,

Begini Petani Tlogoweru Ajak Serak Jawa Jaga Sawah (Bagian 2)

Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur, Demak, jadi contoh sukses mengusir hama tikus menggunakan burung hantu atau serak Jawa (Tyto alba). Cara alami ini membuat tikus menjauh, lahan pertanian aman dari racun dan produksi tani meningkat.

Bagaimana cara warga mengajak burung hantu? Awalnya, warga mengamati keberadaan serak Jawa di sekitar desa. Pengamatan hampir enam bulan. Burung-burung itu ada yang tinggal di gedung sekolah, rumah warga, juga pepohonan. Setelah diketahui, mereka menggunakan metode reintroduksi, dalam melestarikan burung. Yakni, menangkap untuk ditangkarkan lalu dilepas lagi.

“Kita mengumpulkan 27 burung. Ditempatkan di kandang, diberi makan tikus dan marmut,” kata Jumiati, mantan Kepala Desa Tlogoweru, Kamis (12/11/15), di Demak.

Setelah dipelihara, 27 burung itu dikenalkan rubuha (rumah burung hantu). Selama tiga hari, burung-burung selalu diberi makan, setelah itu dilepas dengan harapan mereka mencari makan sendiri. Lalu ditunggu mau pulang ke rubuha atau tidak.

“Ternyata mereka mau pulang. Alhamdulillah,” kata istri Soetedjo. Soetedjo, Kepala Desa Tlogoweru sekarang, dan salah satu pelopor pemanfaatan burung hantu.

Empat tahun berselang, rubuha di Tlogoweru, berawal dari hitungan jari kini sudah 150. Terdiri dari 60 rubuha sederhana dan 90 permanen. Dari 150 rubuha itu, kata Soetedjo, ditempati serak Jawa sekitar 75%. Dia mengatakan, estimasi populasi burung sampai penghitungan Mei 2015 sekitar 500.

Karantina serak Jawa

Serak Jawa mampu bertelur dua hingga sembilan butir per ekor. Jarak telur menetas antara satu dan lainnya dua-tiga hari. Anakan burung jadi tak sama besar. Dalam keadaan tertentu, anakan paling kecil sering tak berkembang sempurna bahkan mati karena makanan dihabiskan anak lebih besar. Petani kadang menemukan anakan jatuh saat belajar terbang.

Untuk menyelamatkan anak-anak burung itu, Desa Tlogoweru membuat karantina, selebar enam meter, panjang 14 meter, tinggi tujuh meter. Ada pagar beton setinggi 1,3 meter, sisanya kawat anyam. Dalam karantina itu, saya melihat ada sekitar 25 burung hantu. Salah satu patah sayap.

Karantina. Serak Jawa, menggelantung di kawat anyam karantina di Desa Tlogoweru, Demak. Foto: Nuswantoro
Karantina. Serak Jawa, menggelantung di kawat anyam karantina di Desa Tlogoweru, Demak. Foto: Nuswantoro

Menurut Soetedjo, fungsi karantina bukan untuk penangkaran, lebih sebagai laboratorium perawatan, dan melatih burung. Pengembangbiakan alami.

Pujoarto, penggagas karantina serak Jawa di Tlogoweru menjelaskan, apa yang mereka lakukan selain belajar dari berbagai literatur juga coba-coba. “Misal bangun rubuha, akhirnya ditemukan yang paling diminati burung hantu berpintu dua. Kami punya juga yang berpintu satu hingga empat.”

Pemakan tikus

Ciri fisik serak Jawa, wajah berbentuk hati, bulu putih lembut. Bagian atas kelabu, dan terdapat garis berwarna gelap. Bagian dada ke bawah berwarna putih. Iris mata berwarna hitam. Paruh putih menghadap ke bawah. Bulu serak Jawa betina lebih gelap dan cederung kecoklatan, yang jantan putih atau lebih terang.

Dari pengamatan, anak serak Jawa, baru bisa terbang setelah empat bulan. Usia lima bulan, bisa berburu tikus, dan sembilan bulan mulai kawin. Induk burung mengerami telur 29-34 hari. Anak burung akan diasuh selama dua sampai tiga bulan. Burung dewasa mampu makan tikus dua sampai tiga ekor per hari. Saat menyuapi anak, konsumsi tikus lebih dari itu.

Menurut Soetedjo, serak Jawa setahun bisa bertelur dua kali. Yang tinggal di rubuha, biasa betina, jantan bisa datang dan pergi. Serak Jawa tidak bisa membuat sarang. Sarang alami mereka biasa lubang-lubang pohon.

Sampai kini, katanya, belum ada gangguan signifikan pada burung hantu. Kemungkinan, katanya, ada ular makan telur burung, manusia menangkap atau menembak. Burung hantu juga belum dilaporkan mengganggu meski populasi terus bertambah.

“Mungkin karena tikus masih ada hingga keseimbangan terjaga. Sejauh yang diamati serak Jawa hanya makan tikus. Ketika diberi daging ayam sakit lalu mati.”

Membuat Rubuha relatif mudah. Secara fisik mirip kandang merpati, diletakkan di tempat terbuka. Sebaiknya memakai bahan tahan panas dan hujan, misal papan gipsum. Ukuran kandang 40 x 60 x 60 cm. Dengan tiang penyangga lima meter. Lebar dan tinggi pintu sedikit lebih besar dari tubuh burung dewasa, misal, 10 x 12 cm. Tiang penyangga bisa menggunakan bambu, kayu, atau beton bertulang. Jarak antar rubuha sekitar 100 meter.

Soetedjo menyarankan, agar pemanfaatan burung hantu berhasil maka tahapan yang dilalui, pertama, lebih dulu petani membentuk kelompok. Lalu mengamati ada tidak burung hantu di lingkungan sekitar, membuat rubuha, pengamanan baik sarang alami maupun sarang buatan, dan pelestarian. Habis

Serak Jawa dan anak-anak mereka, serta telur yang belum menetas di rubuha. Foto: Nuswantoro
Serak Jawa dan anak-anak mereka, serta telur yang belum menetas di rubuha. Foto: Nuswantoro
(Visited 1 times, 3 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , ,