Tag Archives: hutan kalimantan

Kala Siswa Siswi Belajar Alam dan Lingkungan di Rumah Walhi

“Kalau ini burung enggang. Siapa yang sudah tahu burung enggang? Ini burung Kalimantan, yang hampir punah.” Tumpak Winmark Hutabarat, Staf Media dan Publikasi Eksekutif Nasional Walhi bertanya kepada puluhan siswa di dekatnya.

Anak-anak itu menggelengkan kepala tanda tak tahu. Tampak foto enggang sedang terbang di atas pepohonan hutan berada di salah satu deretan foto yang dipamerkan. “Ini burung di Kalimantan, yang hampir punah. Kami juga hanya melihat sekali.”

Tumpak menjelaskan, betapa hutan tempat habitat burung enggang gading sudah menyusut. Keberadaan burung-burung khas Kalimantan inipun terancam habis.   Para siswa ini mengangguk-angguk.

“Burung ini tak ada di Jakarta. Mungkin karena hutan Jakarta sudah tidak ada,” katanya, berseloroh. Tumpak bersemangat menjelaskan makna foto-foto yang dia ambil saat mengikuti Tur Kepak Sayap Enggang –Mata Harimau, seri Kalimantan, pertengahan September 2012.

Tumpak Winmark Hutabarat dari Walhi menjelaskan tentang kerusakan hutan di Kalimantan kepada para siswa. Foto: Sapariah Saturi

Para siswa sibuk mencari huruf W di mural yang ada di galeri Walhi. Foto: Sapariah Saturi

Ada foto hutan yang  sudah dibabat untuk tambang, dan kebun sawit. Ada juga foto lubang tambang sudah menjadi kolam-kolam baru dan menelan korban jiwa.  Foto hutan dan lahan gambut terbakar juga ada.

Setelah melihat pameran foto, siswa-siswa dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (Mts) Al Khairiyah ini masuk ke ruang depan kantor Walhi, untuk melihat galeri. Di galeri ini banyak beragam potret-potret masalah lingkungan.

Galeri ini buah kerja sama Walhi dan komunitas seniman SERRUM. Di sini, ingin mengajak publik lebih akrab membahasakan persoalan sumber daya alam Indonesia termasuk kebijakan melalui memamerkan karya-karya seperti mural, instalasi, video musik, foto dan project street art.

Ada miniatur yang menggambarkan proses operasi tambang, sampai potret ruang hijau Jakarta yang tersunat proyek jalur monorel gagal di beberapa ruang jalan. Para siswa ini juga terlihat sibuk mencari huruf W, di antara lukisan dinding (mural) yang memperlihatkan beragam potret perusakan lingkungan.

Mereka tampak antusias. “Senang bisa diajak ke Walhi dan lihat semua ini. Tambah pengetahuan baru tentang hutan,” kata Fadillah, siswa kelas IX MTS Al Khairiyah, Jakarta Selatan.

Menurut dia, baru kali ini diajak dalam kegiatan seperti ini dan begitu bermanfaat. Namun, dia sedih setelah mendapat penjelasan dari foto dan potret-potret di galeri, mengenai kondisi alam di Indonesia. “Sedih, berharap hutan tidak dirusak lagi,” kata Fanny, teman Fadillah.

Fadillah, berharap, tak ada lagi perusakan alam. “Mudah-mudahan hutan bisa dijaga.”

Mereka pun bertekad, akan ikut andil menjaga lingkungan, dengan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. “Ya, misal, jangan buang sampah sembarang, tidak merusak tanaman, dan hemat pakai lampu.”  Suatu respon dan niat aksi dari generasi yang harus dijaga.

Potret ruang hijau Jakarta yang tergantikan beton sia-sia berkat proyek monorel yang gagal. Foto: Sapariah Saturi

Hari itu,  suasana di sekretariat Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional di Jalan Tegal Parang Utara, Jakarta, berbeda dari biasa. Pada Senin(15/10/12) ini Walhi berusia 32 tahun. Perayaan dibuka dengan pemukulan gendang oleh Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Abetnego Tarigan, bersama dua siswa-siswi.

Agenda dari pagi hingga malam, dari pameran foto Kepak Sayap Enggang, pembukaan galeri, diskusi tentang UU Ormas yang menjegal kebebasan masyarakat sipil, dialog lintas generasi, sampai pemutaran film sampai musikustik bersama Ring of Fire, Marjinal & Demoncrazy (Sobat Padi). Kegiatan maraton ini berpusat di Sekretariat Walhi.

Abetnego mengatakan, sebagai bagian dari gerakan lingkungan, sosial dan demokrasi di Indonesia, Walhi dituntut terus berkembang dan berubah sesuai kondisi kekinian. “Sekaligus berusaha mengarusutamakan nilai-nilai keadilan ekologis dalam kehidupan masyarakat maupun kebijakan negara,” katanya di HUT Walhi ini.

Kebijakan negara, saat ini sangat dipengaruhi para pembuatnya, yang sebagian besar masih eksploitatif dan merusak. Ditambah lagi, sistem politik sangat liberal, kepentingan politik dan kepentingan ekonomi dengan pola pengerukan alam tak dapat dipisahkan.

“Bagi Walhi, sangatlah penting membersihkan lembaga-lembaga negara dari para perusak lingkungan. Hingga ke depan kebijakan para pejabat negara setidaknya tidak mengakibatkan terus praktik eksploitasi dan ketidakadilan,” ucap Abetnego.

Walhi menyadari, katanya, tak cukup hanya organisasi masyarakat sipil yang harus bergerak mendorong perubahan. “Perempuan, laki-laki, pemuda, mahasiswa dan semua lapisan masyarakat hendaknya ikut terlibat aktif hingga bisa terjadi percepatan gerakan mendorong perubahan sejati ke arah lebih adil dan lestari.” Selamat ulang tahun Walhi!

Deddy Ratih, Jurukampanye EN Walhi dengan latar belakang perjalanan Walhi tahun ke tahun sejak 1980. Foto: Sapariah Saturi

Suasana diskusi Menyoal UU Ormas, salah satu rangkaian kegiatan HUT Walhi. Foto: Walhi

Tur Kepak Sayap Enggang: Selamatkan Hutan, Lanjutkan Moratorium

TUR Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau Seri Kalimantan, resmi ditutup, Sabtu(29/2012) di Rumah Betang, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Penutupan diikuti serangkaian kegiatan kesenian dan ritual adat serta penandatanganan spanduk peduli hutan oleh sejumlah aktivis dan masyarakat yang datang dalam kegiatan ini.

