All posts by Akhyari Hananto

Lubang Naga Ini Diyakini yang Terdalam di Muka Bumi

Lubang naga ini diyakini yang terdalam di dunia. Foto: Luo Yunfei/CNSPHOTO/VCG)

Lubang naga ini diyakini yang terdalam yang pernah ditemukan. Foto: Luo Yunfei/CNSPHOTO/VCG)

 

Lubang ini dinamai “Dragon Hole” atau Lubang Naga, dan para ilmuwan Tiongkok meyakini bahwa inilah lubang biru terdalam di muka bumi. Media resmi Pemerintah Tiongkok, Xinhua, menyatakan bahwa “Dragon Hole” ini kedalamannya lebih dari 301 meter, atau lebih dalam 90 meter dibanding Lubang Biru Dean di Bahama.

Lubang Biru merupakan fenomena alam yang menampilkan sebuah lubang besar menganga di bawa permukaan air. Diberi nama lubang biru karena jika dilihat dari atas, lingkaran yang sangat dalam itu tampak biru gelap. Lubang ini terbentuk akibat erosi dari batuan karbonat.

“Dragon Hole” di Tiongkok ini ditemukan di Kepulauan Paracels, atau Xisha, sebuah kepulauan di Laut China Selatan yang diperselisihkan oleh Tiongkok, Taiwan, dan Vietnam.

 

Lubang biru sudah diketahui dan ditulusuri para ilmmuwan sejak lama. Foto: CCTV News

Lubang biru sudah diketahui dan ditelusuri para ilmmuwan sejak lama. Foto: CCTV News

 

Meskipun baru saja ditentukan kedalamannya, lubang biru sudah diketahui dan diperbincangkan selama berabad. Para nelayan lokal mempercayai bahwa lubang biru ini adalah sebuah lubang biru yang melegenda. Tempat Kera Sakti (sebagaimana kisah di novel Journey to The West), seekor kera dewa bernama Sun Go Kong yang membantu seorang biksu mencari kitab suci ke barat, guna menemukan tongkat emasnya.

“Selain menyimpan cerita legenda, Lubang Naga ini juga menyimpan catatan detil bagaimana perubahan iklim dan kondisi permukaan air di kawasan tersebut selama ribuan tahun” kata Prof. Yang Zuosheng dari Ocean University of China. “Kita bisa melihat pola evolusi perubahan iklim di Laut China Selatan, termasuk ekosistem, sistem hidrologi, hinga pembentukan tanahnya.”

 

Lubang biru ini dinamakan “Sansha Yongle Blue Hole”. Foto: Luo Yunfei/CNSPHOTO/VCG)

Lubang biru ini dinamakan “Sansha Yongle Blue Hole”. Foto: Luo Yunfei/CNSPHOTO/VCG)

 

Sebagaimana diberitakan Huffington Post, sejauh ini peneliti menemukan lebih dari 20 organisme laut yang hidup di lapisan atas lubang tersebut, di kedalaman sekitar 100 meter pertama. Air laut di lubang biru itu, sayangnya tidak memiliki kandungan oksigen sama sekali, sehingga lokasi tersebut sangat berbahaya. Semakin dalam, semakin sedikit dan hampir tidak ada makhluk hidup yang menempati.

Lubang Naga ini telah diberi nama “Sansha Yongle Blue Hole” dan aparat setempat berkomitmen untuk melindunginya. Para ahli meyakini, masih ada lubang biru di seluruh dunia yang lebih dalam dari Lubang Naga di Kepulauan Paracel (Paracel Islands) ini. Hanya saja, belum ditemukan.

 

 

 

Restorasi Gambut di Musi Banyuasin Harus Selamatkan Situs Pra-Sriwijaya

Sebuah bangkai kapal kuno peninggalan masyarakat Sriwijaya yang ditemukan warga di lahan gambut terbakar di Desa Ulak Kedondong, Kecamatan Cengal, OKI, Sumsel. Foto: Sengguk

 

Beni Hernedi, pelaksana tugas Bupati Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, menginginkan program restorasi gambut dan pengelolaan lanskap Lalan berkelanjutan yang dijalankan di daerahnya, turut menjaga situs sejarah masyarakat pra-Sriwijaya dan Sriwijaya.

Lahan gambut di Kabupaten Muba bukan hanya menyimpan karbon. Lahan gambut itu juga menyimpan bukti besar sejarah Sriwijaya, sebelum maupun sesudah kerajaan tersebut dilahirkan.

“Oleh karena itu, program restorasi maupun pengelolaan lanskap Lalan berkelanjutan di Muba bukan hanya memperbaiki kondisi lahan gambut, mensejahterahkan rakyat, tapi juga harus menyelamatkan berbagai situs sejarah terkait Kerajaan Sriwijaya,” kata Beni kepada Mongabay Indonesia, usai menjadi narasumber dalam diskusi Potensi dan Tantangan Pengelolaan Berkelanjutan Landskap Lalan Kabupaten Musi Banyuasin yang diselenggarakan BPDP, IDH (The Sustainable Trade Initiative), dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), di Palembang, Jumat (29/07/2016).

 

Fragmen gerabah dan keramik Tiongkok dari Situs Kanal 12. Foto: Nurhadi Rangkuti

 

“Terkait niat tersebut, saya sangat mendukung program Taman Sriwijaya yang digagas Tim Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan Hidup. Saya berharap, program tersebut mendapat dukungan dari Badan Restorasi Gambut (BRG), Tim Restorasi Gambut (TRG) Sumsel, Pemerintah Sumsel, serta perusahaan-perusahaan yang dekat lokasi situs, termasuk di konsesi ditemukannya situs sejarah.”

“Sebelum dibangun Taman Sriwijaya, saya akan menetapkan kawasan tersebut sebagai cagar budaya,” katanya.

 

Penggalian situs pra-Sriwijaya di Lalan Muba. Foto: Balai Arkeologi Sumsel

Penggalian situs pra-Sriwijaya di Lalan Muba. Foto: Balai Arkeologi Sumsel

 

Sebelumnya, dalam paparannya, Beni berharap program Pengelolaan Berkelanjutan Landskap Lalan yang luasnya mencapai 100 ribu hektare dengan penduduk sekitar 39.785 jiwa, mencapai lima target.

Pertama, sebagai gerbang perairan menuju Pelabuhan Internasional Tanjung Api-Api (TAA). Kedua, adanya keragaman komoditi di Landskap Lalan (Sawit – Karet – Kelapa dalam, Kehutanan, Persawahan, Palawija, dan lainnya). Ketiga, wilayah transmigrasi yang  telah tertata dan memiliki legalitas lahan. Keempat, zona penyangga (Buffer Zone) kawasan Taman Nasional Sembilang dan Suaka Margasatwa Bentayan (Koridor harimau dan gajah Sumatera) dan sebaran gambut. Kelima, pelestarian situs pra Sriwijaya dan Sriwijaya.

“Target ini tentunya harus mendapatkan dukungan semua pihak, baik lokal maupun internasional,” katanya.

 

Dua guci dari masa Dinasti Tang yang ditemukan di situs pemukiman Sriwijaya. Foto: Taufik Wijaya

 

Terpisah, Nurhadi Rangkuti dari Tim Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan Hidup mengatakan, Taman Pra Sriwijaya di Muba merupakan bagian DAS (Daerah Aliran Sungai) Lalan dan Sembilang. Tepatnya di daerah Karangagung Tengah.”

“Lokasi penemuan situs, selain di lahan milik warga juga di beberapa titik di lokasi perkebunan, yang turut menjadi target restorasi,” katanya.

Selain Beni Hernedi, diskusi tersebut juga mendengarkan paparan dari Dr. Najib Asmani (Staf Khusus Gubernur Sumsel Bidang Perubahan Iklim), Fitrian Ardiansyah (IDH), Prof. Dr. Robiyanto Hendro Susanto (pakar gambut dari Universitas Sriwijaya), Damayanti Buchori dari IPB (Institut Pertanian Bogor).

Terkait target Pemerintah Kabupaten Muba tersebut, IDH sebagai pendukung program Ekoregion Kelola Pemerintah Sumsel, juga menargetkan Pengelolaan Berkelanjutan Landskap Lalan. “Yakni sebagai sentra produksi beras, sawit, dan karet. Juga, menjadi potensi lumbung pangan dan sawit berkelanjutan. Kawasan penyangga TN Sembilan dan kawasan gambut. Serta, sebagai proteksi hutan lindung, gambut, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, dan pengembangan bioenergi untuk listrik,” papar Fitrian Ardiansyah.

 

Wilayah Kecamatan Lalan (Landskap Dangku-Sembilang). Peta: Pemkab Muba

Wilayah Kecamatan Lalan (Landskap Dangku-Sembilang). Peta: Pemkab Muba

 

 

Ular dan Katak, Apa Pentingnya untuk Kita?

Katak bernama Mycrohila orientalis ini sebesar ujung jari manusia dewasa, atau sekitar 17 hingga 18 milimeter (1,7 hingga 1,8 centimeter) di Pulau Dewata, Bali. Foto: Amir Hamidy

 

Museum Zoologi, Bogor, akhir pekan lalu tampak lebih ramai. Dua pemuda terlihat memegang ular sepanjang sedepa orang dewasa.  Beberapa orang lagi menunggui kotak-kotak kaca berisi aneka ular, dan beberapa reptil lain. Pengunjung melihat-lihat isi kaca, ada yang uji nyali memegang ular dan ada pula yang merasa takut bahkan jijik.

Hari itu memang digelar Festival Amfibi Reptil Kita. Beberapa komunitas pemerhati dan  pencinta reptil dan amfibi Jabodetabek meramaikan acara yang dihelat oleh Institut Pertanian Bogor (IPB), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Perhimpunan Herpetologi Indonesia.

Tiga bulan lalu, masyarakat dikejutkan dengan tewasnya penyanyi bernama Irma Bule. Pedangdut asal Karawang ini, selalu ditemani seekor ular. Irma tewas setelah dipatuk king cobra (Ophiophagus hannah), yang pakai untuk atraksi di panggung saat itu.

Ular masih dipandang sebagai hewan berbahaya, menakutkan, menjijikan hingga layak dimusnahkan. Hal ini diakui oleh ahli herpetologi LIPI,  Amir Hamidy, yang menjadi pembicara temu wicara ahli herpetologi saat itu.

“Masyarakat masih seperti itu, yang paling mudah kalau ada ular, ya dibunuh. Mereka melakukannya karena tidak tahu,”  ujar Amir kepada Mongabay, di Museum Zoologi, Sabtu (23/7/2016).

Karena itulah acara ini digelar, kata Amir, yang tujuannya untuk mengenalkan kepada masyarakat tentang reptil dan amfibi di Indonesia. Acara tersebut untuk mengubah image dan persepsi bahwa ular harus dibunuh. Alasannya, ular juga mempunyai peran penting dalam rantai makanan kehidupan dan lingkungan. Dia berfungsi untuk mengendalikan tikus atau hama.

Diakuinya, hal ini tidak mudah apalagi dalam kehidupan sehari-hari yang banyak mitos dan kepercayaan negatif tentang ular. “Kalau tak tahu, tak kenal maka tak sayang.”

 

Penampakan utuh Mycrohila orientalis. Foto: Amir Hamidy

 

Pentingnya ular

Beberapa tahun terakhir, berita petani Indonesia gagal panen yang disebabkan ganasnya hama yang menyerang padi atau tanaman pertanian lainnya seperti tikus, wereng, ulat, burung, dan sebagainya merebak.

Hal ini, kata Amir, tidak lepas dari makin hilangnya predator atau pemangsa hewan yang yang menjadi hama penyebab kegagalan panen. “Misalnya, tikus merajalela habiskan padi, karena tidak ada ular yang memangsanya.”

Keberadaan tikus dan ular atau hewan-hewan lain di sawah, menjadi hal wajar, sebuah rantai makanan yang normal. Jika salah satu rantai putus, akan mengganggu bekerjanya rantai tersebut.

Bisa (racun) pada ular di alam, menurut Amir, adalah senjata untuk bertahan dari musuh dan juga mematikan mangsanya mati dalam sekejap. Jika tikus sudah terpatuk, kena racun, maka hewan pengerat ini tak bisa bergerak, ular akan dengan mudah memangsanya.

Kini, keberadaan ular makin jarang karena diburu untuk diperdagangkan. Kulit ular dan empedunya menjadi incaran bagi mereka yang menangguk untung. “Paling tidak, 20 ribu lembar kulit kobra diekspor. Berarti, sebanyak 20 ribu individu ular terbunuh. Semakin banyak ular yang dibunuh untuk dikomersilkan, makin terganggu mata rantai dan lingkungan.”

Amir menjelaskan, ular ada di mana-mana karena dia mencari makan. Di mana ada mangsa seperti cicak, tikus, atau burung, biasanya ada ular. Dia menyukai tempat lembab, jarang terkena sinar matahari. Bisa ditumpukan kayu, ranting-ranting, semak, atau bekas lubang tikus. Jika di ruangan, ini menyukai tempat yang jarang dibuka.

Amir pun memberikan tips untuk menjauhkan rumah atau lingkungan sekitar rumah dari ular. Yakni, menjaga kebersihan lingkungan. Jangan biarkan tumpukan kayu, potongan papan, atau bambu di halaman atau pojok rumah. Rapikan pula tanaman atau semak agar tidak menjadi sarang. “Ular juga menghindari bau-bauan tajam. Dengan menyapu dan mengepel lantai dengan karbol setiap hari, ular akan menjauh.”

 

Ular tikus Enggano yang hanya ada di Enggano. Jenis ini masih menyisakan ‘misteri’ terkait jumlah dan pergerakannya di malam hari. Foto: Amir Hamidy

 

Amfibi spons lingkungan

Membicarakan ular atau reptil, tak lengkap jika tak menyinggung amfibi. Katak, yang langsung melekat dalam ingatan kita. Amfibi terdiri dari tiga kelompok yakni Apoda,Caudata, dan Anura. Berdasarkan pemaparan Kelompok Kerja Konservasi Amfibi dan Reptil (K3AR) Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), dapat diketahui kelompok tersebut.

Apoda adalah amfibi yang tidak memiliki kaki dan sepintas seperti cacing. Jarang muncul di permukaan tanah dan biasanya berada dalam tanah atau tumpukan serasah atau air. Banyak dijumpai di Amerika Selatan dan Tengah, tapi ditemukan pula ada di Indonesia.

Amfibi kedua adalah Caudata, atau dikenal dengan salamander,tidak dijumpai di Indonesia. Yang terakhir adalah Anura. Ditemukan hampir di seluruh belahan dunia. “Sebagian besar amfibi Indonesia umumnya masuk kelompok ini,” ujar Mirza D Kusrini, dari K3AR, IPB.

Tubuh umumnya pendek dan lebar, kakinya memiliki selaput untuk melompat atau berenang, punya pita suara, dan kawin eksternal. Telur menetas tumbuh menjadi berudu dan katak. Di Indonesia, ditemukan 450 jenis yang mewakili 11 persen Anura di seluruh dunia.

