Lingkungan Hidup

Danau Limboto dan Kesaksian Benteng Otanaha (bagian – 1)

Danau Limboto yang terlihat dari benteng Otanaha. Danau telah banyk berubah, menjadi daratan dan pemukiman. Foto: Christopel Paino

Danau Limboto yang terlihat dari benteng Otanaha. Danau telah banyak berubah, menjadi daratan dan pemukiman. Foto: Christopel Paino

Senjata-senjata itu telah lengkap. Pasukan dari Kerajaan Hulondalo siaga di Benteng Otanaha. Sejauh mata memandang, ketegangan terlihat di Danau Limboto. Para pasukan terus mengawasi. Di seberang, tepatnya di Bolihuangga, pasukan dari kerajaan Limutu juga bersiap mengarahkan senjata. Jika perundingan ini gagal, pertumpahan darah lebih besar akan terjadi. Perang yang sudah satu abad lamanya akan berkecamuk kembali.

Kini, harapan ada di dua pembesar kerajaan yang akan mengucap janji di Danau Limboto. Seorang Panglima bernama Popa adalah representasi rakyat dari kerajaan Limutu. Sedang raja dari kerajaan Hulondalo mengutus panglimanya, Eyato, untuk memimpin upaya perdamaian. Mereka naik perahu. Bertemu dalam satu titik. Masing-masing pasukan mengikuti mereka dari belakang.

Di tengah danau, Popa dan Eyato mencabut keris masing-masing. Sembari mengacungkan keris yang di ujungnya telah ditancapkan lemak kerbau, mereka bersumpah. “Siapa yang melanggar sumpah duo limo lo pohalaa, maka dia akan hancur seperti lemak yang di keris ini.”

Sumpah lainnya terus terucap. Sejurus kemudian, mereka bersepakat melempar semua senjata, seperti pedang, tombak, rantai emas, bahkan cincin ke Danau Limboto, sebagai simbol perdamaian.

Nukilan di atas diceritakan oleh budayawan Gorontalo, Alim Niode, kepada Mongabay. Ini merupakan peristiwa penting yang terjadi di abad XVII. Ketika itu, perseteruan terjadi antara dua kerajaan besar, yaitu Hulondalo (Gorontalo) melawan Limutu (Limboto). Untuk mengakhiri pertumpahan darah, kedua kerajaan mengikat sumpah perdamaian di Danau Limboto, yang terkenal dengan nama Uduluwo Limo Lo Pohalaa.

Dalam narasi lainnya, Harto Juwono, sejarawan lulusan Universitas Indonesia, yang menulis naskah “Gorontalo Abad XVII”, mengatakan bahwa dalam perdamaian itu kedua kerajaan mengadakan upacara sakral dengan membawa pusaka kerajaan masing-masing berupa rantai emas.

Kedua ujung rantai itu dipegang raja Hulondalo dan Limboto. Mereka memasukannya ke air untuk direndam, tak lupa, keduanya juga mencuci pedang pusakanya dengan air Danau Limboto. Kedua pihak berjanji untuk berdamai dan hidup berdampingan. Mereka sepakat menyelesaikan segala sengketa dengan jalan musyawarah.

Benteng Otanaha, saksi bisu kerusakan Danau Limboto. Sumber: Wikipedia

“Ketika peristiwa itu terjadi, banyak yang tidak melihat posisi Benteng Otanaha. Semua mata hanya tertuju pada Danau Limboto. Padahal Benteng Otanaha dan Danau Limboto itu tidak bisa dipisahkan. Keduanya terkait erat,” jelas Alim.

“Kalau saja tidak ada perdamaian di Danau Limboto, perang besar sudah terjadi. Pasukan yang berada di Benteng Otanaha akan perang secara terbuka melawan pasukan yang sudah bersiap di Bolihuangga.”

Bolihuangga kini telah menjadi nama kelurahan di Limboto. Bolihuangga, kata Alim, artinya adalah rumah persenjataan. Pasukan dari kerajaan Limboto siap-siaga di tempat ini.

Lalu, apa pentingnya Benteng Otanaha terhadap Danau Limboto. Bukankah benteng pertahanan biasanya berhadapan dengan laut?

Di lihat dari struktur dan bentuknya, kata Alim, benteng itu dibuat oleh Portugis. Benteng Otanaha sudah ada sebelum perang satu abad antara Kerajaan Hulondalo dan Limutu terjadi. Ketika itu, Spanyol dan Portugis sudah wara-wiri di Gorontalo dan mencoba mempengaruhi raja-raja di Gorontalo dengan tujuan untuk menguasai sumber daya alam.

“Posisi Benteng Otanaha sangat strategis karena memantau aktivitas yang terjadi di danau. Danau ini, melalui Sungai Topodu bisa tembus ke laut Gorontalo. Bahkan, tahun 1900-an, kakek saya yang berasal dari Bone, Sulawesi Selatan naik perahu hingga menyusuri wilayah yang saat ini disebut jembatan jodoh.”

Selain memantau kejadian di danau Limboto, pada masa Raja Panipi, Benteng Otanaha dijadikan  wilayah pertahanan melawan Belanda yang datang dari arah laut di Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Namun yang menjadi pasukan pemukul adalah pasukan Bubohu, yang saat ini dikenal sebagai tempat wisata bernama Desa Bubohu Bongo. “Sayangnya, kini Danau Limboto tidak terawat dan dangkal. Daratan nampak jelas, ” papar Alim.

Pemandangan danau dari salah satu sudut Benteng Otanaha. Foto: Christopel Paino

Pemandangan danau dari salah satu sudut Benteng Otanaha. Foto: Christopel Paino

 

Dangkal

Secara administratif, Danau Limboto berada di wilayah Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo. Berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup Riset dan Teknologi  Provinsi Gorontalo, luas danau Limboto tahun 1932 adalah 8.000 hektar dengan kedalaman 30 meter. Tahun 1970 luasnya menjadi 4.500 hektar dan kedalamannya sekitar 15 meter. Tahun 2003, luas danau hanya sekitar 3.054,8 hektar, dan kedalamannya menyusut menjadi 4 meter.

Penyusutan ini terus berlangsung. Tahun 2010, luas danau 2.537,2 hektar dengan kedalaman 2 sampai 2,5 meter. Tahun 2012, luasan danau tersisa hanya 2.500 hektar dengan kedalaman 1,876 sampai 2,5 meter.

Menurut Alim Niode, perhatian pemerintah ke Danau Limboto sifatnya aksesoris semata. Terlalu banyak kepentingan politis dan pendekatan proyek. Kini, di sekitar danau banyak berdiri permukiman penduduk. Keramba ikan membentuk koloni sendiri, di tengah atau pinggiran danau. Pun eceng gondok yang tumbuh membentuk sebuah pulau. “Namun, Benteng Otanaha tidak banyak berubah. Dari puncak benteng, danau terlihat jelas. Benteng ini saksi bisu kehancuran Danau Limboto.”

Akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Hasyim, menilai bahwa manusia telah mempercepat kerusakan Danau Limboto. Kerusakan non-teknis lebih disebabkan oleh kebijakan pengelolaan danau dan sumber daya alam secara umum oleh pemerintah daerah. Meskipun dilakukan pengerukan, namun tidak akan menyelesaikan masalah karena di wilayah hulu, hutannya tidak diperbaiki. “Saat ini, Pemerintah Kabupaten Gorontalo gencar-gencarnya kerja sama dengan perusahaan sawit di wilayah yang merupakan hulu Danau Limboto.”

Direktur Perkumpulan Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda), Ahmad Bahsoan, berpendapat sama. Untuk menyelamatkan Danau Limboto yang kritis harus dilakukan pembenahan di hulu. Menurutnya, kalau pemerintah memberikan izin-izin pertambangan atau perkebunan skala besar di daerah hulu, maka itu sama saja bohong karena akan semakin membuat Limboto yang berada di hilir semakin sakit.

Sebagaimana kisah perdamaian Kerajaan Hulondalo dan Limutu, salah satu janji yang diucapkan adalah jangan sampai danau surut. Jika terjadi, dikhawatirkan peperangan akan berkecamuk lagi.

Kondisi Danau Limboto yang terus mengalami pendangkalan. Eceng gondok terus memenuhi danau bersejarah ini. Foto: Christopel Paino

 

 

Seruan Tolak Reklamasi Teluk Benoa dari Washington

Aksi warga di Washington DC menolak reklamasi Teluk Benoa, Bali, yang bakal membahayakan bagi warga dan lingkungan. Foto: Ika Inggas

Aksi warga di Washington DC menolak reklamasi Teluk Benoa, Bali, yang bakal membahayakan bagi warga dan lingkungan. Foto: Ika Inggas

Washington DC Against The Destruction of Bali’s Environment, Tolak Reklamasi Teluk Benoa.” Begitu spanduk penolakan reklamasi Teluk Benoa, Bali, terbentang di Washington DC, Sabtu (11/4/15). Hari itu, warga Indonesia bersama warga Washington aksi damai di depan Reflection Pool, Capitol Hill, Gedung Kongres Amerika.

Merekapun sambil menyanyikan lagu Bali Tolak Reklamasi. “Sayang Bali…tolak reklamasi…”

Made Supriatma, Juru Bicara aksi dalam rilis kepada media mengatakan, aksi ini mendesak Presiden Indonesia, Joko Widodo mencabut Perpres 51/2014. Aturan itu, katanya, keluar menjelang akhir masa jabatan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. “Peraturan ini disinyalir sarat kepentingan bisnis karena memberi jalan menguruk wilayah konservasi Teluk Benoa,” katanya.

Kawasan Teluk Benoa, yang bakal direklamasi sekitar 700 hektar dengan mendatangkan tanah urukan dari berbagai pulau dan daerah sekitar seperti Banyuwangi dan Lombok. “Bisa dibayangkan keuntungan akan dikeduk investor karena proyek ini terletak di wilayah prime spot wisata Bali yang memiliki harga tanah termahal?” Namun, dampak lingkungan mengintai warga sekitar.

“Ada segelintir orang akan mendapat keuntungan sangat besar dari reklamasi, sementara rakyat harus menanggung jika terjadi kerusakan. Ini sangat tidak adil,” kata Ika, peserta aksi.

Dalam aksi ini, mereka juga mendesak para elit politik lokal dan elit pemerintahan di Bali mendengarkan suara rakyat. “Penolakan pengurugan Teluk Benoa tidak hanya oleh masyarakat Bali. Juga skala internasional.” Aksi di Washington, D.C. salah satu dari aksi serupa di berbagai negara.

Daniel Ziv, warga Kanada yang tinggal di Bali juga sutradara film dokumenter ‘Jalanan,’ mengatakan, aksi ini diharapkan bisa mendukung perjuangan rakyat Bali penolak reklamasi Teluk.

Penolakan di dalam negeri terhadap rencana ini terjadi di berbagai daerah, tak hanya Bali, juga Jakarta, Solo, Jogjakarta dan lain-lain. Dukungan penolakan pun datang dari berbagai kalangan, dari masyarakat biasa, pekerja wisata, akademisi, seniman sampai musisi. Di Bali, mereka membentuk Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (FoRBALI). Saking begitu kuat investor menguruk Benoa, berbagai aksi dilakukan, sampai-sampai ada organisasi yang menamakan diri mirip-mirip, ForBALI, yakni, ForBAli’s (Forum Bali Shanty), yang mendukung reklamasi dengan menggunakan kata baru “revitalisasi Teluk Benoa.”

Warga Indonesia bersama warga Washington aksi damai di depan Reflection Pool, Capitol Hill, Gedung Kongres Amerika. Mereka menyerukan Jokowi mencabut peraturan Presiden yang membuka peluang reklamasi Teluk Benoa. Foto: Ika Inggas

Warga Indonesia bersama warga Washington aksi damai di depan Reflection Pool, Capitol Hill, Gedung Kongres Amerika. Mereka menyerukan Jokowi mencabut peraturan Presiden yang membuka peluang reklamasi Teluk Benoa. Foto: Ika Inggas

Aksi sambut Jokowi

Pada Rabu (8/4/15), ForBALI menyambut kedatangan Presiden Jokowi di Bali yang akan menghadiri Kongres PDIP dengan aksi longmarch. Ratusan massa beraksi di Lapangan Puputan Renon seputar Kantor Gubernur Bali.

Sejumlah orang memakai topeng wajah Jokowi dan membawa poster meminta Presiden memastikan membatalkan Perpres era SBY yang mengizinkan reklamasi. “Ini juga saksi kita akan memberikan peringatan untuk diperjuangkan Presiden Jokowi, mencabut Perpres 51 dan menghentikan izin reklamasi. Banyak rela tidak golput hanya berharap pada Jokowi memperbaiki kebijakan,” teriak I Wayan “Gendo” Suardana. Di Bali, PDIP kembali menang 70% setelah sempat kalah dari parpol lain pada Pemilu sebelumnya.  

Baliho ForBALI dirusak

Kongres PDIP berlangsung sejak Kamis (9/4/15) di Sanur, Denpasar. ForBALI menyebut sejumlah baliho tolak reklamasi yang dipasang kelompok muda kembali dicabut paksa atau dirusak secara misterius. Terutama di rute perjalanan Bandar udara dan sekitar kongres. Hal serupa terjadi beberapa kali saat SBY datang ke Bali.

ForBALI juga berusaha mendekat dengan mengibarkan bendera tolak reklamasi dengan perahu-perahu tradisional nelayan, di pesisir depan hotel lokasi kongres.

Jika reklamasi berjalan, kata Gendo,  tak hanya Teluk Benoa juga mengabaikan suara penolakan warga juga fakta-fakta ancaman ke depan. Dalam studi kelayakan oleh Universitas Udayana, menyebutkan, rencana reklamasi Teluk Benoa tidak layak berdasarkan aspek lingkungan, aspek teknis, sosial budaya dan ekonomi maupun finansial.

Bukan itu saja. Hasil kajian modeling Conservation International, menyatakan, reklamasi Teluk Benoa seluas 700 hektar hanya akan membuat wilayah sekitar seperti Sanur Kauh, Suwung Kangin, Pesanggaran, Pemogan, Simpang Dewa Ruci, Bandara Ngurah Rai, Tanjung Benoa tenggelam. Wilayah-wilayah ini akan kekurangan tampungan banjir dari lima daerah aliran sungai (DAS) besar di sekitar itu yaitu, DAS Badung, DAS Mati, DAS Tuban, DAS Sama dan DAS Bualu.

Kehadiran Iwan Fals sebagai tamu spesial dalam Konser Svara Bumi, guna mendukung tolak reklamasi Teluk Benoa di Jakarta, Selasa (30/9/14). Foto: Sapariah Saturi

Penolakan dari Banyuwangi

Pemuda asal Banyuwangi juga berorasi minta pemerintah Jawa Timur menolak rencana pengambilan pasir dari pesisir buat reklamasi Teluk Benoa. Penolakan  dari Banyuwangi lewat kampanye ini massif di media sosial sampai membuat petisi. 

Dalam petisi itu, Walhi Jawa Timur, mendesak Gubernur menolak izin penambangan pasir laut di Banyuwangi, untuk mereklamasi Teluk Benoa. Disebutkan dalam petisi itu, PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) mengincar pasir laut di pantai dan pesisir Muncar, Rogojampi dan Kabat, Banyuwangi.

Kawasan Muncar, Rogojampi dan Kabat, selama ini dikenal sebagai penghasil ikan terbesar di Indonesia. Data BPS 2014, di Muncar, ada 12.714 jiwa sebagai nelayan. Di Rogojampi dan Kabat, sekitar 1.488 warga di sektor perikanan. Jumlah ini belum memperhitungkan tenaga kerja pada 309 unit pengolahan ikan. Di Pelabuhan Muncar, ada 27 industri penepungan ikan, 13 pengalengan ikan, dan 27 pembekuan ikan.

TWBI berencana reklamasi Teluk Benoa dengan menguruk laut seluas 700 hektar. Rencana ditolak berbagai elemen masyarakat karena berpotensi merusak konservasi pantai demi kelestarian keragaman hayati, dan mengganggu basis perekonomian masyarakat berbasis maritim.

Untuk memuluskan usaha pengerukan pasir laut di Banyuwangi, TWBI bertemu Pemerintah Banyuwangi dan survei lokasi. Izin pertambangan pasir laut menunggu persetujuan Gubernur Jatim. Usaha serupa ditolak di Nusa Tenggara Barat (NTB). Gubernur NTB, M. Zainul Majdi menyatakan, pengerukan pasir merusak ekosistem lingkungan di wilayah mereka.

“Pengerukan pasir laut di Banyuwangi akan mengancam kelestarian kawasan pantai dan laut di wilayah itu. Ekosistem pantai dan pesisir seperti hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun, berikut sumberdaya hayati memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat sekitar,” bunyi petisi itu.

Ekologi kawasan pantai dan pesisir yang hancur akan menimbulkan dampak luas seperti biota laut hilang dan ancaman bencana ekologis seperti abrasi serta banjir rob.

Aksi ForBALI menyambut kedatangan Presiden Jokowi dan mendesak pencabutan perpres dan batalkan reklamasi Teluk Benoa. Foto: Luh De Suryani

Aksi ForBALI menyambut kedatangan Presiden Jokowi dan mendesak pencabutan perpres dan batalkan reklamasi Teluk Benoa. Foto: Luh De Suryani

Terampasnya Ruang Terbuka Hijau dan Ruang Interaksi Sosial Publik

 *Ari Mochamad, anggota Thamrin School of Climate Change and Sustainability. Mantan Sekretaris Pokja Adaptasi Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI). Tulisan ini merupakan opini penulis.

 

Kota Jakarta, sebagai ibukota dan pusat bisnis, terus membangun. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak gedung-gedung bertingkat dibangun. Proyek jalan dan flyover pun dilanjutkan. Akan tetapi, pembangunan itu, juga mengambil ruang terbuka hijau dan ruang sosial yang ada.

Terampasnya ruang terbuka hijau dan ruang interaksi sosial publik serta tergusurnya kawasan pejalan kaki (trotoar) merupakan nilai eksternalitas yang hilang akibat perluasan dan pembangunan jalan baru. Ironisnya semua itu dilakukan untuk mengakomodasi pergerakan kendaraan bermotor yang didominasi oleh kendaraan bermotor pribadi.

Nilai eksternalitas yang hilang tersebut merupakan nilai atau bagian dari daya dukung lingkungan yang seharusnya pula menjadi perhitungan dari kebijakan tata ruang wilayah dan kota serta kebijakan pengelolaan transportasi yang kemudian dirumuskan menjadi kebijakan pengelolaan kualitas udara di Perkotaan. Sebaliknya berkurangnya nilai eksternalitas tersebut menjadi beban masyarakat melalui berkurangnya kualitas hidup akibat rendahnya kualitas udara bersih, hilangnya daya perekat sosial antar masyarakat seiring hilangnya kawasan terbuka publik dan berkurangnya jumlah pepohonan dibanding yang ditanam.

Salah satu ruas jalan di Tomang, Jakarta Barat, yang menghilangkan trotoar untuk pelebaran jalan. Pejalan kaki menjadi riskan ketika melewati jalan tersebut. Foto : Alfred Sitorus / KPBB

Salah satu ruas jalan di Tomang, Jakarta Barat, yang menghilangkan trotoar untuk pelebaran jalan. Pejalan kaki menjadi riskan ketika melewati jalan tersebut. Foto : Alfred Sitorus / KPBB

Efektifitas dan efesiensi ekonomi masyarakat pun dirugikan melalui hilangnya waktu produktif kerja karena kemacetan, pemborosan bahan bakar dan daya tahan dari kendaraan bermotor yang dipergunakan. Perencanaan tata ruang dan pengelolaan sistem transportasi yang tidak terkonsep dengan baik serta pelanggaran terhadap kedua kebijakan yang telah ditetapkan memberikan sumbangan terhadap pencemaran udara perkotaan.

Dalam sistem ekonomi saat ini, bahasa angka dan nilai merupakan bahasa yang paling mudah dipahami oleh para pengambil kebijakan. Ketika dampak pencemaran terhadap sosial, ekonomi dan lingkungan  ‘nampak’ lebih kecil dibanding keuntungan dari perubahan kawasan hijau dan publik menjadi kawasan/areal bisnis atau jauh lebih kecil dibanding membangun infrastruktur jalan di dalam kota yang tidak layak serta penjualan kendaraan bermotor yang meningkat dari tahun ke tahun. Maka kebijakan akan lebih mengakamodasi kepentingan penggusuran ruang terbuka hijau/publik bagi aktifitas bisnis dan pembangunan jalan-jalan guna memberi tempat pada kendaraan bermotor pribadi.

Pembangunan  tempat dan kawasan bisnis atau perubahan peruntukan menjadi tempat bisnis dan pembangunan serta pelebaran jalan yang diluar perencanaan tata kota, menjadi sumber dari meningkatnya titik-titik kemacetan yang disertai memburuknya kualitas udara. Dari aspek kehidupan sosial, dituding juga menjadi penyebab tumbuhnya kerawanan sosial.

Tidaklah mengherankan apabila laporan yang disampaikan beragam lembaga seperti Bank Dunia, ADB, perguruan tinggi dan lembaga penelitian serta LSM  bahkan oleh kementerian yang terkait dengan persoalan ini, bahwa publik dan pemerintah harus menanggung kerugian riil berupa pengobatan dan mengatasi dampak pencemaran karena lingkungan dan kesehatan akibat ketidakkonsistenan kebijakan tata ruang dan manajemen transportasi. Tidak kurang kampanye dilakukan berbagai pihak yang peduli dan memberikan perhatian, menyampaikan fakta terhadap dampak-dampak biaya sosial yang tinggi yang akan menjadi beban publik, dan berpotensi menurunkan kualitas hidup mereka.

Koalisi pejalan kaki melakukan aksi mempertanyakan trotoar jalan yang dihilangkan di salah satu ruas jalan di Tomang, Jakarta Barat.    Pelebaran jalan yang menghilangkan trotoar tidak memperhatikan hak pejalan kaki. Foto : Alfred Sitorus / KPBB

Koalisi pejalan kaki melakukan aksi mempertanyakan trotoar jalan yang dihilangkan di salah satu ruas jalan di Tomang, Jakarta Barat. Pelebaran jalan yang menghilangkan trotoar tidak memperhatikan hak pejalan kaki. Foto : Alfred Sitorus / KPBB

Melirik kasus pembangunan enam ruas jalan tol di Jakarta yang meliputi ruas Kemayoran – Kampung Melayu,  Rawa Buaya – Sunter,  Kampung Melayu – Tanah abang – Pulo Duri, Sunter – Pulo Gebang, Pasar Minggu–Cassablanca,  dan Ulujami–Tanah Abang, seharusnya menjadi pembelajaran bersama dari kegagalan jalan tol sebagai  solusi kemacetan.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan pembangunan jalan tol. Masalahnya, apakah jalan tol tersebut memang dibutuhkan? Penilaian adanya kebutuhan harus didasarkan kepada beberapa pertimbangan. Misalnya, apakah ruas jalan tol tersebut merupakan bagian dari solusi dari sistem transportasi di Jakarta? Apakah ruas jalan tol tersebut sudah memperhatikan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan? Apakah ruas jalan tol tersebut sudah menjadi prioritas masyarakat dalam upaya memperbaiki pelayanan transportasi?

Terdapat dua paham dalam pengambilan kebijakan transportasi yang memberikan gambaran tarik menarik antara kebutuhan untuk mengedepankan paradigma pembangunan yang mengakomodir kepentingan para pemilik kendaraan pribadi (highway advocates). Penganut paham ini setuju bahwa pajak bahan bakar dan pajak lainnya yang dibebankan kepada kendaraan bermotror harus didedikasikan pada perbaikan  jalan raya.

Di sisi lain, paham dengan  paradigma  yang mengedepankan kebijakan dan pembangunan prasarana dan sarana angkutan umum yang baik, kawasan pedestrian dan area untuk memberikan akses kepada pengguna angkutan tidak bermotor serta mendorong lahirnya kebijakan yang dapat menghambat pertumbuhan kendaraan pribadi (Transportation Demand Management/TDM advocates). Pembela  TDM ini  berpendapat bahwa  pajak bahan bakar dan pajak kendaraan lainnya sepatutnya dialokasikan kepada penambahan dan perbaikan angkutan umum atau pembangunan sarana pedestrian dan angkutan non bermotor atau angkutan alternatif lainnya.

Rencana pembangunan enam ruas jalan tol dengan alasan mengurangi kemacetan merupakan ciri berpikir konvensional yang telah lama ditinggalkan oleh para pemikir dan pengambil kebijakan dalam mengatasi kemacetan. Pengalaman di California menunjukkan bahwa setiap 1 persen peningkatan jalan dalam setiap mil akan menghasilkan peningkatan kendaraan yang lewat sebesar 0,9 persen dalam waktu lima tahun (Hanson, 1995). Dan kiranya sangat mudah kita temukan kondisi ril tersebut di jalan tol dalam kota Jakarta — waktu kemacetan semakin panjang. Kemacetan yang terjadi terdistribusikan pada persimpangan-persimpangan yang lokasinya dekat dengan pintu-pintu keluar jalan tol tersebut. Bukti lainnya adalah bahwa flyover dan underpass tidak menjawab masalah kemacetan. Sebaliknya malah menjadi tempat kemacetan baru. Dengan demikian,  kebijakan ini tidak akan menjawab usaha penghematan energi dan mengefisiensikan waktu bepergian.

Sebaliknya pembangunan infrastruktur transportasi kota yang bertumpu pada pembangunan jalan  semakin mendorong  hasrat  kepemilikan kendaraan pribadi. Dengan kata lain, pembangunan jalan akan mendatangkan jumlah lalu lintas tambahan dalam jangka pendek dan jangka panjang (A. Rahman, Paul Barter and  Tamim Raad). Mahalnya ‘efesiensi dan efektifitas’ angkutan umum yang berbasis angkutan massal menjustifikaksi peningkatan jumlah kendaraan bermotor pribadi.  Berdasarkan prediksi Polda Metro Jaya, pada tahun 2015 jumlah total kendaraan bermotor di Jabotabek akan mencapai 11,37 juta yang didominasi oleh kendaraan bermotor (59 persen) dan mobil pribadi (31 persen).

Rasio volume kendaraan dengan panjang jalan di Jakarta yang sudah tidak lagi seimbang, membuat kemacetan menjadi keseharian. Jumlah kendaraan pribadi dan kemacetan menjadi faktor boronya konsumsi BBM di Indonesia. Foto : Jay Fajar

Rasio volume kendaraan dengan panjang jalan di Jakarta yang sudah tidak lagi seimbang, membuat kemacetan menjadi keseharian. Jumlah kendaraan pribadi dan kemacetan menjadi faktor boronya konsumsi BBM di Indonesia. Foto : Jay Fajar

Disisi lain, rencana pembangunan enam ruas jalan tol di dalam kota sepanjang 85 kilometer dan membutuhkan biaya sekitar Rp 23 triliun tersebut dikhawatirkan menambah persoalan pelanggaran tata guna tanah yang berakibat pada persoalan-persoalan perkotaan lainnya seperti hilang dan berubahnya ruang publik, kawasan ruang terbuka hijau, penggusuran dan perkembangan permukiman ke daerah pinggiran kota.