Selama 14 hari tur, sejak di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, berakhir di Kalimantan Barat banyak ditemukan  deforestasi oleh perusahaan ekstraktif tambang, perkebunan sawit dan hutan tanaman industri (HTI). Sisi lain, ada upaya kolektif komunitas masyarakat adat menjaga hutan demi keseimbangan ekologis dan kehidupan.

Mereka mendesak pemerintah Indonesia menghentikan deforestasi yang masih massif terjadi dengan melanjutkan moratorium hutan.  Anton P Wijaya Direktur Eksekutif Walhi Kalbar, mengatakan, tim menyaksikan bagaimana hutan dan gambut Kalbar  dihancurkan perkebunan sawit dan HTI.

Pembubuhan tandatangan “Selamatkan Hutan Indonesia” oleh sejumlah aktivis. Foto: Walhi

“Hutan di lereng-lereng bukit ditebang yang merusak hulu sungai sebagai sumber air bersih warga pedesaan di Marau, Ketapang. Hamparan gambut di Kuala Labai, Ketapang juga dihancurkan dengan membuat kanal-kanal yang akan melepas karbon dioksida penyebab pemanasan global,” katanya, di Pontianak, Sabtu(29/9/12).

Tur ini, sebagai bagian upaya penyelamatan hutan Kalimantan juga Indonesia. “Harapannya mengajak seluruh elemen masyarakat mau dan terlibat dalam gerakan penyelamatan hutan, penyelamatan lingkungan hidup Indonesia demi pembangunan kesejahteraan bersama. Selamatkan hutan Indonesia, hutan kita. Pulihkan Indonesia.”

Hegar W Hidayat Direktur Eksekutif  Walhi Kalsel, mengungkapkan, situasi hutan Kalsel sangat memprihatinkan. Dari 1,8 juta hektare kawasan hutan, Walhi memperkirakan hanya 350 ribu hektare tersisa, sebagian besar di Pegunungan Meratus.

“Industri ektstraktif batubara, ekspansi sawit dan HTI menjadi sumber perusakan kualitas dan kuantitas hutan di Kalsel. Ini membuktikan pemerintah gagal mengelola sumber daya alam. Hutan merosot berjalan linier dengan konflik dan penderitaan rakyat akibat bencana ekologis dengan frekuensi makin meningkat.”

Arie Rompas, Direktur Eksekutif  Walhi Kalteng menambahkan, ‎eksploitasi sumberdaya alam seperti tambang, kebun sawit dan HTI menimbulkan konflik, pencemaran lingkungan dan bencana ekologi. “Kekeringan, banjir dan kebakaran hutan, gambut serta mengakibatkan kerugian negara dan biaya pemulihan ekologi,” ujar dia.

Moratorium penting dilanjutkan, dengan perbaikan tata kelola kehutanan, melindungi kawasan ekologi penting, menyelesaikan konflik dan pengakuan wilayah kelola rakyat.

Zulfahmi, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia mengatakan, moratorium hutan yang berakhir 2013 harus dilanjutkan. “Jangan dibatasi waktu karena jangka waktu dua tahun belum mampu menghentikan deforestasi.” Moratorium, harus mampu menyelamatkan hutan-hutan kaya keragaman hayati yang kini diperebutkan perusahaan untuk memperoleh hak konsesi.

Seorang pemangkut adat Dayak, ritual doa-doa menutup kegiatan Tur Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau, di Kota Pontianak, Kalbar. Foto: Walhi

Tur Kepak Sayap Enggang Temukan Perusakan Hutan Gambut Kalbar di Konsesi Pemasok PT APP

Tur Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau akan ditutup pada Jumat(28/9/12) di Pontianak, dengan konser Band Navikula. Tur Seri Kalimantan yang telah menyusuri hutan dan perkampungan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, pun berakhir. Selama perjalanan ini, terlihat betapa hutan Kalimantan, terkikis. Dari kebakaran hutan, ekspansi sawit sampai tambang, mengancam hutan dan alam di tanah Borneo ini.

TIM aktivis Kepak Sayap Enggang –Mata Harimau Seri Kalimantan, Kamis(27/9/12) di Kuala Labai, Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar), menemukan bukti perusakan hutan lahan gambut, dan habitat orangutan, di lokasi perusahaan penyuplai kayu untuk PT Asia Pulp and Paper (APP).

Aktivis Greenpeace dan Walhi, bersama Robi, vokalis band Navicula, tiba dan menyaksikan lahan yang baru dibuka (land clearing) di tengah perkebunan milik PT Asia Tani Persada.

Zulfahmi, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia, mengatakan, mereka ingin melihat APP membuktikan dan menghormati komitmen yang diumumkan untuk menghentikan perusakan hutan.

Pembersihan hutan di lahan gambut oleh PT Asia Tani Persada, penyuplai PT APP di Kuala Balai, Kalimantan Barat. Foto: Greenpeace

Eksavator terlihat membuat kanal di hutan lahan gambut dalam konsesi PT Asia Tani Persada, penyuplai PT APP. Foto: Greenpeace

“Perusakan yang kami saksikan hari ini di konsesi suplier mereka jelas bertolak belakang dengan komitmen itu. APP harus mengendalikan suplier mereka jika ingin mendapat kepercayaan dari pasar,” katanya, dalam rilis kepada media, Kamis(27/9/12).

Direktur Walhi Kalbar, Anton P. Widjaya mengatakan, yang dilakukan Asia Tani Persada ini bukan hanya meningkatkan keterancaman ekosistem juga berpotensi menyebabkan konflik dengan masyarakat setempat.  “Seperti merusak sumber air bersih dan batas konsesi dengan lahan warga.”

Moratorium, ujar dia, harus mampu meninjau kembali seluruh perizinan konsesi pada kawasan bergambut dan hutan alam. Konflik di sektor kehutanan maupun perkebunan di Kalbar, terus terjadi, sementara kebijakan moratorium hutan akan berakhir tahun 2013.

“Kesuksesan moratorium harus berdasarkan capaian seperti tuntasnya konflik lahan dengan masyarakat dan melindungi gambut,” ucap Anton.