 

Malayopython reticulatus (Ular sanca batik). Foto: Amir Hamidy

 

Amfibi, kata Mirza, mempunyai banyak fungsi seperti untuk bahan konsumsi, alat uji medis dan bahan obat, juga sebagai predator berbagai serangga atau larva serangga. “Katak yang di sawah diketahui memakan berbagai jenis serangga yang menjadi hama pertanian. Penting dalam rantai makanan,” ujar Mirza pada acara yang sama.

Fungsi lain yang juga penting, amfibi sebagai bio -indikator kerusakan lingkungan. Beberapa tahun terakhir, para peneliti menyadari amfibi terutama pada tahap telur dan berudu sangat sensitif terhadap kerusakan lingkungan. “Kodok itu bernapas tidak hanya dengan paru-paru tapi juga kulitnya, dia ini sangat sensitif pestisida. Seperti spons, indikator lingkungan,” ujar Mirza.

Keberadaan amfibi, khususnya katak juga makin sedikit. Hal ini tak lepas dari lingkungan yang membuat rantai makanan makin sederhana.

 

 

Psammodynastes pulverulentus (Ular viper palsu). Foto: Amir Hamidy

 

Mirza dan K3AR Fakultas Kehutanan sedang mengembangkan program pengenalan dan pendataan amfibi menggunakan semacam aplikasi. Juga, mengembangkan konservasinya di lingkungan perkotaan. “Masyarakat perlu mengenal berbagai amfibi dan reptil untuk menjaga keseimbangan alam dan rantai makanan.”

Selain dua ahli tersebut, hadir Dr. Tri Maharani, dokter spesialis gawat darurat yang sering menangani gigitan ular. Menurutnya, penanganan medis untuk kasus gigitan ular belum mencukupi. Karena masih jarang dan mahalnya serum anti bisa ular yang mencapai jutaan rupiah per ampul. “Banyaknya angka kematian yang tak tertangani secara medis karena tidak ada serum,” ujarnya.

 

 

Lahan Gambut di Sumatera Selatan Disebar Bios 44, Untuk Apa?

Kebakaran di wilayah perbatasan konsesi PT. BMH dan SM Padang Sugihan pada 5 Juli 2016. Foto: Dinas Kehutanan Sumsel

 

Berbagai upaya dilakukan guna mencegah kebakaran lahan gambut di Sumatera Selatan. Salah satunya melalui penyebaran Bios 44 ke wilayah gambut yang masih basah. Apakah Bios 44?

“Bios 44 merupakan paduan beberapa mikroorganisme yang disatukan. Bios 44 ini mampu memperkecil hingga menutupi rongga-rongga lahan gambut, sehingga lahan gambut tidak mudah terbakar. Tapi, tetap membutuhkan proses waktu,” kata Muhammad Tamim Pardede, pakar Bio Kimia Molekuler kepada Najib Asmani, Koordinator Tim Restorasi Gambut (TRG) Sumatera Selatan, saat melakukan kunjungan ke lokasi uji coba Bios 44 di Desa Sungai Rambutan, Kabupaten Ogan Ilir (OI), Sumsel, Selasa (26/07/2016) lalu.

“Setelah disiramkan ke lahan gambut, cairan Bios 44 akan berkembang hingga menutupi rongga gambut. Bios 44 akan lebih mudah berkembang jika kondisi gambut masih dipenuhi air seperti kemarau saat ini yang masih diselingi hujan,” katanya.

Dijelaskan Tamim, lahan gambut yang sudah disiram Bios 44, setelah tiga bulan akan subur. Bisa ditanami dengan jenis tanaman lain. Lalu, pada saat musim kemarau lahan tersebut sudah terkunci dan tidak mudah terbakar. “Cairan Bios 44 ini juga tidak berbahaya bagi manusia maupun makhluk hidup lainnya. Bahkan, menjadi sumber makanan bagi ikan yang hidup di lahan gambut,” ujarnya.

“Kami sangat senang dengan kegiatan ini. Berbagai upaya dan niat baik sangat dibutuhkan Pemerintah Indonesia, khususnya Sumatera Selatan (Sumsel), dalam mengatasi persoalan lahan gambut yang sebelumnya hampir setiap tahun kebakaran. Kita berharap, upaya ini mampu mencegah kebakaran dan membantu peningkatan kualitas lahan gambut di wilayah budidaya sehingga tanaman menjadi lebih baik tumbuhnya,” kata Najib.

 

Peta Indikatif Restorasi dan Kawasan Hidrologis Gambut Sumatera Selatan. Peta: WRI dan Deltares 2016

 

Penyebaran Bios 44 di lahan gambut di Sumatera Selatan merupakan upaya pencegahan kebakaran oleh Korem 044/Gapo. Komandan Korem 044/Gapo Kolonel Inf. Kunto Arief Wibowo, yang hadir pada kunjungan TRG Sumsel serta pihak-pihak yang berkomitmen mencegah kebakaran hutan dan lahan, seperti Kepala Dinas Kehutanan Sumsel Sigid Wibowo, termasuk perwakilan perusahaan perkebunan sawit dan HTI,  menjelaskan uji coba cairan Bios 44 dilakukan pada lahan gambut terbakar 2015 lalu. Yakni, kawasan gambut di Inderalaya—termasuk di Desa Sungai Rambutan— dan Desa Simpang Tiga, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

“Dalam upaya mencegah kebakaran lahan gambut di Sumsel, kita akan fokus mengembangkan hasil temuan Profesor Muhammad Tamim Pardede, yakni Bios 44 sebagai peredam lahan gambut yang mudah terbakar,” katanya.

 

Prof. Muhammad Tamim Pardede yang berpenampilan nyetrik. Menemukan Bios 44 yang diyakininya mampu mencegah kebakaran di lahan gambut. Foto: Oktriana Vertasari/TRG Sumsel

Prof. Muhammad Tamim Pardede yang berpenampilan nyetrik. Menemukan Bios 44 yang diyakininya mampu mencegah kebakaran di lahan gambut. Foto: Oktriana Vertasari/TRG Sumsel

 

Terkait penyebaran Bios 44 dalam jumlah besar, pihaknya akan bekerja sama dengan BNPB, BPBD, dan Tim Karhutlah Sumsel menggunakan pesawat MI-8-MTV. “Sebelum disiram, cairan Bios 44 dicampur air,” ujarnya.

Dia pun berharap, pihak perusahaan yang selama ini lahan konsesinya sering terbakar dapat mencoba upaya tersebut. “Sebagai kebaikan, mungkin dapat diuji coba di lahan perkebunan yang sering terbakar,” katanya seusai memberikan contoh Bios 44 kepada perwakilan perusahaan perkebunan sawit dan hutan tanaman industri.

 

 

Mereka Memang Berhak Kembali ke Alam Liar

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran orangutan di TNBBR. Foto: YIARI

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran orangutan di TNBBR. Foto: YIARI

 

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Kamis 21 Juli 2016, telah mengevakuasi satu individu orangutan betina berusia lima tahun, dari warga Kampung Lubuk Batu, Dusun Tual, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

“Orangutan yang dinamai Utat oleh pemiliknya Amat (40), itu kondisinya sehat. Menurut pengakuannya, Utat telah dipelihara sejak berusia satu tahun, yakni empat tahun lalu,” ungkap Kepala BKSDA Kalbar, Sustyo Iriyono.

Amat menyerahkan Utat kepada Tim Evakuasi dan Penyelamatan TSL Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama staf dari Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI). Kini, Utat menghuni pusat rehabilitasi YIARI di Kecamatan Sungai Awan, Kabupaten Ketapang. Utat akan menjalani proses pembelajaran untuk menjadi liar hingga dapat dilepaskan di alam bebas.

Sebelumnya, pada 28 Juni 2016,  YIARI bersama BKSDA Kalbar dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) melakukan pelepasan orangutan di Resort Mentatai, Dusun Juoi, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi. Butan dan Marsela, dilepasliarkan setelah menjalani rehabilitasi dan proses belajar hidup di alam liar sejak 2011 dan 2012, atau saat mereka dievakuasi dari pemeliharanya.

 

Perjalanan perahu selama satu jam harus dilewati untuk menuju lokasi pelepasan di TNBBR. Foto: YIARI

Perjalanan perahu selama satu jam harus dilewati untuk menuju lokasi pelepasan di TNBBR. Foto: YIARI

 

Butan dan Marsela adalah orangutan yang diselamatkan YIARI ketika berusia 2-3 tahun. “Di habitatnya, bayi orangutan hidup bersama induknya dari lahir hingga usia 7-8 tahun,” jelas Gail Campbell-Smith, Manager Program YIARI. “Jika bayi orangutan ditemukan sendirian, hampir bisa dipastikan induknya sudah mati,” tambah Gail.

Kondisi Butan sangat memprihatinkan ketika diselamatkan dari kasus pemeliharaan oleh warga di areal Laman Satong, Ketapang. Butan nyaris mati akibat malaria. Setelah enam bulan mendapatkan perawatan, Butan dinyatakan sembuh total oleh tim medis YIARI.

Marsela juga berasal dari wilayah yang sama, tepatnya dari perkebunan sawit PT. Kayong Agro Lestari (KAL) di Ketapang. Anak orangutan yang masih liar ini ditemukan tanpa induknya oleh satpam perusahan, yang segera melaporkan ke BKSDA dan diserahkan kepada YIARI.

Selain Butan dan Marsela, YIARI juga melepaskan satu individu orangutan liar bernama Sabtu. Ia adalah orangutan liar berusia 25 tahun yang diselamatkan dari perkebunan warga di Sungai Awan Kiri, Delta Pawan, Ketapang, Maret 2016. Sabtu menjalani perawatan di Pusat Penyelamatan dan Konservasi YIARI di Ketapang untuk memulihkan kondisinya agar siap kembali ke alam bebas.

Tim medis YIARI juga sudah memastikan ketiga orangutan ini sudah dalam kondisi yang sehat dan siap untuk dikembalikan kehabitatnya. “Orangutan ini sudah melalui prosedur karantina dan telah dilakukan beberapa tes,” jelas drh. Ayu Budi Handayani, Animal Care Manager YIARI.

 

Habitat hidup orangutan adalah hutan. Tampak dua individu orangutan langsung memanjat pohon begitu dilepaskan di TNBBR. Foto: YIARI

Habitat hidup orangutan adalah hutan. Tampak dua individu orangutan langsung memanjat pohon begitu dilepaskan di TNBBR. Foto: YIARI

 

Puluhan jam perjalanan

Dari Kabupaten Ketapang menuju Kabupaten Melawi, tepatnya di kawasan TNBBBR, tim pelepasan harus menempuh kurang lebih 40 jam perjalanan darat. Tak hanya itu, perjalanan masih dilanjutkan dengan perahu selama satu jam, ditambah empat jam jalan kaki. Tim dilepas oleh Kepala BKSDA Singkawang I, Ruswanto, dengan melibatkan 12 porter.

Sabtu, ketika dilepaskan langsung keluar dari kandang transport dan memanjat pohon. Sedangkan, Butan dan Marsela dilepaskan sehari kemudian setelah diistirahatkan di kandang habituasi semalam. Ketika dilepaskan, Butan dan Marsela langsung memanjat pohon tinggi, menjelajahi area sekitar titik pelepasan dan mencari makan.

“Sejak awal rehabilitasi, Butan dan Marsela mempunyai perilaku alami yang bagus. Mereka sudah bisa memanjat tinggi, dan mencari makan sendiri. Bahkan, tinggal di hutan, membuat sarang, dan tidak pernah pulang ke kandang,” ungkap Karmele Llano Sanchez, Direktur Program YIARI.

Karena kondisi dan perilaku alaminya semakin bagus, YIARI mulai mengambil data perilaku mereka dan memasukkannya ke kandidat rilis. “Proses rehabilitasi orangutan sangat panjang dan setelah pelepasan masih akan diikuti oleh tim monitoring di hutan dengan alat radio tracking selama 1-2 tahun.”

Kegiatan monitoring ini, melibatkan beberapa warga di dusun sekitar titik pelepasan. Sebelumnya, mereka telah mendapatkan peningkatan kapasitas melalui pelatihan monitoring dan observasi perilaku orangutan oleh YIARI.

Tim monitoring akan mengikuti Butan, Marsela dan Sabtu, sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Selama itu, mereka akan mencatat semua hal dan perilaku orangutan tersebut. “Ini untuk memastikan, orangutan memang mampu hidup di hutan yang sebenarnya,” papar Karmele.

 

Monitoring akan terus dilakukan pada orangutan yang baru dilepasliarkan ini. Foto: YIARI

Monitoring akan terus dilakukan pada orangutan yang baru dilepasliarkan ini. Foto: YIARI

 

 

Telur Penyu di Pulau Bangkaru Itu Terus Diburu

Tukik atau anak penyu yang dilepaskan oleh masyarakat Aceh ke laut. Foto: Junaidi Hanafiah

Tukik atau anak penyu yang dilepaskan oleh masyarakat Aceh ke laut. Foto: Junaidi Hanafiah

 

Keberadaan penyu di Aceh terancam dengan maraknya pencurian telur. Bukan hanya di pesisir yang ditinggali masyarakat, di pulau terluar seperti Pulau Bangkaru, Kecamatan Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, pun disatroni pemburu.

Minggu, 24 Juli 2016, personil TNI Angkatan Laut yang bertugas di Pos Angkatan Laut Pulau Banyak bersama anggota Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, menangkap tiga pencuri telur penyu hijau di pulau tersebut.

Komandan Pos TNI AL di Pulau Banyak, Letda Laut Prabowo menyebutkan, penangkapan tiga pelaku bersama barang bukti 1.200 telur penyu dilakukan saat patroli rutin. Tiga warga Haloban, Pulau Banyak Barat, yang tangkap adalah Azma (29), Rafdi (58), dan Usmir (30).

“Pengakuan dari tiga pelaku, telur akan dijual ke pengepul di Haloban seharga Rp2.000 per butir yang selanjutnya dibawa ke Medan, Sumatera Utara. Selain itu juga, untuk dikonsumsi masyarakat di Aceh Singkil.”

Prabowo mengatakan, perlindungan atau konservasi penyu merupakan wewenang BKSDA, terlebih Pulau Bangkaru merupakan daerah berstatus lindung. “Kami dari angkatan laut ikut menjaga karena masuk wilayah pangkalan. Ketiga pelaku telah diserahkan ke Polres Aceh Singkil untuk pemeriksaan lebih lanjut.”

Sekretaris Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), Badrul Irvan mengatakan, telur penyu yang ada di Aceh, khususnya Pulau Bangkaru, terus diburu untuk dijual ke berbagai daerah. “Kami bekerja sama dengan BKSDA Aceh mengelola Pulau Bangkaru sejak Juni 2015. Berdasarkan pendataan, sekitar 156 sarang telah dicuri telurnya.”

Menurut Badrul, dalam satu bulan, jumlah sarang penyu bisa mencapai 200 sarang. “Bila dilihat dari jumlah telur yang dicuri sebanyak 1.200 butir, artinya mereka telah mengambilnya dari 10 hingga 15 sarang.”

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Genman Hasibuan kepada Mongabay mengatakan, tiga pelaku tersebut merupakan target yang telah dipantau sebulan lalu.

“Para pelaku bukan pertama kali melakukan pencurian, mereka telah diamati dan diawasi saat melakukan kegiatan di pulau itu. Pastinya, kegiatan yang dapat dilakukan di pulau tersebut hanya konservasi serta pendidikan dan ilmu pengetahuan,” ujarnya Selasa (26/7/2016).

 

Penyu hijau (Chelonia mydas) yang ditemui Pulau Derawan, Kaltim. Meski bertelur ratusan, tapi hanya belasan tukik yang bertahan sampai dewasa. Foto: Wisuda

 

Genman menuturkan, berbagai pihak, baik BKSDA maupun lembaga swadaya masyarakat telah melakukan penyuluhan ke warga agar tidak mencuri telur penyu di Pulau Bangkaru. Selain daerah tersebut merupakan daerah lindung, penyu juga termasuk satwa dilindungi.

“Bahkan, kami telah menangkap beberapa pelaku agar memberikan efek jera, akan tetapi pencurian masih terjadi.”

Genman menambahkan, bekerja sama dengan HakA, BKSDA telah menempatkan dua ranger yang bertugas menjaga Pulau Bangkaru. Namun, pastinya mereka tidak akan mampu memantau pulau keseluruhan.

“Bangkaru merupakan pulau yang tidak ditinggali masyarakat. Pulau terdekat adalah Haloban. Untuk mencapai Bangkaru, hanya mereka yang berpengalaman saja, karena ombaknya besar dan terletak di laut lepas, atau di Samudera Hindia,” papar Genman yang pernah menginap di pulau tersebut.

Indonesia merupakan rumah bagi enam spesies penyu dari tujuh spesies yang ada di dunia saat ini. Enam jenis tersebut adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu pipih (Natator depressus), dan penyu tempayan (Caretta caretta).

 

Telur-telur penyu sebanyak 9 ribu butir ini rencananya akan diselundupkan ke Malaysia pada April 2015 lalu. Foto: Dok. Polresta Singkawang, Kalimantan Barat

 

 

Buaya Masuk Permukiman Warga, Pertanda Apakah?

Buaya berukuran sekitar 1,5 meter ini masuk ke permukiman warga. Foto: Aseanty Pahlevi

Buaya berukuran sekitar 1,5 meter ini masuk ke permukiman warga. Foto: Aseanty Pahlevi

 

Seorang pemilik pelelangan ikan, Joni (34) terkejut mendapati seekor buaya berukuran sekitar 1,5 meter berada di sekitar kediamannya, 9 Juli 2016. Buaya tersebut agaknya tertarik dengan bau ikan di dermaga milik Joni. Warna tubuh buaya, sekilas tersamarkan dengan keruhnya air sungai dan lumpur. Penemuan anakan buaya tersebut, sempat membuat heboh masyarakat sekitar Jalan Komodor Yos Soedarso, Gang Salak IV, Pontianak, Kalimantan Barat.

Akhirnya, Joni memutuskan untuk memelihara sementara anakan buaya tersebut, seraya mencari informasi kepada pihak mana menyerahkan hewan tersebut. Hingga pada 13 Juli, informasi anakan buaya tersebut sampai ke Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Tim kemudian mengevakuasi anakan buaya yang termasuk jenis buaya muara itu.

Buaya muara (Crocodylus porosus) tersebut belum dapat diidentifikasi jenis kelaminnya. “Sejak ditemukan, buaya ini tidak mau makan. Padahal sudah diberi ikan,” ujar Joni, kepada petugas. Saat dievakuasi pun, anakan buaya tersebut tampak masih memiliki sifat liar. Petugas merekatkan moncong buaya tersebut dengan plester, demikian pula kaki depan dan belakangnya. Sesaat sebelum dibawa ke Sinka Zoo, anakan buaya tersebut terus disiram air untuk menghindari stres yang berlebih akibat evakuasi.

“Walau masih memiliki sifat liar, kita tetap akan menitiprawatkan satwa tersebut di Lembaga Konservasi Sinka Zoo, Kota Singkawang. Dengan pemikiran, harapan hidupnya lebih tinggi di sana,” ungkap Sustyo Iriyono, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat. Sustyo mengatakan, pada 20 Juli lalu, pihaknya juga menerima seekor buaya jantan dewasa dari seorang warga di Jalan Swadaya Kelurahan Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat.

 

Buaya ini selanjutnya dititiprawatkan di Sinka Zoo. Video: Aseanty Pahlevy

 

Ukuran buaya peliharaan itu mencapai tiga meter. Pemiliknya, Budi Van Darol (37), mengatakan, awalnya buaya tersebut dipelihara Kades Sebubus, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas pada 1995. Buaya tersebut, juga dititiprawatkan di Lembaga Konservasi Sinka Zoo, Singkawang.

Selain dua buaya tersebut, BKSDA Kalbar juga telah mengevakuasi seekor buaya pada 4 Juli. Tadinya, si pemilik Noviansyah (30) warga Desa Kapuas Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubur Raya, mengiklankan buaya tersebut di media sosial untuk dijual.

“Informasi tersebut didapat oleh tim pemantau media dan ditindaklanjuti dengan melakukan evakuasi dari warga tersebut,” kata Sustyo. Berdasarkan pengakuan pemiliknya, buaya tersebut ditemukan di lokasi bongkaran pasir yang berada di Jalan Adi Sucipto, dua hari sebelum dievakuasi. Penangkapan buaya tersebut, kata Sustyo, karena khawatir dapat membahayakan warga sekitar. Sustyo mengakui, musim kering belakangan ini menyebabkan debit air Sungai Kapuas menurun dan pakan buaya menipis. Mereka akhirnya mencari sumber pakan, di luar teritori berburunya.

 

Buaya muara sepanjang empat meter yang ditangkap warga di Sungai Udang, Desa Sungai Rengas, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, 2013 lalu. Foto: Andi Fachrizal

 

Habitat terganggu

Kemunculan buaya di Kota Pontianak belakangan ini menunjukkan indikasi habitatnya terganggu. Buaya muara di Kalimantan Barat, kebanyakan berada di Kabupaten Kubu Raya. Pada rentang waktu satu dekade terakhir, Kubu Raya juga sempat dihantui dengan kemunculan hewan tersebut.

Pada 2010, seekor buaya berukuran empat meter yang ditangkap warga berakhir dengan kematian. Satwa tersebut kemudian dipertontonkan, lantaran dianggap sebagai hewan yang menyebabkan tewasnya beberapa warga di daerah tersebut. “Saat itu para nelayan takut mencari ikan, karena sering melihat keberadaan satwa tersebut,” kata Joni Edward, salah seorang jurnalis yang meliput tertangkapnya buaya dengan berat lebih dari 600 kilogram itu. Joni bahkan mengabadikan dirinya bersama bangkai satwa tersebut, yang dipertontonkan oleh masyarakat Kecamatan Sungai Kakap.

Pejabat Bupati Kubu Raya, Kamaruzzaman, yang saat itu merupakan kabupaten baru hasil pemekaran, lantas membentuk Tim Penanggulangan Buaya. Tim ini terdiri dari beberapa instansi terkait. Kamaruzzaman juga mengeluarkan surat keputusan, untuk memberikan imbalan satu juta rupiah bagi siapa pun yang bisa menangkap seeokor buaya hidup-hidup. Tujuannya, mencegah konflik dengan manusia meruncing.

 

Buaya senyulong yang ditemukan warga di Danau Tampang Keladi, Kabupaten Landak, Kalbar, 2014 lalu. Pemprov Kalbar membentuk tim untuk mengetahui apa penyebab kematiannya. Foto: Aseanty Pahlevi

 

Tahun 2014, konflik serupa terjadi di Kabupaten Kubu Raya. Mat Sarif, pada bulan Mei, mengalami luka-luka lantaran kedua kakinya diterkam buaya muara. Warga Desa Sungai Nipah, Kecamatan Teluk Pakedai ini bahkan sempat ke tengah sungai. Mat Sarif memberikan perlawanan dengan memukuli kepala buaya tersebut dengan kepalan tangannya. Sehingga, buaya mengendorkan cengkramannya. Saat itulah Mat Sarif lolos.

Adi Rachman, aktivis lingkungan hidup di Kabupaten Ketapang menyatakan, buaya tersebut masuk ke permukiman lantaran habitatnya terusik, atau makanan alaminya punah. “Ada kaitannya dengan pembukaan lahan secara masif untuk pertambangan dan sawit.” Ikan dan udang yang merupakan santapan buaya, diperkirakan sudah jauh menurun jumlahnya.

Ditambah lagi, mereka harus bersaing dengan manusia, yang mencari ikan dan udang sebagai mata pencaharian. Tak hanya itu, lalu lintas sungai saat ini sudah semakin ramai. Termasuk alih fungsi bantaran sungai menjadi kawasan permukiman dan kegiatan budidaya seperti tambak. “Buaya betina pun menjadi lebih sulit mencari tempat untuk peneluran,” ujar Adi.

 

 

Konservasi Rafflesia Memang Penting Dilakukan, Mengingat…

Rafflesia bengkuluensis yang mekar pada 21 Januari 2015 di Desa Manau Sembilan Kecamatan Padang Guci Hulu, Kabupaten Kaur. Foto: Noprianto

Rafflesia bengkuluensis yang mekar pada 21 Januari 2015 di Desa Manau Sembilan Kecamatan Padang Guci Hulu, Kabupaten Kaur, Bengkulu. Foto: Noprianto

 

Dari 25 jenis rafflesia yang ada di dunia, sebanyak 12 jenis dapat dijumpai di Indonesia dengan 10 diantaranya ditemukan di Sumatera. Dari 10 jenis yang ada di Sumatera itu, 4 jenis di antaranya ditemukan di lahan penduduk di Provinsi Bengkulu. Yakni, Rafflesia arnoldii, Rafflesia hasseltii, Rafflesia gadutensis, dan Rafflesia bengkuluensis.

Salah satu wilayah yang sering ditemukan Rafflesia arnoldii dan Rafflesia bengkuluensis adalah di Kecamatan Padang Guci Hulu, Kabupaten Kaur. “Sepanjang 2014, sebanyak 25 rafflesia mekar meliputi 10 Rafflesia arnoldii dan 15 Rafflesia bengkuluensis. Di 2015, ada 15 rafflesia yang mekar meliputi 8 Rafflesia arnoldii dan 7 Rafflesia bengkuluensis. Untuk tahun ini, baru 2 Rafflesia arnoldii yang merekah,” tutur Ketua Komunitas Pemuda Padang Guci Peduli Puspa Langka, Noprianto, Sabtu (23/7/16).

Rafflesia bengkuluensis adalah jenis yang ditemukan pertama kali oleh Agus Susatya dan kawan-kawan pada 2005, di hutan sekunder muda dengan vegetasi yang tersusun dari vegetasi hutan dan kebun di Desa Talang Tais, Kecamatan Kelam Tengah, Kabupaten Kaur. Inang jenis ini adalah Tetrastgima tuberculatum dan inang strukturalnya adalah Micromelum menutum dan Rinorea anguifera. Jenis ini mempunyai laju kematian sangat tinggi, berkisar 80 – 100 %. Kuncupnya dapat mati semua dalam jangka waktu dua bulan.

Khusus Rafflesia bengkuluensis, sambung Noprianto, sepengetahuannya baru ditemukan di wilayah Padang Guci Hulu. “Upaya konservasi Rafflesia bengkuluensis perlu mendapatkan prioritas. Sayang, belum banyak pihak yang memberikan perhatian, termasuk pemerintah daerah. Kalau saja upaya konservasi dilakukan dengan menghubungkan sektor pariwisata, Padang Guci Hulu bisa menjadi salah satu daerah tujuan wisata baru.”

 

 

Perlindungan

Agus Susatya, Peneliti Rafflesia Universitas Bengkulu, menuturkan perlindungan rafflesia penting dilakukan mengingat tidak semua habitatnya berada di kawasan taman nasional, cagar alam, atau hutan lindung. Namun juga, tersebar luas di lahan masyarakat. Oleh karena itu, konservasi habitat asli rafflesia penting dilakukan.

“Ada tiga ancaman kelestarian rafflesia di lahan penduduk. Lahan dikonversi menjadi perkebunan, perusakan atau pemotongan inang, dan banjir atau longsor,” ujarnya kepada Mongabay Indonesia, Kamis (21/7/16).

Umumnya, sambung Wakil Ketua Forum Komunikasi Riset dan Pengembangan Rafflesia dan Amorphophallus ini, habitat rafflesia di lahan penduduk berada di lahan yang terjal atau curam, berukuran tidak begitu luas, dan kurang produktif.

“Pemilik lahan yang menjadi faktor penentu keberhasilan hidup rafflesia itu. Pendekatannya sangat personal, persuasif dan dengan pemberian bantuan bibit atau semacam kompensasi. Kalaulah dilakukan penghitungan, kemungkinan biaya yang dikeluarkan tidak besar.”

Menurut Agus yang juga Ketua Pusat Kajian Keragaman dan Konservasi Hayati Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, teknik yang dapat diterapkan agar rafflesia tetap hidup di lahan masyarakat berupa teknik zonasi. Yaitu, membagi lahan menjadi empat wilayah: zona inti, transisi, penyangga, dan zona produktif. Teknik ini dilakukan untuk memenuhi kepentingan ekologi dan ekonomi.

“Pada zona inti, campur tangan pemilik lahan dibuat seminim mungkin. Ini diperlukan untuk menjaga komunitas tumbuhan dan lingkungan yang cocok untuk rafflesia. Lahan untuk zona inti tidak harus luas, bisa kurang dari 0,1 hektare. Lahan yang pernah ditemukan rafflesia yang ditetapkan menjadi zona ini.”

 

Rafflesia arnoldii (kiri) dan bunga bangkai raksasa Amorphophallus titanum (kanan) yang seriang dianggap jenis yang sama. Sumber: Wikipedia

 

Untuk zona transisi, lanjut Agus, campur tangan pemilik lahan bisa sedikit intensif. Pemanfaatan lahan sudah bisa dilakukan, namun terbatas. Agroforestry dengan menjaga struktur dan komunitas tumbuhan semirip mungkin dengan zona inti bisa dilakukan pada zona ini.

“Di zona penyangga, campur tangan pemilik lahan bisa semakin intensif. Agroforestry dengan komposisi tanaman pertanian atau perkebunan lebih dominan bisa dilakukan pada wilayah ini. Sedangkan pada zona produktif, pemilik lahan bisa memanfaatkannya secara leluasa.”

Upaya konservasi in-situ rafflesia dengan teknik zonasi ini, ujar penemu Rafflesia bengkuluensis dan Rafflesia lawangensis ini, bisa diintegrasikan dengan kegiatan ekowisata. Namun, rafflesia hendaknya tidak dianggap sebagai satu-satunya objek wisata. Tetapi, sebagai flag species atau objek utama yang dikaitkan dengan objek lainnya.

“Seperti wisata lingkungan atau pemandangan alam, agrowisata seperti kebun durian, dan wisata kuliner. Langkah mengintegrasikannya memang tidak mudah. Perlu melibatkan penduduk dan banyak pihak dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasinya. Namun, bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan,” ujar Agus.

 

 

Opini: Amanat Prasasti Talang Tuo dan Taman Sriwijaya untuk Kemakmuran Makhluk Hidup

Sebongkah batu tertelungkup di dataran rawa. Tempat itu bernama Talang Tuo, letaknya di barat laut Bukit Siguntang dengan jarak lurus lima kilometer. L.C. Westenenk, Residen Palembang, menemukan batu itu pada 17 November 1920.  Permukaan batu pasir itu seluas 50 X 80 cm dan  terdapat empat belas baris tulisan Pallawa, India, menggunakan bahasa Melayu Kuno dan Sansekerta.

Sejumlah ahli tulisan kuno telah membaca dan menafsirkan isi Prasasti Talang Tuo. Pada tahun 1930, seorang ahli tulisan kuno bangsa Perancis, George Coedes, menyempurnakan pembacaan teks dan terjemahannya.

 

Peta Taman Sriwijaya Langpipi-Ketupak di Desa Ulak Kedondong, Kecamatan Cengal, OKI, Sumsel. Sumber: Tim Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan Hidup

Peta Taman Sriwijaya Langpipi-Ketupak di Desa Ulak Kedondong, Kecamatan Cengal, OKI, Sumsel. Sumber: Tim Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan Hidup

 

Kemakmuran! Itulah kata pembuka isi Prasasti Talang Tuo yang diterbitkan oleh Raja Sriwijaya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa pada 23 Maret 684 Masehi. Sebelumnya, kata yang sama, tersebut pula pada Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 16 Juni 682 Masehi ketika sang raja mengadakan perjalanan suci dari Minanga Tamwan hingga ibu kota kerajaan, dan beliau meletakan batu pertama pembangunan permukiman (vanua) baru. Kemakmuran, menjadi kata kunci bagi Raja Sriwijaya pada masa itu. Kemakmuran tidak sekadar kata atau janji, melainkan suatu  tindakan nyata yang dilakukan raja untuk membahagiakan semua mahluk yang hidup di muka bumi.

Tindakan nyata itu tersurat dalam Prasasti Talang Tuo. Prasasti ini  memuat peristiwa pembangunan Taman Sriksetra atas perintah raja. Di taman itu, ditanam berbagai tumbuhan seperti pohon kelapa, pinang, aren, sagu,  bambu haur, wuluh dan sebagainya. Taman Sriksetra menjadi acuan untuk pengembangan taman-taman atau kebun-kebun lainnya yang dilengkapi dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolam.

Pada masa itu taman, kebun, bendungan, dan kolam tersebar di berbagai tempat. Semua itu untuk kebahagian semua: manusia, tumbuhan, dan hewan. Raja menginginkan semua kebun dengan berbagai tumbuhan hidup subur dan berlebih panennya, demikian pula ternak-ternak yang dipelihara penduduk terus bertambah. Raja mempunyai komitmen tidak ada lagi orang yang lapar, tidak ada lagi pencuri, pembunuh, atau pezinah.

Amanat Dapunta Hyang Sri Jayanasa melalui Prasasti Talang Tuo sangat jelas: kelola lingkungan untuk kemakmuran dan kesejahteraan semua mahluk. Amanat tersebut perlu ditindaklanjuti oleh para pemimpin saat ini dan yang akan datang.

 

Prasasti Talang Tuo yang merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Sumber: Wikipedia

 

Taman Sriwijaya

Taman Sriksetra yang disebutkan dalam Prasasti Talang Tuo memberikan inspirasi kepada kita untuk senantiasa mempunyai niat baik dalam mengelola lingkungan untuk kemakmuran semua mahluk hidup di muka bumi. Prasasti Talang Tuo juga memberi informasi berbagai jenis tumbuhan yang bermanfaat bagi masyarakat Sumatera Selatan bila dikelola dengan baik.

Penelitian arkeologi di daerah lahan gambut Sumatera Selatan yang dilakukan sejak tahun 2000 sampai sekarang oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan  dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional telah mengungkap situs-situs permukiman sejak awal Masehi sampai masa Sriwijaya (abad ke-7 hingga 13 Masehi). Penelitian dilakukan di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir, Kabupaten Banyuasin, dan Kabupaten Musi Banyuasin. Bukti-bukti arkeologis tersebut menggambarkan bahwa pada masa lampau daerah pantai timur Sumarera Selatan menjadi pusat aktivitas manusia.

 

Wilayah Kekuasaan Sriwijaya abad ke-8 Masehi yang membentang luas dari Sumatera, Jawa Tengah, hingga Semenanjung Malaysia. Sumber: Wikipedia

 

Wilayah persebaran situs tersebut merupakan daerah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan gambut. Kebakaran juga merusak situs-situs arkeologi. Oleh karena itu, situs-situs tersebut perlu dilindungi, dilestarikan dan dimanfaatkan.

Berkaitan dengan upaya restorasi gambut oleh Badan Restorasi Gambut (BRG) dan Tim Restorasi Gambut Provinsi Sumatera Selatan selama lima tahun (2016-2020), maka restorasi gambut di Sumatera Selatan menggunakan pendekatan budaya, yaitu memberi ruang dan makna pada situs-situs arkeologi pada lahan-lahan gambut yang akan direstorasi. Sehubungan dengan hal tersebut, Tim Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan Hidup yang ikut terlibat dalam  Tim Restorasi Gambut Provinsi Sumatera Selatan, merancang program, yaitu program Taman  Sriwijaya.

Taman Sriwijaya adalah nama kawasan budaya dan ekologi yang berdasarkan keberadaan tinggalan arkeologis masa Pra Sriwijaya dan masa Sriwijaya di wilayah lahan gambut, yang tersebar di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, dan Musi Banyuasin.

Berdasarkan hasil  penelitian arkeologi, ditentukan lima kawasan situs sebagai Taman Sriwijaya. Seperti halnya di masa lalu, Taman Sriwijaya juga berfungsi sebagai spot hidrologis gambut, habitat keanekaragaman hayati, dan sumber ekonomi berkelanjutan atau sumber kehidupan masyarakat.

 

Kapal Kerajaan Sriwijaya tahun 800-an Masehi yang terukir di Candi Borobudur. Sumber: Wikipedia

 

Target yang ingin dicapai dalam Program Taman Sriwijaya  yaitu:

  1. Ditetapkannya lima kawasan situs di lahan gambut sebagai Cagar Budaya Sriwijaya
  2. Spot hidrologis gambut
  3. Habitat keanekaragaman hayati
  4. Sumber ekonomi berkelanjutan masyarakat
  5. Taman Sriwijaya menjadi objek wisata pendidikan sejarah dan lingkungan

 

Berdasarkan daerah aliran sungai (DAS), ditentukan pula kawasan-kawasan Taman Sriwijaya.

Taman Sriwijaya Langpipi-Ketupak

Kawasan yang merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai Lumpur di daerah Cengal, Kabupaten OKI. Situs-situs arkeologi terdapat di wilayah Desa Ulak-Kedondong pada aliran Sungai Langpipi dan Sungai Ketupak. Kawasan arkeologis ini, berasal dari abad ke-8 hingga 12 Masehi. Di kawasan ini ditemukan sisa-sisa bangunan tiang kayu, perhiasan emas, perahu, manik-manik, prasasti pendek, keramik, pipisan, dan alat penumbuk biji-bijian.

 

Taman Sriwijaya Riding-Lebunggajah

Kawasan yang merupakan bagian dari DAS Riding dan DAS Lebung Gajah di daerah Simpang Tiga Sakti di daerah Tulung Selapan, Kabupaten OKI. Di kawasan ini ditemukan perahu dan tempayan keramik.

 

Taman Sriwijaya Air Sugihan Kanan

Kawasan ini bagian dari DAS Air Sugihan di daerah Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten OKI. Kawasan situs berasal dari masa Pra Sriwijaya sampai masa Sriwijaya. Di kawasan ini ditemukan sisa-sisa bangunan tiang kayu dan nibung, perahu, manik-manik, tembikar, keramik, getah damar.

 

Taman Sriwijaya Air Sugihan Kiri

Kawasan yang merupakan bagian dari DAS Air Sugihan di daerah Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin. Kawasan ini berasal dari masa Pra Sriwijaya sampai masa Sriwijaya. Kawasan ini berasal dari masa Pra Sriwijaya sampai masa Sriwijaya. Ditemukan sisa-sisa bangunan tiang kayu, perahu, keramik, tembikar, dan manik-manik.

 

Taman Pra Sriwijaya Lalan-Sembilang

Kawasan ini merupakan bagian DAS Lalan dan DAS Sembilang di daerah Karangagung Tengah Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin. Kawasan situs ini berasal dari abad ke-4 Masehi (Pra Sriwijaya). Di kawasan ini, ditemukan sisa-sisa bangunan tiang kayu dan nibung, manik-manik, kemudi perahu, keramik, tembikar, kubur tempayan, sisa-sisa manusia dalam tempayan.

 

Model Taman Sriwijaya. Sumber: Tim Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan Hidup

Model Taman Sriwijaya. Sumber: Tim Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan Hidup

 

Peta persoalan

Guna mewujudkan program tersebut ada beberapa persoalan yang harus diselesaikan atau dipenuhi.

Pertama, situs-situs sejarah Kerajaan Sriwijaya tersebut belum ditetapkan pemerintah sebagai cagar budaya. Kedua, hampir sebagian besar situs berada di lahan konsesi perusahaan dan sebagian kecil berada di lahan masyarakat. Saat ini ada beberapa peluang di lahan konsesi perusahaan karena wilayah gambut yang akan direstorasi oleh pemerintah. Misalnya sejumlah situs di Cengal, yang sebagian besar berada di lahan konsesi PT. BMH (Bumi Mekar Hijau) yang akan direstorasi karena terbakar.

Ketiga, sampai saat ini belum ada anggaran untuk melaksanakan program ini. Baik dari pemerintah maupun sponsor. Terakhir, penelitian situs Sriwijaya di lahan gambut Sumatera Selatan masih terus berlangsung atau belum selesai hingga saat ini. Akan ada informasi penting yang didapat dalam pelaksanaan program ini.

 

* Nurhadi Rangkuti. Arkeolog, mantan Kepala Balai Arkeologi Sumatera Selatan. E-mailnurhadirangkuti@yahoo.com. Tulisan ini opini penulis

 

 

Siapapun Dilarang Membakar Lahan di Kabupaten OKI. Wujud Antisipasi Karhutlah?

Sawah sonor ini memanfaatkan lahan gambut di Dusun Pasir, Desa Ulak Kedondong, yang terbakar pada 2015 lalu. Foto: Taufik Wijaya

Sawah sonor ini memanfaatkan lahan gambut di Dusun Pasir, Desa Ulak Kedondong, OKI, yang terbakar pada 2015 lalu. Foto: Taufik Wijaya

 

Meski berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Sumatera Selatan No.8 Tahun 2016 tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutlah) perusahaan atau warga boleh membakar lahan asalkan mendapatkan izin dari pemerintah, namun Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), tetap tidak akan mengeluarkan izin membakar lahan selama musim kemarau berlangsung.

“Kita tidak akan mengeluarkan izin kepada siapapun untuk membakar lahan. Baik perusahaan maupun perorangan,” kata M. Rosidi, Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten OKI, Sumatera Selatan, Rabu (20/07/2016).

Kenapa? “Kita tidak mau mengambil risiko sedikit pun selama musim kemarau ini. Apalagi, kita tahu bagaimana sensitifnya lahan gambut selama kemarau. Sulit menjamin pembakaran dapat dikendalikan meskipun dimulai dari lahan yang kecil.”

Selain itu, Rosidi tidak mau adanya preseden buruk terhadap pengeluaran izin tersebut. Jika perusahaan diberikan izin untuk membakar, kemudian ada warga yang ditangkap karena tidak memiliki izin lantaran dia malas atau tidak tahu, jelas kami akan mendapat banyak kritik dan kecaman. Jadi, lebih baik selama musim kemarau ini kami tidak akan mengeluarkan selembar izin pun,” ujar Rosidi.

Kecemasan Kabupaten OKI, terhadap kebakaran cukup masuk akal. Pada 2015 lalu, OKI menjadi sorotan dunia international. Hutan dan lahannya yang terbakar seluas 377.333 hektare. Saat ini luas kerawanan kebakarannya sekitar 475.281 hektare. Dengan kondisi ini, Badan Restorasi Gambut (BRG) menargetkan lahan terbakar di Kabupaten OKI sebagai wilayah pertama restorasi gambut di Indonesia, bersama daerah lainnya.

Dalam Perda No.8 Tahun 2016 disebutkan, membakar diperbolehkan setelah mendapatkan izin, sesuai Pasal 3 ayat (2), “Pelaksanaan pembakaran hutan dan atau lahan untuk tujuan khusus atau kondisi yang tidak dapat dielakkan antara lain untuk pengendalian kebakaran, pembasmian hama, dan pembinaan habitat tumbuhan dan satwa dapat dilakukan setelah memperoleh izin dari pejabat yang berwenang.”

 

Lahan gambut di Sepucuk, OKI, yang sebelumnya dimanfaatkan masyarakat untuk bersawah sonor, saat ini terbengkalai. Mereka tidak paham bagaimana mengelola lahan gambut untuk menanam padi tanpa membakar. Mereka pun tidak membakar karena terancam masuk penjara dan denda Rp50 juta. Foto: Taufik Wijaya

Lahan gambut di Sepucuk, OKI, yang sebelumnya dimanfaatkan masyarakat untuk bersawah sonor, saat ini terbengkalai. Mereka tidak paham bagaimana mengelola lahan gambut untuk menanam padi tanpa membakar. Mereka pun tidak membakar karena terancam masuk penjara dan denda Rp50 juta. Foto: Taufik Wijaya

 

Ancaman kriminalisasi petani

Edi Saputra, Ketua Serikat Petani Perigi Bersatu, Desa Perigi, Kecamatan Pangkalan Lampan, Kabupaten OKI, menilai kebijakan pemerintah Kabupaten OKI tersebut dapat menimbulkan kriminalisasi terhadap para petani.

“Kenapa? Sebab sulit mencegah para petani tidak melakukan pembakaran selama musim kemarau ini. Baik untuk meremajakan kebunnya atau untuk bercocok tanam. Sebab membakar  sudah mereka lakukan selama puluhan tahun. Mereka tidak punya dana atau pengetahuan bagaimana mengelola lahan tanpa membakar. Jadi, saya yakin akan banyak petani yang ditangkap karena aturan ini,” kata Edi.

Oleh karena itu, kata Edi, larangan tersebut juga dibarengi dengan langkah-langkah pemerintah untuk membantu petani dalam mengelola lahan tanpa membakar. “Misalnya bantuan alat berat atau bantaun obat-obatan atau teknik untuk mempercepat pembusukan rumput atau kayu, sehingga waktu bertanam mereka tetap terjaga,” kata Edi.

Terkait usulan ini, Rosidi menjelaskan Pemerintah OKI akan memberikan bantuan atau dampingan terkait pengelolaan lahan tanpa bakar. “Ini dapat dilakukan melalui kelompok tani atau organisasi-organisasi yang melakukan pendampingan terhadap para petani, yang selama ini berkomitmen mencegah kebakaran hutan dan lahan,” kata Rosidi.

Sudarto Marelo, Ketua Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sumatera Selatan, mengatakan organisasinya mendukung apa yang dilakukan Pemerintah Kabupaten OKI. “Kami terus melakukan sosialisasi kepada warga yang kami dampingi untuk tidak membakar dalam mengelola lahan. Tapi risikonya warga tidak dapat beraktivitas berkebun dan bertani. Sebab, mereka tidak paham atau tidak memiliki teknologi mengelola lahan tanpa membakar,” kata Sudarto.

Jadi, Pemerintah Kabupaten OKI harus segera memberikan bantuan peralatan atau obat-obatan atau lainnya terhadap para petani dalam mengelola lahan tanpa bakar. “Kalau hanya melarang tanpa membantu, ya sama saja menyiksa petani. Bukan tidak mungkin akan banyak petani yang ditahan karena terpaksa membakar,” katanya.

Di sisi lain, Sudarto juga yakin para petani maupun perusahaan tidak tahu isi dari Perda No.8 Tahun 2016 tersebut. “Kami yang mendampingi saja baru dapat setelah mengunduh dari Mongabay Indonesia, apalagi mereka. Artinya, pemerintah juga perlu melakukan sosialisasi,” ujarnya.

 

 

Opini: Keberhasilan Peningkatan Populasi Badak Sumatera Itu Nyata

Zulfi Arsan saat memeriksa kesehatan bayi badak Ratu. Foto: SRS-YABI

Zulfi Arsan saat memeriksa kesehatan bayi badak Ratu. Foto: SRS-YABI

 

Lahirnya badak sumatera betina ke dua, 12 Mei 2016, yang berjarak empat tahun dari kelahiran badak jantan pertama, Andatu, merupakan kabar gembira. Juga, pembuktian nyata Indonesia, khususnya SRS-YABI (Yayasan Badak Indonesia) di Way Kambas, Lampung, yang mampu “mengembangbiakkan” badak sumatera dengan bantuan teknologi reproduksi, guna menambah populasi satwa bercula dua ini di dunia.

Prestasi ini bukan datang dengan sendirinya. Butuh waktu panjang, mulai dari dibangunnya Suaka Rhino Sumatera (Sumatran Rhino Sanctuary, SRS) Taman Nasional Way Kambas, Lampung (1996), hingga Andatu lahir di 2012, dari pasangan Andalas dan Ratu.

Awal 1998, adalah awal dipeliharanya tiga ekor badak di SRS yaitu Torgamba (jantan), Bina dan Dusun yang keduanya betina. Tiga badak ini merupakan bagian dari upaya Program Penyelamatan Badak Sumatera ke Kebun Binatang di Indonesia, Malaysia, Eropa, dan Amerika antara 1985-1992.

Melalui program tersebut, dari 1985-1992, ada 18 badak sumatera yang ditangkap dari habitat liarnya di Riau dan Bengkulu untuk dipelihara di kebun binatang di Indonesia dan luar negeri itu. Namun, hingga tahun 2000, tercatat sebanyak 13 ekor badak yang berada di sejumlah kebun binatang tersebut mati. Dari lima badak tersisa itu, tiga ekor (Torgamba, Bina, dan Dusun) dikirim ke SRS, dan dua sisanya yang berada di Amerika Serikat (Ipuh dan Emi) berhasil berkembang biak.

 

Ratu bersama anak ke duanya berkelamin betina. Foto: Stephen Belcher/Canon/IRF/YABI

Ratu bersama anak ke duanya berkelamin betina. Foto: Stephen Belcher/Canon/IRF/YABI

 

Torgamba adalah badak pertama yang ditangkap di hutan Riau, 25 November 1985, dan menghuni 12 tahun di Kebun Binatang Howletts and Port Lympne, Inggris, sebelum dipulangkan ke Indonesia lagi. Bina ditangkap pada 17 Mei 1991 di Bengkulu, dan berada di Taman Safari Indonesia tujuh tahun lamanya. Sedangkan Dusun, badak asal Malaysia yang ditangkap 9 September 1986, merupakan pertukaran dengan badak jantan dari Riau. Sebelumnya, ia tinggal di Kebun Binatang Ragunan selama 11 tahun.

Tiga badak penghuni baru SRS tersebut, nyatanya tidak semua memiliki kesehatan reproduksi yang baik. Hanya Bina yang diketahui fisiologi reproduksinya sehat, sementara Torgamba dan Dusun mengalami gangguan berat.

Dusun mempunyai penyakit degeneratif senilitas dan sudah tidak menunjukkan aktivitas seksual secara hormonal. Dusun mati pada 7 Februari 2001.  Sedangkan Torgamba, belakangan diketahui menderita oligozoospermia, yaitu jumlah sel spermatozoa yang sangat sedikit dan bergerak tidak normal. Dapat dikatakan, mandul. Walaupun puluhan kali dilakukan  perkawinan antara Torgamba dengan Bina, sejak 2002, akan tetapi kehamilan pada Bina tidak kunjung terjadi. Torgamba mati pada 24 April 2011.

 

 

Kelahiran pertama

Tahun 2005, SRS kembali kedatangan penghuni baru. Dua badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) betina yang secara reproduksi sehat.

Dua ekor badak betina yang diselamatkan dari konflik dengan masyarakat. Adalah Ratu, yang diperkirakan berumur lima tahun, yang masuk Desa Labuhah Ratu, pada September 2005. Desa ini jaraknya hanya dua kilometer dari Taman Nasional Way Kambas (TNWK).

Sedangkan November 2005, Rosa yang berumur empat tahun, yang sering keluar masuk permukiman penduduk di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), diselamatkan juga ke SRS. Rosa, selama dua tahun diperkirakan wara-wiri di wilayah masyarakat itu.

Jumlah penghuni SRS pun bertambah lagi. Tahun 2007, Andalas (badak jantan) usia 5,5 tahun yang berada di Kebun Binatang Los Angeles, Amerika Serikat, dipulangkan ke Indonesia. Saat itu, Andalas yang lahir di Kebun Binatang Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, 2001, belum mencapai kematangan seksual.

Andalas merupakan anak pertama dari pasangan Ipuh (jantan) dan Emi (betina) asal Bengkulu yang dikirim ke Amerika pada 1991. Ipuh dan Emi secara keseluruhan memiliki tiga anak yaitu Andalas, Suci (betina), dan Harapan yang semuanya lahir di Cincinnati. Suci yang yang lahir di 2004, mati pada 31 Maret 2014.  Sedangkan Ipuh juga sudah mati pada 2013, dan Emi mati pada September 2009.

Kematangan seksual Andalas, terjadi beberapa bulan kemudian setelah kedatangannya ke SRS, namun ia belum memiliki perilaku bercumbu (courtship behavior) yang baik. Sehingga, masih membutuhkan waktu lagi untuk terjadinya perkawinan.

Akhirnya perkawinan Andalas dengan Ratu menghasilkan keturunan. Kehamilan anak pertama yang terjadi pada 2011 itu, harus dibantu dengan tambahan hormon penguat kehamilan karena pada kehamilan sebelumnya, gugur dua kali di 2010.  23 Juni 2012, setelah 14 tahun SRS berjalan, Andatu lahir. Sehat.

Penting untuk diketahui, kunci keberhasilan perkawinan Ratu dan Andalas adalah pada penentuan waktu yang tepat saat menggabungkan mereka. Jika waktunya tidak akurat, atau saat betina tidak dalam kondisi reseptif terhadap jantan, keduanya akan menghindar. Paling fatal adalah terjadinya agresivitas dan perkelahian. Betina mengalami masa berahi hanya 24 jam setiap 20-24 hari, yang kondisinya dipantau dengan alat ultrasonografi.

Ratu yang merupakan badak sumatera asli Way kambas mempunyai perilaku perkawinan yang baik, dan cocok berinteraksi dengan Andalas yang merupakan jantan muda yang masih banyak belajar saat perkawinan pertama. Selain itu, penilaian perilaku penggabungan badak juga sangat penting, sehingga perkawinan dapat terjadi. Bukan perkelahian yang terjadi di antara keduanya.

 

Pemeriksaan kehamilan Ratu untuk anak ke duanya menggunakan USG oleh dokter hewan SRS, Zulfi Arsan. Foto: YABI

 

Kelahiran ke dua

Kabar gembira berlanjut. 12 Mei 2016 lalu, lahir lagi badak betina dari pasangan yang sama, Andalas dan Ratu. Tentu saja, kami terus berusaha untuk dapat menambah kelahiran badak di SRS sejak program ini berjalan.

Di awal, kami menggunakan penilaian fisik terhadap tanda-tanda berahi dan perilaku seksual badak betina saat berahi, tujuannya untuk menentukan waktu penggabungan dengan jantan. Selanjutnya, kami mempunyai dan menggunakan alat ultrasonografi guna memantau indung telur, yang sangat membantu menentukan waktu yang tepat untuk penggabungan. Dengan adanya dua kelahiran ini, sudah pasti kami mempunyai protokol yang dapat diadopsi untuk melakukan pengembangbiakan badak sumatera.

Selain perkawinan alami, kami juga melakukan teknik inseminasi buatan pada betina lain, hanya saja kehamilan dari inseminasi ini belum terjadi.

Kelahiran badak betina ke dua ini, tentunya tak lepas dari pengalaman kehamilan Ratu yang pertama. Kegagalan dan keberhasilan, kami jadikan acuan untuk menjaga kehamilan tersebut sehingga lancar tanpa didahului keguguran. Selain itu, kami juga mendapat masukan dari para pakar reproduksi baik dari dalam maupun luar negeri yang telah berhasil mengembangbiakkan badak sumatera.

 

Ratu dan Andatu, anak pertamanya di Juni 2012. Foto: YABI

 

Untuk Ratu, diperkirakan masih bisa memberikan keturunan 4-5 ekor lagi dengan jarak kelahiran 3-4 tahun. Analisa ini berdasarkan umur hidup badak yang mencapai 35 tahun, dan Ratu saat ini berusia 15 tahun. Dan juga, ada kemungkinan perkawinan dilakukan Ratu dengan badak jantan lain. Yaitu Harapan, adiknya Andalas yang lahir tahun 2007 dan telah didatang ke SRS dari Cincinati Zoo, Ohio, Amerika Serikat, 2 November 2015.

Untuk usia kehamilan badak, berdasarkan data kehamilan lima badak sumatera yang ada, diperkirakan berlangsung 465-475 hari atau sekitar 15 bulan. Dengan kondisi lingkungan SRS yang merupakan habitat badak sumatera dan tata cara pemeliharaan yang membiarkan badak hidup di habitatnya hampir 24 jam setiap hari, kami pikir ada beberapa hal yang bisa dianggap sama dengan kondisi badak di alam. Sebut saja, proses perkawinan, lamanya kehamilan, grafik kenaikan berat badan induk dan konsumsi pakan, hingga proses kelahiran dan perkembangan anak.

Hanya saja, intervensi manusia berupa pemberian hormon pemelihara kehamilan serta pemantauan kehamilan dan kesehatan rutin, tidak bisa dijadikan hal mewakili kondisi di alam.

 

Torgamba dalam kenangan. Foto: SRS-YABI-TNWK

Torgamba dalam kenangan. Foto: SRS-YABI-TNWK

 

Potensi

Total, ada tujuh badak yang menghuni SRS yaitu tiga badak jantan (Andalas, Andatu dan Harapan) serta empat badak betina (Ratu, Bina, Rosa, dan adiknya Andatu). SRS memiliki luas sekitar 100 hektare, yang satu badak mendapatkan luasan 20 hektar sebagai ruang jelajahnya. SRS ini dipagar, dijaga, dan dipantau penuh selama 24 jam.

Di SRS, kesehatan badak merupakan upaya terdepan yang terus diperhatikan selain tersedianya makanan yang cukup dengan berbagai variasi. Pemeliharaan yang alami ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan badak dan reproduksinya sehingga mendekati kondisi normal sebagaimana di kehidupan aslinya.

 

Rangka badak Torgamba. Foto: SRS-YABI-TNWK

Rangka badak Torgamba. Foto: SRS-YABI-TNWK

 

Saat ini, masih ada dua ekor badak betina dewasa di SRS yang memiliki potensi reproduksi baik, yaitu Rosa yang berumur 15 tahun dan Bina yang berumur 33 tahun. Mereka sudah melakukan perkawinan dengan Andalas, hanya saja belum menghasilkan keturunan. Kami pun berusaha penuh mewujudkan terjadinya kehamilan tersebut.

Perkawinan badak dari keturunan berbeda memang layak dilakukan. Kondisi saat ini adalah, badak jantan yang ada di SRS memiliki kekerabatan: Harapan merupakan adiknya Andalas, dan Andatu anaknya Andalas.

Ini yang menjadi tantangan ke depan, karena perkawinan sedarah ditakutkan akan menimbulkan efek genetik merugikan sehingga, secara tidak langsung menghambat keberlangsungan program pengembangbiakan badak sumatera di SRS. Juga konservasi badak keseluruhan.

Dengan lahirnya dua badak sumatera di SRS, kami yakin keberhasilan ini bisa dijadikan rujukan untuk program pengembangbiakan badak sumatera dengan intervensi manusia. Walau kami juga mengakui masih ada kekurangannya.

Pastinya, bukti itu ada. Nyata!

 

*Zulfi Arsan, Dokter Hewan Suaka Rhino Sumatera (SRS). E-mail: zulfiarsan@gmail.com. Tulisan ini opini penulis

 

 

Sumatera Selatan Punya Perda Karhutlah. Tahukah Pegiat Lingkungan Hidup?

Sebuah jalan yang dibangun di lahan gambut di Desa Ulak Kedondong, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Foto Taufik Wijaya

 

Ternyata, Sumatera Selatan (Sumsel) telah memiliki peraturan daerah (perda) tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutlah). Perda No.8 Tahun 2016 ini, sudah dikeluarkan Pemerintah Sumsel pada 21 April 2016. Namun, tidak satu pun organisasi atau pegiat lingkungan hidup yang dilibatkan dalam proses penyusunan perda tersebut.

“Wah, apa sudah ada? Saya baru mendengarnya. Mendengarnya saja baru ini, jelaslah kami tidak dilibatkan dalam proses penyusunan atau diajak diskusi menyusun perda tersebut,” kata Sudarto Marelo, Ketua Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sumatera Selatan, Senin (18/07/2016).

“Ah, masak sudah ada? Kami, Walhi atau khususnya Walhi Sumsel, sama sekali tidak pernah diajak diskusi atau membahas soal perda tersebut. Ingin tahu juga bagaimana isi perda tersebut,” kata Mualimin Pardi Dahlan, Anggota Dewan Nasional Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia).

Pernyataan senada dikatakan Aidil Fitri, Direktur Eksekutif Hutan Kita Institute (HaKI). “Kami tahu ada perda tersebut, tapi belum pernah membacanya. Kami tidak pernah diajak untuk mendiskusikan atau merumuskan perda tersebut.”

Menurut informasi yang didapatkan Mongabay Indonesia di DPRD Sumsel, proses pengesahan perda tersebut hanya berlangsung dua pekan. “Saya tidak tahu apakah terjadi proses uji publik,” kata sumber tersebut.