Dari sisi lain, rencana pembangunan jalan tol tersebut merupakan kemunduran karena tidak sejalan dengan kebijakan transportasi DKI Jakarta yang saat ini dipetakan melalui Pola Transportasi Makro. Kebijakan ini bertujuan mengurangi penggunaan kendaraan  pribadi dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanan angkutan umum yang berbasis massal. Disamping itu, rencana pembangunan jalan tol ini — yang sebelumnya tidak terdapat dalam Pola Transportasi Makro Provinsi DKI Jakarta – akan menambah titik-titik pemberhentian yang berpotensi besar menjadi ruang baru kemacetan.

Pembangunan dan pelaksanaan 15 koridor busway yang telah berjalan perlu ditingkatkan dari sisi pelayanan dan ketersediaan bus serta feeder. Keberanian Gubernur saat itu, Joko Widodo untuk merealisasikan pembangunan MRT merupakan modal baik, disaat pembangunannya akan menjadi bahan kritikan karena menimbulkan kemacetan.

Saat awal kehadiran transjakarta pun demikian, namun sejalan dengan waktu mendapat apresiasi masyarakat karena dianggap  sebagai jawaban untuk mengurangi kemacetan dan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi. Pembenahan kebijakan transportasi harus diikuti dengan pembongkaran perilaku birokrasi yang menghambat terwujudnya pengelolaan transportasi yang berpihak kepada publik dan lingkungan.

Pola transportasi makro di Jakarta yang masih mementingkan kendaraan pribadi, membuat jumlah kendaraaan pribadi meningkat dan tidak seimbang dengan rasio panjang jalan di Jakarta. Akibatnya, trotoar pun seringkali digunakan pemotor dan membahayakan pejalan kaki. Foto : Alfred Sitorus / KPBB

Pola transportasi makro di Jakarta yang masih mementingkan kendaraan pribadi, membuat jumlah kendaraaan pribadi meningkat dan tidak seimbang dengan rasio panjang jalan di Jakarta. Akibatnya, trotoar pun seringkali digunakan pemotor dan membahayakan pejalan kaki. Foto : Alfred Sitorus / KPBB

Oleh sebab itu untuk memperbaiki daya dukung lingkungan, khususnya di kawasan perkotaan, dibutuhkan upaya cepat dan terpadu yang meliputi;

-          Kebijakan tata ruang yang dilandasi oleh daya dukung lingkungan, yang mencakup aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Upaya ini dapat disentuh melalui pendekatan ekonomi lingkungan.

-          Kebijakan transportasi yang dilandasi oleh kapasitas ruang dan wilayah perkotaan. Artinya dengan kapasitas yang terbatas, sistem transportasi apa yang seharusnya dikembangkan untuk memfasilitasi kegiatan transportasi publik Jakarta. Berapa jumlah kendaraan bermotor yang layak beroperasi di sebuah wilayah perkotaan, mengingat kapasitas udara ambien akibat  akumulasi emisi dari gas buang kendaraan bermotor.

-          Diintegrasikannya luas wilayah kawasan hijau dan ruang publik sebagai penilaian sebuah kota yang manusiawi. Misalnya yang paling nyata adalah bagaimana kriteria Adipura memasukan angka perubahan tata ruang, penurunan dan perusakan yang memberi kontribusi pada pencemaran perkotaan sebagai angka terbesar terburuk dalam penilaiannya. Sebaliknya bukan kepada jumlah anggaran pemeliharaan/perawatan dan operasionalisasi/program yang dikhawatirkan justru berasal dari sumber yang menyebabkan menipisnya kawasan hijau dan publik.

-          Membangun dan memperluas kawasan hijau dan ruang publik sebagai bagian dari pengelolaan kualitas udara yang memiliki fungsi sosial dan lingkungan, tidak semata-mata fungsi estetika saja. Khusus untuk isu ini, pemerintah sudah seharusnya mendorong peran dunia usaha/bisnis untuk mau membeli kawasan-kawasan yang menjadi sengketa (dan tidak mampu dibeli pemerintah), kawasan-kawasan lainnya sebagai tindak dan peran social responsibility-nya serta public image. Kawasan tersebut kemudian harus difungsikan sebagai kawasan hijau dan ruang publik. Biaya perawatannya dapat menjadi beban instansi terkait dan perusahaan tersebut.

Terakhir, penulis mengkhawatirkan bahwa pada saat kita sudah tidak lagi memiliki ruang untuk menjalankan fungsi kemanusiaan kita, maka pada saat itu kita menjadi sekelompok masyarakat yang terasing bagi sesamanya. Semoga tidak terjadi

 

Relief Burung di Candi, Apa Maknanya?

Lukisan karya G.B. Hooijer (dibuat kurun 1916—1919) merekonstruksi suasana di Candi Borobudur pada masa jayanya. Sumber: Wikipedia

 

Candi merupakan bangunan bersejarah yang tak bisa dilepaskan dari kegiatan keagamaan Hindu dan Budha pada awal pendiriaannya. Hingga kini, beragam candi peninggalan abad ke-5 hingga ke-14 masih berdiri tegak di penjuru Indonesia yang persebarannya ada di Sumatera, Jawa, dan Bali, meski ada juga yang tinggal reruntuhan saja.

Secara garis besar, struktur bangunan candi terdiri dari tiga bagian. Kaki candi merupakan bagian dasar yang sekaligus menandakan denahnya seperti bujur sangkar, segi empat, atau bentuk lainnya. Tubuh candi merupakan tempat arca atau patung diletakkan yang biasanya terdapat di berbagai kamar. Sementara atap candi memiliki bentuk limasan yang bermahkota stupa atau kubah.

Hal menarik dalam sebuah candi adalah relief yang menghiasinya. Relief bukanlah sembarang bentuk pahatan yang bertujuan memperindah candi, melainkan memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan kehidupan dan keagamaaan saat itu. Menariknya, sebagai bagian dari kehidupan, burung hadir dalam berbagai simbol pada pahatan relief tersebut.

 

 

Candi Prambanan

Candi Prambanan. Sumber: Wikipedia

 

Candi Hindu terbesar di Indonesia dengan tinggi bangunan sekitar 47 meter ini terletak di Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman atau 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Candi yang diperkirakan dibangun pada pertengahan abad sembilan masehi ini memiliki tiga candi utama: Wisnu, Brahma, dan Siwa perlambang Trimurti. Ketiga candi ini masing-masing memiliki satu candi pendamping yaitu Angsa bagi Brahma, Nandini bagi Siwa, dan Garuda bagi Wisnu.

Khusus Garuda, candi pendamping ini berkisah tentang manusia berwujud burung bernama Garuda. Burung bertubuh emas ini digambarkan memiliki wajah putih, dengan sayap dan paruh layaknya elang. Sosok ini merupakan replika “Bennu” yang bermakna terbit atau bersinar.

Dalam Kitab Adiparwa diceritakan bahwa garuda merupakan burung gagah berani yang dijadikan kendaraan sekaligus lambang panji-janji Dewa Wisnu. Burung ini berdiam di surga, setelah misinya membebaskan ibunya dari perbudakan para naga selesai. Dalam cerita budaya Indonesia, garuda diperkirakan mulai menjadi mitologi sejak abad ke-10 Masehi. Presiden Soekarno memperkenalkan pertama kalinya kepada khalayak sebagai lambang negara pada 15 Februari 1950 di Hotel Des Indes Jakarta.

 

Relief garuda merupakan sosok manusia berwujud burung bernama Garuda. Sumber: Wikimedia

 

 

 

Candi Borobudur

Candi Borobudur yang dilihat dari pelataran sudut barat laut. Sumber: Wikipedia

Candi Borobudur yang terletak di Magelang, Jawa Tengah ini diperkirakan berdiri pada abad ke sembilan. Candi ini berukuran 123 x 123 meter dan memiliki 1.460 relief serta 540 stupa. Menurut sejarawan J.G. de Casparis, Borobudur merupakan tempat pemujaan. Casparis memerkirakan, pendiri Borobudur adalah Samaratungga, Raja Mataram Kuno keturunan Wangsa Syailendra. Pembangunan candi yang dimulai pada 824 Masehi ini diperkirakan memakan waktu setengah abad.

Dalam sebuah reliefnya, diceritakan bahwa Sang Budha Gautama melakukan reinkarnasi menjadi burung pelatuk. Burung yang suka mematuk batang pohon ini suatu ketika bertemu harimau yang kesakitan. Rahangnya terselip tulang kijang yang baru ia makan. Tanpa rasa takut, pelatuk mendekati harimau dan menolongnya. Tulang kijang berhasil ia lepaskan dan harimau pun tidak lagi mengaum kesakitan. Tanpa lupa mengucapkan kata terima kasih, si loreng segera berlalu. Pelatuk senang karena bisa membantu.

Di lain waktu, pelatuk kesulitan mendapatkan makanan. Tanpa sengaja ia bertemu harimau yang pernah ditolongnya itu. Apa daya, harimau tidak mau berbagi makanan dengannya. Pelatuk sadar, jika berbuat baik tidak perlu diungkit kembali. Ikhlaskan saja.

 

Relief burung pelatuk yang bertemu harimau kesakitan. Sumber: mrfahmi.files.wordpress.com

 

 

 

Candi Mendut

Candi Mendut. Sumber: Wikipedia

 

Candi ini terletak di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari Dinasti Syailendra, yang keterangannya dapat dijumpai pada prasati Karantengah 824 Masehi. Prasati tersebut menjelaskan bahwa Raja Indra telah membuat bangunan suci wenuwana yang berarti hutan bambu. Menurut arkeolog Belanda J.G. de Casparis, kata tersebut erat kaitannya dengan Candi Mendut.

Candi yang ditemukan tahun 1836 ini memiliki atap bertingkat tiga yang dipenuhi 48 stupa kecil. Tercatat, ada tiga relief menceritakan burung yang salah satunya tentang persahabatan sepasang angsa dan kura-kura.

 

Relief persahabatan angsa dan kura-kura. Sumber: Flickr.com/Yauchan

Relief persahabatan angsa dan kura-kura. Sumber: Flickr.com/Yauchan

 

 

 

Candi Kidal

Candi Kidal. Sumber: Pnri.go.id

Candi yang dibangun sekitar 1248 Masehi ini terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang Tumpang, Kabupaten Malang. Bangunan candi keseluruhan tersusun dari batu andesit dengan dimensi geometris vertikal.

Dilihat dari coraknya, candi ini merupakan perpaduan antara candi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini dikarenakan, pembangunan candi dilakukan pada masa transisi karajaan Jawa Tengah ke kerajaan Jawa Timur. Beberapa pakar berpendapat, candi ini prototifnya candi Jawa Timuran.

Di seputar kaki candi ada tiga relief yang menggambarkan garuda. Relief pertama terlihat garuda menggendong tiga ekor ular besar, relief kedua berupa lukisan garuda meletakkan kendi di atas kepala, dan pada relief ketiga terlihat garuda menggendong seorang wanita.

 

Relief garuda. Sumber: Pnri.go.id

 

 

 

Candi Gampingan

Candi Gampingan. Sumber: Pesonawarnaindonesia.blogspot.com

 

Candi yang dibangun antara abad delapan dan sembilan ini terletak di Dusun Gampingan, Kelurahan Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Candi yang ditemukan oleh pembuat batu bata pada 1995 ini dihiasi tiga arca yaitu Dhyani Buddha Wairocana dari perunggu, dua arca Jambhala dan Candralokesvara dari batu andesit, serta berbagai keramik dan benda yang terbuat dari emas.

Bagian kaki candi dihiasi relief burung seperti pelatuk, gagak, dan ayam jantan. Gagak diidentikkan sebagai burung dengan paruh dan tubuh yang kokoh. Sayapnya mengembang dan ekornya berbentuk kipas. Sedangkan burung pelatuk digambarkan memiliki jambul di kepala dengan paruh agak panjang dan runcing, namun sayapnya tidak mengembang. Ayam jantan sendiri dilukiskan dengan dada membusung dengan sayap mengembang ke bawah.

Masyarakat kala itu berkeyakinan bahwa burung memiliki kekuatan transendental. Burung merupakan perwujudan dewa yang membawa pesan dari nirwana dan lambang kebebasan manusia yang telah meninggalkan kehidupan duniawi.

 

Relief burung yang kal itu dianggap memiliki kekuatan transendental. Sumber: Yogyes.com

 

 

Mongabay Travel: Mengenal Suku Sasak dari Dusun Sade

Plang tanda Dusun Sade di Lombok. Foto: Sapariah Saturi

Plang tanda Dusun Sade di Lombok. Foto: Sapariah Saturi

“Welcome to Sasak Village, Sade, Rembitan, Lombok.”  Begitu bunyi plang nama berbentuk rumah adat Sasak di tepian jalan di Lombok. Tak jauh dari sana, beberapa pemuda pemandu berdiri menyambut.

“Mau berkunjung ke Sade?” kata Haryadi, pemandu, seraya menunjuk seberang jalan.

“Mari saya antarkan.” Dia tersenyum, ramah.

Kamipun memasuki Sade. Setelah mengisi buku tamu dan memberikan donasi sukarela, kami mulai mengelilingi kampung yang masih mempertahankan keaslian desa sesuai adat Sasak ini.