Pembukaan hutan tengah berlangsung di konsesi PT Asia Tani Persada, suppier PT APP di Kuala Balai, Kalimantan Barat. Foto: Greenpeace

Kayu baru tebang dari pembukaan hutan di konsesi Asia Tani Persada, supplier PT APP di Kuala Balai, Kalimantan Barat. Foto: Greenpeace

Greenpeace, Walhi, AMAN dan sejumlah LSM lain mendesak pemerintah meninjau kembali operasi izin perusahaan perkebunan dan kehutanan. Mereka meminta,  pemerintah mengeluarkan hamparan gambut dalam yang kaya karbon dan habitat satwa dilindungi seperti orangutan dan enggang dari konsesi perusahaan.

Band Navikula Tutup Tur

Band rock asal Bali Navicula akan tampil dalam konser kampanye Tur Kepak Sayap Enggang – Mata Harimau di Gedung Anex Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalbar, Jumat (28/9/12).

Gede Robi Supriyanto, vokalis Band Navicula di Balai Berkuak, Kalbar, Rabu(26/9/12) mengatakan, perjalanan tim menjadi pengendara motor menjadi pengalaman nyata bagi Navicula. Perjalanan ini memperlihatkan, kondisi hutan Kalimantan yang habis akibat eksploitasi sumber daya alam oleh perusahaan tambang dan ekspansi perkebunan sawit.

Kepak Sayap Enggang melintasi tiga provinsi yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat adalah lanjutan Tur Mata Harimau di Sumatra tahun lalu. Di Sumatra, Tim Mata Harimau terdiri dari lima pengendara sepeda motor trail bercorak loreng Harimau Sumatra dan berkostum corak sama. Tur Mata Harimau seri Kalimantan ditambah tiga sepeda motor bercorak burung enggang gading, spesies langka yang dihormati suku Dayak.

Greenpeace mempromosikan Mata Harimau sebagai identitas bagi publik yang peduli pada penyelamatan hutan Indonesia. Harimau Sumatra yang populasinya terancam -diperkirakan tak sampai 400 ekor tersisa. Hutan rumah mereka terkikis. Serupa enggang gading di Kalimantan yang diburu, paruh diambil dan orangutan dianggap hama bagi sawit.

Robi mengatakan, di jalan Trans Kalimantan dari Kabupaten Lamandau, Kalteng menuju perbatasan Kalbar terlihat hanya lautan sawit. Di sekitar Delang, Kalbar, masih ada hutan cantik namun ekspansiperkebunan sawit sudah mendekat.

“Tanpa ada komitmen serius pemerintah untuk menjaga hutan yang pernah menjadi identitas Kalimantan, niscaya bila melewati daerah itu tiga tahun lagi hanya bentangan sawit,” ucap Robi.

Tim Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau, melintasi hutan di Kalimantan Barat. Foto: Greenpeace

Personil Band Navikula, Robi sebagai vokalis dan gitaris, drummer oleh Gembul, gitaris, Dangkie dan Made, gitas bass. Mereka bergabung dalam tur Mata Harimau seri Kalimantan. Foto: Greenpeace

Navicula bergabung dengan Tim Mata Harimau di Palangkaraya, Kalteng, sepulang tur dari Kanada. Tim Mata Harimau memulai perjalanan di Banjarbaru, Kalsel pada 16 September. Selama tur Navicula menggelar beberapa pertunjukan musik,  antara lain, dua kali di Palangkaraya.

Tidak hanya di kota besar seperti Palangkaraya dan Pontianak, Navicula juga tampil di hadapan masyarakat adat. Seperti pada pertemuan dengan pengurus Credit Union Gemalaq Kemisiq di Tanjung, Jelai Hulu, Ketapang, Senin (24/9/12).

Credit Union ini tidak hanya bergerak dalam simpan pinjam juga penguatan masyarakat. Masyarakat yang bertahan dengan komitmen ekologis bercocok tanam karet di tengah ekspansi dan penyerobotan lahan oleh perusahaan sawit. CU Gemalaq Kemisiq berdiri tahun 1999 memiliki 10.200 anggota tersebar di tujuh kecamatan dan mengelola aset Rp110 miliar.

Navicula akan membawa materi dokumentasi dari Tur Mata Harimau di konser Sound For Orangutan di Rolling Stone Cafe, Jakarta Selatan, Minggu (30/9/12). Konser ini untuk penggalangan dana bagi Center for Orangutan Protection (COP).

Navicula akan melanjutkan tur ke Kaltim dan Kalsel sebagai rangkaian Borneo Tour 2012. Borneo Tour Navicula dibiayai lewat proyek di portal pendanaan oleh crowdfunding kicsktarter.com dan patungan.net.

Pada proyek di kickstarter.com, Navicula berhasil mendapatkan dukungan US$ 3.142 dalam waktu 30 hari dari durasi proyek 45 hari. Dana itu untuk biaya transportasi band dan tim ke bumi Kalimantan, menggelar konser bersama skena musik lokal dan lembaga konservasi lingkungan.

 

 

Satgas REDD Cari Solusi Batas Wilayah Eks PLG Kalteng

Seorang aktivis menyaksikan kebakaran lahan gambut di eks lahan gambut sejuta hektar, pada 20 September 2012 di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Foto: Greenpeace

WILAYAH eks proyek lahan gambut (PLG) satu juta hektare di Kalimantan Tengah (Kalteng), menyisakan masalah konflik batas wilayah dan lingkungan.   Untuk itu, Satgas REDD+ berupaya mempertemukan sejumlah pihak guna membahas penyempurnaan dan penyelesaian data geospasial dan perizinan di wilayah eks PLG  ini.

Ketua Tim Kerja Monitoring Moratorium, Nirarta Samadhi menegaskan, pertemuan ini sangat strategis karena berupaya mencari solusi atas masalah yang banyak terjadi di kawasan lain di Indonesia,  seperti tumpang tindih data geospasial dan perizinan.

“Pembahasan menukik ke kawasan eks-PLG karena bila berhasil bisa menjadi percontohan bagi proyek REDD+ di Indonesia. Pada giliran akan berpengaruh pada posisi Indonesia dalam percaturan REDD+ skala global,” katanya dalam rilis kepada media.

Dalam paparan PT Sekala, konsultan pemetaan Satgas REDD+, mengungkapkan,  berbagai masalah pada geospasial dan perizinan di kawasan eks PLG Kalteng. Antara lain, tumpang tindih batas administrasi antar wilayah dan tumpang tindih konsesi lahan atas hutan lindung.