 

Lahan gambut yang kedalamannya hingga 6 meter di Kkawasan Konservasi Plasma Nutfah Sepucuk, Kayuagung, OKI, Sumsel, ini terjaga selama kemarau, karena ditanami jelutung. Foto: Taufik Wijaya

 

Peneliti kena hukum

Perda No.8 Tahun 2016 ini terdiri 10 bab dan 20 pasal. Salah satu pasal yang menarik perhatian yakni Pasal 17 terkait dengan ketentuan pidana. Pasal 17 ayat (1);  “Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1), Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6 dan Pasal 8, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak Rp50.000.000,- (lima puluh juta rupiah)”.

Ayat (2) menyebutkan “Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.”

Pada Pasal 18, “Dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 (tertulis 18), setiap orang atau badan hukum yang dengan sengaja atau karena kelalaiannya menimbulkan kebakaran hutan dan/atau lahan serta kerusakan lingkungan hidup, diancam pidana sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

Yang menarik lainnya dari perda ini, yakni larangan para peneliti, pecinta alam memasuki kawasan hutan negara, area konsesi, perkebunan selama musim kemarau seperti sekarang ini. Mereka boleh masuk jika mendapatkan izin dari pihak perusahaan atau pemerintah. Jika tidak ada izin mereka pun terancam denda Rp50 juta atau dihukum kurungan enam bulan.

Pasal 4, “Setiap orang yang melakukan aktivitas/kegiatan, seperti perkemahan, penelitian, pecinta alam dan sebagainya, di dalam kawasan hutan negara, kawasan hutan area konsesi, kawasan perkebunan, lahan milik masyarakat harus mendapat izin dari pihak perusahaan, pemilik lahan atau aparat pemerintah terdekat yang berwenang terutama pada musim kemarau.”

 

Tingkat rawan areal terbakar tahun 2015. Peta: Dinas Kehutanan Sumsel

 

Kemarau datang

Terkait kemarau yang telah melanda sebagian besar Sumatera Selatan, Najib Asmani, Sekretaris Gerakan Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutlah) Sumsel dalam Rapat Koordinasi Karhutlah Sumsel di Bappeda, Jum’at (15/07/2016), sebelumnya menyatakan selama awal Juli 2016, telah dilakukan berbagai penanggulangan kebakaran di sejumlah titik, sehingga kebakaran teratasi dan tidak meluas. Misalnya, kebakaran di wilayah perbatasan PT. Bumi Mekar Hijau (BMH) dengan SM Padang Sugihan pada 5 Juli 2016 lalu. “Polisi telah memproses enam pelaku karhutlah, dan satu pelaku di Kabupaten Muba sudah ditahan.”

Menurut Najib, hingga pertengahan Juli 2016, titik panas tidak sebanyak di bulan yang sama tahun 2015. Tahun lalu sebanyak 229 titik dan sekarang 76 titik, yang sebagian besar ada di lahan mineral. “Dibutuhkan persiapan matang menghadapi ancaman kebakaran tahun ini. Minimnya titik panas mungkin karena musim kemarau ini masih ada hujan. Namun jika selama 20 hari tidak turun hujan, bukan tidak mungkin akan banyak muncul titik panas.”

 

PERDA_KARHUTLAH NO.8 TAHUN 2016 SUMSEL

 

 

Resahnya Masyarakat Lakardowo akan Limbah B3

Pabrik pengolahan limbah B3  milik PT. PRIA. Foto: Petrus Riski

Pabrik pengolahan limbah B3 milik PT. PRIA. Foto: Petrus Riski

 

Suasana tenang terasa saat memasuki Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Tidak banyak warga yang terlihat di luar rumah siang itu, hanya beberapa orang tua yang duduk-duduk di teras dan halaman rumahnya.

Namun, siapa sangka ketenangan di desa itu menyimpan bara. Sekam yang  siap berkobar pasca-unjuk rasa warga yang menolak adanya pabrik pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) PT. Putra Restu Ibu Abadi (PRIA).

Sebagian warga setuju, sebagian lagi menolak keberadaan pabrik yang telah ada di desa itu sejak 2010. “Saat ini, kerukunan warga luntur, terpecah dua kubu yang pro dan kontra PT. PRIA,” kata Rumiyati, warga Dusun Sambi Gembol, Desa Lakardowo, awal Juli ini.

Rumiyati, yang merupakan Sekretaris Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Desa Lakardowo menuturkan, awalnya warga desa tidak merasakan dampak apapun keberadaan pabrik tersebut. Namun, tiga tahun terakhir, dampaknya terhadap lingkungan mulai dirasakan warga terutama air tanah atau air sumur untuk keperluan harian.

“Airnya makin kuning, ada yang hitam. Bahan belanja dari pasar yang akan dimasak terpaksa kami cuci dengan air galon yang harus dibeli.”

Air galon tidak hanya untuk minum dan memasak, tapi juga digunakan untuk memandikan bayi. “Dari beberapa laporan warga, ada beberapa bayi yang mengalami gatal-gatal setelah dimandikan air sumur, meski setelah diobati pulih kembali,” tutur Rumiyati.

 

Heru Siswoyo menunjukkan salah satu sumur di Desa  lakardowo yang berbau tidak sedap, dengan latar belakang pabrik pengolahan  limbah B3 PT. PRIA. Foto: Petrus Riski

Heru Siswoyo menunjukkan salah satu sumur di Desa lakardowo yang berbau tidak sedap, dengan latar belakang pabrik pengolahan limbah B3 PT. PRIA. Foto: Petrus Riski

 

Warga Desa Lakardowo lain, Heru Siswoyo mengatakan, perubahan kualitas air sumur di desanya mulai terlihat sejak 2013, dari bau dan warna. “Berkali, saya buat sumur di beberapa titik, namun airnya tidak layak pakai. Sebelumnya bisa digunakan untuk mencuci dan memasak.”

Heru yang pernah bekerja untuk PT. PRIA sejak 2010 menegaskan, limbah B3 yang dibawa ke pabrik hanya ditimbun di tanah, tanpa sistem pengamanan maupun diolah terlebih dahulu. Ini yang dikhawatirkan penyebab menurunnya kualitas air di Desa Lakardowo. “Pada 2010, mereka belum punya izin, tapi sudah melakukan aktivitas. Tanah di lahan mereka dikeruk tanpa diberi alas, semua jenis limbah dibuang langsung di situ.”

Heru meyakini, aktivitas penimbunan limbah B3 masih berlangsung hingga sekarang, meski dilakukan tertutup. Menurutnya, lubang kerukan yang penuh biasanya langsung dicor dengan semen setebal 25-30 cm, dan di atasnya dibangun gudang penampungan limbah. “Kalau limbah medis dipilah mana yang bisa dijual, yang tidak berguna langsung dibawa ke tempat penimbunan.”

Tidak hanya air, pecemaran juga dirasakan dari pembakaran maupun bongkar limbah. Tanaman warga yang dekat pabrik tertutup debu. “Pernah ada longsoran saat penghujan, meski dibersihkan tapi banyak sisa limbah yang tidak terangkut. Untuk mengetahui kebenaran adanya limbah mudah saja, lantainya dibor,” kata Heru yang melihat langsung proses penimbunan saat bekerja di sana.

 

Pengecekan kualitas air oleh Ecoton yang diduga tercemar limbah B3. Foto: Ecoton

 

Tutup pabrik

Keresahan warga akibat dampak lingkungan yang ditumbulkan dari aktivitas pabrik B3, serta konflik sosial yang mulai terjadi, menjadi alasan utama ditutupnya pabrik tersebut. “Sebelumnya, warga pernah melaporkan ke Kepolisian karena pabrik membuang limbah batubara sembarangan, tapi tidak ada respon. Sekarang, kami minta pemerintah turun tangan,” terang Rumiyati.

Rumiyati meminta pabrik ditutup, semua limbah dipindahkan dari desa, dan kondisi lingkungan dipulihkan. “Dulu pernah ada mediasi dan perjanjian tertulis tidak akan menimbun lagi, tapi tidak berlaku dan setiap malam masih dilakukan penimbunan.”

Sementara Heru, meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencabut izin PT. PRIA, sekaligus memulihkan kondisi Lakardowo. “Limbah harus direlokasi dan kembalikan kondisi lingkungan kami.”

Direktur Eksekutif Ecoton, Prigi Arisandi menambahkan, dampak lingkungan akibat pengolahan limbah B3 yang tidak benar tinggal menunggu waktu saja. Proses hidrologi yang terjadi akibat penimbunan memang tidak akan terhindari, sehingga pencemaran air tanah terjadi. Menurut Prigi, indikasi yang terjadi di masyarakat sangat memungkinkan pencemaran memang ada di lingkungan Desa Lakardowo.

“Dari tiga dusun yang kami amati seminggu terakhir, untuk jenis penyakit dan perilaku masyarakat, ada gejala iritasi kulit yang sudah diderita. Itu disebabkan interaksi mereka dengan kondisi lingkungan tercemar baik air, udara, atau tanah,” ujarnya baru-baru ini.

Ecoton telah menggandeng tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, untuk melakukan kajian mendalam kondisi lingkungan Lakardowo. Ini akan menjadi dasar ilmiah bagi warga untuk melakukan gugatan hukum. Sebelumnya, di 2013 upaya hukum yang dilakukan gagal, karena warga mencabut gugatannya.

“Kami menggandeng ITS dan ada juga dari Corolado State University. Cara efektif memang melakukan gugatan, ini sedang disusun bersama LBH Surabaya,” kata Prigi.

 

Sampel air di lahan warga yang diduga tercemar limbah B3. Foto: Ecoton

 

Sementara itu, peraih gelar PhD bidang sumber daya lingkungan ekuitas dan tanah dari University of Arizona, Tucson, Melinda Laituri mengatakan, penelitian kasus pencemaran air akibat limbah yang mirip dengan Lakardowo, pernah dilakukan di Arizona. Penyakit seperti kanker, leukimia, dan penyakit berbahaya lain yang diderita warga, harus dicurigai sebagai dampak pencemaran lingkungan.

“Ada laporan ibu-ibu mengenai anak mereka yang tiba-tiba sakit, dan ternyata ada aktivitas industri di sekitarnya. Saya lakukan pemetaan dahulu untuk mengetahui sumber timbunan dengan lokasi warga yang sakit.”

Melinda meminta masyarakat mendata dan mendokumentasikan setiap peristiwa yang terjadi di desa mereka. Data itu akan yang nantinya ditunjukkan ke pemerintah baik tingkat bawah hingga atas untuk segera diambil tindakan.

“Saya mendukung gerakan kaum perempuan dan ibu-ibu di Lakardowo. Kalau perlu, akan kami hubungkan dengan organisasi internasional yang mau membantu,” tandas Melinda yang merupakan Direktur Geospasial Centroid di Colorado State University.

 

Timbunan limbah batubara di pekarangan warga di Desa  Lakardowo, digunakan sebagai tanah timbunan. Foto: Petrus Riski

Timbunan limbah batubara di pekarangan warga di Desa Lakardowo, digunakan sebagai tanah timbunan. Foto: Petrus Riski

 

Sebagai informasi, PT. PRIA merupakan satu-satunya perusahaan pengolah limbah B3 di Jawa Timur, yang menerima limbah dari 1.000 lebih industri, rumah sakit, dan klinik kesehatan.

Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Timur telah melakukan uji laboratorium terhadap kualitas air sumur Desa Lakardowo, namun hingga kini belum dikeluarkan hasil penelitian tersebut. Sementara masyarakat Desa Lakardowo bersama Ecoton telah melaporkan persoalan ini ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk ditindaklanjuti.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak PT. PRIA. Mongabay telah mengirimkan pesan singkat, WhatsApp hingga telepon untuk meminta keterangan, namun tidak ada jawaban meski pesan tersebut sudah dibaca.

 

 

Kemarau Datang, Apa yang Dilakukan untuk Hadang Kebakaran?

Kebakaran di wilayah perbatasan konsesi PT. BMH dan SM Padang Sugihan pada 5 Juli 2016 lalu. Foto: Dinas Kehutanan Sumsel

Kebakaran di wilayah perbatasan konsesi PT. BMH dan SM Padang Sugihan pada 5 Juli 2016. Foto: Dinas Kehutanan Sumsel

 

Musim kemarau 2016 sudah melanda sebagian besar Sumatera Selatan (Sumsel), khususnya di wilayah rawa gambut. Apa yang telah dilakukan Pemerintah Sumatera Selatan dan berbagai lembaga yang sebelumnya berkomitmen mencegah kebakaran di lahan gambut?

“Hingga pertengahan Juli 2016, titik panas tidak sebanyak di bulan yang sama tahun 2015. Tahun lalu sebanyak 229 titik dan sekarang 76 titik, yang sebagian besar ada di lahan mineral,” kata Dr. Najib Asmani, Sekretaris Gerakan Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Sumsel dalam Rapat Koordinasi Karhutla Sumsel di Bappeda, Jumat (15/07/2016).

Meskipun begitu, kata Najib, dibutuhkan persiapan matang menghadapi ancaman kebakaran tahun ini. “Minimnya titik panas mungkin karena musim kemarau ini masih ada hujan. Namun jika selama 20 hari tidak turun hujan, bukan tidak mungkin akan banyak muncul titik panas.”

Mengutip data Stasiun Meteorologi SMB II  BMKG Palembang, kata Najib, hari tanpa hujan hingga 20 hari terjadi Muba, Banyuasin, dan wilayah utara Kabupaten OKl. Yang lebih 20 hari terjadi di sebelah barat Kabupaten Empat Lawang dan utara Kota Lubuk Linggau.

 

Pembuatan sumur bor oleh SHI bersama masyarakat Pedamaran OKI. Foto: Sarekat Hijau Indonesia (SHI)

Pembuatan sumur bor oleh SHI bersama masyarakat Pedamaran OKI. Foto: Sarekat Hijau Indonesia (SHI)

 

Selama awal Juli 2016, telah dilakukan berbagai penanggulangan kebakaran di sejumlah titik, sehingga kebakaran teratasi dan tidak meluas. Misalnya, kebakaran di wilayah perbatasan PT. Bumi Mekar Hijau (BMH) dengan SM Padang Sugihan pada 5 Juli 2016 lalu. Posili telah memproses enam pelaku karhutla, dan satu pelaku di Kabupaten Muba sudah ditahan.

Saat ini tengah dikumpulkan titik koordinat upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla, baik dari instansi pemerintah, perusahaan, maupun NGO. “Diharapkan, akhirnya Juli semua koordinat sudah lengkap dan detil,” kata Koordinator Tim Restorasi Gambut (TRG) Sumsel ini.

Sebagai informasi, titik koordinat tersebut beranjak dari 87 desa di empat kabupaten, yakni Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin, dan Ogan Ilir (OI).

 

Tingkat rawan areal terbakar tahun 2015. Peta: Dinas Kehutanan Sumsel

Tingkat rawan areal terbakar tahun 2015. Peta: Dinas Kehutanan Sumsel

 

Melaporkan kegiatan

Dalam rapat tersebut, beberapa pihak yang menyampaikan laporan kegiatan yang sudah dilakukan maupun akan dilakukan pada wilayah dampingannya.