Pintu gerbang memasuki Sade. Foto: Sapariah Saturi

Pintu gerbang memasuki Sade. Foto: Sapariah Saturi

Dusun ini berada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dusun inipun menjadi salah satu tujuan wisata di Lombok.

Dari luar, keunikan perkampungan ini hanya tampak dari bentuk rumah adat dan bahan pembuatan rumah, seluruh beratap ilalang. Ketika di dalam, kampung lebih menarik dan unik sekali. Hampir setiap rumah menjual kerajinan dari kain tenun, sampai pernak pernik seperti gelang, gantungan kunci sampai hiasan kecil buat di rumah.  Etalase produksi kerajinan mereka di  balai atau bangunan berdinding sebagian—digunakan menata kain atau kerajinan. Balai  (bale) ini berada di depan atau samping rumah.

Hampir setiap rumah warga, memiliki bale untuk menjual produk kerajinan mereka. Foto: Sapariah Saturi

Hampir setiap rumah warga, memiliki bale untuk menjual produk kerajinan mereka. Foto: Sapariah Saturi

Bahan pembuatan rumahpun dari bahan alami, yakni, tanah liat, sekam padi dan beratap alang-alang.  Yang unik cara mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau. “Ini untuk mengendapkan debu dan menghindari binatang seperti nyamuk,” kata Haryadi.

Pengepelan lantai, katanya, dalam seminggu dua kali. “Sudah dari dulu seperti ini. Tradisi. Kotoran sapi sendiri kami dapat dari beberapa lokasi di Lombok ini.”

Untuk atap alang-alang, waktu penggantian berkisar antara lima sampai 15 tahun. Menurut Haryadi, tergantung kerapatan pemasangan. “Makin rapat makin tahan lama.”

Adapun bahan-bahan pembuatan rumah ini, didapat dari kawasan sekitar, baik tanah liat, sekam padi, bambu sampai alang-alang.

Atap rumah adat Sasak ini dari alang-alang dengan masa ganti berkisar lima sampai 15 tahun tergantung kerapatan pemasangan. Foto: Sapariah Saturi

Atap rumah adat Sasak ini dari alang-alang dengan masa ganti berkisar lima sampai 15 tahun tergantung kerapatan pemasangan. Foto: Sapariah Saturi

Haryadi mengatakan, rumah adat ini ada beberapa bentuk dan fungsi antara lain, bale tani. Ini sebagai tempat tinggal warga sehari-hari. Lalu bale barugak atau balai pertemuan ini untuk  tempat membahas (memecahkan masalah), perkawinan sampai sunatan; lumbung padi dan bale kodong (rumah sementara bagi pasangan muda).

“Lumbung penyimpanan padi Suku Sasak ini simbol Pulau Lombok. Satu lumbung ini dipakai lima sampai enam keluarga.”

Sedang bale tani, kata Haryadi, terdiri dari tiga bagian. Bagian dalam, tempat anak gadis, memasak dan melahirkan. Bagian luar (sebelah kanan) untuk ibu bapak, dan sebelah kiri tempat anak laki-laki plus ruang tamu.

Memintal kapas menjadi benang. Foto: Sapariah Saturi

Memintal kapas menjadi benang. Foto: Sapariah Saturi

Kala memasuki rumah ini, harus menunduk karena bangunan dibikin pendek. “Itu ada makna. Sebagai tanda menghormati pemilik rumah.” Sedang anak tangga dari rumah bagian luar ke dalam ada tiga. “Ini bermakna, paling atas itu Tuhan, kedua ibu dan ketiga ayah. Ketiga unsur yang harus dihormati. Jadi rata-rata rumah di sini punya tiga anak tangga,” ucap Haryadi.

Bertani dan menenun

Pekerjaan masyarakat Sade ini mayoritas bertani, seperti padi dan sayur mayur. Kalau padi,  tadah hujan dan hanya sekali tanam dalam setahun. “Cuma air dari hujan. Irigasi gak ada sama sekali. Sudah diupayakan tapi sulit.”

Untuk tambahan pendapatan itulah, hampir semua warga menjadi perajin tenunan. Untuk benang tenun, warga membuat sendiri dengan memintal kapas. Tak hanya membuat benang sendiri, pewarnaan mereka juga menggunakan warna-warna alami dengan memanfaatkan tumbuhan atau tanaman sekitar.

Lumbung padi Suku Sasak. Foto: Sapariah Saturi

Lumbung padi Suku Sasak. Foto: Sapariah Saturi

“Bikin dari kulit kayu, dedaunan atau tumbuhan lain. Kalau dari daun ambil yang masih muda lalu ambil karang, campurkan biar warna kuat. Misal, warna orange itu kapur sirih dengan kunyit. Dicampur jadi satu.”

Kawin culik

Perkampungan Sade ini berjumlah 700 jiwa, dengan satu rumpun keluarga. Dalam sistem perkawinan Suku Sasak, dikenal dengan kawin lari atau kawin culik.

“Maksudnya, gak perlu dilamar. Yang penting si cowok sama gadis saling suka. Ambil diem-diem, lalu bawa kabur, lari.”

Sang gadis lalu disembunyikan di rumah orang yang tak diketahui oleh orangtuanya. “Soalnya kalau ketahuan bakal diambil lagi.”

Setelah itu, sang lelaki mengutarakan keinginan menikah kepada orangtua sang gadis. Proses terakhir, disebut nyongkolan, berupa iringan pengantin pria dan perempuan kembali ke rumah orangtua mempelai perempuan.

Nanti, pasangan baru itu akan menempati rumah sementara atau bale kodong. “Bale itu rumah, kodong itu kecil. Artinya rumah kecil. Bali kodong ini rumah sementara waktu sebelum bisa membuat rumah lebih besar. Mereka akan menggunakan untuk bulan madu.”

Setelah kapas dipintal menjadi benang, siap untuk menjadi tenunan. Warna-warna benangpun menggunakan kulit-kulitan kayu dan tanaman juga dedaunan. Foto: Sapariah Saturi

Setelah kapas dipintal menjadi benang, siap untuk menjadi tenunan. Warna-warna benangpun menggunakan kulit-kulitan kayu dan tanaman juga dedaunan. Foto: Sapariah Saturi

Kerajinan tangan warga Sade, selain tenunan dan kain. Foto: Sapariah Saturi

Kerajinan tangan warga Sade, selain tenunan dan kain. Foto: Sapariah Saturi

Anak-anak di Dusun Sade, tengah asik bermain. Foto: Sapariah Saturi

Anak-anak di Dusun Sade, tengah asik bermain. Foto: Sapariah Saturi

Dusun Sade, yang masih mempertahankan adat dengan berbagai produk kerajinan tangan mereka. Foto: Sapariah Saturi

Dusun Sade, yang masih mempertahankan adat dengan berbagai produk kerajinan tangan mereka. Foto: Sapariah Saturi

Perdagangan dan Konsumsi Daging Anjing Ancam Indonesia Gagal Bebas Rabies 2020

Jakarta Animal Aid Network (JAAN) dan Animal Friends Jogja (AFJ) meluncurkan laporan investigasi mereka pada Maret 2015, berjudul “Pedagangan Anjing Untuk Konsumsi di Indonesia dan Resiko Penyebaran Rabies.” Laporan berjumlah 23 halaman menyebutkan perdagangan daging anjing untuk konsumsi  bukan hal wajar, karena ketentuan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (Office Internationale des Epizooties / OIE) dan Codex Alimentarius Commission (CAC), anjing tidak termasuk hewan potong untuk dikonsumsi manusia. Anjing sebagai makhluk sosial, hewan kesayangan atau pendamping manusia, apabila dikonsumsi manusia, menurut OIE dan CAC dianggap melanggar prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare).

“Jika anjing tidak terdaftar sebagai ‘hewan potong untuk dikonsumsi manusia’, sudah jelas bahwa tempat-tempat penjagalan anjing beroperasi secara Ilegal,” kata Anggelina Pane kepada Mongabay, saat aksi  ”Global Day of Action: International March to End Dog & Cat Meat Trade” di Nol Kilometer, Yogyakarta, Sabtu (04/04/2015).

Ajakan para pecinta Anjing dan lingkungan di Yogyakarta untuk stop makan daging anjing. Foto : Tommy Apriando

Ajakan para pecinta Anjing dan lingkungan di Yogyakarta untuk stop makan daging anjing. Foto : Tommy Apriando

Laporan itu menyebutkan dalam lima tahun terakhir, tiap hari mereka mendapatkan laporan dari masyarakat tentang pencurian anjing oleh orang bermotor,  pengangkutan dan pembantaian anjing secara keji, warga yang tinggal dekat pejagalan tidak nyaman mendengar suara lolongan anjing, dan meningkatnya jumlah lapo/warung makan dengan menu daging anjing.

Dari laporan itu, masyarakat meminta JAAN dan AFJ untuk membantu menghentikan praktik-praktik kekejaman tersebut. Penyelidikan AFJ dan JAAN mendapati seluruh proses dari cara anjing-anjing itu dicuri, diangkut, disekap, dibantai dan tidak adanya standar higiene.

Tahun 2008, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti perdagangan anjing untuk konsumsi manusia berkontribusi terhadap penyebaran rabies di Indonesia terutama di Bali karena perdagangan tersebut mendorong anjing diangkut antar pulau. Hal ini juga dikaitkan dengan berjangkitnya rabies di Tiongkok dan Vietnam.

“Di Yogyakarta saja diperkirakan 360 ekor anjing dibunuh tiap minggunya. Kemudian kita harus mempertimbangkan bahwa Yogyakarta bukanlah daerah utama untuk perdagangan daging anjing,” kata Ina.

Di Manado dan Sumatera, di mana daging anjing dianggap ‘wajar’ untuk disajikan, mereka memperkirakan ada 1800 ekor anjing per minggu dikalikan lima, menjadi 3600 ekor anjing dikorbankan.  Sedangkan di Jakarta, paling sedikit 2x jumlahnya dibanding Yogyakarta, yang berarti 720 ekor per minggu. Sehingga total ada ada sekitar 4680 anjing per minggu, 18.720 per bulan dan 224.640 per tahun  dikorbankan hanya dari di 4 daerah di Indonesia.

Risiko Penyebaran Rabies lewat Daging Anjing

Mengkonsumsi daging anjing memperbesar terkena rabies. Di seluruh Asia, anjing untuk dikonsumsi biasanya diperoleh dari jalanan maupun lingkungan perumahan, yaitu anjing peliharaan yang dicuri atau terlantar dan tak bertuan, atau dipasok dari peternakan anjing. Di sebagian besar negara di Asia termasuk Indonesia, rabies bersifat endemik di kalangan populasi anjing dan anjing yang dikumpulkan dari jalanan yang tidak diketahui penyakit dan status vaksinasinya.

“Riset menunjukkan bahwa memasok, menernakkan, mengangkut, memotong, dan mengonsumsi anjing-anjing dalam skala besar memungkinkan pemencaran yang cepat dan luasnya kisaran rabies dan penyakit-penyakit lainnya, seperti kolera dan trikinelosis,” kata Ina.

Selama proses penjagalan, rabies dapat ditularkan ke manusia melalui beberapa cara, seperti cakaran dan gigitan, kontaminasi sayatan atau lecet-lecet di kulit, dan sentuhan mata dan bibir penjagal anjing sendiri yang terpercik cairan anjing.

Diketahui pada 2007, Departemen Kesehatan Hewan tingkat Distrik melaporkan 70 persen kematian wabah rabies di Ba Vi, Vietnam, karena gigitan anjing, dan 30% akibat terpapar pada waktu penjagalan.

Dalam laporan dijelaskan manajemen dan higienis yang buruk dari peternakan anjing skala besar di Korea Selatan dan di Tiongkok, mengkondisikan anjing rentan terinfeksi mikroba.  Perkelahian anjing dalam peternakan itu juga meningkatkan penularan penyakit.

Hasil Invetigasi di Tiga Wilayah

Tim melakukan investigasi pada 12-23 restoran di Jakarta untuk mengetahui asal dan bagaimana anjing yang dijagal, jalur distribusi daging anjing, situasi keseluruhan di rumah jagal anjing. Karena semakin sulit mendapatkan anjing untuk dijagal, restoran itu lebih banyak mendapatkan suplai daging anjing dari penyuplai yang sama yaitu yang berlokasi di Jl. Letjen. Sutoyo, Gg. Bersama, RT.008/RW 08 Cililitan, Mayasari, Jakarta Timur dan dari Pasar Senen.

Dalam laporan disebutkan pasokan daging anjing berasal dari luar Jakarta seperti Bandung, Sukabumi, dan Cianjur. Bahkan kadang mendapatkan 40 anjing dari Bali.

Di Yogyakarta,  lebih dari 50 warung penjaja menu daging anjing yang tersebar di wilayah Bantul hingga Sleman. Daging anjing dari penyuplai berasal dari Jawa Barat dan sekitar Yogyakarta.

“Investigasi mendalam kami lakukan ke penyuplai anjing hidup dan daging anjing terbesar di Yogyakarta dengan mengikuti perjalanan dari Yogyakarta ke Jawa Barat dan kembali ke Yogyakarta,” kata Ina.

Dalam laporan tersebut JAAN dan AFJ merekomendasikan kepada pemerintah daerah dan pusat untuk memberlakukan pelarangan perdagangan, penjagalan dan transportasi anjing untuk konsumsi di seluruh Indonesia. Masyarakat juga perlu diedukasi tentang risiko kesehatan dan penyebaran rabies dari perdagangan dan konsumsi daging anjing.

“Menegakkan hukum terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di praktik perdagangan anjing untuk dikonsumsi dan Menyusun rencana efektif untuk memberantas rabies dan menciptakan Indonesia Bebas Rabies di tahun 2020 sesuai komitmen Kementerian Kesehatan Indonesia yang disampaikan pada ajang International One Health Congress dalam laporan mengenai Zoonosis di Indonesia,” tambah Ina.

Pemerintah perlu mengedukasi tentang ketidakefektifan metode pemusnahan masal untuk memberantas rabies, menggalakan program vaksinasi rabies yang berkelanjutan sebagai satu-satunya metode pemberantasan rabies yang efektif dan pada akhirnya akan dapat meniadakan rabies di Indonesia.

Aksi Serentak di Beberapa Kota

JAAN dan AFJ menggelar aksi nasional menghentikan perdagangan daging anjing di seluruh Indonesia sebagai bagian dari “Global Day of Action: International March to End Dog & Cat Meat Trade” pada Sabtu (04/04/2015). Aksi di Yogyakarta diiringi aksi teatrikal dan penyerahan berkas laporan investigasi perdagangan daging anjing di Indonesia & DVD kampanye terbaru dari AFJ dan JAAN kepada Pemprov dan Dinas Peternakan DIY.

Aksi teatrikal sebagai bentuk kekejaman terhadap anjing sebelum diolah menjadi makanan. Foto : Tommy Apriando

Aksi teatrikal sebagai bentuk kekejaman terhadap anjing sebelum diolah menjadi makanan. Foto : Tommy Apriando

Aksi simpatik didukung Jogja Domestic  Cat Lovers  (JDCL), Animal Lovers Indonesia, Klub Siberian Husky Indonesia, seniman pertunjukan dari Kebelet Teater, Fajar Merah (musisi dan putra dari Wiji Thukul) dan K9 Polda DIY, serta para penggemar band Shaggydog yang sejak tahun 2013 telah aktif bersuara sebagai duta kampanye “Anjing Bukan Makanan”. 

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian DI Yogyakarta, Suparno kepada Mongabay mengatakan Yogyakarta sudah bebas rabies sejak tahun 1997 hingga saat ini. Mereka mendukung aksi tersebut sebagai edukasi kepada masyarakat tentang konsumsi daging anjing berpotensi terkena penyakit rabies. Mereka juga mengkaji laporan AFJ sebagai bahan penyiapan peraturan daerah. “Kita terus mengkampanyekan bahwa anjing bukan untuk di konsumsi,” kata Suparno.

Ia menambahkan, pemprov punya pos lalu lintas pengendalian hewan untuk memantau distribusi anjing ke Yogyakarta. Secara aturan pemerintah bahwa hewan yang masuk ke suatu daerah harus ada ijin dari pemerintah yang mengirim maupun daerah yang dituju. “Karena masuknya lewat jalur tikus atau ilegal, sehingga ini menjadi kesulitan kami dalam penegakan hukumnya,” tambahnya.

Selain itu, pemerintah Yogyakarta belum bisa melarang perdagangan makanan anjing yang ada saat ini dan tidak bisa melakukan penyitaaan karena belum ada aturan. Mereka hanya melakukan penyampaian informasi adanya dampak penyakit rabies dan lainnya lewat konsumsi anjing.

Gubernur Jateng Harus Cabut SK Izin Pembangunan Pabrik Semen di Rembang

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo didesak untuk segera mencabut Surat Keputusan Nomor 660.1/17 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan oleh PT Semen Gresik di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Desakan itu menjadi tindak lanjut sikap dari Organisasi Masyarakat Sipil yang menolak rencana pembangunan pabrik dan penambangan kapur oleh PT Semen Gresik atau sekarang menjadi PT Semen Indonesia di pegunungan Kendeng Utara, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Penolakan dari gabungan organisasi sosial tersebut, karena rencana pembangunan diprediksi akan merusak ekosistem di sekitar pegunungan Kendeng Utara yang selama ini diketahui ada kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih. Karenanya, selama ini warga sekitar sangat bergantung pada pegunungan Kendeng Utara karena sudah menjadi sumber penghidupan.

Dosen Manajemen Bencana Universitas “UPN” Yogyakarta Eko Teguh Paripurno, berpendapat bahwa izin pembangunan dan penambangan yang dikeluarkan Gubernur Jateng dinilai sangat bertentangan dengan UU No.7/2004 tentang Sumber Daya Air jo Keppres No.26/2011 tentang Penetapan Cekungan Air Tanah.

“Ini yang salah dalam konsep pembangunan di Indonesia. Harusnya, pembangunan itu akan mengurangi risiko bencana, tapi sebaliknya disini pembangunan akan memicu terjadinya bencana,” kata Eko saat menghadiri briefing media di Kantor Kontras, Jakarta, Kamis (09/04/2015).

Kendaraan berat bermuatan adukan semen hilir mudik melewati tenda perjuangan warga warga Desa Tegaldowo dan Timbrangan  Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang , Jawa Tengah. Foto : Tommy Apriando.

Kendaraan berat bermuatan adukan semen hilir mudik melewati tenda perjuangan warga warga Desa Tegaldowo dan Timbrangan Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang , Jawa Tengah. Foto : Tommy Apriando.

Menurut Eko, risiko bencana yang muncul dari sebuah pembangunan bisa terjadi karena perusahaan atau investor yang menggulirkan pembangunan mengabaikan semua aspek lingkungan yang sudah ada. Walaupun, analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) sudah dilakukan oleh mereka.

“Yang terjadi kan Amdal dalam proyek di Rembang ini dibuat dengan terburu-buru. Ini yang mengkhawatirkan. Walau ada Amdal, tidak menjamin ekosistem lingkungan di Pegunungan Kendeng bisa terjaga,” ujarnya.

Karena tidak ada jaminan pula, Eko mengungkapkan, keberadaan CAT Watuputih yang seharusnya dilindungi, justru menjadi terancam. Kondisi itu yang sangat ditakutkan oleh masyarakat setempat karena selama ini masyarakat sudah bergantung pada pegunungan Kendeng sebagai sumber kehidupan.

Selain untuk bertani, kata Eko, warga memanfaatkan CAT Watuputih untuk kebutuhan air bersih. Karenanya, sangat berbahaya jika pembangunan pabrik dan penambangan batu kapur yang dilakukan PT Semen Indonesia menimbulkan kerusakan ekosistem.”Yang terjadi, produksi air di CAT Watuputih akan berkurang dan itu berdampak besar pada sistem kehidupan yang adai kawasan tersebut dan sekitarnya,” tandas dia.

Di kawasan pegunungan Kendeng sendiri, Eko menuturkan, terdapat 49 gua, 4 sungai bawah air dan 109 mata air. Semuanya sangat berpengaruh untuk lingkungan sekitar dan masing-masing akan saling memengaruhi dan sangat bergantung satu sama lain.

“Meski demikian, hingga saat ini belum diketahui berapa hitungan pasti dari kerugian material maupun non material yang diakibatkan dari pembangunan ini. Yang jelas, kita harus sama-sama berjuang untuk membatalkan rencana pembangunan tersebut,” jelas Eko.

Pulau Jawa Menuju Kolaps

Rencana pembangunan pabrik dan penambangan batu kapur oleh PT Semen Indonesia menggambarkan bagaimana eksploitasi Pulau Jawa untuk kepentingan industri masih saja terus dilakukan. Walaupun, pada kenyataannya Pulau Jawa masa kini sudah tidak sanggup lagi untuk dieksploitasi.

Dalam pandangan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional, jika pembangunan masih terus dilakukan, maka risiko kerusakan alam akan cepat terjadi. Tanpa eksploitasi saja, kerusakan alam saat ini sudah berlangsung lama terjadi.

“Walhi Nasional sudah melakukan riset sejak 2006 dan sudah menuju kesimpulan bahwa Pulau Jawa saat ini menuju kolaps. Harus ada perhatian dari Pemerintah dan tindakan nyata untuk menyelamatkannya,” kata Khalisah Khalid, Kepala Departemen Kajian dan Pengembangan WALHI Nasional pada kesempatan yang sama.

Khalisah menjelaskan, indikator kuat bahwa Pulau Jawa sudah tidak sanggup menanggung beban eksploitasi pembangunan, adalah karena bencana alam dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat. Bahkan, dari hasil riset yang dilakukan pada 2013, bencana alam yang terjadi di Indonesia sudah mencapai 1.392 kali atau meningkat  239 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi itu, kata Khalisah, patut untuk direnungi bersama karena akan berdampak signifikan untuk kehidupan selanjutnya. Bukan tidak mungkin, di masa mendatang generasi selanjutnya tak akan bisa lagi menikmati kenyamanan lingkungan hidup khas negara tropis di Indonesia.

“Pembangunan apapun saat ini harus dikaji ulang dan kalaupun dilakukan harus dilakukan dengan mempertimbangkan risiko bencana. Presiden Jokowi juga harus memberikan jaminan tersebut karena di bawah kepemimpinannya, Indonesia akan secara masif menggelar berbagai pembangunan fisik,” tutur Khalisah.

Warga Sekitar Tetap Menolak

Joko Priyanto, salah satu warga yang tinggal di kawasan sekitar pegunungan Kendeng mengaku sudah tak mau lagi berkompromi dengan investor maupun pemerintah terkait rencana pembanguunan pabrik dan penambangan batu kapur oleh PT Semen Indonesia. Menurutnya, pembangunan tersebut akan merugikan dia dan warga di sana yang sudah sangat bergantung dan menjadikan pegunungan Kendeng sebagai sumber penghidupan.

Aksi seni kemerdekaan perempuan warga Rembang menolak keberadaan pabrik Semen Indonesia. Foto : Tommy Apriando

Aksi seni kemerdekaan perempuan warga Rembang menolak keberadaan pabrik Semen Indonesia. Foto : Tommy Apriando

“Walau janjinya kami akan disejahterakan, namun bagi kami tetap tidak bisa dimengerti karena konsep sejahtera yang dimaksud mereka dan kami itu tidak sama. Bagi mereka, kami akan sejahtera jika pabrik dibangun, sementara bagi kami sebaliknya karena kami sudah merasa nyaman dengan mata pencaharian bertani,”ungkap Joko.

Meski sebagian besar berprofesi sebagai petani, namun Joko memastikan, warga di sana sudah merasa bahagia dan sejahtera, baik dari material maupun non material. Dia mencontohkan, produksi pertanian yang dihasilkan dari kawasan sekitar pegunungan Kendeng sudah dirasakan manfaatnya karena bisa menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) untuk Kabupaten Rembang.

“Dari Desa Gundem saja, setiap tahunnya PAD yang disumbangkan untuk kabupaten mencapai Rp2 miliar. Itu bagi kami sudah lebih dari cukup menggambarkan bahwa pertanian memang mata pencaharian warga yang mensejahterakan,” tandas dia.

Rekomendasi Komunitas Bersama

Selain mendesak Gubernur Jateng untuk mencabut SK penambangan, komunitas bersama yang terdiri dari gabungan beberapa organisasi itu juga merekomendasikan agar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mengawasi langsung PT Semen Indonesia. Karena, Pemprov Jateng dan Pemkab Rembang terbukti sudah tidak bisa menjalankan amanat untuk menjaga ekosistem.

Kemudian, Mahkamah Agung RI juga harus mengawasi kinerja majelis hakim yang sedang menangani perkara laporan masyarakat terkait pembangunan di Kendeng dan saat ini sedang disidangkan di Pengadilan Tata Usaha Niaga (PTUN) Semarang. Dan, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) beserta Kepolisian RI dan TNI didesak untuk ikut terlibat dalam pengawasan renana pembangunan tersebut.

Ingat Krakatau, Ingatlah Tukirin Partomihardjo

Tukirin Partomihardjo, yang telah meneliti Krakatau sejak tahun 1981. Foto: Rahmadi Rahmad

Tukirin Partomihardjo, yang telah meneliti Krakatau sejak 1981. Foto: Rahmadi Rahmad

Pulau Sertung tahun 1999. Dua peneliti Indonesia dan beberapa awak film dokumenter asal Inggris tengah berunding untuk memutuskan apakah mereka akan bergerak maju ke pulau aktif Anak Krakatau atau sebaliknya, kembali ke Carita, Banten. Mengingat, dalam dua hari terakhir, sudah tidak ada lagi letusan Anak Krakatau. Peneliti gunung api pun menganggap bahwa Anak Krakatau memang tidak akan meletus lagi.

Tanda-tanda tersebut terlihat dari hujan abu yang telah reda. Berdasar perhitungan dan perkembangan kondisi lapangan, diperkirakan tidak akan ada lagi letusan. Namun demikian, faktor alam dan segala ketidakpastiannya patut diperhitungkan.

Malam itu, diskusi menghasilkan kesepakatan, liputan tetap dilanjutkan, esok pagi. Tim survei awal yang terdiri dari Tukirin dan peneliti vulkanologi ditambah satu awak film akan berangkat lebih dahulu. Tim ini bertugas memastikan lokasi benar-benar aman untuk pengambilan gambar Krakatau.

Pagi datang. Langit cerah, sebagaimana perkiraan. Gelombang laut bersahabat tanpa riak. Menggunakan speedboat karet, tim kecil ini merapat ke daratan Anak Krakatau, sementara awak film yang lain menunggu di atas kapal. Jarak Sertung ke Anak Krakatau sekitar 3 kilometer ke arah selatan.

Namun, baru beberapa saat tim ini menjejakkan kaki, dentuman keras terdengar. Anak Krakatu yang dianggap telah berdamai, ternyata memuntahkan lava pijarnya. Abu vulkanik penyelimuti angkasa. Langit berubah gelap.

