternatif lain bagi mereka.”

 

Pemukiman penduduk di gugusan Kepulauan Togean. Foto: Christopel Paino

Pemukiman penduduk di gugusan Kepulauan Togian. Foto: Christopel Paino

 

Isnaini lalu mengajak saya bertemu kepala Desa Kabalutan dan kepala BPD (Badan Permusyawaratan Desa), serta perangkat desa lainnya. Sayang, mereka tak berada di kampung, karena mengikuti kegiatan di ibu kota kabupaten, di Ampana. Begitu pun dengan warga yang dianggap sebagai tokoh masyarakat. Lalu saya meminta lagi untuk bertemu dengan para pelaku pengeboman ikan di Bajo.

“Mereka pasti tidak mau ketemu. Sebab dianggap akan mengancam aktivitas mereka. Apalagi petugas dari polair (Polisi Perairan) beberapa kali sering datang ke sini.”

“Biasa juga ada patroli di laut saat pengeboman. Tapi pelakunya jago bersembunyi di pulau-pulai kecil. Dan mesin perahu mereka tak kalah besar kapasitasnya dengan polair,” ungkap Isnaini lagi.

Saya lalu diajak Isnaini berkeliling kampung Bajo. Jika di rumah terapung penghubungnya adalah jembatan papan, di darat terlihat seperti gang-gang sempit. Jalannya hanya 1 – 2 meter. Dari anak-anak bermain hingga ibu-ibu yang duduk-duduk sembari bercerita, adalah pemandangan keseharian di Kabalutan.

Dalam sejarah yang ditulis tetua di Desa Benteng, Kecamatan Togean, orang-orang Bajo pertama kali datang ke kepulauan ini 1835, ketika itu Kerajaan Togian dipimpin oleh Raja Amintasaria. Raja lalu memberikan syarat kepada orang-orang Bajo jika ingin menjadi penduduk di kerjaan Togean.

Syarat-syarat itu adalah; mentaati segala perintah Raja Togian beserta hukum-hukum adat yang berlaku, bersedia membantu berperang bila ada serangan-serangan dari pihak luar ke kerajaan, bersedia menjaga keamanan kerjaan bersama rakyat Togian, dan mengawasi atau menjaga wilayah perairan bersama prajurit lain.

“Raja saat itu memberi kesempatan melakukan pencaharian di laut, dan raja memberikan mereka tempat bermukim di pulau-pulau kecil,”  kata Rusli L Andi Ahmad, tetua adat di Desa Benteng.

 

Desa Pulau Papan dengan jembatan yang menjadi penghubung ke Pulau Malenge. Foto: Christopel Paino

Desa Pulau Papan dengan jembatan yang menjadi penghubung ke Pulau Malenge. Foto: Christopel Paino

 

Taman anggrek

Kepulauan Togian dikenal sebagai surganya keindahan bawah laut. Begitu pula dengan satwanya yang endemik. Namun tidak banyak yang tahu kalau di daerah ini juga terdapat taman anggrek yang indah. Lokasinya pun sangat unik, di hutan mangrove.

Taman ini ada di Desa Bangkagi, Kecamatan Togean. Menuju taman anggrek, umumnya para pelancong berlabuh di tambatan perahu Desa Benteng. Setelah itu, hanya diperlukan enam menit saja ke Desa Bangkagi yang jalannya relatif mulus, meski konturnya tanah berbatu.

Di taman anggrek ini, ada jembatan sepanjang 371 meter yang dibuat sejak 2014. Jembatan kayu yang dicat warna kuning ini menjadi penghubung antara pepohonan mangrove yang tertanam tunas anggrek.

Siangka Bunahi, adalah salah seorang warga yang membangun jembatan tersebut. Ia mantan kepala desa yang mengajak warga merawat anggrek dengan bantuan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Tojo Una-una. Sebelumnya, tanpa jembatan tersebut tanaman anggrek tumbuh liar di batang mangrove.

“Yang kami tanam atas bantuan dinas itu sebanyak 5.000-an anggrek. Di luar itu sebanyak 1.000-an lebih tumbuh liar,” katanya.

Luas tanaman ini tujuh hektare. Karena di hutan mangrove, kondisinya berair. Menurut Siangka, jika air pasang, ada beberapa ekor buaya yang tampak. Awalnya buaya ini dianggap sebagai ancaman oleh warga. Namun, sebagian mulai sadar agar tidak membunuh buaya tersebut, dan justru sebaliknya dibiarkan hidup.