Tumpang tindih konsesi dan hutan lindung  ini terjadi karena ada dua rujukan hukum yang tidak selalu sinkron satu sama lain, yaitu RTRWP Kalteng dan SK Menhut nomor 292/Menhut-II/2011. Masalah lain, ada pengalihan penggunaan lahan, dari lahan transmigrasi menjadi peruntukan lain, seperti kebun sawit atau tambang.

Deputi I Ketua Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), Heru Prasetyo mengatakan, pertemuan di Jakarta, 21 September ini bagian dari upaya strategis Satgas REDD+ mempersiapkan landasan terbaik bagi pelaksanaan REDD+ di Indonesia.

Dia menilai, pertemuan ini penting karena terkait inisiatif one map, merupakan prakarsa pemerintah menyediakan peta rujukan tunggal Indonesia yang merangkum empat ketunggalan: standar, referensi peta, database, geoportal.

Benang merah dari diskusi ini, terlihat masalah  muncul, antara lain, karena ada ketidaksinkronan antara rencana tata ruang wilayah provinsi (RTRWP) dan SK Menteri Kehutanan sebagai rujukan utama penetapan kawasan eks-PLG, inisiatif pemerintahan lokal kadang tak merujuk aturan nasional.

Untuk itu, perlu disusun rencana aksi dengan dukungan berbagai pihak dan berbagai level, mulai kementerian, provinsi hingga kabupaten dan kota. “Dukungan Gubernur dan Bupati di Kalteng sangat berpengaruh pada keberhasilan penyempurnaan data geospasial dan perizinan di kawasan eks PLG Kalteng ini,”  kata Nirarta.

Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Greenpeace, mengatakan, eks PLG Kalteng, meninggalkan banyak masalah. “Kanal-kanal di PLG menyebabkan permukaan gambut terus turun. Sampai sekarang belum ada yang memulihkan kawasan itu. Pemerintah juga belum berbuat apa-apa untuk memperbaiki kondisi ini,” katanya, Selasa(25/9/12).

Konflik wilayah juga makin menumpuk . Klaim mengklaim kawasan terjadi. “Ditambah lagi ada perusahaan juga ada di sana.”

Abetnego Tarigan, Direktur Eksekutif Walhi Nasional mengingatkan, tragedi PLG Kalteng, jangan sampai terjadi di daerah lain. Dulu, alasan pemerintah membuat proyek PLG untuk menjawab kebutuhan pangan di Indonesia. Hasilnya, pangan tak diperoleh, lingkungan rusak dan konflik terjadi. “Proyek MIFFE di Papua, harus  berhati-hati, jangan sampai seperti PLG.”

Jika ingin melihat lebih detil tentang  upaya pemetaan wilayah eks PLG Kalteng, bisa buka di sini 

Masuk Kalbar, Tujuh Enggang Gading Sambut Tim dan Navicula Band

TIM  Kepak Sayap Enggang -Mata Harimau memasuki wilayah Kalimantan Barat (Kalbar)  pada hari ke 11 perjalanan kampanye penyelamatan hutan di tiga provinsi di bumi Borneo ini.  Di Pegunungan  Muller Suwahner, sesaat setelah keluar dari Kalimantan Tengah (Kalteng), mereka melihat tujuh enggang gading. Itu kali pertama melihat burung maskot daerah ini, setelah menempuh perjalanan mengitari Kalimantan sepanjang 2.500 kilometer (km).

“Kehadiran tujuh burung enggang di dekat kemah tim mengobati keputusasaan mencari habitat mereka yang telah hancur dan kian terancam,” kata Nordin, Direktur Save Our Borneo, dalam rilis kepada media, Selasa(25/9/12).

Tim tur termasuk personil band Navicula terus menyusuri jalan trans Kalimantan sepanjang akhir pekan kemarin menuju perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalbar di ujung Kabupaten Lamandau.

“Ketika kami memasuki wilayah Lamandau yang terlihat hanya lautan sawit. Dan di depan kami berhenti untuk menjadi saksi hutan yang baru saja dihancurkan untuk dijadikan kebun sawit. Ini bukan persoalan memenuhi kebutuhan lagi tapi sudah merupakan keserakahan yang membabat semua keindahan hutan,” kata Robi, vokalis band Navicula.

Aktivis Greenpeace menyaksikan sebuah kanal yang baru dibangun di hutan lahan gambut yang berada di dalam moratorium, di Kalimantan Tengah. Kanal ini dibangun dari aliran sungai Katingan langsung ke Taman Nasional Sebangau. Foto: Greenpeace

Menjelang malam tim disambut masyarakat Desa Kudangan dengan tarian tradisional adat Dayak dan mengadakan dialog serta tari-tarian. Setelah itu, tim melanjutkan perjalanan ke perbatasan untuk berkemah. Nordin mengatakan,  sepanjang perjalanan ini, banyak hutan yang dulu habitat enggang menjadi perkebunan skala besar dan menggusur burung maskot Kalimantan ini hingga ke pegunungan .

Di perbatasan, di pegunungan Muller Suwahner akhirnya kami melihat kehadiran tujuh burung enggang sesaat tim keluar dari Kalteng. Habitat enggang masih tersisa meski terancam.” Meskipun kerusakan hutan terus terjadi di saat moratorium pemberian izin, masih ada hutan bagus tersisa namun terancam.

“Mempertahankan hutan tersisa penting bagi penyelamatan habitat satwa dilindungi seperti enggang namun peninjauan kembali izin-izin yang diberikan yang menimbulkan konflik di masyarakat sangat penting,” kata Zulfahmi, Kepala Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia.

Sebelum itu,  pada hari ke-10, Tim Kepak Sayap Enggang Tur Mata Harimau Seri Kalimantan yang terdiri dari Greenpeace, Walhi, SOB, YBB, Pokker SHK, SHI, dan Navicula, sampai dipinggir Danau Sembuluh di Desa Bangkal, salah satu desa tertua di Kalteng.

Di desa ini masih kental adat Dayak. Desa ini di antara desa yang terancam karena dikelilingi sembilan perusahaan sawit. Danau Sembuluh, sumber utama mata pencaharian perekonomian dan ketersediaan air warga, tercemar.