Kerikil panas berhamburan di udara. Keluar dari kepundan, mendesing bak peluru. Tidak ada tempat berlindung dan tiada pula pepohonan yang mampu melindungi. Lingkungan sekitar hanyalah hamparan pasir dan tebaran abu  vulkanik.

Setengah jam, tim bertahan menghadapi murka alam. Dalam kondisi kritis, setegar mungkin mereka bertahan di hamparan pasir, menutupi sekujur tubuh dengan mantel. Tak lupa, berdo’a pada sang Pencipta dan pasrah “mengikuti” kehendak alam.

“Itu pengalaman paling menegangkan yang pernah saya rasakan selama 34 tahun menjadi peneliti Krakatau. Syukurlah, semua selamat. Bagi saya, kondisi seperti itu, harus siap saya hadapi,” kenang Tukirin Partomihardjo, saat ditemui di ruang kerjanya, Gedung Botani LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Cibinong, Bogor, Senin (6/4/2015).

 

Inilah anak Krakatau. Foto: Dok. Tukirin

Inilah Anak Krakatau. Foto: Dok. Tukirin Partomihardjo

 

Tegakan cemara laut merupakan vegetasi utama di Anak Krakatau. Foto: Dok. Tukirin

Tegakan cemara laut merupakan vegetasi utama di Anak Krakatau. Foto: Dok. Tukirin Partomihardjo

 

Krakatau

Karakatau merupakan gugusan pulau-pulau kecil yang terletak di tengah bentangan Selat Sunda. Tiga pulau utama yang kita kenal saat ini adalah Rakata, Panjang, dan Sertung. Dulunya, Karakatau merupakan sebuah gunung api purba yang tingginya 3 ribu meter dengan diameter sekitar 11 kilometer. Akibat letusan dahsyat masa prasejarah itu, Krakatau Purba musnah.

Namun, erupsi luar biasa yang tidak tercatat sejarah itu memunculkan tiga kepundan aktif yaitu Danan, Perbuatan, dan Rakata yang kemudian menyatu, membentuk satu pulau memanjang.

Tahun 1883, letusan mahadahsyat kembali terjadi yang kali ini melenyapkan puncak Danan dan  Perbuatan serta dua per tiga Rakata. “Letusan Krakatau ini yang selalu dikenang dunia karena lebih dari 36.000 penduduk di sepanjang pesisir Selat Sunda tewas tersapu gelombang pasang (tsunami). Bunyi letusannya, berdasarkan pemberitaan saat itu, terdengar hingga Astralia utara dan India, sementara gelombang pasangnya terdeteksi hingga Kagoshima, Jepang,” ungkap Tukirin.

Barulah sekitar tahun 1930, terbentuk daratan yang diberi nama Anak Krakatau. Daratan baru ini terus bertambah luas dan tinggi seiring aktivitas vulkanis. Sekarang, ketinggiannya sudah 450 meter dengan garis tengahnya sekitar 3 kilometer.

Apa yang membuat Tukirin tertantang untuk meneliti Karakatau? Krakatau merupakan laboratorium alam yang disediakan Tuhan untuk manusia. Meski terkesan angker, namun bersahaja. Di komplek Krakatau tidak ada binatang buas atau nyamuk malaria. “Bahaya hanya datang dari letusan dan longsoran gunung saja” paparnya.

Krakatau juga mempertontonkan proses pembentukan komunitas hutan alam secara bertahap: perkembangan vegetasi dari lumut hingga hutan yang disertai persaingan hidup. Meski masih meletus dengan menimbulkan pola kerusakan baru, namun kehancuran itu dibarengi pemulihan alaminya. Krakatau mendukung perjalanan biologi, biogeografi, dan adaptasi.

Rakata, Sertung, Panjang, dan Anak Krakatau merupakan komplek Krakatau dengan desain alami. “Inilah keajaiban dunia yang hanya ada di Indonesia” paparnya.

 

Letusan Krakatau yang terjadi pada 1883. Sumber: Wikimedia commons

 

Bongkahan batu koral besar di dekat pantai Anyer yang terdampar akibat dorongan gelombang besar letusan Krakatau 1883. Sumber: Wikipedia

 

Posisi Krakatau dalam peta. Sumber: Vansandick.com

 

Suksesi

Salah satu keajaiban yang telah tersibak di Karakatau adalah pengetahuan perkembangan vegetasi atau yang dikenal dengan sebutan suksesi. Proses alam yang  mengagumkan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti posisi geografi pulau, pola arah angin, curah hujan, suhu yang biasa dikenal sebagai iklim, kondiisi fisik habitat dan gelombang, serta lingkungan laut.

Burung dikenal sebagai pemencar biji yang sangat efektif dalam proses suksesi Krakatau. Pulau Sebuku dan Sebesi merupakan loncatan (hopping island/stapping stone) bagi burung-burung dari Sumatera untuk menyeberangi Selat Sunda dan hinggap di komplek Krakatau. “Temuan ini merupakan pengetahuan penting tentang mekanisme pemencaran biji dalam proses suksesi,” ujar lelaki kelahiran Cilacap ini.

Catatan jurnal ilmiah tahun 1990 pernah melaporkan bahwa burung diindikasikan hadir pertama kali di komplek Krakatau satu atau dua dekade pasca-letusan dahsyat tahun 1883. Thornton, et.al., (1990) menyatakan, berdasarkan hitungan dari data dua periode survei, jumlah keseimbangan spesies (S) untuk Rakata sebagai pulau terbesar adalah antara 48-56 spesies. Secara keseluruhan, jumlahnya adalah 44-58 jenis. Dalam kolonisasi menyeluruh,  penghuni kepulauan tersebut diperkirakan sebanyak 36 spesies.

Perkiraan ini, tidak jauh berbeda bila dibandingkan dengan MacArthur & Wilson (1967) sebanyak 30 jenis dan Mayr (1965) sekitar 40-45 jenis. Pembentukan hutan sekunder dan penutupan kanopi diduga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kolonisasi burung teresterial residen sejak 1883.

 

Pantai utara Anak Krakatau dengan aliran lavanya. Foto: Dok. Tukirin

Pantai utara Anak Krakatau dengan aliran lavanya. Foto: Dok. Tukirin Partomihardjo

 

Harapan

Suksesi telah memberikan hikmah luar biasa bagi kehidupan Tukirin. Menurutnya, dalam kehidupan manusia, suksesi merupakan perjuangan, persaingan, dan kerja sama untuk bisa mapan dan meraih keberhasilan. Sementara, suksesi dari alam merupakan cara bagaimana mengelola dan memanfaatkan sumber daya dengan bijak. Karena, bila alam rusak butuh waktu lama untuk memperbaiki ekosistem tersebut seperti semula.

Inilah perbedaan mendasar antara kerusakan yang dibuat oleh manusia dengan kehancuran alami Krakatau. Kerusakan akibat letusan Krakatau dapat pulih secara alami. “Sementara, kerusakan akibat tangan manusia tidak bisa mengandalkan kemampuannya sendiri, harus dibantu mengatasinya.”

Apa harapan terbesar Tukirin terhadap Krakatau? Pertama, ia ingin menerbitkan buku tentang Krakatau untuk dibagikan kepada masyarakat luas. Alasannya jelas, laboratorium alam ini harus mendapat perhatian masyarakat agar bisa dipahami dan dinikmati kedahsyatannya sebagi sumber pengetahuan alam tropik.

Kedua, adanya wacana perubahan status Karakatu dari cagar alam menjadi taman wisata alam yang didengungkan Pemerintah Lampung tahun 2013, menurut Tukirin, hendaklah dikaji kembali. Memang, perubahan status dapat meningkatkan jumlah wisatawan.

Namun, yang harus diperhatikan adalah konsekuensi bencana, yaitu letusan Anak Krakatau yang terjadi sewaktu-waktu. “Pengalaman saya, Anak Krakatau dapat meletus kapan saja tanpa dapat diprediksi. Bila wisatawan berkunjung dan terjadi erupsi, siapa yang bertanggung jawab?” paparnya.  

Ketiga, di usianya yang 63 tahun, Tukirin belum juga menemukan sosok peneliti tangguh yang dapat mencurahkan perhatiannya untuk Krakatau. Padahal, periset asing berlomba menggali keagungan Krakatau. Tukirin khawatir, jangan-jangan nantinya kita harus ke luar negeri hanya untuk mendapatkan referensi, sementara Krakataunya ada di Indonesia. “Aneh kan?” urai profesor riset ini.

Kekhawatiran Tukirin memang beralasan. Dan, tidak berlebihan, saat kita menyebut Krakatau akan terucap pula nama Tukirin Partomihardjo di belakangnya.

 

Perjalanan menuju Krakatau di pagi hari. Foto: Dok. Tukirin

Perjalanan menuju Krakatau di pagi hari. Foto: Dok. Tukirin Partomihardjo

 

Tukirin_bersama_calon peneliti_asal_Jepang_di_punggung bukit_Anak Krakatau. Foto: Dok. Tukirin

Tukirin bersama calon peneliti asal Jepang di punggung Anak Krakatau. Foto: Dok. Tukirin Partomihardjo

 

 

 

Inilah Tujuh Fakta Letusan Tambora dan Dampaknya Bagi Dunia

Gunung Tambora saat ini

Gunung Tambora tampak dari udara. Letusan Tambora 1815 adalah letusan terbesar di dunia, akibat letusan telah meninggalkan kaldera besar berukuran hingga 6-7 km. Sumber: Wikipedia common

Hari ini tepat duaratus tahun meletusnya Tambora, gunung strato vulkanik yang berada di pulau Sumbawa. Bagi dunia internasional, Tambora adalah ikon terbesar untuk melihat dan mempelajari dampak perubahan iklim akibat erupsi terbesar yang pernah dicatat di dunia.

Namun sebaliknya, di Indonesia fenomena letusan gunung Tambora dan dampaknya bagi dunia belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas.

Di bawah ini Mongabay Indonesia mengumpulkan fakta-fakta dari berbagai sumber tentang Tambora dan dampaknya bagi iklim global, sosial, politik, ekologi hingga temuan dan inovasi teknologi.

 

 

1.      Letusan yang Mempengaruhi Iklim Global

Pada tanggal 10 April 1815 Tambora meletus secara dahsyat dan mengeluarkan material yang tercatat sebagai letusan terbesar yang pernah terjadi di dunia. Akibat letusan ini tahun 1816 tercatat sebagai “tahun tanpa musim panas” di Eropa dan Amerika Utara, akibat debu dan partikel vulkanik yang terlempar ke lapisan atmosfer menghalangi cahaya matahari.

Letusan ini telah menimbulkan anomali temperatur global, hingga temperatur turun sekitar tiga derajat celcius (pendinginan global) dan menghancurkan panenan dan menimbulkan kelaparan besar di berbagai negara, termasuk Amerika Utara, Tiongkok, India dan Eropa.

Dampak lanjutan erupsi Tambora dan telah menyebabkan penyebaran penyakit tipus dan disentri yang dipercaya telah merenggut korban jiwa di Eropa hingga 200 ribu orang pada periode 1816-1819.

 

 

2.      Seberapa Dahsyat Letusannya?

Peta ketebalan abu vulkanik akibat letusan Tambora 1815. Sumber: Wikipedia common

Peta ketebalan abu vulkanik akibat letusan Tambora 1815. Klik pada gambar untuk memperbesar. Sumber: Wikipedia common

Letusan Tambora dicatat dalam skala tujuh pada skala Volcanic Explosivity Index, mengeluarkan material vulkanik 160 km kubik (38 cu mi) yang empat kali lebih kuat dari letusan Krakatau tahun 1883. Sebelum meletus tinggi Tambora diperkirakan 4.300 mdpl, setelah meletus tinggi gunung terpangkas menjadi 2.851 mdpl dan meninggalkan kaldera berukuran 6-7 km berkedalaman 600-700 meter.

Tinggi asap letusan ini mencapai hingga 43 kilometer di stratosfir dan menyebabkan langit berwarna oranye merah. Letusan Tambora mengeluarkan sulfur oksida yang menghalangi cahaya matahari (sunlight blocked).

Suara guruh akibat letusan dilaporkan terdengar hingga ke Ternate, Batavia, Makassar bahkan hingga ke Sumatera. Tsunami akibat letusan Tambora tercatat di beberapa kepulauan Indonesia, termasuk semenanjung Sanggar di Sumbawa, Maluku hingga wilayah Jawa Timur.

 

 

3.      Berapa Banyak Korban Jiwa Akibat Letusan Tambora?

Salah satu catatan  penting letusan Tambora yang menjadi referensi sejarah adalah History of Java, buku yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles Gubernur Jendral Inggris di Jawa saat itu. Raffles mengumpulkan berbagai informasi dari para pedagang, peneliti dan armada militer Inggris yang saat itu berada di nusantara.

Dari catatan tersebut, para peneliti kemudian melakukan kalkulasi jumlah korban jiwa letusan Tambora. Zollinger (1855), peneliti yang menghabiskan berapa bulan studi di Sumbawa pasca letusan, menyebutkan korban jiwa langsung letusan Tambora adalah 10.000 orang, ditambah 38.000 lainnya meninggal akibat kelaparan di Sumbawa dan 10.000 lainnya di pulau Lombok.

Tanguy et al (1998) menganalisis angka kematian langsung letusan Tambora sekitar 11.000 dan 49.000 korban lain akibat kelaparan termasuk kelaparan yang terjadi di Bali dan Jawa Timur. Sedangkan Oppenheimer (2003) menyebutkan total kematian akibat bencana Tambora adalah 71.000.