“Sudah banyak wisatawan yang datang ke taman anggrek ini. Sayangnya, belum ada yang mengatur retribusi sebagai peningkatan ekonomi masyarakat sekitar atau pemerintah desa,” katanya.

 

Anggrek di Desa Bangkagi Kecamatan Togean, Kepulauan Togean. Anggrek ini hidup di hutan mangrove. Foto: Christopel Paino

Anggrek di Desa Bangkagi Kecamatan Togean, Kepulauan Togian. Anggrek ini hidup di hutan mangrove. Foto: Christopel Paino

 

Pulau Malenge

Salah satu pulau yang terkenal di Kepulauan Togian adalah pulau Malenge. Namun tak banyak yang tahu kalau pulau ini sering disebut oleh warga sekitar sebagai pulau monyet. Sebutan pulau monyet karena di hutan tersebut banyak monyet. Spesies monyet di Malenge ini sangat berbeda dengan yang ada di daratan Sulawesi pada umumnya, yaitu macaca togeanus atau monyet togian.

“Lihat sana, monyet bergelantungan di pohon,” kata Akbar Labata, salah seorang warga.

Sore hari itu, monyet yang berjumlah sekitar delapan ekor terlihat dari rumah penduduk di pesisir. Topografi Malenge berbukit dengan pepohonan tinggi menjulang. Sejumlah warga mengaku kalau monyet itu sering turun ke kampung dan mengambil hasil kebun.

Menurut Akbar yang bekerja di penginapan Lestari Cottage, kawasan hutan Malenge sebagian sudah tidak bagus karena ada perambahan yang dilakukan warga. Pohon-pohon ditebang untuk keperluan pembuatan rumah, perluasan ladang, dan ada juga untuk pembuatan perahu.

Selain monyet, di sisi lain pulau ini ada burung rangkong. Burung itu sering terbang berpasangan, hinggap di pepohonan besar. Tidak jauh dari situ, terdapat pulau kecil yang ada pemukimannya. Pulau itu adalah Desa Pulau Papan. Disebut pulau papan karena jembatan yang terbuat dari papan sekitar satu kilometer lebih menjadi penghubung pemukiman warga dengan ujung Malenge.

 

Desa Pulau Papan dengan jembatan yang menjadi penghubung ke Pulau Malenge. Foto: Christopel Paino

Desa Pulau Papan dengan jembatan yang menjadi penghubung ke Pulau Malenge. Foto: Christopel Paino

 

Rumah penduduk di Desa Pulau Papan ini berbentuk panggung persis seperti Suku Bajo. Namun sebagian besar penghuni kampung ini berasal dari Suku Togian dan mayoritas beragama Islam. Di tengah kampung, terdapat bukit kecil yang bisa didaki dengan mudah. Pemandangan akan terlihat indah dari atasnya. Hal ini menjadi salah satu alasan banyak turis mancanegara mendatangi Desa Pulau Papan.

Di Pulau Malenge juga terdapat goa kelelawar. Akbar lalu mengajak saya melihat goa tersebut. Jaraknya sekitar satu jam jalan kaki masuk ke hutan. Beberapa titik jalannya ada yang mendaki dan menurun. Sisa-sisa hujan membuat jalan agak sulit dilewati. Namun, semua itu terbayarkan ketika goa kelelawar yang ditunjukkan Akbar itu tampak jelas di depan mata.

“Goa kelelawar ini juga menjadi daya tarik turis mancanegara. Puncaknya pada Juli-Agustus. Bule ramai berlibur di Malenge, dan sering keluar masuk hutan melihat goa kelelawar ini,” katanya.

Meski Kepulauan Togian diberkahi keindahan hutan dan lautan, tetap saja dihadapkan pada ancaman nyata. Jika di hutan terjadi perambahan, di lautan sering terdengar bunyi ledakan para nelayan yang sering mencari ikan dengan cara yang cepat, tanpa memikirkan daya rusaknya. Bahkan, terumbu karang yang berada di dekat Malenge kini banyak mati.

“Saya sering mendengar ledakan bom ikan. Padahal sudah ada patroli dari kepolisian perairan,” urai Akbar.

 

Peta Kepulauan Togian. Sumber: Togean.net

Peta Kepulauan Togian. Sumber: Togean.net