Stasiun Meteorologi SMB II BMKG Palembang melakukan pengamatan, analisis dan prakiraan cuaca dan iklim 24 jam yang berkaitan dengan kewaspadaan dan kesiap-siagaan pencegahan Karhutlah 2016.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten OKI telah membentuk posko pemantauan karhutla kabupaten di Air Sugihan. BPBD Kabupaten OI dibantu Koramil 0402/07 Indralaya melakukan monitoring, patrol rutin dan pembentukan posko siaga darurat. Sementara Dinas Perkebunan dan Kehutan OI telah melakukan sosialisasi pencegahan kathutla di masyarakat dan perusahaan, serta membina Kelompok Tani Peduli Api.

Dinas Perkebunan Musi Banyuasin (Muba) telah membentuk 7 Kelompok Tani Peduli Api (KTPA). Sedangkan BPBD Muba selain melakukan pemantaun dan sosialisasi karhutla, menetapkan satgas karhutla di sejumlah desa, juga merekrut tenaga kerja Penanggulangan Bahaya Kebakaran (PBK) dan Team Reaksi Cepat (TRC) sebanyak 60 orang.

 

Pembuatan embung di lahan gambut oleh SHI dan masyarakat di OKI. Foto: SHI

Pembuatan embung di lahan gambut oleh SHI dan masyarakat di OKI. Foto: SHI

 

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel melakukan patroli rutin pencegahan Karhutla di kawasan konservasi di sejumlah desa sekitar SM Dangku dan SM Bentayan, serta melakukan kampanye pencegahan Karhutla. Sementara Manggala Agni Daops III OKI (BKSDA Sumsel) melakukan sosialisasi, patroli & groundcheck sejak Maret 2016 lalu.

Sementara NGO yang sudah melaporkan kegiatannya antara lain Sarekat Hijau Indonesia (SHI). Kegiatan atas kerja sama UNDP dan KLHK berlangsung di Kabupaten OKI diantaranya revitalisasi lahan gambut, pembuatan sumur bor, dan pembuatan embung.

GIZ BIOCLIME melakukan pendampingan kelompok tani, blocking canal, dan rehabilitasi  Hutan Desa Kepayang dan KHG (Kawasan Hidrologis Gambut) Merang-Kepayang. Sementara Sinar Mas APP melaporkan pembentukan Desa Makmur Peduli Api (DMPA).

 

Penanaman jelutung di lahan gambut di Pedamaran ini oleh SHI dan warga sebagai upaya perbaikan kondisi lahan gambut dan menjadi sumber ekonomi masyarakat ke depan. Foto: SHI

Penanaman jelutung di lahan gambut di Pedamaran ini oleh SHI dan warga sebagai upaya perbaikan kondisi lahan gambut dan menjadi sumber ekonomi masyarakat ke depan. Foto: SHI

 

 

Foto: Polusi Lingkungan yang Menyesakkan Dada

 

Polusi adalah isu nyata yang benar-benar menghancurkan alam kita. Sebagaimana dilansir dari Press Room.com, inilah foto-foto polusi lingkungan hidup di penjuru bumi yang nyata adanya.

 

Pulusi yang nyata. Sumber: Imgur

Pulusi yang nyata. Sumber: Imgur

 

Lebih dari 10 tahun terakhir, manusia telah memproduksi plastik 10 kali lebih banyak dibandingkan sampah plastik selama 100 tahun terakhir. Setiap tahun, kita membuang sampah yang mampu mengelilingi empat kali bumi. Amerika Serikat sendiri, membuang setidaknya 35 juta botol air tiap tahun, yang diperlukan waktu 500-1.000 tahun untuk terurai alami.

 

 

Seekor anjing berdiri di tengah asap beracun yang dihasilkan oleh pertambangan batu bara di India. Kredit:   Daniel Berehulak/Getty Images

Seekor anjing berdiri di tengah asap beracun yang dihasilkan oleh pertambangan batu bara di India. Kredit: Daniel Berehulak/Getty Images

 

 

Kura-kura yang terperangkap. Sumber: Imgur

Kura-kura yang terperangkap. Sumber: Imgur

 

 

Lautan sampah. Kredit: Dimitar Dilkoff/AFP/Getty Images

Lautan sampah. Kredit: Dimitar Dilkoff/AFP/Getty Images

 

 

Seorang anak berenang dan menyelam di antara sambah-sambah mengambang di sungai di Filipina, salah satu negara paling terpolusi di dunia. Sumber: China Photos/Getty Images

Seorang anak berenang dan menyelam di antara sambah-sambah mengambang di sungai di Filipina, salah satu negara paling terpolusi di dunia. Sumber: China Photos/Getty Images

 

 

Perempuan ini harus memakai masker untuk menyaring udara untuk bernafas, karena polusi udara Beijing 20 kali lebih buruk dari level "aman". Foto: Kevin Frayer/Getty Images

Perempuan ini harus memakai masker untuk menyaring udara untuk bernafas, karena polusi udara Beijing 20 kali lebih buruk dari level “aman”. Foto: Kevin Frayer/Getty Images

 

 

Olimpade Rio 2016 makin dekat, dan pemerintah Brazil tak bisa lagi menyangkal bahwa negara tersebut menghadapi polusi lingkungan yang mengkhawatirkan. Para atlit mengeluhkan akan bahaya kontaminasi air minum.

Olimpade Rio 2016 makin dekat, dan pemerintah Brazil tak bisa lagi menyangkal bahwa negara tersebut menghadapi polusi lingkungan yang mengkhawatirkan. Kredit: Mattew Stocman/Getty Images

 

 

Menderita karena ulah manusia. Sumber: Imgur/BraskaBoy

Menderita karena ulah manusia. Sumber: Imgur/BraskaBoy

 

 

Burung albatros ini menelan begitu banyak sampah lewat makanannya (ikan). Tubuhnya sama sekali tidak bisa mengeluarkan sampah-sampah tersebut, dan membuatnya mati. 90% sampah di lautan adalah sampah plastik. Sumber: Imgur

Burung albatros ini menelan begitu banyak sampah lewat makanannya (ikan). Tubuhnya sama sekali tidak bisa mengeluarkan sampah-sampah tersebut, dan membuatnya mati. 90% sampah di lautan adalah sampah plastik. Sumber: Imgur

 

 

Seorang anak berdiri di samping sungai yang penuh sampah di Filipina. Foto: NOEL CELIS/AFP/Getty Images

Seorang anak berdiri di samping sungai yang penuh sampah di Filipina. Foto: NOEL CELIS/AFP/Getty Images

 

 

Burung pelikan coklat ini seharusnya sudah terbang tinggi di atas Teluk Meksiko, tapi tubuhnya berlumur minyak yang juga dia telan saat tumpahan minyak BP-Deepwater Horizon melanda kawasan itu. Kredit: Win McNamee/Getty Images

Burung pelikan coklat ini seharusnya sudah terbang tinggi di atas Teluk Meksiko, tapi tubuhnya berlumur minyak yang juga dia telan saat tumpahan minyak BP-Deepwater Horizon melanda kawasan itu. Kredit: Win McNamee/Getty Images

 

 

Bahkan kawasan tinggi pun tak luput dari sampah. Mount Everest membutuhkan tim pembersih untuk membersihkan sampah yang ditinggalkan para pendaki. Kredit: NAMGYAL SHERPA/AFP/Getty Images

Bahkan kawasan tinggi pun tak luput dari sampah. Mount Everest membutuhkan tim pembersih untuk membersihkan sampah yang ditinggalkan para pendaki. Kredit: NAMGYAL SHERPA/AFP/Getty Images

 

 

Sulit bagi satwa ini melepaskan kaleng yang membuat mulutnya terperangkap. Sekitar 1 juta burung dan 100 ribu mamalia laut terbunuh tiap tahun karena sampah di lautan. Sumber: Imgur

Sulit bagi satwa ini melepaskan kaleng yang membuat mulutnya terperangkap. Sekitar 1 juta burung dan 100 ribu mamalia laut terbunuh tiap tahun karena sampah di lautan. Sumber: Imgur

 

 

Sekitar 500 miliar karung plastik dipakai di seluruh dunia setiap tahun. Artinya, satu juta karung plastik setiap jamnya. Sumber: Imgur

Sekitar 500 miliar karung plastik dipakai di seluruh dunia setiap tahun. Artinya, satu juta karung plastik setiap jamnya. Sumber: Imgur

 

 

Ada baiknya, kita pertimbangkan kembali penggunaan karung plastik. Foto: JAY DIRECTO/AFP/Getty Images

Ada baiknya, kita pertimbangkan kembali penggunaan karung plastik. Foto: JAY DIRECTO/AFP/Getty Images

 

 

Sungai kecil yang dipenuhi sampah. Foto: MARK RALSTON/ AFP/Getty Images

Sungai kecil yang dipenuhi sampah. Foto: MARK RALSTON/ AFP/Getty Images

 

 

Jika ikan saja tak mampu berenang di perairan di Brazil yang terpolusi ini, bagaimana olimpiade akan dilakukan di Rio? Foto: CHRISTOPHE SIMON/ AFP/Getty Images

Jika ikan saja tak mampu berenang di perairan di Brazil yang terpolusi ini, bagaimana olimpiade akan dilakukan di Rio? Foto: CHRISTOPHE SIMON/ AFP/Getty Images

 

 

Penambangan telah mengkontaminasi salah satu sumber air terbesar di China tenggara, membunuh ikan dan satwa-satwa liar. Sumber: AFP/Getty Images

Penambangan telah mengkontaminasi salah satu sumber air terbesar di China tenggara, membunuh ikan dan satwa-satwa liar. Sumber: AFP/Getty Images

 

 

Tumpahan zat pewarna telah membuat sungai ini berubah menjadi merah darah di Tiongkok ini. Sumber: STR/AFP/Getty Images

Tumpahan zat pewarna telah membuat sungai ini berubah menjadi merah darah di Tiongkok ini. Sumber: STR/AFP/Getty Images

 

 

Paris yang tidak "terlihat". Foto: THOMAS SAMSON/AFP/Getty Images

Paris yang tidak “terlihat”. Foto: THOMAS SAMSON/AFP/Getty Images

 

 

Karena kenaikan temperatur laut, Laut Kuning diserang algae hijau. Sumber: STR/AFP/Getty Images

Karena kenaikan temperatur laut, Laut Kuning diserang algae hijau. Sumber: STR/AFP/Getty Images

 

 

Asap membuat lalu lintas di Beijing macet parah berpuluh jam. Sumber: ChinaFotoPress/Getty Images

Asap membuat lalu lintas di Beijing macet parah berpuluh jam. Sumber: ChinaFotoPress/Getty Images

 

 

Bukan jalan berbatu kerikil. Ini adalah sungai yang dipenuhi ikan mati. Sumber: STR/AFP/Getty Images

Bukan jalan berbatu kerikil. Ini adalah sungai yang dipenuhi ikan mati. Sumber: STR/AFP/Getty Images

 

 

Tumpahan minyak. Foto: NICOLAS ASFOURI/AFP/Getty Images

Tumpahan minyak. Foto: NICOLAS ASFOURI/AFP/Getty Images

 

 

Salah satu korban tumpahan minyak di laut. Foto: CHRISTOPHE SIMON/AFP/GettyImages

Salah satu korban tumpahan minyak di laut. Foto: CHRISTOPHE SIMON/AFP/GettyImages

 

 

Mengerikan. Sumber: Imgur

Mengerikan. Sumber: Imgur

 

 

Masyarakat Desa Sungai Jeruju Bilang, Ada Harimau Sumatera Cacat di Wilayah Mereka

Harimau sumatera yang terjerat perangkap babi kemudian ditembak aparat hingga tewas di Desa Tanjung Raman, Kecamatan Pendopo, Sumatera Selatan (10/09/15). Hilangnya habitat, menyebabkan konflik harimau dengan manusia terjadi. Foto: Ridiansyah

 

Kemunculan harimau sumatera di Kedaton, Kota Kayuagung, pekan ini, ternyata bukan satu-satunya harimau yang masih tersisa di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.

Seekor harimau cacat yang berjalan menggunakan pantat dan kedua kaki depannya karena dua kaki belakangnya cacat, yang disebut warga lokal “harimau pengkor” terlihat setiap tahun di kawasan perkebunan dan hutan Tulung Semanting, Dusun Kebun Angkik, Desa Sungai Jeruju, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

“Dia selalu muncul saat musim kemarau. Tidak mengganggu. Tapi, kami juga takut menganggunya. Melihat matanya saja kami tidak berani. Kami tahu harimau ini penjaga hutan dusun kami,” kata Sumi (45), warga Dusun Kebun Angkik, Sabtu (16/07/2016).

2015 lalu, Suni mengaku melihat harimau itu berada di kebun karetnya. “Tapi tahun ini warga belum melihatnya. Kalau dia muncul dan terlihat warga pasti pertanda musim kemarau. Banyak warga yang melihatnya saat subuh atau pagi.”

Sama seperti para pendahulu, jelas Suni, warga sangat menghormati keberadaan harimau. Mereka yakin jika tidak diganggu dan harimau juga tidak akan mengganggu manusia. “Sejak kecil kami selalu diceritakan orang tua, jika ada yang membunuh seekor harimau, pasti si pembunuhnya akan dicari oleh harimau lain. Pembunuh itu pasti terbunuh.”

Dijelaskan Suni, keberadaan harimau saat ini memang mulai berkurang. Ketika dia masih kecil di Desa Talang Rimba, merupakan hal biasa jika mendengar warga bertemu atau melihat harimau di kebun atau hutan. “Namun, sejak hutan dibuat kebun dan dusun baru, harimau berangsur hilang. Mungkin pergi ke hutan lain,” ujarnya.

 

Awetan harimau sumatera yang berhasil diamankan dari pelaku perdagangan ini berada di BKSDA Sumatera Selatan. Foto: Muhammad Ikhsan

 

Hutan rusak, harimau terdesak

Seperti halnya wilayah lain di Sumatera Selatan, Kabupaten OKI yang luasnya sekitar 1.923.347 hektare, sekitar 75 persen merupakan kawasan rawa gambut. Hampir setengah luas kabupaten tersebut, sekitar 645.249 hektare, merupakan kawasan hutan produksi.

Tahun 1970-an, sebagian besar Kabupaten OKI merupakan hutan primer, yang menjadi habitat berbagai hewan khas Sumatera, seperti gajah, harimau, rusa, dan lainnya. Namun, akibat praktik perusahaan kayu baik yang memiliki izin hak pengusahaan hutan (HPH) maupun illegal, membuat hutan primer di kabupaten tersebut mengalami degradasi. Konflik manusia dengan gajah maupun harimau terjadi. Pada akhirnya, manusia menjadi pemenang.

Kerusakan paling parah dialami kawasan hutan produksi (HP) di lahan rawa gambut, seperti Simpang Heran Beyeku, Mesuji, dan Pedamaran, yang luasnya mencapai 617.350 hektare. Kawasan HP yang dulunya dipenuhi pohon meranti, jelutung, terenteng, pulai, ramin, kempas dan lainnya itu, setelah dihabisi perusahaan HPH yang menggunakan sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI), mengalami kebakaran dari 1993 hingga puncaknya 1997 dan 1998.

Berdasarkan penafsiran data Citra Landsat dan Citra SPOT tahun 2002–2005, kawasan hutan produksi ini menjadi rawa semak belukar dengan luas sekitar 567.970 hektare, dan menyisakan formasi hutan alam dengan jenis-jenis alami sporadis, yang luasnya sekitar 49.380 hektare.