 

 

4.      Hilangnya Peradaban di Sekitar Gunung Tambora

Made Wita

Penggalinan arkeologi oleh tim Balai Arkeologi Denpasar. Foto: Made Wita/popular-archeology.com

Letusan Tambora telah memusnahkan peradaban yang berada di sekitar gunung tersebut, yang secara administratif sekarang berada di kabupaten Dompu dan Bima. Menurut para ahli sejarah dan arkeologi, terdapat tiga kerajaan lokal yang hilang akibat letusan Tambora yaitu Sanggar, Tambora dan Pekat.

Pada tahun 2004, penggalian arkeologi oleh para peneliti dari Indonesia dan Amerika Serikat yang dipimpin oleh Prof Haraldur Sigurdsson dari Universitas Rhode Island menemukan sisa-sisa peradaban seperti perunggu, tembikar dan kaca. Pada tahun 2010, tim Balai Arkeologi Denpasar menemukan rangka rumah dari kayu, benda-benda perabotan, keris, keramik, alat tenun dan perhiasan yang mengindikasikan keberadaan kerajaan Tambora dan Pekat.

 

 

5.      Apa Hubungan Letusan Tambora dan Kekalahan Napoleon?

Lukisan Napoleon dalam perang Waterloo oleh

Lukisan Napoleon dalam perang Waterloo oleh Charles Auguste Steuben.

Pada awal abad ke-19, politik di benua Eropa sedang goncang dengan munculnya kekaisaran Perancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte (1769-1821). Setelah melewati beberapa kali pertempuran besar Napoleon akhirnya berhasil ditangkap dan dibuang ke pulau Elba. Tidak lama dari situ Napoleon berhasil “kabur” dan kembali mendeklarasikan perang dengan negara-negara lawannya.

Dalam pertempuran di Waterloo, 18 Juni 1815, atau yang dikenal sebagai pertempuran terakhir Napoleon setelah pelarian Elba, Napoleon takluk di tangan musuhnya, yaitu negara sekutu Inggris-Belanda-Jerman.  Dalam sebuah teori yang disampaikan oleh Napoleon Society kekalahan Napoleon dipengaruhi oleh bencana iklim yang ditimbulkan oleh Tambora.

Hujan dan badai di malam pertempuran yang diikuti oleh dinginnya suhu (padahal hari itu sudah masuk musim panas) telah menyebabkan pasukan Napoleon terjebak dalam lumpur yang menyebabkan efektivitas pasukan kavaleri dan amunisi meriam menjadi tidak dapat digunakan. Padahal sebenarnya, Napoleon menang dalam jumlah pasukan dibandingkan lawannya.

Kekalahan Napoleon telah mengubah sejarah dan membentuk aliansi yang akan mempengaruhi konstelasi negara-negara di Eropa hingga abad berikutnya.

 

 

6.   Apa Hubungan Letusan Tambora dan Penemuan Sepeda?

Draisine, velocipede temuan von Drais, 1816.

Draisine, velocipede temuan von Drais, awal dari penemuan sepeda. Sumber: beagreencommuter.com

Banyaknya kuda yang mati akibat dampak iklim global yang diakibatkan letusan Tambora di Eropa, dipercaya telah menginspirasi penemuan sepeda awal yang disebut Laufmaschine (“mesin berjalan” dalam bahasa Jerman) yang ditemukan oleh Baron Karl von Drais (oleh karena itu alat transportasi ini juga disebut sebagai draisine). Pada tahun 1816 Drais mematenkan temuannya, dan mulai menjual produk tersebut di Jerman dan Perancis.

Menurut Hans-Erhard Lessing, seorang sejarawan asal Jerman yang meneliti sejarah berbagai penemuan penting, velocipede yang ditemukan oleh Von Drais bermula sebagai transportasi alternatif setelah dia menemukan banyaknya kuda yang mati akibat kelaparan dan kegagalan panen pada tahun 1815-1816.

 

 

7. Ekologi Tambora Saat Ini

Bagi ilmu pengetahuan, Tambora telah menjadi referensi penting penelitian ilmu pengetahuan dalam memahami fenomena alam, termasuk suksesi ekologis dan hubungannya dengan proses geologi-vukanologi yang terjadi.

Setelah dua ratus ratus lalu mengeluarkan letusan masif, saat ini Tambora telah mulai kembali ditumbuhi dan dihuni oleh berbagai vegetasi dan satwa. Suksesi ekologis di Tambora ditandai dengan berbagai tipe vegetasi, yaitu hutan hujan tropis dan hutan musim. Sedangkan di atas ketinggian 1.200 mdpl keatas didominasi oleh vegetasi padang savana dan cemara gunung.

Tambora merupakan salah satu wilayah penting keragaman burung penting wilayah wallacea, seperti habitat bagi kakatua kecil jambul kuning (cacatua sulphurea), yang termasuk jenis satwa langka. Satwa lain diantaranya adalah rusa, (Cervus timorensis), babi hutan (Sus sp.), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), koakiau (Philemon buceroides), perkici dada merah (Tricoglosus haematodus).

 

 

 

 

Gubernur Jatim Tolak Ijin Penambangan Pasir Banyuwangi

Gubernur Jawa Timur Soekarwo menegaskan tidak akan memberikan ijin usaha pengerukan pasir laut di Banyuwangi, bila itu akan berdampak pada kerusakan ekologi dan terganggunya kelestarian lingkungan.

Soekarwo mengaku tidak sependapat dengan adanya penambangan pasir laut di Banyuwangi, yang akan digunakan untuk mereklamasi Teluk Benoa di Bali.

“Prinsipnya saya tidak sependapat dengan bahan pasir untuk menjaga pantai itu, terus dikeruk dan dibawa ke Benoa. Itu prinsip dasarnya tidak pas. Jadi tebing pantai yang jaga ya pasir itu,” kata Soekarwo di Surabaya, pada Kamis (09/04/2015).

Pantai Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi yang diincar   sebagai lokasi pertambangan pasir laut. Foto : Petrus Riski

Pantai Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi yang diincar sebagai lokasi pertambangan pasir laut. Foto : Petrus Riski

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jatim kata Soekarwo, saat ini sedang melakukan pengecekan ke lokasi yang diincar PT. Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) selaku perusahaan yang akan menambang pasir laut di Banyuwangi.

“Masih dicek bu Dewi Putriatni (Kepala Dinas ESDM Jatim), (hari ini) masih kesana untuk melihat apakah lokasi itu termasuk dalam kawasan ijin usaha penambangan,” tambah Soekarwo.

Sejauh ini Pemprov Jatim belum menerima pengajuan ijin usaha penambangan pasir dari PT. TWBI, selaku pengembang yang akan mereklamasi Teluk Benoa di Bali. PT. TWBI telah melakukan survey lokasi pada seminggu yang lalu, dan menjajaki pengajuan ijin ke Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

Soekarwo menegaskan penambangan pasir belum diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP), sehingga penambangan yang telah lama harus dihentikan dan yang baru tidak diperbolehkan.

“Ini kan belum ada PP-nya, meskipun belum ada PP-nya kami akan membuat surat bahwa itu jangan dilakukan. Prinsip dasarnya penambangan pasir di pinggir pantai itu akan merusak lingkungan,” lanjut Soekarwo menanggapi pula Petisi yang dikeluarkan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur.

Sebelumnya belasan aktivis lingkungan di Jawa Timur menggelar aksi penolakan terhadap rencana penambangan pasir laut di Banyuwangi, di depan gedung negara Grahadi, Surabaya, pada Rabu (8/4). Aksi itu untuk menekan Gubernur Jawa Timur agar tidak mengeluarkan ijin penambangan pasir laut oleh PT. TWBI.

Aktivis lingkungan hidup Jawa Timur aksi di depan gedung  negara Grahadi di Surabaya serukan penolakan penambangan pasir laut  Banyuwangi untuk reklamasi Teluk Benoa. Foto : Petrus Riski

Aktivis lingkungan hidup Jawa Timur aksi di depan gedung negara Grahadi di Surabaya serukan penolakan penambangan pasir laut Banyuwangi untuk reklamasi Teluk Benoa. Foto : Petrus Riski

Rere Christanto dari Divisi Advokasi dan Kampanye Walhi Jatim mengatakan, penambangan pasir di pesisir 3 Kecamatan di Banyuwangi yakni Srono, Rogojampi dan Kabat, diyakini akan berakibat pada rusaknya lingkungan hidup di Banyuwangi. Selain itu kerusakan lingkungan akibat penambangan pasir laut akan berpengaruh terhadap perekonomian nelayan yang sangat bergantung pada usaha mencari ikan.

“Bagi Banyuwangi sendiri penambangan pasir itu pasti akan merusak seluruh ekosistem pantai dan lautan yang ada di sana, padahal kita tahu bahwa wilayah yang akan ditambang ini pasirnya ada di dekat Muncar, yang selama ini dikenal sebagai penghasil ikan terbesar di Indonesia,” terang Rere.

Selain menolak penambangan pasir laut di Banyuwangi, Walhi Jawa Timur juga menolak reklamasi Teluk Benoa yang dapat dipastikan akan merusak ekologi di kawasan Benoa, Bali.

“Kalau kemudian pasir ini dibawa ke Benoa dan dipakai untuk menguruk Teluk Benoa, maka itu juga akan menghancurkan struktur ekologi yang ada disana,” imbuh Rere.

Nelayan Banyuwangi juga meresahkan rencana penambangan pasir laut di Banyuwangi, yang akan memangkas wilayah tangkapan ikan nelayan tradisional. Misbachul Munir dari Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Jatim mengatakan, ribuan nelayan dipastikan akan kehilangan mata pencaharian dari menangkap ikan, bila penambangan pasir laut mendapat ijin dari pemerintah,

“Sudah jelas pengurukan pasir di laut tentunya akan merusak lingkungan hidup atau merusak biota laut, dan menghacurkan ekosistem di daerah area tangkapan ikan. Nah ini otomatis selain terjadi abrasi maka yang sangat dirugikan adalah masyarakat pesisir 3 kecamatan tersebut dan sekitarnya, karena potensi di Banyuwangi itu di tingkat perikanan itu cukup tinggi. Disana ada Muncar yang masih mengandalkan nelayan-nelayan yang setiap harinya tangkapannya melebihi 100 ton setiap hari,” kata Misbachul.

Munir mengungkapkan, aktivitas penambangan pasir laut merupakan pelanggaran terhadap Undang-undang No.27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, yang secara tegas melarang siapa pun orang atau perusahaan melakukan pengerukan pasir di perairan pesisir.

“Disenagaja atau tidak, pengerukan pasir laut itu melanggar Undang-undang, selain itu dapat mengakibatkan abrasi dan bencana lingkungan lainnya,” tegasnya.

Selama ini di Jawa Timur memiliki Peraturan daerah (Perda) nomor 6 tahun 2012, yang mengatur mengenai rencana kawasan zonasi pesisir dan pulau-pulau kecil, yang memuat kesempatan dilakukannya reklamsi dengan dalih untuk kepentingan umum.

“Di Perda itu tidak pernah mengakui ruang hidup nelayan, daerah tangkapan nelayan tidak ada, yang paling dibuka lebar adalah terkait rencana reklamasi-reklamasi di seluruh Jawa Timur,” tutur Munir.

Fitra Jaya Purnama selaku warga Surabaya yang memiliki kampung halaman di pesisir Banyuwangi juga menyerukan penolakan terhadap rencana penambangan pasir laut banyuwangi.  Fitra mendesak pemerintah menolak atau meniadakan ijin usaha penambangan pasir, yang dapat mengancam kawasan pesisir lainnya di Jawa Timur.

Walhi Jawa Timur lanjut Rere, akan mengajukan gugatan bila akhirnya pemerintah meloloskan ijin usaha penambangan yang diajukan PT. TWBI.

“Kami akan melakukan gugatan terkait pengeluaran ijin ini bila ijin akhirnya dikeluarkan, karena kami memandang bahwa wilayah yang sedang diincar untuk dilakukan penambangan itu menjadi wilayah penting untuk keselamatan ruang hidup nelayang yang ada di sana,” pungkas Rere.

EkoHidraulik, Metode Penelitian Kesehatan Air Sungai Yang Komprehensif

 

Kerusakan perairan sungai di Indonesia terjadi karena tekanan penggunaan yang berlebih. Sementara pengelolaan sungai dilakukan secara parsial dan sektoral. Lemahnya integrasi pengelolaan sungai serta fragmentasi koordinasi antar lembaga dapat mengancam kelestarian ekosistem sungai. Kepunahan ikan sidat di Kali Progo, kematian ribuan ikan di Kali Surabaya pada November 2013, di Krueng Teunom pada Agustus 2014, dan di Sungai Pangkajane pada November 2014 merupakan contoh dampak pengelolaan sungai yang masih parsial tersebut.

“Ini terkadang masih diperparah dengan adanya peraturan di tingkat kebijakan dan pelaksanaan  teknis yang tidak selaras,” papar Sri Puji Saraswati saat ujian terbuka program doktor Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Senin (30/03/2015) dalam rilis yang diterima Mongabay.

Kondisi salah satu sungai di Yogyakarta. Foto : Tommy Apriando

Kondisi Sungai Progo di Yogyakarta. Foto : Tommy Apriando

Dalam disertasinya berjudul “Pengembangan Metode Penetapan Status Kesehatan Perairan Sungai di Daerah Tropis Berbasis Eko-Hidraulik”, Sri menjelaskan prinsip konservasi oleh para ahli lingkungan cenderung mengarah pada preservasi berlebih. Akibatnya, sungai tidak boleh dimanfaatkan untuk keperluan lain. Sementara dari kaca mata pemanfaatan air, pengelola sungai cenderung menggolongkan sungai berdasar peruntukannya, seperti untuk air baku air minum, air irigasi, dan air industri.