Arie Rompas, Direktur Walhi Kalteng mengatakan, Danau Sembuluh merupakan populasi ikan air tawar terbesar di Kalteng sudah terancam operasi perusahaan sawit. “Kami mendesak pemerintah meninjau kembali izin-izin perusahaan sawit yang telah menyebabkan kerusakan lingkungan dan menghancurkan sumber kehidupan masyarakat sedikitnya di tujuh desa,” ujar dia.

Perusahaan itu antara lain, PT Best Agro Internasional, Wilmar dan Astra Agro. Best Agro International merupakan perusahaan sawit dan membangun kebun di lahan gambut dalam di Kabupaten Pulang Pisau.

Bukan hanya di tujuh desa di sekitar danau, konflik masyarakat dengan perusahaan sawit juga terjadi di Desa Biru Maju. Hingga kemarin, warga masih menduduki kawasan dan menuntut penyelesaian sengketa lahan yang menyebabkan penahanan dua pimpinan pemerintah desa.

Purnomo, kepala desa  mengatakan, konflik sudah terjadi sejak 2003. Warga sudah mencoba berunding dan bertemu langsung dengan pimpinan perusahaan PT Buana Agro Sejahtera. “Kami juga meminta pemerintah menyelesaikan. Tapi tidak ada solusi. Justru dalam proses ini, kami malah dikriminalisasi. Kami ingin hak kami dikembalikan.”

Abetnego Tarigan, Direktur Eksekutif Walhi Nasional, di Jakarta, Selasa(25/9/12) mengatakan, dengan tur ini dapat melihat gambaran alam Kalimantan. Contoh di Kalteng, saat, daerah ini masuk program REDD,  tetapi investasi masif terjadi.

Perjalanan ini juga memperlihatkan, kerusakan lingkungan paralel dengan perubahan sosial masyarakat. Dengan tur ini, ingin mengajak publik kondisi alam dengan cara lain. “Harapannya, tur serupa bisa dilakukan di daerah lain seperti Sulawesi dan Papua, yang banyak terancam tambang dan kebun sawit.”

Arifin Saleh, Deputi Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), mengungkapkan, kawasan hutan adat merupakan bagian tak terpisahkan dari siklus komunitas adat. “Penghancuran hutan adat oleh perusahaan tak hanya merusak eksositem, juga menghilangkan budaya, dan kearifan masyarakat dalam mengelola hutan. “

Danau Sembuluh, Kalteng, yang tercemar. Foto: Greenpeace

Forest Patrol

Masih satu rangkaian dengan tur, Selasa(25/9/12), Greenpeace memperkenalkan situs Forest Patrol Mata Harimau. Situs ini memungkinkan pengawalan real time (langsung) hutan Indonesia.

Kiki Taufik, GIS Specialist Greenpeace mengatakan, ke depan lewat situs ini orang bisa melihat kondisi terkini hutan Indonesia. Bahkan, masyarakat bisa memberikan data atau informasi seputar hutan ke situs ini. “Mekanisme verifikasi data sedang kami susun. Jika sudah terbangun, semua orang bisa menjadi penjaga hutan dengan cara membagi bukti-bukti baik foto, maupun video ke situs ini.”

Bustar Maitar, Kepala Kampanye Hutan Greenpeace berharap, nantinya, situs ini bisa menjadi informasi hutan  dari masyarakat sipil yang terintegrasi.

Kepak Sayap Enggang: Banyak Kebakaran Lahan dan Hutan di Kalteng

PERJALANAN Tim Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau, berlanjut di Kalimantan Tengah (Kalteng). Di sepanjang perjalanan mereka banyak menemui kebakaran hutan dan lahan gambut, baik di kebun sawit maupun kawasan pertambangan.

Juru bicara Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Tumpak Winmark Hutabarat Jumat(21/9/12) mengatakan, saat tim di Kabupaten Pulang Pisau, di sepanjang daerah ini ada pembakaran hutan. “Suhu sampai 42 derajat celcius. Kabut asap pekat menyelimuti. Begitu juga di Palangkaraya ,” katanya kepada Mongabay.

Kala berada di Pasar Palma, Kalteng, hawa panas dari pembakaran hutan dan lahan sudah terasa. “Di sana ada land clearing dengan pembakaran di kebun sawit dan aktivitas pertambangan,” ujar dia.

Tim Kepak Sayap Enggang -Mata Harimau, menyusuri Kalimantan Tengah. FOto: Greenpeace

Kebakaran lahan gambut di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Indonesia.
Foto: Greenpeace

Begitu juga saat di Desa Dayu, Barito Timur, Kalteng, masyarakat terancam pembakaran lahan untuk pembukaan pertambangan batubara. Batubara ini akan mengaliri sungai tampak. Ada satu lubang eksplorasi di sana, limbah langsung masuk ke sungai. “Padahal sungai ini sumber air minum dan sumber mandi masyarakat. Di bawah sungai tampak ada ratusan hektare sawah. Ini ancaman bagi mereka.”

Kini, warga mengaku sulit mencari buah-buahan, kayu manis maupun menoreh karet. Bahkan, saat pembersihan lahan itu, ada pemukiman masyarakat yang digusur oleh perusahaan.

Di perjalanan menuju Barito Selatan, Kalteng, tim sempat  juga bertemu truk yang membawa kayu log (logging). Tim menyetop dan berinteraksi dengan sopir. “Gelondongan-gelondongan kayu sangat besar, satu log, mungkin tiga orang berpengangan tangan baru cukup memeluknya.”

Pada Jumat(21/9/12), di Desa Sampangen, Kabupaten Katingan, Kalteng, mereka melihat ada penggalian kanal di lahan gambut sepanjang sekitar sembilan km. Ada galian sedalam tujuh meter. Terjadi penggundulan hutan untuk membangun kanal ini. “Kanal ini tembus sampai ke Taman Nasional Sebangau,”  kata Tumpak.

Dalam perjalanan ini,  kata Tumpak, tim ingin melihat kawasan hutan yang masuk moratorium. “Fakta lapangan memperlihatkan bagaimana salah satu daerah masuk kawasan moratorium masih tetap terjadi pembakaran dan deforestasi. Moratorium tak efektif di Kalteng.”

Seorang tim Mata Harimau berjalan menyaksikan kebakaran lahan gambut yang terjadi Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Foto: Greenpeace

Tim Kepak Sayap Enggang tiba di lokasi perkebunan sawit perusahaan, dimana lahan di atas gambut di Desa Dayu, Barito Timur, Kalteng. Foto: Walhi

Sebelum itu, di  Palangkaraya, Kalteng, di Pasar Palma, salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu, mereka disambut acara adat. Lalu, Kamis(20/9/12), upacara pelepasan di Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, Palangkaraya. Achmad Diran, Wakil Gubernur Kalteng resmi menyambut kedatangan tim sekaligus melepas kepergian untuk melanjutkan etape  Palangkaraya-Pontianak.