Selanjutnya, kawasan hutan produksi ini dijadikan konsesi hutan tanaman industri (HTI) yang diyakini mampu menghijaukan kembali rawa gambut dan menghasilkan pendapatan ekonomi. Namun, upaya ini tidak optimal, sebab kebakaran terus terjadi, akibat penataan hidrologi kurang baik. Puncaknya, 2015 lalu.

Kondisi kerusakan hutan primer di Kabupaten OKI ini yang memberikan pengaruh cukup besar terhadap keberadaan gajah dan harimau. Konflik manusia dengan gajah hingga hari ini terus berlangsung. Tidak heran, sampai saat ini belum ada data resmi mengenai jumlah harimau sumatera di Kabupaten OKI.

Ancaman lain terhadap harimau sumatera yakni para pemburu liar. Bukan tidak mungkin, informasi keberadaan harimau di Dusun Kebun Angkik ini membuat mereka memburu harimau tersebut. “Nanti hidup mereka kualat,” kata Sumi.

Terhadap kemunculan harimau sumatera yang terlihat di Kedaton, Yoan Dinata, Ketua Forum Harimau Kita, sebelumnya memperkirakan harimau tersebut berasal dari Air Sugihan yang masuk wilayah Kabupaten Banyuasin. Ada dua kemungkinan. Pertama, harimau itu berusia muda, tengah mencari wilayah hidup. Kedua, harimau tersebut telah tua, tersingkirkan dari komunitasnya sehingga mencari lokasi yang aman untuk hidup. “Umumnya, harimau tua yang kalah pamor dengan harimau dewasa akan minggir. Itu hukum alam,” katanya.

 

 

Fakta Menarik, Mengapa Kehidupan Badak Harus Kita Jaga…

Harapan, badak sumatera yang lahir dan besar di Cincinnati Zoo, Ohio, Amerika Serikat, yang telah pulang ke Indonesia 2 November 2015. Saat ini, Harapan berada di Suaka Rhino Sumatera (Sumatran Rhino Sanctuary, SRS) Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Foto: Rahmadi Rahmad

Harapan, badak sumatera yang lahir dan besar di Cincinnati Zoo, Ohio, Amerika Serikat, yang telah pulang ke Indonesia 2 November 2015. Sekarang, Harapan hidup di Suaka Rhino Sumatera (Sumatran Rhino Sanctuary, SRS) Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Foto: Rahmadi Rahmad

 

Anda tahu badak? Berapa jenis yang ada di Indonesia?

Badak merupakan satwa berkuku ganjil (Perrisodactyla) yang masuk dalam anggota super-famili Rhinoceratoidea, keluarga super yang menghimpun seluruh spesies badak termasuk seluruh fosil keluarganya. Bila kita rinci lebih detil, badak berasal dari rumpun Hyracodontidae (badak yang suka berlari) dari zaman Eocene hingga keberadaannya melimpah di zaman Oligocene yang ditandai dengan berbagai jenisnya.

Seiring berjalannya proses evolusi dan masa kepunahan, kini, badak tersisa yang ada di muka bumi hanya 5 jenis yang awalnya diperkirakan ada 30 jenis, sekitar 60 juta tahun silam. Dimanakah mereka sekarang?

Di Benua Afrika ada 2 jenis, yaitu badak hitam (Diceros bicornis) dan badak putih (Ceratotherium simum). Padahal, ribuan tahun sebelumnya pernah ada badak purba (Tichorhinus antiquatatis) berbulu lebat yang hidup di wilayah ini.

Sementara 3 jenis lainnya ada di Asia, yaitu badak india (Rhinoceros unicornis) dan dua jenis badak yang hanya ada di Indonesia. Badak kebanggaan kita semua yaitu badak jawa (Rhinoceros sondaicus) serta badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis).

 

Badak sumatera yang berada di SRS. Foto: Rahmadi Rahmad

Badak sumatera yang berada di SRS. Foto: Rahmadi Rahmad

 

Badak jawa, saat ini populasinya hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten. Berdasarkan catatan Balai TNUK 2015, jumlahnya sekarang diperkirakan sekitar 60 individu. Padahal, persebarannya dahulu mulai dari Bengal, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Jawa.

Sementara badak sumatera, yang memiliki sensitivitas penciuman dan pendengaran yang tinggi ini, jumlahnya diperkirakan sekitar 100 individu. Keberadaannya tersebar di Taman Nasional gunung Leuser, Bukit Barisan Selatan, Way Kambas, hingga Kutai Barat, Kalimantan Timur. Di Taman Nasional Kerinci Seblat, yang dulunya disebut sebagai gudangnya badak, diperkirakan badak bercula dua ini sudah tidak ada lagi.

Badak sumatera dan badak jawa merupakan satwa langka dilindungi yang saat ini berstatus Kritis. Ancaman kepunahan, membungkus rapat kehidupan satwa bercula ini.

 

 

Konservasi

Widodo S. Ramono, Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI) menyatakan, badak sangat penting dalam hal menjaga keseimbangan ekosistem alam. Yaitu kemampuannya menebar benih. “Ini terlihat dari tumbuhnya di atas 10 jenis tanaman dari kotoran badak yang telah dimasukkan dalam polybag.”

Hal istimewa lain adalah dari cara makan badak. Sebagai satwa “browser” atau pemakan semak dan pucuk dedaunan, jasanya penting untuk memelihara kualitas hutan. Saat pucuk daun atau ranting muda dimakan, maka pucuk baru yang tumbuh tersebut akan menyerap karbon dioksida yang lebih banyak jumlahnya ketimbang pucuk daun yang tua. “Artinya, badak turut serta memelihara lingkungan hidup dalam hal ini mengurangi pemanasan global. Ini yang harus kita pahami bersama.”

 

Berbagai tanaman pakan badak yang berada di area penanaman di Way Kambas. Foto: Rahmadi Rahmad

Berbagai tanaman pakan badak yang berada di area penanaman di Way Kambas. Foto: Rahmadi Rahmad

 

Jenis apakah yang dimakan? Berdasarkan penelitian Strein (1974), badak sumatera memakan 108 spesies tumbuhan dari 44 famili. Detilnya, 82 spesies daun, 17 spesies buah, 7 spesies kulit kayu, dan 2 spesies bunga. Pohon yang mengandung getah seperti nangka (Artocarpus integra) dan semak mania (Urophyllum spp) adalah makanan favorit badak sumatera.

Untuk badak jawa, berdasarkan penelitian Yayasan Mitra Rhino – WWF (2002) mengenai persaingan ekologi badak dan banteng, hasil analisis tumbuhan pakan di Semenanjung Ujung Kulon menunjukkan ada 109 jenis. Sekitar 97 jenis tumbuhan merupakan pakan badak jawa, 74 jenis tumbuhan pakan banteng, dan 62 jenis merupakan pakan bersama.

Jenis tumbuhan yang disenangi badak jawa sebagaimana dituliskan Hoogerwerf (1970) adalah salam (Eugenia polyantha), rukem (Glachidon macrocarpus), dan segel (Dillenia excelsa). Sedangkan langkap (Arenga obtusifolia) yang daun mudanya dimakan, namun diduga sebagai tumbuhan yang dapat mengancam ketersediaan tumbuhan sumber pakan karena tajuknya yang rapat membuat sinar matahari sulit menembus lantai hutan.

 

 

Widodo menuturkan, khusus badak sumatera, harus upaya ekstra untuk melindunginya. Perambahan kawasan yang menyebabkan menyempitnya habitat badak terus terjadi. Penggunaan kawasan konservasi yang bukan untuk tujuan konservasi pun masih berlangsung. Di masyarakat, ada anggapan yang menyebutkan berburu merupakan bagian dari kehidupan mereka. Sementara, penegakan hukum belum maksimal.

Dari serangkaian masalah itu semua, hal terpenting menurut Widodo adalah, kita sendiri belum mengetahui pasti dimana posisi badak sumatera. Ini di luar badak sumatera yang ada di Suaka Rhino Sumatera (Sumatran Rhino Sanctuary/SRS), Taman Nasional Way Kambas, Lampung.

“SRS merupakan bukti nyata keberadaan badak sumatera. Ada 7 individu badak sehat di wilayah seluas 100 hektare yang dipagar dan dijaga 24 jam penuh ini. SRS bukan semata bangunan, akan tetapi satu kesatuan sistem kehidupan bagi 3 badak jantan (Andalas, Andatu, dan Harapan) serta 4 betina (Ratu, Bina, Rosa, dan yang baru lahir, adiknya Andatu) yang hidup di dalamnya.”

 

Rhino Protection Unit yang terus mengamankan kawasan dari pemburu badak di Way Kambas, Lampung. Foto: Rahmadi Rahmad

Rhino Protection Unit yang terus mengamankan kawasan dari pemburu badak di Way Kambas, Lampung dan sekitar. Foto: Rahmadi Rahmad

 

Haerudin R. Sadjudin, ahli badak yang juga Program Manajer Yayasan Badak Indonesia (YABI), menjelaskan terancamnya kehidupan badak sumatera dikarenakan hutan yang merupakan habitat utama kehidupan badak diubah menjadi perkebunan sawit juga hutan tanaman industri. Selain itu, badak yang berada di luar kawasan konservasi terus diburu untuk diambil culanya, sebagai ramuan perkasa. “Salah besar. Cula terbentuk dari sel-sel kulit yang mangalami keratinisasi. Tak ubahnya tanduk, cakar, atau juga kuku pada binatang lain.”

Sementara badak jawa, terdesak akibat habitatnya diubah menjadi perkebunan teh, jati, dan kina. Untuk badak yang ada di luar kawasan konservasi, nasibnya dikejar pemburu. “Bila dilihat persebarannya, dahulunya badak jawa pernah ada di Gunung Pangrango, Gunung Salak, dan Ciremai. Sedangkan badak jawa yang berada di Sumatera diperkirakan mulai punah alias tidak ada lagi sejak tahun 1940-an.”

Masyarakat adalah bagian penting dalam kegiatan konservasi. Mereka harus dilibatkan, misalnya dengan membuat biogas, mengembangkan pertanian organik atau perikanan air tawar, hingga ekowisata. “Dengan demikian, masyarakat merasakan manfaat adanya kawasan konservasi yang mencakup perlindungan jenis-jenis tumbuhan dan satwa liar, termasuk badak. Bukan sebagai penonton,” tukas Widodo.

 

Badak sumatera yang berada di SRS saat ini berjumlah 7 individu. Foto: Rahmadi Rahmad

Badak sumatera yang berada di SRS saat ini berjumlah tujuh individu. Foto: Rahmadi Rahmad

 

 

Ternyata, Harimau Sumatera Masih Ada di Ogan Komering Ilir

Harimau sumatera. Foto: Rhett A. Butler

 

Ternyata, keberadaan harimau sumatera di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, masih ada. Bahkan harimau ini muncul di kota Kayuagung. Kemunculan ini cukup mengejutkan, sebab sudah puluhan tahun masyarakat tidak melihat harimau yang menghilang sejalan habisnya hutan di kabupaten tersebut.

Kehadiran Panthera tigris sumatrae ini dinyatakan warga di Lingkungan 6, Kelurahan Kedaton, Kota Kayuagung. Harimau tersebut masuk perkebunan milik warga dalam sepekan terakhir.

Dikutip dari Sriwijaya Post, warga yang mendengar suara dan melihat harimau tersebut adalah Rasyik, warga Kedaton. Diceritakannya, bukan hanya dirinya yang melihat harimau tesrebut, juga beberapa warga lainnya. Harimau tersebut terlihat pada pagi hari, melintasi jalan yang biasa digunakan warga ke kebun karet dan sawah.

Meskipun belum mengganggu warga dan hewan ternak, kehadiran harimau ini membuat warga takut keluar rumah pada pagi atau sore hingga malam hari.

Dedy Kurniawan, Camat Kayuagung, mengatakan jika memang ada harimau, dia meminta warga untuk berhat-hati. “Waspada dan terutama anak-anak jangan dibiarkan main ke hutan,” katanya. Guna menghindari konflik antara harimau dengan masyarakat, dia akan berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan OKI.

Dulu, masyarakat di sepanjang Sungai Ogan di Kabupaten OKI, mulai dari Kayuagung hingga ke Sirah Pulau Padang, memang dikenal sebagai wilayah harimau sumatera. Namun, sejalan habisnya hutan, baik untuk perkebunan, sawah dan pemukiman, serta pemburuan liar, harimau mulai menghilang. Diperkirakan mereka pindah jauh ke dalam hutan, mengarah ke wilayah pesisir yang sebagian besar habitat gajah sumatera.

Namun, aktivitas penebangan kayu, pengembangan perkebunan sawit dan hutan tanaman industri (HTI), serta pemburuan liar, kehidupan harimau sumatera ini pun terdesak. Jumlahnya berkurang. Sebagian masih bertahan di wilayah Banyuasin dan Musi Banyuasin, terutama di sekitar Air Sugihan, Taman Nasional Sembilang, dan Hutan Margasatwa Dangku.

 

Harimau Sumatera. Foto: Rhett A. Butler

 

Kandangkan hewan ternak

Yoan Dinata, Ketua Forum Harimau Kita, yang dihubungi Mongabay Indonesia, Kamis (14/07/2016) malam, mengatakan jika informasi tersebut benar, dia berharap masyarakat tidak panik. Dia percaya, jika tidak diganggu harimau tersebut tidak akan mengancam, dan pastinya akan pindah ke lokasi yang jauh dari kehidupan masyarakat.

Dinata pun menyarankan agar warga menghindari konflik. Misalnya, pergi ke kebun karet jangan pagi hari. “Berangkat ke kebun karet atau ke sawah sebaiknya setelah matahari naik. Harimau biasanya akan beristirahat di waktu tersebut. Selain itu, jangan sampai berada di kebun atau sawah hingga sore atau malam hari, sebab harimau akan bergerak mencari makan,” katanya.

“Dan yang lebih penting, kandangkan semua hewan ternak, baik sapi atau kambing. Jangan diliarkan, sehingga menjadi incaran harimau.”

Selain itu, warga maupun pemerintah di Kabupaten OKI juga berusaha melindungi keberadaan harimau sumatera yang kian langka tersebut. “Salah satunya dari incaran pemburu liar. Sebab, informasi hadirnya harimau tersebut merupakan informasi menarik para pemburu,” ujarnya.

“Kami sendiri akan melaporkan informasi tersebut ke BKSDA Sumsel, agar secepatnya turun ke lapangan. Menyelamatkan harimau tersebut, dan menenangkan warga.”

Dari mana harimau tersebut?

Dinata memperkirakan harimau yang muncul di Kedaton itu berasal dari Air Sugihan yang masuk wilayah Kabupaten Banyuasin. Ada dua kemungkinan. Pertama, harimau itu berusia muda, tengah mencari wilayah hidup. Kedua, harimau tersebut telah tua, tersingkirkan dari komunitasnya sehingga mencari lokasi yang aman untuk hidup. “Umumnya, harimau tua yang kalah pamor dengan harimau dewasa akan minggir. Itu hukum alam,” katanya.