Sri menilai, saat ini lebih komprehensif karena pendekatannya dengan eko-hidraulika yang berprinsip pada vitalisme lingkungan dengan menekankan harmoni, antara pemanfaatan untuk kemaslahatan manusia maupun menjaga lingkungan lestari.

Lebih lanjut, menurut Sri, untuk mendukung pendekatan ekohidraulik, kesehatan sungai harus dipantau secara rutin. Pemantauan perairan sungai umumnya dilakukan dengan mengukur parameter kimia, fisika, dan bakteriologi air sungai. Selain itu, diperlukan Indeks Kualitas Air (IKA) yang komprehensif untuk menggambarkan kesehatan perairan sungai agar pemantauan secara baku dapat dilakukan.

Melalui penelitian selama lebih dari lima tahun di perairan Sungai Gajah Wong, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, Sri berhasil mengembangkan IKAs (indeks kualitas air sungai). Indeks itu didasarkan pada sejumlah parameter kualitas air yang relatif sedikit menjadi indeks tunggal kesehatan perairan sungai.

“Dari 34 kualitas air yang dipantau dalam program air bersih, dipilih 18 yang paling lengkap dan sahih datanya,” kata Sri.

Selain IKAs, peneliti juga mengembangkan indeks biomonitoring ex-situ untuk mengukur tingkat toksisitas air sungai. Analisa ini menggunakan teknik AOD (aquatic organism environmental diagnostic) yang telah diadaptasi untuk diterapkan di Indonesia. Dua metode ini saling melengkapi dalam menentukan kesehatan sungai.

“Melalui IKAs yang komprehensif ini, pengendalian air di sumber polusi dan pengelolaan kualitas air sungai bagi kesehatan biota air dapat dilakukan lebih baik,” kata Sri.

Bersihkan Air Sungai Lewat” Mapak Toya”

Di Bantul, DI Yogyakarta ribuan petani asal Timbulharjo punya cara sendiri menjaga kelestarian sungai. Mereka melakukan kirab budaya ‘Mapak Toya’. Mereka mengenakan busana tradisional dan melakukan pawai seraya membawa 17 gunungan hasil bumi sebagai simbol persembahan hasil panen yang mereka dapatkan pada tahun ini menuju bendungan irigasi kemiri.

“Kegiatan kirab kali ini melibatkan 16 dusun diantaranya Dusun Mriyan, Kowen, Bibis, Gatak, Ngasem, Kepek, Ngentak, Dagan, dan Tembi,” kata Sunardi Wiro selaku ketua Gerakan Irigasi Bersih, pada Mongabay.

Ia menambahkan, kirab mapak toya atau menjemput air sebagai bagian dari gerakan irigasi bersih yang diprakarsai oleh Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada. Namun demikian, kirab budaya ini sesungguhnya untuk pertama kali dilaksanakan di Desa Timbulharjo melibatkan 2000-an petani dari 16 dusun.

“Kita akan melakukan kirab seperti bergiliran di seluruh desa di Bantul untuk mensukseskan gerakan irigasi bersih ini,” katanya.

Sunardi menambahkan, tujuan kirab mapak toyo ini untuk menyadarkan masyarakat tentangnya pentingnya budaya membersihkan irigasi dari sampah dengan tidak membuang sampah sembarangan ke sungai karena air yang ada di kali ini juga diperuntukan untuk pertanian.

Sementara itu, Kepala Desa Timbulharjo Iskandar, mengatakan ada sekitar 500-an hektar sawah yang ada di Desa Timbulharjo. Saat ini produksinya padi mencapai 7,5 ton per hektar. Oleh karena itu, lewat gerakan irigasi bersih ini diharapkan produksi padi bisa terus meningkat.

Peneliti Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Dede Sulaeman, mengatakan pihaknya memang menggalakkan gerakan irigasi bersih sebagai bentuk ajakan untuk membersihkan sampah di saluran irigasi. Soalnya, rata-rata sampah yang ada di Indonesia, sekitar 10 persennya berada di badan sungai. “Sisanya dibakar dan dibuang ke tempat pembuangan sampah,” katanya.

Dede menambahkan, pemerintah diketahui hanya mampu menangani sekitar 30-40 persen sampah secara keseluruhan. Sedangkan di daerah Bantul, kata Dede, sekitar 4-5 persen sampah yang bisa ditangani oleh pemerintah. Selebihnya sampah berada di badan sungai sehingga menyumbat saluran irigasi.

“FTP UGM mendorong masyarakat untuk bisa menyelesaikan masalah sendiri melalui gerakan irigasi bersih,” katanya.

Ia menambahkan, apabila sampah di badan sungai dan di saluran irigasi ini tidak dibersihkan justru sangat membahayakan karena sampah akan menupuk di lahan sawah pertanian. Bahkan sampah-sampah seperti kantong plastik yang berada di areal persawahan bisa menyebabkan lahan menjadi kurang subur serta mengandung bahan non organik dan itu bahan yang tidak diperlukan oleh tanah.

10 Tumbuhan yang Membuat Kita Terpesona

Alam semesta sungguh menyimpan kekayaan hayati luar biasa. Setiap sudut kawasan di dunia ini, mempunyai keunikan flora yang nyata-nyatanya berbeda.

Apa sajakah tumbuhan yang menakjubkan itu? Mongabay Indonesia telah merangkum 10 tumbuhan unik yang pastinya akan membuat kita makin mencintai planet bumi ini dengan segala isinya.

 

1.  Pohon Raksasa Baobab 

Pohon raksasa Baobab. Sumber: Toptentop.com

Inilah pohon identitas negara pulau terbesar di dunia, Madagaskar.  Nama Baobab umum digunakan untuk genus Adansonia yang terdiri dari delapan spesies pohon. Pohon ini juga terdapat di beberapa negara di Afrika dan Australia.

Baobab sering dijuluki pohon botol. Bukan hanya bentuknya yang memang mirip botol, tapi juga karena kemampunannya menyimpan ribuan  liter air pada batangnya.  Pohon ini pun memiliki  masa hidup yang panjang, yaitu hingga lebih dari 1.000 tahun. 

 

 

2.  Pohon Darah Naga 

Pohon darah naga. Sumber: Toptenz.net

Pohon darah naga (Dracaena Cinnabari) adalah tumbuhan endemik kepulauan Socotra di Yamana. Pohon yang pertama kali dideskripsikan oleh Isaac Bayley Balfour tahun 1882 ini berbentuk payung dengan dahannya yang banyak.

Pohon ini dinamakan darah naga karena getah merah darahnya yang keluar dari batangnya. Orang jaman dulu menggunakan getah ini sebagai obat pewarna.

 

 

3. Victoria Amazonica, Sang daun Raksasa

Sang daun raksasa, victoria amazonica. Sumber: Victoria-advanture.org

Inilah tanaman bunga terbesar dari keluarga Nymphaeaceae atau Water Lilies. Yang menakjubkan dari tanaman ini adalah daunnya yang lebar, hingga berdiameter 3 meter,  dengan ujung ke atas sehingga tidak tumpang tindih dengan daun lain. Bagian bawahnya berduri yang berfungsi menghalangi satwa apapun untuk memakannya.

Keunikan lainnya, daun yang mengambang di atas air ini mampu menahan beban hingga 50 kg. Bunganya pun tergolong besar (diameter 40 cm), yang hanya bisa dilihat malam hari. Tanaman unik ini dapat ditemukan di cekungan Sungai Amazon, Amerika Selatan.

 

 

4.  Tumbuo

Tumbuo. Sumber: Trekearth.com
 

Tanaman bernama latin Welwitschia mirabilis ini sangat menakjubkan. Tumbuo hanya terdiri dari dua daun, satu batang kokoh, dan akar. Itu saja! Dua daun tersebut terus tumbuh hingga menyerupai surai berbulu bagai di film alien.

Batang pohonnya tidak tumbuh ke atas, melainkan hanya mengeras yang tingginya sekitar 2 meter dengan lebar 8 meter. Diperkirakan, umurnya bisa mencapai 1.500 tahun meski hidup dalam kondisi lingkungan paling ekstrim sekalipun.

Tumbuhan yang hanya ditemukan di daerah kecil di gurun Namibia dan selatan Angola ini dapat pula bertahan lima tahun lamanya tanpa hujan. Masyarakat lokal menjuluki  tumbuo dengan sebutan Onyanga, yang berarti bawang gurun.

 

 

5.  Angrek Berwajah Monyet  

Anggrek berwajah monyet. Sumber: Pinterest.com

Nama ilmiah bunga ini adalah Dracula simia. Dracula bermakna naga kecil seperti yang terlihat pada dua taji panjangnya yang menyerupai naga. Simia merupakan istilah yang menjelaskan kalau bunga ini menyerupai seekor monyet.

Anggrek monyet ini biasanya tersembunyi di ketinggian hampir 2.000 meter di hutan tenggara Peru dan Ekuador.

 

 

6.  Bunga Bibir 

Bunga bibir. Sumber: I.ytimg.com

Tanaman ini bernama Psychotria elata. Tanaman kecil yang tumbuh di hutan tropis ini memiliki bunga yang dikenal dengan sebutan bunga bibir karena menyerupai bibir wanita bergincu merah.

Ditemukan di hutan hujan tropis di Amerika Tengah dan Selatan seperti Kolombia, Kosta Rika, Panama dan Ekuador, tanaman ini tampaknya telah berevolusi sehingga memiliki bentuk unik. Menariknya lagi, warna merah menggoda merupakan daya tarik utama untuk memancing kehadiran para penyerbuk seperti burung kolibri dan kupu-kupu. 

 

 

7.  Hydnora Africana

Hyndora Africana. Sumber: Toptenz.net

Hyndora Africana adalah merupakan satu tanaman paling unik di Afrika bagian selatan,  tepatnya di pesisir barat Namibia, ke utara sepanjang Swaziland, Botswana, hingga Ethiopia. Bila dilihat dengan kasat mata, Hyndora Africana tak terlihat seperti sebuah tanaman. Meski demikian, bentuknya yang terbilang aneh membuat tanaman ini terlihat menakjubkan.

Bahkan, beberapa spesies dari tanaman ini mirip dengan jamur. Hydnora africana tidak tumbuh sebagai tanaman yang dapat dibudidayakan karena ketergantungan hidupnya pada tanaman inangnya. Di alam liar, ia tumbuh melalui benih yang disebarkan oleh burung dan mamalia kecil.

 

 

8.  Bunga Bangkai

Bunga bangkai raksasa. Sumber: ABC.net

Bunga bangkai (Amorphophallus titanium) merupakan tumbuhan suku talas-talasan (Araceae) yang endemik Sumatera, Indonesia, sekaligus dikenal sebagai tumbuhan bunga (majemuk) terbesar di dunia.

Bunganya sangat besar dan tinggi, berbentuk seperti lingga (sebenarnya adalah tongkol) yang dikelilingi oleh seludang bunga yang juga berukuran besar. Bunganya berumah satu dan protogini: bunga betina reseptif terlebih dahulu, lalu diikuti masaknya bunga jantan, sebagai mekanisme untuk mencegah penyerbukan sendiri.

Saat ini, bunga bangkai tersebar di penjuru dunia, terutama dimiliki oleh kebun botani atau penangkar-penangkar spesialis. Uniknya, banyak pengunjung yang datang justru ingin “menikmati” baunya itu.

 

 

9.  Rafflessia

Rafflesia. Sumber: Biologypop.com

Rafflesia atau bunga padma raksasa merupakan salah satu kekayaan keragaman hayati yang dijumpai di hutan tropis Indonesia.  Rafflesia merupakan bunga yang dapat mengeluarkan bau busuk. Namun, masyarakat sering tertukar dengan penyebutan bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum).

Meskipun sama-sama berbau bangkai, jenis rafflesia (rafflesia spp) dan bungai bangkai raksasa merupakan jenis yang berbeda. Jika rafflesia bentuk bunganya melebar, maka bunga bangkai raksasa memiliki bunga tinggi memanjang. Jika rafflesia merupakan tumbuhan endoparasit, maka bunga bangkai merupakan tumbuhan seutuhnya yang berkembang dari umbi. Indonesia, tercatat sebagai rumah bagi 17 spesies rafflesia.

 

 

10. Pando

Pando, organisme terberat di planet bumi. Sumber: Wikimedia.org

Sepintas, sepertinya tidak ada yang istimewa dengan pepohonan tersebut karena terlihat hanyalah pohon-pohon berukuran biasa di hutan Fishlake National Park, Utah. Namun, berkat pengujian genetik, diketahui bahwa hutan yang meliputi area seluas 46 hektar ini sebenarnya adalah organisme klonal tunggal yang tumbuh dari benih tunggal kuno. Pohon ini menyebar karena akarnya yang mampu mengirim tunas yang tumbuh menjadi apa yang terlihat seperti pohon individu.

Karena semua pohon di hutan ini (semunya sekitar 47.000 pohon) adalah bagian dari organisme yang sama, maka perilaku hutan ini juga luar biasa. Misalnya, seluruh hutan bertransisi bersamaan dari musim dingin ke musim semi dan penggunaan jaringan akar yang luas untuk mendistribusikan air dan nutrisi dari pohon-pohon yang memiliki kelebihan air ke pohon-pohon yang kekurangan.

Kondisi ini sesuai dengan nama pando yang berarti “saya menyebar”.  Hutan ini diperkirakan sudah berusia 80 ribu tahun, dan secara keseluruhan diperkirakan mempunyai berat 6.600 ton, yang membuatnya menjadi organisme terberat dan tertua di muka bumi.