Penyambutan tim dimeriahkan penampilan Navicula Band, band rock independen asal Bali yang sejak tahun lalu ikut berkampanye soal penyelamatan harimau dan habitatnya.

“Ini kebanggaan bagi kami, menjadi bagian dalam tim untuk ikut menyusuri dan melihat langsung kondisi hutan terkini di Indonesia, khusus Kalimantan,”  kata Robby, vokalis Navicula Band.

“Kami akan menggantikan dan meneruskan perjuangan teman-teman Walhi Kalsel dalam tur ini,  untuk terus menyuarakan penyelamatan lingkungan dalam mewujudkan keadilan ekologis bagi masyarakat lokal khusus di Kalteng,” kata Arie Rompas, Direktur Eksekutif Walhi Kalteng, dalam rilis kepada media, Kamis(20/9/12).

Di Kalteng, ada lahan eks proyek gambut sejuta hektare (PLG) yang dihentikan pemerintah pusat tahun 1999, menyebabkan sebagian kawasan rusak. Kawasan  ini memiliki luas 1,4 juta hektare, tersebar di Kabupaten Kapuas, Barito Selatan, Pulang Pisau, dan Kota Palangkaraya. Sebagian kawasan itu dijadikan permukiman transmigran.

Degradasi hutan di Kalimantan, terus terjadi. Secara umum, tahun 1985, hutan di Kalimantan 39,9 juta hektare, data 2010, luasan hutan tersisa tinggal 25,5 juta hektare. Dalam 25 tahun terakhir, hutan Kalimantan berkurang 14,5 juta hektare, termasuk lahan gambut. “Moratorium harus mampu mewujudkan tata kelola hutan yang baik hingga moratorium harus diterapkan berbasis capaian,” kata Juru Kampanye Greenpeace, Zulfahmi.

Tim Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau menyaksikan kebakaran lahan gambutdi Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Foto: Greenpace

Truk Logging yang ditemukan tim di perjalanan menuju Barito Selatan. Foto: Walhi

Kepak Sayap Enggang: Masyarakat Adat, Menjaga Alam dengan Kearifan Lokal

Hujan, panas terik, silih berganti mengiringi perjalanan tim Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau. Pada Selasa(18/9/12), mereka menyusuri Pegunungan Meratus, salah satu rumah enggang yang masih tersisa.

Perjalanan diawali dengan jalan berbatu penuh debu melewati jalur sepanjang 55 kilometer (km)  yang dikenal dengan jalur Kodeco. Kodeco adalah nama hak pengusahaan hutan (HPH) yang pernah menumbangkan kayu-kayu dari hutan asri Kalimantan di sekitar Pegunungan Meratus ini. Kini, jalur itu dipakai hilir-mudik pengangkutan batubara.

Di Pegunungan Meratus, ada 316 jenis burung berasal dari 47 suku. Ia dari 358 jenis burung yang ada di Kalimantan atau sekitar 88,27 persen dari seluruh jenis di Pulau Borneo ini.

Juru Kampanye Greenpeace Zulfahmi berdiskusi dengan masyarakat Dayak Meratus di Pulau Salak, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Foto: Greenpeace

Pegunungan ini juga rumah dan sumber hidup masyarakat Dayak yang masih memegang kuat aturan adat. Tim bergerak ke Desa Lahung, Lhoksado, Kalimantan Selatan (Kalsel) disambut  masyarakat adat Dayak Meratus.

Di Lhoksado, masyarakat dengan kearifan lokal dan adat budaya yang masih dipegang teguh. Mereka mengelola hutan secara adat. Masyarakat ramah, sumber energi dari alam. Ini bukti pembangunan berkelanjutan yang sebenarnya.

Tim juga melewati Desa Haratai, Lhoksado. Di desa ini, air tak hanya menghidupi juga sumber penerangan. Masyarakat menggunakan sistem pembangkit listrik skala kecil dikenal dengan mikrohidro.  Pembangkit tenaga air itu menjadi sumber penerangan 41 rumah di desa ini.  Cara ini, menjauhkan mereka dari sumber kotor energi seperti batubara.

Keindahan Pegunungan Meratus. Foto: Greenpeace

Air merupakan sumber yang tak akan habis. Untuk itu, harus dipastikan hutan di sekitar terjaga baik.  Ayal, Demang Masyarakat Dayak Meratus mengatakan, hutan-hutan dikelola kuat secara adat. “Hutan ini rumah leluhur kami. Makin hari makin menipis akibat banyak operasi industri hutan, kebutuhan masyarakat makin kurang terpenuhi. Padahal kami perlu hutan untuk hidup, katanya, Selasa(18/9/12), dari rilis kepada media.

Saat ini, sudah ada 8.000 hektare hutan berhasil dilindungi berpegang pada kearifan tradisional. Sayangnya, hutan alam seluas itu belum mendapatkan pengakuan status hukum apapun dari pemerintah.

Kepakan enggang dan auman harimau terus bergerak menuju perbatasan Kalsel dan Kalimantan Tengah (Kalteng). Desa Warukin, satu-satunya wilayah masyarakat adat Dayak Kalsel yang induknya ada di Kalteng. Ini desa multietnis berada dalam kepungan dan ancaman tambang batubara.

Direktur Eksekutif Walhi Kalimantan Selatan, Hegar Wahyu Hidayat berdiskusi dengan masyarakat Dayak Meratus di Pulau Salak Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Foto: Greenpeace

Hegar Wahyu Hidayat, Direktur Eksekutif Walhi Kalsel mengatakan, setelah kayu-kayu komersil Kalimantan habis oleh perusahaan penebangan hutan, kini perut bumi Kalsel dikeruk untuk tambang batubara. “Ini penghacuran hutan sistematis yang harus dihentikan kalau kita tidak ingin penerus kita meratapi kehancuran alam Borneo,” ujar dia.

Zulfahmi, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia, mengatakan, kebijakan moratorium harus mampu menyelamatkan Pegunungan Meratus yang saat ini terancam. “Kebijakan moratorium harus dilanjutkan dengan capaian jelas, tata kelola hutan berpihak pada penyelamatan ekosistem. Perlindungan hak-hak rakyat harus menjadi acuan utama.”

Tim melanjutkan perjalanan. Tiba di Pasar Panas, Tamiang Layang, Kalteng. Mereka disambut berbagai tarian adat khas masyarakat Dayak yang terinpirasi hutan tanah leluhur. Ada tarian mencari ikan, dan tarian bulat.

Mardiana, Ketua Sanggar Rirung Munge  mengungkapkan, hutan, rawa, sungai, dan danau telah dijaga leluhur dari dulu, kini makin menipis. “Kami sulit mencari sumber pangan untuk kehidupan,” ujar dia.

Tim Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau terus melaju. Foto: Greenpeace

“Pembangunan berbasis pengerukan sumberdaya alam menyebabkan keterpinggiran dan keresahan rakyat. Yang ada hanya kesejahteraan semu dan rawan konflik sosial,” kata Hegar.

Walhi mengecam pola eksplotasi seperti ini dan menuntut negara peka terhadap perlindungan masyarakat dan keseimbangan ekologis. “Pemulihan hak-hak rakyat dan ekologis Indonesia sudah tidak bisa ditawar lagi .” Zulfahmi pun meminta,  kaji ulang proses pembangunan termasuk perizinan eksploitasi hutan.

Degradasi hutan di Kalimantan terus terjadi. Dalam 25 tahun terakhir, hutan Kalimantan berkurang 14,5 juta hektare, termasuk lahan gambut. Pada 1985, hutan di Kalimantan 39,9 juta hektare, 2010, tinggal 25,5 juta hektare.

Tim yang terdiri dari Greenpeace, Walhi Kalsel, Pena Hijau, SOB, Foker SHK, dan AMAN Kalteng ini, terus maju. Mereka akan melintasi perjalanan di tiga provinsi di Kalimantan. Bermula dari Kalsel, Kalteng dan berakhir di Kalbar.

Pegunungan Meratus. Foto: Greenpeace

Konversi Kawasan Hutan Jadi Pemandangan di Sepanjang Jalan Tim Kepak Sayap Enggang

Syahrani, warga Sungai Danau, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan (Kalsel) menceritakan betapa alam dan hutan mereka telah rusak. Bencana pun datang.  Kini, setiap tahun banjir hadir bak langganan.

Pada 2010, banjir menghantam dan merenggut nyawa satu keluarga sebanyak empat orang meninggal. Tiga orang,  dua anak, sang ayah tak ditemukan jasadnya hingga kini. Banjir merendam desa ini hingga setinggi pintu rumah. Berlangsung berminggu-minggu.

“Kalau sudah banjir, kami tak mampu lagi beraktivitas, anak-anak pun terpaksa bolos sekolah,” katanya. Dia menuturkan kisah pahit warga desa ini kepada tim Kepak Sayap Elang-Mata Harimau yang singgah ke desa mereka.

Tim Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau melihat kehancuran kawasan hutan di Kalsel. Foto: Greenpeace

Akhirnya, masyarakat yang merasakan dampak buruk dari kerusakan lingkungan, selain tumbuhan dan satwa liar yang kehilangan habitat. Konversi kawasan hutan menjadi konsesi perkebunan, hutan tanaman industri (HTI) dan pertambangan, menjadi menu pemandangan tim Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau di hari pertama mereka, Senin(16/9/12). Seperti terjadi di Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Kalsel. Konversi lahan hutan untuk perkebunan dan pertambangan.

“Masa depan apa yang ditawarkan bagi penerus bangsa di wilayah ini, jika bencana ekologis akibat konversi lahan hutan merenggut hak-hak mereka,” kata Hegar Wahyu Hidayat, Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, dalam rilis kepada media, Selasa(17/9/12).

Dari tahun ke tahun, katanya, kerusakan hutan terus terjadi.  Luas total hutan alam tersisa di Kalsel kurang dari 500 ribu hektare. “Tumpang tindih izin konsesi cermin kebijakan tidak tegas. Moratorium penebangan hutan harus mampu menyelamatkan hutan tersisa, perbaikan tata kelola hutan negeri ini tidak boleh hanya berhenti pada slogan.”

Kala hutan mereka rusak, alam terganggu, suasana desa yang tenang dan indah menjadi berubah muram kala bencana banjir rutin datang. Foto: Greenpeace

Zulfahmi, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia mengatakan, konversi kawasan hutan menjadi konsesi perkebunan, HTI,  maupun pertambangan terjadi. “Inilah fakta di lapangan, bagaimana kawasan hutan hancur secara sistematis. Kita harus bertindak bersama menyelamatkan yang tersisa.”

Penyelamatan hutan, ucap Zulfahmi, sebuah keharusan. “Greenpeace mendesak pemerintah  melindungi hutan menyeluruh demi masa depan,  dan meminta industri beralih kepada operasi lebih lestari dan berkelanjutan.”

Tim bergerak. Lima motor bercorak harimau dan tiga motor bercorak enggang, mengepak dan mengaum gagah berani dari Tanah Bumbu melaju menjadi saksi keterancaman hutan Kalimantan.  Kedatangan Tim Kepak Sayap Enggang -Mata Harimau disambut Bupati Tanah Bumbu, Mardani H Maming. “Saya sangat senang dan mendukung kegiatan peduli lingkungan dan pelestarian hutan semacam ini, “kata Mardani.

Tambang menghapus keindahan alam menjadi gersang. Foto: Greenpeace

Kepak Sayap Enggang Telusuri Hutan dan Perkampungan

TIM Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau Tur mulai menyusuri hutan dan perkampungan di Kalimantan Selatan (Kalsel) Minggu(16/9/12). Beragam kegiatan sejak Jumat(14/9/12), diadakan mulai pameran foto lingkungan, penampilan musik Panting dan pembacaan puisi-puisi lingkungan.

Langkah awal tim yang terdiri dari berbagai organisasi antara lain, Walhi Kalsel dan Greenpeace ini merupakan upaya penyelamatan sisa hutan di kawasan ini.

Enggang menjadi tema karena burung ini satu spesies yang hidup di dahan pohon hutan Pulau Kalimantan. Enggang satu bagian kebudayaan masyarakat Suku Dayak. Keberadaan  burung ini mulai langka.

Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Hegar W Hidayat mengatakan, selain upaya penyelamatan sisa hutan Kalimantan, tur ini juga untuk melihat lebih dekat komunitas masyarakat yang telah menjaga kesetimbangan ekosistem hutan. “Upaya masyarakat ini bisa diikuti komunitas masyarakat lain yang hidup berdampingan dengan hutan,” katanya dalam rilis kepada media Minggu(16/9/12).

Tim bersiap bergerak dari kantor Walhi Kalsel. Foto: Walhi

Tim sedang mengisi bahan bakar. Foto: Walhi

Keseluruhan Tim Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau Tur. Foto: Walhi

Tujuan awal tim tur di Kalsel adalah Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut. Di desa ini, tim mencoba melihat aktivitas penggunaan hutan untuk pertambangan batubara dan perkebunan sawit skala luas.

Lalu, tim menuju Kecamatan Sungai Danau, Kabupaten Tanah Bumbu, bertemu masyarakat yang pernah terkena banjir.  “Cerita masyarakat diharapkan dapat menjadi pembelajaran untuk menjaga kelestarian hutan yang tersisa.”

Abetnego Tarigan, Direktur Eksekutif Walhi Nasional, mengatakan, tur ini juga untuk penyelamatan hutan Indonesia secara umum.  Mengingat, praktik perusakan hutan marak hingga mengakibatkan kerentanan negara ini akan bencana seperti kekeringan, kebanjiran, longsor, serta kepunahan sejumlah flora fauna serta keragaman hayati lain.

Video dari Greenpeace

Tur Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau Kalimantan Dimulai

TUR Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau Seri Kalimantan yang akan menjelajah alam Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Barat (Kalbar) resmi dimulai, Jumat(14/9/12) di Stadion 17 Mei, Banjarmasin.

Gawe yang digagas tim Kepak Sayap Enggang Tur Mata Harimau terdiri dari Greenpeace, Walhi Kalsel, Pena Hijau, SOB, Foker SHK, dan AMAN Kalteng ini dihadiri ribuan orang juga Wakil Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan, jajaran Polda Kalsel, dan pejabat Dinas Kehutanan.

Zulfahmi, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia mengatakan, tur akan memulai perjalanan di tiga provinsi, bermula dari Kalsel, Kalteng dan berakhir di Kalbar. “Sambutan Wagub Kalsel kebanggaan tersendiri bagi kami. Ini suatu dukungan besar dari jajaran pemerintah terhadap kampanye pelestarian hutan,” katanya dalam rilis kepada media.

Wakil GUbernur Kalsel bersama tim Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau. Foto: Walhi

Tur ini lanjutan dari Tur Mata Harimau yang berlangsung di Sumatera tahun lalu. “Ini untuk melihat langsung kondisi terkini hutan alam Indonesia. Juga mengajak seluruh masyarakat ikut menjaga dan mengawasi hutan alam agar terhindar dari kerusakan yang lebih mengenaskan.”

Tahun lalu, Greenpeace bersama Walhi, WBH, dan Warsi melakukan perjalanan sepanjang Sumatera mulai dari Riau hingga Sumatera Selatan menggunakan motor trail dan kostum bercorak harimau.

Tarian Sinoman Handra, khas Banjar turut mewarnai acara pelepasan tim Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau. Foto: Walhi

Tur Mata Harimau, tahun lalu menyusuri dan melintasi hutan-hutan alam yang tersisa di sepanjang Sumatera, yang menjadi habitat asli Harimau Sumatera. Kerusakan hutan dan keindahan hutan alam, hanya tinggal sedikit dan terancam punah di sepanjang jalur Sumatera menjadi suguhan selama perjalanan Tim Mata Harimau, mendorong  harimau Sumatera terus menuju kepunahan.

“Kami mengusung enggang sebagai ikon penyelamatan hutan. Karena enggang simbol budaya masyarakat Kalimantan yang terancam punah. Ia bernasib sama dengan harimau Sumatera,”  kata Hegar Wahyu Hidayat, Direktur Eksekutif Walhi Kalsel.

Selamatkan Hutan Kalsel, bunyi salah satu banner di acara pelepasan tim Kepak Sayap Enggang-Mata Harimau. Foto: Walhi

Hutan Kaltim Makin Memprihatinkan

Salah satu tambang di dalam kawasan bukit Suharto. Foto: Situs resmi pemerintah Kalimantan Timur


SALAH satu hutan lindung terbesar di Indonesia, telah dihancurkan oleh penebang-penebang ilegal dan pertambangan. Kondisi ini bisa menyebabkan hutan tak lagi menyimpan nilai-nilai keilmuan. Demikian dikatakan Chandra Boer, Direktur Pusat Penelitian Hutan Tropis di Universitas Mulawarman, Samarinda.

Dia mengatakan, kondisi sebagian hutan di Kabupaten Kutai Kartanegara, saat ini sangat memprihatinkan. Sekitar 20.271 hektare (ha) hutan penelitian di dalam bukit Suharto bertahun-tahun digunakan mahasiwa kehutanan Universitas Mulawarman untuk belajar. Sebab, di sana tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi.

“Saat ini, hanya 6.000 ha tetap utuh, yang lain rata oleh penebangan ilegal, pertambangan dan pembangunan perumahan,” katanya, dikutip dari Jakarta Globe, Kamis(17/5/12).

Chandra menambahkan, dengan kegiatan-kegiatan bisnis ini telah mengubah lebih dari 61.850 ha hutan masyarakat dengan memberikan 22 konsesi kepada perusahaan, meskipun di hutan konservasi.

Tigabelas dari konsesi itu masuk dalam hutan universitas. “Kini kita tak bisa menyebut hutan Suharto sebagai hutan konservasi lagi,” kata Chandra.

Kahar Al Bahri, koordinator cabang Kalimantan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) setuju bahwa pertambangan di hutan sudah harus menjadi perhatian.

Salah satu jalan masuk ke Taman Hutan Bukit Suharto, Kutai kartanegara. Foto: Wikipedia


Menurut dia, Jatam telah melaporkan beberapa perusahaan ke polisi atas dugaan penambangan ilegal. Namun, sampai sekarang tidak ada tindakan dari aparat atau penguasa untuk menghentikan kegiatan itu.

Andi Harun, mewakili DPRD mengatakan, akan memanggil rektor Mulawarman untuk membahas kerusakan di hutan penelitian universitas.

“Bagaimana bisa mengizinkan pertambangan di dalam hutan yang jelas untuk penelitian mahasiswa.”